Arti Menunggu



Yüklə 234.67 Kb.
səhifə4/5
tarix18.01.2018
ölçüsü234.67 Kb.
1   2   3   4   5
Bab 8

Sidang skripsi aku

Hari ini adalah hari yang paling menegangkan. Jantung aku berdeguk begitu kencang bagaikan ada bom dalam otak aku ini. Yang siap untuk diledakan.

“Dim, Gilang giliran Nadia doain ya”

“pasti, kamu pasti bisa.” tutur Gilang

“Nadia yang tenang, jangan gugup” sambung Dimas

Nadia pun memasuki ruangan sidang. Dengan jantung yang memompa darah 2 kali lebih cepat, langkah kaki yang teras begitu berat seperti, memmasuki gerbang pintu neraka yang menyeramkan. Saat memasuki ruangan sidang Nadia pun menyiapakn proyektornya memperlihatkan power poinnya. Kepada dosen penguji. Nadia pun dengan sedikit tari nafas memulai perentasinya.

1 jam kemudian

Nadia keluar dari ruangan sidang dengan wajah sumringah. Berjalan menghampiri Dimas dan Gilang setengah berlari, lalu memeluk Dimas dan Gilang sambil berteriak.

“Nadia lulus” mereka bertiga pun lompat-lompat gegirangan

“selamat ya Nad” Dimas sambil mengusap-usap rambut Nadia yang terurai

“akhirnya sah jadi sajarna S.E.” ujar Dimas

“selamat, untuk kita bertiga akhirnya, kita lulus.”



Malam harinya mereka pun makan malam bersama. Nadia sembari menyeritakan suasana tegang saat sidang skripsinya berlangsung.



“sumpah Nadia keringet dingin, pas bu Tasya yang tanya. Dan Nadia nunggu keputusan lulus atau engga lulus. Nadia bener-bener nunggu malaikat Izrail datang nyabut nyawa Nadia.”

“separah itu ya?.”

“iya lah Gilang, karena moment kaya gini. Cuman kita alami sekali, dalam seumur hidup.”

Di tengah asiknya Nadia menyeritakan suasana sidang skripsinya, handpone-nya Nadia berdering. Nadia pun langsung mengangkat telepon yang masuk dari handponenya.

“halao, assalamualaikum”

“iya, Nadia sekarang juga ke rumah sakit.”

Setelah menutup telepon itu, muka Nadia berubah menjadi menegang.

“kenapa Nad?.”

“ibu Putri yang nelepon. Sekarang keadaan Putri lagi kritis, dan Putri ingin aku ke rumah sakit termasuk kamu Dim, Putri pengin disaat terakhirnya kamu ada disampingnya.”

Tanpa pikir panjang merekapun langsung menuju rumah sakit. Langkah kaki merekapun dipercepat, sesampai di rumah sakit. Hanya bisa melihat Putri dari kaca ruangan ICU. Putri yang terbaring lemah dengan peralata medis yang melekat di tubuhnya.

“tante, sebenarnya apa yang terjadi sama Putri.” tanya Dimas dengan napas yang masih terengah-engah

“keadaan Putri sekarang kritis, tadi dia pingsan karena kepalanya sakit dan darah dari hidungnya keluar begitu banyak, tante ga kuat mesti liat keadaan Putri yang harus nahan rasa sakitnya.”

“tante yang sabar, Putri perempuan yang kuat, dia pasti bisa ngelewwati ini semua.” ujar Nadia dengan lembutnya menggegam erat tangan ibu Putri.

“ada yang bernama Dimas?.” Tanya seorang suster.

“saya sus.” Jawab Dimas.

“pasien menginginkan, anda untuk menemuinya.”

Dimas pun memasuki ruangan ICU itu

“Putri.”


“Dimas, dimana Nadia?.”

“Nadia ada luar.”

“Putri ingin ketemu sama Nadia Dim.”

“iya, aku panggil Nadia.”

Dimas pun keluar untuk memanggil Nadia.

“Nad, Putri mau kamu masuk kedalam juga.”

Nadia pun ikut bersama Dimas memasuki ruangan ICU itu.

“Nadia” Putri memegang tangan Nadia.

“iya Put, Nadia disini.”

“Nad, boleh Putri minta satu hal sama kamu?.”

“iya, boleh Put apa pun yang kamu minta Insaalah aku tepatin.”

“kalau Putri pergi, Putri minta tolong jagain Dimas. Maafin Putri selama ini, udah nyakitin perasaan Nadia.” Putri pun menyatukan tangan Nadia dan Dimas menjadi satu gemgaman

“Put kamu ga boleh ngomong gitu, kamu pasti sembuh. Dan kamu yang akan selalu disamping Dimas.”

“engga Nad, sebentar lagi malaikat izrail jemput aku. Dan satu lagi Nad, aku ingin lihat kamu pake jilbab. karena perempuan-perempuan yang sholelah yang pantas untuk mendapatkan surga-Nya.” Putripun memberikan jilbabnya ke Nadia

“iya Put, aku janji”

“Dimas, makasih ya kamu selalu ada disamping aku. Apapun keadaannya, makasih kamu udah isi hati ini. Dengan sejutan warna. Cerita antara Dimas dan Putri akan segera berakhir. Dan sekarang, saatnya kamu buka hati kamu. Perempuan disamping kamu ini, yang selama ini selalu memperhatikan kamu, bahkan dia ga peduli dengan perasaannya sendiri, asalkan liat kamu bahagia. Aku mohon jangan buat hatinya sakit lagi untuk kesekian kalinya.”

“Put, Dimas juga mau bilang makasih selama ini, kamu kekuatan buat Dimas selama ini.”




Mobil yang melaju, dikendarai oleh Dimas telah membelah jalanan malam di kota Bnadung. Hembusan angin malam mengiringi setiap kecepatannya.

“Nad” suara purau Dimas memecah keheningan di mobil.

Nadia yang mendengar panggilan Dimas, semulanya kepalanya menghadap jendela mobil. Seketika pandangannya teralihkan pada Dimas yang pandangannya masih fokus pada setirnya. “apa, Dim?.”

“sebenernya, apa maksud ucapan Putri. Perempuan disamping kamu ini, yang selama ini selalu memperhatikan kamu, bahkan dia ga peduli dengan perasaannya sendiri, asalkan liat kamu bahagia. Aku mohon jangan buat hatinya sakit lagi untuk kesekian kalinya.”

Hati Nadia tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Dimas. Nadia merasa ini bukan saatnya yang tepat untuk dirinya mengakui. Keluar dari persembunyiannya, rasa dihatinya.

“Nad, jawab!.”

Nadia yang dilintarkan pernyataan itu, hatinya terasa sedang disidang untuk segera mempersetasikan kejujuran rasa dihatinya yang telah lama tersembunyi. “aku....”

“Nad, aku mohon kamu jawab yang jujur, aku ngga mau kamu nutupin suatu hal. Selai keadaan Putri yang sekarang!.” Sentak Dimas

“oke, aku jujur. Aku jujur karena aku sayang ke kamu lebih dari sorang sahabat, aku mau jujur kalau aku selama ini yang selalu memperhatikan kamu, aku yang selalu sembunyikan rasa hati ini hanya untuk kamu.” jawab Nadia dengan lantangnya.

Mendengar penuturan itu, seketika Dimas merem mndadak mobilnya dan pandnagannya beitu dalam melihat ke arah Nadia yang hanya bisa terdiam menudukan kepalanya. “Nad, jangan buat buhungan kita canggung, dan juga merasa bersalah karena kau ngga bisa balas rasa di hati kamu.”

“aku bukan ingin hubungan kita canggung, dan juga minta kamu balas atas perasaan aku tapi, setidaknya aku sekarang lega karena udah menyuarakan rasa di hati aku yang selama ini aku sembunyikan.”

“kita, masih tetap jadi sahabatkan? Walaupun aku udah berkata sejujurnya sama kamu.” tanya Nadia ragu

Dimas melempar senyumannya dan membawa Nadia kedalam pelukannya. “itu ngga akan perpengaruh dengan persahabatan kita, sampai kapanpun aku tetap akan sayang sama kamu sebagai seorang sahabat.” Bisik Dimas ditelingan Nadia.

Keadaan di mobil seketika berubah mencadi canggung, jarak dinatara kita menjadi begitu dingin, kini seolah dijalanan dituruni badai salju yang dinginya menyelusup dari sela-sela kaca mobil. Membisu itu hal yang tepat, sepanjang perjalanan arah pulang, Nadia hanya bisa menundukan kepalanya. Rasanya wajahnya itu tidak pantas lagi ditunjukan di hadapan Dimas.



Kejujuran, terkadang memalukan.

Persembunyian perasaan yang rapat

Tiba-tiba menyeruap

Kejujuran membuat tanparan,

Tanparan untuk segera,

Keluar dari pesrembunyiannya.

Hal ini lah yang aku takutkan.

Betapa bodohnya diri ini,

Rasanya tak pantas.

Wayahku, berada dihadpannya

Tak pantas bibir ini berkata di telinganya

Tangan ini tak pantas untuk menyentuhnya.

(suara hati sesungguhnya Nadia)

Bab 9



Hari Wisuda Aku

Hati ini terlalu bersemangat, hari yang telah aku tunggu-tunggu selama 4 tahun. Akhirnya hari ini aku di lantik enjadi seorang sajarna. Dan resmi mennyandang gelar S.E. semua kisah tawa, tangis biru, canda dengan teman di kelas, semuanya telah kita lewati. Pada hari ini, aku memakai baju toga. Sungguh dunia ini bagaikan lautan bunga yang bersemi dan ingin rasanya berteriak sekeras mungkin agar semua orang di dunia ini mengetahui, aku kini telah menjadi sarjana.

Saat kaki ini memasuki gerbang kampus. Lagkah kaki terasa menjadi melambat, detak jantung berdegup begitu kencang. Ucap syukur aku tak henti-hentinya, aku berterima kasih atas nikmat, rahmat yang Allah berikan.

“Nadia” Dimas dan Gilang melirik Nadia dari atas hingga bawah

“kamu terlihat cantik Nadia” Dimas tak dapat memedipkan matanya dari pandangan ke arah Nadia

“makasih kalian juga, hari ini terlihat cakep.”

“subhanallah, Nadia kenapa kamu ga dari dulu aja pake jilbab.”

“Allah baru berikan petunjuknya ke Nadia sekarang, lagian ini juga sebagai permintaan terakhir dari Putri untuk aku.”

“Gilang baru percaya sekarang, kalau perempuan yang berjilbab, aura cantiknya terpancarkan. Dari keteduhan jilbab yang menyelimutinya.”

“udah ah, jangan liatin Nadia terus, Nadia malah jadi GR.”

Di tengah mereka yang senang di lantik menjadi seurang sajarna. Putri masih terbaring lemah tengan kondisinya yang semakin kritis. Kangkernya telah menjalar keseluruh organ tubuhnya.

Dan pada saat nama Dimas dipanggil dengan pujian. Sebagai lulusan terbaik dengan ipk 3.98. tangisan haru, ayah dan Mamah Dimas saat melihat anaknya. Saat bersalaman dengan rektor dan menyampirkan kunciran topi toganya ke senelah kanan.

tak lupa merekapun melakukan sesi foto-foto bersama teman-teman seangkatan, dan seperjuangannya untuk mengabadikan moment hanya sekali sumur hidup itu. Saat sesi foto selesai, Dimas mendapatkan telepon dari ibunya Putri. Yang membuat hatinya tersentak, dan kakinya kaku yang bisa bisa bergerak saat mendengar kabar keadaan Putri.

Dimas pun melajukan mobilnya secepat-cepat mungkin, suara kelakson yang meraung-raung di telinga sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Dimas memarkirkan mobilnya. Dimas langsung berlari secepat-cepatnya menuju ruangan ICU Putri, lorong-lorong bangsal, yang Dimas lewati, seakan membawanya pada dimensi waktu. Saat-saat masa yang indah yang telah dilewati bersama Putri. Waktu terasa melambat, dan nafas aku terasa begitu sesak. Cerita ini begitu tak adil. “Kenapa disaat aku senang dengan hari wisuda aku, di hari ini juga aku harus merasakan kesedihan, kamu dinggalkan aku dengan sejuta kenangan manis, bahkan kau tak sempat ucapkan kata perpisahan untuk aku.”

Saat merada di depan pintu ruangan ICU. Disana Dimas merasakan kakinya yng kaku, langkah kakinya begitu berat, jari-jari tangannya gemetar. Dimas melihat sosok perempuan yang selalu membuat hari-harinya seperti pelangi, namu dia telah menjadi jenazah yang siap untuk diamdikan, dan dikafani. Angin tornado telah menamparnya, hingga badannya lemas, pada akhirnya Dimas pingsan, sekujur tubuhnya dingin seperti es batu.

Dalam mimpinya saat Dimas pingsan, Dimas bertemu dengan Putri dalam mimpinya itu. Putri menggunakan baju putih, mukanya nampak bercahaya, dan berseri, dia terlihat begitu cantik dari pada biasanya. Dan Putri berkata “Dimas, maafkan aku, Putri harus pergi ninggalin kamu, tapi inilah takdir, aku harap suatu hari nanti. Kamu dapat menemukan pengganti dari aku, yang lebih baik, dari pada aku. Dan tolong kamu berikan ini pada perempuan yang memang suatu hari nanti bisa buat kamu bahagia.” Putri memberikan sekotak kado, yang tertuliskan “dear Dimas, temui aku disurga”

Dan Dimas pun terbangun dalam mimpinya, saat Dimas terbangun disampingnya sudah ada Nadia, dan Gilang.

“Dim, kamu udah baikan?.”

“Dimas ga apa-apa ko Nad, cuman kepala Dimas aja sedikit sakit.”

“Nadia khawatir banget, tadi tuh badan kamu dingin banget kaya es”

“iya Dim, kata dokter kamu syok berat.”

Dan terdengar suara perut Dimas yang keroncongan mengaung-ngaung meminta makanan.

“Dim, ini makan buburnya.” Nadia pun menyodorkan bubur pada Dimas

“Dimas, ga mau makan.”

“Dimas, kamu harus makan, kalau kamu sakit, kita juga yang khawatir.”

“Dim, Gilang tau hati kamu lagi ga enak, tapi ini takdir, kamu harus ikhlas, Putri udah tenang disana.” air mata Dimas pun, membasahi tebing pipinya

“makasih ya, kalian emang sahabat Dimas, apapun keadaan Dimas, kalian pasti selalu ada disamping Dimas.” mereka bertiga pun saling memeluk punggug satu sama lain.

“karena kita ditakdirkan untuk selalu bersama, dan untuk saling melegkapi.”

“tanpa kalian, Nadia hanyalah kumang yang tak tahu, harus menghinggap pada bunga yang mana, dan kalian adalah bunga-bunganya Nadia. Yang selalu menyebarkan wewangian indah dalam setiap cerita hari-hari yang Nadia lewati.”

“aduh, Nad sastranya maknanya dalam banget.”

“heheh, biasa aja ah, Nadia juga masih belajar.”




Besok harinya Putri dimakamkan, Dimas, dan ayah Putri memasukan badan Putri padaliang lahar, tempat perintirahatan berakhirnya. Suara adzan dan iqomah pun dikumandangkan.

Selesai memakamkan Putri, ibunya Putri meminta Dimas. Untuk ke rumahnya, sebelum Dimas pulang.

“Dimas, ini pesan terakhir dari Putri, Putri ingin mengembalikan semua barang yang telah kamu berikan, dan Putri ingin kamu yang menyimpan semua barangnya.” ibunya Puti memnyodorkan sebungkah barang-barang itu. Pada Dimas

Dimas pun pulang dengan badan yang begitu lemas, dan hati yang hancur, sehancurnya dengan ditangannya membawa sebuah kotak berukuran besar. Sesampai di kamarnya, Dimas merebahkan badannya diatas kasur, dengan matanya menatap ke atas langit-langit kamarnya, seketika di atas langit-langit kamarnya terlintas wajah manis Putri saat tersenyum, Dimas pun memejamkan matanya, dadanya teraasa begitu sesak. Air matanya keluar begitu saja mengalir di kedua tebing pipinya. Semakin lama, air matanya mengalir begitu deras. Sulit baginya, harus menerima kenyataan bahwa, Putri sudah pergi untuk selama-lamanya.

Setelah pembicaraannya dengan Nadia terputus, Dimas pun melirik diary Putri yang ada di dalam kotak itu. Dimas pun mengambilnya dan membuka diary itu. Lebar demi lembar diary itu pun Dimas buka. Dimulai halaman pertama Dimas membaca diary itu, air matanya meleleh begitu deras membasahi kedua tebing pipinya.

senin, 14 januari 2016

hari ini hati aku begitu hancur, hidup aku. Terasa terhentikan oleh dimensi waktu yang tak aku ketahui. Dokter telah mengdianoksa, bahwa aku terkena kanker otak stadium 2. Seketika sekujur badan aku lemas, saat mendengar pernyataan itu. Ingin rasanya aku menjerit sekeras-kerasnya, bahwa aku sudah lelah dengan semua drama di dunia ini. Mengapa Allah berikan ini pada aku! rasanya tak adil! Setelah aku dapatkan kebahagiaan, karena Dimas telah melamar aku tadi malam. Rasanya hari ini, dunia begitu redup, matahari tak menyinari bumi dengan semestinya. Yang aku harap, semoga Allah selalu memberi aku kekuatan dalam menghadapi cobaan ini. Karena, aku yakin dibalik semoa cobaan, pati akan ada hikmahnya.

Tak sanggup lagi, untuk terus membaca isi diary itu. Dimaspun langsung menutup diarynya, dan kembali ke atas kasurnya. Perlahan matanya meredup, hingga akhirnya tertidur, dengan air mata masih meleleh membasahi tebing pipinya.



Bab 10

Ini Jalan Yang Aku pilih

Sudah hampir 1 minggu Dimas mengurung dirinya dikamar karena ketepurukannay untuk menerima bahwa Putri sudah tidak ada. Berbagai cara sudah Nadia dan Gilang usahakan untuk menghibur dirinya, namun itu semua gagal.

Di pagi hari yang cerah, sangat berbanding terbalik dengan suasana hati Dimas yang masih terasa mendung, dan masih terasa sakit. Separo jiwanya telah menghilang begitu saja, tidak ada semangat di dalam dirinya. Hanponenya yang berdiring, terlihat dari layar handpone “MY wali dosen calling” Dimas menarik napasnya yang panjang, jika buka wali dosennya yang menelepon Dimas tidak mungkin mau mengangkatnya. Karena untuk berbicarapun, tidak ada tenaga untuknya.

“hallao, assalmualaikum Bu.” dengan suara lemasnya

“wa’alaikumsalam, Dimas apa kabar?.”

“allhamdulilah baik, ada apa ya Bu?.“

“kamu besok, bisa ga ke kampus?.”

“bisa Bu.”

“oke, besok kamu ke kampus jam 9 ya. Ada yang ingin Pak Dekan bicarain sama kamu.”

“iya, Bu.”

“ya udah, kalau gitu assalamualaikum.”

“wa’alaikumsalam.”

Dimas melihat jam ding-ding kamarnya, menunjukan pukul 12.00. Dimas merasakan perutnya keroncongan, karena dari semalam, sepulangnya hiking dari Gunung Bromo. Dia langsung terlelap tidur dengan pulasnya. Dari tempat tidurnya, Dimaspun beranjak keluar kamarnya. Suasana rumahnya begitu sepi, tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Dimas menuju meja makan, untuk mencari makanan yang bisa dia makan. Untuk menghilangkan rasa laparnya. Namun, saat Dimas melihat mejanya bersih tidak ada makanan. Dimas pun beralih ke dapur. Untuk memasak mie instan. Dalam waktu 3 menit, Dimas menyajikan mie itu. Dan Dimas memakannya sembari menonton TV. Ditengah Dimas sedang asik menyantap mienya.




Besok harinya Dimas ke kampus untuk menemuin Pak Dekan. Seperti yang dijamjikan wali dosennya, Dimas ke kampusnya jam 9.

Sesampai dikampusnya, Dimaspun langsung menemui Pak Dekan diruangannya.

Dimas mengetok pintu ruangan Pak Dekan “Assalamualium”

“wa’alaikumsalam, masuk” suara Pak Dekan dari dalam ruangannya

Dimaspun membuka pintunya, didalam Dimas melihat Pak Dekan sedang begitu sibuk dengan pekerjaannya.

“Dimas, silahkan dududk.” Dimaspun menarik kursi yang ada di hadapan Pak Dekan

“langsung saja pada intinya, maksud dan tujuan saya memangnil kamu. karena Dimas sebagai lulusan terbaik ditahun ini. Dimas mendapatkan beasisiwa melalui mentri pendidikan, untuk melanjutkan S2 di Amerika.”

“ini, sungguhan Pak?.” Dimas dengan muka begitu kagetnya mendengar pernyataan itu

“iya, itu benar Dimas.”

Dimas hanya terdiam masih tidak percaya dari pernyataan yang Pak Dekan berikan. Karena impiannya selama ini, bisa kuliah diluar negri bisa dia dapatkan.

“oke, kalau kamu belum bisa memberi jawabannya. Bapak akan memberi kamu waktu untuk memikirkannya selama 3 hari.”

Dimalam hari ditengah sedang makan malam. Dimas mengutarakan ke ayah dan Mamahnya, bahwa dia , mendapatkan kesempatan S2 ke Amerika.

“yah, Bu, Dimas mau bicara sama kalian.”

“bicara apa Dim?.”

“Dimas dapat beasiswa S2 ke Amerika.” sembari menyodorkan selembar kertas pernyataan bahwa dia memang mendapatkan beasiswa itu

Ayah Dimas pun membacanya. Dengan terseyum “selaman ya Dimas.”

“tapi, Dimas tidak memiiki ke inginan untuk mengambil beasiswa itu. Hati Dimas masih pilu, Dimas ingin mengobatinya dulu.”

Ibu dimas menatap ke arah dimas lurus-lurus dengan tatapan matanya yang tajam. “Dim, sampai kapan? Ayo sekarang waktunya kamu untuk bagkit dari ketepurukan. Ibu rindu dengan Dimas yang semangta, Dimas yang selalu mengambil kesempatan berharga di setiap waktunya. Ini obat untuk luka di hati kamu.”

“iya, ibu bener. Mungkin ini jalan yang terbuka untuk Dimas untuk menyembuhkan luka ini. Dimas harus bangkit lagi.




Besok harinya Dimas meminta untuk berkumpul dengan Gilang, Mawar, dan Nadia dirumahnya.

“ada satu hal yang ingin aku sampain ke kalian.”

“apa Dim? Kayanya serius banget.”tanya Gilang dengan begitu penasaran

“aku, dapat beasiswa S2 ke Amerika.”

“apa Dim Amerika? kamu mau ninggalin kita.” Nadia tercengang saat mendengar pernyataan dari Dimas

“bisa kuliah diluar negeri. Adalah impina aku selama ini, dan ini adalah kesempatannya yang aku dapat.”

“Dimas, Mawar seneng denger berita ini. Dan kesempatan itu ga akan datang untuk ke 2 kalinya loh.” Mawar melemarkan senyumannya sembari menepuk bahu Dimas.

“iya, aku minta pendapat dari kalian, apa Dimas harus ambil kesempatan ini?.”

“Dim, ini impian kamu selama ini. tunggu apa lagi! Kamu harus ambil kesempatan ini.” ujar Gilang sembari merangkul punggung Dimas

Sementara Nadia terdiam menundukan kepalanya. “Nad, gimana kamu dukung aku juga kan?.”

Nadia pun mengangkat kepalanya “kalian mikirin apa sih, iyalah aku pasti dukung keputusan kamu, aku ikut senang kalau kamu juga senang.”

“makasih ya dukungan kalain, oke sebelum aku pergi kita seneng-seneng. Ga boleh ada yang sedih-sedih. Kalian mau apa aja pasti aku turutin.”

“bener nih, semuanya diturutin?.” Tanya Nadia dengan mata jahilnya.

“iya, beneran.”

“aku mau nonton.” ucap Mawar

“gimana, kita makn ice krim.” ucap Dimas

“Nadia, pengin ke Taman Bunga Cilaka. Soalnya ga ada yang ngajak Nadia kesana.”

“oke, kita mulai sekarang.”

Merekapun memulainya dengan nonton, Filem yang dipilih Mawar. Sehabis nonton mereka makan ice krim ditempat yang Nadia inginkan. Ditengan kota Bandung yang sudah banyak Polusinya, ditaman ini mata mereka disuguhkan dengan kecantingan warna-warni bungan yang ada ditaman itu. Udara yang terasa sejuk, memberika ketenangan pada jiwa. Angin yang bertiup dengan tenangnya. Seolah-olah menghepas semua beban-bedan yang ada dibahu.

Nadia yang sedang tenangnya duduk dibangku, memejamkan matanya untuk menikmati udara yang begitu menyejukan jiwanya. Harus diusikkan ketenangannya dengan jepretan foto.

Matanya terbuka dan dihadapannya ada Dimas yang tengan memegang kameranya. “ih, Dimas main foto aja.” Nadia menubit perut Dimas.

“aw, sakit tau.” Rengek Dimas sembari mengelus perutnya yang terasa perih bekas ciwitan dari Nadia.

“Dim, kamu pergi berpa lama?.”

“emm, ga tau, Dimas sih penyinnya disana bukan cuman kuliah tapi, bisa sambil kerja.”

“kalau kamu disana, jangan sombong ya, Dimas harus balas LINE Nadia, itu wajib!.”

“emm, Dimas ga bisa janji, Dimas harus liat situasinya juga. Kalau situasinya ga memungkinkan untuk balas LINE Nadia, ya Dimas ga kan bales.”

“ih, dimas jahat.” Bibir Nadia beruban lebih maju, seperti bebek

“iya, iya deh” dengan mata jahilnya



Besoknya jam 08.00 Dimas usdah ada di Airport. Tak lama kemudian Gilang dan Mawar pun datang untuk ucapkan kata-kata perpisahannya.



“Dim, selamat jalan, jaga diri di negeri orang.” ucap Gilang sembari memeluk punggung Dimas

“Dimas, hati-hati dijalan ya, jaga kesehatan kamu.” ucap Mawar

“iya, eh Nadia ko belom nongol juga?.”

“bilangnya sih, lagi dijalan.” jawab Gilang

“oh”

Beberapa menit kemudian, Nadia menampakan dirinya dengan setengah berlari menghampiri Dimas.



“aku kira, Dimas udah pergi.”

“ini juga udah mau pergi, kayanya Dimas haru cek-in sekarang soalnya setengah jam lagi berangkat.”

“eh, tunggu dulu” Nadia memegang tangan Dimas yang akan pergi “nih, buat kamu” Nadia memberikan sekotak kecil ke Dimas

“apa ini?.” Dimas berusaha untuk memebukanya

“jangan dibuka dulu, bukanya kalau kamu udah sampai di Amerika.” tangan Dimaspun berhenti membuka tutup dari kotak itu

“apaan sih!.”

“ada deh, nanti juga Dimas tau.”

“ya udah deh, Dimas jalan sekarang.”

“iya, kalau kamu udah sampai kasih tau Nadia ya.” Mata Nadia mulai berkaca-kaca

“iya, Gilang, Mawar aku berangkat” sembari menyalami mereka

Dimas pun melangkahkan kakinya menjauhi tempat Mawar, Gilang, Nadia berdiri. Nadia hanya bisa memadang langkah kaki Dimas yang semakin menjauhinya dengan mata berkaca-kaca.




Amerika

Sesampainya Dimas di Amerika, mata Dimas tertuju pada sebuah kotak yang menemani perjalanannya di pesawat. Saat kitak itu terhasil dia buka terkanya isinya. Isinya jam beker sama syal, dan ada sebuah kertas yang terlipat berbentuk pesawat. Tangan Dimas segera membuka lipatan kertas pesawat itu.

Dim, kamu tau kenapa, Nadia kasih jam beker sama syal. Dari jam beker ini Nadia ingin kamu selalu mengingat waktu kita bersama. Dan Nadia mau kasih tau Dimas, kalau jarak dan waktu ga kan pernah misahin kita. Nadia akan selalu mendoakan Dimas disana. Sebagai penghatar rasa rindu Nadia, dan syal ini sebagai tanda bahwa,syal ini akan selalu mengikat rasa cinta Nadia ke Dimas karena, Cinta tak memandang jarak dan waktu.”

Bibir Dimas mengembang setelah membawa isi dari tulisan kertas itu.



Pergi adalah cara Dirinya,

Untuk berlari melupakan dia.

Pilihan inilah pengobat rasa itu.

Asal kamu tahu.

Dengan kepergian kamu,

Itu tidak meruntukan hati ini.

Agar selalu menunggu.

Arti menunggu buatku

Adalah menunggu hati kamu pulang.

Pulang untuk menjemput hati aku.

Yang bersembunyi, melawan arus.

Dari rasa di hatinya.

(suara hati sesungguhnya Nadia)



Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə