Fikih ahlul bait taqlid dan Ijtihad



Yüklə 1,06 Mb.
səhifə29/29
tarix22.01.2018
ölçüsü1,06 Mb.
#39519
1   ...   21   22   23   24   25   26   27   28   29
Maka, sangatlah mungkin bagi seorang beriman yang telah diridhoi Allah, menjadi kafir di kemudian hari. Sebaliknya, jika seseorang telah dijanjikan bahwa Allah meridhainya selamanya dan tanpa syarat, tidak masalah apakah ia menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa atau berbuat jahat di kemudian hari, berarti ia tidak lagi mendapat cobaan dari Allah. Hal. ini bertentangan dengan banyak ayat Quran.
Tragedi Hari Kamis
Pada hari Kamis, tiga hari sebelum wafatnya Nabi Muhammad SAW, Nabi meminta pena serta secarik kertas untuk menuliskan wasiatnya dan mengulang kembali penobatan seorang penggantinya bagi umat. Mayoritas sumber-sumber hadis Sunni termasuk Shahih Bukhari serta Shahih Muslim menyebutkan bahwa sekelompok pembangkang (oposisi) di kalangan sahabat yang dipimpin Umar bin Khattab, menuduh bahwa Nabi tengah meracau, mencegah agar tidak menuliskan pesannya.
Mereka mempertanyakan kesadaran Nabi Muhammad untuk meragukan keinginannya. Berikut ini beberapa hadis mengenai tragedi hari kamis. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa Ibnu Abbas berkata:
“Hari kamis! Betapa tragis hari itu!” Kemudian Ibnu Abbas menangis keras sehingga air matanya mengalir ke pipi. Kemudian ia menambahkan (Rasulullah bersabda), “Ambikan sebuah tulang pipih atau kertas serta tinta agar aku dapat menuliskan pernyataan yang akan membuat kalian tidak tersesat sepeninggalku.” Mereka berkata, “Sesungguhnya Rasulullah sedang meracau!”

Versi lain hadis ini dinyatakan oleh Bukhari dan Muslim yang menunjukkan peran Umar bin Khattab dalam kekacauan itu.


Shahih al-Bukhari, hadis 9468 dan 7573. Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:
Menjelang kematian Nabi Muhammad yang semakin dekat, dalam rumah Nabi terdapat beberapa orang dan diantara mereka terdapat Umar bin Khatab. Nabi Muhammad berkata “Mendekatlah, akan aku tuliskan bagi kalian sesuatu yang akan membuat kalian tidak akan tersesat selamanya” Umar berkata “ Nabi Muhammad sakit parah, dan kalian telah memiliki Quran.
Cukuplah bagi kalian Quran, Kitab Allah bagi kita. “Orang-orang di rumah Nabi berdebat. Beberapa orang di antaranya berkata, “Ambilkan pena dan agar Rasulullah menuliskan bagi kalian sesuatu yang tidak akan membuat kalian tersesat.” Sementara yang lainnya mengulangi apa yang Umar katakan. Ketika mereka berteriak-teriak keras dan bertengkar di hadapan Nabi, Nabi berkata kepada mereka, “Pergi kalian, tinggalkan aku!” Ibnu Abbas berkata, “Pertengkaran dan keributan tersebut merupakan bencana besar yang membuat Rasulullah tidak jadi menuliskan sesuatu bagi mereka.”
Sebagaimana yang terlihat pada hadis di atas, Nabi Muhammad di tuduh meracau oleh sekelompok pembangkang di antara para sahabat yang dipimpin Umar bin Khattab. Pada hadis di atas, Ibnu Abbas menyebutkan Umar dan sahabat-sahabatnya menyebabkan Nabi tidak jadi menuliskan sesuatu yang tidak akan membuat kaum Muslimin tersesat sepeninggalan. Kesimpulannya, Rasulullah tidak menuliskan sesuatu.
Pada hadis berikut ini, Sa’id bin Zubair menyebutkan bahwa Nabi berkata tiga perkara tetapi ia telah lupa perkara yang ketiga yang berharga bagi kaum Muslimin.
Shahih al-Bukhari hadis 4393; diriwayatkan dari Sa’id bin Zubair:
Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, “Hari Kamis! Engkau tahu apa yang terjadi pada hari kamis?” Setelah itu Abbas mencucurkan air mata, hingga batu di bawahnya basah. Aku bertanya kepada Ibnu Abbas, “Ada apa gerangan dengan hari Kamis?” la menjawab, “Ketika kondisi (kesehatan) Rasulullah semakin memburuk, ia berkata, “Ambilkan sepotong tulang belikat agar aku dapat menuliskan sesuatu yang dengannya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku!” Orang-orang berdebat meski hal. itu tidak pantas mereka lakukan di hadapan Nabi. Mereka berkata, ‘Ada apa dengan Nabi Muhammad? Kamu bilang ia mengigau? Tanyakan padanya ( pakah Nabi mengingau ?) “ Rasulullah menjawab “ Pergi kalian ! Aku lebih baik dari apa yang kalian katakan !”
Kemudian Nabi Muhammad memerintahkan mereka untuk melakukan tiga perkara, “Usir penyembah berhala dari semenanjung Arab! Hormati utusan-utusan asing yang datang dengan memberikan mereka hadiah seperti yang biasa aku lakukan!” Perkara ketiga adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kaum Muslimin yang aku lupa apakah Ibnu Abbas mengatakanya atau tidak.
Sa’id bin Zubair mengatakan bahwa Nabi Muhammad mengatakan tiga perkara tetapi ia lupa perkara ketiga yang berharga bagi kaum muslimin. Aneh sekali, bahwa perawi yang biasanya ingat akan ribuan hadis, lupa wasiat ketiga Nabi.
Perhatikan dua perkara yang disebutkan oleh kedua perawi tersebut;
1) Mengusir penyembah berhala dari semenanjung Arabia;
2) Menghormati utusan-utusan asing. Dapat kita lihat bahwa kedua perkara tersebut bukan perkara yang jika dilakukan kaum Muslimin, mereka tidak akan pernah tersesat sepeninggal Nabi Muhammad. Perkara ketiga pasti lebih penting yang akan menjamin keselamatan kaum Muslimin, dan tidak mungkin tidak lebih penting daripada kepemimpinan. Selain itu, pernyataan tersebut bertentangan dengan ucapan Ibnu Abbas pada hadis yang disebutkan sebelumnya yang menyatakan bahwa pertengkaran tersebut membuat Rasulullah tidak jadi menyatakan keinginannya.
Berikut ini hadis terakhir yang ingin kami sampaikan. Shahih al¬Bukhari hadis 5716. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas:
“Hari kamis! Betapa tragis hari itu! Pada hari itu sakit Nabi Muhammad semakin parah dan ia berkata, ‘Ambilkan sesuatu agar aku dapat menuliskan bagi kalian sesuatu yang dengannya kalian tidak akan pernah tersesat!’ Orang-orang (yang berada di situ) bertengkar dan tidak pantas mereka bertengkar di hadapan Nabi. Mereka berkata, “Ada apa dengannya? Kamu pikir ia meracau?”“
Sebagaimana yang disebutkan pada Shahih al-Bukhari hadis 9468 dan 7573,
Umar berkata, “Nabi Muhammad sakit keras, engkau telah memiliki Quran, maka cukuplah kitab Allah bagi kita.” Umar dan pendukungnya menuduh Nabi tengah meracau sehingga Nabi Muhammad tidak jadi menuliskan pernyataan itu. Dalam pembahasan mengenai Quran dan Ahlulbait pada Bab awal buku ini, Nabi Muhammad dengan jelas memberi petunjuk bahwa kita harus mengikuti Quran dan Ahlulbait agar tidak tersesat. Oleh karenanya, Quran saja tidak cukup, bertentangan dengan yang Umar katakan.
Ada sebuah tafsiran yang aneh pada catatan kaki hadis di diatas pada Kitab Shahih Muslim (1980, Edisi bahasa Arab). Dinyatakan bahwa peristiwa di atas menunjukkan keutamaan Umar, karena ia mengetahui, bahwa orang-orang mungkin tidak akan mengikuti apa yang akan Nabi Muhammad tuliskan, sehingga orang-orang akan masuk neraka karena tidak taat terhadap perintah Nabi Muhammad. Oleh karenanya, Umar mencegah agar Rasulullah tidak menuliskan sesuatu untuk menyelamatkan orang-orang masuk neraka.
Juga, pada catatan kaki di bagian yang sama pada kitab Shahih Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad bermaksud menunjuk seorang khalifah pada hari Kamis tersebut, dan mungkin persoalan kepemimpinan itulah yang menjadi perdebatan.
Sebenarnya, hampir semua orang yang hadir di sana, memahami maksud Nabi, seperti halnya Umar. Karena sebelumnya Nabi Muhammad pernah mengangkat persoalan ini ketika ia sudah banyak menyatakan,
‘ Aku tinggalkan dua hal. berharga bagi kalian; kitab Allah dan keturunanku (itrah Ahlulbaitku). Jika kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akaan pernah tersesat sepeninggalku.” (Shahih at-Turmudzi, versi yang hampir sama juga disebutkan pada Shahih Muslim) dan ketika mereka berada di Ghadir Khum, Nabi mengatakan, “Barang siapa mengangkatku sebagai pemimpinnya, Ali adalah pemimpinnya.”“
Maka ketika sakit Nabi semakin parah ia berkata, “Aku tuliskan sesuatu yang dengannya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku!” Orang-orang yang hadir saat itu, termasuk Umar, dengan cepat memahami bahwa Nabi Muhammad berniat mengulangi apa yang telah ia sebutkan sebelumnya, tetapi kali ini Nabi ingin mengulangnya dalam tulisan.
Oleh karenanya ketika Nabi Muhammad tiga hari sebelum kematiannya hendak menuliskan sebuah wasiat untuk menyelematkan kaum muslimah agar tidak tersesat, ia dituduh meracau. Apdahal beberapa ayat Quran dengan jelas menyebutkan:
Hai orang-orang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara rasul.... jika tidak semua perbuatanmu sia-sia sedang kamu tidak menyadarinya. (QS. al-Hujurat : 2).
Tiada seorang rasulpun yang berbicara atas kehendak dirinya. (apa yang ia katakan) tiada lain wahyu yang di turunkan (QS. an-Najm : 3-4).
Laksanakanlah apapun yang rasul kalian perintahkan, dan jauhilah dari apapun yang ia larang kepadamu (QS. al-Hasyr : 7).
Alasan lain mengapa Nabi Muhammad tidak mengulangi permintaannya (jika benar demikian) adalah karena ia telah direndahkan oleh beberapa sahabat dan dituduh meracau. Jadi meskipun ia mengatakan sesuatu, orang orang ini tidak akan percaya padanya karena akan dikatakan bahwa perintah itu disampaikan ketika Nabi tengah mengigau. Dengan mengatakan bahwa Nabi tengah mengigau Umar telah mengacaukan segalanya.

Ada beberapa hadis Sunni yang menyatakan tanpa bukti bahwa Nabi Muhammad bingung memilih penggantinya sehingga ia tidak menunjuk seorangpun dan menyerahkan hal. tersebut kepada umat untuk diputuskan. Beberapa hadis mengklaim bahwa Nabi ingin menunjuk Abu Bakar, tetapi ia menyerahkannya kepada umat.


Jika Umar pernah mendengar ucapan seperti itu (Nabi ingin mengangkat Abu Bakar sebagai penerusnya), ia tidak akan menghentikan Nabi mengatakan wasiatnya dan menuduhnya meracau. la akan membiarkan Nabi menyatakan wasiatnya dan mengangkat Abu Bakar sebagai penggantinya.
Kita semua mengetahui bahwa pendukung utama rahasia penobatan Abu Bakar sebagai khalifah di Saqifah Bani Sa’idah adalah Umar bin Khattab.
Jadi, jika Umar tidak pernah mendengar hadis tersebut (maksud Nabi untuk menunjuk Abu Bakar), kemungkinan besar hadis tersebut dibuat- buat kemudian.
Hadis ini pun bertentangan dengan banyak hadis shahih sunni mengenai penunjukkan Ali Ibnu Abi Thalib sebagai pengganti Nabi Muhammad SAW. Seperti yang anda ketahui, terdapat begitu banyak hadis palsu yang dibuat oleh banyak ulama yang mendukung penunjukkan penguasa, dan sebagian besarnya membenarkan apa yang terjadi.
Terakhir, kami ingin mengajak anda melihat betapa tragisnya, tragedi hari Kamis tersebut. Perhatikanlah bahwa ada orang yang hendak menyampaikan wasiat penting untuk dituliskan menjelang ia wafat. Pikirkan juga keutamaan orang yang ingin menuliskan wasiat tersebut. la adalah Rasulullah, manusia paling sempurna. Tiada seorangpun sepertinya yang sangat memperhatikan umatnya.
Seorang manusia yang oleh Allah telah diperintahkan dalam Quran untuk kita taati, tanpa syarat. Pikirkan juga bahwa pernyataan Nabi Muhammad ini akan menjadi kunci utama takdir kaum Muslimin bahwa mereka tidak akan pernah tersesat jika memegangnya.
Pada saat-saat penting tersebut, orang-orang yang menyebut dirinya sebagai sahabat sejati Nabi telah menghentikan dan menghinanya. Sahabat-sahabat ini bertanggung jawab terhadap tersesatnya kaum Muslimin sepanjang sejarah dan kaum Muslimin generasi mendatang.
Sahabat 9
Setelah membaca artikel ini, seorang saudara Sunni memberi komentar; “Bagaimana Umar dapat mencegah termanifestasinya ketentuan Ilahi? Jika menulis wasiat adalah perintah Allah kepada Rasul, bagaimana bisa Allah gagal mewujudkan kehendak-Nya?
Saudara kita ini telah mencampuradukkan dua hal. yang berbeda. Umar dapat mencegah terwujudnya kehendak/ketentuan Ilahi karena ia adalah manusia yang diberi kehendak bebas. Akan tetapi, Umar atau manusia lainnya tidak dapat mengubah apa yang telah Allah tetapkan sebelumnya (takdir) dan kehendak (mashiyyah). Coba perhatikan pernyataan ini; ada perbedaan antara firman Allah (yang dapat tidak dipatuhi umat) dan ketetapan Allah (yang tidak dapat dilanggar). Adalah firman Allah kemudian Nabi menuliskan pernyataan tersebut, tetapi ketentuan Allahlah yang terjadi.
Saudara Sunni lainnya menyebutkan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah menuliskan sebuah wahyu atau ajarannya selama 23 tahun misinya. Lalu, bagaimana ia memerintahkan umatnya untuk mengambilkannya pena dan kertas untuk menuliskan sesuatu bagi mereka?
Adalah benar bahwa Nabi Muhammad tidak menulis di depan umum, karena ia biasa mendiktekan. Akan tetapi, hal. ini tidak berarti bahwa ia tidak dapat menulis. Adalah benar juga bahwa Nabi Muhammad `Ummi’, tapi hal. ini tidak berarti bahwa Nabi Muhammad tidak dapat membaca dan menulis. Arti yang lebih benar adalah bahwa ia tidak memiliki guru dari kalangan manusia untuk mengajarinya membaca dan menulis sejak ia lahir dari rahim ibunya. (ummi berasal dari kata umm yang artinya ibu). Gurunya hanyalah Allah. Itulah mengapa Quran benar-benar merupakan wahyu/mukjizat seseorang yatag tidak memiliki seorang guru dari manusia dan belajar di sekolah. Kami ingin mengatakan; menghilangkan keraguan bahwa benar Quran adalah wahyu dari Allah merupakan satu-satunya alasan bahwa Nabi Muhammad tidak diperintahkan untuk menulis di depan umum atau menyatakan demikian.
Mampu membaca dan menulis tidak hanya dalam bahasa Arab, tetapi juga dalam semua bahasa lain, dan mengetahui bahasa makhluk lain tidak harus dikuasai oleh seluruh utusan Allah. Semua pengetahuan tersebut dapat diketahui Nabi ketika benar-benar diperlukan, atas izin Allah. Tetapi saat tidak diperlukan, ia bertindak seolah-olah tidak memiliki pengetahuan tersebut. Hal. ini berarti ia seperti memiliki akses kepada inti ilmu daripada memiliki semua ilmu.
Mengenai tragedi hari Kamis, yang dimaksud Nabi dengan ‘menulis’ adalah ‘menyuruh untuk menuliskan’, dan orang-orang saat itu menyadarinya dan bukan pertama kali bagi mereka mendengar hal. itu. Berdasarkan hadis tersebut tak seorangpun mengatakan bagaimana caranya ia menulis. Selain itu, kalaupun kita anggap bahwa Nabi ingin menulis sendiri dan umat tidak tahu tentang kemampuannya untuk menulis maka mereka telah meragukannya dan ingin mengetahui apakah ia dapat melakukan mukjizat itu disamping semua mukjizat yang ia miliki dan tunjukkan. Apakah mereka meragukan mukjizatnya ?
Dia adalah Nabi dimana Allah telall berkata tentangnya, ‘La yanthiqu anil hawa !” (ia tidak berkata atas hawa nafsunya) Tinggalkanlah sujunak surah al-Ahzab ayat 36, al-Hasyr ayat 7, art-Nisa ayat 80 dan 59, dll. Untuk membenarkan ketidaktaatan beberapa sahabat, dapatkah kita mengatakan bahwa ‘ia tengah.meracau’? Apakah Allah SWT mengetahui bahwa pada saat itu utusan-Nya tidak dapat bertahan dengan kondisinya yang sakil dan maju ke depan serta menyebutkan ayat-ayat tersebut?
Saudara Sunni yang lain menyebutkan bahwa sekiranya Nabi Muhammad hendak menunjuk Ali sebagai pemimpin, mengapa ia tidak melakukannyadi hadapan semua orang dan bukan di rumahnya beberapa hari sebelum ia wafat?
Nabi Muhammad telah mengumumkan penunjukkan Imam Ali sebagai pemimpin di banyak peristiwa sejak pertama kali ia menyebarkan agama Islam di Mekkah.
Apa yang ingin Nabi Muhammad lakukan sebagai wasiat terakhirnya adalah menuliskan (memberi perintah untuk menuliskan) apa yang telah ia katakan. Tetapi seperti yang telah disebutkan sebelumnya, beberapa orang di sekitarnya, dengan sangat memalukan menganggapnya tidak sadar. Apa yang terjadi pada hari Kamis tersebut merupakan bukti bahwa Nabi telah menunjuk seorang pengganti, jika tidak, maka tidak akan ada pembangkangan.
Saudara Sunni yang lain menyebutkan ayat; “Hari ini telah aku perkenankan agamamu dan menyempurnakan rahmat-Ku pada kalian, dan Aku tetapkan Islam sebagai agamamu” (QS. al-Maidah : 3), yang turun dua bulan sebelum wafat Nabi Muhammad SAW, menunjukkan bahwa tidak akan ada perintah agama lain yang datang setelah ini. Jika tidak, sekiranya pernyataan berharga yang hendak Nabi imlakan kepada pengikutnya adalah sesuatu yang telah dilupakan, akan menjadikan ayat ini dusta.
Mungkin saudara kita ini akan terkejut bahwa banyak ahli tafsir Quran dari mazhab Sunni telah menegaskan surah al-Maidah : 3 turun di Ghadir Khum setelah Rasulullah bersabda “ Barang siapa menganggapku sebagai pemimpinnya, Ali adalah pemimpinnya, Ya Allah cintailah orang - orang yang mencintainya, musuhilah siapapun yang memusuhinya!” Hal ini berarti bahwa sempurnanya agama disebabkan oleh tercapainya Nabi mengumumkan penggantinya.
Sebenarnya, apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada hari Kamis itu adalah mengulangi, mengingatkan dan menekankan hal-hal yang telah diwahyukan sebelumnya. la tidak ingin menambahkan hal-¬hal baru.

Tidak ada kaum Muslimin yang menyatakan bahwa kedudukan kenabian telah diambil dari Nabi Muhammad SAW sebelum ia wafat. Kami pun tidak menyatakan hal. demikian berkenaan rasul-rasul lainnya.


Bahkan kalaupun kita anggap ia bukan lagi seorang rasul atau ia ingin mengatakan sesuatu yang baru, apakah anda dapat menemukan seorang lelaki yang lebih baik dan lebih memperhatikan umatnya? Apakah wasiat terakhirnya bertentangan dengan kemaslahatan umatnya? Berapa banyak orang-orang yang telah berlaku kasar padanya bahkan tidak mengizinkannya berbicara?
Nabi Muhammad berkata, “Sekiranya engkau tidak berada di sana, wahai Ali, kaum Muslimin tidak dapat dikenali lagi sepeninggalku!”
Yüklə 1,06 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   ...   21   22   23   24   25   26   27   28   29




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
rəhbərliyinə müraciət

gir | qeydiyyatdan keç
    Ana səhifə


yükləyin