Janji Diterbitkan secara mandiri melalui Nulisbuku com Janji Oleh: Nisya Septik Prianda Copyright 2014 by Nisya Septik Prianda Penerbit



Yüklə 0.76 Mb.
səhifə5/11
tarix18.01.2018
ölçüsü0.76 Mb.
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11
Pilihan yang Sulit”
Icha dan Dhani terlihat baru saja selesai keluar dari masjid Al-Mujahidin yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Mereka berdua pulang bersama, sementara mbk Zullfa pulang bersama dnegan mas Rezza. Icha segera naik kemotor Dhani. Kini Dhani sudah kembali menaiki motornya, yah meski tidak terlalu sering. Hal itu karena dokter mengatakan bahwa tangan Dhani saat ini sudah semakin membaik. Maka dari itu Dhani bisa kembali menaiki motor ninja hitam kesayangannya itu.

“Habis ini jangan lupa tadarus yah, jangan lupa janjimu yang mau Khatam Al-Quran di ramadhan kali ini” kata Icha mengingatkan Dhani.

“Iya iya... kamu juga...” jawab Dhani.

Dhani menghentikan motornya tepat didepan rumah Icha. Icha segera turun dari motor Dhani. Dhani melepaskan kopyahnya dan memasukkannya didalam saku jaket yang dia kenakan. Lalu berpamitan pada Icha.

“Owh iya... jangan lupa besok kita makan malam bersama keluarga besar.” Kata Dhani pada Icha mengingatkan acara besok sebelum dia pulang.

Belum sempat Icha membalas kata-kata Dhani, dia sudah melaju duluan. Icha sangat kesal, namun Icha tahu sebenarnya pertemuan besok itu sebenarnya bukan untuk mereka tapi kakaknya dengan mbk Zullfa.

Icha masuk kerumahnya dan disana sudah ada nenek dan kakeknya. Seharusnya kalau orang normal anak dan cucu yang mendatangi nenek dan kakeknya. Namun berbeda dengan keluarga ini. Nenek dan kakek Icha yang mendatangi rumahnya. Icha tahu sebenarnya bukan karena sebentar lagi lebaran idul fitri. Namun karena ada pertemuan keluarga besar bersama dengan keluarga Dhani. Belum lagi pertemuan dengan keluarga Rasyid. Icha sangat kesal jika dia harus bertemu dengan Rasyid lagi, namun apa boleh buat.

“Awakmu muleh Tarawih ambi sopo nduk? Dhani?” tanya kakeknya.

“Injih eyang kakung..., mas Rezza mantuk sareng mbk Zullfa.” Jawab Icha dengan bahasa jawa yang sopan.

“Ojo lali, mene buko bareng keluarga ne Rasyid. Dandan seng ayu nduk” sahut neneknya.

“Eyang Putri, mbenjeng mboten buko sareng kaleh keluarga nipun mbk Zullfa?” tanya Icha sambil mengambil minum di almari es didapurnya.

“Owalah... koyok ngunu koq yo mbok pikir, lha yo mene kan isok bareng 3 keluarga kan? Mesisan lah...” jawab Neneknya.

“Eh??? 3 3 nipun eyang? Dateng pundi eyang?” tanya Icha.

“Iyo, lapo o??? Awakmu gak gelem tha? Nang omah kene tho nduk... makane iki eyang mau belanja okeh, mene awakmu lak west prei tho, ewangi eyang masak lho... arek wedok kudu iso masak” kata neneknya.

“Injih injih eyang...” jawab Icha sambil menuju kamarnya.

Icha memikirkan besok apa yang akan dikatakan oleh Dhani saat Dhani tahu bahwa Icha telah dijodohkan dengan pacar mantan kekasihnya. Icha tentu tidak bisa menghindari pertemuan besok. Namun jika bisa tentu Icha sangat ingin menghindarinya. Icha tidak mau memikirkannya sekarang, dia pergi mengambil air wudhu lagi untuk pergi membaca Al-Quran. Hal ini dia lakukan karena dia telah berjanji dengan Dhani bahwa mereka akan khatam Al-Quran bersama-sama saat lebaran idul fitri nanti. Makanya Icha sesegera mungkin menyelesaikannya.

***

Dhani sedang membaca Al-quran sampai juz 23, namun saat dia akan melanjutkan ke ayat berikutnya, pintu kamarnya dibuka oleh seseorang dari luar. Dhani menyudahi membaca Al-Qurannya. Dia menoleh kearah pintu dan rupanya ada kakaknya, mbk Zullfa yang meminta Dhani untuk turun karena ayah dan ibunya ingin bicara masalah keluarga. Dhani pun mengiyakan dan segera memakai celana pendek kesukaannya dan melepas sarung yang melingkar dipinggangnya dan juga kopyah hitam yang berada dikepalanya.



Saat sampai dibawah, ayah dan ibu Dhani sudah duduk diruang keluarga, Dhani pun ikut duduk bersebelahan dengan kakaknya. Dhani duduk dengan sangat santai. Ayah dan ibunya hanya tersenyum melihat kelakuan anak laki-laki mereka satu-satunya itu. Dhani hanya memandangi ayah dan ibunya sesaat lalu dia membuang pandangannya. Jujur saja karena sesuatu hal Dhani sangat tidak menyukai orang tuanya.

“Adikmu makin dewasa aja... Zull, sekarang dia baca Al-Quran lagi setelah khataman kedua, dia jarang banget baca Al-Quran, sekarang balik lagi... hehehehehe hebat anak ayah...” kata ayah Dhani pada kakaknya.

“Gak tau nih yah, kesambet malaikat mana dia hahahaha” jawab Mbk Zullfa.

“Kesambet malaikat Izroil mbk” jawab Dhani kesal.

“Udah-udah... Dhan gak lupakan kita besok mau buka bersama sama keluarganya mas Rezza, nah kebetulan tadi keluarganya Anita juga menghubungi untuk mengajak kita buka bersama, nah karena ini sepertinya kebetulan yang tidak kita sangka, ya sudah ibu memutuskan untuk mengajak mereka buka bersama dengan keluarga mas Rezza, gak apa-apakan?” tanya ibu Dhani padanya.

“Ehhh??? Ibuk koq gak bilang-bilang kalo Anita... eh maksudku keluarganya Anita ngajak buka bersama? Emang Anita udah balik ke Indonesia?” tanya Dhani balik.

“Udah, lagian kamu ini aneh-aneh aja, sebentar lagi kan lebaran masa’ iya Anita gak pulang? Tadi pagi dia sampek, dia pengen hubungin kamu, tapi katanya dia pengen ngasih surprise besok.” Jawab ibunya.

“Ahhh gak asyik ahh... masa’ iya acara 2 keluarga diintervensi sama keluarga lain” jawab Dhani kesal sambil melempar punggungnya ke sandaran sofa.

“Hehh kamu ini! Besok itu ada 3 keluarga besar yang berkumpul. Lagian ibumu juga udah ngabarin keluarganya mas Rezza kalo keluarganya Anita mau ikut. Mereka mengiyakan. Jadi besok akan ada 4 keluarga besar yang berkumpul. Semua keluarga yang datang besok akan menjadi keluarga kita juga. Sudah gak usah bawel.” Bentak ayahnya pada Dhani.

“Ahhh iya iya... “ jawab Dhani kesal karena besok dia akan bertemu dengan tunangannya. Lalu dia akan mengatakan apa pada Icha ketika bertemu besok.

Icha pasti akan sangat marah ketika Dhani tahu bahwa dirinya sudah bertunangan dengan orang lain. Namun tanpa sepengetahuan Dhani juga, Icha pun juga melakukan hal yang sama. Dia juga kebingungan akan bicara apa pada Dhani ketika mereka bertemu besok diacara buka bersama keluarga besar mereka.

Dhani pamitan untuk masuk kamarnya karena hari ini dia sangat lelah sekali. Mbk Zullfa mengingatkan adiknya untuk tidak main PS malam ini. Dhani hanya tersenyum pada kakaknya, dia memang sering menggoda kakaknya dengan bermain PS hingga malam hari sehingga membuat mbk Zullfa tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan tugas makalahnya.

***

Pagi-pagi Dhani sangat risih dengan bunyi handphonenya yang tidak berhenti sejak tadi. Dhani melihat jam sudah menunjukkan pukul 02.44, Dhani pun segera turun dan melihat meja makan sudah ada ibunya yang sedang menyiapkan makan sahurnya. Terlihat mbk Zullfa juga baru bangun lalu menuju kamar mandi untuk cuci muka.



Dhani segera duduk di kursi meja makan. Ibunya sangat terkejut melihat anak laki-lakinya yang masih berantakan seusai bangun tidur itu tiba-tiba duduk di situ. Ibunya meminta Dhani mencuci muka terlebih dahulu dan merapikan rambutnya. Dhani sangat malas melakukannya karena saat ini dia sangat lapar sekali.

“Cepetan rapiin dulu dahc tuh rambut udah kayak orang ilang aja lu” sahut mbk Zullfa sambil duduk ditempat duduknya.

“Iya iya... ahhh bawel banget” jawab Dhani sambil kesal dan dia akhirnya menuju kamar mandi dekat dapur untuk mencuci mukanya. Saat dia melihat ke cermin memang rambutnya saat ini sangat berantakan. Pantas saja mbk Zullfa dan ibunya terkejut melihatnya tadi.

Seusai dari kamar mandi Dhani melihat ayahnya sudah duduk ditempatnya. Semua keluarga sudah bangun dan saatnya kita sahur. Menu sahur kali ini adalah sayur bayam, perkedel kentang dan orek tempe kesukaan Dhani. Tak lupa secangkir susu putih hangat sebagai pelengkap makan sahurnya setiap hari.

Jujur saja Dhani sebenarnya tahan-tahan saja tidak makan seharian, namun dia sangat tidak tahan jika tidak minum. Makanya saat sahur Dhani akan lebih banyak minum dan akan segera tidur lagi sampai waktu subuh tiba.

***


Pemandangan berbeda terlihat dirumah Icha. Seusai makan sahur, Icha tidak bisa tidur lagi seperti biasanya, dia malah menyiapkan beberapa bahan makanan untuk dimasaknya nanti siang bersama neneknya. Karena akan ada banyak anggota keluarga yang akan datang nanti saat buka puasa, makanya bahan makanan yang dibeli neneknya juga sangat banyak.

Icha mencuci semua sayuran dan buah, setelah itu memotong-motong sayuran yang telah dia cuci tadi dan memasukkan buah-buahan kembali ke kulkas. Setelah itu Icha merendam daging yang telah dipotong oleh ibunya sebelumnya. Tak lupa icha juga menyiapkan beberapa jenis sambal yang akan dihidangkan nanti.

Icha mengeluarkan beberapa piring dari dalam almari penyimpanan perabotan rumah karena piring yang tersedia didapur tidak cukup. Selain itu dia juga menyiapkan gelas dan teko untuk minuman para tamu. Icha terlihat sangat sibuk saat ini. Untung saja hari ini dia sudah libur sekolah, sehingga tak masalah jika selesai melakukan semua perintah eyangnya dia akan pergi tidur lagi dan akan bangun lagi nanti siang saat neneknya mulai memasak.

***


Dhani menengok handphoneya sedari tadi, berharap handphonenya akan berbunyi. Namun sejak tadi itu hanya harapan Dhani saja. Dhani menunggu Icha mengabarinya hari ini, namun semenjak selesai sahur hingga sekarang Icha sama sekali tidak menghubunginya. Dhani merasa kesal karena hal itu.

Tiba-tiba saja handphonenya berbunyi. Dhani cepat-cepat mengambil handphonenya dan dilihatnya pesan dari siapakah yang masuk. Saat Dhani melihatnya, ekspresi wajah Dhani berubah seketika. Rupanya itu adalah pesan BBM dari Anita, tunangan Dhani.

Memang belum lama Dhani bertunangan dengan Anita sekitar 2 bulan lalu. Saat mereka liburan semester 1. Pertunangan mereka dilakukan di Queensland Australia. Awalnya Dhani menolak pertunangan ini yang begitu mendadak, apalagi saat itu dia juga sudah bersama dengan Icha. Namun tentu Dhani tidak akan mengatakan bahwa dirinya telah berpacaran dengan Icha. Dhani tentu tahu apa akibatnya jika dia mengatakan hal itu. Makanya dia memilih untuk menerimanya.

Apalagi Anita adalah sahabatnya sejak kecil. Mereka terpisah sejak Dhani pergi pindah ke Malang bersama dnegan neneknya sewaktu kelas 2 SMP. Jadi wajar saja Dhani sudah sangat mengenal Anita dengan sangat baik.

Anita adalah tipe ideal Dhani sejak dulu sebelum dia bertemu dengan Icha. Namun Anita selalu saja mengejek Dhani. Anita selalu mengejek Dhani sangat lama menyerap semua materi pelajaran kecuali olahraga. Maka dari itu Dhani selalu berusaha mengalahkan Anita dikelas.

Sayangnya, Dhani hanya berada 1 tingkat dibawah Anita. Anita memang selalu menertawakan Dhani, namun Anita sangatlah baik. Dia selalu membantu Dhani dalam belajar. Saat Dhani pindah ke Malang, saat itu juga Anita mendapat beasiswa axcelerasi ke Australia. Sehingga mereka harus berpisah jauh.

Dhani sangat sedih dengan perpisahan mereka, namun lambat laun Dhani mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Anita. Hingga Icha akhirnya datang dalam kehidupan Dhani saat ini.

***


Mbk Zullfa terlihat tengah bersiap-siap dikamarnya saat Dhani menghampirinya kekamar. Dhani meminta mbk Zullfa untuk segera berganti baju karena ayah dan ibunya sudah menunggu dibawah. Mereka harus segera berangkat karena sudah ditunggu oleh keluarganya Mas Rezza. Mbk Zullfa pun mengiyakannya.

Sementara ditempat lain Icha tengah menyiapkan segala makanan yang telah dia masak tadi dengan nenek dan ibunya. Dimeja makan yang hari ini ditambah 1 meja lagi lalu digabung dengan meja sebelumnya menambah lebar meja makan rumah mereka, sehingga cukup untuk menampung seluruh tamu hari ini.

Setelah semua makanan siap, Icha segera menuju kekamarnya untuk mandi dan bersiap-siap. Icha memilih memakai celana jeans berwarna biru muda dan dengan kemeja garis-garis berwarna biru tua dengan lengan ¾ kesuakaan Icha. Dan juga tak lupa Icha mengikat rambutnya ½ bagian. Setelah selesai Icha pun turun kembali membantu nenek dan ibunya menyiapkan pring dan gelas untuk para tamu.

Suara klakson sebuah mobil sudah terdengar dari dalam. Nenek Icha segera meminta mas Rezza untuk melihat siapakah yang datang. Ternyata keluarga Rasyid sudah datang. Tak lama kemudian keluarga Dhani datang diikuti terakhir keluarga Anita yang sengaja berangkat bersama dengan mobil Dhani kali ini.

Icha sangat gugup sekali saat ini, dimana dia akan bertemu dengan calon tunangannya dan juga dengan kekasihnya yaitu Rasyid dan juga Dhani secara bersamaan dirumahnya pula. Icha hanya berusaha se cool mungkin saat ini. Agar tidak memperlihatkan dirinya sedang gugup.

Namun alangkah terkejutnya Icha saat melihat Dhani datang bersama dengan seorang perempuan yang sangat cantik disampingnya. Dhani terlihat menyapa semua tamu disitu. Termasuk nenek dan kakek Icha, Dhani pun tak lupa memperkenalkan siapa yang berada disampingnya itu kepada nenek, kakeknya Icha.

“Ini Anitasari Eka Ratulingga Putri eyang, tunangan saya” kata Dhani, sebenarnya dia sangat tidak ingin menyebutkan bahwa Anita adalah tunangannya karena Icha sedang melihatnya saat ini. Namun apa boleh buat.

“Owh... Anita... cantik banget... sekolah dimana?” tanya Kakeknya.

“Saya sudah kuliah kek... di Australia, di Queensland University” jawab Anita.

“Lhoh... udah kuliah?” tanya Kakek Icha terkejut.

“Kelas percepatan kek” jawab Dhani.

“Owhh pantesan, berarti pinter banget dong... wah wah... jurusan apa?” Tanya neneknya Icha pada Anita.

“Jurusan hukum nek” jawab Anita anggun.

“Cha... liat... contoh ini Anita, dia bisa kuliah diluar negeri, jurusan hukum pula” kata nenek Icha memerkan Anita kepadanya hingga membuat Icha sangat tidak menyukai sikap neneknya itu.

Icha pun berkenalan dengan Anita. Meski jujur saja saat ini Icha sangat ingin menyiram wajah Dhani dengan es blewah yang ada ditangannya saat ini. Namun Icha bersabar dan tetap stay cool.

Tiba-tiba Rasyid datang menghampiri Icha. Nenek Icha pun memperkenalkan Rasyid kepada Dhani dan juga Anita sebagai calon cucu menantunya. Dhani kebingunaan dengan ucapan nenek Icha itu.

Akhirnya nenek Icha pun menjelaskan bahwa Icha dan Rasyid akan segera bertunangan setelah Icha dan Rasyid nanti lulus SMA. Dhani pun juga terkejut mendengarnya. Icha tidak tahu apa yang ada dipikiran Dhani saat ini tentang dirinya. Namun Icha menganggap ini impas, Icha tidak tahu bahwa Dhani telah bertunangan begitu pula dengan Dhani yang juga tidak tahu bahwa dirinya juga telah dijodohkan dengan Rasyid.

Dhani sebenarnya ingin menegur Rasyid yang tidak jujur pada Icha dan keluarganya bahwa dia telah berpacaran dengan mantan kekasihnya yaitu Dias yang dia temui saat ulang tahun sekolah beberapa waktu lalu. Namun sepertinya tidak etis jika dibicarakan dalam forum keluarga seperti ini. Makanya Dhani mengurungkan niatnya itu dan memendamnya untuk beberapa saat.

Saat suara Adzan berkumandang, semua anggota keluarga serentak mengucap ‘Alhamdullilah’ secara bersamaan. Akhirnya waktu buka puasa yang telah ditunggu-tunggu tiba-juga. Mereka semua sepakat untuk minum sedikit sebagai tertanda mereka sudah membatalkan puasa mereka hari ini. Lalu semuanya pergi ke masjid terdekat untuk sholat magrib bersama sampai nanti sholat tarawih dan baru dilanjutkan dengan acara makan malam bersama.

***


Acara makan malam kali ini didominasi dengan perkenalan keluarga Rasyid kepada keluarga Dhani dan juga perkenalan keluarga Anita kepada keluarga Icha. Seperti yang dikatakan oleh ayah Dhani bahwa pertemuan keluarga kali ini akan mempertemukan semua calon keluarga besar.

Para orang-orang tua sedang asyik membicarakan bisnis mereka sementara para anak-anak muda ini hanya diam saja tak mengerti apa yang harus mereka lakukan. Icha terus saja mencuri-curi pandang kepada Dhani yang duduk tepat didepannya. Sedari tadi Anita terus menarik perhatian Dhani saat Dhani baru saja akan menatap Icha.

Seusai makan malam semua keluarga berkumpul, seperti yang sebelumnya terjadi dimeja makan. Para orang-orang tua membicarakan bisnis keluarga yang akan mereka kembangkan setelah perjodohan anak-anak mereka dilangsungkan. Mas Rezza dan Mbk Zullfa malah asyik mengobrol sendiri. Icha tidak tahu harus berbuat apa, ingin bicara dengan Rasyid, tapi dia masih kesal dengan 2 kejadian sebelumnya. Mau bicara dengan Dhani, tapi ada tunangannya.

Icha melihat Anita sedang mengangkat telepon dari seseorang. Anita menjawab telpon itu dengan menggunakan bahasa yang berbeda. Sepertinya dia mengenal bahasa itu. Itu seperti bahasa Rusia yang dia katakan pada seseorang ditelepon itu. Icha pun penasaran dengan Anita sehingga setelah Anita selesai menutup teleponnya Icha membuka pembicaraan dengannya.

“Anita, kamu tadi bisa bicara pakai bahasa Rusia ya?” tanya Icha.

“Iya, Anita bisa bahasa Rusia” jawab Dhani.

“Aku tanya sama Anita ya Dhan” kata Icha kepada Dhani.

“Hehehehe... kalian satu sekolahkan?” tanya Anita sambil tertawa melihat sikap Icha dan juga Dhani.

“Hehehe... iya, satu kelas juga” Jawab Dhani dan melirihkan suaranya diakhir kata yang dia ucapkan.

“Ehmm... iya Cha, aku bisa beberapa bahasa, seperti Rusia, Prancis, Jerman, Belanda, Inggris, Mandarin, Jepang dan Korea” Jawabnya. Icha sungguh tercengang dengan jawaban Anita tadi. Dia bahkan sampai sekarang masih belajar bahasa Jerman dan Belanda, tapi Anita sudah menguasai hampir 9 bahasa berserta dengan bahasa Indonesia.

“Kamu... belajar semua bahasa itu Nit?” tanya Icha masih tercengang.

“Iya... aku sudah mulai belajar sejak kelas 1 SD aku sudah belajar bahasa Inggris dan Mandarin, di SMP aku belajar bahasa Korea dan Jepang, di SMA aku belajar bahasa Prancis dan Jerman, baru-baru ini aja belajar bahasa Rusia dan Belanda.” Jawabnya.

“Wahhh hebat juga ya kamu Nit, kenapa gak ambil jurusan bahasa aja? Kenapa banting stir ke hukum?” tanya Rasyid menyambung.

“Gak ahhh bosen, lagian aku pengen jadi seorang pengacara” jawab Anita sambil bersandar pada pundak Dhani. Jujur saja Icha sangat marah melihatnya, tapi Icha tetap berusaha untuk Stay Cool.

“Susah gak kuliah hukum?” tanya Icha.

“Lumayan... tergantung dari kitanya juga sihc Cha..., kalo kitanya fun, semuanya bakalan enteng koq” Jawab Anita sambil tersenyum.

“Kenapa? Kamu mau masuk hukum juga?” tanya Rasyid.

“Gak boleh? Kalo gak boleh putusin aja pertunangan kita, selesai kan?” jawab Icha.

“Yeee... Su’udzon aja lu, gaklah... boleh-boleh aja, emang mau jadi pengacara juga?” tanya Rasyid.

“Gak, aku pengen jadi Jaksa aja” jawab Icha

“Oke juga, istriku jaksa, dan aku sebagai pengusaha barang elektronik, kita pasti bakalan kaya raya hahahaha” canda Rasyid.

“Jadi kamu dari keluarga pengusaha barang elektronik Syid? Wah... aku bakalan mewarisi perusahaan semiconduktor milik ayahku, kita bisa Join Vanture nih” Kata Anita.

“Boleh juga tuh, kebetulan aku juga mau ambil jurusan teknik mesin atau teknik elektro” jawab Rasyid. Mereka berdua terlihat semangat membicarakan bisnis keluarga yang mungkin bisa dikembangkan oleh mereka berdua.

“Wahhh asyik nihc. Kita bicara diluar yuk Syid” ajak Anita kepada Rasyid. Dan Rasyidpun mengiyakannya dan mereka meninggalkan Dhani dan Icha diruang tamu.

“Terus kita bicarain bisnis apa?” tanya Icha pada Dhani dengan tanpa menatapnya sedikitpun.

“Ahhh gak tau juga, aku gak minat pegang salah satu perusahaan ayahku” Jawab Dhani.

“Gak ada Passion sama sekali sihc kamu ini, gak ada usaha juga buat mempertahanin hubungan kita” kata Icha makin kesal pada Dhani.

“Shhhhhh kamu ini... kalo mau ngomongin ini jangan disini dong... kalo kedengaran orang tua kita kan kita juga yang mati!!!” kata Dhani memperingatkan Icha atas apa yang dia katakan tadi.

“Kamu gak pernah cerita kalo udah punya tunangan?” tanya Icha.

“Gimana aku mau cerita, yang ada kamu pasti bakalan bunuh aku” Jawab Dhani lirih.

“Ya iyalah...” jawab Icha kesal.

“Kamu juga, gak bilang kalo udah dijodohin, jangan-jangan pas ulang tahun sekolah waktu itu kamu udah dijodohin ya sama Rasyid, hayo ngaku” desak Dhani.

“Kalo iya kenapa? Kita impaskan?” tanya Icha.

“Yahhh gak bisa gitu, aku sama Anita itu baru 2 bulan tunangan” jawab Dhani.

“Tapi pacarannya udah lama, sama aja...” Elak Icha.

“Yang pacaran sama Anita itu siapa??? Sok tau banget, pacarku itu cuma kamu, mantanku itu cuma Dias” jawab Dhani.

“Dan tunanganmu itu cuma Anita...” lanjut Icha.

***


Acara buka bersama malam ini akhirnya selesai juga. Semua keluarga begitu senang dengan kumpul bersama malam ini. Mereka membuat janji untuk berkumpul lagi di hari kedua lebaran nanti.

Keluarga Rasyid pulang terlebih dahulu dilanjutkan dengan keluarga Dhani dan Anita. Setelah semua tamu pulang, Icha dan ibunya serta neneknya membersihkan semua piring kotor dan gelas-gelas serta meja makan yang berantakan.

Selesai membersihkan rumah, Icha segera berganti baju dan segera menuju alam mimpinya. Dia tidak ingin menghubungi Dhani malam ini. Jujur saja dia masih kesal pada Dhani. Tapi Icha berencana baikan dengan Dhani 3 hari lagi tepat dihari ulang tahun Dhani yang ke 18 Tahun. Icha sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Dhani dihari itu.

Meski sekesal apapun Icha pada Dhani, dirinya tidak pernah marah terlalu lama pada Dhani. Termasuk hari ini. Icha tahu alasan Dhani menyembunyikan pertunangannya dari Icha. Icha pun tak bisa menyalahkan Dhani sepenuhnya. Karena Dhani punya alasan yang kuat atas hal ini.

***

Tanggal 21 Maret telah tiba. Semalam sebelum makan sahur Icha sudah mengirimi Dhani ucapan selamat ulang tahun lewat pesan BBM. Dhani sangat senang dengan ucapan Icha yang tepat waktu pas jam 00.00. Icha bergegas mandi dan berpakaian rapi hari ini. Setelah berdandan cantik, Icha segera turun dan menuju dapur mengambil kue yang kemarin dia beli bersama dengan mas Rezza untuk kejutan ulang tahun Dhani.



Neneknya menanyakan untuk siapakah itu, Icha menjawab untuk Dhani. Icha beralasan karena Dhani satu kelas dengannya dan sebentar lagi mereka akan menjadi saudara, makanya Icha harus baik pada Dhani. Neneknya pun percaya saja dengan yang diucapkan oleh Icha. Sebenarnya dosanya besar jika Icha berbohong pada bulan puasa seperti ini. Tapi bohong sedikit boleh lah... hehehehehe kata Icha dalam hatinya.

Icha menuju rumah Dhani dengan menggunakan taksi, meski sebenarnya jalan kakipun juga tidak terlalu jauh dari rumah Icha kerumah Dhani. Namun karena untuk menjaga keutuhan kue yang dia bawa makanya Icha memutuskan untuk naik taksi saja.

Saat sampai dirumah Dhani, mbk Zullfa yang membukakan pintunya. Icha mengatakan ingin membuat kejutan untuk Dhani. Sebelum memberikan kue itu untuk Dhani, Icha terlebih dahulu menyapa ayah dan ibu Dhani yang kebetulan juga ada dirumah. Mereka ternyata lupa kalau hari ini ulang tahun Dhani. Mereka tentu tidak akan ingat kalau Icha tidak datang dan mengatakan ingin memberi kejutan pada Dhani.

“Dhani ada dikamarnya, biasalah, setelah sholat subuh dia pasti molor lagi, kayak gak hapal temenmu itu Cha...” kata ibunya Dhani.

“Owh iya tante... Icha boleh masuk kamarnya?” tanya Icha sedikit ragu-ragu.

“Iya masuk aja Cha... bangunin dia sekalian ya Cha... kalo perlu itu kue timpuk aja kemukanya biar dia bangun hahahahaha” kata Ayah Dhani sambil bercanda.

“Hehehe... sayang om... mendingan buat buka puasa nanti hehehehe” jawab Icha.

“Ahhh bener tuh yah... “ sahut Zullfa.

“Icha keatas dulu ya mbk, Om, tante” pamit Icha.

“Ehm iya Cha...” jawab ayah Dhani.

Icha menaiki tangga kelantai 2 dimana kamar Dhani berada. Dikamar itulah Dhani beristirahat. Dikala puasa seperti ini Dhani akan menghabiskan ½ harinya penuh untuk tidur. Makanya meski waktu sudah menunjukkan pukul 10, dia tidak akan bangkit dari alam mimpinya.

Saat Icha masuk kamarnya pun terlihat Dhani masih tertidur dengan pulasnya. Icha mengendap-endap masuk kamar Dhani itu yang bernuansa biru, hampir sama dengan warna cat kamar Icha (Kayaknya emang sehati hehehehehe). Icha meletakkan kue itu dimeja belajar Dhani. Lalu icha mengendap-endap menghampiri Dhani yang masih tidur itu.

Icha melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Dhani untuk mengecek apakah Dhani masih tidur atau tidak. Namun tidak ada respon apapun dari Dhani. Sepertinya dia memang masih tidur pikir Icha. Icha terlihat ingin mengagetkan Dhani, namun naasnya....

“Mau ngagetin aku?” kata Dhani setelah menarik Icha kedalam pelukannya. Hingga kini Icha ikut terkapar diatas tempat tidur Dhani.

“Kamu ini apa-apaan sihc...” kata Icha sambil mencoba melepaskan diri dari Dhani.

“Udah... disini aja dulu... aku tahu kamu dateng, suara kamu kedengeran sampek sini, aku pura-pura tidur aja” jawab Dhani sambil terus memeluk Icha.

“Dasar Jail banget sihc... udah lepasin, itu ada kue buat kamu...” kata Icha tetap meminta Dhani melepaskan pelukannya. Namun tidak diindahkan oleh Dhani malah pelukannya kini semakin kuat.

“Temani aku tidur dulu... lagian akukan puasa, nanti aja gampang masalah kue, kamu dateng kesini nemanin aku diatas sini itu adalah hadiah ulang tahun yang paling aku inginkan” kata Dhani sambil terus memeluk Icha dan memejamkan matanya. Seolah benar bahwa saat ini Dhani ingin tidur ditemani Icha.

Akhirnya Icha pun luluh juga. Dia tidak lagi meminta Dhani melepaskan pelukannya, Icha pun juga memeluk Dhani saat ini. Dan akhirnya mereka berdua tidur bersama.

***


Disaat yang bersamaan Anita datang, dia juga ingin memberi kejutan untuk Dhani. Dia masuk rumah Dhani dengan santai, memberi salam pada calon mertuanya dan juga kakak iparnya. Ayah Dhani menyuruh Anita untuk masuk kamar Dhani saja karena juga ada Icha disana sedang mengobrol dengan Dhani kata ayahnya Dhani. Padahal dia tidak tahu apa yang dilakukan anaknya itu dengan Icha saat ini dikamarnya.

Anita pun menurut dan dia pun menuju kamar Dhani dilantai 2 itu. Anita sudah terbiasa masuk kamar Dhani jadi tak masalah jika tiba-tiba Anita masuk kedalam kamarnya saat ini.

Namun ekspresi Anita berubah seketika ketika melihat pemandangan yang tidak mengenakkan dari kamar Dhani itu. Saat Anita membuka pintu kamar Dhani, dia melihat Dhani dan juga Icha sedang berada diatas ranjang Dhani. Terlihat mereka sedang berpelukan. Hati Anita hancur seketika saat melihat hal itu.

Anita kembali menutup pintu kamar itu perlahan. Anita terpaku didepan pintu kamar Dhani. Anita meletakkan bunga, kue dan hadiah untuk Dhani didepan pintu kamarnya. Lalu Anita mengambil handphonenya dan menekan nomor seseorang.

“Kita ketemu di Cafe Bean sekarang” kata Anita dalam teleponnya lalu menutupnya.

Dari dalam kamar Dhani, Icha terbangun saat mendengar suara seseorang. Dhani juga ikut terbangun. Dhani menanyakan pada Icha ada apa hingga ekspresi Icha seperti itu. Icha menjawab sepertinya dia mendengar suara Anita diluar. Saat Dhani akan mengeceknya Icha bersembunyi terlebih dahulu. Dan ketika Dhani membuka pintu kamarnya dia tidak melihat siapapun. Dhani memutuskan untuk turun kebawah dan tidak melihat siapapun. Mungkin mbk Zullfa sedang ditaman belakang bersama ayah dan ibunya untuk bersantai. Namun Dhani mendengar suara mobil yang baru saja meninggalkan pekarangan rumahnya.

Mungkin benar bahwa Anita tadi datang saat Dhani melihat didepan pintunya terdapat kue, bunga dan hadiah yang diberi sepucuk surat dengan initial “A” sebagai pengirimnya. Dhani tahu ini akan menjadi masalah untuknya namun dia memutuskan untuk tidak memberi tahu Icha agar Icha tidak mengkhawatirkannya.

***


Anita terlihat sedang menunggu seseorang disebuah cafe sambil meminum cappucino kesukaannya di cafe itu. Anita melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kirinya itu. Jam bermerek Rolex itu sudah menunjukkan pukul 11.30. namun orang yang ditunggu oleh Anita belum juga muncul.

Tak lama kemudian sebuah mobil sport berwarna merah berhenti didepan cafe itu dan keluarlah seseorang yang sedang Anita tunggu. Dia adalah calon tunangan Icha yaitu Rasyid. Rasyid segera masuk cafe itu untuk menemui Anita yang tadi memanggilnya.

“Mau apa manggil-manggil aku? Kamu gak puasa ya?” tanya Rasyid pada Anita yang terlihat baru saja meminum minumannya.

“Gak..., lagian sepertinya tunanganmu sia-sia juga puasanya” jawab Anita.

“Maksudmu?” tanya Rasyid sambil duduk dibangku didepan Anita itu.

“Saat aku ingin memberikan kejutan sama Dhani, tunanganku, aku melihat Icha sama Dhani lagi tidur bareng dikamar Dhani. Menurutmu hal itu bagaimana?” tanya Anita dengan tatapan dinginnya.

“Ehmmm sebenarnya Icha sudah keterlaluan kalo sampek tidur sama Dhani, tapikan ini bulan puasa, mereka gak mungkin akan melakukan hal lebih dari itulah..., lagian dulu aku juga pernah melakukan hal yang sama, sama mantan pacaranya Dhani” jawab Rasyid

“Siapa? Ahhh Dias?” tanya Anita berbalik pada Rasyid.

“Ehmmm iya, aku pernah meniduri Dias dikamarku saat orang tuaku dan juga nenekku sedang melakukan perjalanan bisnis, saat itu Icha diminta nenekku untuk mengantar makanan, namun saat sampai rumahku Icha harus melihat aku sedang tidur dengan Dias” jawab Rasyid tanpa dosa.

“Wahhh Awsome! Kamu bisa bicara kayak gitu tanpa dosa ya? Hah... kamu kayaknya harus segera periksa kedokter kejiwaan” kata Anita mengejek Rasyid.

“Kenapa? Lagian Dias terima saja. Icha juga biasa saja, dia tidak akan melaporkan hal itu pada nenekku ataupun keluargaku, dia tidak akan melakukan sesuatu yang merugikanku karena aku juga tidak pernah melakukan sesuatu yang merugikannya” jawab Rasyid.

“Sebaiknya kamu jagain tunangan kamu, karena aku gak suka dia ngerebut Dhani dari aku” kata Anita sedikit dengan nada mengancam.

“Aku tahu, Dhani sama Icha itu pacaran udah lama, jauh sebelum kalian tunangan, sepertinya Dhani gak akan semudah itu ngelepasin Icha.” Kata Rasyid saat Anita berdiri hendak pergi.

“Apa? Heh... Dhani menyukaiku lebih lama dari pada dia berpacaran dengan Icha” jawab Anita.

“Hati orang tidak ada yang tau Nit. Kamu gak bisa merubah keadaan yang ada sekarang, namun kamu bisa merubah caramu memandang segala sesuatu yang ada disekitarmu” kata Rasyid sambil berjalan mendahului Anita.

***


Icha baru saja sampai dirumahnya. Dia segera menuju kamarnya, Icha segera mandi dan berganti baju santai sore ini. Lalu Icha pergi ketaman belakang, dan duduk di ayunan yang ada disana sambil membaca majalah komik langganannya yaitu Nakayoshi.

Tiba-tiba sebuah pesan BBM masuk dan membuyarkan konsentrasi Icha yang sedang membaca komik kesukaannya. Ternyata dari Rasyid. Dia mengatakan bahwa Icha mulai sekarang harus berhati-hati dengan Anita. Icha pun bertanya kepada Rasyid, kenapa dia memberitahukan hal ini kepada Icha. Rasyid menjawab, bahwa dia tahu hati Icha bukanlah untuknya. Makanya dia tidak memaksakan Icha untuk melanjutkan perjodohan ini, lagi pula Rasyid memiliki jiwa bebas yang tidak suka dikekang. Icha tidak akan suka dengan sikap Rasyid itu. Makanya Rasyid memberikan kebebasan pada Icha untuk memilih jalannya sendiri.

Icha pun mengerti apa yang harus dia lakukan. Icha berterima kasih atas info yang diberikan tunangannya itu. Meski sempat membuatnya kesal namun sebenarnya Rasyid adalah orang yang baik. Rasyid adalah tempat curhat yang baik. Beberapa kali Icha sempat curhat kepada tunangannya itu. Bahkan sampai masalah dengan Dhanipun Icha mengutarakannya pada Rasyid.

Meski kelakuan Rasyid sedikit bejat dan brengsek, namun saat curhat dengannya Icha merasakan rasa nyaman sebagai seorang sahabat yang sedang menceritakan masalahnya kepada sahabatnya. Makanya meski sangat menjengkelkan namun Icha masih menghargai Rasyid sebagai tunangannya meskipun Icha tak pernah sekalipun menyukai Rasyid.

***

Lebaran Idul fitripun tiba. Indonesia adalah negara satu-satunya yang saat idul fitri dirayakan dnegan meriah seperti ini. Selesai sholat ied, Icha dan keluarga menggelar acara sungkeman. Sebagai keluarga jawa tulen yang masih memegang teguh kebudayaan nenek moyang ada beberapa ritual kejawen yang memang harus selalu dilaksanakan oleh Icha.



Setelah sungkem kepada nenek dan kakeknya, dilanjutkan kepada orang tuannya lalu yang terakhir kakaknya. Icha sebagai anak terkecil tentu mendapat angpao dari nenek dan kakeknya. Selain itu dia juga masih SMA sehingga wajar jika masih mendapatkan angpao.

Paman, bibi dan rekan kerja ayah ibunya juga datang kerumah. Belum lagi dengan mbk Zullfa dan teman-teman mas Rezza yang lain. Icha dibanjiri salam tempel sana-sini tentunya. Setiap lebaran seperti ini Icha selalu mendapatkan angpao hingga jutaan. Uang itu tentu tidak digunakan Icha dengan sembarangan. Biasanya setelah ini Icha akan membeli gedget yang baru.

Icha memang sangat sering bergonta-ganti smartphone karena memang Icha adalah orang yang mudah bosan dengan alat teknologi terutama handphone. Begitulah kelakuan Icha semenjak dia dikenalkan benda itu oleh orang tuanya.

***


Hari lebaran kedua hari ini rencananya keluarga besar yang kemarin sempat berkumpul saat acara buka bersama akan berkumpul lagi dirumah Icha malam ini. Hal ini tentu saja kembali membuat Icha khawatir. Belum lagi yang dikatakan oleh Rasyid beberapa hari yang lalu saat ulang tahun Dhani mengenai Anita. Icha menjadi sengat gugup ketika nanti akan bertemu dengan Anita.

Dan benar saja, saat acara makan malam dirumahnya saat ini, mata Anita tidak pernah memandang Icha dengan tatapan mengenakkan. Dhani selalu berdehem agar Anita menghentikan apa yang dilakukkannya itu kepada Icha yang membuat Icha merasa tidak dirumahnya sendiri.

Saat semua keluarga berkumpul diruang keluarga, tiba-tiba saja Anita berdiri dan menyampaikan sesuatu yang mengejutkan semua orang.

“Wah Icha sama Rasyid sangat cocok ya malam ini” puji Ibu Dhani pada Icha dan Rasyid.

“Anita juga sangat cocok dengan Dhani, sepertinya mereka sudah lama dekat” Tanya Ibu Icha.

“Anita dan saya sudah berteman sejak kecil tante” jawab Dhani.

“Dan kami sudah saling suka sejak kami dekat dari kecil” Jawab Anita menambahkan.

“Owh..., so sweet sekali nit” puji Mas Rezza.

“Ayah, ibu, Om Afri dan tante Fitri, aku minta untuk pernikahanku dengan Dhani dipercepat, tidak masalah jika aku tidak akan serumah dulu dengan Dhani, sambil menunggu Dhani lulus kuliah nanti. Aku juga masih ingin di Australia” kata Anita.

“Kenapa tiba-tiba kamu ngomong kayak gitu Anita?” tanya tante Fitri yaitu ibunya Dhani.

“Karena aku tidak ingin Icha menangaggu hubunganku dengan Dhani.” Jawab Anita dengan sangat jelas. Membuat Dhani dan Icha terkejut mendengarnya.

“Apa maksudmu?” tanya ayah Anita.

“Om Afri, aku melihat Icha dan Dhani tidur bersama saat aku datang kerumah pas ulang tahun Dhani beberapa waktu lalu, padahal Icha kan juga udah punya tunangan yaitu Rasyid, apakah etis jika seorang perempuan yang sudah punya tunangan tidur bersama laki-laki tunangan orang lain?” kata Anita.

“Apa??? Dhani! Icha! Kalian sudah kelewatan! Nenek pikir selama ini kalian berteman, ternyata dibelakang seperti ini kelakuan kalian! Kalian tahu kalian ini akan jadi saudara ipar! Zullfa dan Rezza sudah dijodohkan. Beraninya kalian! Hahhh!” bentak nenek Icha hingga membuat Icha maupun Dhani menjadi takut.

“Mulai sekarang, Icha akan diantar jemput oleh supir yang nanti akan nenek siapkan. Dan untuk Dhani. Afri, sebaiknya kamu siapkan kepindahan anakmu atau minta dia jauhi Icha kalau tidak ingin pindah.

“I... I.. Iya buk...” jawab Ayah Dhani.

Sepertinya setelah pertemuan ini baik Icha maupun Dhani akan terkena masalah yang cukup besar. Bagaimana tidak semua keluarga sudah mengetahui tentang hubungan mereka berdua. Saat ini tidak ada cara lain selain mereka diam karena kalau mereka berbicara, tentu masalah akan bertambah rumit.

***


Sekolah kembali dimulai. Seperti yang dijanjikan nenek Icha bahwa mulai sekarang Icha akan diantar jemput oleh supir dan bodyguard yang akan menjaga Icha yang sengaja disiapkan nenek Icha untuk menghindari Icha berhubungan dengan Dhani lagi. Icha sebenarnya sangat risih sekali. Namun apa boleh buat, dari pada dia tambah kena amuk neneknya, lebih baik dia menurut saja.

Icha bertemu dengan Dhani di lorong loker siswa. Dhani menghampirinya dan dia berniat mengajak Icha bicara. Namun Icha menolaknya. Icha tidak ingin bicara dengan Dhani lagi. Dhani bingung dengan sikap Icha ini yang berubah begitu cepat setelah pertemuan keluarga itu.

“Kamu berani bilang kalo kita saling suka? Gak kan? Kamu diem aja saat Anita bongkar hubungan kita? Kamu bantuin aku saat aku dimarahin nenekku? Gak kan? Udah dehc dari pada masalahnya jadi tambah panjang, dan kalo Anita bakal ngelakuin hal yang lebih dari kemaren sama aku ataupun kamu, lebih baik kita putus aja” kata Icha sambil menutup lokernya.

“Owh jadi gitu? Kamu mau kita putus, oke... kita putus. Puas?” kata Dhani dengan penekanan yang kuat dengan nada kesal Dhani mengatakan hal itu karena melihat sikap Icha kepadanya itu.

“Hahhh... iya, lebih baik kita putus, dan sebaiknya kita berpura-pura tidak saling kenal disekolah ini” jawab Icha lalu pergi meninggalkan Dhani.

***


Seharian Dhani tidak ikut berkumpul dengan Icha dan kawan-kawan, jangankan bicara dengan Icha, bicara dengan Ridwan, Rachman dan Irfan pun tidak. Padahal biasanya mereka selalu menjadai 4 serangkai dikelas. Namun hari ini berbeda.

Ridwan sangat ingin bertanya kepada salah satu diantara Icha maupun Dhani tentang apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Namun sepertinya suasana hati keduanya sedang tidak baik. Makanya Ridwan membiarkannya terlebih dahulu. Mungkin mereka sedang ada masalah pribadi. Pikirnya.

***

Sudah beberapa hari ini mereka masih belum saling menyapa bahkan baik Dhani maupun Icha sekarang tidak lagi satu kelas. Dhani sengaja menurunkan rangkingnya sehingga sekarang dia diperingkat 54 sehingga dia masuk kekelas B. Saat Ridwan bertanya kepada Dhani kenapa dia sengaja melakukan hal itu, Dhani tidak pernah menjawabnya. Bahkan Dhani tidak pernah lagi menyapa teman-temannya yang dekat dengan Icha. Begitu pula dengan yang dilakukan Icha kepada Dhani.



Dhani sedang berjalan menuju perpustakaan sendirian siang ini. Dia berniat mengembalikan buku yang dia pinjam beberapa hari yang lalu. Saat dia melewati koridor kelas XI IPA, dia berpapasan dengan Icha yang sepertinya juga baru keluar dari ruang perpustakaan karena membawa beberapa buku. Sesaat mereka saling pandang namun mereka tidak saling menghentikan langkah dan mereka terus berjalan hingga mereka melewati satu sama lain tanpa saling memandang lagi.

Sepertinya mereka benar-benar serius saat ini untuk berpisah. Namun baik Dhani maupun Icha sama-sama meneteskan air mata saat keduanya saling membelakangi setelah mereka berpapasan itu. Icha berusaha menutupi air matanya bagitu pula dengan Dhani. Dia berusaha stay cool saat memasuki ruang perpustakaan. Sementara Icha kembali kekelasnya dengan wajah tertunduk lesu.

Chapter VI



Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə