Janji Diterbitkan secara mandiri melalui Nulisbuku com Janji Oleh: Nisya Septik Prianda Copyright 2014 by Nisya Septik Prianda Penerbit



Yüklə 0.76 Mb.
səhifə6/11
tarix18.01.2018
ölçüsü0.76 Mb.
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11
Masa yang Kelam”
Entah sampai kapan mereka berdua akan terus bersikap seperti orang yang saling tidak mengenal satu sama lain padahal mereka ini satu sekolah, satu angkatan bahkan mereka sempat menjalin kasih bersama. Namun kini yang terjadi adalah mereka saling tidak menyapa satu sama lain. Ridwan kini akhirnya tahu masalah diantara keduanya dari ayah Icha.

Ridwan berusaha menyatukan mereka kembali sebelum melakukan tindakan lain untuk membantu permasalahan hubungan mereka. Namun rupanya tak semudah yang disangka Ridwan. Mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ada yang ingin mengalah satu sama lain.

“Ternyata lebih enak ngelerai Icha yang lagi berantem ama lu dehc Rim, dari pada nyatuin Icha sama Dhani lagi... hahhh” keluh Ridwan.

“Lu ngajak berantem ama gue aja gimana Wan? Rese’ banget lu jadi orang” jawab Ridwan kesal karena ledekannya tadi.

“Dasar nenek lampir, emang gak bisa ya diajak bercanda dikit” kata Ridwan kesal.

“Biar aku aja yang bicara sama Dhani” Sahut Putri.

“Koq kamu sihc sayang?” tanya Ridwan sambil merayu pada Putri.

“Aku punya rencana sayang... tenang aja... hheemm” jawab Putri sambil tersenyum.

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Icha sedang mencari dimana supir yang biasanya menjemputnya, namun tak terlihat disekitar sekolahnya. kemana ya? Pikir Icha. Tiba-tiba saja sebuah mobil sport merah berhenti didepan Icha. Icha hapal betul itu mobil siapa. Seseorang keluar dari dalam mobil itu dan menyapa Icha dengan senyuman.



Icha pun menghela napas panjang ketika dugaannya itu tepat sekali. Rasyid hari ini yang menjemput Icha, memang sedikit mengesalkan karena Rasyid tidak memberitahunya kalau dia akan menjemput Icha hari ini. Rasyid pun menghampiri Icha. Dan mengatakan bahwa neneknya lah yang meminta Rasyid menjemputnya hari ini. Selain itu karena hari ini neneknya Rasyid ingin mengajak Icha kesebuah acara.

Saat Rasyid sedang berbicara dengan Icha, tiba-tiba saja pandangan Rasyid tertuju kesuatu arah dan ekspresinya sangatlah berbeda dari tatapan biasanya. Icha melambai-lambaikan tangannya kewajah Rasyid karena dia terlihat seperti orang yang melamun. Icha pun akhirnya juga ikut menoleh untuk tahu sebenarnya apa yang sedang dilihat oleh Rasyid itu hingga pandangannya seperti terfokus pada satu hal saja.

Saat Icha menoleh, Icha pun terkejut dengan apa yang dia lihat. Rupanya Dhani ada dibelakang mereka. Dhani melihat semuanya, Dhani mendengar semuanya. Pandangan Dhani tidak pernah terlepas dari Rasyid dan Icha. Ekspresi wajah Dhani juga sangat berbeda kepada Rasyid dan Icha. Tatapannya begitu dingin. Icha tidak pernah melihat Dhani memperlihatkan ekspresinya yang seperti itu sebelumnya.

Dhani segera memakai jaket dan helmnya. Lalu dia segera pergi dengan menaiki motornya melewati kedua orangitu dengan kecepatan tinggi. Icha tertunduk sesaat memikirkan apa yang baru saja terjadi. Rasyid menghela napasnya panjang dan memandangi Icha. Rasyid tentu tahu seperti apa perasaan tunangannya itu saat ini.

Rasyid segera mengajak Icha untuk pergi karena mereka sudah ditunggu neneknya Rasyid. Icha pun mengiyakan diapun segera masuk kedalam mobil Rasyid. Dan rasyidpun segera melajukan mobilnya menuju tempat yang sudah ditentukan oleh neneknya sebelumnya.

***


Icha dan Rasyid berdandan sangat mewah malam ini. Bahkan Icha merasa ini sangat berlebihan. Namun neneknya Rasyid mengatakan tidak apa-apa, Icha malah terlihat sangat anggun dan cantik malam ini. Icha pun hanya menjawabnya dengan senyuman. Sepertinya akan ada acara besar malam ini hingga Icha diundang untuk ikut didalamnya.

Icha dan Rasyid segera memasuki sebuah ballroom disebuah hotel terkenal. Didalamnya sudah banyak orang yang berdandan mewah yang sedang asyik berbincang-bincang satu sama lain. Icha merasa sedikit kurang nyaman karena tidak ada satupun yang dia kenal disini. Rasyid mengatakan bahwa sebaiknya tidak jauh-jauh darinya jika dia merasa tidak nyaman. Icha pun hanya mengangguk saja mengiyakannya.

Icha melihat sebuah banner yang terpasang didekat podium yang bertuliskan “Tender Project Yayasan Bintang Mulya”. Icha tahu itu salah satu yayasan milik neneknya Rasyid yang join venture dengan perusahaan ayahnya. Proyek apa sebenarnya yang sedang ditenderkan saat ini. Icha memasang ekspresi bertanya-tanya saat ini.

Icha hanya memendamnya. Dia pikir sebentar lagi Icha pasti akan tahu karena sepertinya acara akan segera dibuka. Benar saja, nenek Rasyid segera naik podium untuk membuka acara. Rupanya malam ini neneknya Rasyid membuka tender untuk proyek pembukaan sekolah baru di yayasan Bintang Mulya. Icha pun sepertinya merasakan ada sesuatu yang tidak enak disini.

“Ahhh aku lupa memperkenalkan kepada kalian semua, cucuku dan juga tunangannya yang akan memegang yayasan ini selanjutnya setelah aku memutuskan pensiun nanti, Rasyid dan Ifha, kesini nak...” pinta neneknya Rasyid pada kedua orang itu. Icha dan Rasyid pun akhirnya naik ke panggung dekat podium.

Semua tamu memberikan tepuk tangan yang meriah atas munculnya kedua orang itu. Senyum merekah diwajah neneknya Rasyid saat mereka berdua akhirnya muncul di publik. Icha dan Rasyid juga tersenyum sambil menyapa semua tamu yang datang. Meski jujur saja Icha sebenarnya merasa sedikit tidak nyaman harus dilihat oleh orang sebanyak ini.

***

Icha saling berbicara dengan anak-anak para pengusaha yang juga datang keacara tender itu. Sepertinya Icha mulai sekarang harus membiasakan diri seperti ini. Karena saat ini identitasnya sudah banyak diketahui oleh banyak orang. Tiba-tiba saja 2 orang mendatangi Icha saat dia sedang asyik bicara dengan para tamu yang datang.



“Long time no see you Icha...” Katanya menyapa Icha dan membuatnya terkejut dengan kedatangannya.

“A... Anita?” Icha terkejut dan tangannya lumayan bergetar saat ini.

“Kamu sudah kenal dengan Anita Cha?” Tanya salah satu dari tamu itu.

“Ahhh iya... dia itu tu...” kata-kata Icha menggantung saat dia melihat Dhani ada dibalakang Anita dan baru saja muncul lalu berdiri disamping Anita.

“Ahhh dia itu tunangannya saudara iparku” jawab Icha sambil tersenyum pada orang yang bertanya padanya itu. Meski sebenarnya dia sangat sakit mengatakan hal itu.

“Owh... Anita, kami tinggal dulu ya, Cha.. duluan ya” kata orang-orang itu meninggalkan Icha dengan Anita dan Dhani.

“Kapan kamu pulang Nit?” tanya Icha mencoba mencairkan suasana.

“Owh... Dhani tidak bilang sama kamu? Heh’” tanya Anita dengan nada sedikit meremehkan. Icha sangat ingin menjambak orang itu saat ini. Namun dia menahannya karena ini ditempat umum, apalagi ini diacara resmi. Takutnya nama baik neneknya Rasyid akan tercoreng dengan sikapnya itu.

“Aku sudah tidak satu kelas lagi sama dia, lagian kita jarang ketemu sekarang” jawab Icha dengan stay cool.

“Wahhh... rupanya kamu ini cerdas juga ya Cha... aku pikir kamu sama Dhani bakalan tetep menjalin hubungan diam-diam. Diluar dugaan, kalian rupanya sudah putus. Baguslah... aku pulang hanya untuk acara ini, besok aku sudah kembali ke Queensland” jawab Anita.

“Owh... aku sadar diri koq Nit, memang tidak seharusnya juga aku berpacaran dengan orang itu” Jawab Icha membuat Dhani saat ini menatap Icha dengan tatapan bertanya-tanya. Sejak kapan Icha tidak pernah menyebut namanya lagi.

“Hallo Anita... wah long time no see you, when you come here? Wahhh you not call me if you here... “ kata Rasyid menyahut pembicaraan mereka sambil merangkul bahu Icha. Membuat Dhani semakin membelalakkan matanya.

“Why? You wanna walk around with me? I just one day in here, so i don’t have many time to go with you” jawab Anita.

“Aihhh you are very arogant to me, enjoy this night okay” kata Rasyid sambil menarik Icha menghindar dari kedua orang itu.

***

Rasyid melihat wajah Icha sangat murung seusai bertemu dengan Anita dan Dhani tadi. Sepanjang perjalanan pulang Icha tidak mengatakan sepatah katapun. Rasyid merasa khawatir dengan keadaan Icha saat ini. Belum lagi nanti jika benar mereka akan menjadi saudara Ipar, Icha pasti akan lebih sering merasa seperti ini.



Rasyid mencoba mencairkan suasana dengan memutar music. Rasyid tahu Icha sangat menyukai music korea. Dia sengaja memilihkan beberapa lagu yang sering didengarkan oleh Icha. Icha terkejut saat sebuah lagu terdengar dari audio mobil Rasyid itu. Sejak kapan Rasyid mulai mnegkoleksi lagu-lagu korea kesukaannya? Tanyanya dalam hati sambil memandangi Rasyid yang speertinya juga menikmati music yang sedang berputar itu.

Icha hanya tersenyum melihat tingkah tunangannya itu. Icha pun akhirnya menunjukkan senyum manisnya, Rasyid yang melirik sesaat ke arah Icha juga ikut tersenyum akhirnya Icha dapat tersenyum lagi. Saat bagian reff dari lagu itu dimulai, Icha ikut bersenandung sesuai dengan rhytme lagu itu.

Ini pertama kalinya Rasyid mendengar Icha bernyanyi. Rasyid lumayan menyukai karakter suara Icha itu. Rasyid pun mengecilkan volume audionya agar dia lebih jelas mendengar suara Icha itu. Icha menoleh kearah Rasyid seolah bertanya kenapa volumenya dikecilkan? Rasyid menghentikan mobilnya dipinggir jalan.

Sesaat dia melihat kearah jam lalu memandang Icha. Lalu melajukan lagi mobilnya. Icha tidak mengerti dengan yang dilakukan oleh Rasyid itu. Dia terus saja mendengarkan music yang terus berputar. Rasyid mengeraskan lagi volume audionya. Dan menambah kecepatan mobilnya.

Saat sampai didepan rumah Icha, Rasyid mematikan audionya lalu membukkan pintu untuk Icha. Setelah Icha turun dari mobilnya, Rasyid pun juga ikut turun. Icha meminta Rasyid untuk mampir sebentar. Namun Rasyid menolak, besok dia ada ujian praktek makanya dia tidak bisa mampir malam ini.

“Lain kali kita karaokean ya, nanti kamu ajak aja temen-temen kamu sama Ridwan” kata Rasyid.

“Ahhh??? Karaokean?” tanya Icha penasaran.

“Iya, aku lihat suara kamu lumayan bagus, lain kali kita karaokean oke?” jawab Rasyid sambil tersenyum.

“Iya... kapan-kapan saja kalau pas kita ada waktu luang” Jawab Icha membalas senyuman Rasyid.

“Udah, masalah Dhani biar aku sama Ridwan yang mikirin” kata Rasyid membuat Icha terkejut.

“Maksudnya?” tanya Icha.

“Tunggu aja tanggal mainnya.” Jawab Rasyid sambil masuk mobilnya lalu pergi.

Icha masuk kedalam rumahnya, dan kenapa baru jam segini rumah sudah sangat sepi sekali, lampu rumah juga terlihat mati. Icha mengendap-endap masuk kedalam rumahnya sudah seperti maling saja. Dia meraba-raba tembok rumahnya mencari dimana saklar lampu namun sesaat kemudian...

“SURPRISE.....!!!” seluruh keluarga dan juga teman-teman Icha tiba-tiba muncul dan membawakan kue ulang tahun. Memang belum tepat jam 12 malam, tapi hanya tinggal menghitung waktu lagi ulang tahun Icha.

Semua orang berkumpul di ruang tamu. Icha masih sangat terkejut dengan kejutan dihari ulang tahunnya ini. Genap sudah 17 tahun sekarang umur Icha. Sebuah kue tart rasa coklat kesukaan Icha berjejer dimeja dengan dihias lilin angka 17.

Suara denting jam yang menunjukkan pukul 12 malam sudah berbunyi. Kini saatnya Icha meniup lilinnya. Seperti biasa Icha mengucapkan keinginannya sebelum meniup lilin. Setelah itu ‘Fuhhh’. Seluruh lilin sudah ditiup oleh Icha. Tepuk tangan meriah dari orang-orang terdekat Icha menambah kemeriahan pesta malam ini.

Satu persatu kado Icha buka, ada yang memberi buku tentu saja itu adalah kakaknya. Ayah dan ibunya memberinya handphone baru, Ridwan memberinya mp4 player. Namun ada 1 hadiah yang diletakkan di atas meja dan tidak ada satupun yang menyerahkan padanya. Kado berbentuk persegi panjang itu dibalut oleh kertas kado berwarna biru dengan pita kecil diatasnya.

Orang tua Icha dan juga mas Rezza hanya menghela napas. Sepertinya mereka tahu yang memberi kado itu untuk Icha. Bagaimana pun juga Icha sudah melewati banyak cobaan dengan orang itu, mas Rezza tahu Icha tidak mungkin semudah itu melepaskan dia yang telah membuat hari-hari Icha kembali bersinar cerah.

Mas Rezza meminta Icha untuk segera membuka kado itu. Icha merasa ragu-ragu saat akan mengambil kado itu. Namun Icha juga penasaran dengan isi dari kado itu. Apakah ini dari Dimas atau Dhani? Pertanyaan itu yang ada dikepalanya sekarang. Namun Dimas ada disini saat ini. Dimas juga masih memegang kadonya. Jadi pasti...

Icha membuka kado itu perlahan-lahan, sedikit demi sedikit isi dari kado itu sudah terlihat. Icha terkejut saat membuka kado itu dan mengetahui apa isi didalamnya. Air mata Icha sudah siap untuk jatuh saat ini. Bagaimana tidak dugaannya benar bahwa kado itu dari Dhani.

“Cha...” panggil mas Rezza mencoba menyadarkan Icha.

“Aku gak apa-apa mas...” Icha masih tertunduk sambil memandangi isi kado itu yang ternyata adalah foto mereka berdua. Foto itu diambil saat Icha dan Dhani pergi ke Bromo. Foto yang berlatarkan sunrise di puncak gunung Bromo sekitar 4 bulan yang lalu mengingatkan kembali kenangan indah mereka berdua dulu.

#Flashback

Hati-hati, sabarlah sedikit, bentar lagi sampai dipuncak, sepertinya akan bersamaan dengan sunrise, ayo semangat!” Kata Dhani menyemangti Icha yang ada di anak angga dibawahnya.

Iyap ayoooo semangataaaaa.....!” Icha menyusul Dhani dengan cepat.

Akhirnya kini mereka sudah sampai di puncak gunung Bromo. Terlihat kawah gunung itu yang sangat dalam dan mengeluarkan asap pertanda bahwa didalamnya pasti sangat panas. Dugaan Dhani benar bahwa tak lama setelah mereka sampai dipuncak sunrise muncul. Pemandangan yang benar-benar indah dipagi itu. Meski dingin menyelimuti mereka tapi kebahagiaan atas kebersamaan mereka itu tiada bandingnya.

Kita foto ya...” ajak Dhani sambil mengeluarkan kameranya dari dalam tas dan 1..., 2..., 3... jepret. Foto mereka terabadikan dalam kamera itu dengan latar sunrise digunung Bromo.

#Flashback End

Icha berlari menuju kamarnya. Semua tamu terdiam saat tahu kondisi Icha saat ini. Apalagi Ridwan, dia paham betul seperti apa perasaan Icha saat ini. Ridwan menahan mas Rezza yang ingin menyusul Icha kekamarnya. Ridwan mengatakan, sebaiknya kita biarkan Icha sendiri dulu. Perasaannya sedang tidak baik untuk diganggu saat ini.

***

Sebenarnya sebelum itu, Putri mengatakan sesuatu pada Dhani sebelum acara kejutan ulang tahun Icha malam ini. Putri yang hadir malam itu dan melihat reaksi Icha seperti itu, dia menjadi merasa bersalah. Karena perbuatannya sahabatnya itu menjadi seperti itu. Dia tidak memikirkan resikonya akan seperti ini. Seharusnya memang dia tidak meminta Dhani melakukan ini.



#Flashback

Ngapain ngajakin aku kesini Put? Aku gak punya banyak waktu” kata Dhani ketus tanpa menatap Putri sedikitpun.

Aku tahu Dhan... kamu gak pernah sampai hati ngomong kayak gitu kan... hehehem” Putri tersenyum karena dia tahu isi hati Dhani yang sebenarnya.

Kamu cuma mencoba membuktikan kamu bisa sendiri tanpa Icha. Aku juga tahu kamu yang paling terluka disini, kamu mencintai Icha melebihi rasa sayang Icha sama kamu, tidak ada yang tahu perasaanmukan, makanya kamu bersikap seperti ini, kamu hanya sedang mengalami perang dengan batinmu sendiri, jangan mencoba untuk menghentikan perang dengan memenangkan perasaanmu yang begitu emosianal, tapi cobalah untuk berusaha bertahan. Bertahan dan lihatlah, apa kamu bisa melewati masa perang itu atau tidak.” Kata Putri memberi nasehat pada Dhani. Dhani mulai melunakkan pandangannya dan dia berani menatap Putri saat ini yang sedang tersenyum padanya. Putri tahu nasehatnya bisa mulai diterima oleh Dhani. Padahal Putri sangat tahu Dhani dan Icha itu memang satu paket keras kepalanya. Tapi Putri tahu, Dhani tidak akan terus-terusan memenangkan perasaan egonya dalam dirinya.

Iya put, kamu lebih tahu aku dan Icha, sama halnya Ridwan” kata Dhani lirih.

Ehm... aku tahu kamu cukup pintar untuk memahami ini, jadi bertahan dan lihat saja apa yang aku dan Ridwan akan lakukan. Malam ini kamu tahukan Icha ulang tahun?” tanya Putri.

Aku lebih ingat dari siapapun” jawabnya.

Aku sudah menduga kamu bakalan jawab kayak gitu. Kamu gak ada rencana ngasih hadiah sama Icha?” tanya Putri lagi.

Aku sudah siapin hadiah buat dia, foto perjalanan kita terakhir di Bromo waktu itu, aku... hanya aku yang nyimpen foto itu, padahal beberapa kali Icha minta tapi tidak aku kasih, foto itu hanya ada satu, aku sudah mencetaknya menjadi 2, filenya sudah aku buang, salah satu foto ada padaku, dan satunya lagi rencananya pengen aku kasih buat dia sebagai kenangan terakhir” jawabnya.

Ehmmm aku mengerti, aku yakin kamu gak akan bisa ke pesta kejutan malam ini, jadi titipkan saja sama aku, aku akan diam-diam membawanya dan menumpuknya di tempat kado.” Jawab Putri memberi sedikit harapan pada Dhani.



Dhani pun mengangguk dan meminta untuk bertemu dengan Putri sehabis magrib ditaman dekat sekolah untuk memberikan kado Dhani pada Icha nanti malam. Meski sangat sedih tidak dapat hadir dalam pesta kejutan ulang tahun Icha malam ini, setidaknya kadoitu sudah mewakili kehadirannya disana. Lagi pula kalau Dhani datang, ceritanya akan lain lagi nanti. Dia lebih baik tetap bertahan dan melihat saja apa yang akan terjadi nanti dengan rencana Putri dan Ridwan. Benar, saat ini Dhani hanya sedang dilanda perang dalam dirinya sendiri antara mempertahankan Icha atau melepasnya begitu saja sebagai sebuah kenangan indah, itulah sebabnya sampai saat ini Dhani tidak pernah lagi berbicara dengan Icha maupun teman-teman Icha yang lain. Benar kata Putri, tidak selamanya Dhani akan memenangkan egonya, kini dia benar-benar mulai luluh dan mulai berpikir jernih untuk kelanjutan hubungan mereka nantinya. Tapi tidak untuk saat ini, Dhani masih menunggu waktu yang tepat untuk kembali kesisi Icha dengan alasan yang benar dan tepat pula.

#Flashback End

Icha menangis sepanjang malam didalam kamarnya. Dia tidak tahu bahwa Dhani masih memikirkannya dan masih mengingat bahwa ini ulang tahun Icha serta memberikan kado kenangan terindah mereka berdua saat mereka masih bersama dulu. Icha terus memeluk foto itu dalam tidurnya. Icha beberapa kali memandangi foto itu. Icha membalik foto itu dan menemukan sebuah tulisan dibelakangnya.

Untuk orang yang aku sayang yang berulang tahun hari ini, ku ucapkan selamat ulang tahun sayangku... maaf tidak bisa hadir dalam hari bahagiamu ini. Tapi doaku agar kamu selalu dalam kebahagiaan dan berada dilindungan yang kuasa selalu tertuju padamu, semoga kamu suka dengan kado ini. Love U’’

Air mata Icha makin deras mengalir setelah membaca pesan dari Dhani itu. Tangisan Icha juga semakin kencang. Mas Rezza yang berada diluar kamar Icha bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh adiknya itu. Mas Rezza pun tak bisa berbuat banyak. Mas Rezza hanya membiarkan adiknya meluapkan apa yang selama ini dia pendam.

Sakit, pasti. Perpisahan semacam itu tak pernah diduga dan terbayangkan oleh mereka berdua. Mas Rezza tahu bahwa Icha dan Dhani akan menanggung akibat dari pernikahannya dengan Zullfa, kakak Dhani. Bukannya mengorbankan adiknya sendiri demi perjodohannya dengan Zullfa. Mas Rezza tidak mungkin membantah ayah dan ibunya termasuk nenek dan kakeknya.

Rezza akhirnya meninggalkan kamar Icha dan membiarkan adiknya dalam kamarnya sampai dia tenang dulu. Meski jujur saja Rezza tak akan tidur nyenyak malam ini. Rezza tahu adiknya itu pasti akan menangis semalaman.

Kenangan itu kembali terlintas dipikiran Icha malam ini, begitu banyak memori dalam otakya yang berputar kembali seolah ingin mengulang apa yang telah terjadi. Sosok Dhani lah yang selama ini mengisi hari, hati dan pikirannya.

Saat Dhani menyelamatkannya dari siraman air kotor yang akan mengenainya karena Rima adalah kenangan yang paling membuat Icha gelisah. Hal itulah yang mendasari kedekatan mereka saat itu. Selain itu Dhani juga telah berjasa mempersatukan Icha dengan sahabat lamanya yang pernah memusuhinya.

#FlashBack

Kamu gak apa-apa Cha?” Tanya Dhani pada Icha yang tursungkur dilantai karena terkejut.

Dhan, kamu koq sampai kayak gini sihc? Ahhh kamu... seragam kamu jadi kotor gini...” kata Icha sambil menatap Dhani dan airmatanya kini sudah hampir jatuh seakan masih tak percaya Dhani menyelamatkannya.



***

Dhani sudah berganti pakaian training sekolah saat ini. Dia tidak akan menggunakan seragamnya yang basah dan juga kotor seharian ini. Dia juga sudah mendapatkan izin dari guru untuk tidak memakai seragamnya. Icha membungkus seragam kotor Dhani dalam sebuah kantong plastik.

Biar aku cuciin, semua ini salahku” Kata Icha pada Dhani.

Ehmm aku rasa itu bayaran yang cukup hehehe” jawab Dhani sambil tertawa.

Kenapa kamu nyelametin aku kayak gitu?” tanya icha serius pada Dhani.

Gak ada apa-apa, rasanya sayang kalau baju kamu yang basah, ck...” Jawabnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Icha lalu meninggalkannya.

Icha merasa keheranan dengan sikap Dhani itu.

Alasan macam apa itu... wah... hahhh... ehmm tapi cukup cool juga sikapnya, ehmmm gayanya juga lumayan kalau lagi dilihat begini” kata Icha bergumam pada dirinya sendiri sambil memandangi Dhani dari belakang.



#FlashBack end

Itulah saat pertama kali Icha mulai dekat dengan Dhani. Dhani merebut semua perhatian Icha hingga 2 hari 2 malam Icha tidak bisa tidur memikirkan Dhani yang begitu memperhatian dengan Icha mampu mengalahkan perasaan Icha kepada Dimas.

Icha benar-benar berani mengambil keputusan yang sangat berat juga karena Dhani yang selalu mendorongnya dan mendukung semua keputusan yang dia buat.Ingatan Icha kembali lagi saat Dhani membantunya untuk bersatu lagi dengan Rima menyelesaikan kesalahpahaman mereka berdua.

#Flashback

Rim, Icha itu sama sekali gak ada maksud ngedeketin Dimas lagi, dia udah ikhlas jika Dimas sama kamu, Icha juga sudah mulai ngelupain perasaanya pada Dimas, pelukannya saat itu karena Icha memang tahu Dimas masih menyukainya tapi Icha tahu dia tidak ingin dan tidak bisa kembali bersama Dimas

Cihhh bullshit banget tau gak

Icha masih pengen temenan sama kamu Rim... Icha masih nyimpen semua barang-barang ini, ini adalah barang-barang yg kalian koleksi saat masih bersahabat dulu kan?” kata Dhani sambil menunjukkan beberapa benda yang berada dalam sebuah kotak itu.

Aku minta maaf karena sempet gak jujur sama kamu Rim... aku nyesel... “lanjut Icha dengan wajah memelas,

Icha mencoba menjelaskan semuanya sama kamu, cuma tanggapan kamu selalu negatif, Icha mencoba meminta maaf, Rim...” tambah Dhani.

Beneran Cha?” tanya Rima

Heem... maafin aku ya Rim...” jawab Icha.

Masalah Dimas, aku yg akan urus Rim, biar dia gak deketin Icha lagi, aku janjiin itu, jadi aku minta jangan musuhin Icha lagi dong....” pinta Dhani.

Ya dehc... gue maafin lu Cha... ya udah gue juga mau putusin Dimas, jadi kita gak ada yg milikin Dimas mulai sekarang” jawab Rima.

Jadi kamu maafin aku Rim?” tanya Icha.

Heem...” jawab Rima sambil mengangguk.

He’em... Icha aja nih yg minta maaf?” sindir Dhani.

Iya iya... Cha gue juga minta maaf ya udah salah paham segitu lamanya sama lu”

Iya Rim, santai aja...” jawab Icha sambil tersenyum.

Lagi?” sindir Dhani lagi.

Apaan lagi sihc?” Tanya Rima kesal sambil memandang Dhani.

Lu kan udah bikin seragam gue kotor... huuuhhh lu tuh ya, jangan bilang lu lupa -_-“ kata Dhani kesal pada Rima.

Owhhh masalah itu... Iya Iya... maafin gue”

#Flashback End

Icha mendapatkan lagi sahabatnya karena Dhani. Dia bisa dengan mudah dan cepat melepaskan Dimas yang selama ini Icha anggap sebagai hal yang paling sulit dalam hidupnya. Icha mendapatkan banyak hal membahagiakan dengan Dhani termasuk saat Dhani mengungkapkan perasaannya pada Icha berulang kali.

#Flashback

Cha... Kamu udah bener-bener ngelupain Dimas?” tanya Dhani ragu-ragu.

Heem... wahhh aku bener-bener bahagia dan lepas sekarang, makasih ya?” jawab Icha sambil tersenyum dan bersandar pada pundak Dhani.

Cha... aku sayang sama kamu...” kata Dhani.

Ehmm???” Icha terkejut dan menatap Dhani dengan tatapan tidak percaya.

Anggap aja gak denger dehc..” kata Dhani sedikit kesal.

Hahahahahahaha... ampun... iya iya... aku tahu koq” Jawab Icha sambil memeluk Dhani. Dhani terkejut dengan hal itu namun dia juga bahagia. Dia tahu maksud dari pelukan itu, meski setelahnya Dhani tidak menjelaskan status hubungan mereka hingga pada pesta perayaan ulang tahun sekolah mereka.

#Flashback End

Icha akhirnya tertidur sambil memeluk foto pemberian Dhani itu, dia terus menangis dalam tidurnya dan selalu menyebut Dhani dalam tidurnya. Mas Rezza masuk kamar Icha untuk mematikan lampu kamar adiknya itu dan melihat adiknya yang tidur tidak pada bantalnya. Mas Rezza sangat tahu Icha sangat terluka saat ini. Mas Rezza meletakkan foto yang dipeluk oleh Icha itu didekat lampu tidur kamar adiknya itu. Sesaat mas Rezza melihatnya, senyuman adiknya dalam foto itu sungguh sangat tulus dan manis. Dia melihat keadaan Icha saat ini sungguh berbeda 180 derajat.

Mas Rezza memapahkan kepala adiknya agar berada dibantal, mas Rezza juga melepaskan sepatu Icha lalu menarikkan selimut agar menutupi tubuh adiknya. Mas Rezza membelai rambut adiknya itu agar tidurnya tenang malam ini. Lalu mas Rezza keluar kamar dan mematikan lampu utama kamar Icha dan menutup pintu kamarnya.

***

Ridwan membunyikan klakson motornya saat dia sampai didepan rumah Icha pagi ini. Karena Ridwan tahu nenek dan kakeknya Icha sudah pulang, makanya Icha bisa berangkat tanpa supir dan bodyguard yang merisihkan itu. Tiba-tiba saja Ridwan dikejutkan dengan penampilan Icha hari ini.



Ridwan menghela napasnya panjang. Dia tahu pasti Icha semalaman menangis sampai tertidur. Terbukti mata Icha hari ini bengkak dan sembab. Icha juga terlihat beberapa kali masih terisak. Ridwan hanya bisa membiarkannya saja. Ridwan tahu Icha pasti sangat terluka setelah apa yang terjadi semalam.

Saat Icha baru saja naik kemotor Ridwan tiba-tiba ada sebuah motor yang tidak asing bagi Ridwan dan Icha melintas mendahului mereka. Motor itu melaju dengan kecepatan tinggi hingga disusulpun sepertinya tidak akan tersusul. Ridwan menghela napasnya lagi. Karena dia tahu siapa yang tadi lewat.

“Masih mau masuk sekolah?” tanya Ridwan.

“Emangnya kenapa sampek aku harus gak masuk sekolah?” tanya Icha dengan suara sengaunya.

“Ya udah... resiko ditanggung penumpang” kata Ridwan sambil memakai helmnya. Lalu melajukan motornya untuk berangkat sekolah.

***


Icha disambut dengan teman-temannya yang menganga melihat penampilan Icha hari ini. Apalagi Putri yang terlihat begitu mengkhawatirkan keadaan Icha hari ini. Semua teman-teman Icha menanyakannya apakah dirinya baik-baik saja atau tidak. Icha hanya tersenyum sebagai jawabannya bahwa dirinya baik-baik saja.

Dhani terlihat dilapangan basket dengan teman-temannya yang lain sedang bermain dengan bola basket. Setelah Dhani memasukkan bola basket yang ada ditangannya itu kedalam ring dengan tepat sasaran, Dhani menoleh kearah Icha. Icha pun hanya memandangi Dhani yang juga sedang melihatnya sekarang. Namun tak lama kemudian Dhani kembali fokus pada permainan basketnya.

“Cihhh pagi-pagi udah main basket aja tuh anak, gak ngerti apa gara-gara hadiahnya semalem kamu jadi kayak gini ihhhh nyebelin banget sihc si Dhani sekarang” kata Putri kesal pada Dhani.

Icha pun mengatakan pada Putri untuk membiarkannya saja. Lagi pula ini baik untuk hubungan keluarga mereka.

“Semakin kita saling menjauh, semakin mudah untuk kami saling melupakan satu sama lain” lanjut Icha.

“Rasamu tidak akan bertepi di Roma mu...” Sahut seseorang.

Icha menoleh untuk tahu siapa yang bicara itu. Rupanya Rasyid datang kesekolahnya. Sambil memberikan rangkaian bunga, kue tart berwarna biru dengan tulisan “Happy Birthday Icha” diatasnya dihias lilin berangka 17. Tak lupa 2 buah kotak juga diberikan Rasyid padanya.

“Kenapa 2?” tanya Icha.

“Suaramu sengau banget, habis nangis yah??? Hehehehe... dasar... gitu aja nangis, yang 1 dari nenek, yang satu dari aku, nenek ngajak kamu makan malam nanti, tapi ngelihat keadaanmu gini, aku cancel dahc...” kata Rasyid.

“Ahhh gak apa-apa koq, nanti aku kompres dulu, biar cepet kempes, gak enak cancel acara nenek. Bilangin aku nanti dateng” jawab Icha.

“Oke dehc... kalo kamu maksa. Hey Dhan...” Sapa Rasyid kepada Dhani yang masih bermain basket sambil melambaikan tangannya. Lalu Rasyid meninggalkan Icha dan pergi menghampiri Dhani.

Dhani dan Rasyid terlihat sudah sangat akrab. Rasyid pun ikut bermain basket dengan Dhani. Icha masih mengamati mereka berdua. Dhani terlihat bersikap biasa saja pada Rasyid. Layaknya mereka sudah berteman lama.

***

Bel istirahat berbunyi. Icha menuju kantin untuk membeli es batu. Lalu dia membawanya kembali kekelas. Saat dia akan kembali kekelas, dia berpapasan dengan Dhani yang sedang berjalan dan bercanda dengan teman-temannya. Dhani tak sedikitpun memperhatikan Icha.



Setelah Dhani jauh melewati Icha yang masih terpaku ditempatnya, Icha menoleh dan melihat kearah Dhani. Tak disangka Dhani sekarang berjalan paling akhir, dan kini Dhani berbalik memandang kearah Icha. Dhani hanya memandang Icha tanpa ekspresi. Sebelum akhirnya Dhani berbalik lagi dan melanjutkan jalannya menyusul teman-temannya.

Icha yang mengetahui Dhani yang akan pergi meninggalkannya lagi, segera berlari menuju kearah Dhani. Dengan sigap Icha memeluk Dhani dari belakang hingga menghentikan langkah Dhani. Icha memeluk Dhani dengan sangat erat. Dhani hanya menghela napas panjang saat dia sadar bahwa Icha sedang memeluknya saat ini.

Suara isakan terdengar oleh telinga Dhani. Dhani kembali menghela napasnya. Rasanya ingin sekali Dhani berbalik saat ini dan membalas pelukan Icha saat ini. Namun Dhani berusaha menahan dirinya. Dhani sadar bahwa dia saat ini masih menyukai dan menyayangi Icha. Hanya saja Dhani tidak ingin Icha dalam masalah lagi.

Semua ini Dhani lakukan bukan semata-mata dia tidak sayang lagi pada Icha, justru sebaliknya, dia tidak ingin Icha menjadi korban lagi. Sudah cukup dia saja yang menahannya saat ini. Dengan begini, Anita tidak akan menganggu Icha lagi. Icha juga tidak perlu mendapat amukan dari neneknya.

Icha tak ingin melepaskan pelukannya dari Dhani. Suara isakannya semakin jelas terdengar oleh Dhani saat ini. Dhani memberanikan diri untuk melepaskan tangan Icha dari tubuhnya. Saat tangan Icha benar-benar terlepas, Icha terkejut kenapa Dhani seperti itu padanya.

Tanpa mengatakan sepatah katapun Dhani meninggalkan Icha sendirian. Dia berjalan menuju kearah kantin menyusul teman-temannya yang sudah meninggalkannya sejak tadi. Dhani tak tahu Icha semakin menangis karenanya.

Icha jatuh tersungkur dilantai. Ridwan melihat Icha dari kejauhan dan dia hanya bisa menghela napasnya melihat kelakuan sahabat sekaligus saudaranya itu. Ridwan segera menghampiri Icha dan memintanya untuk segera berdiri.

“Aku masih sayang sama dia Wan... hiks hiks” air matanya terus menetes

“Kenyataannya?” Tanya Ridwan.

“Dia juga masih sayang sama aku, tapi... hiks hiks”

“Jangan memperjuangkan sesuatu yang sudah dimiliki oleh orang lain, hasilnya akan sia-sia saja” Jawab Ridwan.

***


Icha sedang menatap layar handphonenya saat ini, berharap handphonenya berdering dan nomor Dhani yang muncul. Meski sebenarnya Icha sangat tahu hal itu sungguh tidak mungkin terjadi. Icha setaip hari melakukan hal yang sama berharap Dhani akan sedetik mengingatnya dan beritikad baik ingin memperbaiki hubungan mereka. Namun kenyataannya tidaklah seperti yang dia harapkan. Icha sadar dengan yang tadi terjadi disekolah mengenai dirinya dan Dhani.

Icha sudah tidak tahan lagi dan segera memencet nomor panggilan cepatnya nomor 1 dan keluarlah foto Dhani dalam panggilan itu. Icha benar-benar memberanikan diri untuk menelpon Dhani saat ini. Icha ingin memastikan perasaan Dhani saat ini untuknya. Maka dari itu Icha memberanikan diri menelpon Dhani. Lagipula neneknya juga tidak ada dirumahnya, jadi dia aman saja.

Panggilan itu tidak dijawb oleh Dhani. Dhani tahu bahwa Icha menelpon, foto Ichapun terpasang saat panggilan itu masuk di handphone Dhani. Meski sangat ingin mengangkatnya Dhani mengurungkan niatnya dan melanjutkan membaca komiknya.

Lama-lama Dhani risih juga, dia ingin tahu apa yang ingin Icha katakan padanya hingga dia menelponnya berulang kali seperti itu. Tapi Dhani tidak ingin Icha terkena masalah lagi, dan akhirnya Dhani berniat mengangkatnya namun Dhani akan berpura-pura yang mengangkat bukanlah dirinya.

“Hallo Assalamualaikum” katanya mengangkat panggilan Icha.

Wa’alaikumsalam... akhirnya kamu ngangkat telponku juga

“Maaf, ini siapa ya?” tanya Dhani sambil menahan sakit didadanya.

Hati Icha saat ini seperti ditusuk pedang yang sangat tajam. Icha seakan tidak percaya dengan yang baru saja dia dengar. Dhani bertanya ‘Ini siapa’ padanya yang jelas-jelas Dhani tahu bahwa itu dia. Icha berusaha tenang dan menjawab pertanyaan Dhani itu.

“Aku... Icha, anak kelas XI IPS 1” Jawab Icha sambil menahan tangisnya.

“... , owh iya ada apa ya?” Sejenak Dhani terdiam mendengar jawaban Icha itu.

“Dhaninya lagi keluar beli makanan Cha... ini Indra anak kelas XI IPS 2, dia lagi dirumahku Cha, ada pesan buat Dhani?” lanjutnya berpura-pura dia bukan Dhani.

“Iya, sampaikan sama dia, aku telpon, cuma mau mastiin perasaannya sama aku, dia pernah janji gak akan bohoongin aku, aku menagihnya sekarang” jawab Icha sambil terus menahan tangisnya, dia tahu itu bukanlah Indra, tapi Dhani sendiri yang berpura-pura. Icha sangat tahu Dhani berusaha menghindarinya saat ini. Icha mengikuti permainan Dhani saja saat ini.

“Owh... iya... ehmm nanti aku sampaikan sama Dhani kalau dia sudah balik ya Cha...” jawab Dhani mengakhiri pembicaraan.

Icha menutup telponnya dan melempar Handphonenya dengan keras hingga casing belakang, batrai dan mesinnya terlepas. Mas Rezza mendengar ada benda jatuh dari kamar Icha dia pun segera masuk kamar Icha dan melihat Icha terlihat menangis dan sangat kesal. Mas Rezza melihat handphone Icha tergeletak dilantai. Mas Rezza hanya menghela napasnya dan pergi mengambil handphone Icha itu lalu memasangkanya lagi. Mas Rezza menghidupkan handphone Icha untuk mengetahui apa yang terjadi hingga membuat Icha seperti itu. Karena tidak biasanya Icha melempar handphone nya sampai seperti itu.

Mas Rezza malihat panggilan terakhir Icha adalah kepada Dhani. Mungkin mas Rezza tak perlu menanyakan apa yang baru saja terjadi. Mas Rezza hanya meletakkan handphone Icha dimeja belajarnya lalu meninggalkan adiknya yang sedang kesal itu. Mas Rezza tidak tahu lagi bagaimana menghibur adiknya itu.

“Waktu... waktu Cha... yang kamu perluin Cuma waktu sampai kamu nemuin sendiri cara buat neglupain perasaan mu sama Dhani. Aku yakin kamu adikku yang paling kuat. Waktu Cha... waktunya akan datang.” Ucap mas Rezza dari luar kamar Icha.

***

Sudah berbulan-bulan sejak mereka putus, Icha dan Dhani tidak pernah saling sapa sampai sekarang. Dhani juga tidak pernah masuk kelas unggulan. Peringkatnya diujian bulanan stuck ditempat di peringkat 54. Icha tahu Dhani sengaja melakukannya. Karena Icha tahu kemampuan Dhani yang sebenarnya.



Sebentar lagi akan diadakan UKK alias Ujian Kenaikan Kelas. Icha mulai disibukkan dengan seluruh tugas sekolah yang menumpuk. Setidaknya dengan banyaknya tugas dia bisa sedikit melupakan Dhani.

Beberapa kali Icha berniat men DC kontak BBMnya, namun dia urungkan. Dia masih ingin mendengar kabar Dhani setidaknya dari kejauhan. Setidaknya status yang dibuat oleh Dhani sudah mewakili kehadiran Dhani bagi Icha. Makanya dia tidak menghapus kontak Dhani di BBMnya.

Icha terlihat sedang mengerjakan soal matematika sambil mendengarkan lagu korea kesukaannya. Untuk mata pelajaran yang berbau hitung-hitungan Icha tidak dapat konsentrasi jika tidak didampingi dengan music. Padahal beberapa kali mas Rezza sudah mengetuk-ketuk pintu kamar Icha untuk mengecilkan volume lagunya, namun tidak dihiraukan oleh Icha.

Saat waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, Icha segera menutup bukunya dan merapikan buku yang akan dia bawa besok kesekolah lalu memasukkannya kedalam tasnya. Tak lupa Icha mematikan lampu belajarnya. Sebelum pergi tidur seperti biasa dia menyikat giginya dan berganti baju tidur.

Icha mematikan lampu kamarnya dan hanya menyalakan lampu tidurnya saja. Sebelum benar-benar lepas landas kealam mimpi, Icha tak lupa menyalakan alarmnya agar berbunyi tepat jam 2 malam. Lalu Icha segera menarik selimutnya dan memejamkan matanya.

Terlihat di atas meja dekat tempat tidur Icha ada sebuah figura yang berisi fotonya dengan Dhani yang pernah Dhani berikan saat ulang tahunnya. Foto itulah yang menemani Icha selama ini, meski Dhani tidak pernah lagi datang dalam hidupnya.

***

Dhani... Dhani... bangun Dhan... jangan tinggalin aku...



Tiba-tiba saja Icha terbangun dengan keringat yang bercucuran. Mimpi apa dia barusan? Pikirnya. Dia menoleh kearah jamnya. Baru jam 2 kurang ¼ , rupanya. Icha segera mematikan alarmnya dan mengubah jam bunyinya menjadi jam 5 pagi.

Icha segera bangun dan pergi mengambil air wudhu untuk segera sholat tahajud. Biasanya dulu Icha selalu menelpon Dhani untuk membangunkannya ikut sholat malam. Namun semenjak mereka putus, Icha tidak pernah lagi melakukannya.

Sebelum sholat, Icha kembali memikirkan lagi tentang mimpinya. Dia seperti sedang mengantar Dhani yang dibawa kerumah sakit tak berdaya. Didalam mimpinya terlihat Dhani berlumuran darah. Icha menggeleng-gelengkan kepalanya berharap mimpinya itu hanya bunga tidur saja.

Seusai sholat tahajud, Icha kembali tidur lagi, sebelum tidur dia berdoa agar Dhani selalu dalam lindungannya. Agar mimpinya tadi tidak pernah terjadi kepada Dhani. Icha seperti punya firasat yang tidak enak kepada Dhani.

***

Beberapa hari ini Icha terlihat sangat gelisah. Dia selalu diam-diam menanyakan keadaan Dhani kepada teman sekelasnya. Hal itu Icha lakukan karena Icha masih mengkhawatirkan mimpinya itu akan menjadi kenyataan suatu saat nanti.



Rupanya itu hanya perasaan Icha saja. Dhani terlihat sehat segar bugar tanpa cacat sedikitpun. Dhani bahkan masih sempat bermain basket beberapa kali.

Icha merasa bersyukur jika dia dalam keadaan baik-baik saja. Berarti Icha tidak perlu mengkhawatirkan Dhani lagi. Mungkin itu hanya bunga tidur Icha saja dan dia tidak perlu mengkhawatirkannya lagi.

***

Beberapa malam terakhir sebelum sholat tahajud Icha selalu terbangun dijam yang sama. Dan selalu mimpi hal yang sama seperti sebelumnya. Icha merasa ada yang aneh dengan mimpinya itu. Dia mencoba menanyakan kepada kakaknya mengenai hal yang dia alami.



“Mas, masa’ iya aku mimpi beberapa hari ini sama mulu’?” tanya Icha.

“Emang kamu mimpiin apa sihc?” tanya mas Rezza sambil baca bukunya.

“Mimpiin Dhani... kecelakaan mas...” Kata Icha lirih. Takut kalau ayah dan Bundanya tahu ataupun mendengarnya.

“Hush... kamu ini ngomong apa sihc! Doain orang jelek banget” bentak mas Rezza.

“Yeee... udah dibilangin itu mimpi mas... M-I-M-P-I!” jawab Icha dengan penekanan diakhir kata-katanya.

“Emang jam berapa kamu mimpi nya?” tanya mas Rezza lagi.

“Aku selalu kebangun di jam yang sama, sekitar jam 2 kurang ¼ an lah mas...” jawab Icha.

“Ehh??? Ahhh bunga tidur aja kalee Cha... udah pergi belajar sana... minggu depan ujian kan... jadi juara umum tahun ini... katanya mau masuk UI” jawab mas Rezza.

“Yee... ngeledek... liat aja ya nanti... wleppp..” kata Icha sambil meletin masnya yang pergi ninggalin dia duluan.

Icha pun akhirnya masuk kedalam kamarnya untuk belajar. Icha sebenarnya masih memikirkan mengenai mimpinya itu. Namun dia meyakinkan dirinya tidak akan terjadi apapun pada Dhani.

Pikirannya harus fokus kepada UKK nya. Dia harus menjadi juara umum tahun ini. Hal itu untuk menunjang penilaiannya agar bisa masuk tanpa tes ke FH UI dengan mudah yang menjadi idolanya selama ini.

Sementara itu, mas Rezza sedang gelisah didalam kamarnya setelah mendengar cerita dari adiknya. Mas Rezza lumayan mengerti mengenai firasat-firasat, terutama firasat dari mimpi. Kakek buyutnya yang mengajarkannya sebelum kakek buyutnya meninggal sekitar 5 tahun yang lalu.

Mas Rezza tahu mimpi yang dialami oleh adiknya itu bukan mimpi biasa. Apalagi jika melihat waktu mimpi itu sangat jelas bahwa mimpi itu merupakan firasat buruk.

“Pasti akan terjadi sesuatu antara Icha dan Dhani. Wahhh gimana ini...” kata mas Rezza pada dirinya sendiri sambil mondar-mandir dikamarnya.

Mas Rezza tentu tidak akan mengatakan itu adalah firasat buruk kepada Icha. Karena hal itu akan menganggu belajar adiknya nanti. Sehingga mas Rezza memutuskan untuk menyembunyikannya dari Icha agar Icha bisa fokus pada Ujiannya terlebih dahulu.

“Semoga tidak akan terjadi apa-apa diantara mereka. Setidaknya sampai ujiannya selesai” kata mas Rezza.

***

Icha berangkat sekolah bersama mas Rezza hari ini. Ridwan berangkat dengan Putri, makanya tidak bisa menjemput Icha. Terpaksa mas Rezza pula yang kena, padahal hari ini dia tidak ada kuliah pagi.



“Nanti pulang naik taksi aja ya Cha... mas kuliahnya sore nihc” kata mas Rezza sambil menguap karena sebenarnya dia masih sangat mengantuk pagi ini. Namun dipaksa bangun untuk mengantarkan Icha.

“Iya.. iya... bawel banget sihc... lagian kuliah koq loncat-loncat gitu jadwalnya, kayak pocong aja” kata Icha.

“Ye... entar baru tau rasa lu kalo udah masuk kuliah, terserah dehc mau ngatain pocong kek, kuntilanak kek, sampek genderuwo sekalipun terserah... entar kalo udah ngerasain kuliah beneran baru dehc tau rasa” jawab mas Rezza sambil menyalakan mesin motornya.

***


Icha sedang menunggu taksi yang kosong lewat depan sekolahnya untuk mengantarkannya pulang. Namun dari tadi taksi yang lewat selalu penuh. Kalau tidak taksinya sudah dipesan oleh murid atau guru yang lain. Icha mulai gelisah tidak bisa pulang. Hingga tiba-tiba sebuah mobil sport merah kembali datang kesekolah Icha.

Icha langsung menghampiri mobil itu karena sudah pasti itu Rasyid, siapa lagi. Lagi pula sudah lama Icha tidak bertemu dengan Rasyid. Sepertinya Rasyid sudah membaca status BBM Icha siang tadi.

“Aku datang tuan putri...” Kata Rasyid menggoda Icha.

“Baca status BBM ku ya?” tanya Icha sambil masuk kemobil Rasyid.

“Hahahaha... nenek tuh yang baca tadi, makanya aku disuruh jemput kamu” jawab Rasyid.

“Lhah... koq bisa?” tanya Icha penasaran.

“Ya... tadi kebetulan nenek main kesekolah ngaterin Lala Pooo... ketemu sama aku” jawab Rasyid.

“Hah? Emang dek Lala Poo dateng? Sama tente Lita?” tanya Icha lagi, menanyakan kedua keponakan Rasyid itu.

“Iya, semua tante dan omku dateng, kecuali Om Arief. Tau sendiri dia masih ditugaskan di Kalimantan” Jawab Rasyid.

“Owh... kita nonton dulu yuk... suntuk banget nihc” Ajak Icha.

“Boleh, kamu mau nonton apa?” Tanya Rasyid.

“Liat aja entar lah disana” jawab Icha.

Rasyid pun menyetujuinya dan segera melajukan mobilnya. Meski Icha tidak memiliki perasaan apapun kepada Rasyid, tetapi Icha sudah menganggap Rasyid seperti sahabatnya. Makanya sebejat apapun Rasyid, meskipun Icha tahu Rasyid masih berpacaran dengan Dias, namun Icha masih menghargai Rasyid dan selalu menurut saat Rasyid mengajaknya untuk datang keacara pertemuan dengan kolega bisnis neneknya.

Begitu pula dengan Rasyid. Icha sudah seperti adiknya sendiri baginya. Meskipun keduanya tidak tahu akan seperti apa akhirnya nanti, yang pasti keduanya menikmati persahabatan yang terjalin diantara mereka.

***

Icha sedang mendengarkan music dari mp4 player yang diberikan oleh Ridwan saat ulang tahunnya. Terlihat tumpukan buku-buku catatan dan materi berjejer disebelahnya. Icha terlihat serius mengerjakan soal-soal didepannya.



Entah sejak kapan Icha rajin menggunakan kacamatanya lagi. Mungkin karena dia sedang menjalani ujian kenaikan kelas XII, makanya dia serius belajar. Sehingga Icha terpaksa menggunakan kacamatanya lagi agar dia lebih fokus belajar.

Icha bahkan menonaktifkan seluruh akun sosial media miliknya. Icha benar-benar serius mengejar nilainya semester ini. Beberapa les dia ikuti akhir-akhir ini. Bersama dengan teman-temannya yang lain. Termasuk Ridwan dan Dhani.

Hanya saja meskipun mereka satu tempat les, baik Icha maupun Dhani masih sama-sama tidak saling sapa menyapa. Icha sepertinya mulai terbiasa dengan sikap Dhani yang seperti seolah-olah tidak pernah melihat Icha. Icha pun juga melakukan hal yang sama yang Dhani lakukan kepadanya.

Ridwan hanya bisa geleng-geleng kepala saja melihat tingkah mereka berdua yang semakin tidak karuan itu. Rima akhirnya membenarkan perkataan Ridwan yang terdahulu mengenai masalah mereka berdua.

***

Hari ini terakhir ujian kenaikan kelas. Saat ujian mata pelajaran Bahasa Mandarin selesai, wajah lepas bebas terlihat jelas diwajah semua murid. Mungkin karena setelah ini mereka akan menerima libur yang cukup panjang. Tak terkecuali Icha dan kawan-kawan. Selesai sekolah mereka masih berbincang-bincang didepan sekolah.



“Beneran dehc, capek ngelihatin mereka yang dulu kelihatannya serasi banget, ehhh sekarang jadi kayak gini, dikira Icha hantu kalee” celetuk Rima.

“Baru percaya kan lu... gue juga gak habis pikir, masalahnya mereka koq rasa-rasanya rumit banget ya?” kata Ridwan.

“Lu aja yang sodaranya bingung apalagi gue... “ lanjut Rima.

“Dhani... sini dehc...” Panggil Putri.

Dhani menoleh dan mencari siapakah yang tadi memanggilnya. Putri melambai-lambaikan tangannya menandakan dia yang telah memanggilnya tadi. Dhani baru saja mau kelapangan basket, namun akhirnya Dhani pun menghampiri Putri.

“Apaan Put?” Tanya Dhani.

“Nanti siang, bisa ketempatku gak?” Tanya Putri.

“Ehh??? Ngapain Put?” tanya Dhani.

“Ye... malah tanya ngapain, aku baru aja Launching toko kue baru, temen-temen yang lain juga dateng, masa’ iya aku gak ngundang kamu...” Jawab Putri.

“Owh... jadi toko kue ‘A Princess’ itu punya kamu?” tanya Dhani menebak.

“Koq tahu nama tokoku?” tanya Putri balik.

“Iyalah... mbk Zullfa kan habis pesen kue buat ulang tahunnya mas Rezza disitu” jawab Dhani.

“Iya dehc, ntar gampang gue kesana, diskon yah... hehehehehe kan baru launching, masa’ ama temen sendiri harga normal sihc hehehehe” lanjutnya, godanya sambil bercanda pada Putri.

“Hehehehe... iya dehc... gampang itu bisa diatur” jawab Putri.

Setelah berbincang-bincang itu Dhani meninggalkan teman-teman Icha dan kembali menemui teman-temannya yang lain untuk bermain basket. Saat Dhani kembali kelapangan basket, Icha baru datang dan menanyakan ada apa dengan Dhani. Putri hanya mengatakan bahwa dia mengajak Dhani untuk datang ketokonya hari ini.

***


Toko kue itu sudah terlihat memiliki banyak pelanggan meski baru beberapa hari buka. Kebetulan saat hari pertama buka, Putri masih harus ujian, jadi dia belum sempat membuat acara launching tokonya, maka dari itu baru hari ini dia membuat acara peresmiannya.

Tampak Icha dan kawan-kawan sudah ada ditoko itu untuk membantu Putri. Toko yang diberi nama ‘A Princess’ itu menyuguhkan berbagai kue. Seperti yang dikatakan Dhani, ditoko itu juga menyediakan layanan pembuatan kue ulang tahun.

Toko Putri hari ini terlihat sangat ramai. Dhani baru saja terlihat menghentikan motornya didepan toko Putri. Terlihat dari kaca toko, Dhani belum turun dan dia sepertinya masih menghubungi seseorang. Icha yang sedang membantu Putri melayani pelanggan masih mengamati Dhani dari dalam toko.

“Cha.. mobil boxnya bentar lagi dateng bawa bahan-bahan yang habis, nanti tolong didata ya yang dateng apa aja, ini listnya” Pinta Putri pada Icha. Icha pun mengiyakannya dengan mengangguk sambil terus melayani pelanggan.

***

Tak berapa lama kemudian mobil box datang, dan Icha pun segera keluar toko untuk melakukan perintah Putri tadi. Icha berhenti didepan pintu toko saat Dhani menoleh padanya. Hanya saling pandang sebentar dan tetap saja tanpa saling menyapa meski sudah saling memandang.



Saat Icha menghampiri mobil box yang berhenti didekat toko itu, tiba-tiba saja ada sebuah mobil dari arah belakang yang berjalan tanpa kendali. Dhani merasa bahwa mobil itu pasti akan segera menabrak. Dhani segera turun dari motornya. Dan benar saja mobil itu sepertinya semakin kehilangan kendali dan sebentar lagi akan menabrak Icha.

‘BRUKKK....’

Suara tubrukan mobil terdengar diluar. Semua pembeli dan juga teman-teman Icha keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi. Alangkah terkejutnya Ridwan saat melihat Icha tergeletak dekat kaca toko kue Putri. Ridwan segera membantu Icha untuk bangun.

“Kamu gak apa-apa Cha?” Tanya Ridwan panik.

“Ahhh ahhh... gak apa-apa koq... Dhan... Dhani... Dhani....!” Icha melihat Dhani tergeletak disampingnya. Sepertinya kepalanya membentur tiang toko.

“Dhan... Dhani...! bangun Dhan...!” Ridwan juga membantu mencoba membangunkan Dhani. Ridwan mencoba membalikkan badan Dhani. Dan alangkah terkejutnya Icha saat melihat kepala Dhani yang berdarah lumayan banyak.


Chapter VII


Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10   11


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə