1. sumber ajaran islam al-quran definisi al-Quran



Yüklə 119.96 Kb.
tarix13.08.2018
ölçüsü119.96 Kb.

1. SUMBER AJARAN ISLAM AL-QURAN
Definisi al-Quran

  1. “wahyu Allah swt yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw secara lafad, makna, serta gaya bahasanya, yang termaktub dalam mushaf yang disalin secara mutawatir (Dr. Daud al-Attar)


Pengertian Wahyu

Etimologi



  1. Isyarat (QS Maryam 19: 11)

  2. Pemberitahuan secara rahasia (QS Al-An’am 6: 112)

  3. Ilham yang diberikan kepada binatang (QS Al-Nahl 16: 68)

  4. Ilham yang diberikan kepada manusia (QS Al-Qoshshosh 28: 7)

Terminologi



  1. Pengetahuan yang didapat seseorang di dalam dirinya serta diyakini bahwa pengetahuan tersebut datang dari Allah, baik dengan perantaraan suara, tanpa suara, atau tanpa perantaraan


Macam Komunikasi Allah kepada Manusia (QS 42: 51)

  1. Pewahyuan: kebenaran yang disampaikan ke dalam kalbu atau jiwa seseorang tanpa mukaddimah dan kebenaran itu menjadi terang bagi yang bersangkutan.

  2. Suara dari balik tirai/hijab: panggilan Allah kepada nabi Musa dari balik pohon

  3. Megutus utusan/malaikat: kabar dari Tuhan yang disampaikan melalui malaikat Jibril dengan kata-kata yang diucapkan.


Sejarah al-Quran

  1. Periode sebelum hijrah (al-Makkiyah)

    1. Periode pertama (4-5 tahun)

      1. Pendidikan bagi Rasulullah saw

      2. Pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah

      3. Keterangan mengenai dasar akhlak Islamiah

    2. Periode kedua (8-9 tahun)

      1. Kewajiban prinsipil para penganutnya sesuai saat itu (QS 16: 125)

      2. Argumentasi keesaan Allah dan kepastian hari kiamat (QS 36: 78-82)

  2. Periode setelah hijrah (al-Madaniyah)


Kandungan al-Quran

  1. Pokok-pokok keyakinan

  2. Pokok-pokok peraturan

  3. Pokok-pokok nilai dasar dan tingkah laku

  4. Petunjuk dasar tentang tanda-tanda alam

  5. Kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu

  6. Alam ghaib


Nama-nama al-Quran

  1. Al-Kitab (QS 44:2)

  2. Al-Kalam (QS: 9:6)

  3. Al-Zikra (QS 15:9)

  4. Al-Qoshshash (QS 3: 62)

  5. Al-Huda (QS 9:33)

  6. Al-Furqan (QS25:1)

  7. Al-Mauizah (QS 10:57)


Aspek kemukjizatan al-Quran

  1. Aspek bahasa (QS 41: 39; QS 3: 58; QS 2: 183)

  2. Aspek sejarah (QS 30: 2-6)

  3. Isyarat tentang ilmu pengetahuan (QS 21: 30)

  4. Konsistensi ajaran selama proses penurunan (QS 4: 82)

  5. Keberadaan Muhammad saw sebagai “ummi” (QS 29: 48)


Kemukjizatan Al-Quran pada aspek bahasa

  1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya (al-hayyah dan al-mawt = 145 x)

  2. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan sinonimnya (al-jahr dan al-’alaniyah = 16x)

  3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjuk pada akibatnya (al-zakat dan al-barakah = 32x)

  4. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya (al-asra dan al-harb = 6x)

  5. Keseimbangan-keseimbangan khusus (yawm = 365; ayyam dan yawmayni = 30x; syahr = 12x)

Abdurrazaq Nawfal “al-I’jaz al-Adabiy li al-Quran al-Karim
Al-Quran sebagai hidayah sempurna

  1. Al-Quran membawa tata nilai yang mengungguli tata nilai yang ada, menyentuh segala potensi dasar manusia, dan merambah segala aspek dan dimensi kehidupan manusia ( QS, 49: 13; QS 2: 25-26; QS 5: 2)

  2. Al-Quran memberi identitas, asal usul dan kesudahannya.

  3. Al-Quran membimbing untuk memahami hakikat kehidupan yang sejati

  4. Al-Quran memotivasi untuk mengisi hidup dengan dinamis dan optimis


Komitmen terhadap al-Quran

  1. Mengimani al-Quran (al-Nisa 4: 136)

  2. Mempelajari al-Quran (al-’Araf 7: 204)

  3. Mengamalkan al-Quran (al-Insan 76: 24)

  4. Mendakwahkan al-Quran (Ali Imran 3: 110)


Kedudukan dan fungsi al-Quran

  1. Sebagai sumber ajaran yang pertama

  2. Menegaskan aspek akidah dan ibadah

  3. Mengajarkan pengalaman kisah umat terdahulu

  4. Memberi kabar gembira dan peringatan

  5. Menjadi pedoman dan rahmat (QS 27: 77)

  6. Sebagai obat segala penyakit rohani (QS 17:82; QS 13: 28)

  7. Memotivasi kemajuan ilmu dan teknologi (QS 55: 33)

  8. Menjawab problem kehidupan manusia


Sumber Ajaran Islam Hadis

Pengertian hadits/sunnah

Pengertian hadits:



  1. Segala sesuatu yang dikaitkan kepada Muhammad saw, baik ucapan, perbuatan, dan ketetapannya.

Pengertian sunnah:



  1. Segala sesuatu yang dikaitkan kepada Muhammad saw, baik ucapan, perbuatan, dan ketetapannya; baik sifat fisik dan psikis; baik sebelum dan sesudah menjadi Rasul.


Unsur-unsur hadits/sunnah

  1. Rawi : seseorang yang menerima dan menyampaikan berita

  2. Sanad : rangkaian orang-orang yang menerima dan menyampaikan berita

  3. Matan : materi berita/kandungan berita yang diterima dan disampaikan


Pokok bahasan naqd as-sanad adalah sebagai berikut.
( 1) Ittisal as-sanad (persambungan sanad). Dalam hal ini tidak dibenarkan adanya rangkaian sanad yang terputus, tersembunyi, tidak diketahui identitasnya ( wahm) atau samar .
(2) Tsiqah as-sanad, yakni sifat 'adl (adil), dabit (cermat dan kuat), dan siqah (terpercaya) yang harus dimiliki seorang periwayat.
(3) Syai'i, yakni kejanggalan yang terdapat atau bersumber dari sanad. Misalnya, hadis yang diriwayatkan oleh seorang yang siqah tetapi menyendiri dan bertentangan dengan hadis yang diriwavatkan oleh periwayat-periwayat siqah lainnva.
(4) 'Illah, yakni cacat yang tersembunyi pada suatu hadis yang kelihatannya baik atau sempurna. Syazz dan 'illah adakalanya terdapat juga pada matan dan untuk menelitinya diperlukan penguasaan ilmu hadis yang mendalam.
Kajian terhadap masalah-masalah yang menyangkut matan disebut naqd al-matn (kritik matan) atau kritik intern. Disebut demikian karena yang dibahasnya adalah materi hadis itu sendiri, yakni perkataan, perbuatan atau ketetapan Rasulullah SAW. Pokok pembahasannya meliputi:
(1) rakakah al-lafz yakni kejanggalan-kejanggalan dari segi redaksi
(2) fasad aJ-ma 'na, yakni terdapat cacat atau kejanggalan pada makna hadis karena bertentangan dengan al-hiss (indera) dan akal, bertentangan dengan nas Al-Qur' an, dan bertentangan dengan fakta sejarah yang terjadi pada masa Nabi SAW serta mencerminkan fanatisme golongan yang berlebihan
(3) kata-kata garib (asing), yakni kata-kata yang tidak bisa dipahami berdasarkan maknanya yang umum dikenal.
Sejarah hadis

  1. Masa Nabi Muhammad saw

  2. Masa kekhalifahan

  3. Masa kerajaan-kerajaan Islam


Klasifikasi Hadis berdasarkan Kuantitas

  1. Mutawatir : hadis yang diriwayatkan oleh banyak rawi pada setiap generasinya/thabaqah, yang mustahil semuanya sepakat berdusta

  2. Ahad : hadis yang diriwayatkan oleh seseorang atau beberapa yang tidak mencapai derajat mutawatir


Klasifikasi Hadis berdasarkan Kualitas

  1. Shahih: berita yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, sempurna daya ingatnya, bersambung sanadnya, tidak tercela prilakunya (illat), dan tidak asing/syadz terhadap al-Quran dan nilai universal.

  2. Hasan: berita yang diriwayatkan oleh rawi yang adil, kurang sempurna daya ingatnya, bersambung sanadnya, tidak tercela prilakunya (illat), dan tidak asing/syadz terhadap al-Quran dan nilai universal.

  3. Dhaif : berita yang kehilangan salah satu dari kriteria hadis shohih maupun hasan


Kedudukan hadis

Sebagai sumber ajaran kedua Islam



  1. Periwayatan al-Quran bersifat qathiy al-wurud

  2. Periwayatan al-Hadis bersifat zhanniy al-wurud


Fungsi Hadis terhadap al-Quran

  1. Sebagai penguat al-Quran (ta’kid )

    1. menerangkan posisi kewajiban atau larangan syariat

    2. menjelaskan sangsi hukum bagi pelanggarnya

    3. menegaskan kedudukan hukum

  2. Sebagai tafsiran al-Quran ( tabyin )

    1. menjelaskan makna-makan yang rumit : sholat wustha

    2. mengikat makna-makna yang bersifat lepas (taqyid al-mutlak): pencuri dipotong tangannya

    3. mengkhususkan ketetapan yang umum (takhsish al-’am): jual beli

    4. menjelaskan ruang lingkup masalah: kewajiban haji

    5. menjelaskan mekanisme pelaksanaan dari hukum yang ditetapkan : sholat

  3. Sebagai pembuat hukum (tasyri’)


3. IJTIHAD

Pengertian (Bahasa)

Ijtihad berarti "pengerahan segala kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit." (Ibrahim Hosen)
Pengertian (Istilah)

Ijtihad : berusaha sekeras-kerasnya untuk membentuk penilaian yang bebas tentang sesuatu masalah hukum (Mukti Ali)

Ijtihad : upaya mencurahkan segenap kemampuan untuk merumuskan hukum syara’ dengan cara istinbath dari al-Quran dan al-Hadis.
Dalil Ijtihad

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab (al-Quran) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan (berdasarkan) hukum yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (bagi orang yang tidak bersalah) karena (terkecoh) oleh orang-orang yang berkhianat (al-Nisa: 105)


Dan tidaklah Kami menurunkan Kitab (Quran) kepadamu (Muhammad), melainkan agar kamu menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan di dalamnya, dan sebagai hidayah serta rahmat bagi kaum yang beriman (al-Nahl: 64)
Dari Muaz bin Jabal

Bagaimana (cara) kamu menyelesaikan perkara jika kepadamu dimajukan suatu perkara? ......... Muaz menjawab, “Akan aku putuskan menurut hukum yang ada dalam Sunah Rasul Allah, jawab Muaz lebih jauh. Kalau tidak juga kamu jumpai dalam Sunah Rasul Allah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Nabi mengakhiri pertanyaannya. Muaz menjawab , Aku akan berijtihad dengan saksama. Kemudian Rasul pun mengakhiri dialognya sambil menepuk-nepuk dada Muaz seraya beliau bersabda, “Segala puji hanya teruntuk Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasul-Nya jalan yang diridai Rasul Allah (HR. Abu Dawud)


Dari Umar ibn Khattab

Aku memeluk istriku dan kemudian aku menciumnya, padahal aku sedang berpuasa. Kemudian aku menghadap Rasul Allah seraya aku bertanya, “Sungguh aku telah melakukan suatu perbuatan yang luar biasa, aku mencium istriku padahal aku berpuasa. Rasul Allah bertanya kepada Umar, Bagaimana pendapatmu kalau engkau berkumur dengan air (sedangkan engkau dalam keadaan puasa). Umar menjawab, Menurut pendapatku itu tidak mengapa (tidak membatalkan puasa). Kalau begitu, kata Nabi, teruskan puasamu. (HR al-Darimi)


Objek Ijtihad

  1. Objek ijtihad adalah perbuatan yang secara eksplisit tidak terdapat dalam al-Quran dan al-Hadis

  2. Objek ijtihad tidak berlaku pada dimensi ibadah mahdhah atau perumusan hukum aktivitas ibadah formal kepada Allah.


Syarat Ijtihad

  1. Persyaratan Umum (al-ammah)

    1. Baligh

    2. Berakal sehat

    3. Kuat daya nalarnya

    4. Mukmin

  2. Persyaratan Pokok (asasiyyah)

    1. Mengetahui al-Quran

    2. Memahami Sunnah

    3. Memahami maksud hukum syara’

    4. Mengetahui kaidah umum hukum Islam

  3. Persyaratan Penting (hammah)

    1. Menguasai bahasa Arab

    2. Mengetahui ilmu ushul al-fiqh

    3. Mengetahui ilmu manthiq/logika

    4. Mengetahui hukum asal perkara (baraah asliyah)

  4. Persyaratan Pelengkap (takmiliyyah)

    1. Tidak ada dalil qathi (pasti) bagi masalah yang diijtihadi

    2. Mengetahui tempat khilafiyah

    3. Memelihara kesalehan diri


Tingkatan Mujtahid

  1. Mujtahid mustaqil : mujtahid yang mampu menggali hukum-hukum syariat langsung dari sumbernya yang terpokok dan dalam meng-istinbat-kan hukum, mempu-nyai dasar istinbath sendiri.

  2. Mujtahid muntasib: mujtahid yang dalam meng-istinbat-kan hukum mengikuti ushul al-istinbat imam mazhab tertentu walau berbeda dalam furu' dengan imamnya.

  3. Mujtahid madzhab: mujtahid yang mengikuti imam mazhabnya baik dalam ushul maupun furu’.

  4. Mujtahid murajjih: mujtahid yang tidak meng-istinbat-kan hukum furu’, tetapi hanya membandingkan pendapat mujtahid yang ada untuk memilih yang kuat.

  5. Mujtahid mustadil: ulama yang tidak mengadakan tarjih terhadap pendapat yang ada, tetapi mengemuka-kan berbagai dalil pendapat yang ada tanpa tarjih


Metode Ijtihad

  1. Qiyas (reasoning by analog), yaitu menerapkan hukum perbuatan tertentu kepada perbuatan lain yang memiliki kesamaan.

  2. Istihsan, yaitu menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti prinsip keadilan dan kasih sayang.

  3. Masalihul mursalah, yaitu menetapkan hukum berdasarkan tujuan kegunaan atau kemanfaat-annya sesuai dengan tujuan syari’at.


Perbedaan Istihsan dan Masalih al-mursalah

  1. Perbedaan Istihsan dan Masalih al-mursalah adalah:

  2. Istihsan menggunakan konsiderasi hukum-hukum universal dari al-Quran dan al-Hadis

  3. Masalih al-mursalah menekankan pada kemanfaatan perbuatan dan kaitannya dengan tujuan universal syari’at Islam


4. IMAN SEBAGAI DASAR AKIDAH
Pengertian Iman

Iman itu ucapan dengan lidah dan kepercayaan yang benar dengan hati dan perbuatan dengan anggota (Ali bin Abi Thalib)

Iman merupakan hakikat yang aktif dan dinamis, yang apabila sudah mantap di dalam hati maka ia akan berusaha merealisasikan diri di luar dalam bentuk amal saleh…. Inilah iman Islami, yang tidak mungkin stagnan (mandeg) tanpa bergerak

Iman adalah hubungan wujud insani yang fana, kecil, dan terbatas ini dengan asal yang mutlak dan azali serta abadi yang menjadi sumber semesta
Pengertian Akidah

Akaid : beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan (Hasan al-Bana – Majam’ al-Rasail)

Akidah : sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkan akal, wahyu, dan fithrah. Kebenaran itu dipatrikan dalam hati dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu (Abu Bakar al-Jazairi –Akidah al-Mukmin)
Keterpaduan Iman dan Perbuatan Baik


  1. Sabda Nabi, "Demi Allah, ia tidak beriman! Demi Allah, ia tidak beriman!" Lalu orang bertanya, "Siapa, wahai Rasul Allah?" Beliau menjawab, "Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kelakuan buruknya." Lalu orang bertanya lagi, "Tingkah laku buruknya apa?" Beliau Jawab, "Kejahatan dan sikapnya yang menyakitkan.”

  2. Sabda Nabi bahwa orang yang berzina, tidaklah beriman ketika ia berzina, dan orang yang meminum arak tidaklah beriman ketika ia meminum arak, dan orang yang mencuri tidaklah beriman ketika ia mencuri, dan seseorang tidak akan membuat teriakan menakutkan yang mengejutkan perhatian orang banyak jika memang ia beriman." 

  3. Menurut Ibu Taimiyah, al-Iman h. 12, tiadanya iman dari orang yang sedang melakukan kejahatan itu ialah karena iman itu terangkat dari jiwanya dan "melayang-layang di atas kepalanya seperti bayangan." Demikian itu keterangan tentang iman yang dikaitkan dengan perbuatan baik atau budi pekerti luhur.


Zero Mind Process

  1. Prasangka negatif mengakibatkan orang menjadi bersikap “defensif” dan “tertutup” (QS.49: 12)

  2. Prinsip hidup yang dianut dan diyakini telah menciptakan berbagai tipe pemikiran dgn tujuannya masing2 (QS 29: 41)

  3. Pengalaman kehidupan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang, yang berakibat pada terciptanya sosok manusia hasil pembentukan lingkungan sosialnya (QS 2: 10)

  4. Kepentingan cenderung bersifat mikro (diri sendiri) dan prioritas bersifat makro (universal). Prioritas bermuara dari prinsip, suara hati, kepentingan, dan kebijaksanaan (QS 28: 54)

  5. Sudut pandang (QS 4: 59)

  6. Pembanding (QS53: 28; QS 18: 54)

  7. Emosi sebagai motus anima, yaitu jiwa yang menggerakkan. Kecerdasan emosi : kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebgai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi (Cooper).

  8. Hati: alat yang mengaktifkan nilai-nilai seseorang yang paling dalam dan mengubahnya dari sesuatu yang difikirkan menjadi yang dirasakan dan dijalani. Hati sbg sumber energi, tenaga dan perasaan


Ruang Lingkup Akidah

  1. Ilahiah

  2. Nubuwah

  3. Ruhaniah

  4. Sam’iyah

Iman kepada Allah swt

“Memiliki prinsip hidup yang kokoh dan mulia”


  1. Rasa aman qs 22: 31

  2. Kepercayaan diri qs 30: 26

  3. Integritas qs 3: 121

  4. Kebijaksanaan qs 16: 90

  5. Motivasi qs 95: 4

Iman kepada Malaikat

“Memiliki prinsip kepercayaan yang teguh”



  1. Loyalitas qs 82: 10-12

  2. Komitmen qs 6: 59

  3. Kebiasaan memberi dan mengawali

  4. Kebiasaan menolong qs 99: 7-8

  5. Saling percaya qs 19: 96

Iman kepada Rasul

“Memiliki jiwa kepemimpinan yang agung”



  1. Pemimpin yang dicintai Slide 20

  2. Pemimpin yang dipercaya qs 35: 39

  3. Pembimbing qs 39: 33

  4. Pemimpin yang berkepribadian qs 2: 119

  5. Pemimpin yang abadi qs 68: 4

Iman kepada Kitab

“Memiliki jiwa pembelajar yang tidak kenal lelah”



  1. Kebiasaan membaca buku dan situasi qs 96: 3-5

  2. Kebiasaan berfikir kritis qs 34: 46

  3. Kebiasaan mengevaluasi qs 39: 9

  4. Kebiasaan menyempurnakan qs 39: 9

  5. Memiliki pedoman qs 24: 1

Iman kepada Hari Kiamat

“Selalu berorientasi pada masa depan”



  1. Ketenangan batiniah qs 53: 42

  2. Jaminan masa depan qs 89: 24

  3. Kendali diri dan sosial qs 89: 24

  4. Optimalisasi upaya qs 24: 64

  5. Berorientasi tujuan qs 24: 64

Iman kepada Qodo dan Qodar

“Selalu berorientasi manajemen yang teratur, disiplin, sistematis, dan integratif”



  1. Orientasi pemeliharaan sistem menjaga sinergi qs 4: 63

  2. Orientasi pembentukan sistem prinsip sinergi qs 39: 62

  3. Pemahaman arti proses qs 35: 11

  4. Kepastian hukum sosial

  5. Kepastian hukum alam qs 3: 182


Faktor-faktor Pembinaan Iman

1. Ilmu (QS 17: 36)

2. Amal saleh (QS 24: 55)

3. Jihad (QS 29: 69)

4. Penyerahan diri (QS 2: 112)

5. Keridoan Allah (QS 5: 16)

6. Memakmurkan masjid (QS 9: 18)

7. Kesediaan mendengarkan bacaan al-Quran (QS 8: 2-4)



8. Zikir dan fikir (QS 3: 191)
Kompetensi Iman yang Sempurna

  1. Segala perilaku disaksikan oleh Allah, QS 23: 2-9

  2. Memelihara shalat dan amanat QS 23: 2-9

  3. Menghindari perbuatan maksiat QS 23: 2-9

  4. Mentaati segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, QS 49: 13.

  5. Selalu bersyukur bila bahagia, QS 4: 147

  6. Selalu bersabar bila menderita, QS 2: 155-156

  7. Rido atas segala ketentuan Allah, QS 6: 162

  8. Selalu bertawakal pada setiap rencana, QS 3: 159




    1. Barangsiapa mempersekutukan Allah, ia seperti orang jatuh dari langit, lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh (QS. Al-Hajj 22: 31)

    2. Dan (ingatlah) ketika berangkat pagi hari, kau tinggalkan keluargamu mengantarkan orang mukmin ke pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui (QS Ali Imran 3: 121)

    3. Kepunyaan-Nya (segala mahluk) yang ada di langit dan di bumi. Semuanya tunduk patuh kepada-Nya (QS al-Ruum 30: 26)

    4. Allah memerintahkan berbuat adil, melakukan kebaikan dan dermawan terhadap kerabat. Dan Ia melarang perbuatan keji kemungkaran dan penindasan. Ia mengingatkan kamu supaya mengambil pelajaran (QS al-Nahl 16: 90)

    5. Sungguh, telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik-baik acuan (QS al-Thiin 95: 4)




    1. Dan sungguh, diadakan penjaga di atasmu, yang mulia, yang menuliskan. Mereka tahu apa yang kamu lakukan (QS al-Infithar 82: 10-12)

    2. Seandainya seorang mencari kayu bakar dan dipikulkan di atas punggungnya, hal itu lebih baik daripada kalau ia meminta-minta pada seseorang yang kadang-kadang diberi, kadang-kadang pula ditolak (HR Bukhari-Muslim)

    3. Dan pada-Nya kunci-kunci (segala) yang ghaib. Tiada yang mengetahuinya selai Ia. Ia mengetahui apa yang di darat dan di laut. Tiada daun yang jatuh yang tiada diketahui-Nya. Dan tiada biji dalam kegelapan bumi, sesuatu yang segar ataupun sesuatu yang kering, yang tiada tertulis dalam Kitab yang terang. (QS al-An’am 6: 5)

    4. Mereka yang beriman dan melakukan amal kebaikan, (Allah) Maha Pemurah akan mengaruniai mereka kasih sayang (QS Maryam 19: 96)



    1. Kasihanilah mereka yang ada di bumi niscaya yang di langit akan mengasihani kamu (HR Tirmidzi)

    2. Ia-lah yang menjadikan kamu khalifah di atas bumi. Maka barangsiapa yang ingkar, keingkarannya membaik kepada dirinya sendiri. Dan kekafiran mereka hanya menambah kebencian Tuhannya kepada orang yang kafir. Kekafiran mereka hanya menambah kerugian (mereka sendiri) QS Fathir 35: 39

    3. Tetapi orang yang membawa kebenaran (Muhammad), dan orang yang mengakui (kebenaran) itu, mereka itulah orang-orang yang takwa (QS al-Zumar 39: 33)

    4. Sungguh, telah kami utus kau (Muhammad) dengan kebenaran, sebagai pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan (QS al-Baqarah 2: 119)

    5. Kau (Muhammad) sungguh punya budi pekerti yang agung (QS al-Qolam 68: 4)



5. SYARI’AT ISLAM
Pengertian Syari'at

bahasa/etimologi :

  • tempat minum yang menjadi tujuan

  • sumber air yang menjadi sumber kehidupan

_arma__logy :

Syari’ah Islam: hukum2 & tata aturan yg tidak berubah dan berubah yang disampaikan Allah untuk hamban-Nya.

Mahmud Syaltut :

Sistem kehidupan yang dibuat oleh Allah bagi manusia dalam: hubungan dengan Allah, _arma_ muslim, _arma_ manusia, kehidupan, dan alam semesta


Prinsip Syariah Islam

  1. Tauhid

  2. Keadilan

  3. Amar ma'ruf dan Nahi Munkar

  4. Kebebasan/Kemerdekaan

  5. Persamaan

  6. Tolong menolong

  7. Toleransi


Tujuan Syariat Islam

Jalb al-Mashalih wa daf’ al-mafasid” (menarik segala kebaikan dan menolak segala keruksakan)




  1. Memelihara tujuan penciptaan mahluk

  1. Hukum dapat difahami oleh mukalaf

  2. Beban & tanggung jawab hukum atas mukalaf

  3. Pelaksanaan/kepatuhan harus dengan niat yang ikhlas (al-Nisa: 3-4)


Tujuan primer (Dhoruriyah): sesuatu yg mesti tercapai dalam hidup dunia/akhirat :

    1. agama (al-Maidah: 3):

    2. jiwa (al-Baqarah: 178-179):

    3. akal (al-Baqarah: 164):

    4. keturuanan (al-Nisa: 3-4):

    5. harta: bid. Mu’amalah

Tujuan sekunder (Hajjiyah): menghindarkan kesulitan dan kemelaratan dalam kehidupannya

    1. agama (al-Maidah: 3)

    2. jiwa (al-Baqarah: 178-179):

    3. akal (al-Baqarah: 164):

    4. keturuanan (al-Nisa: 3-4)

    5. harta: al-musaqah, al-salam

Tujuan tersier (tahsiniyah): memelihara sopan santun dan tata _arma dalam kehidupan

    1. agama (al-Maidah: 3) etika hukum ibadah

    2. jiwa (al-Baqarah: 178-179): berburu yg halal

    3. akal (al-Baqarah: 164): berburu yg halal

    4. keturuanan (al-Nisa: 3-4)

    5. harta: al-musaqah, al-salam


Sumber Syariat Islam

  1. Al-Quran: wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad saw, baik lafad, makna, dan gaya bahasa yang termaktub dalam mushaf yand disalin secara mutawatir

  2. Hadis: segala sesuatu yang dikaitkan kepada nabi Muhammad saw, baik ucapan, perbuatan, dan ketetapannya

  3. Ijma: kesepakatan para ulama pada waktu tertentu tentang suatu masalah tertentu

  4. Qiyas: yaitu menerapkan hukum perbuatan tertentu kepada perbuatan lain yang memiliki kesamaan.

  5. Istihsan : menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti prinsip keadilan dan kasih sayang.

  6. Masalih al-Mursalah: menetapkan hukum berdasarkan tujuan kegunaan atau kemanfaatannya sesuai dengan tujuan syari’at.

  7. Urf: kebiasaan/tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam


Ibadah

Pengertian Ibadah

  1. Pengertian Ahli bahasa: tha’at, menurut, mengikut, tunduk.

  2. Pengertian Ulama Tauhid, Tafsir dan Hadis: mengesakan dan mengagungkan sebagai tujuan yang diiringi sikap hina dan rendah

  3. Pengertian Ulama Akhlak: amaliah jasmani dengan menegakan nilai-nilai syari’ah

  4. Pengertian Ulama Tasawuf: perbuatan mukalaf yang bertentangan dengan hawa nafsunya karena semata-mata mengagungkan-Nya.

  5. Pengertian Fuqoha: sesuatu yang ditunaikan karena mengharap rido Allah dan mengharap pahala di akhirat.


Hakikat Ibadah

Makna khusus :

“Segala hukum yang tidak terang illatnya dan tidak terang kemaslahatannya”

Makna umum :

“Segala hukum yang kita laksanakan atas nama ketetapan Allah dan diridhai oleh-Nya”
Hakikat Ibadah

  1. Ketundukan jiwa yang timbul dari hati yang mencintai dan mengagungkan Dzat yang disembah.

  2. Pengabdian dan ketundukan jiwa kepada Dzat yang ghaib yang tidak dapat diketahui oleh pengetahuan manusia.


Syarat Diterima Ibadah

  1. Ikhlas

  2. Ibadah dilakukan secara sah sesuai dengan petunjuk syara



Bentuk-bentuk Ibadah

  1. Ibadah yang berupa perkataan dan ucapan lidah, seperti Tasbih, tahmid, dll

  2. Ibadah yang berupa perbuatan yang tidak disifatkan dengan sesuatu sifat, seperti menolong orang karam dan jihad fi sabilillah

  3. Ibadah yang berupa menahan diri dari mengerjakan sesuatu pekerjaan,seperti puasa

  4. Ibadah yang melengkapi perbuatan dan menahan diri dari sesuatu pekerjaan, seperti ‘Itikaf, hajji, thawaf, dll.

  5. Ibadah yang bersifat menggugurkan hak, seperti membebaskan orang-orang yang berhutand dari hutangnya

  6. Ibadah yang melengkapi perkataan, pekerjaan, khudu, khusyu, menahan diri dari berbicara.


Keutamaan Ibadah kepada Allah

  1. Ibadah merupakan bukti iman dan cinta kepada Allah swt (QS 35: 15; 3; 31)

  2. Merupakan konsumsi untuk ruhiyyah/spiritual/jiwa

  3. Ibadah kepada Allah sebagai kemerdekaan abadi (QS 2: 165)

  4. Ibadah sbg ujian meningkatkan derajat Mukmin (QS 29: 1-2, 2: 214)

  5. Merupakan hak Allah atas manusia (QS 2: 21-22)

  6. Sbg sarana mendapat pahala dan terhindar dari siksa (QS 25: 65-66)

  7. Sarana mendidik dan melatih kejiwaan manusia (QS 2: 21)

  8. Sarana menghindari sifat sombong (QS 7: 146)

  9. Sarana berjumpa dengan Allah (QS 20: 14).



6. AKHLAK

Pengertian

Akhlak adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dapat mendorong dan melahirkan suatu perbuatan yang gampang dilakukan, tanpa melalui maksud untuk memikirkan lebih lama. (Imam al-Ghazali)[1]



  1. [1] Mahyudin, Akhlak Tasawuf, hal: 4, Edisi Tiga, Kalam Mulia, Jakarta, 1999


Pendorong Perbuatan Manusia

    1. Tabiat (pembawaan): yaitu suatu dorongan jiwa yang disebabkan oleh naluri/gharizah dan faktor warisan sifat orang tua dan nenek moyangnya

    2. Akal-pikiran: dorongan jiwa yang dipengaruhi oleh lingkungan manusia setelah melihat sesuatu, mendengarkan, merasakan, dan merabanya.

    3. Hati nurani: dorongan jiwa yang hanya terpengaruh oleh faktor intuitif/ wijdan/ bashirah


Akhlak Baik kepada Allah

  1. Taubat: suatu sikap yang menyesali perbuatan buruk yang pernah dilakukannya dan berusaha menjauhinya, serta melakukan perbuatan baik. (QS al-Taubah: 75: QS al-Nisa: 16-17; QS al-Nuur: 31; QS al-Tahrim: 8; QS al-Nahl: 119)

  2. Sabar, suatu sikap yang betah atau dapat menahan diri pada kesulitan yang dihadapinya

  3. Syukur, suatu sikap yang selalu ingin memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, nikmat yang telah diberikan oleh Allah swt kepadanya, baik bersifat materi atau ruhani. (QS al-Baqarah: 52, 56, 152, 158, 172, 185; QS al-Nisa: 146; QS Ali Imran: 123, 144; QS al-Nahl: 14, 114; QS al-Ankabut: 18)

  4. Tawakkal: suatu sikap yang menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah berbuat semaksimal mungkin, untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkannya. (QS Hud: 56, 77, 123; al-Anfal: 50; QS Yusuf: 67; QS Ibrahim: 12; QS al-Mulk: 29)

  5. Ikhlas: suatu sikap menjauhkan diri dari riya’ ketika mengerjakan amal baik. (QS al-Baqarah: 94, 139; QS Yusuf: 24, 54, 80; QS al-Zumar: 2, 3, 11, 14; QS al-Shaffat: 40; 74, 128, 160: QS al-Bayinah: 5)

  6. Raja’: suatu sikap jiwa yang sedang menunggu sesuatu yang disenangi dari Allah swt, setelah melakukan hal-hal yang menyebabkan terjadinya sesuatu yang diharapkannya. (bedakan dengan tamanni) (QS. Al-Baqarah: 218; QS al-Nisa: 103; QS al-Isra: 28, 57; QS al-Kahfi: 111; QS al-Ahzab: 21; QS al-Ankabut: 5)

  7. Khauf: suatu sikap jiwa yang sedang menunggu sesuatu yang tidak disenangi dari Allah swt. (QS al-Maidah: 25, 31, 97, 111; QS al-An’am: 15, 80, 81; QS al-‘Araf: 47, 55, 57; QS al-Sajadah: 16; QS al-Naziat: 40)


Akhlak Buruk kepada Allah

  1. Takabbur, suatu sikap yang menyombongkan diri, sehingga tidak mau mengakui kekuasaan Allah di ala mini, termasuk mengingkari nikmat Allah yang ada padanya. (QS al-‘Araf: 146; QS al-Nahl: 23, 29; QS al-Mu’min: 27, 35; QS al-Zumar: 60, 72; QS al-Munafiqun: 5)

  2. Syirik, suatu sikap yang mempersekutukan Allah dengan mahluk-Nya, dengan cara menganggapnya bahwa ada suatu mahluk yang menyamai-Nya dan membantu-Nya. (QS al-Nahl: 100, 120; QS al-Ankabut: 8, 65; QS al-Ruum: 31, 42; QS Luqman: 31, 42; QS al-Zumar: 65)

  3. Riddah, suatu sikap yang meninggalkan atau keluar dari agama Islam, untuk menjadi kafir. (QS al-Baqarah: 217; QS al-Maidah: 54; QS Muhammad: 25)

  4. Nifak, suatu sikap yang menampilkan dirinya bertentangan dengan kemauan hatinya dalam kehidupan beragama. (QS al-Taubah: 64, 67, 68, 73, 97, 101; al-Ahzab: 1, 24, 48; QS al-Munafiqun: 1, 7)

  5. Riya’, suatu sikap yang selalu menunjuk-nunjukan perbuatan baik yang dilakukannya. (QS al-Baqarah: 264; QS al-Nisa: 38: QS al-Anfal: 47)

  6. Israf, perbuatan yang selalu melampaui batas-batas ketentuan agama. (QS al-Nisa: 6; QS al-An’aam: 141; QS al-Syu’ara: 151; QS al-Mu’min: 28, 34; QS al-Zumar: 53)

  7. Hirshu/Thama’, suatu sikap yang tidak pernah merasa cukup, sehingga selalu ingin menambahapa yang seharusnya ia miliki, tanpa memperhatikan hak-hak orang lain. (QS al-Baqarah: 96; QS al-Mudatsir: 15)


Akhlak Baik kepada Manusia

  1. Syafaqah, sikap jiwa yang selalu ingin berbuat baik dan menyantuni orang lain. (QS Ali Imran: 159)

  2. Ikha’/Ukhuwah, sikap jiwa yang selalu ingin berhubungan baik dan bersatu dengan orang lain karena ada keterikatan batin dengannya. (QS Ali Imran: 103)

  3. Nashihah, suatu upaya untuk memberi petunjuk-petunjuk yang baik kepada orang lain dengan menggunakan perkataan. (QS al-‘Araf: 61, 68, 79, 94; QS Huud: 34; QS al-Qashash: 20)

  4. Nashru, suatu upaya untuk membantu orang lain, agar tidak mengalami kesulitan (QS al-Baqarah: 270; QS Ali Imran: 81; QS al-Anfal: 72, 74; QS al-Hajj: 40; QS al-Hadid: 25)

  5. Kazhmul Ghaizi, upaya menahan emosi, agar tidak dikuasai oleh perasaan marah terhadap orang lain. (QS Ali Imran: 134)

  6. Hilm, sikap jiwa yang lemah-lembut terhadap orang lain, sehingga dalam perkataan dan perbuatannya selalu mengandung adab kesopanan yang mulia. (QS al-Baqarah: 225, 235, 263; QS al-Nisa: 11; QS al-Hajj: 59; QS al-Ahjab: 51; QS al-Thagabun: 17)

  7. Afwu, sikap dan perilaku seseorang yang suka memaafkan kesalahan orang lain yang pernah diperbuat terhadapnya. (QS al-Baqarah: 109, 237; QS Ali Imran: 134; QS al-Nisa: 149; QS al-‘Araf: 199; QS al-Syuura: 40)


Akhlak Buruk kepada Manusia

  1. Ghadhab, kondisi emosi seseorang yang tidak dapat ditahan oleh kesadarannya, sehingga menonjolkan sikap dan perilaku yang tidak menyenangkan orang lain. (QS al-“Araf: 150, 154)

  2. Hasad atau Hiqdu, sikap kejiwaan seseorang yang selalu menginginkan agar kenikmatan dan kebahagiaan hidup orang lain bisa hilang sama sekali. (QS al-Baqarah: 109; QS al-Nisa: 54; QS al-Fath: 15: al-Falq: 5)

  3. Namimah, suatu perilaku yang suka memindahkan perkataan seseorang kepada orang lain, dengan maksud agar hubungan social keduanya rusak.

  4. Sha’aru, yaitu sikap dan perilaku yang menampilkan kesom-bongan, baik dilihat dari tingkah laku maupun perkataannya

  5. Ghibah, suatu sikap perilaku yang suka membicarakan keburukan seseorang kepada orang lain

  6. Bukhlu, suatu sikap yang tidak mau memberikan nilai materi dan jasa kepada orang lain. (QS Ali Imran: 180; QS al-Nisa: 37; QS al-Taubah: 76; QS Muhammad : 37-38, QS al-Lail: 8)

  7. Zhulmu, suatu perbuatan yang merugikan orang lain, baik kerugian materil maupun non-materil. (QS al-Baqarah: 95, 246, 258; QS Ali Imran: 57, 128, 140; QS al-Nisa: 10, 30, 153; QS al-“Araf: 5, 41; QS Ibrahim: 13, 34, 42)


Sikap Hidup sebagai Puncak Akhlak Baik

  1. Hikmah, kemampuan jiwa yang dapat mengekang hawa nafsu, mengendalikan amarahnya dan sanggup melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan Allah swt.

  2. Iffah, menahan diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah swt dan menjauhi hal-hal yang tidak mengandung kebaikan.

  3. Syaja’ah, sikap hidup yang selalu berani membela kebenaran agama dan negara dari berbagai ancaman tanpa ragu-ragu.

  4. Adalah, sikap hidup yang selalu menempatkan sesuatu pada proporsi yang sebenarnya


Tingkat Keburukan Akhlak

  1. Jahil, perbuatan buruk yang timbul karena ketidaksanggupan seseorang mengendalikan nafsunya.

  2. Jahil Dhall, perbuatan buruk yang diketahui keburukannya, tetapi ia tidak bias meninggalkannya karena nafsunya sudang menguasai dirinya.

  3. Jahil Dhall Fasiq, perbuatan buruk karena hilangnya pengertian tentang perbuatan baik, sehingga kejahatan dianggap sebagai kebaikan

  4. Jahil Dhall Fasiq Syar, perbuatan buruk yang sangat berbahaya karena sulit dihilangkan. Kejahatan sudah dianggap nikmat dilakukannya.


Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə