Kajian pustaka



Yüklə 172.3 Kb.
səhifə3/3
tarix30.12.2018
ölçüsü172.3 Kb.
1   2   3

Santri/ Pelajar yang bermutu

  1. Kematangan intelektual

Berpikir adalah aktualisasi otak sebagai sumber penggerak yang tidak terbatas dengan menggambarkan dan membayangkan sesuatu dalam pikiran. Setiap hari dalam kehidupan anda akan berpikir, sudah tentu bila anda menghadapi suatu masalah, maka anda akan berpikir dalam kategori yang bersungguh-sungguh berarti menjalankan pikiran, memperkembangkan alat berpikir agar mampu menghadapi persolan dan memecahkannya.

Manusia dalam kehidupan kesehariannya tidak pernah melepaskan diri dari berpikir dan karenanya, kita harus memahami alat berpikir yang kita sebut dengan “kesadaran, kecerdasan dan akal”. Ketiga alat berpikir itu bergerak sesuai dengan dorongan dari berpikir untuk mengetahui dari sesuatu yang tidak ketahui menjadi suatu kebenaran.

Oleh karena itu diperlukan pula pemahamam makna berpikir, yang menurut J.Kafie mengungkapkan lima pengertian berpikir sbb. :


  1. Berpikir Biasa yaitu bergaul dengan pengalaman-pengalaman inderawiah untuk membentuk ketahuan-ketahuan kita.

  2. Berpikir Logis yaitu suatu teknik penalaran untuk dapat menarik kesimpulan yang korek (sah).

  3. Berpikir Ilimiah yaitu berpikir secara sistematis, metodis, dan objektif, dalam rangka mencapai kebenaran dalam ilmu pengetahuan.

  4. Berpikir Filsafat yaitu berpikir dialektis yang terarah untuk mendapatkan kebenaran yang hakiki, integral dan universal.

  5. Berpikir Theologis yaitu corak berpikir Qur’ani yang bertujuan untuk mencapai suatu keyakinan bahwa Allah SWT adalah wujud Al-Haq.70

Biasanya ketika individu telah mencapai tingkat penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang, maka dengan modal itu membuat seorang individu akan siap untuk menerapkan keahlian tersebut ke dalam dunia pekerjaan, atau dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, individu akan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan mampu mengembangkan daya inisiatif-kreatifya sehingga ia akan memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman-pengalaman tersebut, akan semakin mematangkan kualitas intelektualnya.

Terkait dengan intelektual itu sendiri, terdapat tipe-tipe tertentu. Adapun tipe-tipe tersebut adalah:



  1. Inteligensi kristal adalah fungsi keterampilan mental yang dapat dipergunakan individu itu, dipengaruhi berbagai pengalaman yang diperoleh melalui proses belajar dalam dunia pendidikan. Misalnya, keterampilan pemahaman bahasa (komprehensif verbal/verbal comprehensive), penalaran berhitung angka (numerical skills), dan penalaran induktif (inductive reasoning). Jadi, keterampilan kognitif merupakan akumulasi dari pengalaman individu alcibat mengikuti ke-giatan pendidikan formal ataupun nonformal. Dengan demikian, pola-pola pemikiran intelektualnya cenderung bersifat teoretis-praktis (text book thinking).

  2. Fleksibilitas kognitif adalah kemampuan individu me­masuki dan menyesuaikan diri dari pemikiran yang satu ke pemikiran yang lain. Misalnya, kemampuan memahami melakukan tugas reproduksi, yaitu mampu melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya, asalkan memenuhi persyaratan yang sah (perkawinan resmi). Untuk sementara waktu, dorongan biologis tersebut, mungkin akan ditahan terlebih dahulu. Mereka akan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok untuk dijadikan pasangan dalam perkawinan ataupun untuk membentuk kehidupan rumah tangga berikutnya. Mereka akan menentukan kriteria usia, pendidikan, pekerjaan, atau suku bangsa tertentu, sebagai prasyarat pasangan hidupnya. Setiap orang mempunyai kriteria yang berbeda-beda.

  3. Fleksibilitas Visuamotor adalah kemampuan untuk menghadapi suatu masalah dari yang mudah ke hal yang lebih sulit,yang memerlukan aspek kemampuan visual/motorik(penglihatan,pengamatan,dan keterampilan tangan).

  4. Visualisasi, yaitu kemampuan individu untuk melakukan proses visual. Misalnya, bagaimana individu memahami gambar-gambar yang sederhana sampai yang lebih kompleks.71

    1. Kematangan Kepribadian

Keperibadian, adalah suatu kesan menyeluruh tentang diri seseorang, yang dilihat orang lain. Kesan itu merupakan bauran yang unik dari ciri-ciri fisik dan mental yang ada dalam diri seseorang. Kesan yang ditarik oleh orang lain menjadi positif tentang kepribadian orang, bila yang bersangkutan menunjukkan semua kemampuan, perbuatan, dan kebiasaan seseorang baik jasmani, mental, rohani, emosional maupun sosial dapat dijadikan panutan bagi orang lain, kecuali keadaan penampilan yang sebaliknya.

Kepribadian yang sehat akan sangat ditentukan oleh kemampuan seseorang untuk terus meningkatkan kedewasaannya dalam mengaktualisasikan sikap dan perilaku yang dapat diterima oleh orang lain dilihat dari sisi rohaniah, sosial, emosional dan intelektual yang bersumber dari kepercayaan diri karena kemampuan untuk menyalurkan segala yang kita ketahui dan segala yang kita kerjakan.72



Ciri-ciri orang yang berkepribadian diantaranya:

  1. Berani jadi diri sendiri (Be my self), hal ini merupakan dasar kepribadian yang kuat yaitu ketika ia berkata, bertindak, dan bersikap sesuai kata hati nurani. Atau dengan kata lain menjadi diri sendiri karena hati nurani itu hal terjujur yang ada di diri manusia.

  2. Bisa manghargai diri apa adanya, setiap manusia pasti punya kelemahan di samping kelebihan yang Allah ciptakan yamg ada dalam diri kita. Tidak sombong dengan kelebihan dan tidak pula minder dengan kekurangan.

  3. Mempunyai konsep diri yang tepat, Konsep diri ialah suatu cara seseorang yang mana bisa membuat rumusan yang tepat untuk dirinya sendiri. Konsep diri itu bisa diperoleh setelah seseorang itu bisa memahami dirinya dengan baik dan mendalam. Sehingga yang mengetahuinya hanya dirinya sendiri. Diantara konsep diri yaitu mengetahui potensi apa yang dimiliki, mengetahui kekurangan diri, motivasi dalam kehidupan, dan sebagainya. 73

    1. Kematangan Tingkah laku

Tingkah laku adalah segala tindakan yang dilakukan oleh suatu organisme, baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati (seperti pikiran dan perasaan), dengan kata lain tingkah laku adalah “gaya”. Jadi setiap manusia akan mengaktualisasikan diri kedalam tiga gaya tingkah laku, yaitu:

      1. Perilaku asertif yaitu bersifat aktif, langsung dan jujur berarti perilaku ini mengkomunikasikan kesan respek kepada diri sendiri dan kepada orang lain, sehingga memandang keinginan, kebutuhan dan hak satu sama lain adalah sama. Jadi ada kemampuan untuk mempengaruhi, mendengarkan dan bernegosiasi sehingga orang lain bersedia untuk be-kerjasama dengan secara suka rela.

      2. Perilaku non asertif bersifat pasif dan tidak langsung. Merupakan kebalikan dari asertif karena ia membiarkan keinginan, kebutuhan dan hak orang lain menjadi lebih penting dari milik kita, ini berarti menciptakan situasi ”menang-kalah”.

      3. Perilaku agresif bersifat lebih komplek karena dapat aktif atau pasif, jujur atau tidak jujur, langsung atau tidak langsung, tetapi pada dasarnya mengkomunikasikan suatu kesan superioritas dan tidak adanya respek, jadi kita menempatkan keinginan, kebutuhan dan hak kita diatas orang lain.74




1 Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), hal. 416

2 Ensilkopedi Umum, (Yogyakarta: kanisius, 1997), hal. 504

3 Pius A. Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkola, 2001)hal.28

4 Ahmad Fauzi, Psikologi Umum Untuk Fak. Tarbiyah, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), hal. 9

5 Kartini Kartono, Psikologi Anak ( Psikologi Perkembangan), (Bandung: Mandar Maju, 1995), hal. 3

6 Wayan Ardhana dan Sudarsono Sudirjo, Pokok-Pokok Ilmu Jiwa umum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1983), hal.12

7 M. Kasiram, Ilmu Jiwa Perkembangan, Bagian Ilmu Jiwa Anak, ( Surabaya: Usaha Nasional,1983), hal. 10

8 Abdul Aziz El-Qussy, Ilmu Jiwa, Prinsip-prinsip Dan Implementasinya Dalam Pendidikan, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hal. 33

9 Yahya Jaya, Spiritualisasi Islam Dalam Mengembangkan Kepribadian Dan Kesehatan Mental, (Jakarta: Ruhama, 1994), hal.26

10 Ibid., hal.28

11 Fuad Nashori, Potensi-Potensi Manusia, Seri Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hal. 109

12 Imam Malik, Diktat Psikologi Umum (tidak diterbitkan), ( Tulungagung, Fak Tarbiyah IAIN Sunan Ampel, 1995), hal.3

13 Depdikbud, Kamus Besar…, hal. 10

14 Partanto dan Al-Barry, Kamus Ilmiah…, hal. 9

15 Muhamad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hal. 28

16 Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Rajawali Pers, 2000), hal.15

17 http://madkentir.wordpress.com/2008/09/02/beda-ruh-dengan-nyawa/,diakses 15 Agustus 2010

18 Imam Malik, Diktat Psikologi Umum…, hal.3

19 chris leowardy, “Asal usul jiwa” Akademi Kontra Indiferentisme, Forum Terbuka, dalam http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?printertopic=1&t=2394&postdays, diakses 15 Agustus 2010

20 http://m-irsyad.blogspot.com/2009/11/ruh-menurut-pandangan-ulama.html, diakses 16 Agustus 2010

21 http://m-irsyad.blogspot.com/2009/11/ruh-menurut-pandangan-ulama.html, diakses 16 Agustus 2010

22 http://madkentir.wordpress.com/2008/09/02/beda-ruh-dengan-nyawa/,diakses 15 Agustus 2010

23 Dr.R.C.Sproul,“Hati nurani dan moral”, dalam http://reformed.sabda.org/hati_nurani_dan_moral, diakses 15 Agustus 2010

24 http://jalanterabas.blogspot.com/2010/04/definisi-dan-peran-hati-akal-dan-nafsu.html, diakses 16 Agustus 2010

25 Sirajuddin Syamsul Arifin Noer,“macam-macam nafsu”, dalam http://sirajuddinsamsularifin.blogspot.com/2008/04/macam-macam-nafsu.html, diakses 15 Agustus 2010

26 Jalaluddin, Psikologi agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hal. 242

27 Ibid., hal. 244

28 Ibid., hal. 245

29 Markaz al-Risalah, “Pendidikan Anak Menurut Ajaran Islam” dalam http://www.alhassanain.com/indonesian/book/book/family_and_community_library/family_and_child/pendidikan_anak/001.html, diakses 28 april 2010

30 Jalaluddin, Psikologi agama…, hal. 248

31 Ibid., hal. 249

32 Jalaluddin, Psikologi agama…, hal. 250

33 Hakim, “Usaha Orang Tua dalam Membina Pendidikan Agama Anaknya” dalam http://one.indoskripsi.com/judul-skripsi/tarbiyah/usaha-orang-tua-dalam-pembinaan-pendidikan-agama-anaknya-pada-sekolah-meneng-0, diakses 4 Mei 2010

34 Jalaluddin, Psikologi agama…, hal. 248

35 W. James Popham dan Eval Baker, Teknik Mengajar Secara Sistematis, (Jakarta: Rineka Cipta, 2001), hal. 1

36 Nur Uhbiati dan Abu Ahmadi, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), hal. 65

37 Ki Muhammad Said Rekso Hadi Projo, Masalah Pendidikan Nasional, (Jakarta: CV Haji Masagung, 1989), hal.25

38 Sardiman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hal. 125

39 Zainudin, dkk. Seluk Beluk Pendidikan dari Al-Ghazali, (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), hal. 50

40 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers), hal. 41

41 Madya Eko Susilo dan R.B. Kasihadi, Dasar-dasar Pendidikan, (Semarang: Effhar Publishing,1999), hal.52

42 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, hal.41

43 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, (Semarang: As-syifa’, 1992), hal. 910

44 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam…, hal. 41

45 Ibid., hal. 42

46 Undang-Undang Republik Indonesia, Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: Cemerlang, 2003), hal. 29

47 Muhammad Khafifi, “Pola Pendidikan Santri pada Pondok Pesantren” dalam http://khofif.wordpress.com/2009/01/17/pola-pendidikan-santri-pada-pondok-pesantren, diakses 03 Mei 2010

48 Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai,( Jakarta: LP3ES,1985), hal.18

49Abdurrahman Wahid, Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren,(Yogyakarta:LkiS,2001), hal.171

50 Azyumardi Azra, Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru,(Jakarta:Penerbit Kalimah, 2001), hal.70

51 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia:Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada,1999), hal.144

52 Manfred Ziemek, Pesantren Dalam Perubahan Sosial, (Jakarta:LP3ES,1986), hal.130

53 Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren..., hal.55

54 Ibid., hal. 49

55 Ibid., hal. 52

56 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia…, hal. 142

57 Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren..., hal.45

58 Ibid., hal. 50

59 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia…, hal. 144

60 Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren..., hal. 51

61 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta:Bumi Aksara,1997), hal. 149

62 Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren..., hal. 41

63 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam…, hal.150

64 Ibid., hal.212

65 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia…, hal. 155

66 Muhammad Khafifi, “Pola Pendidikan Santri pada Pondok Pesantren” dalam http://khofif.wordpress.com/2009/01/17/pola-pendidikan-santri-pada-pondok-pesantren, diakses 03 Mei 2010

67 Zamakhsyari Dhofier,Tradisi Pesantren..., hal. 28

68 Muhammad Khafifi, “Pola Pendidikan Santri pada Pondok Pesantren” dalam http://khofif.wordpress.com/2009/01/17/pola-pendidikan-santri-pada-pondok-pesantren, diakses 03 Mei 2010

69 Muhammad Khafifi, “Pola Pendidikan Santri pada Pondok Pesantren” dalam http://khofif.wordpress.com/2009/01/17/pola-pendidikan-santri-pada-pondok-pesantren, diakses 03 Mei 2010

70http://sdmatr.wordpress.com/2007/11/01/membangun-kemampuan-berpikir-dan-memahami-kata-kata-kunci/, diakses 5 Me1 2010

71 Azee,“Manusia Dewasa Fisik, Intelektual, Emosional, dan spiritual”, dalam http://azee.student.umm.ac.id/2010/02/04/manusia-dewasa-fisik-intelektual-emosional-spiritual/, diakses 5 Mei 2010

72 http://sdmatr.wordpress.com/2007/11/01/membangun-kemampuan-berpikir-dan-memahami-kata-kata-kunci/, diakses 5 Mei 2010

73 Remaja Kontemporer, “Cara Berkepribadian Kuat” dalam http://remajakontemporer.blogspot.com/2010/04/cara-berkepribadian-kuat.html, diakses 6 Mei 2010

74 http://sdmatr.wordpress.com/2007/11/01/membangun-kemampuan-berpikir-dan-memahami-kata-kata-kunci/, diakses 5 Mei 2010





Dostları ilə paylaş:
1   2   3


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə