Beberapa pertanyaan usil yang menggelitik pada ibadah haji



Yüklə 25.07 Kb.
tarix18.04.2018
ölçüsü25.07 Kb.

BEBERAPA SARAN AGAR

BERIBADAH HAJI DAN UMRAH

DENGAN MUDAH SERTA NIKMAT




Modul 5

Pelaksanaan Ibadah Haji


D
itulis dalam rangka meningkatkan

penghayatan ibadah haji



Oleh
Khoiril Arief Saleh

Agustus 2001

Bandung

BEBERAPA SARAN AGAR BERIBADAH

HAJI DAN UMRAH DENGAN MUDAH SERTA NIKMAT


Oleh : Khoiril Arief Saleh

Jalan Bolavoli 18 Arcamanik, Bandung. Telp. (022)7102411

Dalam tulisan ini disajikan beberapa petunjuk praktis untuk mempermudah mendalami ibadah haji agar Insya Allah benar-benar membekas meskipun Makkah telah kita tinggalkan.Tindakan praktis tersebut merupakan upaya antisipasi untuk lebih meningkatkan kekhusukan ibadah haji dan sesudahnya.

Dalam hal ini sengaja tidak dibahas secara detil tentang thawaf tetapi hanya bentuk putarannya saja. Demikian pula dengan wukuf dan melempar jumrah, hanya dibahas urutannya saja. Hal itu disebabkan karena telah banyak yang menginformasikan bahwa hampir semua orang merasa bergetar hatinya disaat melakukannya. Selain itu telah banyak publikasi para ahli agama tentang maknanya.



Diceriterakan oleh beberapa orang yang telah melaksanakan ibadah haji dan umrah antara lain sebagai berikut :

  1. Takut pada kondisi alam di Makkah dan sekitarnya (panas, kering, tandus, susah air dan sebagainya).

  2. Kurang dapat menghubungkan antara puasa Ramadhan dengan haji.

  3. Kurang menghayati pelaksanaan talbiyah.

  4. Kurang menghayati pelaksanaan sa’i.

  5. Kurang mengoptimalkan fasilitas dan skenario yang ditetapkan Allah di Arafah.

  6. Kurang menghayati pelaksanaan mabit di Muzdalifah atau Masy’aril Haram.

  7. Kurang menghayati arti pengulangan-pengulangan suatu ritual hingga tujuh kali.

  8. Tidak sedikit cobaban atau gangguan ibadah datang dari pasangan hidupnya, yaitu dari istri atau suami sendiri. Tidak sedikit suami-istri berbantah-bantahan dan berselisih.

  9. Kurang menghayati urutan ritual haji dan umrah.

  10. Masih ada beberapa jamaah haji menganggap Ka’bah dan sekitarnya dapat dijadikan sebagai jimat.

  11. Kurang menghayati arti larangan-larangan yang ada dalam ihram dan kurang menghayati tentang nikmat.

  12. Masih kurangnya pertukaran ilmu, pengetahuan dan pengalaman antar umat Islam pada saat terjadinya pertemuan akbar umat Islam sedunia baik di Makkah maupun Madinah.

  13. Tidak sedikit para Jamaah haji melakukan pemborosan di Makkah maupun di Madinah.

  14. Tidak sedikit jamaah haji yang selalu terganggu dengan keadaan di tempat asalnya, teringat kondisi anaknya, saudaranya, ayahnya, ibunya dsb.

Dalam tulisan ini disajikan beberapa saran atas dasar petunjuk dari beberapa orang yang pernah atau sering melaksanakan ibadah haji atau umrah, sebagai berikut.

  1. Untuk menghilangkan kekhawatiran menghadapi kondisi alam di Makkah, yakinkanlah hati anda bahwa Makkah adalah tempat terbaik untuk melaksanakan haji. Tempat terbaik untuk melakukan pertemuan akbar manusia seluruh jagat raya. Dari sudut rekayasa teknik, Makkah dan sekitarnya benar-benar merupakan tempat yang cocok. Tidak ada tempat olimpiade didunia ini yang mempunyai fasilitas alamiah sebaik Makkah dan sekitarnya, ada sarana tinggal, ada sarana berkumpul dan ada sarana untuk menempa cobaan. Makkah cocok untuk pertemuan akbar sedang daerah sekitarnya cocok dijadikan sebagai tempat penempaan cobaan. Makkah merupakan tempat paling strategis, aman dari bencana alam dan perang, mempunyai cadangan air yang cukup, luas dan dapat dipilih waktunya sesuai musim yang kita kehendaki. Bila terpaksa berangkat haji tidak sesuai dengan musim di daerah tempat tinggal, persiapkanlah segala sesuatunya, terutama pakaian (pakaian musim dingin atau pakaian musim panas). Bersama ini ditunjukkan perkiraan musim di Makkah dan sekitarnya sebagai berikut :

    • Pada bulan Desember udara dingin hingga dingin sekali.

    • Pada bulan Januari dan Februari udara dingin sekali, bisa mencapai 2 derajat Celsius bahkan mungkin lebih kecil lagi.

    • Pada bulan Maret udara dingin.

    • Pada bulan April udara sedang.

    • Pada bulan Mei udara mulai panas.

    • Pada bulan Juni, juli, Agustus dan September udara panas sekali, bisa mencapai 50 derajat Celsius.

    • Pada bulan Oktober udara panas mulai berkurang

    • Pada bulan Nopember udara berangsur-angsur mulai dingin.

Perlu diketahui bahwa hampir sepanjang musim kelembabannya relatif kecil. Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi. Untuk mengatasinya sebaiknya memperbanyak minum air dan makan buah-buahan.

  1. Untuk mencapai haji yang mabrur, dapat dipersiapkan mulai saat melaksanakan puasa Ramadhan. Tidak jauh waktunya antara akhir Ramadhan dengan pelaksanaan haji, bahkan kita diperbolehkan berihram pada bulan Syawal. Kalau kita akan berihram pada bulan Syawal atau Dzulqa’dah, telah diberi sarana untuk memelihara kualitas Iman dan Islam hasil Ramadhan. Caranya dengan melaksanakan puasa 6 hari dibulan Syawal dan puasa sunat lainnya.

  2. Untuk menghayati talbiyah secara maksimal, janganlah hanya sekedar mengucapkan kalimah talbiyah saja tetapi harus disertai dengan talbiyah hati. Meskipun sedang makan, berjalan, mengangkat-angkat barang, dan sejenisnya harus tetap mengingat-ingat ucapan talbiyah dalam hati kita.

  3. Untuk menghayati pelaksanaan sa’i, bukalah kembali sejarah nabi Ibrahim dengan segala kelengkapan gambar rekonstruksi kejadiannya. Renungkan kembali apa yang diperbuat Siti Hajar pada saat ditinggal nabi Ibrahim di perempatan jalan padang pasir yang sunyi. Bayangkan seandainya anda sendiri yang melakukannya. Renungkan pula bahwa tugas itu tidak bisa diwakilkan pada orang lain. Renungkan mengapa bukan kejadian-kejadian besar lainnya yang diabadikan dalam ibadah haji ?. Mudah-mudahan anda dapat menghayatinya, sekaligus mengetahui maknanya untuk melakukannya dalam kehidupan sehari hari. Melindungi dan mendidik anak adalah suatu pekerjaan yang benar-benar sangat terpuji. Tidak lagi menitipkan anaknya pada baby sister sekedar untuk melakukan kegiatan lain yang jauh dibawah skala prioritasnya.

  4. Untuk lebih mengoptimalkan pelaksanaan wukuf di Arafah, lihatlah tenda-tenda dan orang-orang di Arafah. Jawablah pertanyaan ini :

  • Adakah manusia yang sanggup mengumpulkan orang sebanyak itu dengan keseragaman dan ketulusan hati yang sama untuk mencari ridhanya ?. Sejauh mata memandang hanya tenda dan manusia berpakaian ihram yang terlihat. Tidak ada seorangpun yang menyamai Nya.

  • Malukah anda dalam keadaan sehina dan sekecil ini, disanjung Allah dihadapan malaikat-malaikat ?. Maka, tidak ada jalan lain kita harus menebusnya dengan memenuhi segala perintah dan menjauhi segala larangan Nya secara sungguh-sungguh baik pada saat wukuf maupun setelahnya. Harus lebih bertaqwa.

  • Dapatkah anda melihat tebaran tenda dan orang berpakaian ihram seluas ini bila tidak di Arafah tempatnya ?.Untung sekali Arafah ditempati oleh batu-batu berbutir relatif tidak kecil (batuan andesit basaltis yang terpecah-pecah menjadi kerikil dan bongkah). Bila ditempati batuan berbutir sangat lembut …….betapa kotornya tempat ini, debu beterbangan kemana-mana. Selain itu, untung juga disini tidak ada binatang buas. Meskipun tempat ini dijadikan sarana penghayatan penderitaan (dicabutnya beberapa nikmat) tetapi tidak akan melebihi batas manusia untuk menanggungnya. Akuilah bahwa Allah mempunyai ilmu yang maha tinggi sehingga kita dipilihkan tempat yang sangat tepat.

  • Pada ujungnya kita harus menyadari benar akan kebesaran ilmu Allah yang telah menetapkan Arafah sebagai tempat berwukuf dan telah memberikan fasilitas dan suasana yang tidak tertandingi dibumi ini. Arafah memang gersang dan panas tetapi tidak melebihi kemampuan manusia, cukup untuk menguji keteguhan hati manusia. Hal ini benar-benar akan terasa bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenungkannya.

  1. Untuk menghayati pelaksanaan mabit di Muzdalifah atau Masy’aril Haram, bukalah kembali sejarah nabi Adam dengan segala kelengkapan gambar atau peta rekonstruksi kejadiannya. Pahami benar-benar dimana nabi Adam diturunkan di bumi dan ibu Hawa diturunkan di bumi ini. Hayatilah awal pertemuan mereka di Muzdalifah dan renungkan kejadiannya. Renungkanlah keajaiban awal pertemuannya, semoga anda dapat menarik makna darinya.

  2. Yakinilah bahwa pengulangan hingga tujuh kali setiap melakukan usaha adalah suatu petunjuk Allah. Petunjuk agar umat Islam giat berusaha. Bila gagal dalam melakukan usaha, janganlah menyerah, lakukan lagi, lakukan lagi, lakukan lagi, hingga tujuh kali, Insya Allah berhasil.

  3. Untuk menghindari saling berbantahan ataupun bertengkar dengan pasangan hidup, sebaiknya suami maupun istri harus membuka kembali aturan-aturan dalam suatu perkawinan Islam. Baca kembali dan resapi kembali kewajiban istri terhadap suaminya dan kewajiban suami terhadap istrinya. Berpikirlah tentang kewajiban dan janganlah berfikir tentang hak. Mudah-mudahan anda dapat menghindari berbantah-bantahan dengan pasangan hidup sendiri. Bersabarlah, terutama bagi mereka yang mempunyai gaya perilaku dominan (D), influence (I) dan complaince (C).

  4. Cobalah renungkan apa yang telah diterangkan pada modul sebelumnya tentang urutan pelaksanaan ritual ibadah haji. Mudah-mudahan anda dapat mengerti urutan kehidupan. Awalilah tindakan anda dengan mempelajari pengetahuan tertulis (Al-Quran dan Hadis) maupun pengetahuan di alam ini, untuk memperoleh suatu kesadaran. Kesadaran untuk tetap bersiap-siap mengantisipasi segala ancaman yang akan merusak hati kita. Kesiapan dan antisipasi tersebut tidak cukup bila tidak diwujudkan dalam gerakan jiwa untuk mengusir segala bentuk keinginan berbuat maksiat dari dalam diri sendiri. Setelah itu, lakukanlah amalan-amalan sholeh sebanyak-banyaknya sebagai manifestasi dari kedekatan hati anda pada Allah.

  5. Bila anda masih menganggap bahwa Ka’bah dan benda-benda disekelilingnya merupakan jimat, yakinilah benar-benar bahwa tujuan akhir umat Islam adalah Allah bukan pada Ka’bah. Ka’bah adalah ciptaan Allah yang dilambangkan sebagai rumah Allah, sebagai tanda penyatuan arah umat Islam.

  6. Untuk mengoptimalkan pertemuan akbar umat Islam sedunia, bawalah atau siapkanlah catatan baik berupa kertas, CD atau disket yang berisi tentang ilmu, pengetahuan atau pengalaman anda. Pertukarkanlah pada pertemuan akbar umat Islam sedunia. Siapkanlah diri anda untuk memberi dan diberi dengan sesama jamaah haji, terutama yang berasal dari kota lain , propinsi lain, atau negara lain. Bila anda telah mengetahui medan daerah Makkah dan sekitarnya, pergilah dari tempat tinggal anda untuk melakukan pertukaran.

  7. Renungkanlah saat berihram dan tidak melakukan perbuatan yang dilarang Allah. Berapa nikmatkah yang dicabut oleh Allah pada saat itu. Rasanya hanya sebagian sangat kecil saja nikmat yang tidak dapat kita rasakan. Bayangkan seandainya nikmat-nikmat lain dicabut juga dan bayangkan lagi seandainya beberapa nikmat dicabut lagi, ……dicabut lagi, lagi dan lagi…………….Dapatkah anda berbuat untuk mengatasinya. Memang Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  8. Pada saat menunggu waktu haji atau keberangkatan rombongan, disarankan untuk mengerjakan hal-hal sesuai dengan urutan prioritasnya. Sesuatu yang penting kerjakan dan utamakan, misalkan melaksanakan ibadah-ibadah sunat, sedang yang kurang penting bahkan tidak penting, dilakukan pada saat-saat yang benar-benar kosong. Lakukan sesuai doa Rasulullah : “ampunilah saya sekiranya saya mendahulukan hal-hal yang seharusnya tidak didahulukan”.

  9. Untuk menghilangkan gangguan ingatan kita pada keluarga yang ditinggalkan di tanah air, disarankan sebelum berangkat meninggalkan rumah agar mewasiatkan segala sesuatu keperluan keluarga kepada seseorang yang dapat dipercaya. Mewasiatkan seakan-akan kita akan meninggalkan mereka keakherat. Bereskan segala sesuatunya agar tidak meninggalkan tanggungan menggantung yang harus kita kerjakan. Minta maaflah pada sanak keluarga dan handai taulan agar tidak ada ganjalan apapun dalam hati kita.

Selain hal-hal tersebut diatas, perlu pula diwaspadai situasi dan kondisi berikut ini.

Disarankan pada para jamaah haji agar hati-hati di kota Makkah dan waspadailah tanda-tanda yang terlihat tinggi. Hal itu penting sebagai petunjuk jalan. Antisipasi tersebut penting sekali, karena kota Makkah mempunyai banyak jalan berbentuk melengkung dengan persimpangan tidak bersudut sekitar 90 derajat. Jalan berbentuk melengkung berpotensi untuk menyesatkan orang, apalagi orang dari Indonesia yang terbiasa menempati kota-kota yang berjalan lurus-lurus dengan persimpangan bersudut sekitar 90 derajat.



Sekali lagi diingatkan bahwa salah satu hikmah haji adalah terlaksananya pertemuan akbar tahunan umat Islam seluruh dunia. Didalam pertemuan itu hendaknya kita mempersiapkan sebaik-baiknya untuk melakukan pertukaran ilmu, pengetahuan dan pengalaman antar umat Islam sedunia.




Daftar Pustaka

  1. Abdurrahman E., Petunjuk Praktis Ibadah Haji, Penerbit Sinar Baru, Bandung, 1991.

  2. Agus Syihabudin Drs. MA., Panduan Manasik Haji, KBIH YPM Salman ITB, 2000.

  3. Ali Shariati DR., Haji, Penerbit Pustaka, Bandung, 1997.

  4. Al-Quran, software Al-Quran versi 6.

  5. At Tirmidzi, Hadis mengenai pribadi dan budi pekerti Rasulullah SAW., alih bahasa oleh M. Tarsyi Hawi, CV Diponegoro, Bandung, 1990.

  6. Choiruddin Hadhiri SP., Klasifikasi kandungan Al-Quran, Gema Insani Press, Jakarta, 1994.

  7. Departemen Agama RI, Deretorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Dan Urusan Haji, Bimbingan Ibadah Haji, Umrah Dan Ziarah, Jakarta,1998

  8. Fachrudin HS., Terjemah hadis shohih Muslim, Bulan bintang, Jakarta, 1980.

  9. Hussein Bahreisj, Himpunan hadis shohih Bukhari, Al Ikhlas, Surabaya, 1980.

  10. Khafid DR., Mawaaqit++32 Versi 97.09 Software Al-Quran, Hadis, perhitungan waktu Islam, Bogor, 1997.

  11. Mustofa W Hasyim dan Ahmad Munif, Haji Sebuah Perjalanan Air Mata, Pengalaman Beribadah Haji 30 Tokoh, Yayasan Bentang Budaya,Yogyakarta, 1997.

  12. Perry H. Rahn, Engeneering Geology An Environmental Approach, Prentice Hall PTR, Upper Saddle, New Jersey, 1996.

  13. Shaleh K.H.Q., Dahlan H.A.A. dan Dahlan H.M.D., Asbagianun Nuzul, latar belakang historis turunnya ayat-ayat Al Qur,an, CV. Diponegoro, Bandung, 1994.

  14. Sukmadjaja Asyarie, Rosy Yusuf, Indeks Al-Quran, Pustaka, Bandung, 1984.

  15. Muhammad Tajuddin bin Almanawi Alhaddadi, 272 hadis qudsi, alih bahasa oleh H. Salim Hahreisy, PT. Bina ilmu, Surabaya, 1986.



Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə