Konsorsium sertifikasi guru



Yüklə 3,94 Mb.
səhifə26/45
tarix06.08.2018
ölçüsü3,94 Mb.
#67442
1   ...   22   23   24   25   26   27   28   29   ...   45

b. Judul PTK

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, judul penelitian harus singkat tetapi jelas. Isinya sama dengan hipotesis tindakan tetapi dengan rumusan yang berbeda. Judul harus mengandung variabel bebas (tindakan yang diberikan) dan variable terikat (variabel yang akan ditingkatkan). Contohnya adalah sebagai berikut.


“Peningkatan minat Belajar Seni Budaya Siswa Kelas VII SMP X Jakarta melalui Model Pembelajaran Terpadu
Variabel bebasnya model pembelajaran terpadu dan variabel terikatnya hasil belajar Seni Budaya. Jumlah kata sebaiknya tidak lebih dari 15. Topik atau pokok bahasan kurang perlu untuk dicantumkan dalam judul karena keterangan “Seni Budaya Siswa Kelas VII SMP” sudah cukup spesifik. Jika topik dicantumkan, misalnya “kreasi tari nusantara”, seolah-olah model pembelajaran terpadu itu hanya berlaku pada topik kreasi tari nusantara. Masalah yang dipecahkan dalam PTK seharusnya yang bersifat lintas pokok bahasan, seperti: hasil belajar, minat, dan kreativitas. Dengan demikian penggunaan siklus akan lebih leluasa, tanpa dibatasi oleh topik.
Judul sebaiknya menampilkan hal-hal yang inovatif untuk menarik pembaca; pertama kali orang membaca hasil penelitian Anda adalah pada judulnya. PTK pada dasarnya adalah sarana untuk melakukan inovasi pembelajaran. Sejak munculnya PTK orang menganggap bahwa cooperative learning merupakan pembelajaran inovatif. Hampir semua peneliti PTK memilih judul itu kalau diminta membuat proposal. Akibatnya cooperative learning sudah diteliti oleh banyak orang, dan menjadi hal yang biasa. Sayangnya PTK yang mereka lakukan bersifat semu; setelah selesai PTK mereka kembali ke pembelajaran biasa.
c. Pendahuluan (Bab 1)

Fungsi utama pendahuluan adalah untuk menjelaskan mengapa penelitian

Anda perlu dilakukan. Sampai halaman kedua, pendahuluan harus sudah dapat mengemukakan masalah penelitian secara jelas. Uraian di halaman-halaman berikutnya masih dapat ditambahkan, tetapi sifatnya hanya menegaskan dan melengkapi. Sebaiknya dihindarkan uraian kesana-kemari sampai berhalaman-halaman, dan baru mengemukakan masalah penelitian di bagian akhir.
Latar belakang masalah berfungsi untuk membuat masalah penelitian Anda terlihat lebih menonjol, penting, dan mendesak. Masalah penelitian tidak lain adalah deskripsi masalah yang sudah Anda tulis sebelumnya, di Bagian A; sifatnya mikro, yaitu tentang pembelajaran di kelas Anda. Agar terlihat penting, masalah mikro itu harus dibingkai dengan masalah makro yang berskala nasional. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa Anda sebagai peneliti memahami isu-isu nasional yang relevan. Namun perlu dihindari kesan bahwa penelitian Anda berskala nasional; kenyataannya penelitian Anda hanya berskala kelas. Oleh larena itu uraian latar belakang maksimal dua alinea, dan segera disambung dengan masalah mikro yang

berupa deskripsi masalah itu. Berikut ini adalah contohnya.


Bab 1 Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Standar kompetensi luluan yang ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) melalui Permendiknas Nomor 22 Tahun 2002 tentang Standar Isi untuk Pendidikan Dasar dan Menengah menuntut kompetensi yang tinggi dari para lulusan sekolah menengah. Bersamaan dengan itu dikeluarkan juga Standar Proses yang menuntut proses pembelajaran yang berkualitas, menuju lulusan yang “cerdas dan komprehensif”, sesuai dengan moto Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Implikasinya guru harus senantiasa meningkatkan kompetensi agar kualitas pembelajarannya terus meningkat.
Menurut UU Nomer 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, guru adalah tenaga profesional yang dilatih secara khusus melalui pendidikan profesi, untuk mendapatkan sertifikat sebagai pendidik profesional. Salah satu ciri guru profesional adalah bersifat reflektif. Setiap kali melaksanakan pembelajaran ia selalu melakukan refleksi untuk mengetahui kelemahan-kelemahannya, dan selanjutnya berusaha untuk memperbaiki. Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan cara yang sistematis untuk melakukan refleksi secara intensif dan melakukan perbaikan pembelajaran secara sistematis.
Contoh: Membuat Latar Belakang Masalah

Kurikulum pendidikan memberikan acuan cara belajar yang harus diterapkan oleh guru terhadap siswa dan perlu dicari model pembelajaran yang tepat di sekolah agar menghasilkan nilai pemahaman yang optimal bagi siswa, khususnya pada pembelajaran tari yang terdapat dalam mata pelajaran seni budaya. Siswa yang mengikuti pembelajaran tari diharapkan memiliki sikap yang baik dan menunjukan respon positif secara menyeluruh terhadap pembelajaran tari, namun pada kenyataannya sikap yang ditunjukkan pada pembelajaran tari antara siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda-beda. Ada siswa yang menunjukan sikap mengikuti pembelajaran tari dengan baik, seperti siswa mengikuti kegiatan pembelajaran tari dengan tenang, tertib, dan memberikan respon positif terhadap pembelajaran tari, dsb. Ada pula siswa yang menunjukan sikap yang kurang baik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran tari, seperti tidak melakukan instruksi yang diberikan oleh guru dalam pembelajaran tari, dsb. Sikap tersebut terjadi karena adanya perbedaan tingkat minat belajar antara siswa yang satu dengan siswa lainnya terhadap pembelajaran tari, sehingga membuat kegiatan pembelajaran tersebut menjadi kurang efektif. Kondisi pembelajaran tari yang kurang efektif terjadi dalam pembelajaran tari di SMP Negeri X, Jakarta. Pada pembelajaran tari ditemukan siswa yang memiliki minat yang tinggi terhadap pembelajaran tari, sehingga siswa tersebut dapat mengikuti pembelajaran tari dengan senang hati dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan pemahaman yang optimal dari pembelajaran tersebut. Namun, ditemukan pula siswa yang kurang berminat terhadap pembelajaran tari, sehingga siswa tersebut tidak sepenuh hati melakukan kegiatan dalam pembelajaran tari, bahkan ada yang mengabaikan instruksi yang diberikan oleh guru. Siswa tersebut memiliki minat yang cukup baik terhadap pembelajaran bahasa Inggris, olahraga dan IPA biologi.


Hal tersebut menjadi masalah bagi guru seni budaya untuk membimbing siswa mencapai tujuan pembelajaran tari yang terdapat dalam mata pelajaran seni budaya. Tujuan pembelajaran tari dapat lebih mudah dipahami oleh siswa bila terdapat minat siswa terhadap pembelajaran tesebut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian terhadap siswa untuk meningkatkan minat belajar tari melalui suatu model pembelajaran yang tepat.
Pembelajaran terpadu dengan model jaring laba-laba sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran tari di SMP Negeri X Jakarta, karena melibatkan beberapa mata pelajaran yang berbeda untuk mencapai satu tujuan. Dalam hal ini, untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran tari, melibatkan materi yang terdapat dalam mata pelajaran lain, seperti mata pelajaran olahraga, IPA biologi, dan bahasa Inggris, sehingga dapat menuntut siswa menjadi lebih kreatif dan berkemauan keras untuk mencapai tujuan dalam pembelajaran tari.
Pembelajaran tari memiliki keterkaitan dengan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba, karena dalam pembelajaran tari diperlukan kemauan yang keras dan motivasi agar proses pembelajaran tari menjadi lebih efektif dan diharapkan berdampak terhadap pemahaman yang diperoleh siswa dalam materi pembelajaran tari menjadi lebih optimal. Penerapan pembelajaran terpadu dengan model jaring laba-laba yang melibatkan beberapa mata pelajaran yang berbeda dalam pembelajaran tari menuntut siswa menjadi lebih kreatif dan berkemauan keras untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru dapat menerapkan pembelajaran terpadu dengan model jaring laba-laba untuk meningkatkan minat belajar siswa agar kegiatan pembelajaran tari lebih efektif dan diharapkan berdampak terhadap pemahaman yang diperoleh siswa dalam materi pembelajaran tari menjadi lebih optimal.
Berdasarkan penjelasan tersebut dapat dikatakan bahwa minat belajar seni tari yang terdapat dalam mata pelajaran seni budaya diharapkan dapat meningkat melalui penerapan pembelajaran terpadu dengan model jaring laba-laba di SMP Negeri X Jakarta Jakarta Timur. Minat belajar dan kesadaran siswa akan pentingnya pembelajaran tari diharapkan dapat mempermudah siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan berdampak pada pemahaman yang lebih optimal pada siswa dalam pembelajaran tari.

B. Rumusan Masalah

Apakah model pembelajaran terpadu dapat meningkatkan minat belajar Seni Budaya kelas VII SMP Negeri X Jakarta?


Bagian terakhir pendahuluan adalah tujuan dan manfaat penelitian. Tujuan PTK tidak sekedar ingin “mengetahui peningkatan” variabel terikat (yang akan ditingkatkan) tetapi lebih pada “meningkatkan” variabel terikat itu. Ingin “mengetahui peningkatan” mempunyai konotasi “setelah tahu akan selesai” sehingga peneliti PTK banyak yang kembali ke metode semula setelah penelitian selesai; sedangkan “meningkatkan” mempunyai arti ingin menggunakan metode baru yang ditemukan untuk seterusnya. Manfaat penelitian sebaiknya dirinci untuk berbagai pihak agar makna penelitian menjadi labih besar, misalnya bagi siswa, guru, dan sekolah.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan minat belajar seni budaya siswa.
D. Manfaat Penelitian
Bagi siswa penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan minat belajar seni budaya. Bagi guru penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan membiasakan diri menjadi guru yang reflektif, yang senantiasa berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran. Bagi sekolah, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan citra sebagai sekolah yang efektif, yang membimbing siswa menjadi insan yang cerdas dan komprehensif.
d. Kajian Pustaka (Bab 2)

Deskripsi teori memberikan dasar teori pada variabel-variabel yang Anda teliti. Baik variabel bebas (tindakan yang diberikan) dan variabel terikat (yang ditingkatkan) dua-duanya harus didukung dengan teori. Ini sejalan dengan ciri seorang profesional, yang setiap tindakannya didukung dengan teori yang sudah mantap. Analoginya dengan dokter, setiap obat yang diresepkan harus didukung dengan teori atau hasil penelitian yang sudah mantap. Jika tidak, dokter itu akan lebih tepat disebut dukun.
Namun fungsi teori dalam PTK agak berbeda dengan fungsinya dalam penelitian formal. Asumsinya, peneliti PTK adalah guru profesional yang sudah berusaha menerapkan teori-teori yang sudah mantap itu dalam pembelajaran, tetapi belum berhasil. Sebagaimana kita ketahui banyak sekali teori-teori yang mantap itu berasal dari negara Barat, yang berbeda budaya dengan kita. Dalam PTK Anda dapat saja menemukan teori yang sama sekali baru—disebut grounded theory yang sesuai dengan konteks sekolah Anda. Jadi teori yang dirujuk dalam PTK sifatnya hanya sebagai bahan pertimbangan.
Kata “pustaka” digunakan untuk membedakan dengan “teori’ yang bersifat akademis. Pustaka lebih bersifat umum; Undang-Undang dan Peraturan Menteri dapat dimasukkan ke dalamnya. Dokumen-dokumen itu merupakan kebijakan sehingga tidak dapat dimasukkan dalam kategori teori.
Selain variabel bebas dan variabel terikat, Anda perlu mencari teori yang berkenaan dengan pembelajaran khusus, untuk mata pelajaran Anda. Gunanya agar temuan-temuan yang Anda peroleh nanti tidak menyimpang dari karakteristik mata pelajaran yang Anda ampu. Sebaiknya penyajian hakikat variabel bebas didahulukan agar pembaca langsung dapat mengetahui inovasi yang ditawarkan pada kesempatan pertama. Berikut ini adalah contoh deskripsi teori untuk judul “Peningkatan Minat Belajar Seni Budaya Siswa Kelas VIII SMP X Jakarta melalui Model Pembelajaran Terpadu”.
BAB 2 Kajian Pustaka
A. Deskripsi Teori
1. Minat
Minat menurut Winkel dalam Hamdani adalah kecenderungan yang menetap dalam subyek untuk merasa tertarik pada suatu bidang tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu (Hamdani, 2011:141). Pendapat tersebut bila dihubungkan dengan pembelajaran tari siswa dapat dikatakan bahwa siswa yang memiliki ketertarikan terhadap pembelajaran tari akan merasa senang mengikuti kegiatan dalam pembelajaran tersebut.
Selanjutnya, Slameto masih dalam Hamdani menjelaskan tentang minat bahwa minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memerhatikan dan mengenang beberapa kegiatan yang diminati seseorang disertai rasa sayang. Maksud dari pendapat tersebut bila dikaitkan dengan pembelajaran tari adalah siswa yang memiliki minat terhadap pembelajaran tari akan sepenuh hati mengikuti pembelajaran tersebut dan menjadikan pembelajaran tari sebagai bagian dari pengalaman siswa yang bermakna dan tidak terlupakan.
Pendapat lain tentang minat disebutkan oleh Sardiman bahwa minat sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri (Sadiman, 2011:78). Pendapat tersebut dapat dikaitkan dengan pembelajaran tari, yaitu akan terjadi sebuah situasi yang baik dalam kegiatan pembelajaran tari bila terdapat kebutuhan dalam diri siswa akan pembelajaran tersebut.
Demikian pula menurut Bernad tentang minat masih dalam Sardiman bahwa minat timbul akibat partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar dan bekerja. Minat dalam belajar tidak akan tercipta tanpa didahului oleh adanya partisipasi, pengalaman, dan kebiasaan pada waktu belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut disimpulkan segala sesuatu yang dilihat seseorang yang memiliki hubungan dengan kebutuhan dan ketertarikan, kemudian ada proses partisipasi, pengalaman dan kebiasaan pada waktu belajar akan membangkitkan minat yang desertai perasaan senang dalam suatu pembelajaran yang diharapkan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa secara optimal. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk menciptakan kondisi tertentu agar siswa selalu merasa butuh dan ingin terus belajar.


  1. Model Pembelajaran Terpadu

Pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa, baik secara langsung seperti pada kegiatan tatap muka, maupun secara tidak langsung seperti menggunakan media pembelajaran Rusman, 134). Dalam kegiatan pembelajaran dibutuhkan cara untuk menerapkannya yang disebut model pembelajaran. Model pembelajaran menentukan keberhasilan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran, sehingga guru harus menerapkan model pembelajaran yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran, khususnya pada tujuan pembelajaran tari yang terdapat dalam mata pelajaran seni budaya.

Penelitian yang bertujuan untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam pembelajaran tari di SMP X Jakarta, dapat dilakukan melalui penerapan model pembelajaran terpadu, karena kondisi minat siswa yang lebih tinggi terhadap pembelajaran olahraga, IPA biologi, dan bahasa Inggris dibandingkan dengan pembelajaran tari yang termasuk dalam bidang studi seni budaya. Dengan demikian diharapkan melalui penerapan model pembelajaran terpadu, siswa dapat mengembangkan tema tertentu ke dalam sub-sub tema tari dan bidang studi lain yang disukai siswa seperti: IPA biologi, olahraga dan bahasa Inggris. Selain itu, melalui pembelajaran terpadu siswa dapat belajar tentang seni dalam pembelajaran tari yang termasuk dalam bidang studi seni budaya, dan belajar materi pembelajaran IPA biologi, olahraga, dan bahasa Inggris melalui seni sehingga tercipta minat belajar siswa dalam pembelajaran tari, bahkan diharapkan terjadi peningkatan minat belajar siswa dalam pembelajaran tersebut. Pembelajaram terpadu disebutkan oleh Joni dalam Trianto tentang model pembelajaran terpadu bahwa model pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan holistik, bermakna, dan otentik atau eksplorasi tema menjadi pengendali dalam kegiatan pembelajaran (Trianto, 56).


Maksud dari pendapat tersebut adalah model pembelajaran terpadu memiliki pusat perhatian pada siswa, dapat dilakukan secara individu maupun kelompok dengan karakteristik pembelajaran terpadu, yaitu aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan holistik, bermakna, dan otentik atau eksplorasi tema menjadi pengendali dalam kegiatan pembelajaran. Maksud dari pendapat tersebut adalah suatu pembelajaran akan lebih menarik bila siswa langsung mengalami pembelajaran tersebut secara nyata, seperti siswa bersama guru dapat menentukan sebuah tema, kemudian tema tersebut dikaitkan dengan pokok bahasan lain baik dalam bidang yang sama, maupun bidang yang berbeda. Dalam hal ini, pembelajaran terpadu tetap memiliki tujuan pembelajaran tertentu yang harus dicapai oleh siswa. Kemudian, Rusman berpendapat tentang pembelajaran terpadu bahwa pembelajaran terpadu merupakan sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan autentik (Rusaman, 254).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut disimpulkan pembelajaran terpadu adalah pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan holistik, bermakna, dan otentik atau eksplorasi tema menjadi pengendali dalam kegiatan pembelajaran. Tema dikembangkan ke dalam sub-sub tema yang diminati siswa dalam bidang ilmu yang serumpun atau lintas bidang ilmu yang berbeda.


  1. Seni Tari

Pendapat tentang seni tari disebutkan oleh Soerjodiningrat dalam Jazuli bahwa tari adalah gerak dari seluruh anggota badan yang selaras dengan bunyi musik, diatur oleh irama yang sesuai dengan dengan maksud dan tujuan dalam tari (Jazuli, 1994:3). Pendapat tersebut sesuai dengan Jazuli tentang tari adalah bentuk gerak yang indah dan lahir dari tubuh yang bergerak, berirama, dan berjiwa sesuai maksud dan tujuan tari. Dengan kata lain, gerak terdapat dalam tari yang memiliki tujuan tertentu dan diperjelas dengan adanya musik.
Kemudian, Doubler dalam Smith terjemahan Suharto mengemukakan pendapatnya tentang tari bahwa perhatian tari tidak pada kesenangan gerak tubuh saja, tetapi juga dengan formulasi keseluruhan sesuatu yang tersusun, sehingga hubungan dan pertalian pemilihan bagian-bagiannya semakin bertambah penting dan menarik (Smith, 1985;20). Dengan kata lain, tari akan bertambah berarti dan menarik bila disajikan dengan gerak yang indah dan didukung oleh unsur pendukung tari lainnya yang disusun sesuai dengan kebutuhan.
Dilanjutkan oleh Humphrey terjemahan Murgiyanto tentang pendapatnya terhadap seni tari bahwa seni tari adalah satu-satunya seni yang telah bercerai dari kata-kata (Humphrey, 1993:149). Pada pendapat ini tidak terdapat kata-kata yang diucapkan dalam tari, namun kata-kata dapat disampaikan melalui gerak.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut disimpulkan tari adalah ekspresi jiwa seseorang yang diungkapkan ke dalam gerak ritmis dan indah, memiliki tujuan dan makna tertentu, terlepas dari kata-kata dan menjadi bertambah menarik dengan adanya unsur pendukung tari lainnya. Unsur pendukung tari yang dipakai disesuaikan dengan kebutuhan dalam tari.

Pada seni tari, hal yang paling utama adalah gerak yang memiliki makna tertentu, namun ada hal lain dalam tari yang harus diperhatikan, seperti bentuk, gerak, tubuh, irama dan jiwa. Selain itu, dalam penyajian tari terdapat unsur pendukung, seperti iringan, tema, kostum, tata rias, panggung, tata cahaya, dan tata suara. Kesatuan antara unsur utama dengan unsur pendukung pada tari dapat diungkapkan dalam sebuah tarian yang dapat diwujudkan melalui metode konstruksi satu sampai dengan lima, seperti yang disebutkan oleh Smith terjemahan Suharto dalam bukunya komposisi tari sebuah petunjuk praktis bagi guru.


Pada penelitian ini, siswa tidak hanya diberi pengetahuan tentang definisi tari, tetapi juga diberi pengetahuan tentang unsur-unsur pendukung tari, dan langkah-langkah membuat suatu tarian. Tingkat minat siswa dalam pembelajaran tari akan terlihat melalui sikap siswa dalam penerimaan, penanggapan, penilaian, pengorganisasian, dan karakterisasi yang tercipta pada saat siswa melakukan langkah-langkah membuat suatu tarian berdasarkan instruksi dari guru.

C. Kerangka Berfikir
Pembelajaran terpadu berdasarkan pengintegrasian tema yang sudah dipaparkan sebelumnya dikelompokkan menjadi tiga klasifikasi pengintegrasian kurikulum, yaitu: (1) pengintegrasian di dalam satu disiplin ilmu; (2) pengintegrasian beberapa disiplin ilmu; dan pengintegrasian di dalam satu dan beberapa disiplin ilmu. Pada penelitian ini dilakukan pembelajaran terpadu model jaring laba-laba yang termasuk dalam pengintegrasian beberapa disiplin ilmu.
Pembelajaran terpadu model jaring laba-laba dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran tari karena di dalam pembelajaran terpadu model jaring laba-laba terdapat beberapa kelebihan, yaitu: (1) penyeleksian tema sesuai dengan minat siswa akan memotivasi anak untuk belajar; (2) lebih mudah dilakukan oleh guru yang belum berpengalaman; (3) memudahkan perencanaan; (4) pendekatan tematik dapat memotivasi siswa; (5) memberikan kemudahan bagi anak didik dalam melihat kegiatan-kegiatan dan ide-ide berbeda yang terkait.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa di dalam penelitian ini, siswa akan lebih tertarik dengan pembelajaran tari, karena siswa menjadi fokus perhatian dalam pembelajaran yang difasilatori oleh guru. Dalam pembelajaran terpadu model jaring laba-laba dilakukan pengintegrasian tema dari beberapa disiplin ilmu yang didiskusikan terlebih dahulu antara guru dengan siswa, sehingga pengintegrasian tema tersebut pasti disenangi siswa. Bila pembelajaran berlangsung dengan sesuatu yang disenangi siswa, maka akan tercipta suasana belajar yang lebih efektif dan menyenangkan pula di kelas, sehingga minat belajar siswa yang mulai tumbuh, bahkan minat siswa yang sudah tumbuh pun dapat meningkat, dan diharapkan berdampak pula pada pencapaian hasil belajar yang lebih optimal dari pada sebelumnya.
Selain kelebihan dari pembelajaran terpadu model jaring laba-laba yang dihipotesis dapat meningkatkan minat belajar seni tari siswa terdapat pula kekurangan, yaitu: (1) sulit dalam menyeleksi tema; (2) cenderung merumuskan tema yang dangkal; dan (3) terkadang guru lebih memusatkan perhatian pada kegiatan dari pada pengembangan konsep.
Bab 3 Metodologi Penelitian

A. Setting

Penelitian ini akan dilakukan dalam mata pelajaran Seni Budaya pada semester ke ... tahun ... di SMP X Jakarta. Subyek penelitian adalah siswa kelas VII yang berjumlah 32 orang siswa. Sekolah ini merupakan Sekolah Standar Nasional yang berukuran besar, mempunyai 27 kelas. Gurunya 80% berkualifikasi S1 dengan program studi yang relevan dengan mata pelajaran yang diampu. Yang sudah memperoleh Sertifikat Pendidik Profesional sekitar 50%.


B. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang prosesnya disajikan seperti pada Gambar berikut.


Gambar 4.2. PTK Model Kemmis & McTaggart


Penelitian direncanakan akan berlangsung selama tiga siklus, yang masing-masing terdiri dari: perencanaan (plan), pelaksanaan (act), pengamatan (observe), dan refleksi (reflect). Tiap siklus minimal akan terdiri dari tiga pertemuan tatap muka sehingga keseluruhan penelitian akan terdiri dari sekitar sembilan pertemuan tatap muka.

C. Siklus Penelitian

Plan yang tidak lain adalah hipotesis tindakan akan dilaksanakan secara berulang-ulang dalam siklus I, sebanyak beberapa kali pertemuan tatap muka. Pelaksanaan tindakan akan diamati dan dicatat dengan seksama. Pada akhir siklus pengamatan terhadap variabel terikat dilakukan dengan tes. Data hasil tes dianalisis atau direfleksi untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalannya. Refleksi diakhiri dengan merencanakan tindakan alternatif atau revised plan, yang akan diterapkan pada siklus II.


Plan untuk siklus II sepenuhnya tergantung pada hasil refleksi siklus I; demikian juga plan untuk siklus III sepenuhnya tergantung pada hasil refleksi siklus II.

Yüklə 3,94 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   ...   22   23   24   25   26   27   28   29   ...   45




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
rəhbərliyinə müraciət

gir | qeydiyyatdan keç
    Ana səhifə


yükləyin