Fikih ahlul bait taqlid dan Ijtihad



Yüklə 1.06 Mb.
səhifə23/29
tarix22.01.2018
ölçüsü1.06 Mb.
1   ...   19   20   21   22   23   24   25   26   ...   29
Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa para pencatat hadis atau periwayatan hadis ini benar-benar sangat keliru. Mereka melupakan kenyataan bahwa Nabi Muhammad diperintah Allah untuk memberi peringatan kepada kerabat terdekatnya, yaitu Bani Abdul Muththalib, dan Nabi Muhammad tidak diharapkan melanggar perintah Allah.
Apa yang disampaikan hadis ini bertentangan dengan ayat itu sendiri dan apa pun yang bertentangan dengan Quran diabaikan. Peristiwa yang banyak dicatat oleh apra sejarahwan dan ahli hadis yaitu pertemuan diadakan dengan kerabat terdekatnya adalah satu – satunya jalan yang logis yang diambil Nabi Muhammad untuk ia lakukan setelah turunnya ayat itu.

Ghadir khum 14

Benarkah Wahyu Sebenarnya untuk Ali,bukan Muhammad Saaw

Seorang Sunni mengatakan bahwa kaum Syi’ah meyakini bahwa wahyu sebenarnya salah diturunkan, bukan kepada Nabi Muhammad, melainkan ditujukan kepada Imam Ali.


Tuduhan yang salah ini secara luas menyebar di negara-negara Muslim untuk mendiskreditkan para pengikut Ahlulbait Nabi. Tuduhan ini dibuat pada periode penindasan terhadap kaum Syiah. Para penguasa pada periode Umayah dan Abbasiah sering menganggap para pengikut Ahlulbait Nabi sebagai orang-orang revolusioner dan berbahaya. Mereka berkonspirasi untuk menindas kaum Syiah dan menuduh mereka sebagai orang kafir dan pembuat bid’ah, untuk mendorong kaum Muslimin menumpahkan darah mereka dan merampas hak serta harta mereka.
Abad penindasan berlalu dengan ketidak adilan dan teror terhadap mereka. Diharapkan, pada periode-periode kemerdekaan, kesalahan masa lalu dapat dibenarkan. Ulama-ulama Islam diharapkan akan melakukan penelitian dalam untuk melihat apakah ada pembenaran terhadap tuduhan yang mengerikan itu.
Ada beratus-ratus buku yang ditulis oleh ulama Syi’ah tentang keyakinan mereka. Sekiranya para ulama Sunni telah membaca buku-buku ini, mereka akan menemukan bahwa keyakinan kaum Syi’ah sangat sejalan dengan Quran dan ucapan – udapan terkenal Nabi Muhammad SAW. Kita hidup sekarang di zaman yang serba cepat. Bagi kaum Muslimin, melakukan konfrensi, diskusi dan pencarian solusi adalah hal yang mudah. Prinsip keadailan yang paling sederhana adalah mengikuti perintah Quran, “Wahai orang-orang beriman, apabila seorang penindas mendatangimu dengan membawa berita, carilah kebenarannya - agar kamu tidak menyebabkan kerusakan pada umat tanpa disadari; dan kamu akan menyesal terhadap ketergesa gesaanmu.”
Allah memerintahkan kita untuk mencari tahu apakah tuduhan itu benar atau salah, dan kita tidak boleh mencoba dan menghukum mereka tanpa menanyai mereka terlebih dahulu. Kami tidak tahu apakah ada pengadilan di dunia ini yang hakimnya menjatuhkan hukuman kepada seseorang sebelum ia menanyainya, asalkan sang tertuduh ada dan menghormati penangkapan itu. Meskipun sekarang ini seseorang dapat mencari informasi yang benar dengan mudah, kami melihat bahwa orang-orang yang menudith dan menyebarkan kebencian di kalangan umat tidak berusaha mencari kebenaran yang mungkin akan menyatukan dunia Islam.
Ketika menulis hal. ini, kami ingat pada tahun 50-an ketika pemerintah Mesir mengutus Dr. Muhammad Bisar ke Washington DC, sebagai direktur Pusat Islam. Kami mengunjunginya dan ia menyambut kami dengan hangat dan memberitahu ilmu yang telah ia dapatkan mengenai orang-orang Islam Amerika. la menyatakan, beberapa umat Islam di negeri ini bertanya tentang aliran-aliran dalam Islam. Dia menjawab bahwa semua sekte Islam benar kecuali Syi’ah Itsna Asy’ariyyah.
Segera kami menyadari bahwa Dr. Bisar tidak mengetahui arti dari Syi’ah Itsna Asy’ariyyah. Jika tidak, ia tidak akan berkata demikian kepada. Lalu, kamipun terlibat dialog.
Cirri: Apakah ada yang salah dengan Syi’ah Itsna Asy’ariyyah?
Bisar: Mereka percaya pada hal. yang bertentangan dengan Islam.
Cirri: Berilah contoh keyakinan mereka yang salah itu-?
Bisar: Mereka berkata bahwa wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad

adalah suatu kesalahan. Imam Ali lah yang seharusnya menerima wahyu tersebut.


Chirri: bagaimana anda tahu?
Bisar: Saya membacanya di buku al-Milal wa an-Nihal katya as-Syahristani
Chirri: Apakah anda sudah bertanya kepada ulama Syi’ah mengenai persoalan ini?
Bisar: Belum.
Chirri: Kalau begitu anda telah menghakimi jutaan kaum muslimin dan menganggap mereka kafir tanpa menanyakan tuduhan serius ini kepada mereka. Apakah Allah memerintahkan anda melakukan hal. itu? Dan apakah orang-orang Mesir mengutus anda untuk menyebarkan berita itu?

Setahun setelah pertemuan di Washington, kami bertemu Dr. Bisa.r di Philadelphia pada sebuah konferensi Islam. la memberi tahu kami bahwa ia telah memeriksa kembali buku al-Mila wa an-Nihal dan menegaskan bahwa apa yang ia nyatakan kepada kaum Syiah, bahwa wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad adalah kesalahan, bukan keyakinan mazhab Syi’ah Itsna Asy’ariyyah. la adalah sebuah aliran yang ada pada ratusan tahun yang lalu dan menghilang. Mendengar perkataannya, kami menerima permohonan maafnya.


Tetapi kami terkejut bahwa untuk membaca kembali buku tersebut dan menemukan kebenaran ia memerlukan waktu bertahun-tahun.

Kami menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mempelajari hadis dan sejarah Islam dalam buku-buku yang dikarang oleh ulama Sunni dan Syiah. Kami tidak pernah menemukan sebuah hadispun dalam buku-buku Syiah ataupun pada catatan sejarah bahwa Ali bin Abi Thalib kedudukannya lebih tinggi daripada Nabi Muhammad. Pada kenyataannya, kami menemukan hal.sebaliknya.


Kaum Syiah menganggap Ali sebagai orang yang paling baik setelah Nabi Muhammad karena ia sangat taat kepadanya. Salah satu hadis yang dibanggakan kaum Syiah odalah hadis yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Suatu hari, Rasulullah bersabda kepada suku Walaiah, “Wahai Bani Walai’ah, kalian harus mengubah sikap kalian, jika tidak aku akan mengirim seorang lelaki kepadamu dari keluargaku untuk menghukummu dengan keras.”
Beberapa orang yang hadir di sana bertanya kepada Nabi, “Siapakah lelaki yang akan engkau kirim kepada mereka?” Nabi menjawab, “Dia adalah orang yang sedang menambal sepatuku.” Mereka kemudian memandang sekeliling dan melihat Ali sedang menambal sepatu Rasulullah.
Adalah hal yang tidak dapat diterima bahwa kaum Syi’ah merasa bangga bahwa Ali adalah orang yang menambal sepatu Nabi Muhammad lalu menyatakan bahwa Imam ini lebih tinggi kedudukannya daripada Nabi. Oleh karena itu kami tidak menemukan pembenaran apapun terhadap tuduhan yang langsung ditujukan kepada kaum Syi’ah yang sangat mengagungkan Nabi.
Kaum Syi’ah menyatakan bahwa kehormatan yang lebih tinggi yang didapat Imam Ali adalah bahwa ia dipilih oleh Nabi Muhammad sebagai saudaranya ketika Rasulullah memerintahkan setiap dua orang Muslim untuk saling mempersaudarakan. la mengangkat lengan Imam Ali dan berkata, “Dia adalah saudaraku.” Dengan demikian, Rasulullah, Utusan yang paling agung, Pemimpin sekalian umat beriman, seseorang yang tidak memiliki bandingan di antara hamba Allah lainnya, mengangkat Ali sebagai saudaranya.’
Khutbah Syiqsyiqiyyah

Khutbah ini dinamakan khutbah Syiqsyiqiyyah karena ketika Imam Ali menyampaikan khutbah ini, seseorang dari Iraq berdiri dan menyerahkan sebuah surah padanya. Imam Ali begitu asyik dalam membacanya. Usai membaca surah tersebut Abdullah bin Abbas meminta Imam melanjutkan khotbahnya. Imam menjawab, “Ibnu Abbas! Khotbahku ini tanpa persiapan dan aku sampaikan dengan secara spontan seperti syiqsyiqiyyah (ringkikan unta), khutbahku tidak dapat aku lanjutkan karena sejauh ini isinya sudah jelas.


Kutipan selengkapnya sebagai berikut;

“Berhati-hatilah! Putra Abu Quhafah (Abu Bakar) mengangkat dirinya sendiri (sebagai khalifah) dan tentu ia mengetahui kedudukanku sehubungan dengannya sama seperti Posisi sumbu dengan penggiling batu. Air bah mengalir padaku dan burung-¬burung tidak dapat terbang di atasku. Aku akan menutup diri terhadap kekhalifahan dan bersikap tidak memihak.


Lalu aku mulai berpikir apakah aku harus menuntut ataukah menyabarkan diri dari gelapnya kesengsaraan yang membutakan dimana orang-orang tua dibuat lemah dan para pemuda dibuat tua sedang orang yang benar-benar beriman bertindak dibawah tekanan hingga ia bertemu Allah (meninggal). Aku melihat bahwa kesabaran dalamnya lebih bijaksana maka akupun bersabar meski menusuk mata dan mencekik leher (karena aib) Aku melihat terampasnya warisanku hingga warisan pertama lepas, tetapi diserahkan kepada khalifah Ibnu Khattab setelahnya. (kemudian ia membacakan surah al-Ash•ash).
Hari-hariku kini kulalui pada punggung unta (dalam kesulitan) sedang pada saat itu ada masa-masa (dalam kemudahan) ketika oku berbahagia bersahabatkan saudaraku Jabir Hayan.
Betapa aneh, selama hidupnya ia ingin terlepas dari jabatan kukhalifahan tetapi ia berikan kepada orang lain setelah wafatnya. “tak diragukan bahwa kedua orang ini telah saling bekerja sama. Yang satu ini menutup kekhalifahan dengan cara keras ketika uc:apan terdengar angkuh dan sentuhan terasa kasar. Kekhilafan begitu banyak dan tentu pula alasan. Orang yang memegangnya seperti penunggang di punggung seekor unta liar. Apa bila ia menarik tali kekang, cuping hidungnya robek, akan tetapi apabila ia melepasnya, ia akan terlempar.
Sehingga akhirnya demi Allah orang-orang berkubang dalam keserampangan, kejahatan, kegoyahan dan penyimpangan.

Akan tetapi, aku tetap bersabar meski begitu panjang masanya dan begitu sukar cobaannya, hingga ia meninggalkan jalan ini (wafat) ia menyerahkan permasalahan itu (kekhalifahan) kepada sebuah kelompok dan memasukkanku menjadi salah satu bagiannya. Akan tetapi, Ya Allah! Apa yang telah aku lakukan dengan ‘perundingan’ ini? Adakah kiranya keraguan tentangku berkenaan dengan orang yang pertama sehingga aku dianggap sama seperti mereka? Tetapi aku tetap berada di bawah ketika mereka berada di bawah dan terbang tinggi ketika mereka terbang tinggi.


Salah satu dari mereka berbalik menentangku disebabkan kebenciannya dan yang lain cenderung ke arah lain disebabkan kekerabatannya dan ini serta itu. Bersamanya terdapat putra kakeknya, (Umayah) juga berdiri memakan harta Allah seperti seekor unta menghabiskan kuncup-kuncup daun, hingga talinya terputus, perbuatannya mengentikannya dan keserakahan menjatuhkannya.
Saat itu, tiada yang mengejutkanku, akan tetapi orang-orang bergegas datang padaku. Mereka mendatangiku dari segala penjuru seperti durai dubuk.begitu bnayaknya sehingga Hasan dan Husain terhimpit dan pakaianku robek. Mereka bergerompol mengelilingiku seperti sekelompok biri – biri dan kambing. Ketika aku memimpin pemerintahan salah satu kelompok terpecah dan kelompok lainnya menghianatiku sedang sisanya mulai berbuat tidak benar seolah-olah mereka belum mendengar ayat-ayat Allah, Kampung itu berada di akhirat, kami memberikannya kepada orang-orang yang tidak berfoya foya di muka bumi ini, atau (berbuat) kerusakan (dalamnya); dan akhir (yang paling baik) adalah bagi orang-orang yang beriman” (QS. al-Qashash : 83).
Demi Allah, mereka telah mendengarnya dan memahaminya akan tetapi dunia nampak mempesona di mata mereka dan perhiasannya menggoda mereka. Lihatlah! Demi dia yang menyebar benih (untuk tumbuh) dan menciptakan segala makhluk hidup, sekiranya orang-orang tidak datang padaku dan pendukung tidak melemahkan hujjah dan sekiranya tidak ada janji Allah dengan orang-orang berakal agar mereka tidak menerima keserakahan para penindas serta kelaparan kaum yang ditindas, aku akan melemparkan tali kekhalifahan dari pundakku sendiri, dan akan aku beri orang-orang kelaparan itu perlakuan yang sama seperti pada para penindas lalu engkau akan melihat bahwa dalam pandanganku, dunia tidaklah lebih baik dari pada embikan seekor kambing.”
Janganlah katakan kepada kami bahwa khutbah ini adalah khutbah bikinan Sayid Radhi. Sebenarnya khutbah khusus Imam Ali ini tersebar di kalangan ulama Sunni 200 tahun lalu sebelum lahirnya Sayid Radhi dan mereka mengakui bahwa khutbah di atas merupakan ucapan asli Imam Ali. Sebenarnya Nahj al-Balaghah bukan hanya sumber Mazhab Sunni, dan banyak ulama Sunni juga telah menuliskan tafsirannya. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barang siapa menganggap aku sebagai rasulnya, Ali adalah pemimpinnya.”
Dalam kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan:

Rasululllah memerintahkanku untuk ikut dengannya pada malam Jinn. Aku pergi bersamanya hingga kami tiba di Mekkah. Nabi berkata, “Aku rasa kematianku semakin mendekat.” Aku bertanya, “Ya Rasullullah, apakah engkau akan menjadikan Abu Bakar sebagai khalifahmu ?” ia berpaling dariku, sehingga aku tahu bahwa dirinya tidak setuju. “Ya Rasulullah, apakah engkau akan menjadikan Umar sebagai khalifahmu ?” ia berpaling dariku, sehingga aku tahu bahwa dirinya tidak asetuju. Aku berkata, “Ya Rasulullah, apakah engkau akan menjadikan Ali sebagai khalifahmu ? ia menjawab,” (itu) Dia, demi Allah, tiada Tuhan selain Dia, jika engkau memilihnya dan mematuhi-Nya, Allah akan memasukanmu bersama mereka ke surga”.


Ke-Islaman Abu Thalib
Mereka melarang (orang lain) mendengarnya dan mereka meng¬hindarkan diri dari padanya. Mereka hanya membawa kebinasaan bagi jiwa mereka sendiri tanpa mereka sadari. (QS. al-An’am : 26)
Thabari mengisahkan dari Sufyan Tsauri yang meriwayatkan dari Habib bin Tsabit yang meriwayatkan dari seseorang yang menyatakan bahwa Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini turun ditujukan untuk Abu Thalib karena ia selalu melindungi Nabi Muhammad dari orang-orang kafir tetapi tidak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat.”
Ayat tersebut berbicara tentang orang yang masih hidup, karena menyebutkan : ‘orang yang melarang orang lain untuk melakukannya dan ia pun tidak melakukannya.’ Tentunya orang yang sudah Meninggal tidak dapat berpikir untuk melarang seseorang untuk melakukan sesuatu dan mereka harus hidup untuk dapat melakukan hal itu. Hal ini memberi keyakinan bahwa ayat tersebut tidak ditujukan kepada Abu Thalib.
Rangkaian perawi putus setelah Habib bin Abu Tsabit dan Sufyan tidak menyebut orang yang meriwayatkan dari Habib bin Abu Tsabit, dan semua mengatakan bahwa ia (Habib) meriwayatkan dari seseorang yang mendengar dari Ibnu Abbas. Kriteria ini tidak dapat diterima menurut standar hadis karena rangkaian perawinya tidak lengkap. Oleh karena itu hadis ini tidak diterima.
Apabila kita masih menerima rangkaian perawi, dan Habib bin Abu Tsabit adalah satu-satunya orang yang meriwayatkan hadis ini, kitab Rijal membuktikan bahwa kita tetap tidak dapat menerimanya karena alasan berikut.
Menurut Ibnu Habban, Habib adalah seorang ‘penipu’ dan Aqili bin Aun’menghindari Habib karena ia telah menyalin hadis dari Ata’a yang benar-benar mutlak tidak dapat diterima.
Qita’ an mengatakan bahwa hadis-hadis Habib selain Ata’ an tidak dapat diterima dan tidak lepas dari kepalsuan. Abu Daud mengutip dari Ajri bahwa hadis tersebut diriwayatkan dari Ibnu Zamrah tidak benar. Ibnu Khuzaimah berpendapat bahwa Habib adalah seorang ‘penipu’.
Dengan demikian hadis yang diriwayatkan Habib adalah hadis yang dibuat-buat sendiri, dan setelah membaca pandangan para ahli Rijal, bagaimana kita menerima hadisnya? Tetapi hal ini tidak boleh membuat kita berhenti menyelidiki isu tersebut, dan apabila kita menerima bahwa Habib dapat dipercaya, kita lihat Sufyan, perawi terakhir dalam rangkaian hadis yang memusuhi Abu Thalib. Kita tetap menyatakan hadis ini tidak sahih, karena Dzahabi menulis tentangnya bahwa riwayat yang dibuat Sufyan palsu. Sulit bagi kami untuk meyakini bahwa meski penafsir yang telah menuliskan hadis ini adalah orang yang sangat terkemuka, mereka telah menyalin dari orang-orang rendah tersebut tanpa ragu.
Meskipun semua hadis lemah yang telah diriwayatkan oleh perawi – perawi lemah, kami menemukan hadis dari Ibnu Abbas yang murni yang mengatakan kebalikan dari hadis tersebut di atas.
Thabari menyatakan bahwa hadis di atas ditujukan kepada orang-orang musyrik yang sering menjauhi Nabi dan saling menasehati untuk menjauhinya. Kenyataan menyatakan bahwa Abu Thalib tidak pernah menganjurkan orang lain untuk menjauhi Nabi Muhammad. Bahkan banyak dari orang-orang yang menuduhnya tidak pernah mengucap dua kalimat syahadat mengakui bahwa ia membantu Nabi dalam segala kesukaran di masa Islam yang masih muda dengam segala sesuatu yang ia miliki. la juga membesarkan Nabi ketika masih kecil dan menerima kalau Imam Ali dibesarkan oleh Nabi. Sebenarnya ia telah Islam sejak awal, tetapi ia melakukan taqiyah (menyembunyikan keimanan) sehingga dapat menjadi perantara antara Nabi Muhammad dan pemimpin-pemimpin orang kafir di Mekkah (seperti Abu Sufyan).
Penting untuk dicatat bahwa kami tidak yakin bahwa orangtua Nabi Muhammad dan para Imam harus mutlak sempurna. Kami meyakini bahwa orangtua mereka dan seluruh nenek moyangnya saleh dan orang beriman, beragama Islam selama hidup mereka.

saya sering mendengar kisah mengenai Abu Thalib (ayahanda Imam Ali AS) dari seorang ulama dikota kami yang berpedoman kepada ulama Arab saudi semata.

waktu itu dia membabarkan menegenai keutamaan sahabat nabi, bahwa di hari kemudian, Nabi Muhammad SAAW akan terlebih dahulu masuk ke Syurga, diikuti oleh Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, (hebat benar ramalan di "hadits" ini yg telah secara tidak langsung merupakan hujjah siapa2 urutan khalifah pengganti Rasulullah SAAW), baru kemudian 10 sahabat yg dijanjikan syurga....
setelah itu, sang ulama langsung memotong kissah tadi dengan pernyataannya: "lihatlah betapa mulianya sahabat2 Nabi SAAW, yg bahkan keluarga Nabi sendiri banyak yang masuk ke dalam Neraka. termasuk Ayah Ibu Rasulullah SAAW, juga Abu Thalib yg memang benar2 mendukung Rasulullah SAAW tapi ketika di ajak untuk bersyahadat, dia enggan..."(Na'udzubiilahi min Dzalik, sang ulama itu sungguh mempunyai kekuasaan untuk menjatuhkan vonis kepada keluarga Nabi SAAW).
Benarkah Hadis tentang Kekafiran Abu Thalib?

Sejumlah sejarahwan dan ahli hadis mencatat bahwa Abu Thalib wafat dalam keadaan kafir. Beberapa dari mereka meriwayatkan ayat, “Rasulullah dan orang-orang beriman tidak diperkenankan untuk memohon ampunan Allah bagi orang kafir meski mereka adalah keluarga, karena telah jelas bagi mereka bahwa orang-orang kafir ini berasal dari penghuni neraka.“ Penafsiran dan pernyataan palsu tersebut dibuat-buat sebagai kampanye fitnah yang dilakukan Bani Umayah dan sekutunya dalam memerangi Imam Ali. Dengan memalsukan hadis tersebut mereka berusaha meyakinkan umat bahwa Abu Sufyan, ayah Muawiyah, lebih baik dari pada Abu Thalib, ayah Imam Ali, dengan menyatakan bahwa Abu Sufyan wafat dalam keadaan Islam sedangkan Abu Thalib wafat dalam keadaan kafir.


Pencatat hadis dan sejarahwan mengambil hadis ini tanpa memperhatikan bukti tipu daya mereka. Mereka tidak berusaha memeriksa hadis ini padahal tanggal turunnya wahyu dari ayat di atas membuktikan bahwa ayat tersebut tidak berkenaan dengan Abu Thalib (semoga Allah senantiasa ridha kepadanya).
Dengan hadis itu sendiri, kita lihat apa yang dinyatakan kitab yang dianggap paling sahaja oleh kaum Sunni.
Bukhari dalam sahihnya mencatat, diriwayatkan oleh Musyaid:

Ketika kematian Abu Thalib mendekat, Rasulullah mendekatinya. Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah telah berada di sana. Rasulullah bersabda, “Wahai paman, katakanlah, ‘Tiada yang patut disembah kecuali Allah sehingga aku dapat membelamu dengannya di hadapan Allah.’ Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib! Apakah engkau akan mengulang kembali ucapan agama Abdul Muthalib?” Lalu Nabi berkata, “Aku akan tetap memohonkan (kepada Allah) ampunan bagimu meski aku dilarang melakukannya. Lalu turunlah Surah at-Taubah ayat, “Tiadalah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampunan Tuhan bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang yang musyrik itu kaum kerabatnya sendiri, setelah nyata bagi mereka bahwa orang-orang yang musyrik itu penghuni Jahanam.”


Ayat di atas merupakan salah satu ayat dari surah at-Taubah. Beberapa hal mengenai ayat ini;
Pertama: Surah dari ayat ini turun di Madinah, kecuali dua ayat terakhir (192 dan 129);
Kedua: Ayat yang menjadi topik pembahasan kami adalah ayat 113; Ketiga: Surah at-Taubah turun pada tahun 9 Hijriah. Surah ini berkisah tentang peristiwa yang terjadi selama kampanye Tabuk, yaitu pada bulan Rajab 9 H. Nabi Muhammad telah memerintahkan Abu Bakar untuk mengumumkan bagian pertama surah ini pada musim haji di tahun itu ketika Nabi mengutusnya sebagai Amirul Hajj.
Lalu, ia mengutus Imam Ali untuk mengambil alih tugas Abu Bakar dan mengumumkannya, karena Allah memberi perintah kepada Nabi bahwa tidak ada seorang pun yang menyampaikan wahyu kecuali dirinya sendiri atau salah satu anggota keluarganya.
Banyak ahli hadis Sunni mencatat bahwa Nabi Muhammad mengutus Abu Bakar kepada orang-orang Mekkah sambil membawa surah at-Taubah dan ketika ia maju ke depan, Nabi Muhammad mengutusnya dan Memintanya untuk memberikan surah tersebut dan berkata, “Tiada seorangpun yang membawa surah ini kepada mereka kecuali salah satu dari Ahlulbaitku.” Lalu, Nabi Muhammad SAW mengutus Ali.
Ahmad dalam Musnad-nya menambahkan bahwa Abu Bakar berkata, “Nabi Muhammad SAW mengutusku untuk membawa surah at-Taubah kepada penduduk Mekkah. Setelah tahun ini tidak boleh ada penyembah berhala yang melakukan ziarah. Tidak boleh ada orang yang bertelanjang mengelilingi Kabah. Tidak ada orang yang masuk surga kecuali jiwa orang Muslim. Masyarakat penyembah berhala manapun yang melakukan perjanjian perdamaian dengan Nabi Muhammad berdamai, perjanjiannya berakhir tanpa ada batas yang ditentukan (tanpa batas waktu), Allah serta utusan-Nya sangat tegas kepada para penyembah berhala.”
Syilbi Numani juga dalam Sirah Nabi; menuliskan:

Pada tahun 9 hijriah, Kabah untuk pertama kalinya disucikan sebagai rumah utama menyembah Allah bagi pengikut Nabi Ibrahim...; Sekembalinya dari Tabuk, Nabi Muhammad mengutus sebuah khafilah yang terdiri dari 300 umat Islam dari Mekkah hingga Madinah untuk melaksanakan ibadah haji.’


Kembali ke at-Taubah ayat 113, ayat ini tidak diperuntukkan bagi Abu Thalib karena ia wafat di Mekkah 2 tahun sebelum hijrah. Sekarang kami akan mengutip Syilbi Numani, dalam Sirah Nabi.

Wafatnya Khadijah dan Abu Thalib (Tahun ke-10 turunnya wahyu)

Sekembalinya dari gunung, Nabi Muhammad hampir tidak pernah melewatkan hari-harinya dalam kedamaian setelah Abu Thalib dan Khadijah wafat. la mengunjungi Abu Thalib terakhir kalinya ketika sedang menjelang ajal. Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah telah berada di sana. Nabi meminta Abu Thalib untuk mengucap dua kalimat syahadat, sehingga ia akan Memberi kesaksian tentang keimanannya di hadapan Allah. Abu Jahal dan Ibnu Umayah bertengkar dengan Abu Thalib dan bertanya apakah ia akan berpaling dari agamanya Abdul Muthalib.
Pada akhirnya, Abu Thalib berkata bahwa ia akan mati dalam keadaan beragama Abdul Murtad. Kemudian ia berpaling kepada Nabi Muhammad dan berkata bahwa ia akan mengucapkan 2 kalimat syahadat tetapi takut kalau-kalau ada orang Quraisy menuduhnya takut mati. Nabi Muhammad berkata bahwa ia akan berdoa kepada Allah baginya hingga Allah memberi perlindungan.
Ibnu Ishaq mengatakan bahwa ketika Abu Thalib menjelarag ajal, bibirnya bergerak-gerak. Abbas yang hingga saat itu masih menjadi orang non-Muslim, mendekatkan telinganya ke bibir Abu Thalib dan berkata bahwa ia tengah mengucapkan 2 kalimat syahadat sebagaimana yang Rasulullah inginkan.
Semua referensi yang kami sebut pada paragraf di atas bukan berasal dari kami demikian juga dengan kalimat yang tercetak miring. Semua itu diberikan oleh Syilbi Numani sendiri.
Syilbi Numani lebih jauh menuliskan:

Tetapi menurut pendapat seorang ahli hadis, riwayat Bukhari ini tidak pantas dinyatakan sebagai hadis yang dapat dipercaya karena perawi terakhirnya adalah Musayab yang masuk Islam setelah tumbangnya Mekkah, dan ia tidak berada di tempat kejadian ketika Abu Thalib wafat. Karena hal inilah Aini dalam tafsirnya menyatakan bahwa hadis ini mursal.”


Syilbi menuliskan:

Abu Thalib banyak berkorban bagi Nabi Muhammad dan tak seorangpun yang menyangkalnya. la bahkan akan mengorbankan putra-putrinya demi Nabi. la akan menghadapi sendiri kebencian seluruh negeri demi Nabi dan melewati tahun demi tahun dalam penyerangan dan derita kelaparan karena diasingkan, tanpa makanan dan minuman. Apakah semua, rasa cinta, pengorbanan serta ketaatannya sia-sia?




Dostları ilə paylaş:
1   ...   19   20   21   22   23   24   25   26   ...   29


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2019
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə