Janji Diterbitkan secara mandiri melalui Nulisbuku com Janji Oleh: Nisya Septik Prianda Copyright 2014 by Nisya Septik Prianda Penerbit



Yüklə 0.76 Mb.
səhifə3/11
tarix18.01.2018
ölçüsü0.76 Mb.
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11
Sang Pelindung...”
Hari ini Icha sarapan dengan menu yang sedikit berbeda dari biasanya. Sarapan bersama keluarga besar pula. Entah sejak kapan nenek dan kakeknya menjadi sering datang kerumahnya. Icha sebenarnya senang dengan kedatangan nenek dan kakeknya. Hanya saja terkadang Icha pun risih dengan omelan mereka yang masih alot. Biasalah adat jawa.

Icha pun sudah beberapa hari tak berangkat bersama Dhani maupun Ridwan. Kalau Icha sampai diantar jemput oleh teman laki-laki, wahhh bisa-bisa Icha akan diantar oleh neneknya keesokan harinya. Makanya, untuk menghindari hal itu lebih baik mas Rezza lagi saja yang antar jemput Icha setiap hari sambil menunggu nenek dan kakeknya pulang. Meskipun sebenarnya Icha tidak suka harus menunggu kakaknya pulang kuliah yang berbeda jadwal dengannya, namun Icha tidak punya pilihan lain saat ini.

Selesai sarapan, Icha segera berpamitan dengan Bunda, Ayah, nenek dan kakeknya untuk segera berangkat bersama dengan Mas Rezza. Tak lupa Icha pun meminta restu dari orang tuanya agar dilancarkan segala urusannya hari ini.

“Kerjakan dengan hati-hati, jangan terlalu terburu-buru, ingat selalu pesan Ayah” Pesan sang ayah pada Icha. Icha pun hanya membalasnya dengan senyuman manisnya.

Ya hari ini adalah hari ujian bulanan Icha. Dibandingkan dengan ujian semester ataupun ujian tengah semester, Icha lebih takut dengan ujian bulanan. Bagaimana tidak, nilai dari ujian ini adalah asli dan selalu di ranking disekolah. Meski Icha belum terkalahkan dari posisi 1 sampai saat ini, namun Icha masih saja takut karena jika ada 1 mata pelajaran yang mendapatkan nilai dibawah 80, Icha pasti akan kena marah ayahnya.

***


“Udah deh... adeknya mas jangan tegang gitu dong, mau ujian harus ceria yah... , mas yakin adek mas yang cantik ini akan dapat nilai yang lebih baik dari semester lalu ” Kata mas Rezza menyemangati adiknya itu.

“Iya mas... tapi Icha masih takut,  doain Icha ya mas...” pinta Icha sambil menyalami kakaknya itu. Lalu dia segera masuk kesekolahnya. Lesty dan Putri juga baru saja datang tak lama setelah Icha. Disusul Iis dan Dhani. Mereka segera memasuki ruang ujian masing-masing yang sudah ditentukan oleh sekolah. Hari ini akan ada 3 mata pelajaran yang diujikan yaitu Matematika, Sosiologi dan bahasa Indonesia.

***

Icha sedang membaca materi mata pelajaran Geografi untuk ujiannya besok di taman sekolah sambil mendengarkan music korea kesukaannya dari Headset yang dia pasang ditelinganya. Saking asyiknya belajar dan mendengarkan music sampai-sampai dia tidak sadar jika seseorang telah duduk disampingnya.



Orang itu juga terlihat sedang membaca bukunya. Dia membiarkan Icha tetap konsentrasi membaca jadi lebih baik jika saling diam seperti ini. Selama beberapa saat mereka tetap dalam keadaan diam tanpa suara. Hingga akhirnya Icha merasa ada seseorang disampingnya, diapun melirik kesamping dan alangkah terkejutnya dia saat melihat orang disampingnya itu.

Sejak kapan dia disitu? Tanya Icha dalam hati. Sementara orang itu hanya memberikan senyumannya saja. Icha pun hanya menghela napasnya panjang. Dia akhirnya melanjutkan acara membacanya karena orang itu sepertinya juga sedang belajar.

Mereka berdua tetap diam meski sudah sama-sama tahu. Mungkin keduanya hanya canggung untuk memulai percakapan satu sama lain. Sehingga diam tetap menjadi pilihan mereka berdua.

Icha memijat tengkuknya yang sepertinya sudah mulai pegal karena menunduk dan membaca terus. Dia memutar kepalanya supaya pegal yang ia rasakan bisa berkurang. Namun tiba-tiba saja tangan orang yang ada disampingnya itu menariknya dan meletakkan kepala Icha di pundaknya. Meski sedikit terkejut, Icha hanya menurut saja.

“Tetaplah seperti ini, lanjutkan lagi belajarmu” Kata orang itu pada Icha.

“Ehmmm apa gak apa-apa? Gak ada orang yang lihat?” Tanya Icha ragu-ragu.

“Gak ada Cha...” Jawabnya singkat dan lembut sambil terus membaca bukunya.

“Aku.... kangen banget sama kamu...” Ucap Icha pada orang itu sambil mendekatkan tubuhnya lagi.

“Bisa kangen juga sama aku?” tanyanya bercanda.

“Gak mau aku kangenin? Ya udah gak jadi” jawab Icha kesal.

“Allah... hehehe... sekarang jadi ngambekan gini yah, Aku juga kangen Cha sama kamu..., yah aku pikir stok kangen mu itu udah habis karna kamu kasihin sama mantan kamu itu” jawabnya mengalihkan pembicaraan.

“Ye... Su’uzdhon mulu’ ahh ama aku” jawab Icha.

“Hehehe” Dhani tersenyum dan tetap pada keadaanya sekarang.

“Dhan... kenapa semalem gak BBM aku?” Tanya Icha.

“Belajar sayang... “ Jawabnya.

“Allah... segitu seriusnya... sampek aku dilupain? Oke... aku juga gak akan BBM kamu” Ucap Icha kesal dan dia tak lagi bersandar pada Dhani.

Dhani hanya memandangi orang yang berada disampingnya itu, dia menatapnya dengan tatapan sedikit terheran-heran dan bertanya-tanya.

Sementara Icha masih kesal dengan Dhani, dia hanya melanjutkan membaca bukunya. Dhani tersebyum melihat tingkah laku Icha itu.

“Lagi dapet yah? Kenapa sensitif banget sihc? Hem?” tanya Dhani

“Au’, males ngomong sama kamu” jawab Icha kesal.

Ting tong... ting tong... ting tong

Suara bel masuk sudah berbunyi membuyarkan mereka berdua. Dhani menarik tangan Icha agar dia menatapnya. Dhani tersenyum melihat kelakuan orang yang dia sayangi itu. Dhani mengusap-usap rambut Icha sambil tersenyum sementara Icha masih saja manyun karena kesal dengan Dhani.

“Nanti aku telpon kalau sudah selesai belajar... gak usah marah gitu dong... hem...” bujuk Dhani.

“Janji?” tanya Icha meyakinkan

“Iya... “ Jawab Dhani dan disambut senyuman manis Icha. Mereka berdua akhirnya berpisah. Masing-masing mengambil jalan lain karena memang ruang ujian mereka berbeda.

***


Mata pelajaran terakhir hari ini yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Icha melewatinya tanpa hambatan, meskipun tak belajar apapun semalam maupun tadi. Icha keluar ruangan setelah menyelesaikan semua soalnya padahal baru 30 menit masuk. Saat Icha keluar dari ruang ujiannya. Pandangan matanya mengarah pada seseorang di ruang sebrang yang juga baru saja keluar dari ruangnya. Senyum manis merekah dibibir keduanya. Hingga mereka memutuskan untuk pulang bersama.

Tentu saja tidak pulang kerumah Icha, yang ada mereka berdua malah kena marah nenek dan kakek Icha. Mereka memutuskan untuk pergi ke Festival Makanan Asia yang sedang digelar disalah satu Mall sambil Icha menunggu dijemput mas Rezza.


Mereka menjajal semua makanan yang dijajakan disana. Mereka berdua terlihat bahagia sekali hingga rasa capek tak terasa. Mereka pun akhirnya duduk disebuah bangku yang masih tersedia. Keduanya masih asyik makan ice cream yang baru saja mereka beli. Hingga Icha membuka pembicaraan yang serius diantara mereka.

“Kita... mau sampai kapan seperti ini?” tanya Icha.

“Seperti ini bagaimana maksudmu?” Tanya Dhani balik.

“Mbak Zullfa dan mas Rezza kan udah dijodohkan, memang sih bukan karena cinta, tapi ini kan demi kelangsungan bisnis keluarga juga, kalau mereka jadi menikah, tahun depan setelah mas Rezza wisuda, kita akan jadi saudara, gak mungkin kan kita mau bilang ke keluarga kita masing-masing kalau kita saling suka” jawab Icha.

“Hemmmm” Dhani menghela napas panjang. Menghentikan acara makan ice creamnya yang masih lumayan banyak. Dia menatap Icha dengan serius saat ini. Sepertinya Icha sudah merasa bahwa Dhani benar-benar serius saat ini.

“Itulah alasanku kenapa sampai saat ini aku tidak menjelaskan status hubungan kita” lanjutnya.

“Bukanya aku tidak sayang padamu, aku hanya berusaha melindungimu dari amukan orang tuamu, terutama nenek dan kakekmu. Aku akan pikirkan jalan keluarnya, sampai saat itu tiba, jangan lakukan apapun tanpa persetujuan dariku, mengerti?” tanya Dhani.

“Ehm, tapi... apa tidak apa-apa jika kita seperti ini? Jujur saja... mas Rezza sudah tahu hubungan kita...” kata Icha.

“Hah??? Kamu serius?” tanya Dhani tak percaya.

“I... iya...” Jawab Icha sedikit takut.

“Allah... Icha... mas Rezza udah tahu itu sama aja kita bunuh diri, aku kan udah bilang untuk gak kasih tahu siapapun sekalipun itu Ridwan ataupun Mas Rezza. Aduh...” Dhani terlihat gelisah setelah mendengar jawaban Icha itu.

“Maafin aku, kamu kan tahu sendiri aku paling gak bisa boong sama mas Rezza. Aku juga gak mungkin nyembunyiin sesuatu dari mas Rezza terlalu lama. ” jawab Icha.

“Terus reaksi mas Rezza gimana?” Tanya Dhani.

“Mas Rezza ya tentu aja kaget, dia juga khawatir kalau rencana perjodohannya dengan mbk Zullfa jadi gagal. Cuma dia juga bilang hal yang sama kayak kamu, dia juga akan pikirin jalan keluarnya.” Jelas Icha.

“Kita pulang sekarang, mas Rezza udah BBM, katanya dia udah deket sini” Kata Dhani menyudahi pembicaraan mereka.

***


Malam ini Nenek dan Kakek Icha mengajak seluruh keluarga untuk makan malam diluar, meski jujur saja Icha sangat malas, karena tahu ini pasti pertemuan yang hanya membicarakan masalah orang-orang tua saja, dan anak-anaknya? Hanya untuk formalitas bahwa keluarga mereka dalam keadaan harmonis dan baik-baik saja. Icha hanya tidak suka dengan sikap pura-pura tamu yang bertemu dengan keluarganya saja.

Maka dari itu Icha sebenarnya memilih untuk belajar dari pada ikut dengan keluarganya. Namun Icha akan kena amuk nenek dan kakeknya kalau mengelak. Maka dari itu Icha hanya menurut saja.

Icha menggunakan gaun silver yang dipadukan dengan high hill putih ditambah dengan blazernya berwarna gelap makin menunjukkan bahwa Icha memang dari keluarga yang elegan. Meski sebenarnya Icha tidak suka berpenampilan seperti itu karena berpenampilan seperti itu bukanlah style Icha.

Malam ini sepertinya tamu nenek dan kakeknya sangatlah penting hingga mereka harus makan malam di The Langham Hotel. Keluarga Icha duduk disebuah meja makan besar yang sudah disiapkan di ruang VVIP untuk tamu-tamu khusus.

Sepertinya tamu nenek dan kakeknya belum datang, jadi mereka harus menunggu terlebih dahulu. Icha sebenarnya sudah sangat lapar. Ingin rasanya dia lari dari pertemuan ini lalu makan nasi goreng langganannya yang super banyak. Sayangnya dia pasti akan langsung dibunuh oleh nenek dan kakeknya jika berani melakukan hal itu. Makanya dia diam saja.

Tak lama kemudian sebuah keluarga memasuki ruangan itu. Nenek dan kakek Icha segera berdiri disusul oleh orang tua Icha lalu mas Rezza dan Icha pun tak punya pilihan selain ikut berdiri menyambut. Ada 4 orang dalam keluarga itu, seorang nenek, bersama anak dan cucu laki-lakinya. Kedua keluarga ini saling bersalaman sebagai sambutan. Lalu keduanya duduk kembali dan segera memesan makanan.

Sambil menunggu makanan pesananan datang, kedua keluarga ini sedang bercengkrama sebelum masuk ke pembahasan inti. Icha sebenarnya merasa risih karena nenek dari keluarga itu memandanginya terus sambil tersenyum. Icha pun menjadi sungkan kalau tidak ikut memandangnya dan membalas senyumnya.

“Sudah kelas berapa cucu perempuannya?” Tanya nenek itu.

“Owh... namanya Ifha Nurisya, dia sudah kelas 11 SMA” Jawab Nenek Icha.

“Owh... berarti kalian seumuran yah... di SMA berapa?” tanyanya lagi. Namun saat nenek Icha akan menjawab tiba-tiba saja dipotong.

“Biarkan Ifha Nurisya yang menjawabnya” lanjut nenek itu meminta Icha untuk menjawab pertanyaannya.

“Ahh? Aku? Ow maksudnya saya? Ahhh saya sekolah di SMA 13” jawab Icha sungkan.

“Ehmm, IPA? IPS?” tanya nenek itu pada Icha lagi.

“IPS” jawab Icha singkat.

“Ehm tidak apa jika kalian berbeda jurusan, akan semakin baik. Baiklah Ifha sepertinya makanannya sudah datang kita makan dulu” ajak nenek itu.

Icha merasa aneh dengan kata-kata nenek itu. Makanannya memang sudah datang yang akhirnya membuat Icha kegirangan karena makanan yang dipesan adalah Steak daging dalam dengan pemanggangan medium rare. Itu adalah favorite Icha. Icha memakannya dengan sopan karena ini pertemuan resmi. Meski dia sangat ingin sekali segera melahapnya semua tanpa sendok maupun garpu.

Ditengah-tengah acara makan, nenek itu kembali melanjutkan bicaranya. Dia membuat Icha sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh nenek itu kepada keluarganya. Hampir saja mas Rezza tersedak setelah mendengarnya.

“Begini, dari tadi aku belum mengenalkan cucuku kepada kalian. Namanya Rasyid Ilham Akbar Pujianto Putra. Biasa dipanggil Rasyid. Dia adalah anak tunggal putraku, dia sekarang bersekolah di MAN 6. Jurusan IPA. Ifha, tentunya nenekmu belum memberitahukan ini, bahwa kedua keluarga besar kita akan melakukan perjodohan antara kalian.” Jelasnya.

“Apa?” tanya Icha Terkejut.

“Tentu kamu tidak akan menolak permintaan nenekmu kan? Perjodohan ini akan sangat menguntungkan baik pada bisnis keluargamu dan keluarga kami juga. Ifha sudah besar dan aku dengar Ifha sangat pandai disekolah, jadi Ifha pasti mengerti maksud nenek kan?” tanyanya.

“Ehhh... i... iya...” jawab Icha dengan sedikit ragu-ragu.

“Rasyid, beri salam pada Ifha” pinta nenek itu pada cucunya.

“Hallo Ifha Nurisya, bagaimana jika aku panggil Icha aja?” tanyanya.

“Ehh?? Owq iya... boleh hallo juga Rasyid” sapa Icha padanya.

Acara makan malam ini sangat membuat Icha terus memikirkan nasib Dhani selanjutnya. Disaat bersama keluarga besarnya seperti ini tidak mungkin Icha akan mengatakan bahwa dia sudah punya orang yang dia cintai, apalagi orang itu adalah Dhani. Apa yang akan dikatakan Ayah Icha kalau tahu hal ini. Icha lebih memilih diam. Mas Rezza tahu betul seperti apa perasaan adiknya saat ini.

Selesai makan, Icha dan Rasyid diminta untuk jalan-jalan keliling hotel karena keluarga mereka akan membicarakan sesuatu. Mereka berdua akhirnya jalan-jalan didekat kolam renang hotel. Selama beberapa saat Rasyid memandangi Icha dengan tatapan yang aneh. Icha merasa risih dengan hal itu, namun dirinya hanya diam saja, karena dia belum terlalu mengenal Rasyid. Saat mereka sedang berjalan dipinggir kolam, karena baru saja gerimis, membuat lantainya sedikit licin, Icha beberapa kali hampir terjatuh. Dia sangat ingin sekali melepas high hill nya itu sekarang, tapi tentu sungkan dengan Rasyid. Hingga akhirnya Icha benar-benar terpeleset dan hampir saja terjatuh ke kolam.

Untung saja Rasyid menangkapnya. Tangan Rasyid yang lumayan kekar itu menahan tubuh Icha yang hampir saja terlempar ke kolam. Beberapa saat Icha dan Rasyid hanya saling pandang saja. Icha menelan ludahnya sendiri karena saat ini jantungnya serasa ingin lompat dari dalam tubuhnya.

“Kamu gak apa-apa?” tanyanya, membuyarkan lamunan Icha.

“Owh... iya...” jawab Icha masih sedikit terkejut.

“Hemmm” Rasyid hanya tersenyum dan masih dalam posisinya memegangi Icha. Icha pun juga tidak bergerak dari posisinya saat ini yang masih dipegang oleh Rasyid.

“Kamu lumayan juga...” Kata Rasyid sambil melihat tubuh Icha.

“Hahh?” tanya Icha keheranan.

“Bagaimana kalau begini...” tiba-tiba Rasyid mencium Icha. Rasyid melumat bibir Icha dengan sangat Kasar. Icha berusaha melepaskan diri dengan mendorong Rasyid. Hingga akhirnya dia bisa terlepas dari pelukan Rasyid.

“Heh... bagaimana kalau nenekmu tahu soal ini? Kira-kira apa ya yang akan nenekmu lakukan padamu? Ahhh mungkin perjodohan kita bisa dibatalkan.” Kata Icha mengancam.

“Hehh... aku kan hanya bercanda... santai saja”

‘PLAKKKK’

Sebuah tamparan mendarat dipipi kiri Rasyid. Iya baru saja Icha menampar Rasyid. Icha sangat kesal dengan apa yang baru saja Rasyid lakukan padanya dan yang dia katakan pada Icha sungguh membuatnya sakit hati.

“Apa kamu bilang? Bercanda? Wahhh aku akan benar-benar mengatakan ini pada nenekmu!” kata Icha sambil berniat meninggalkan Rasyid. Namun rupanya Rasyid berhasil menahan Icha dengan menarik tangannya hingga Icha jatuh kepelukan Rasyid lagi.

“Ayolah Cha... jangan seperti ini... aku janji tidak akan mengulanginya lagi... oke?” tawar Rasyid.

“Heh’ akhirnya aku tahu bahwa kamu ini takut banget yah ama nenek kamu, oke, awas kamu ulangi lagi, aku akan kasih tau semuanya sama nenek kamu!” ancam Icha,

“Oke... oke...” jawab Rasyid.

“Sekarang, lepasin aku!” Pinta Icha. Yang langsung di respon oleh Rasyid yang langsung melepaskan pelukannya pada Icha. Icha membenarkan rambutnya dan blazer yang dia gunakan. Mungkin salah satu alasan Rasyid seperti itu adalah penampilan Icha yang terlalu terbuka malam ini.

Akhirnya mereka berdua kembali ketempat pertemuan tadi. Karena acara pertemuan malam ini sudah selesai, mereka semua akhirnya memutuskan untuk pulang. Dan mereka berjanji akan mengadakan acara makan dan pertemuan yang lebih sering lagi dikemudian hari untuk membicarakan masalah pertunangan Icha dengan Rasyid.

***


Sesampainya dirumah Icha segera melepas blazer dan sepatunya yang lalu dia lempar kesudut ruangannya. Dia begitu kesal dengan pertemuan malam ini. Apalagi yang telah Rasyid lakukan terhadapnya tadi. Icha sangat kesal padanya. Padahal baru pertama kali bertemu dia sudah berani seperti itu padanya.

Dimas dan Dhani saja tidak pernah berani melakukan sesuatu yang lebih dari ciuman pipi maupun kening, kenapa anak itu sudah berani mencium bibirnya. Pikir Icha dalam pikirannya.

Icha kemudian mengambil tasnya dan melihat handphonenya yang penuh dengan panggilan tak terjawab. Pesan BBMnya juga membuat handphonenya menjadi lemot berjalan. 15 sms yang belum terbaca. Dan semua itu hanya dari satu nama kontak, siapa lagi kalau bukan *Dhani-ku*. Begitu Icha menamai nomor Dhani dalam handphonenya.

Icha tahu, Dhani besok akan sangat marah besar padanya. Padahal tadi disekolah dia sendiri yang meminta Dhani menghubunginya. Namun acara nenek dan kakeknya yang tiba-tiba saja mengajaknya keluar membuatnya lupa mengatakannya pada Dhani. Akhirnya jadi seperti ini. Icha segera membalas semua pesan dan BBM dari Dhani. Namun jangankan dibaca, laporan terkirim saja tak ada, hanya tanda saja yang terlihat di BBM Icha. Pesannya juga tidak ada yang terkirim. Saat Icha berniat menelponnya, nomornya malah tidak aktif.

Icha tambah gelisah dengan Dhani besok disekolah. Icha sebenarnya tidak ingin terlalu memikirkannya terlalu keras, karena besok dia masih harus ujian lagi. Namun bagaimanapun juga ini salahnya, telah membuat Dhani seperti ini. Makanya Icha tidak bisa tenang belajar. Dia selalu melihat handphonenya berharap tanda centang itu berganti “R”. Namun Nihil, sampai Icha selesai belajar, jangankan “R”, “D” saja tidak. Icha akhirnya memutuskan untuk menjelaskannya besok saja di sekolah dan dia pun segera beranjak tidur, karena besok dia masih harus Ujian mata pelajaran yang lumayan sulit yaitu geografi, ekonomi dan bahasa Inggris.

***


Icha melihat Dhani sekilas baru saja melewati lorong tempat loker siswa. Dia segera berlari mencari perginya Dhani. Icha menemukan Dhani sedang bercengkrama sengan teman-temannya didepan ruang ujian. Sesaat Icha terdiam memandangi Dhani yang sedang asyik bercanda dengan teman-temannya. Namun tiba-tiba salah satu teman Dhani itu mengatakan pada Dhani bahwa seseorang sedang melihatnya. Saat Dhani menoleh kearah temannya menunjuk, dia melihat seorang anak perempuan yang sedang berdiri menatapnya.

Dhani pun berpamitan dengan teman-temannya untuk menemuinya. Icha sudah tahu Dhani sedang menuju kearahnya. Dhani sepertinya tidak ingin bicara pada Icha. Buktinya saat dia sudah tepat didepan Icha, dia hanya diam saja dan tertunduk. Icha pun menghela napasnya panjang. Dia tahu persis Dhani saat ini sedang tidak baik perasaannya.

“Marah? Maaf... bukannya gak mau hubungin kamu, aku lagi ad...” belum selesai Icha bicara Dhani sudah memotong pembicaraannya.

“Sudahlah... aku sudah baca semua sms mu dan BBM mu semalam. Jadi tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi, sudah kembalilah keruanganmu, sebentar lagi ujian dimulai, lain kali saja kita bahas lagi.” Kata Dhani. Sambil berbalik mau meninggalkan Icha. Namun rupanya tangan Icha menahan lengan Dhani agar dia tetap disitu untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan Icha padanya. Dan Dhani pun akhirnya luluh.

“Jangan marah kayak gini dong... kamu boleh ngomelin aku, aku lebih suka kamu ngomelin aku dari pada nyuekin, ngindarin dan diemin aku kayak gini... aku gak suka kamu diemin...” kata Icha sambil sedikit manyun berharap Dhani akan memaafkannya.

Dhani menghela napasnya panjang, dia menatap wanita didepannya itu dengan tatapan yang berbeda. Sebenarnya dia ingin marah besar pada wanita itu, tapi rasa sayangnya mengalahkan semuanya. Dia tidak tega jika dia memarahi seorang perempuan. Makanya Dhani memilih jalan mendiamkannya. Namun Dhani kembali tidak tega melihat sikap Icha seperti ini.

“Iya... iya aku maafin... lain kali kasih kabar setidaknya itu satu sms saja, katakan kalau memang kamu sibuk, dengan begitu aku tidak akan terlalu mengkhawatirkanmu...” kata Dhani pada Icha memelankan intonasinya.

“Ehmmm... maaf ya sayang... janji dehc gak akan ngulangin lagi...” kata Icha berjanji pada Dhani untuk menebus kesalahannya semalam.

“Hei sudah berani manggil aku sayang ya... hehehe” balas Dhani sambil tersenyum dan mengusap kepala Icha dan menariknya dalam dekapan Dhani.

***


Ujian telah selesai seminggu yang lalu dan kini hasilnya sudah diumumkan. Pagi ini dipapan pengumuman sangat ramai dikerubuni para murid untuk mengetahui jumlah nilai komulatif mereka dan peringkat mereka disekolah. Tak terkecuali untuk mengetahui pembagian kelas berdasarkan urutan rangking.

Icha, Ridwan, Dhani dan kawan-kawan lebih memilih untuk melihatnya terakhir saja karena mereka tidak ingin berdesak-desakan dengan anak-anak yang lain. Namun berbeda dengan Putri. Dia berusaha mendobrak kumpulan murid-murid yang lain untuk melihat nilainya dan tentunya nilai teman-temannya.

Selesai melihatnya, Putripun menghampiri Icha dan kawan-kawan. Untuk negatakan hasil yang dia lihat tadi.

“Seperti biasa, Icha selalu nomor 1, jumlah nilaimu hampir sempurna... selamat ya Cha...” kata putri pada Icha.

“Yang bener? Wahhh makasih ya Put...” kata Putri.

“Ehm... aku peringkat 34, naik 3 peringkat, Iis peringkat 18, Lesty peringkat 27 turun 7 peringkat, Lyly... wah wah... terlalu banyak pacaran sih... makanya peringkatmu ada dibawahku, peringkat 35, Ridwan peringkat 6, wah wah... masih stuck ditempat aja sih, nah ini... baru aja pindah udah peringkat 2 aja ngalahin Rima” jelas Putri.

“Sekarang tuh nenek lampir peringkat berapa?” tanya Ridwan.

“Peringkat 4” jawab Putri.

“Bentar-bentar, kalo Rima peringkat 4, peringkat 3nya siapa dong put?” tanya Iis penasaran.

“Dimas, wahhh dia kembali lagi masuk 3 besar setelah sekian lama hiatus di peringkat 5, dan sekarang peringkat 5 nya malah ditempatin mas Ridho, lucu gak? Hemmm” kata Putri sambil geleng-geleng.

“Kita semua tetep satu kelas kan? Syukurlah kalau begitu, yahhh meski kali ini Lyly yang berada diperingkat terakhir” Kata Ridwan.

“Ngeledek ya?” tanya Lyly sambil bersiap memukul Ridwan.

“Gak ngejek... Cuma menyindir hahahaha”

Sebuah pukulan mendarat tanpa hambatan dilengan Ridwan dan sukses membuat Ridwan kesakitan bukan main. Akhirnya kejar-kejaranpun terjadi antara Lyly dan Ridwan. Memang terlihat masih kekanak-kanakan namun itulah yang menjadi pelepas stress mereka dikala seperti ini.

***

Saat Icha sampai dirumah bersama mas Rezza, rumah terasa sepi sekali, TV tidak menyala, suara radio yang memutar lagu-lagu jawa juga tidak terdengar, Icha segera menuju kekamar Bundanya untuk menanyakan dimana nenek dan kakeknya. Ternyata nenek dan kakeknya sudah pulang tadi siang. Meski senang karena nenek dan kakeknya sudah tidak menganggunya dirumah lagi, namun bagaimanapun juga, Icha pernah dibesarkan oleh mereka, selain itu rumah menjadi sepi lagi.



Icha memberikan hasil ujian bulanannya pada sang bunda untuk dilihat dan diberikan pada ayahnya nanti ketika pulang nanti malam. Lalu setelah itu Icha segera menuju kamarnya dilantai atas untuk berganti baju dan segera makan lalu tidur. Kegiatan hari ini sudah cukup membuatnya kelelahan tentu sekarang dia membutuhkan waktu istirahat.

Sebelumnya Icha mandi dulu karena dia tidak mungkin akan tidur dalam keadaan tubuh kotor dan penuh keringat. Selain itu tak lupa laporan pada Dhani sebelum tidur, takutnya nanti Dhani berpikiran yang tidak-tidak lagi tentangnya.

***

Anak-anak SMA 13 terlihat heboh saat bergerumbul di papan pengumuman sekolah. Icha yang baru saja datang bersama Dhani dan Ridwan keheranan melihat anak-anak yang bergerumbul itu. Mereka bertiga pun segera menyusul untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.



Ahhh rupanya acara ulang tahun sekolah yang kali ini akan diadakan secara meriah. Acara ulang tahun sekolah tahun ini akan mengadakan beberapa event. Seperti Bioskop sekolah, berbagai lomba olahraga, seni, ilmiah, dan tak lupa di puncak perayaan nanti akan ada acara Prime Night untuk semua murid yang akan dimeriahkan oleh artis nasional serta pesta kembang api tepat ditengah malamnya.

“Gue pasti bakalan ikut lomba Jujitsu, sepak bola sama design poster, kalau lu Dhan?” Tanya Ridwan

“Ahh? Gue? Gak tau lah... hehehehe” jawab Dhani sambil menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal sama sekali.

“Apa nya yang gak tau, kamu harus ikut lomba ini!” kata Icha sambil menunjuk poster lomba basket.

“Ini? Aku?” tanya Dhani keheranan.

“Iyap... kamu pikir aku gak tau, mbk Zullfa udah bilang sama aku semuanya, punya bakat gak usah dipendem deh...” kata Icha pada Dhani.

“Lu atlet Basket Dhan?” tanya Ridwan keheranan.

“Hehehehe... percaya aja ama Icha... gak lah... tulang selangkangku pernah patah, aku gak bisa main basket..” jawab Dhani.

“Makanya kalo naik motor itu hati-hati, sampek nyungsep dibawah mobil kan, hahhh pokoknya kamu harus ikut! Titik. Gak pakek acara bantah aku!” Paksa Icha pada Dhani.

“Hahhhh... iya iya... terus kamu? Kamu juga harus ikut salah satu lomba, ahhh yg ini kayaknya cocok... “ kata Dhani sambil mengambil poster lomba dance sambil tersenyum.

“Wahhh wahhh rupanya ada sesuatu yg sedang terjadi diantara kalian yah... oke, aku udah tahu koq hahahahha... rasain noh Cha... gantian lu yang kena hahahahahahahaha” ledek Ridwan sambil meninggalkan mereka berdua.

“Ihhh apaan sih... aku udah berhenti ngedance Dhan...” sela Icha.

“Ehmmm gak ada kata berhenti, buktinya kamu maksa-maksa aku, sekarang gantian, gak ada acara bantah aku. Oke?” kata Dhani sambil berjalan mendahului Icha. Meski kesal harus mengulang lagi masa lalunya, namun Icha senang jika yang memintanya adalah Dhani.

Tiba-tiba saat Icha menyusul Dhani dan Ridwan menuju kelasnya, ada sebuah tangan yang menariknya. Saat Icha berbalik, Icha melihat seseorang yang sudah tidak asing lagi. Icha hanya menghela napas saat mengetahui orang itu.

Orang itu memandang Icha dengan tatapan sangat sayu. Berharap Icha akan mendengarkan dia meski hanya beberapa kata saja. Icha pun mengerti dan akhirnya memutuskan untuk mendengarkan apa yang akan dia bicarakan.

“Udah lama kamu menghindari aku terus, kalo kamu menghindari aku karena hal lain aku gak akan marah, tapi jangan jadikan Dhani sebagai pelarianmu” katanya.

“Dimas, aku udah males yah urusan sama Rima dan juga kamu, aku sama sekali gak menganggap Dhani sebagai pelarianku darimu, aku memang menyukai Dhani, kenapa? Kamu gak suka? Aku ngindarin kamu karena sekarang aku mengerti sumber dari semua permasalahanku dengan Rima selama ini hanyalah dirimu. Aku dan Rima saat ini sudah saling mengerti satu sama lain, kami juga sudah saling memaafkan yah meski belum sepenuhnya, tapi setidaknya kami sama-sama punya itikad baik. Dan satu-satunya cara agar kita tidak bermasalah lagi adalah dengan menghindarimu. Paham?” jelas Icha sambil akan pergi meninggalkan Dimas.

“Kenapa kamu meluk aku saat itu?” Tanya Dimas pada Icha yang membuatnya menghentikan langkahnya.

“Kenapa kamu meluk aku saat aku ngajak kamu nonton waktu itu jika kamu udah gak suka lagi sama aku? Kenapa kamu masih nolongin aku saat aku habis dihajar sama Ridwan?” Lanjutnya.

“Pelukan itu, anggap saja sebagai salam perpisahan, dan masalah perhatianku, itu wajarkan sebagai teman.” Jawab Icha sambil terus berjalan.

“Teman?” Tanya Dimas sendirian, karena Icha saat ini sudah jauh darinya.

“Aku gak ada pilihan lain selain itu” Jawab Icha.

Memang benar jika sejak kejadian foto itu Icha menghindari Dimas. Karena mendapat amukan dari mas Rezza. Namun setelah itu hubungannya dengan Rima membaik karena bantuan Dhani yang menjelaskan semua kesalahpahaman antara Icha dan Rima. Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk sama-sama menghindari Dimas demi kebaikan bersama.

Seperti yang sekarang terlihat, Icha malah lebih dekat dengan Dhani. Icha sama sekali tidak mengganggap Dhani sebagai pelariannya. Dia benar-benar nyaman bersama dengan Dhani, jadi Icha serius dengan Dhani. Begitu pula sebaliknya. Hanya saja karena keluarga Icha dan Dhani sudah menjodohkan kedua kakak mereka, mereka berdua jadi tidak leluasa. Maka dari itu mereka tidak memperjelas status hubungan mereka apakah berpacaran atau tidak. Yang pasti mereka hanya saling sayang satu sama lain.

Icha dan Dhani sama-sama takut akan amukan orang tua mereka. Sehingga lebih baik menyembunyikannya saja sementara waktu. Hanya mas Rezza, mbk Zullfa dan Ridwan yang tahu tentang hubungan Icha dan Dhani. Icha dan Dhani sangat berhati-hati dalam berhubungan. Tidak setiap hari juga Icha di antar jemput Dhani. Terkadang Ridwan atau malah mas Rezza juga. Sehingga mereka terkesan seperti teman akrab biasa.

“Padahal aku berharap kita bisa memulainya kembali dari awal” Kata Dimas.

“Kamu lebih tahu dibandingkan siapapun tentang alasan kita berpisah, kalau kamu masih mengingatnya dengan jelas tentu harusnya kamu lebih paham situasinya tidak baik, dalam situasi yang tidak baik ini mana mungkin kita bisa memulainya dari awal lagi” jawab Icha. Sesaat mereka berdua terdiam.

“Memulai semua dari awal...., itu....., sangat melelahkan bukan?” tanya Icha sambil meninggalkan Dimas yang masih ditempatnya. Setelah Icha terlihat jauh Dimas tetap tak beranjak dari tempatnya. Dia masih tersu bersikeras dalam pikirannya untuk kembali dengan Icha.

“Benar, memulai dari awal lagi itu memang melelahkan” katanya pada diri sendiri.

***


“Kalian harus dengar ini... ini berita menggemparkan!” seru seseorang yang baru saja masuk kelas XI IPS-1 itu.

“Emang apaan sihc?” tanya Irfan.

“Icha... Icha balik ngedance lagi!!!” Ungkapnya yang disambut ekspresi terkejut dari semua murid.

“Gak mungkin lah...” kata Lesty menyangkal berita itu.

“Iya... lagian udah lama Icha kan berhenti” Tambah Iis.

“Hei hei... kalian ini... Icha itu balik lagi nge dance soalnya Dhani yang minta....” Jelas Ridwan tanpa dosa. Namun tiba-tiba dia menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang baru saja dia katakan.

“Heh??? Gara-gara Dhani? Ahhhh... owhhh Ridwan... jadi selama ini... kamu nyembunyiin ini dari kita yah? Wah wah...” Kata Lyly pada Ridwan sambil bertolak pinggang memandang Ridwan.

“Hehehehehehe... “ Ridwan hanya cengengesan.

“Hahh... tapi syukurlah tuh anak bisa move on dari Dimas, setelah sekian lama” sambung Rima.

“Heh nenek lampir nyaut-nyaut aja” kata Ridwan pada Rima yang duduk tak jauh dari dirinya.

“Heh kakek lampir, dengan begini tidak akan ada lagi yg perlu kami perebutkan kan? Harusnya kamu jelasin sama temen-temen mu yang lain agar mereka tidak underustimate sama aku lagi, aku juga sudah gak sama Dimas. Iya kan Dim?” Tanya Icha pada Dimas yang duduk disebrangnya yang sedang mendengarkan music. Namun sebenarnya dia hanya berpura-pura saja.

“Wahhh akhirnya lu bangkit dari kubur juga ya Rim hahahaha... iya dehc iya... sekarang keadaannya udah jelas, lu udah gak sama si brengsek lagi, dan Icha sekarang juga udah sama Dhani. Wahhh keadaan damai yang sungguh dari dulu gue pengenin, karena jujur aja capek ngelerai kalian terus” Kata Ridwan sambil berdiri mau keluar kelas. Namun tiba-tiba aja Dimas berdiri dan menghampiri Ridwan lalu menarik kerang baju Ridwan menatapnya dengan sinis. Seakan Dimas sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Ridwan mengenai dirinya tadi.

***

Saat pulang sekolah rupanya hujan, kebanyakan murid belum bisa langsung pulang karena belum dijemput atau tidak membawa payung dan jas hujan. Sehingga mereka terpaksa masih disekolah hingga hujan reda.



Icha juga masih di sekolah, bukan karena dia tidak membawa payung atau Dhani yang tidak membawa jas hujan. Hanya saja dia harus latihan untuk lomba dance yang akan dia ikuti dalam rangka memeriahkan ulang tahun sekolahnya. bersama dengan teman-teman lamanya termasuk Rima dan junior-junior yang lain.

Icha dan Rima terlihat sedang sedikit berdebat untuk membuat sebuah gerakan dalam dance mereka. Namun mereka terlihat sangat senang dengan perdebatan mereka itu. Dibandingkan dnegan bertengkar karena masalah Dimas. Rima lebih senang berdebat dengan Icha maslaah pelajaran atau dance.

Mereka dulunya adalah teman satu club dance di SMP hingga berlanjut di SMA. Namun Icha berhenti setelah Rima berhenti karena permusuhan mereka yang dipicu oleh Dimas. Dan kini semua sudah kembali seperti semula karena bantuan Dhani. Maka dari itu Rima juga menjaga rahasia antara Dhani dan Icha sebagai rasa terima kasihnya.

“1... 2... 3... 4... 5... 6... 7...8” Hitung Icha dan Rima sambil mencoba menggabungkan gerakan-gerakan mereka dalam dance.

“Oke kita coba pakek musiknya satu kali, lalu kita lanjutin besok” Ajak Icha.

“Siap kak...” jawab yang lain.

Musik pun dimulai. Formasi dan gerakan yang telah mereka buat tadi mereka peragakan dengan music untuk mencocokkan antara gerakan dan rhytme lagunya. Gerakan Icha dan Rima bersama dengan teman-teman yang lain terlihat sangat energik dan apik. Meski baru ½ bagian yang mereka selesaikan, namun sudah dapat dipastikan dance mereka kali ini akan menjadi sangat luar biasa.

Musikpun berhenti dan mereka akhirnya menyudahi latihan hari ini. Icha menyeka keringatnya dengan handuk kecil yang sengaja dia bawa hari ini. Dan minum air mineral yang dibelikan Dhani sebelum dia latihan tadi untuk menghilangkan dahaganya usai latihan. Icha segera mengirim BBM pada Dhani untuk mengatakan bahwa dirinya sudah selesai latihan.

Aku jemput kesitu” balas Dhani dalam BBMnya.

“Dijemput Dhanikah?” tanya Rima.

“Ehhh?? Iya...” Jawab Icha sambil tersenyum.

Icha dan Rima berjalan keluar ruang latihan untuk pulang. Langkah mereka terhenti ditempat saat sebuah kilat menyambar. Rima tahu Icha sangat takut sekali dengan kilat dan petir. Lampu lorong sekolah berkedip-kedip seakan akan mati. Dhani terlihat menaiki tangga dan dia sudah terlihat oleh pandnagan Icha yang masih memegangi telinganya. Dhani merasa terheran-heran melihat Icha yang seperti ketakutan. Tatapan Dhani pada Rima sedikit tidak enak. Namun Rima malah membalasnya dnegan tatapan tanda tanya.

Dhani menghampiri Icha. Namun kembali lagi sebuah kilatan dan petir menyambar membuat Icha berteriak. Saat yang bersamaan lampu lorong itu terjadi percikan dan hampir mengenai Icha, dengan sigap Dhani melindungi Icha yang berada dibawahnya. Rima segera minggir karena juga takut terkena konsleting lampu itu.

Dhani mendorong Icha minggir kedekat pintu kelas sambil memeluknya. Namun sialnya pergelangan tangan kiri Dhani membentur engsel pintu. Icha tidak mengetahuinya, dia malah memeluk Dhani sambil menangis karena ketakutan. Dhani masih menahan sakit dipergelangannya. Dia berusaha menutupinya dari Icha.

“Sudah-sudah... ayo cepat pulang..., mas Rezza udah khawatir sama kamu” kata Dhani sambil menenangkan Icha.

“Icha takut sama petir dan kilat Dhan, lebih baik kamu cepetan dehc, Icha punya phobia” jelas Rima pada Dhani.

“Owh... kamu punya phobia?” tanya Dhani mengklarifikasi pada Icha

Icha hanya menganggguk mengiyakan saja.

“Ampun... ya udah ayo pulang... duluan ya Rim, thanks infonya” kata Dhani pamitan pada Rima.

“Ehmm hati-hati Dhan” jawab Rima.

***

Icha merasa aneh dengan Dhani yang hanya menyetir dengan tangan kanannya saja. Tidak biasanya seperti itu, namun Icha tidak ingin terlalu memikirkannya. Padahal sebenarnya Dhani sedang menahan sakit dipergeangan tangannya itu karena tadi terbentur engsel pintu saat menyelamatkan Icha.



Saat sampai dirumah Icha, Dhani langsung meminta Icha masuk kerumah sebelum ada kilat dan petir lagi. Icha mengiyakannya dia masuk sebelum Dhani pergi. Setelah memastikan Icha masuk kerumahnya dnegan selamat, Dhani pun akhirnya pulang. Namun dia mengurungkan niatnya. Dia berbalik arah menuju rumah sakit untuk memeriksakan tangannya. Icha melihat Dhani berputar arah. Dia membuka korden rumahnya. Icha heran kenapa tiba-tiba Dhani berputar arah? Mau kemanakah dia? Tanya Icha dalam hati, namun Icha membiarkannya saja karena mungkin Dhani memiliki urusan yang lain. Pikirnya.

Chapter IV




Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə