Demikianlah, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Soan Cu dan juga biruang raksasa yang menjadi jinak

Sizin üçün oyun:

Google Play'də əldə edin


Yüklə 351.39 Kb.
səhifə1/7
tarix03.11.2017
ölçüsü351.39 Kb.
  1   2   3   4   5   6   7

Bu Kek Siansu

4

Demikianlah, Sin Liong meninggalkan Pulau Neraka bersama Soan Cu dan juga biruang raksasa yang menjadi jinak



itu. Dengan sebuah perahu yang disediakan oleh Ouw Kong Ek, berangkatlah mereka meninggalkan Pulau Neraka,

berlayar melalui pulau-pulau di daerah itu. Akhirnya, karena tidak berhasil menemukan Swat Hong yang

dicari-carinya, juga tidak tampak seorang pun manusia tinggal di daerah lautan berbahaya itu, Sin Liong

mengemudikan perahunya menuju ke arah barat, ke daratan besar. "Besar kemungkinan Sumoi mendarat, dan kalau

sampai belasan tahun ayahmu tidak pernah pulang dan tidak ada beritanya, juga bukan tidak mungkin Ayahmu

tinggal di sana," katanya kepada Soan Cu. "Mari kita mencari jejak mereka di daratan besar." Soan Cu tidak

membantah dan demikianlah, akhirnya mereka mendarat dan hanya beberapa hari lebih dulu dari pendaratan yang

dilakukan oleh Swat Hong yang tersesat jalan dan mendarat jauh di selatan sehingga dia bertemu dengan Kwee Lun.

Karena dari pantai ke barat banyak melalui daerah yang sunyi, pegunungan dan hutan, maka adanya biruang bersama

meraka tidak terlalu mengganggu benar. Pula, binatang itu sudah jinak sekali, bahkan dapat disuruh untuk

mencari buah-buahan, pandai pula mencari air di dalam hutan yang lebat. Pada suatu hari, tibalah mereka di

pegunungan Tai-hang-san. Tanpa mereka ketahui, mereka tiba di lereng puncak Awan Merah, daerah kekuasan

Tee-tok. Ketika mereka memasuki sebuah hutan besar, tiba-tiba terdengar auman harimau yang amat keras sehingga

suara itu menggetarkan hutan. Mendengar auman ini, biruang menjadi marah sekali. Sin Liong cepat memegang dan

memeluk binatang itu, khawatir kalau-kalau biruang itu akan lari dan berkelahi dengan harimau yang mengaum itu.

"Hai.......! Ada harimau! Biar kutangkap dia!" Sian Cu sudah berlari-lari membawa senjatanya yang aneh dan

istimewa, yaitu sebatang cambuk berduri yang menjadi senjata kesayangannya disamping pedang. Dia tertawa-tawa

gembira sehingga Sin Liong tidak tega untuk melarangnya. Dara itu masih remaja, masih bersifat kanak-kanak dan

hanya kadang-kadang saja tampak kedewasaanya. Dia maklum bahwa gadis yang sejak bayi dibesarkan di tempat

seperti Pulau Neraka itu, tentu saja memiliki sifat-sifat liar, akan tetapi dia pun mengenal dasar-dasar baik

dari hati Soan Cu. Selain membiarkan gadis itu bergembira, juga dia percaya penuh bahwa ilmu kepandaian Soan Cu

sudah tinggi sekali, cukup tinggi untuk melindungi diri sendiri. Soan Cu berlari cepat sekali dan dalam berlari

ini timbullah kegembiraan yang luar biasa di dalam hatinya. Di depan Sin Liong, dia selalu harus menekan

perasaannya karena sikap pemuda ini sungguh penuh wibawa dan membuat dia tunduk, takut dan hormat seolah-olah

pemuda itu menjadi pengganti kakeknya. Akan tetapi sesunguhnya semenjak dia meninggalkan Pulau Neraka, ada

perasaan gembira yang disembunyikannya dan baru sekarang dia memperoleh kesempatan untuk melepaskan

kegembiraannya yang meluap-luap. Ingin dia bersorak gembira kalau saja tidak takut terdengar oleh Sin Liong!

Maka kegembiraannya itu disalurkannya lewat kedua kakinya yang berloncatan dan berlari-lari menuju ke arah

suara harimau yang mengaum. Karena auman harimau itu keras sekali, mudah saja bagi Soan Cu untuk menuju ke

tempat itu dan akhirnya dia melihat seekor harimau yang amat besar dan kuat, berbulu indah sekali,

loreng-loreng hitam kuning berdiri memandang ke arah seorang laki-laki yang berdiri ketakutan. Harimau itu

membuka-buka moncongnya, seperti seorang anakkecil yang menggoda kakek itu, menakutnakutinya, kadang-kadang

mengaum dan tiap kali dia mengaum, kedua kaki orang itu menggigil dan terdengar suara terputus-putus dan dia

mencoba untuk bersembunyi di belakang sebatang pohon, "Kakak harimau yang baik..... saya..... saya..... A-siong

pedagang kayu bakar..... hendak mengirim kayu bakar kepada Lo-enghiong....... harap jangan mengganggu

saya......" Harimau itu sebetulnya adalah harimau peliharaan Tee-tok dan biasanya dikurung dalam kerangkeng dan

hanya pada waktu-waktu tertentu saja dibiarkan berkeliaran di hutan. Agaknya penjaga harimau pada hari itu

terlupa sehingga harimau itu tetap berkeliaran pada waktu A-siong sedang mengirim kayu bakar ke Puncak Awan

Merah. A-siong adalah seorang di antara pedagang-pedagang kayu bakar yang suka menjual kayu bakar di tempat

itu. Melihat harimau itu, Soan Cu lalu berseru, "Kucing besar, kau nakal sekali!" Harimau itu menggereng dan

menoleh. Ketika dia melihat seorang wanita memengang cambuk, dia menggereng dan cepat sekali, berlawanan dengan

tubuhnya yang besar, dia sudah membalik dan menubruk. "Celaka......!" A-siong berseru kaget, memeluk batang

pohon dan menahan napas, membelalakan matanya. Akan tetapi, tanpa mengelak Soan Cu sudah menggerakan cambuknya.

"Tar-tar!" ujung cambuk itu menyambar dan membelit kaki depan kanan harimau itu dan sekali tarik, tubuh harimau

yang sedang meloncat itu terbanting ke atas tanah. Harimau itu menggereng dan kelihatan marah sekali. Kembali

dia menubruk, akan tetapi sekali ini, Soan Cu yang sedang gembira meloncat ke kiri dan melihat tubuh harimau

itu menyambar lewat, dengan tangan kirinya dia menangkap ekor harimau yang panjang dan sekali tubuhnya

bergerak, dia telah berada di atas punggung harimau! Sambil tersenyum-senyum dan membuat gerakan seperti orang

menunggang kuda, Soan Cu menggerak-gerakan ujung cambuk menyabeti moncong harimau itu. Tentu saja harimau itu

merasa kesakitan karena ujung cambuk itu berduri. Dengan kemarahan meluap harimau itu berusaha mencakar dan

menggigit ujung cambuk yang mungkin dikira seekor ular yang ganas, namun tak pernah berhasil bahkan bagaikan

buntut seekor ular, ujung cambuk itu terus melecuti hidung dan bibirnya sampai berdarah! "Hiyooooo.... kucing

binal, hayo jalan baik-baik!" Seperti seorang pemain sirkus yang mahir, Soan Cu menunggang harimau, tangan kiri

mencengkeram kulit leher, tangan kanan mempermainkan cambuknya dan harimau itu yang mengejar ujung cambuk yang

digerak-gerakan, melangkah perlahan-lahan! A-siong yang menonton sambil berusaha menyembunyikan diri di balik

batang pohon, terbelalak dan hampir tak percaya kepada matanya sendiri. Beberapa kali tangan kirinya menggosok

kedua matanya dengan ujung lengan baju karena dia mengira bahwa dia sedang dalam mimpi, akan tetapi tetap saja

penglihatan yang luar biasa itu masih tampak oleh kedua matanya. "Soan Cu, turunlah......!!" Tiba-tiba

terdengar teguran dan mengenal suara Sin Liong, lenyaplah semua kegembiraan yang liar dari gadis itu. Dia masih

tersenyum, akan tetapi matanya kehilangan sinar yang berapi-api dan liar tadi, dan dia berkata, "Liong-koko,

dia.... dia hendak menerkam orang....." ucapannya ini bersifat membela diri karena dia ketakutan oleh pemuda

itu sedang mengganggu harimau. "Turunlah berbahaya sekali permainanmu itu!" Soan Cu meloncat turun dan tentu

saja harimau yang marah itu cepat mencakar dengan kecepatan luar biasa. Namun dia hanya mencakar tempat kosong

kerena gerakan Soan Cu lebih cepat lagi. Dara ini telah meloncat ke dekat Sin Liong dan mengejek ke arah

harimau dengan meruncingkan mulutnya dan mengeluarkan bunyi, "Hiii.....! Hiiiiii!!" Sementara itu, biruang yang

tadinya sudah dapat ditenangkan oleh Sin Liong dan dijak menyusul Soan Cu, setelah kini melihat harimau, timbul

kembali kemarahannya, bahkan lebih hebat dari pada tadi. Pada saat Sin Liong lengah karena menegur gadis itu,

tiba-tiba biruang itu melompat ke depan dan menggereng sambil memperlihatkan taringnya, memandang harimau

dengan mata merah. Harimau itu agaknya tidak merasa gentar menghadapi tantangan ini. Dia pun menggereng dan

menubruk. Akan tetapi biruang itu sudah siap. Ketika harimau itu menubruk dengan kedua kaki depan lebih dulu,

dia menggerakan kaki depan kanan yang amat kuat, memukul dari samping dan menangkis kedua kaki depan harimau .

Karena tubuh harimau itu berada di udara, tentu saja dia kalah kuat dan tubuhnya terlempar ke bawah. Akan

tetapi dia sudah meloncat lagi dan siap untuk melanjutkan serangannya. "Hushhh....! Biruang yang baik, jangan

berkelahi!" Sin Liong sudah menangkap kaki depan biruangnya dan mengelus kepalanya, menenangkannya. Akan tetapi

sekali ini agak sukar karena biruang itu marah sekali, meronta-ronta dan apa lagi melihat harimau itu masih

menggereng hendak menyerangnya. "Ihh, kucing licik! Hayo mundur kau!" Soan Cu melangkah maju, menggerakan

cambuknya ke depan untuk menghalau harimau itu. "Tar-tar-tarr.....!!" Harimau merasa jerih menghadapi cambuk,

akan teapi bukan berarti dia takut karena dia masih menggereng-gereng memperlihatkan taringnya dan matanya

merah bersinar-sinar. "Hayo pergi! Kalau tidak akan kuhajar kau!" Soan Cu membentak. "Siapa dia berani kurang

ajar hendak mengganggu harimau kami?" Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dan muncullah banyak orang di tempat

itu. Serombongan orang yang berpakaian seragam telah bergerak mengurung tempat itu, dan orang yang berseru

tadi, seorang kakek tinggi besar yang brewok, pakaiannya ringkas, tubuhnya membayangkan tenaga yang kuat,

matanya lebar membayangkan kekerasan dan kejujuran, akan tetapi tarikan bibirnya membayangkan kekejaman. Di

sampingnya berjalan seorang gadis yang cantik sekali, dengan pakaian yang mewah dan indah, rambutnya ditekuk ke

atas dan diikat dengan kain kepala dari sutera merah, dihias dengan bunga emas permata, pakaian yang indah itu

membungkus ketat tubuhnya sehingga membayangkan lekuk lengkung tubuhnya yang padat dan ramping, di pinggang

yang kecil ramping itu melibat sehelai sabuk sutera merah. Telinganya terhias anting-anting batu kemala panjang

berwarna hijau, menambah kemanisan wajahnya yang mendaun sirih bentuknya itu. Sin Liong cepat menjura dengan

hormat dan berkata halus, "Harap Locian-pwe sudi memaafkan kami yang secara tidak sengaja memasuki daerah ini,

"kata Sin Liong sambil memegangi kaki depan biruangnya. Kakek itu memandang tajam. Jawaban penuh kesopanan dan

sepasang mata bersinar halus tanpa rasa takut sedikit pun itu mencengangkan hatinya. "Melanggar daerah ini

masih bukan apa-apa, akan tetapi kalian berani mengganggu harimau peliharaanku. Apakah karena mempunyai biruang

itu maka kalian menjadi sombong?" "Kami tidak menggangu, Locianpwe. Hanya karena harimau itu dan biruang kami

akan berkelahi maka kami melerai dan mencegahnya." "Hemm... dua ekor binatang akan berkelahi, apa anehnya?

Hanya kalau manusia sudah mencampurinya, maka manusia itu lebih rendah daripada binatang!" "Eh, tahan tuh

mulut!" Soan Cu membentak dan menudingkan telunjuknya ke arah mulut kakek gagah itu. Dara ini tidak lagi dapat

menahan kemarahan hatinya mendengar ucapan yang menghina tadi. "Kami melerai karena yakin bahwa kucing hutan

busuk ini tentu akan mampus dirobek-robek oleh biruang kami, engkau ini orang tua tidak berterima kasih, malah

mengucapkan kata-kata menghina!" Sepasang mata kakek itu besinar-sinar, bukan hanya marah akan tetapi juga

kagum. Kakek ini memang orang aneh. Melihat keberanian orang, apa lagi seorang dara muda seperti Soan Cu yang

pada saat itu muncul kembali sifat liarnya karena marah, dia kagum bukan main. Kakek ini adalah Siangkoan Houw

yang terkenal dengan julukan Tee-tok (Racun Bumi), seorang gagah yang jujur dan terbuka sikapnya, maka kasar

sekali dan kalau dia sudah marah, kejamnya melebihi harimau peliharaannya. Dia terkenal sekali di dunia

kang-ouw sebagai seorang di antara tokoh-tokoh besar. Dia hidup di Puncak Awan Merah itu dengan tentram,

bersama puteri tunggalnya, yaitu gadis cantik yang datang bersamanya dan yang sejak tadi diama saja. Tee-tok

Siangkoan Houw sudah duda, dan hanya hidup berdua dengan puterinya yang bernama Siangkoan Hui. Adapun

orang-orang lain yang berada di situ adalah para murid-muridnya yang juga menjadi anak buahnya, kurang lebih

lima belas orang banyaknya, di antaranya seorang kakek yang usianya sebaya dengan dia dan rambutnya sudah putih

semua. Kakek inilah yang merupakan murid kepala dan yang telah memiliki kepandaian tinggi pula, bernama Thio

Sam dan berjuluk Ang-in Mo-ko (Iblis Awan Merah). "Bagus sekali!" Kakek ini memuji. "Kalau begitu, mari kitas

adukan kedua binatang itu. Hendak kulihat apakah benar-benar biruangmu dapat mengalahkan harimauku!" "Boleh!"

Soan Cu menjawab. "Jangan! Soan Cu, tidak boleh begitu!" Sian Liong berseru, kemudian dia berkata kepada kakek

itu, "Harap Locianpwe suka memaafkan kami dan biarlah kami pergi dari sini sekarang juga. Bukan maksud kami

untuk mengganggu siapa pun." "Kucing hitam macam itu saja, biar ada lima akan diganyang oleh biruang kami!"

Soan Cu masih marahmarah. "Kakek sombong mengandalkan harimaunya menakut-nakuti orang. Kalau aku tidak cepat

datang, agaknya harimau itu sudah makan orang tadi! Perlu diberi hajaran!" "Hayo kita adukan mereka!" Tee-tok

berteriak-teriak dengan kumis bangkit saking marahnya. "Sebelum kedua binatang peliharaan kita saling diadu,

jangan harap kalian akan dapat pergi dari sini!" "Kami tidak takut!" Soan Cu menjerit lagi. Mendengar ucapan

kakek itu, Sin Liong menyesal bukan main. Kalau dia tidak membolehkan biruang diadu, tentu kakek itu bersama

teman-temannya akan menghalangi dia dan Soan Cu pergi dan akibatnya lebih hebat lagi. Maka dia menghela napas

dan berkata, "Baiklah, mari kita lepaskan mereka dan melihat apakah mereka memang mau berkelahi. Kuharap saja

setelah ini, kami diperbolehkan pergi." "Koko, lepaskan biruang kita, biar dihancurlumatkan kucing keparat itu.

Tar-tar-tarrr...!!" Soan Cu sudah membunyikan cambuknya di udara berkali-kali. Sin Liong melepaskan biruangnya

dan dia menghampiri Soan Cu, memegang lengannya dan berbisik, "Soan Cu, kautenangkanlah hatimu, jangan

marah-marah. Ingat, kita tidak mau melibatkan diri dalam permusuhan dengan siapapun juga, bukan?" Dipegang

lengannya secara demikian halus oleh Sin Liong, seketika api yang bernyala dalam hati Soan Cu padam seperti

tertimpa hujan, semangat dan tubuhnya lemas dan dia menunduk sambil menganggukan kepalanya. Dia seperti seekor

harimau liar yang tiba-tiba menjadi jinak! Sementara itu, setelah kini dilepas keduanya dan tidak ada yang

menghalangi, kedua ekor binatang itu mengeluarkan suara auman dan gerengan yang dahsyat dan menggetarkan.

Mual-mula mereka saling pandang dan masing-masing hendak menggetarkan lawan dengan kekuatan suara, kemudian

harimau yang ganas itulah yang mulai menerjang maju! Dengan berdiri di atas kedua kaki belakangnya, harimau itu

menubruk dan menerkam. Akan tetapi, dengan gerakannya yang agak lamban dan tenang, namun kuat dan tetap sekali,

biruang menangkis terkaman dan balas mencengkeram dengan kuku jari kakinya yang biarpun tidak seruncing kuku

harimau, namun tidak kalah kuatnya. Kena tamparan biruang yang amat kuat itu, harimau terguling-guling! Hanya

sepasang matanya saja yang bersinar-sinar girang, akan tetapi Soan Cu tiak berani berkutik di dekat Sin Liong.

Ingin hatinya bersorak dan mulutnya mengeluarkan kata-kata mengejek melihat betapa harimau itu

terguling-guling, namun dia merasa segan terhadap Sin Liong. Harimau itu meloncat lagi dan menerkam makin

dahsyat. Terjadilah perkelahian yang amat dahsyat, ditengah-tengah suara gerengan yang menggetarkan seluruh

bukit. Pada saat itulah koki warung yang menemani sudara misannya mengantar kayu bakar, mendapat kesempatan

menonton harimau bertanding melawan biruang, akan tetapi karena merasa ngeri dan takut, dia cepat meninggalkan

tempat itu dan berlari turun lagi. Perkelahian yang dahsyat, seru dan mati-matian. Biruang itu sudah menderita

banyak luka di tubuhnya akibat cakaran dan gigitan harimau, akan tetapi akhirnya dia berhasil mencengkeram

kepala harimau, menindihnya dan menggigit leher harimau, sampai robek dan terus luka di leher itu dirobeknya

sampai keperut! Harimau berkelojotan dan mati tak lama kemudian. "Heiii....!" Soan Cu berteiak, namun

terlambat. Sinar hitam menyambar ke arah leher biruang dan binatang ini mengeluarkan pekik mengerikan lalu

roboh dan tak bergerak lagi, mati diatas bangkai harimau yang tadi menjadi lawannya. "Kau membunuh biruang

kami!" Soan Cu melompat dan menuding dengan marah kepada kakek yang tadi menyerang biruang dengan Hek-tok-ting

(Paku Hitam Beracun). "Dia pun membunuh harimau kami!" Tee-tok menjawab dengan mata mendelik saking marahnya.

"Manusia curang kau!" Soan Cu sudah menerjang maju dan cambuknya mengeluarkan suara meledak-ledak di udara.

"Tar-tar-cring-tranggggg.....!!" Bunga api berpijar ketika cambuk itu tertangkis oleh sepasang pedang yang

bersinar hitam. itulah pedang Ban-tok-siang-kiam (Sepasang Pedang Selaksa Racun) yang ampuh dari Teetok. Akan

tetapi bukan main kagetnya ketika tadi pedangnya menangkis cambuk duri, dia merasakan lengannya tergetar, tanda

bahwa dara muda itu memiliki sinkang yang amat kuat. "Heii, jangan bertempur.....!" Sin Liong cepat

menegur,akan tetapi sekali ini Soan Cu pura-pura tidak menengarnya, apalagi kakek itu pun sudah marah dan sudah

membalas serangannya dengan sepasang pedangnya. Terjadi pertempuran hebat sekali antara gadis itu dan Tee-tok.

Melihat gerakan sepasang pedang itu lihai bukan main dan ada menyambar hawa yang kuat dari lawannya, Soan Cu

tidak berani memandang ringan dan tangan kanannya sudah mencabut pedangnya. Pedang di tangan gadis ini adalah

pemberian kakeknya, ketua Pulau Neraka dan seperti juga cambuknya, pedang ini aneh dan ampuh sekali. Bentuk

pedang itu juga berduri seperti cambuknya dan pedang itu terbuat dari tulang ular dan namanya pun Coa-kut-kiam

(Pedang Tulang Ular) terbuat dari pada tulang ular beracun yang telah dikeraskan dan diperkuat dalam rendaman

tetumbuhan beracun sehingga keras seperti baja. Sedangkan cambuknya itu pun bukan cambuk biasa karena cambuk

itu terbuat dari ekor ikan hiu yang istimewa dan yang hanya terdapat di pantai Pulau Neraka. Seperti juga

pedangnya, cambuknya itu pun mengandung bisa yang tidak dapat diobati, kecuali oleh dia sendiri yang selalu

membawa obat penolaknya! Sin Liong sudah mengenal kakek itu ketika muncul tadi, dan dia memang tadinya tidak

mau memperlihatkan bahwa dia telah mengenalnya. Tentu saja dia mengenal kakek ini yang dahulu pernah pula

membujuknya untuk ikut dan menjadi muridnya, ketika para tokoh kang-ouw datang memperebutkan dia dilereng

Pegunungan Jeng-hoa-san. Kini, melihat betapa Soan Cu sudah bertanding mati-matian melawan kakek itu, dia

menjadi khawatir sekali dan cepat dia berkata, "Locianpwe, seorang tokoh besar yang berjuluk Tee-tok dan

disegani di seluruh dunia Kang-ouw, benar-benar mengecewakan dan merendahkan nama besarnya kalau sekarang

melayani bertanding melawan seorang dara remaja!" Mendengar ucapan itu, Tee-tok menjadi merah mukannya. Dia

menangkis pedang Soan Cu sekuat tenaga sampai pedang itu hampir terlepas dari tangan Soan Cu, melompat mudur

dan menghadapi Sin Liong. "Hemm, orang muda! Kau sudah mengenal aku, kalau begitu majulah kau menggantikan

gadis itu!" Sin Liong menjura. "Bukan maksudku dengan kata-kata itu menantangmu, Locianpwe. Saya hanya hendak

mengatakan bahwa kami berdua sama sekali bukan datang untuk bertanding." "Tapi kalian datang dan mengakibatkan

harimau peliharaan kami mati. Kalau kalian tidak datang mengacau, mana biasa harimau kami mati?" "Dia mampus

karena kalah dalam pertandingan yang adil!" Soan Cu membentak, akan tetapi menjadi tenang kembali karena Sin

Liong mendekatinya dan minta gadis itu menyimpan pedang dan cambuknya kembali. "Siangkoan Locianpwe, memang

kami akui bahwa harimau peliharaan Locianpwe mati karena biruang kami, akan tetapi Locianpwe telah membalas

kematian itu dengan membunuh biruang kami. Bukankah itu sudah lunas artinya?" "Tidak!" Tee-tok yang masih marah

itu membentak. "Biarpun biruangnya sudah mati, akan tetapi pemiliknya belum dihukum!" Soabn Cu tak dapat lagi

menahan kemarahannya. "Dihukum apa? Kau hendak membunuh kami?" "Tak perlu dibunuh! Pelanggaran ke dalam daerah

ini sudah merupakan kesalahan, dan matinya harimau tidak cukup ditebus dengan kematian biruang. Pemiliknya

harus dihukum rangket seratus kali , baru adil!" "Keparat!" "Soan Cu!" Sin Liong berkata dan memegang lengan

dara itu sehingga Soan Cu menelan kembali katakatanya. "Soan Cu, aku mita kepadamu agar kau sekarang juga

meninggalkan tempat ini. Biarkan aku yang berurusan dengan Siangkoan Locianpwe. Kau turunlah dan kau tunggu aku

di dusun itu. Mengerti?" Soan Cu mengerutkan alisnya dan matanya memandang ragu, akan tetapi melihat sinar mata

Sin Liong yang tegas dan halus itu, dia tidak dapat menolak dan dia mengangguk. "Berangkatlah, dan tunggu aku

di sana." Sin Liong berkata lagi sambil tersenyum. Soan Cu membanting kakinya, lalu melotot ke arah Siangkoan

Houw, kemudian meloncat pergi, meninggalkan isak tertahan. Semua orang memandang dengan kagum akan keberanian

dara itu yang sekali meloncat lenyap dari situ, akan tetapi terutama sekali kagum kepada Sin Liong yang

bersikap demikian tenang dan halus, namun ia memiliki wibawa demikian besarnya sehingga gadis liar seperti itu

menjadi demikian jinak dan taat. Setelah Soan Cu pergi jauh dan tidak tampak lagi bayangannya, Sin Liong lalu

mengeluarkan kedua lengannya dan sambil tersenyum tenang dia berkata, "Nah, Locianpwe. Tidak ada yang perlu

diributkan lagi. Aku sudah mengaku bersalah telah memasuki tempat ini dan menimbulkan keributan. Biarlah aku

menerima hukuman rangkes seratus kali agar hatimu puas." Sikap yang tenang dan halus ini diterima keliru oleh

Siangkoan Houw. Matanya terbelalak lebar dan dia menganggap pemuda itu menantangnya, menantang ancaman

hukumannya. "Belenggu kedua lengannya!" bentaknya kepada para muridnya. Empat orang muridnya menyerbu dan Sin

Liong hanya tersenyum saja ketika bajunya dibuka, kedua pergelangan lengannya diikat dengan tali yang diikatkan

pula pada cabang pohon sehingga tubuhnya setengah tergantung. "Ayah.....!" Tiba-tiba dara cantik jelita yang

sejak tadi hanya menonton dan selalu memandang ke arah Sin Liong penuh kagum, berkata kepada Tee-tok, "Apakah

tidak berlebihan perbuatan kita ini? Harap Ayah berpikir lagi dengan matang sebelum melakukan suatu kesalahan."

"Dipikir apalagi? Kita telah dihina orang, kalau tidak memperlihatkan kekuatan, bukankah akan menjadi bahan

tetawaan orang sedunia?" Mendengar kata-kata orang tua itu, Siangkoan Hui, gadis itu, menunduk dan melirik ke

arah Sin Liong yang telah siap menerima hukuman. "Terima kasih atas kebaikan hatimu, Nona. Akan tetapi biarlah,

aku sudah siap menghadapi hukuman. Dengan begini, habislah segala urusan dan Ayahmu takkan marah lagi." "Diam

kau!" Tee-tok membentak, kemudian menuding kepada seorang muridnya yang bertubuh tinggi besar. "Ambil cambuk

dan rangket dia seratus kali!" Murid itu berlari pergi dan tak lama kemudian sudah datang kembali membawa

sebatang cambuk hitam yang besar dan panjang. Setelah menerima isyarat gurunya, murid tinggi besar ini mengayun

cambuknya. Terdengar suara meledak-ledak dan cambuk itu menyambar ke bawah, melecut tubuh atas yang telanjang

itu. "Tar.....! Tar....! Tar........!" Semua orang terbelalak memandang , penuh keheranan. Cambuk itu menyambar



Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5   6   7
Orklarla döyüş:

Google Play'də əldə edin


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə