Arti Menunggu



Yüklə 234.67 Kb.
səhifə2/5
tarix18.01.2018
ölçüsü234.67 Kb.
1   2   3   4   5
Bab 3

Aku Temukan Titik Terang itu

Hari ini merupakan pengumuman siapa pemenang dari lomba cerpen dari redaksi kantornya ayah Dimas. Yang akan diumumkan nanti malam, dan betapa was-was nya Nadia apakah dia bisa menang, atau kalah.

“Dim aku dek-dek kan, liat hasilnya nanti malam.”

“kamu tenang aja Nad, insa’allah kamu menang.” Jawab Dimas dengan santainya, yang sedang berkutat dengan tumpukan buku dihadapannya.

“amien, mudah-mudahan aja.”

“kalau kamu, ga dapat uang 1000.000 itu gimana?.” Tannya Gilang

“ya ga apa-apa berarti itu belum rizkinya Nadia.” Ujar Nadia dengan ketusnya.

“huss jangan berisik, ini kan kita lagi di perpustakaan sekarang fokus aja ke tugas” ujar Dimas sembari meletakan jari telunjuknya di bibir

“aku ga konsen, ngerjainnya juga” bibir Nadi berudah menjadi lebih maju 5 cm




Dan malam harinya, Nadia mencoba untuk membuka email untuk melihat pemberitahuan apakah cerpennya di tolak atau diterima. Dengan hati dak,dik,duk Nadia mencoba membuka pesan yang masuk dengan mata tepejam Nadia mengklik pesan yang masuk. Perlahan Nadia pun membuka matanya dan membaca isi pesan itu,

“selamat anda memenakan lompa cerpen dari Redaksi majalah Maiden. untuk hadiahnya silahkan, kunjungi kantor redaksi kami.”

Nadia pun loncat-loncat kegirangan saat membaca pesan itu, Nadia langsung memberi tau Dimas dan Gilang, bahwa cerpennya diterima oleh redaksi majalah yang di pimpin oleh ayahnya Dimas..


Nadia Anggreini:

Aku menang, ye dapat 1000.000

Dimas Juliana:

Selamat ya Nad, jangan lupa teraktirnya

Gilang Gumalang :

Selamat Nad akhirnya impian kamu terwujud juga, ditunggu teraktirannya

Nadia anggreini:

Tenang aja pasti aku teraktir, Dimas bilangin ke ayah kamu makasih atas bantuannya.”

Dimas Juliana :

Iya Nad nanti aku sampein, kata ayah aku besok ke kantornya untuk ambil hadiahnya”

Nadia Anggreini :

oke


Oke




Besok harinya Nadia pun ke kantor ayahnya Dimas, untuk mengambil hadiah satu jutanya, dan disana dia bertemu dengan Putri.

“Putri”


“kamu Nadia temennya Dimas ya, yang ketemu di acara bedahnya buku Asma Nadia?.”

“iya, aku mau ambil hadiah dari lomba cerpen.”

“oh, jadi kamu pemenangnya.”

“iya”


“sebentar ya, aku ambil dulu uangnya”

Putri pun kembali dengan mengambil uangnya, dan meminta tanda tangan Nadia sebagai bukti pengambilan hadiah dari lomba nulis cerpen itu. Setelah mengambil hadiah itu, Nadia pun ke ruangan ayahnya Dimas untuk mengucapkan terimakasih. Nadia pu mengetok pintu ruangan ayahnya Dimas.

Tok, tok, tok

“masuk” suara ayahnya Dimas dari dalam ruanganya.

Nadia pun, memasuki ruangan ayahnya Dimas

“Nadia”


“ayo, duduk.” Sapa ayah Dimas dengan ramahnya.

“Nadia, cuman mau ucapin makasih, soalnya Om udah bantu Nadila.”

“oh iya, selamat ya Nadila cerpen kamu bakalan di terbitin minggu depan.”

“iya Om, sekali lagi makasih, kalau bukan karena Om mungkin cerpen Nabia udah ditolak lagi untuk sekian kalinya.”

“Nadia, cerpen kamu diterima itu karena tulisan kamu bagus, bukan karena Om.”

“iya Om, kalau gitu Nabila pamit dulu, assalamualaikum”

“wa’alaikumsalam”

Setelah mendapatkan uang itu, Nadia berniat untuk menteraktir Dimas dan Gilang.



Hari ini merupakan hari diterbitkannya cerpen Nadia. Dengan penuh semangat Nadia pun membeli majalah Maiden dan langsung mencari halaman dimana cerpennya dimuat. Saat menemukan halaman cerpennya dimuat Nadila pun berjingrak-jingrak betapa senagnya dia. Nadia pun langsung memperlihatkan majalah itu pada ayah dan ibunya.



“ayah, ibu lihat ini” dengan penuh semangatnya Nadia, menunjukan halaman majalan itu.

“ada, apa Nad?”

“baca ini, Bu”

Ibu Nadia mengambil majalan itu dari tangan Nadia, dan membaca yang ditunjukan oleh tangannya.“selamat ya Nadia, akhirnya karya kamu ada yang dipublikasikan.” ibu Nadia, sembari mencium kening Nadia

Ayah Nadia pun, langsung merebut Majalah Maiden itu dari tangan ibu

“walah, ini beneran karya kamu Nad?.”

“iya yah.”

“walah akhirnya, karya kamu ada yang dimuat juga.”

“iya ayah allhamdulilah, Nadia sih penginnya selanjutnya bisa buat novel.”

Nadia pun meminta Dimas dan gilang untuk baca cerpennya, dan pada saat itu juga cerpen Nadia yang dimuat di Majalah Maiden jadi terending topic di kampusnya.

Nadia pun tak luput untuk ucapkan syukurnya dengan melakukan sujud syukur.

“ya Allah, terimakasih atas nikmat yang telah kau berikan, engkau yang maha menegetahui apa yang hambanya kerjakan, dan ini lah nikmat yang aku dapat dari hasil yang telah aku usahakan.”

Handpone Nadia pun berdering tanda telepon yang masuk, terlihat dari layar hadpone-nya “ayah Dimas calling” dengan penuh penasaran Nadia pun segera mengangkatnya.

“hallo, assalamualaikum Om.”

“gimana nih, rasanya cerpennya bisa diliat banyak orang?.”

“seneng banget, Om.”

“Nadia, bisa ketemu Om ga sekarang?.’

“bisa ko, Om.”

“ya udah, kalau gitu Om tunggu, di kantor Om ya.”

“iya Om.”

Nadia pun langsung bergegas menuju kantor ayahnya Dimas. Sesampainya Nadia langsung menuju ruangannya.

“assalamualaikum, Om.”

“wa’alaikmsallam, Nadia ayo duduk.”

“Om, ada apa ya nyuruh aku kesini?.”

“gini, Redaksi Majalah Maiden setelah liat respon dari pembaca cerpen kamu melalui majalan online Maide. Ternyata banyak yang minta dibuatkan novel.”

“allhamdulilah, Om kalau banyak yang suka dengan cerpen aku”

“iya, Om menawarkan kamu itu, apa kamu siap?”

“siap, banget Om” jawab Nadia, dengan penuh semangatnya.

“oke, kalau gitu mulai besok kita revisi cerpen kamu.”

‘iya Om, sekali lagi Nadia ucapin beribu makasih.”

“Nadia, Om kan udah bilang kalau kamu itu calon penolis yang bisa melahirkan novel-novel best seller, dan disini Om sebagai perantara kamu untuk menuju pintu itu.”

“iya Om, Insaallah impian aku sedikit-demi sedikit akan tercapai itu semua berkat Om.”

Nadia pun keluar dari ruangan ayah Dimas dengan wajah sumingrah sembari jingrak-jingrak ga jelas, sampai orang yang berada di sana memperhatikannya.

Nadia pun setelah menemui ayahnya Dimas, dia langsung ke kampus menemui Dimas dan Gilang yang tengah asik main basket. Saat melihat Nadia datang dengan membawa minuman, Dimas dan Gilang pun langsung menghampiri Nadia.

“Nad, ini untuk aku kan?.” Dimas pun langsung mengambli dari tangan Nadia dan menegugknya

“makasih, Nad tau aja kita lagi haus”

“kayanya, kalau liat wajahnya ada yang lagi seneng” lirik Dimas ka arah Nadia

“asik, yang lagi jadi trending topic satu kampus,” Gilang pun mencubit pipi Nadia yang tembeb

“ih sakit tau, aku ditawarin ayah Dimas untuk adaptasi cerpen itu, jadi Novel.” Nadia pun langsung menyusap-usap pipinya yang menjadi mereh

“wah serius?.” dengan tampang muka penasarannya Gilang.

“iya, kata ayah kamu sih banyak respon dari para pembaca cerpen aku di majalan online Maide, minta untuk dibuat Novel.”

“bagus deh, ini kan emang impian kamu selama ini.”

“iya, makanya aku bener-bener bersyukur banget bisa ketemu ayah kamu, impian aku sedikit demi sedikit bisa tercapai juga” ujar Nadia sembari memegang tangan Dimas.

“allhamdulilah kalau gitu, mudah-mudahan semua apa yang aku impiin bisa terlaksana dan berjalan dengan lancar ya Nad.”

“amien, dan ini juga berkat doa dari kalian juga.” Nadia merangkul bahu Dimas dan Gilang.




Di malam harinya dengan semangat yang menggebu-gebu Nadia pun memulai untuk mengerjakan projek novelnya. Yang di adaptasi dari cepen yang telah dia buat. kerena menurut Nadia menjadi seorang penulis bukan hanya andalkan imajinasinya, tetapi dia menulis dengan hati, dan dari hati itu seorang penulis dapat menuangkan emosinya dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dibuat dengan hati itu akan mrnghasilkan tulisan yang bagus.

Besok harinya pun Nadia menunjukan hasil naskah dari hasil revisi cerpennya, ke ayahnya Dimas untuk dikoreksi. Coretan demi coretan tinta merah pun telah mewarnai naskah itu.

“Nadia, masih banyak yang perlu kamu perbaiki.”

“iya, Om, masih banyak yang salah dari naskah aku ya?”

“iya, banyak sekali kesalahannya.”

“baiklah, Nadia akan perbaikinya”

“Nadia, Om kasih kamu waktu 1jam untuk perbaiki naskah kamu.”

“1 jam Om?.” dengan nada kagetnya Nadia.

“iya 1 jam, kamu ga bisa?.”

“emm”


“Nadia, ini tantangan buat kamu dan kamu harus mampu melemati tantangan demi tantangan jika kamu ingin sampai pada garis finis itu.”

“Nadia bisa ko Om.” dengan penuh semangatnya

“ok kalau gitu, Om mitting dulu, selesai Om metting kamu harus selesai perbaiki naskah kamu.” ayah Dimas pergi sembari menepuk bahu Nadia

Tanpa ambil pusing Nadia pun langsung memperbaiki Naskahnya itu sembari menyuarakan. “Nadia pasti bisa, Nadia pasti bisa”

1 jam pun telah berlalu dan ayah Dimas pun telah selesai metting. Dan Nadia langsung menyetorkan naskah yang telah dia perbaiki. Namun sayangnya coretan merah itu lagi-lagi ada tapi, coretan sekarang tidak sebanyak coretan waktu pertama dikoresi.

“Om minta kamu lebih pintar lagi, dalam pemilihan diksi.”

“iya Om.”

“karena ini udah waktunya jam makan siang, gimana kita makan siang dulu?.”

“makasih Om tapi, Nadia ga laper, Nadia harus perbaiki naskahnya sampe bener-bener bersih dari coretan merah.”

Ayah Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kegigihan semangatnya dalam merevisi naskahnya.



Disetiap usaha yang kita lakukan.

Pasti ada hasil yang akan kita petik.

Ketika, memiliki mimpi yang besar.

Lakukanlah, usaha yang semaksimal mungkin

Karena pembelayaran yang berharga

Adalah proses yang kita lalui.

Hasilnya adalah sebuah penghargaan

Dari setiap langkah yang kita lalui,

Karena, usaha tidak akan menghianati hasilnya.

(suara hati sesungguhnya Nadia)

Bab 4

Impian aku selama ini

Revisi demi revisi Nadia lakukan setiap harinya selama 3 bulan lamanya. Akhirnya novel perdana yang Nadia buat diterbitkan juga. yang diadaptasikan dari cerpennya dengan judul yang sama yaitu, “Impian Seorang Penulis” tak henti-hantinya Nadia ucapkan syukur atas nikmat yang Allah berikan dengan berlinang air, ketika melihat cover bukunya itu Nadila bersujud sembari memeluk buku itu. Tak lupa Nadia pun ucapkan terimakasih kepada ayah Dimas selaku pemimpin redaksi sekaligus editor selama proses pembuatan novelnya itu.

Pada hari launching bukunya itu, begitu jelas dari raut wajahnya bahwa dia begitu senang. Dari setiap penolakan naskahnya itu akhirnya berbuah manis untuknya.

“Nad, akhirnya buku perdana kamu launcing juga?.”

“iya Dim, aku ngerasa ini kaya mimpi.”

“ini kan, hasil perjuanngan kamu selama ini”

“Gilang, mana sih ko belum datang.”

“bilangnya sih, tadi lagi di jalan.”

“aduh Dim, jantung aku makin dak-dik-duk gini, acaranya udah mau dimulai.”

“santai aja Nad, pokonya hari ini adalah harinya untuk kamu, kamu boleh lakuin apa aja sesuka kamu.”

Dan ayah Dimas pun menghampiri Nadia dan Dimas untuk memastikan apakah Nadia sudah siap.

“Nadia kamu sudah siap, sebentar lagi acaranya dimulai.”

“iya Om, Nadia udah siap.” ayah Dimas pun pergi semabri menepuk bahu Nadia.

“Nad, kayanya sekarang waktunya.”

“aku udah cantik kan” ujar Nadia sembari merapihkan rambutnya.

“udah, udah perfect ko.”

“oke, kalau gitu aku kesana dulu” Nadia pun menuju stage bukunya

Beberapa menit acaranya dimulai Gilang pun baru datang.

“kemana aja sih, baru datang.”

“sorry, tadi aku antar Mawar dulu ke kampusnya”

Pada saat sesi tanya, jawab pun dimulai diataranya ada yang melontarkan pertanyaaan yang membuat air mata Nadia terjatuh begitu saja.

“bagaimana perjuangan saat anda membuat novel ini, dan apa yang membuat anda terus termotivasi untuk terus menulis. ”

“perjuangan yang aku lalui sangat panjang, hingga akhirnya saya bisa bicara di depan kalian dan memgang buku ini. Rasanya seperti mimpi dan itu semua saya tumpahkan dalam novel ini, yang membuat saya terus bersemangat untuk gapai impian saya menjadi seorang penulis, itu karena keyakinan, tekat saya yang bulat bahwa aku bisa, aku mampu. Dan salah satu orang paling berpenngaruh hingga saya bisa melewati tantangan demi tantangan dalm menulis, yaitu beliau yang duduk disampaing saya, dan juga motivasi dari teman-teman saya .” Nadia sembari melirik kearah ayah Dimas yang duduk disampingnya.

Diakhir acara Nadia memberikan tanda tangan pada semua pengunjung yang membeli novelnya. Bagi Nadia ini bagaikan mimpi yang diputar balikan menjadi sebuah kenyataan, yang manis dari perjalanan pahitnya perjuangannya selama ini.”

Setelah acaranya selesai Dimas dan Gilang pun mengahpirinya sembari memberikannya bunga.

“makasih” Nadia sembari mencium bunga mawar yang diberikan Dimas.

“selamat ya Nad, akhirnya impian kamu selama ini kesampaian juga.” Gilang memeluk Nadia dengan eratnya.

“ini juga berkat doa, sama dukungan dari kalian, tanpa kalian mungkin Nadia ga bisa kaya sekarang. Nadia ngerasa beruntung banget karena punya temen kaya kalian.” merekapun berpeluk memegang bahu satu sama lain.

Tak lupa mereka pun berfoto mmoment yang berharga berharga itu.

Ayah Dimas pun datang untuk memberikan selamat pada Nadia.

“Nadia selamat ya, akhirnya hal yang kamu impikan selama ini teerwujud dan tadi juga acaranya berjalan dengan lancar.”

“ini juga berkat bantuan dan dukingan dari Om.”

“ya udah, karena ini merupakan hari besar untuk Nadia, gimana nanti malam kita makan malam di luar.”

“mau banget yah”

“ya udah kalau gitu, ayah tinggal dulu masih banyak kerjaan yang belum selesai”

Nadia hanya menjawab dengan anggukan yang mantap.



Malam hari mereka pun makan malam diluar, direstoran yang paling indah dikota Bandung. Yaitu congo cafe, Nadia yang baru pertama kalinya kesana begitu terpukau dengan keindahan tempat itu.



“Dim, sumpah bagus banget tempat ini.” mata Nadia pun menyapu semua seisi restoran itu.

“udah aku bilang, ini tempat terkeren di bandung.”

Ayah Dimas yang telah sampai lebih dulu disana, telah memesan makannan untuk mereka.

“ayo duduk, Om udah pesenin makanan untuk kalian.”

“wah kayanya enak-enak semua ini makanannya.” perut Nadia pun semakin mengaung-mengaung meminta diberi makanan.

“ayo dimakan, jangan di liat dong” perintah ayah Dimas

“sebelum kita makan gimana kita bersulam dulu, selamat buat Nadia karena udah launching buku perdananya sukses selalu buat kita semau” seru Gilang

“cherr” seru Nadia, Gilang, Dimas, dan ayah Dimas mengadukan gelas mereka.

Setelah bersulam Nadia pun langsung menyerbu makaan yang ada dimeja. Dengan lahabnya Nadia mencoba semua makanan yang ada diatas meja.

“sumpah disini, tempatnya asik banget”

“kamu baru pertama kalinya kesini Nad?.” Gilang melirik ke arah Nadia dengan mata jahilnya

“iya, abisnya kalian ga pernah ngajak Nadia, jalan-jalan exspor Bandung ke tempat-tempat yang bagus pemandangannya.”

“oh, jadi mau diajakin kita” sahut Dimas dengan mata rayuannya

“ya, iyalah pengin”

“gimana, minggu ini kita ke lembang disana kan bayak tempat-tempat yang oke, bisa kita explor” Gilang memberi ide

“bagus juga ide kamu Gilang” sahut Dimas

“nanti kita bisa ke De Ranch, Maribaya pokonya dijamin asik, kalau kemalaman kita bisa nginep di vila aku”

“asik, kali ini pengin dong diteraktir jalan-jalan sama Gilang.” pinta Nadia

“ko Gilang, kan yang lagi ketimpa rezeki Nadia.”

“emm, aku kan udah pernah teraktir kalian makan pizza, sekarang giliran kamu dong”

“iya deh, tapi kalau Gilang yang teraktir. Gilang mau ajak Mawar” Gilang dengan nada ketusnya.

“eh enak aja, ga bisa ini cuman untuk kita bertiga” dengan nada sewudnya

“kalau Gilang ajak Mawar, Dimas mau ajak Putri ah.”

“ih kalian, ga kasian apa sama temen kalian yang jomblo ini.”

“iya deh, maaf” gilang dan Dimas sembari mengusap kepala Nadia




Di hari sabtu mereka pun memulai perjalanan mereka menuju Lembang jam 7 pagi. mereka berkumpul di rumah Gilang pada saat pemberangkatannya, merekapun melakukan perjalanannya menggunakan mobil Dimas, Sepanjang perjalanan Nadia tampak senang.

Tempat pertama yang mereka kunjungi yaitu, ke De Ranch sesampai disana udara terasa begitu sejuk, suasana pedesaan masih teras di daerah sini. Saat memasuki pintu gerbang De Ranch mereka langsung melakukan riding out dengan menugaki kuda ala-ala coboy berasa di Amerika gitu, mereka mengelilingi pedesaan yang ada disana sejauh 10 Km. mata mereka pun sepajang riding out disuguhi oleh pepohonan yang hijau, selain itu juga mereka mencoba flaying fox, fun boat, panahan, dan juga mencoba memerah sapi. Setelah bermain nunggak kuda ala-ala koboy sekarang mereka main basah-basahan di Curuk Maribaya. Sesampai disana mata mereka disuguhi dengan pemandangan air terjun Maribaya yang indah, tak lupa mereka pun berfoto untuk mengabadikan moment itu yang mereka upload ke instgram

Malamnya mereka menginap di vilanya Gilang dengan udara malam yang begitu dingin. sembari melihat pemandangan malam hari di Lembang dengan bintang-bintang berkelap-kelip. menyinari langit yang gelap di temani secangkir susu coklat yang hangat, Nadia yang berada di balkot menatap ke arah langit sembari melamun dengan semiliran angin yang menghempas ke arah wajahnya. Lamunan Nadia pun dibuyarkan dengan kedatangan Dimas.

“hey...ngelamun aja” sembari menepuk bahu Nadia

“ah ganggu suasana romantis malam aku aja.”

“lagian ngapain coba diluar sendirian, ga pake jaket lagi ga dingin apa” (Dimas pun memakekan jaket, yang dipakenya ke Nadia.)

“Dim, aku mau tanya sesuatu sama kamu.”

“apa?.”


“menurut kamu cinta itu kaya apa?.”

“menurut aku cinta, ya suatu rasa yang dengan begitu aja datang entah dari mana, yang jelas hati kita mengatakan hahwa aku jatuh cinta pada dirinya.”

“jadi, kaya gitu rasa cinta kamu, ke Putri.”

“ya, kalau aku sih kaya, tapi tiap orangkan beda-beda makanya, kamu cepetan dapetin cowo, baru kamu tau apa rasanya jatuh cinta itu kaya gimana.”

“Nadia sih udah ngerasa gimana rasanya jatu cinta, tapi Nadia ngerasa ga layak untuk ngerasain rasa itu. Karena kobodohan Nadia ga bisa bedain mana rasa cinta pada seorang sahabat dengan rasa ingin memiliki.”

“oh iya, siapa ko kamu ga pernah cerita, jahat deh ketemen sendiri ga pernah cerita” Dimas pasang tampang penasaran.

Sembari menatap wajah Dimas suara hati Nadia berkata. “itu orngnya kamu Dimas, entah aku harus buang perasaan ini pada tempat yang mana. Yang jelas semakin ingin aku buang perasaan ini. Semakin kuat rasa ini ingin selalu berada dekat denganmu.”

Ketika Dimas dan Nadia saling menatap satu sam lain, harus dihentikan dengan kedatangan Gilang yang mengagetkan mereka.

“ngapain sih kalian berduaan?.” Gilang datang dengan tampang detektif untuk menyelidiki

“ah kamu ganggu aja, kita kan lagi adegan romantis tatap-tatapan kaya di sinetron gitu.” Rayu, Dimas ke Nadia

“iya nih, buyarin suasana romantis kita aja” (dengan nada keselnya Nadia)

“oh iya, aku juga mau dong adegan romantis sama kalian” mereka bertiga pun saling merangkul di tengah dinginnya udara diluar

“udah ah masuk yuk, lama-lama disini bisa beku aku disini.” Gilang pun merintih kedinginan yang hanya memakai kaos oblong dan kolor selutut




Di malam hari Dimas di dalam kamar yanng sedang asyik dengan handponenya sembari senyum-senyum sendiri. Line dengan Putri tiba-tiba ada yang menetok pintu kamarnya, terdengar suara ibunya menyuruh untuk makan malam.

“Dim, ayo makan malam dulu.”

“iya, Bu nanti Dimas ke bawah.”

“ibu, tunggu dibawah ya.”

“iya”

Setelah Dimas turun kebawah ayah Dimas memimpin doa sebelum mereka makan. Dimas yang makan, dengan memegang handpone dengan tangan kirinya senyum-senyum sendiri.



“ada apa Dimas, ibu lihat kamu dari tadi makan sambil liatin handpone senyum-senyum sendiri.”

“engga ko Bu, ga ada apa-apa.”

“ayah tau, pasti itu Line dari Putri ya?.”

“heheh, ko ayah tau sih”

“ya tau lah”

“ih ko ayah, lebih tau dari mamah, Putri yang mana sih?.”

“itu loh Mah, Putri temen Dimas waktu SMA. Dia sekarang kerja di kantor ayah.”

“oh, iya Mamah inget putri, yang waktu dulu sering kesini kerja kelompok sama kamu kan?.”

“heheh, iya.” Dimas dengan muka semakin memerah, karena malu

“ayah liat sih, dia anaknya baik, jujur, sholehah lagi pake jilbab.”

“kapan kenalin ke Mamah? Mamah pengin ketemu sama dia.”

“iya Dim, ayah pengin sih kamu langsung aja lamar Putri, perempuan sholehah kaya putri, masa kamu biarin mibazir loh.”

“ah, ayah sama Mama apaan sih. Dimas belum kepikiran ke arah situ masih lama. Kuliah aja Dimas belum lulus.”

“itu sih gampang, banyak anak buah ayah dikantor. Dia masih kuliah tapi udah nikah. kuliahnya jalan terus ga ada yang terganggu.”

“iya Dim, Mamah kan pengin cepet gendong cucu dari kamu.”

“apan ah ayah sama Mamah mikirnya kejauhan.”

“Ayah serius Dim, nanti keburu ada yang ngambil si Putri loh”

“yah, kalau jodohkan ga kemana udah ada yang ngatur.”

“iya deh, terserah kamu Dim”




Besoknya pun Nadia yang sedang di Arboretum tengan asyik dengan laptopnya dikagetkan dengan kedatangan Dimas dan Gilang.

“kamu lagi ngapain sih Nad.” tanya Dimas dengan penuh penasaran melirik ke arah laptopnya Nadia

“engga lagi ngelamun aja, siapa tau disini Nadia bisa dapat ide-ide buat nulis.”

“ya elah, dapet ide ditempat kaya ginian.” dengan nanda ketusnya Gilang

“eh, nyebelin tau ga semlam pas lagi makan, ayah sama ibu aku, nyuruh aku lamar Putri, gila aja.”

“lamar? Emm kalau menurut aku sih, bener juga kata orang tua kamu, soalnya Putri kan pake jilbab. Pasti dia ga mungkin mau pacaran, dia pasti maunya ta’aruf.”

“apa maksud kamu Nad?.”

“iya si Putri pasti kalau, Dimas mintanya untuk jadi pacar dijamin pasti ditolak lah. Si Putri pasti maunya langsung nikah aja ga pake pacar-pacaran.”

“kamu bikin aku galau aja Nad, Gilang kan sayang banget sama Putri, tapi kalau untuk nikah belum siap.”

“ya udah sih, kalau kamu belum siap nikah ngapain deketin si Putri.”

“ya kalau engga Dimas deketin, takutnya ada yang keburu ngerebut Putri.”

“Gilang punya ide, gimana kalau malam ini keluarga Dimas sama keluarga Putri makan malem, nah disana kamu utarakan kalau kamu mau jadiin Putri sebagai istri, pendamping sampai akhir hayat kamu. Dan buat suasana makan malam yang romantis.”

“emm, iya Dim dijamin kalau caranya kaya gitu pasti, Putri langsung deh kelepek-kelepek sama kamu.” sebenernya dalam hatinya Nadia begitu hancur

“tapi Dimas belum siap, untuk nikah lulus kuliah aja belum.”

“ya elah, kamu bisa minta Putri nunggu kamu sampai kamu lulus kan?. Yang penting ada hubungan pengikat diantara kalian berdua”

“iya sih, kalau gitu kalian harus bantuin aku nyiapin makan malem yang super romantis.”

“ok, siap bos” serentak Nadia dan Gilang, semari hormat pada Dimas

Mereka pun memulai semua yag dibutuhkan Dimas untuk makan malam nanti. dari restorannya, cari kalung buat Putri sampai, dekorasi yang buat, makan malamnya makin romantis. Dimas pun memberi tahu ayahnya bahwa Dimas mau melamar Putri.“



Putri yang sedang sibuk dengan pekerjaannya dikejutkan saat temannya membawakan kiriman yang ditujukan untuk dirinya.



“Put ini ada kiriman untuk kamu.”

“kiriman? Kiriman dari siapa?”

“ga tau, disini ga ditulis nama pengirimnya.”

saat putri membuka isi kiriman itu dengan penasaran, ternyata isiya gaun berwarna biru lengkap dengan kerudungnya. Dan ada surat terselip di gaun itu. Dengan penasaran Putri pun langsung membacanya.




Put mudah-mudahan, kamu suka dengan bajunya. Aku pengin ajak kamu dan keluarga kamu makan malam. Sama keluarga aku, aku juga pengin liat kamu nanti malem pake baju ini.”

Dimas



Malam harinya ayah dan Mamahnya Dimas langsung menuju restoran, sedangkan



Dimas menjemput terlebih dahulu Putri. Sesampainya Dimas dirumah Putri, Dimas pun berjalan menuju pintu rumahya dengan hati yang berdebar-debar. Dimas pun mengetok pintunya.

Tok,..tok...tok

“assalamualaikum.”

“wa’alikumsalam.” terdengar suara Putri dari dalam.

“Putri, kamu terlihat cantik pake baju itu.”

“kamu juga, terlihat beda malam ini, aku panggil ayah, ibu, sama adik aku dulu.”

“iya.”

Tak lama beberapa menit kemudia ayah, ibu dan adik putri keluar. Dan mereka pun berangkat. Ayah dan Mamahnya Dimas yang lebih dulu sampai, mereka begitu terpukau dengan suasana romantis, restoran yang sudah booking oleh Dimas. Lilin yang menghiasi, bunga mawar yang terhampar disetiap sudut, Disana ada lukisan Putri yang tertuliskan “will merry me” dan diatas meja sudah ada kalung.



“yah, ternyata anak kita romantis juga ya.”

“iya dong, turunan dari siapa?.”

“ah, ayah mah ga ada romantis-romantisnya.” dengan nada ketusnya

30 menit kemudia, Dimas dan keluarga Putri datang. Ayah dan Mamahnya Dimas pun menyambutnya.

“halao, apa kabar?.” sambut ayahnya Dimas

“allhamdulilah baik” sahut ayahnya Putri

Putri pun keget saat melihat ada lukisan dirinya dan ada kalung di atas mejanya.

“Dimas apa maksud dari ini semua?.”

Dimas pun berlutut dihadapan Putri.

“Putri mau kah kamu bersabar menunggu aku. Sampai aku lulus kuliah, aku ingin menjadikan kamu istri aku. Bersama kita melangkah untuk mendapatkan janah-Nya.”

dengan berurai air mata, Putri pun kaku tak dapat berkata apa-apa. Putri hanya menjawab dengan anggukannya yang berarti mengiyakan. Pernyataan Dimas tadi. Dimas pun memsangkan kalungnya pada Putri, dan tiba-tiba lampu redup dari sebuat proyektor menampilkan. Foto-foto kebersamaan antara Putri dan Dimas. Mereka pun saling memandang melempar senyuman satu sama lain.

Selesainya mereka makan malam, ibu dan ayah Dimas langsung pulang ke rumah sedangkan, Dimas mengantarkan Putri dan keluarganya pulang ke rumahnya, sesampai di rumahnya Putri,. ayah, ibu, dan adiknya Putri sudah masuk ke dalam rumah. Sedangkan Putri mengobrol sebentar dengan Dimas, sebelum akhirnya dia masuk ke dalam rumahnya.

Sedangkan Nadia semalaman tidak bisa tidur memikirkan Dimas yang sedang melamara Putri.

“malam ini Dimas mau nyatai cintanya ke Putri, begitu sakitnya hati ini. Hati Dimas emang bukan untuk Nadia. Nadia kamu emang bodoh untuk apa kamu masih mmeperhahankan rasa ini yang jelas-jelas Dimas itu cintanya cuman sama Putri.

“Dim, sumpah suprise yang tadi itu. Buat jantung aku hampir copot tau.”

“oh iya, berarti suprise yang aku baut tadi berhasil dong.”

“ya berhasil banget, aku juga mau bilang makasih atas semuanya, kamu laki-laki yang paling romantis yang pernah aku kenal.”

“oh, iya” dengan mata jailnya melirik ke arah Putri.

“udah ah, aku sekarang harus masuk kamu juga harus pulang kayanya.”

“ya udah.”

“ya terus kamu ko masih diem aja, sana masuk ke mobil.”

“aku ga akan pergi sebelum kamu masuk.”

“ ya udah aku masuk, assalamualikum”

“wa’alaikumsalam.”

Putri pun masuk ke dalam rumahnya dengan hati yang senang, pipi yang merah, sembari senyum-senyum sendiri.




Kesabaran yang kuat

Dan tekat aku yang tak pernah runtuh

Mengantarkan aku dari setiap jawaban

Yang aku nantikan selama ini.

Kini wujud mimpiku,

Sudah terpapang dengan nyata.

Selanjutnya, aku siap

Untuk membuat mimpi yang baru.

Siap untuk melawan arus yang baru.

(suara hati sesungguhnya Nadia)



Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə