Eksistensi pasukan as


Kapan Dikatakan Menderita Kekalahan ?



Yüklə 3,86 Mb.
səhifə27/30
tarix27.12.2018
ölçüsü3,86 Mb.
#87683
1   ...   22   23   24   25   26   27   28   29   30

Kapan Dikatakan Menderita Kekalahan ?
* Pada dasarnya, pertarungan antara pengikut kebenaran dengan pengikut kebatilan adalah pertarungan prinsip dan ideologi. Di samping adanya perintah Allah Ta'ala untuk melakukan pertarungan fisik. Karenanya, pokok kekalahan dalam pertarungan adalah ketika seorang pengikut kebenaran rela melepaskan sebagian prinsipnya, demi mendapatkan kerelaan pengikut kebatilan atau meraih keuntungan duniawi.

Di antara bentuk-bentuk kekalahan seorang muslim adalah :

(1)- Mengikuti sistem dan ideologi (milah) atau keinginan (hawa nafsu) orang kafir.
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَالَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. 2:120)


وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم مِّن بَعْدِ مَاجَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ إِنَّكَ إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ

Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim. (QS. 2:145).

Ketika seorang muslim telah keluar dari Islam dengan mengikuti sistem dan ideologi kafir, baik ideologi samawi seperti Yahudi dan Nasrani, maupun ideologi produk akal semata seperti sekulerisme, nasionalisme, demokrasi, kapitalisme, liberalisme, sosialisme dan humanisme...ia telah mengalami puncak kekalahan. Sekalipun orang-orang kafir meridhai, menghormati dan memuliakannya. Bahkan mungkin mengangkatnya sebagai penguasa atau mengakui kekuasaannya.

Ketika seorang muslim telah menuruti sebagian keinginan dan hawa nafsu orang-orang kafir baik dalam sedikit perkara maupun banyak...ia telah mengalami puncak kekalahan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

" Lalu Allah Ta'ala menjadikan Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam di atas syariat yang telah Ia tetapkan. Allah memerintahkan kepadanya untuk mengikuti syariah tersebut dan melarangnya dari mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.

Termasuk orang-orang yang tidak mengetahui adalah setiap orang yang menyelisihi syariat-Nya. Makna hawa nafsu mereka adalah keinginan mereka, dan tingkah laku (al-hadyu al-dhahir) orang-orang kafir yang merupakan kewajiban dalam ajaran agama batil mereka dengan segala ekornya. Itulah hawa nafsu mereka."381
(2)- Kompromi dan melunak (mudahanah) dengan orang-orang kafir

Allah Ta'ala berfirman :


فَلاَ تُطِعِ اْلمُكَذِّبِيْنَ () وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُوْا فَيُدْهِنُوْنَ ()
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak kepada mereka, lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu). (QS. 68, Al-Qalam :8-9).

Imam Abu Sa'ud dalam tafsirnya 9/13 berkata," Maknanya, tetaplah kamu diatas jalanmu dengan tidak mentaati mereka, dan keraslah dalam memegang prinsip itu. Atau, ayat ini adalah larangan kepada beliau shallallahu 'alaihi wa salam untuk melakukan mudahanah (kompromi) dan mudarah (pura-pura setuju) dengan menampakkan apa yang sebenarnya bertentangan dengan isi hati beliau shallallahu 'alaihi wa salam. Beliau melakukan hal itu dengan tujuan menarik mereka agar masuk Islam, bukan karena mentaati mereka."

Imam Ibnu Bathal rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama menafsirkan "mudahanah" dengan makna berinteraksi dengan para pelaku dosa (orang fasiq) dengan menampakkan sikap ridha atas perbuatan mereka, tanpa disertai sikap pengingkaran.382

Imam Al-Qurthubi dan qadhi 'Iyadh menyatakan, mudahanah adalah meninggalkan sebagian ajaran agama demi meraih keuntungan duniawi.383

Berdasar ayat ini, bila seorang muslim rela melepas sebagian ajaran diennya demi meraih ridha, persetujuan dan keuntungan dari orang-orang kafir, sejatinya ia telah mengalami kekalahan. Keinginan orang-orang kafir adalah kaum muslimin yang berjuang mau menerima tawar menawar dan bersikap kompromis dan kooperatif. Si muslim melepaskan sebagian ajaran diennya, dan sebaliknya si kafir melepaskan sebagian dunianya yang sebenarnya tak ada nilainya menurut kaca mata si kafir. Dengan sikap kooperatif dan kompromi seperti ini, si muslim telah melepaskan prinsip hanya demi meraih secuil keuntungan materi dan duniawi yang tak bernilai.

Betapa banyaknya hal ini terjadi dalam kancah jihad umat Islam. Ketika perjuangan jihad telah berlalu dalam rentang waktu yang lama, dan kemenangan tak kunjung datang, akhirnya jalan tawar menawar, perundingan dan melepaskan sebagian tuntutan (ajaran Islam) dilakukan. Benar, si muslim mendapatkan kedudukan (misalnya, pemerintahan otoritas Palestina). Namun nilainya tak seberapa, masih di bawah kendali musuh dan sebenarnya ia telah membuang akidah dan prinsipnya ke tempat sampah. Inilah kekalahan telak si muslim yang berjuang.


(3)- Cenderung kepada orang-orang kafir

Allah Ta'ala berfirman :


وَ إِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَتَّخَذُوكَ خَلِيلاً {73} وَلَوْلآَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً {74} إِذًا َّلأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَتَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا

Dan sesungguhnya mereka hampir mamalingkan kamu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. ()

Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. ()

kalau terjadi demikian, benar-benarlah, Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami. (QS. 17, Al-Isra' :73-75).

Imam Asy-Syanqithi berkata," …ada pendapat yang menyatakan bahwa makna ayat ini adalah terbetik dalam hati beliau shallallahu 'alaihi wa salam untuk menyetujui sebagian hal yang disenangi oleh orang-orang kafir, untuk menarik mereka masuk Islam, disebabkan oleh keinginan beliau yang sangat kuat agar mereka masuk Islam."384

Ayat ini menyebutkan, sedikit kecenderungan dan keinginan untuk menuruti apa yang diinginkan orang-orang musyrik, akan menyebabkan datangnya siksa pedih di dunia dan di akhirat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Terlebih lagi, dengan umat beliau.

Ayat ini ditegaskan kembali oleh ayat lain :
وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطاً.

Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. 18, Al-Kahfi :28)


وَلاَتَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَالَكُم مِّن دُونِ اللهِ مِنْ أَوْلِيَآءَ ثُمَّ لاَتُنصَرُونَ

Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkanmu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tidak mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. (QS. 11, Huud :113).

Imam Qatadah menerangkan makna "cenderung" dalam ayat-ayat ini dengan mengatakan : Jangan mencintai dan mentaati mereka. Imam Ibnu Juraij berkata : Jangan condong kepada mereka. Imam Abul 'Aliyah berkata : Jangan meridahi perbuatan mereka. Imam Ibnu Zaid berkata : artinya adalah mudahanah, yaitu tidak mengingkari kekafiran mereka.

Berbagai pendapat para ulama tafsir ini berdekatan maknanya. Bisa disimpulkan, bahwa cenderung kepada orang yang zalim maksudnya bergaul dengan mereka disertai sikap meridhai perbuatannya. Akan tetapi jika bergaul dengan mereka tanpa meridhai perbuatannya dengan maksud agar mereka kembali kepada kebenaran atau memelihara diri, maka dibolehkan.

Selain mendapat ancaman siksa di dunia dan akhirat, seorang muslim yang cenderung kepada orang kafir juga telah mengalami kekalahan telak, sekalipun barangkali ia menjadi seorang penguasa dan dihormati oleh orang-orang kafir.

Wallahu A'lam bi-Shawab.



Bagian Kelima
Apa Peran Yang Bisa Kita Lakukan ?

Apa Peran Yang Bisa Kita Lakukan ?


Kembali Kepada Islam yang Benar
Seluruh dunia kini menyaksikan episode perang salib modern yang menyatuan kekuatan seluruh bangsa-bangsa kafir (Nasrani, Yahudi, paganis dan komunis dan murtad internasional). Seluruh kekuatan kafir, murtad dan zalim telah bersatu padu, membidik Islam dan kaum muslimin dari satu busur panah.
عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ((يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ عَلَى قَصْعَتِهَا)) قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ ((أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنْ تَكُونُونَ غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ. يَنْتَزِعُ الْمَهَابَةَ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ وَيَجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ)) قَالَ قُلْنَا وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ ((حُبُّ الْحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ))

Tsauban Maula Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda,“ Hampir-hampir bangsa-bangsa dari segala arah akan memperebutkan kalian sebagaimana orang-orang makan memperebutkan makanan di atas piring.”

Kami bertanya,” Wahai Rasulullah, apakah itu disebabkan karena jumlah kami saat itu sedikit ?” Beliau menjawab,” Tidak. Justru jumlah kalian saat itu banyak, hanya saja kalian saat itu adalah buih seperti buih banjir. Allah mencabut rasa takut kepada kalian dari hati musuh-musuh kalian, dan Allah Ta’ala campakkan penyakit wahn (lemah) dalam hati kalian."

Kami bertanya, " Apa penyakit wahn itu ?" Beliau menjawab," Cinta dunia dan takut mati.”385

Tiada pilihan lagi bagi umat Islam, selain menghadapi kekuatan kafir internasional ini dengan kekuatan dan jihad. Kekuatan hanya bisa dilawan dengan kekuatan. Diplomasi dan perdamaian, telah terbukti gagal membela dan mengembalikan hak-hak kaum muslimin.
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ((إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ))

Ibnu Umar radiyallahu 'anhuma berkata, saya telah mendnegar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda:" Jika kalian telah berjual beli dengan ‘ienah (salah satu jual beli terlarang, simbol riba), mengekor kepada sapi, puas dengan pertanian dan meninggalkan jihad, Allah Ta’ala akan  menguasakan kehinaan kepada kalian. Kehinaan itu tidak akan dicabut dari kalian, sampai kalian kembali kepada dien kalian."386

Ya, koalisi kekuatan salibis-zionis-paganis-komunis-murtadin internasional ini hanya bisa ditahan dan dihadang oleh kaum muslimin yang telah kembali kepada agama Islam yang benar. Agama Islam yang tegak diatas pelaksanaan tauhid dan memerangi kesyirikan, memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum beriman dan bara' (anti loyalitas) kepada kaum kafir, murtad, munafik dan zalim.

Sebagaimana dikatakan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah (1206 H) dalam Al-Durar Al-Sanniyah fil Ajwibah Al-Najdiyah 8/113 :


إِنَ ْالإِنْسَانَ لاَ يَسْتَقِيْمُ لَهُ دِيْنٌ وَلاَ إِسْلاَمٌ ، وَلَوْ وَحَّدَ اللهَ وَتَرَكَ الشِّرْكَ ، إِلاَّ بِعَدَاوَةِ اْلمُشْرِكِيْنَ ، وَالتَّصْرِيْحِ لَهُمْ بِاْلعَدَاوَةِ وَالْبَغْضَاءِ ، كَمَا قَالَ تَعَالَى )لا تَجِدُ قَوْماً يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ …الآية) (المجادلة: من الآية22).

Agama dan keislaman seorang hamba tidak akan benar dan lurus, meskipun ia telah mentauhidkan Allah dan meninggalkan kesyirikan, kecuali dengan memusuhi kaum musyrik. Allah berfirman ((Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya = QS. Al-Mujadilah :22)).



Melawan Pasukan Salib Internasional : Ibadah Paling Mulia, Inti Keimanan dan Tauhid
Iman, Islam dan tauhid menuntut kaum muslimin untuk membenci, memusuhi dan memerangi kaum kafir ---apabila di saat mempunyai kemampuan---, terlebih bila kaum kafir memulai peperangan terhadap kaum muslimin.

Inilah amalan taqarub yang paling mulia dan utama di alam kondisi berkecamuknya perang salib modern ini.

Inilah tauhid yang sesungguhnya.

Inilah kembali kepada Islam yang benar.

Iman, Islam, tauhid, dan pembinaan akidah…tidak akan tercapai dengan sekedar mempelajari teori-teori akidah dan tauhid yang dimuat dalam buku-buku aqidah dan tauhid.

Ia membutuhkan amal nyata yang menterjemahkan teori-teori tersebut ke dalam sebuah tindakan yang mencerminkan Islam, iman, tauhid dan akidah yang sesungguhnya.


Kepada umat Islam yang membulatkan tekadnya untuk kembali kepada iman, tauhid dan Islam yang sesungguhnya.

Kepada umat Islam yang senantiasa bersemangat mengejar amalan yang paling utama, prioritas dan sesuai dengan tuntutan kondisi.

Inilah agama, kiblat, tanah air dan saudara-saudara anda dijadikan bulan-bulanan oleh koalisi salibis-zionis-paganis-komunis dan murtadin internasional.

Persiapkan niat dan mental anda…Singsingkan lengan baju anda…curahkan tenaga, waktu, ilmu, harta dan nyawa anda….demi tegaknya Islam dan tauhid, membela kehormatan agama, tanah air dan saudara-saudara seakidah.

Allah berfirman :
(وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ)

Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertaqwalah kepada-Ku. (QS. Al-Mukminun :52)


)إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ )

" Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara." (QS. Al-Hujurat :10).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda :
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى *
Nu'man bin Basyir radiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda," Perumpamaan kaum muslimin dalam sikap saling mencintai, menyayangi dan membantu yang lemah bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakan sulit tidur dan demam."387
عَنِ عَبْدِاللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِي اللَّه عَنْهمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,” Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainnya. Ia tidak akan menzaliminya atau menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa mengurus keperluan saudaranya, Allah akan mengurus keperluannya. Barang siapa menghilangkan kesulitan seorang muslim, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari kiamat. Dan siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aib)nya di hari kiamat."388


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda," Janganlah kalian saling iri ! Janganlah kalian saling jual beli menipu ! Janganlah kalian saling membenci ! Janganlah kalian saling membelakangi ! Janganlah kalian menawar barang yang sedang ditawar orang lain ! Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara ! Seorang muslim adalah saudara muslim yang lain. Ia tidak akan menzaliminya, mentelantarkannya ataupun merendahkannya."389

Imam An Nawawi berkata :
" وَأَمَّا لاَ يَخْذُلُهُ : فَقَالَ اْلعُلَمَاءُ : اَلْخَذْلُ تَرْكُ اْلإِعَانَةِ وَالنَّصْرِ ، وَمَعْنَاهُ : إِذَا اسْتَعَانَ بِهِ فِي دَفْعِ السُّوءِ وَنَحْوِهِ لَزِمَهُ إِعَانَتُهُ إِذَا أَمْكَنَهُ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ عُذْرٌ شَرْعِيٌّ"

" Laa yakhdzuluhu" para ulama berkata, al-khadzlu adalah tidak membantu dan tidak menolong, Maknanya, jika seorang muslim meminta bantuannya untuk menolak keburukan dan hal yang serupa dengannya, ia wajib memberi bantuan selama memungkinkan dan tidak mempunyai udzur syar'i."390


Syaikh Abdu-Lathif bin Abdurahman bin Hasan Ali Syaikh (1293 H) dalam Al-Durar Al-Sanniyah 9/24 menulis :
وَأَفْضَلُ اْلقُرَبِ إِلَى اللهِ : مَقْتُ أَعْدَائِهِ اْلمُشْرِكِيْنَ ، وَبُغْضُهُمْ وَعَدَاوَتُهُمْ وَجِهَادُهُمْ ، وَبِهَذَا يَنْجُو اْلعَبْدُ مِنْ تَوَلِّيهِمْ مِنْ دُوْنِ اْلمُؤْمِنِيْنَ ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَهُ مِنْ وِلاَيَتِهِمْ بِحَسْبِ مَا أَخَلَّ بِهِ وَتَرَكَهُ مِنْ ذَلِكَ . فَالْحَذَرَ اْلحَذَرَ مِمَّا يَهْدِمُ اْلإِسْلاَمَ وَيَقْلَعُ أَسَاسَهُ ، قَالَ تَعَالَى )يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَكُمْ هُزُواً وَلَعِباً مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَالْكُفَّارَ أَوْلِيَاءَ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ) (المائدة:57) وَاْنتِفَاءُ الشَّرْطِ يَدُلُّ عَلَى انْتِفَاءِ ْالإِيْمَانِ بِحُصُولِ ْالمُوَالاَةِ ، وَنَظَائِرُ هَذَا فِي ْالقُرْآنِ كَثِيْرٌ.

" Bentuk ibadah mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama adalah membenci, memusuhi dan berjihad melawan kaum musyrik. Dengan amalan inilah, seorang hamba akan selamat dari sikap berwala' kepada kaum musyrikain dan mengesampingkan kaum mukminin. Jika ia tidak melakukan amalan ini, ia telah memberikan wala' kepada kaum musyrikin sebatas amalan yang ia tinggalkan ini. Maka waspadalah ! Waspadalah ! Jauhilah tindakan yang menghancurkan bangunan Islam dan meruntuhkan pondasinya!

Allah berfirman ((Hai orang-orang yang beriman, janganlah kemu mengambil menjadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu menjadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertawakkallah kepada Allah jika kamu betul-betul orang yang beriman. (QS. 5:57))).

Tiadanya persyaratan (jika kamu betul-betul orang yang beriman, pent) menunjukkan tiadanya iman, dengan adanya sikap muwalah (kepada kaum kafir). Ayat-ayat yang serupa dengan ayat ini banyak sekali dalam Al-Qur'an."

Dalam Al-Durar Al-Sanniyah 8/396, beliau menulis :
وَاْلمَرْءُ قَدْ يَكْرَهُ الشِّرْكَ ، وَيُحِبُّ التَّوْحِيْدَ ، لَكِنْ يَأْتِيهِ اْلخَلَلُ مِنْ جِهَةِ عَدَمِ اْلبَرَاءَةِ مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ ، وَتَرْكِ مُوَالاَةِ أَهْلِ التَّوْحِيْدِ وَنُصْرَتِهِمْ ، فَيَكُوْنُ مُتَّبِعاً لِهَوَاهُ ، دَاخِلاً مِنَ الشِّرْكِ فِي شُعَبٍ تَهْدِمُ دِيْنَهُ وَمَا بَنَاهُ ، تَارِكاً مِنَ التَّوْحِيْدِ أُصُوْلاً وَشُعَباً ، لاَ يَسْتَقِيْمُ مَعَهَا إِيْمَانُهُ الَّذِي ارْتَضَاهُ ، فَلاَ يُحِبُّ وَيُبْغِضُ ِللهِ ، وَلاَ يُعَادِي وَلاَ يُوَالِي لِجَلاَلِ مَنْ أَنْشَأَهُ وَسَوَّاهُ ، وَكُلُّ هَذَا يُؤْخَذُ مِنْ شَهَادَةِ : أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ.

" Terkadang seorang hamba membenci kesyirikan dan mencintai tauhid, namun (keimanan dan tauhidnya) terkena celah kerusakan karena tidak berlepas diri dari kaum musyrik, dan tidak memberikan wala' serta pertoongan kepada pengikut tauhid.



Dengan sikap ini, ia telah mengikuti hawa nafsu, masuk dalam cabang-cabang kesyirikan yang menghancurkan agama dan (keimanan) yang telah ia bangun, serta meninggalkan pokok-pokok dan cabang tauhid yang menyebabkan iman yang ia ridhai tersebut tidak lagi lurus.

Akibatnya, ia mencintai dan membenci tidak karena Allah lagi. Ia tidak memberikan wala' (loyalitas) dan permusuhan karena keagungan Allah yang telah menciptakan dan menyempurnakan penciptaannya.

Semua ini disimpulkan dari syahadat Laa Ilaaha Illa- Allahu."



Perang Ahzab dan Suri Tauladan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, adalah manusia dan nabi yang paling mulia di hadapan Allah Ta'ala. Seluruh peri kehidupan beliau adalah cerminan dari wahyu. Akhlak beliau, kata ummul mukminin 'Aisyah radiyallahu 'anha, adalah Al-Qur'an. Allah Ta'ala mengutus beliau sebagai rahmat bagi semesta alam. Karenanya, Allah Ta'ala berfirman ;
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33, Al-Ahzab:21).

Beliau mendapat gelar "uswah hasanah", suri tauladan yang baik, bukan di saat tengah berada di tengah istri-istri beliau, membantu dan mengurusi urusan keluarga. Pun, bukan di saat beliau berada di atas mimbar dakwah, memberi ceramah dan membina umat. Beliau mendapat gelar ini di tengah berkecamuknya perang Ahzab, perang yang menyatukan koalisi kaum kafir bangsa Arab untuk menghabisi Islam dan kaum muslimin di sarangnya. Perang yang diabadikan kisahnya dalam Al-Qur'an (QS. Al-Ahzab :9-27).

Perang yang begitu mencekam dan tidak seimbang, membuat kaum muslimin sulit bergerak walau sekedar menghela nafas :


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَآءَتْكُمْ جُنُودُُ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا {9} إِذْ جَآءُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ اْلأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللهِ الظُّنُونَا {10} هُنَالِكَ ابْتُلِىَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالاً شَدِيدًا

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (QS. 33:9)



(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam persangkaan. (QS. 33,:10)

Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. (QS. 33:11)
Perang dahsyat ---meski tak terjadi adu senjata massal--- yang membuat para sahabat enggan melaksanakan perintah Nabi shallallahu 'alaihi wa salam untuk memata-matai perkemahan pasukan Ahzab, sehingga terpaksa beliau menunjuk Hudzaifah Ibnul Yaman. Perang yang memaksa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam sempat berfikiran akan menawarkan 1/3 hasil pertanian Madinah kepada kaum Ghathafan dengan syarat mereka keluar dari koalisi Ahzab, meski akhirnya ditentang oleh pimpinan kaum Anshar, Sa'ad bin Muadz dan Sa'ad bin Ubadah.

Perang yang menyingkap tabir kaum munafikin ; kaum yang meragukan janji Allah Ta'ala untuk memenangkan Islam, memilih mundur dari menghadapi musuh, menjadi penonton (atau manager ?) dan melayangkan sejumlah kritikan keras atas "ketidak becusan" para pemain di lapangan :


وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّاوَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ إِلاَّغُرُورًا {12} وَإِذْ قَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْهُمْ يَآأَهْلَ يَثْرِبَ لاَمُقَامَ لَكُمْ فَارْجِعُوا وَيَسْتَئْذِنُ فَرِيقٌ مِّنْهُمُ النَّبِيَّ يَقُولُونَ إِنَّ بُيُوتَنَا عَوْرَةٌ وَمَاهِيَ بِعَوْرَةٍ إِن يُرِيدُونَ إِلاَّ فِرَارًا {13} وَلَوْ دُخِلَتْ عَلَيْهِم مِّنْ أَقْطَارِهَا ثُمَّ سُئِلُوا الْفِتْنَةَ لأَتَوْهَا وَمَاتَلَبَّثُوا بِهَآ إِلاَّ يَسِيرًا {14} وَلَقَدْ كَانُوا عَاهَدُوا اللهَ مِن قَبْلُ لاَيُوَلُّونَ اْلأَدْبَارَ وَكَانَ عَهْدُ اللهِ مَسْئُولاً {15} قُل لَّن يَنفَعَكُمُ الْفِرَارُ إِن فَرَرْتُم مِّنَ الْمَوْتِ أَوِ الْقَتْلِ وَإِذًا لاَّتُمَتَّعُونَ إِلاَّ قَلِيلاً {16} قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءًا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلاَيَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللهِ وَلِيًّا وَلاَنَصِيرًا {17}* قَدْ يَعْلَمُ اللهُ الْمُعَوِّقِينَ مِنكُمْ وَالْقَآئِلِينَ لإِخْوَانِهِمْ هَلُمَّ إِلَيْنَا وَلاَيَأْتُونَ الْبَأْسَ إِلاَّ قَلِيلاً {18} أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَآءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُم بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُوْلَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرًا {19} يَحْسَبُونَ اْلأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِن يَأْتِ اْلأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِي اْلأَعْرَابِ يَسْئَلُونَ عَنْ أَنبَآئِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُم مَّا قَاتَلُوا إِلاَّ قَلِيلاً {20}

Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya".

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata:"Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu".Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata:"Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)".Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari.

Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, kemudian diminta kepada mereka supaya murtad, niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam waktu yang singkat.

Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah:"Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)".Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya.

Katakanlah:"Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja".

Katakanlah:"Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu" Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya:"Marilah kepada kami".Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar.

Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan.Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya.Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu.dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja. (QS. Al-Ahzab :12-20)


Setelah menyingkap tabir kaum munafik dalam sembilan ayat berturut-turut (12-20), Allah Ta'ala meneguhkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam sebagai "Uswah Hasanah" bagi orang-orang yang benar-benar hanya berjuang demi mengharapkan ridha Allah, kebahagiaan di akhirat dan banyak berdzikir dalam perjuangan.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. 33, Al-Ahzab :21).

Ya, dalam diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ada uswah hasanah dalam kesabaran, keyakinan dan keteguhan berperang melawan koalisi pasukan kafir bangsa Arab.

Imam Jalaludin Al-Mahaly dalam tafsir "Al-Jalalain" menulis," ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, ada contoh (yang baik) dalam peperangan dan keteguhan di medan-medan peperangan."

Imam Al-Baghawi dalam tafsir "Ma'alimu Tanzil" menulis," ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, ada contoh yang baik jika kalian menolong agama Allah, membela (mendukung) Rasul Shallallahu 'alaihi wa salam, tidak ketinggalan dari (jihad) beliau, dan bersabar atas musibah yang menimpa kalian, sebagaimana beliau telah melakukan hal itu.

Gigi seri beliau patah, wajah beliau terluka, paman beliau terbunuh dan beliau mengalami berbagai macam gangguan. Meski demikian, beliau tetap menyantuni (menghibur) kalian dengan jiwa beliau langsung. Maka lakukanlah hal yang sama dengan apa yang beliau lakukan, dan ikutilah jejak sunah beliau ((..banyak menyebut nama Allah)) dalam seluruh medan pertempuran, baik senang maupun susah."

Imam Al-Syaukani dalam tafsir "Fathul Qadir" menulis," ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Ayat ini merupakan celaan bagi orang-orang yang tidak turut berperang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam. Maksudnya, sungguh telah ada bagi kalian teladan pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam, di mana beliau mencurahkan jiwa untuk berperang dan keluar menuju Khandaq demi membela agama Allah."

Imam Al-Baidhawi dalam tafsirnya menulis," ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, ada sebuah sifat yang baik untuk diteladani, seperti keteguhan dalam peperangan dan menghadapi ujian-ujian keras. Atau maknanya, diri beliau sendiri memang sebuah tauladan yang baik untuk dicontoh."

Imam Al-Qurthubi dalam "Al-Jami' Fi Ahkamil Qur'an" menulis,"Dalam ayat ini ada dua permasalahan.

1- Ayat ini merupakan celaan keras bagi orang-orang yang tidak tutut berperang. Maknanya, kalian mempunyai suri tauldan yang baik dalam diri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam, dimana beliau mencurahkan jiwa demi membela agama Allah, dengan keluar berperang menuju Khandaq.

2- Uswah adalah qudwah (contoh teladan). Uswah adalah apa yang ditiru dan diikuti. Maksudnya, beliau diikuti dan ditiru dalam seluruh perbuatan dan kondisi beliau. Muka beliau telah terluka, gigi seri beliau telah patah, pamannya yang bernama Hamzah telah terbunuh, dan perut beliau telah lapar. Meski demikian, beliau tetap bersabar, mengharapkan pahala, bersyukur dan ridha."

Imam Ibnu Katsir dalam "tafsir Al-Qur'an Al-'Adzim" menulis," Ayat yang mulia ini merupakan dasar yang agung dalam mengambil contoh yang baik dari Rasulullah, baik dalam perkataan, perbuatan maupun kondisi beliau. Oleh karenanya, Allah ta'ala memerintahkan manusia untuk mencontoh beliau dalam perang Ahzab, dalam hal ; kesabaran, menjaga kesabaran, ribath, jihad, dan menunggu jalan keluar dari sisi Rabbnya, semoga salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau sampai hari kiamat.

Oleh karenanya, Allah berfirman kepada orang-orang yang kebingungan, bosan, goncang, dan bergetar ketakutan dalam perang Ahzab ((Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu)) Maksudnya, kenapa kalian tidak mengambil suri tauladan dari tindak-tanduk beliau shallallahu 'alaihi wa salam."

Allah Ta'ala kemudian menyebutkan respon kaum mukimin terhadap janji Allah dan Rasul-Nya atas kepastian adanya ujian keimanan :


وَلَمَّا رَءَا الْمُؤْمِنُونَ اْلأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَاوَعَدَنَا اللهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللهُ وَرَسُولُهُ وَمَازَادَهُمْ إِلآ إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا {22}

Dan tatkala orang-orang mu'min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:"Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita".Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. 33, Al-Ahzab :22)

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip perkataan Ibnu Abbas dan Qatadah," ((Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita".Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya)) Maksud para sahabat, adalah firman Allah dalam surat Al-Baqarah ;


أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبُُ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:"Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2, Al-Baqarah :214).

Inilah yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya ; cobaan dan ujian yang akan diiringi dengan kemenangan yang dekat."

Ya, satu kepastian yang telah dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah ujian keimanan. Siapa yang menghadapinya dengan sabar dan istiqamah, layak mendapat surga dan ridha Allah karena terbukti sebagai mukmin sejati. Sebaliknya, siapa berbalik saat mendapat ujian, maka itulah kaum munafik yang tidak layak mendapat ridha dan surga.


مِّنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَاعَاهَدُوا اللهَ عَلَيْهِ فَمِنهُم مَّن قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ وَمَابَدَّلُوا تَبْدِيلاً {23} لِّيَجْزِيَ اللهُ الصَّادِقِينَ بِصِدْقِهِمْ وَيُعَذِّبَ الْمُنَافِقِينَ إِن شَآءَ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا {24}

Di antara orang-orang mu'min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merobah (janjinya).

Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima taubat mereka.Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33, Al-Ahzab:24)

Kini, peristiwa sejarah terulang kembali. Tentara "Ahzab" kembali menggempur kaum muslimin, dengan tingkat kwalitas dan kwantitas yang lebih besar dari tentara ahzab musyrikin Arab. Penghinatan para penguasa murtad dan kaum sekuler, kini juga memerankan pengkhianatan yang dahulu dilakukan kaum munafik dan Yahudi Bani Quraizhah.

Segalanya telah teruang. Tinggal pilihan umat ini untuk bersikap,; akankah mengikuti suri tauladan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam ? Ataukah justru ikut mundur bersama kaum munafik generasi awal ?


Yüklə 3,86 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   ...   22   23   24   25   26   27   28   29   30




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
rəhbərliyinə müraciət

gir | qeydiyyatdan keç
    Ana səhifə


yükləyin