Arti Menunggu



Yüklə 234.67 Kb.
səhifə3/5
tarix18.01.2018
ölçüsü234.67 Kb.
1   2   3   4   5
Bab 5

Kenyataan Pahit Yang Harus diterima

Putri yang tengah sibuk dengan pekerjaan tiba-tiba dia merasan pusing, dan dari hidungnya kelaur darah, seketika Putri pun pingsan, Teman yang meliahat putri yang sudah tergeletak di lantai. Langsung membawanya ke rumah sakit.

Saat putri terbangun setelah beberapa jam tertidur, merasakan kepalanya yang pusing, setelah terbangun dokter pun datang untuk memeriksa ke adaan Putri yang sudah sadar.

“Mba Putri sudah sadar?.” Tanya seorang dokter perempuan paru baya itu, dengan ramahnya.

“iya dok, tapi kepala saya masih kerasa pusing.”

“sebentar ya saya periksa dulu.” dokterpun memasangkan stetoskop ketelinganya

“Mba Putri untuk lebih jelasnya, saya harus mengambil darah anda, untuk mendekteksi penyakit apa yang ada di dalam tubuh anda.”

“iya, Dok.”

Seorang suster pun menghampiri Putri dengan seperangkat peralatannya. Jarum pun disuntukan ke tangan Putri untuk mengambil darahnya.

“ya allah, semoga ga ada apa-apa dengan diriku, berilah aku selalu kesehatan ya allah.” Gemuru di dalam hati Putri sembari menahan sakit suntikan yang dimasukan, untuk mengambil darahnya.

Beberapa jam kemudian, hasil cek darah pun diketahui. Dokter memberi tahu hasil dari analisis darahnya yang diambil.

“dari hasil darah Mba Putri yang diambil, maka dapat diketahui kalau mba putri. Terkena kanker otak.”

“apa Dok? Kangker otak, ini ga mungkin!.” dengan berlinang air mata, Putri syok dengan pernyataan dari dokter.

“tadi dari hasil darah mba Putri terbukti, bahwa anda positif terkena kangker otak, tapi mba Putri tenang saja kangker otak Mba Putri itu, masih besar kemungkin untuk sembuh.”

“apa, yang harus aku lakukan Dok?.”

“mba Putri, harus menjalankan kemotrapi.”

“sebaiknya mba Putri, sekarang pulang ke rumah dan omongkan dengan keluarga, Mba Putri minta dukungan, dan doa dari mereka insaalah, saya yakin itu kekuatan buat Mba Putri.”

“iya Dok, makasih.”



saat jam istirahat karena sudah memasuki waktu dzuhur, Putri pun langsung menuju mushola di kantornya, dan mengambil air wudhu, untuk melaksanakan sholat dhuzur. Diakhir sholatnya Putri bersipu, berlutut dihadapan Allah. Meminta petunjuk atas penyakit kangker otaknya itu. Dengan berurai air mata.



Saat Putri kembali ke meja kerjanya, diatas mejanya sudah ada mia ayam. Putri pun penasaran dari mana mie ayam ini. Putri mencoba cari tau dengan menanyakannya ke Indri yang duduk di meja sebelahnya.

“eh, Indri tau ga mie ayam ini dari siapa?.”

“ga tau Put, tadi aku liat sih yang nganterin kurir.”

Tak lama kemuadia, ada Line dari Dimas.

“siang Put, dimakan ya mie ayamnya kamu harus cobaain mie ayam yang super enak. Yang pernah aku coba.”

Dalam hatinya “oh ternyata dari Dimas, Dim aku ngerasa kaya orang lumpuh ga berdaya. Dan aku rasa garis hidup yang Allah berikan begitu indah, saat aku bisa ketemu kamu lagi, tapi semua berbanding balik dunia bagaikan kiamat saat dihadapi pada kenyataan yang pahit, yang tak aku sangka-sangka.”

Putri pun membuka mie ayam itu dan memakannya sampai habis.




Besok harinya Putri pun mencoba cek-up mengenai penyakitnya itu.

“Dok, aku jadi harus bagaimana cara mengatasi kangker otak ini.”

“sebaiknya Mba Putri segera melakukan kemotrapic, kerena yang saya lihat kangker otak Mba Putri ini akan memesuki stadium 3, maka harapan untuk sembuh pun akan semakin kecil bila kangker yang ada di tubuh Mba Putri itu dibiarkan begitu saja.”

Dengan badan yang lemas Putri keluar dari ruangan dokter, mencoba untuk merenung. Kemudian Putri pergi ke suatu tempat yaitu, Yayasan Kangker yang ada di Bandung. Disana dia berbagi dengan adek-adek yang masih kecil terkena berbagai kangker. Tetapi harapan dan semangat mereka begitu besar dari sana Putri mendapat pembelajaran yang berharga. membuat dirinya untuk bangkit kembali dan bersemangat untuk mehadapi kangker otaknya. Karena manusia hanyalah bisa berusaha sedangkan yang menghendaakinya hanyalah milik Allah.

Disana Putri bercanda, bermain dengan adik-adik yang sama sedang berjuang mealwan kanker. Disana ada seorang anak kecil yang berumur 6 tahun bernama Humaira walaupun kangker otak yang dialaminya sudah memasuki stadium 4, tetapi semagat untuk menghafal Al-Qur’an nya tak pernah surut. karena baginya hidup dan matinya hanya untuk Allah, orang tuanya yang sudah meninggal, mengajarkannya agar melihat segala cobaam itu dari segi hikmanya. Putri pun berurai air mata saat melihat Humaira saat menghafal Al-Qur’an. Sepulangnya dari yayasan itu hati Putri begitu tenang. Karena dia tidak merasa sendiri melawan penyakit kankernya itu, di luar sana pun banyak yang sedang berjuang seperti yang dialaminya. Sekarang tak ada lagi alasan untuk mengeluh.




Pada hari minggu Nadia sudah berjanji akan meminjamkan beberapa koleksi novelnya, untuk Putri. Putri pun mendatangi rumah Nadia, untuk melihat beberapa koleksi novelnya.

“assalamuaikum”

“wa’alaikummsalam, masuk Put.”

“rumah kamu, sepi Nad?.” Mata Putri menyapu seisi rumah Nadia.

“iya, orang tua aku lagi ke luar kota urusan bisnisnya.”

“oh”


“kita, langsung aja ke atas ya, liat-liat koleksi novel aku.” mereka berdua pun melangkah menaiki tangga, untuk menuju ruangan baca. Disana terjejer beberapa rak buku yang memuat beberapa gendre buku.

“wah, asyik ya, kalau dirumah punya perpustakaan.” Ujar Putri dengan terpukaunya meihat buku-buku yang terjejer dengan rapihnya.

“kamu, liat-liat aja dulu, aku ke bawah dulu bawa cemilan. Kita baca buku sambil ngemil-ngemil.”

“makasih ya, Nad.”

Tangan Putri pun mulai mengintari buku-buku yang berada di raknya. Putri mengambil satu buku, yang dianggapnya asik untuk di baca, setelah mengambil buku yang berjudul “Mengatasi Berbagai Kangker” putri melangkahkan kakinya menuju kursi yang berada di pojokan di ruang baca itu. Di sebelah kursi itu ada meja yang diatasnya ada sebuah buku yang suda terbuka beberapa halaman, Putri pun mengambil buku diatas meja itu, dan melihat ada sebuah tulisan tangan di dalam buku itu. “cinta Dimas, memang bukan diperuntukan untuk aku tetapi, dia berikan cintanya hanya untuk Putri. Betapa bodohnya diri ini yang terus mempertahankan rasa cinta yang fatamorgana ini. Yang akan terus menyiksa diri aku.”

Hati Putri, bagai tertanpar, bongkahan es bagai menusuk-nusuk rongga dadanya.

“Put, nih aku udah bawa cemilannya yang banyak.” Langkah kaki Nadia semakin mendekat dimana Putri berada, betapa terpanahnya Nadia, saat melihat buku yang berada di tangan Putri. Dengan cepat Nadia mengambil buku itu dari tangan Putri.

“kamu, ngga seharusnya lihat buku ini.”

“Nad, sebelumnya aku minta maaf karena udah ngelukain perasaan kamu.”

“Put, kamu ga perlu minta maaf karena sampai kapanpun Dimas ga akan pernah tau perasaan aku ke dia. Aku mohon jangan kasih tau ini ke Dimas ya.”

“Nad, aku boleh minta sesuatu dari kamu?.”

“apa Put?.”

“mungkin sebentar lagi, aku pergi dan tidak akan kembali. Aku titip Dimas ya.”

“pergi? Pergi kemana?.”

“entahlah, yang jelas aku bakalan pergi mungkin tidak akan kembali. Aku titipkan Dimas ke kamu.”




Kesenangan dan kepahitan

Datang bergantian

Hati ini, bagai robot.

Robot, yang setiap saatnya.

Harus menerima kenyataan apapun,

Hati ini sudah terprogram

Dengan semua gonjangan

Yang menghadang, dan entakan.

Membut, hati terus berkembang.

(suara sesungguhnya Nadia)

Bab 6

Kesempatan Emas yang tidak disangka-sangka

Besok harinya saat Nadi terbangun dipagi hari. Nadia mendapatkan Line dari Dimas kalau ayahnya meminta Nadia ke kantornya hari ini jam 9. Saat Nadia melihat jam, jarum jam sudah menunjukan pukul 8 Nadia pun langsung beranjak ke kamar mandi. Tergesah-gesah Nadia pun langsung menuju kantor ayah Dimas disepanjang perjalanan Nadia begitu penasaran untuk apa ayahnya Dimas menyuruhnya ke kantor. Dan dari dalam dirinya terlintas pertanyaan “apa aku akan membuat novel lagi?.” Dengan hati yang senang Nadia tak sabar ingin segera sampai kantor ayah Dimas. Sesampainya dikantor ayahnya Dimas, seketaris ayah Dimas mempersilahkan Nadia menuju ruangan metting. Disana ayah Dimas sudah bersama seorang laki-laki Nadia pun menghampiri mereka.

“assalamualaikum, Om maaf Nadia telat.”

“oh, ga apa-apa kita juga baru mau mulai ko.”

“mulai, apa Om?.”

“kita mau metting, oh iya Nadia kenalin ini Naufal dia adalah seorang produser filem.”

Nadia menjulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Naufal

“Naufal, senang bisa bertemu dengan anda.”

“Nadia, saya juga senang bertemu dengan anda.”

Naufal pun menjelaskan maksud dan tujuannya berada disni.

“begini Nadia, setelah aku membaca novel kamu, aku tertarik untuk mengangkat novel kamu menjadi sebuah film.”

“waw, terimakasih karena sudah menyukai karya saya itu sebuah ke hormatan untuk saya.”

“ini, adalah kontrak kerja kita, kamu bisa baca dulu kontraknya.” Naufal pun menyodorkan selembaran kertas yang berisi ketentuan, dan prosedur dalam projek membuatan filemnya.

Nadia pun membacanya, dan Nadia begitu terkejut dengna honor yang ditawarkannya.

“apa 250 juta?.”

“ya itu, honor yang akan kamu dapat, dari filem yang akan saya produseri.”

“apa saya bermimpi, Hemm aku perlu minum” Nadia pun meneguk air putih yang berada di depan, seketika suhu badannya berubah menjadi panas.

“bagaimana Nadia, apa kamu bisa bekerja sama dengan saya?.”

Nadia pun terdiam tidak bisa berkata apa-apa.

“oke, kalau kamu belum bisa memberi jawabannya, ini kartu pengenal saya. jika kamu sudah mendapatkan kepastiannya, tolong hubungi saya.”

“emm, iya.”

“baiklah kalau begitu saja harus pergi, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan. Asalamualaikum.”

“wa’alaikumsalam.”

Ayah Dimas pun menghampiri Nadia.

“Nadia, ini kesempatan emas buat kamu, untuk tunjukan pada semua orang siapa diri kamu sebenarnya.”

“iya Om, Nadia juga pengin ngambil projek ini, tapi kan Nadia juga lagi sibuk buat skripsi.”

“ya udah kamu pertimbangin aja dulu.” Ayah Dimas pun pergi meninggalkan Nadia sendiri.

Nadia pun langsung pergi menuju kampus. Untuk menemui Dimas dan Gilang menceritakan semuanya. Siapa tau dari mereka ada yang memberikan masukan yang baik untuknya.

“aku, mau cerita sama kalian.” Ujar Nadia dengan nada mendesak.

“cerita apa?.” dengan penasarannya Dimas dan Gilang

“tadi, pas Nadia ke kantor ayah kamu Dim, ketemu sama produser film dan dia mau angkat novel aku jadi sebuat filem, honor yang ditawarkanpun ga main-main 250 juta.”

“ya ampun Nad, kalau Gilang jadi kamu, ga mikir-mikir lagi lansung bilang iya.”

“iya Nad, itu kesempatan berharga buat kamu.”

“hemm, masalahnya kita kan lagi sibuk buat skripsi. Kalau Nadia ambil projek ini pasti skripsinya bakalan keteetran.”

“engga Nad, Dimas yakin kamu bisa menjalanin keduanya. Tanpa disalah satunya ada yang harus kamu korbanin, ini kesempatan emas buat kamu masa kamu sia-sian gitu aja.” Ujar Dimas dengan nada berapi-api.

“iya sih tapi, Nadia masih ragu.”

“apa lagi yang kamu raguin? Nad, ini rizki yang Allah kasih buat kamu.” Dimas menepuk pundak Nadia mencoba meyakinkan Nadia.

“iya, bismilah Nadia bisa.”

“kamu harus jakin Nad, kalau kamu bisa.” Ujar Gilang.




Di malam harinya Nadia pun mencoba untuk menghubungi Naufal.

“halao”


“halao, assalamualaikum apa benar ini dengan Pak Naufal?.”

“wa’alaikumsaalm, iya benar.”

“Pak Naufal, ini saya Nadia.”

“oh Nadia, bagaimana apa keputusan kamu dengan projek yang saya tawarkan.”

“emm, saya mau bilang kalau saya terima projrk yang anda tawarkan.”

“oke kalau gitu, besok kita ketemu untuk penanda tanganan kontraknya.”

“baiklah pak.”




Besoknya Nadia dan Naufal pun bertemu disuatu cafe

“assalmualaikum, maaf Pak udah nunggu lama ya.”

“wa’alaikumsalam, engga ko baru” Nadia pun mengambil posisi duduk disamping Naufal

“ini kontraknya, jika kamu sudah setuju semua kontraknya kamu bisa tanda tangan.”

Nadia pun mengtandatangani surat kontrak tersebut.

“aku sudah memilih beberapa artis yang akan memerankan tokoh yang ada di novel kamu.” Naufal memberikan foto-foto artis tersebut.

“Nadia boleh ga castingin mereka dulu.”

“oh boleh, kamu bisanya kapan castingin meeka.”

“emm, hari sabtu aja deh, ada waktunya cuman hari sabtu doang.”

“oke, aku minta kamu buat skenarionya yang cantik, merupakan adukan dari keseluruhan dari isi novel kamu.”

“oke , Pak.”

“satu lagi permintaan saya, jangan panggil saya pak.”

“hemm, saya harus panggil apa?.”

“panggil aja saya Naufal, umur kita kan ga beda jauh, kalau kerja sama saya santai aja.”

“oke, apa sudah itu saja?.”

“iya, cukup itu saja.”

“kalau gitu, Nadia bisa pergi sekarang?.’

“silahkan.”

“assalamualaikum.”

“wa’alaikumsalam.”



Ditengan pembuatan skenarionya, Nadia tak mengabaikan skripsinya. Kedua-duanya Nadia jalani walaupun harus mengorbankan jam tidurnya. Nadia pun kerap disapa mata panda dengan Dimas dan Gilang karena lingkar hitam matanya yang begitu terlihat.



“Nad, aku kasian deh sama mata kamu kurang tidur kaya gitu.”

“ya gimana lagi Dim, kalau Nadia ga kaya gini. Ga akan kelar-kelar buat skenario sama skripsinya.”

“iya sih tapi kamu juga harus jaga kesehatan kamu, badan makin kurus aja.” ujar Gilang

“iya, tenag aja asalkan sama kalian. Nadia ngerasa kayanya semua beban hilang gitu aja, karena kalian selalu dukung apapun yang Nadia ingin capain.”



Dan pada hari sabtu seperti yang dijanjikan Nadia bahwa, dia akan mengcasting untuk tokoh yang ada dalam novelnya itu.



“assalamualaikum, apa kabar Ka Naufal?.” sapa Nadia saat bertemu dengan Naufal.

“allhamdulilah aku sehat, kamu ko aku lihat kurusan ya.”

“emm biasalah, Nadia kan harus ngurusin 2 hal skripsi dan skenario filem ini.”

“oh jadi, projrk filem ini ngebebanin kamu dong?.” Ujar Naufal denagan nada menantang.

“engga, aku cuman berusaha memasuki suatu pintu yang baru, yang mana pintu itu. Akan menganatrkan aku dalam sebuah bercikan cahaya pada titik kesuksesan.”

“aku salut sams sikap profesional kamu.”

“emm, kita bisa mulai castingnya sekarang?.”

“oke”


Satu demi satu Nadia pun mengcasting artis yang sudah di pilih oleh Naufal. sampai Nadia mendapatkan yang paling tepat karakter, yang pas untuk dimaninkan oleh artis tersebut. Dan setelah casting berlalu Naufal pun meminta Nadia untuk makan siang bersamanya.

“Nad, kamu mau makan dulu ga sama saya?.”

“kayanya, Nadia harus ke kampus sekarang, soalnya udah janjian sama dosen pembimbing.”

“oh gitu, ya udah”

“Nadia duluan ya, assalamualikum.”

“wa’alaikumsalam.”



Entah saat pulang dari kampus badan Nadia terasa begitu remuk. Sesampainya di rumah Nadi langsung rebahkan badannya ke kasur belum juga semenit Nadia memejamkan mata. Terdengar deringan suara handponenya, saat melihat putri yang menelepon Nadia pun menggeserkan tombol berwarna hijaunya.



“hallo, assalamualaikituum Put.”

“wa’alaikumsalam, Nad kamu bisa ga temuin aku di rumah sakit.” terdengar suara Putri yang begitu liri

“iya Put bisa, di rumah sakit mana?.”

“rumah sakitnya nanti aku SMS ya Nad.”

“oke.”

Sesampainya dirumah sakit Nadia langsung menuju kamar yang diarahkan oleh Putri. Saat memasuki kamar itu dia melihat ada seorang perempuan yang berbaring begitu lemah. Mukanya pucat, badannya begitu kurus, seperti tidak ada lagi harapan hidup untuknya.



“assalamualaikum, Putri ini kamu?.”

“iya, ini aku Nad.”

“ada apa dengan kamu, kenapa kamu seperti ini?.”

“ini keadaan aku yang sekarang, setiap harinya aku hanya bisa menghabiskan waktu aku diatas tempat tidur.”

“why?.”

“aku terkena kangker otak.” dengan berlinang air mata Putri pun harus menyukapkan ini semua ke Nadia



“Put, sejak kapan ini semua, kenapa kamu ga pernah cerita? Apa Dimas tau ini semua?.”

“engga Nad, Dimas ga tau aku cuman mau kasih tau ini semua ke kamu, karena aku yakin kamu orang yang paling tempat untuk membahagiakan Dimas.”

“Put, apa maksud kamu seperti ini ?.”

“dokter udah memvonis, kalau hidup aku ga akan lama lagi.” Nadia pun langsung memeluk Putri yang berlinang air mata.

“Put, kamu ga boleh ngomong gitu, hidup dan mati kita ga ada yang tau, kecuali Allah kamu ga boleh putus asa gitu kamu harus yakin kalau kamu bakalan sembuh. Dan kamu bisa membahagiakan Dimas, aku yakin Dimas pun pasti sedih kalau liat keadaan kamu kaya gini.”

“engga Nad, semua itu ga mungkin, liat rambut aku udah botak. Aku sekarang jelek Dimas juga pasti bakalan ga suka kalau liat aku yang sekarang.”

“oke, apa yang harus aku lakuin sekarang?.”

“tolong jagain terus Dimas, jangan pernah lukain hatinya beri terus cinta yang kamu miliki untuk dia.” Putri memegang erat tangaan Nadia

“iya pasti, karena cinta ini ga akan surut utuk dirinya.” Merekapun memeluk satu sama lain saling erat




Di malam hari yang gelap dengan gemerlap bintang-bintang yang memancarkan cahaya sendirinya. Nadia menatap langit yang gelap itu dan termenung bagaimana bisa dia menggantikan posisi Putri. Bahwa yang ada di hati Dimas hanyalah Putri.

“kayanya, anak ibu lagi galau ya?.”

Dengan kedatangan ibu, lamunan Nadia pun terbuyarkan “ibu, apa sih siapa juga yang lagi galau. Nadia cuman lagi mikir kapan kelarnya skripsi sama filem Nadia.”

“semangat dong, setau ibu sih anak ibu ga pernah loyo dan nyeluh sama keadaan.”

“engga ko Bu, anak ibu yang satu ini ga akan pernah goyang walau ditimpa badai segede apapun.”

“nah gitu, itu baru anak ibu.”

“Nadia, ke kamar dulu ya Bu pekerjaan masih menunggu.” Nadia pun beranjak ke kamarnya

Saat memasuki kamarnya, Nadia langsung membuka laptopnya dan menegrjakan skenario filemnya dan juga merevisi skripsinya. Hingga larut malam mata Nadia yang sudah merah tak dapat lagi menahan kantuk matanya. Nadia pun tertidur di depan laptopnya.



Besok harinya saat di kampus Dimas mengeluh pada Gilang dan Nadia. Bahwa Putri sudah tidak lagi memperdulikannya Line dan teleponnya pun tidak pernah dijawab. Betapa terlihat sedihnya Dimas bahwa selama ini perempuan yang dia anggap dia yang paling tepat. Untuk dicintainya, perempuan yang dia anggap baik, dan bisa menghargai dirinya. Kini telah menghianati dirinya.



“Dim, kamu jangan negatif tingking dulu dong Putri pasti ada alasannya kaya gitu.”

“aku cuman putus asa aja, berarti usaha aku selama ini deketin Putri sai-sia aja. Putri udah ga ngehargargain perasaan aku, dia ga liat seberapa usaha dan pengorbanan yang aku, untuk mendapatkan cintanya.”

“Gilang bisa ngerasaan ko apa, yang Dimas rasain sekarang. Menurut Gilang sih sebaiknya kamu tenangin dulu pikiran kamu.”

“Dim, kamu harus tau, kalau perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Kalau putri emang tulang rusuk kamu. Allah pasti akan selalu mempersatukan kalian, karena mana mungkin tulang rusuk kita itu tertukar.”

“iya Nad, kamu benar.”

Mata Nadia yang tetuju pada Dimas dalam hatinya berkata “aku harap pemilik tulang rusuk aku ini, adalah dia yang ada di hadapan aku ini sekarang. Meemandang wajahnya membuat mata aku ini seakan dunia tertuju padanya, berada disampingnya membuat aku merasa seakan sedang dipeluk oleh bintang.”



sepulang dari kampus Nadia berniat untuk memberikan skenario filemnya ke Naufal. Nadia pun sepulang dari kampus langsung menuju kantor Naufal.



“assalamualaiku”

“ada, apa kamu kesini?.”

“aku, mau ngasihin skenario filemnya.”

“oh ya, udah selesai?.”

“udah ini.” Nadia meyodorkan skenarionya ke Naufal

Naufal pun langsung membacanya.

“oke bagus, aku suka skenarionya.”

“kalau untuk, syutingnya kapan?.”

“kalau ga ada halangan sih, minggu depan kita udah bisa syuting.” Nadia menjawab dengan anggukan tanda dia mengerti.




kejutan, demi kejutan

telah menyentil hati aku

warana pelangi telah mewarnai

isi hati aku.

rasa syukur ini

aku sembahkan kepada-Mu

yang telah mengaduk-aduk

isi hati aku.

kesempatan emas,

telah menghampiriku,

tak mungkin untuk aku

tak untuk aku, meyia-nyiakannya.

(suara hati sesungguhnya Nadia

Bab 7

Allah Memeberikan Lebih Apa Yang aku Minta

Hari ini merupakan syuting hari pertama filem “Impian Seorang Penulis” Nadia pun mengamati seharian penuh proses syuting filem itu berjalan. Ini merupakan kali pertama Nadia merasakan capenya dalam pembuatan filem yang luar biasa menguras tenaga dan pikirannya.

Di tengan Nadia sedang meregangkan kakinya yang pegal yang seharian berdiri mengapati proses syuting filemnya. Ada Naufal yang mendekati yang mengusik ketenangan dirinya yang sedang menyendiri.

“ini, buat kamu.” Naufal menyodorkan segelas kopi hangat ke Nadia

“makasih” Nadia mengambil segelas kopi itu dari tangan Naufal.

“pemandangan malam hari disini asyik juga, ga nyesel aku milih lokasi untuk syuting disini.”

Sedangkan Nadia yang menggigil kedinginan karena suhu di daerah lembang yang berada di daerah penggunungan terasa begitu dingin. Nadia hanya mengusap-usapkan ke dua telapak tangannya agar terasa lebih hangat.

“kalau di tempat kaya gini harusnya pake jaket yang tebel Nad, kedinginankan sekarang.” Naufal pun memasangkan jaket yang dipakenya ke Nadia

“kalau Naufal pakein jaket ke Nadia, nanti Naufal yang kediginan.” Nadia pun mau memasangkan kembali jaketnya ke Naufal.

“ga apa-apa, lagian masih kuat ko sama dinginnya disini.”

“nanti malah Nauffal loh yang sakit, syutingnya kan masih panjang.”

“iya tau, udah biasa kedinginan kaya gini di tempat syuting, kalau kamu yang sakit malah saya yang repot.”

“Naufal, Nadia mau tanya sesatu.” Nadia memadang mata Naufal lebih intens.

“emm, cinta itu menurut kamu apa? Gimana rasanya kalau mencintai seseorang tapi, dia malah memalingkan pandangannya, padahal kita yang selalu ada untuknya dan memperhatikannya.”

“bila kita memasuki arena yang bernama cinta, maka hati, otak kita akan dituttupi dengan gejolak asmara yang membakar jiwanya. Terkadang cinta tidak berpihak pada kita. Dan membekaskan luka dihati. Maka utuk apa ada cinta bila pada akhirnya harus ada luka yang membekas.”

“iya benar, ada cinta yang dapat membawakan kita pada suatu kebaikan. Ada pula cinta kita pada kesesatan.” Ujar Nadia dengan senyuman renyahnya, menutupi rasa sakit di hatinya.

Tepat pada jam 12 malam syuting hari pertama pun baru selesai. Dengan badan yang sudah tidak bisa diajak kompromi lagi akhirnya. Sesampai rumah Nadia bisa menemukan kasur untuk memejamkan matanya.




Selama lebih dari 3 bulan waktu pembuatan filemnya akhirnya hari ini filem “Impian Seorang Penulis’ rilis serentak diputar di seluruh bioskop Indonesia. Rasanya berasa mimpi dan tak ingin untuk terbangun kembaili dari mimpi yang indah ini. Yang sudah aku bangun dengan susah payah, perjalanan yang begitu panjang. Senang rasanya saat mendapat respon positif dari para penonton yang menyukai karya yang telah kita buat.

setelah seharian kita berkeliling dari satu bioskop, ke bioskop yang lain untuk mempromosika filem “Impian Seorang Penulis” cukup cape, namun itu semua terbayar dengan melihat respon yang baik dari para penonton, setelah menonton filem “Impian Seorang Penulis” ini merupakan suatu penghargaan buat Nadia, kedepannya dalam menulis memberikan banyak inspirasi bagi banyak orang.

Saat diperjalanan pulang Nadia yang diantarkan oleh Naufal. Naufal mengungkapkan suatu hal pada Nadia, Yang membut Nadia begitu kaget

“Nad, aku boleh ngomong jujur ga satu hal sama kamu.”

“boleh, apa?.” Mata Nadia membulat penuh penasaran.

“emm dari awal kita ketemu, aku sebenarnya ngeliat kamu itu seneng aja. Karena aku ngerasa kamu anaknya pinter, banyak motifasi, dan yang aku suka dari kamu, kamu itu orangnya ga kenal putas asa dan ga pernah kenal cape.”

“emm iya karena, orang tua aku selalu mengajarkan agar aku selalu memberi bukan meminta. Dan pesan ibu aku, yang selalu aku ingat adalah sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi banyak orang.”

“iya, aku mau jujur sama perasaan aku entah namanya apa, tiap kali aku ada disamping kamu ngerasa nyaman. Dan tiap kali menatap mata kamu hati ini selalu berkata kalau kamu orang yang selama ini aku cari.”

“maksud, Naufal apa ya?.”

“aku ga tau perasaan aneh ini tiba-tiba datang, mungkin ini yang namanya jatuh cinta.”

“makasih, atas kejujuran perasaan kakak, tapi maaf Nadia cuman bisa menerima Naufal kaya kakak aku sendiri, dan entah kapan hati ini bisa terbuka untuk orang lain. Karena perasaan ini masih terbuka hanya untuk Dimas.” Ujar Nadia dengan kekehnya dibarengi dengan suara isak tangis, perlahan air matanya membasahi kedua tebing pipinya.

“Nad, kamu ngapain masih ngarepin orang yang udah jelas-jelas, ga pernah ngertiin perasaan kamu.” denagn suara beberapa oktaf lebih tinggi.

“maaf tapi, rasanya perasaan ini ke Dimas ga akan pernah berubah.”

“oke, aku akan terus nunggu kamu sampai kapanpun.”



sesampai rumahnya Nadia pun memasuki rumahnya. Dan Dimas memperhatikan Nadia sampai masuk ke dalam rumahnya. Malam harinya Nadi mencoba untuk menyakan kabar Putri memberi pesan Line




Nadia Anggreini :

Putri apa kabar? Maaf aku belakangan ini lagi sibuk jadinya jarang jenguk kamu.

Putri Tania :

Ya seperti ini lah Nad keadaan aku. Hanya bisa berbaring di atas tempat tidur, kamu kapan bisa jenguk aku lagi?

Nadia Anggreini :

Insaaslah Nadi sih penginnya besok bisa jenguk kamu.

Putri Tania :

Aku tunggu ya Nad, tapi jengung aku besok di yayasan kangker ya.

Nadi Anggreini :

Oke Put

Besoknya Nadia pun menjenguk Putri di Yayasan kangker. Dengan membawa Pizza dan sekeranjang buah-buahan.

“hallo, assalamualaikum adik-adik.”

“wa’alaikumsalam” serentak anak-anak disana menjawab yang tengah asyik bermain.

“liat ini kakak bawain makanan buat kalain.” anak-anakpun langsung menyerbu makanan yang dibawa Nadia.

“Put, seneng ya liat anak-anak ceria, main mereka tampak begitu bahagia. Walaupun sebenarnya mereka sedang berjuang hidup dengan kangkernya itu.”

“iya Nad, mereka kekuatan buat aku, mereka mengajarkan aku banyak hal.”

“kamu juga harus semangat, aku yakin kamu bisa kaya anak-anak itu. Walaupun dengan keadaan kamu yang sekarang.”

“iya Nad, makasih kamu udah datang ke sini.”

“sama-sama.”

di yayasan kangker itu. Nadia ikut bermain dan bercanda dengan anak-anak yang ada disana. Nadia menunjukan sedikit bakat yang dia miliki, dengan memaikan piano sembari menyanyikan lagu d’masiv esok kan bahagia untuk sedikit memberika meereka semangat.

Nadia juga membantu masak untuk menyiapkan makan siang anak-anak itu. Ditengah sedang makan siang Nadia pun mengungkapkan ke Putri bahwa dirinya tidak kuat lagi untuk menyembunyikan semua ini dari Dimas.

“Put, aku ga bisa lama-lama nyembunyiin ini dari Dimas.”

“Nad, please aku ga mau Dimas tau keadaan aku yang sekarang. Dimas juga pasti ilfil liat aku yang penyakitan kaya gini.”

“Put asal kamu tau, Dima tiap hari itu panggil nama kamu terus. Dan betapa dia sedihnya. Saat kamu ninggalin dia gitu aja tanpa ada alasan.”

“Nad aku mohon sama kamu. Kebaahgian Dimas sekarang ada dalam diri kamu. Jadi aku mohon tolong buat dia selalu bahagian disamping kamu.”

“Put dihati Dimas itu. Yang bisa buat dia seneng, bahgia itu. Cuman kamu, kamu ga liat betapa dia menderita Dimas ngerasa separo hidupnya itu ada di kamu, dan kamu tau betapa hati aku tersayat saat melihat Dimas menderita.”

“oke, jadi apa aku harus memperlihatkan ke Dimas kalu aku ini sakit, dan hidup aku ga akan lama lagi gitu!.”

“Put, cinta Dimas itu hanya buat kamu. Dan aku tau kekuatan kamu itu ada di Dimas sebaliknya juga dengan Dimas. Aku ga bisa maksain perasaan Dimas kalau dia harus bahagia disamping aku. Karena hatinya bukan diarahkan buat aku.”



Dan setelah seharian bermain dengan adik-adik di Yayasan Kangker. Hati Nadia seperti dicast kembali Nadi lebih mengerti apa dari syukur atas nikmat yang Allah berikan. Melihat muka-muka, anak-anak yang polos itu. Menggerakn hati Nadia agar dia selalu mensyukuri atas setiap nikmat yang Allah berikan. Bahkan sakit yang kita rasakan pun itu merupakan nikmat yang haru skita syukuri, karena itu merupakan betuk kasih sayang Allah terhadap kita.



Sepulangnya dari Yayasan Kangker. hujan pun turun, Nadi yang memperhatikan kendaraan berlalu-lalang di ketepian jalan, tak ada satu pun angkot yang lewat. Tiba-tiba ada satu mobil yang berhenti dihadapannya. Keluar seorang laki-laki dari mobil itu dengan membawakannya payung.

“Nadia, kamu sedang apa disini?.”

“ Naufal.”

“ayo, masuk mobil aku.”

Nadia pun langsung memasuki mobil Naufal dengan badan yang sudah basah kuyup.

“kamu tuh ngapain, hujan-hujanan?.”

“hakcim....hakcim Nadia tadi abis dari temen mau pulang taunya hujan.”

“ini kamu pake jaket aku supaya ga kedinginana.”

”makasih.” Nadia mengambil jaket parka berwarna biru itu dari tangan Naufal.




Besok harinya saat di kampus, Nadia berusaha untuk menyatakan sebenarnya keadaan Putri ke Dimas. Saat mereka bertiga saat di perpustakaan.

“Dim, aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

“ya udah, tinggal ngomong aja.”

“tapi, Nadi aga bisa ngomong sekarang, abis ini Dimas harus ikut Nadia ke suatu tempat.”

“Nad, kamu buat aku penasaran aja deh, ada yang kamu sembunyiin dari aku ya?.”

“nanti juga kamu bakalan tau, setelah kamu ikut ke tempat itu.”

“Nad, kamu ga biasanya main rahasiaan sama kita.” sambung Gilang

Mereka pun langsung menuju Yayasan Kangker, Setelah dari Perpustakaan.

“sekarang kita jalan, aku yang arahin jalannya.” perintah Nadia, yang duduk disebelah Dimas

“oke” jawab Dimas

Nadia pun menunjukan arah jalan ke Dimas yang menyetirnya.

“Nad, kita mau kemana sih? Aku belum pernah lewat jalan sini.”

“sebentar lagi juga sampe, dan semua pertanyaan kamu akan terjawab setelah kita sampai disana.’

Setelah menepuh perjalanan selama 30 menit mereka akhirnya sampai di Yayasan Knagker.

“Yayasan Kangker?.”

“iya”


“untuk apa kamu bawa aku kesini?.”

“mendingan, kamu sekarang turun Dim, di dalam udah ada yang nungguin kamu.”

“oke, aku masuk sekarang.”

“Dim, aku ikut ya.” pinta Gilang

“Gilang, kamu tetep di dalam mobil sama aku, biarin Dimas sendirian yang masuk ke dalam.” Nadia memasang muka agak sangar

“ih, kenapa sih ga boleh, Emang ada apaan sih Nad?.”

“itu kejutan buat Dimas jadi, kamu ga boleh ikut ke dalam.”

“ih, sebel deh Nadia sekarang main rahasiaan.”

“’Dimas tunggu apa lagi, ayo turun.” Dimas pun turun dari mobilnya dan memasuki Yayasan kangker itu

Saat Dimas memasuki Yaayan itu. Langkah kaki Dimas seperti ada yang menghentikan dan detak jantung Dimas semakin cepat. Begitu banyak pertanyaan yang telintas dibenak pikirannya. Sebenarnya apa tujuan dan maksud Nadia membawanya ke sini. Dan Dimas pun membuka pintunya.

“assalamualaikum.”

“wa’alaikumsalam, selamat datang Kak Dimas.” sorak anak-anak kecil itu dengan ceria

Kedatangan Dimas pun disambut oleh anak-anak yang mengiringnya untuk masuk ke dalam. Dimas pun semakin heran, kenapa anak-anak ini tau namanya?.

“Kak Dimas, ayo masuk, Kak Putri udah nungguin Kakak loh.” kata-kata itu terlontar begitu saya dari mulut Humaira.

“huss, Humaira Kak Nadia kan bilang, jangan kasih tau kak Dimas kalau ada Kak Putri disini.” bisik dari teman yang disebelah Humaira

“maaf aku lupa.”

Saat memasuki Yayasan kangker itu. Dimas melihat ada sososk perempuan berkerudung coklat. Duduk diatas kursi rodanya, Saat perempuan itu membalikan badannya, betapa tersentaknya hati Dimas. Ternyata dia adalah Putri, Dimas pun langsung menghampiri putri.

“Putri kamu kemana aja? Aku kangen sama kamu.”

“Putri juga kangen, sama kamu Dim.”

Dimas pun mengajak Putri untuk berkeliling menelusuri komplek Yayasan kangker itu. senyuman yang lebar pun terpancar dari rauh wajah mereka.

“Put, kamu kenapa sih mesti ngehindar dari aku.”

“Putri takut aja, kalau Dimas liat keadaan Putri yang sekarang. Dimas bakalan ninggalin Putri”

“engga Put, ga akan, rasa sayang Dimas ke Putri engga akan pernah pudar apapun itu keadaannya.”

“tapi Putri malu, dengan keadaan Putri yang sekarang, dan dokter udah vonis kalau hidup Putri ga akan lama lagi.”

“Put, hidup, mati, jodoh semuanya udah ada yang atur. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk kita. Jadi aku mohon sama kamu izinkan aku agar selalu ada disamping kamu. Apapun itu keadaannya”




Ketika, harapan hidunya menipis.

Sumber semangat dalm berjuang

Menghadapi setiap cobaa itu.

Melihat orang yang kita sayang,

Berada disamping.

Menggegam tangan kita.

Dan mengucapkan,

Kamu bisa, kamu pasti kuat.

Setruman hanya kembali terisi.

(suara hati sesungguhnya Nadia)



Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə