Landasan teori pengajaran bahasa indonesia



Yüklə 0.54 Mb.
səhifə10/14
tarix18.01.2018
ölçüsü0.54 Mb.
1   ...   6   7   8   9   10   11   12   13   14

(v) Kesimpulan


Pada bagian ini penulis merangkum temuan-temuan dari analisis rasional dan kritis dan mengemukakan apa yang perlu dilakukan lebih lanjut.

(vi) Daftar Referensi


Hanya mencantumkan pustaka-pustaka yang digunakan dan diteliti untuk analisis rasional itu. Gelar dan pangkat akademik tidak dicantumkan.
Catatan :

Makalah (artikel) yang didasarkan pada “books-survey atau library research” haruslah menampakkan kemampuan analisis kritis atas teori-teori, pendapat-pendapat dari seseorang, bukan, sekali lagi bukan merupakan hasil kompilasi.



(3) Makalah berdasarkan refleksi filosofis


Refleksi filosofis juga merupakan analisis kritis dan rasional mengenai isu-isu dan keadaan-keadaan yang dimasalahkan, terutama yang mempunyai dampak pada kehidupan manusia. Kemajuan pengetahuan, ilmu, teknologi, seni dsb. dalam kenyataan mempunyai implikasi moral dan mucullah persoalan-persoalan nilai. Mengenai apakah ilmu termasuk teori itu “bebas-nilai” atau “terikat-nilai” merupakan isu lama. Karena tidak terdapat kesepakatan muncullah dua kelompok, yaitu kelompok yang berpandangan “bebas-nilai” dan kelompok yang berpandangan “terikat-nilai”, masing-masing mempunyai argumen-argumen kuat.
Refleksi filosofis selain menampakkan kemampuan analisis, kritis dan rasional, juga menampakkan kemampuan menilik sesuatu secara mendalam dan mendasar yang biasa disebut “wesen-anschauung” dari apa yang dikaji. Apa yang didapat dari penilikan yang demikian itu, dianggap penuh makna. Untuk analisis yang demikian mendalam dan mendasar yang biasa disebut “wesen-anschauung” dari apa yang dikaji. Apa yang didapat dari penilikan yang demikian itu, dianggap penuh makna. Untuk analisis yang demikian dikembangkan kemampuan intuitif penulis. Oleh karena itu refleksi filosofis itu dianggap memiliki tingkat orisinalitas lebih tinggi. Tidak ada format standar yang harus diikuti, karena masing-masing penulis menyajikan pembahasan dan pemilahan masalah yang dibicarakan tergantung pada bagaimana ia menghayati sesuatu masalah dan pandangan atau aliran filsafat yang dianutnya. Akan tetapi secara umum dapat dikemukakan bahwa format makalah filosofis berisikan tiga bagian, yaitu bagian pendahuluan, bagian pembahasan dan bagian penutup.

(i) Bagian pendahuluan


Pada bagian ini dikemukakan isu yang dimasalahkan. Perlu dinyatakan apakah isu itu baru, atau isu lama dan sudah sering dibincangkan. Apakah terdapat pendapat-pendapat yang berbeda dan bahkan berlawanan. Apa usaha dari penulis yang sekarang untuk mencari pemecahan dua atau lebih pandangan yang berbeda dan berlawanan itu. Untuk ini penulis hendaklah memilah-milah isu tersebut menjadi unsur-unsur yang saling berkaitan.

(ii) Pembahasan


Pada bagian ini penulis melakukan analisis kritis tiap unsur. Analisis kritis ini tentu memerlukan pengajian upaya-upaya dan hasil - hasil orang terdahulu: bagaimana mereka membincangkan isu/masalah tersebut dan apa pendapat serta kesimpulan mereka. Dalam pembahasan tiap unsur itu, penulis selain mengemukakan pendapat yang berbeda-beda juga menyatakan posisinya. Untuk menyatakan posisi itu, penulis memgemukakan kritik-kritik pada tiap pendapat atau pandangan atau teori yang dimasalahkan.

(iii) Kesimpulan


Pada bagian ini penulis, atas dasar analisis kritis pada bagian pembahasan, mengemukakan apa selanjutnya yang perlu dan harus dilakukan. Apa manfaat dari teori-teori yang berbeda dan berlawanan itu bagi pengembangan pengetahuan ilmiah.

(b) Metodologi


Untuk makalah berdasarkan penelitian empiris, persoalan metodologi ini penting dijelaskan. Metodologi ini tidak hanya mengenai teknik analisis data, tetapi mulai dari desain penelitian, populasi dan teknik penetapan sampel serta unit-unit analisis. Selanjutnya teknik pengumpulan data, instrumen yang digunakan, teknik pengukuran, kesahihan dan keandalan instrumen serta teknik analisis statistik yang digunakan.

Untuk makalah berdasarkan hasil kajian pustaka dan refleksi filosofis, ditekankan pada kemampuan analisis kritis dan rasional. Untuk ini pemahaman dan penguasaan bahasa teknis dan formal menjadi amat penting. Selain itu potensi berpikir filosofi, yaitu berpikir yang mendasar dan sistematis perlu dikembangkan.



(c) Bahasa


Perlu diketahui, meskipun bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah itu berasal dari bahasa resmi sehari-hari, tidaklah berarti bahasa untuk pengomunikasian pengetahuan itu sama dengan bahasa resmi sehari-hari. Bahasa resmi sehari-hari lebih menonjolkan bentuk fonografik, sedangkan bahasa pengetahuan menggunakan bentuk ideografik, bahasa yang menguakkan substansi dari apa yang dibicarakan dan mempunyai arti yang persis, pasti dan konsisten. Sehubungan ini penggunaan lambang-lambang menjadi penting dan suatu keharusan, khususnya untuk menyatakan hubungan-hubungan dan persamaan-persamaan atau mengemukakan teorem-teorem. Selanjutnya, tiap terma yang digunakan dalam kalimat atau perumusan formula, tidak hanya mempunyai arti tetapi mempunyai fungsi agar keseluruhan kalimat atau formula mempunyai nilai kebenaran fungsional.

Carnap mengelompokkan bahasa pengetahuan dalam bahasa kualitatif dan bahasa kuantitatif. Bahasa kualitatif ditandai oleh penggunaan predikat yang diungkapkan dengan kata-kata, bahasa kuantitatif menyatakan hasil pengukuran dan penghitungan, diungkapkan dengan simbol-simbol fungsi dan memiliki nilai-nilai bilangan. Deskripsi obyek pengetahuan dengan bahasa kualitatif melalui penggunaan dua konsepsi pengetahuan, yaitu: konsepsi klasifikatif dan konsepsi komparatif. Deskripsi obyek pengetahuan dengan bahasa kuantitatif, menggunakan konsepsi kuantitatif, menyajikan hasil-hasil pengukuran.

Carnap juga menegaskan keperluan mengelompokkan bahasa pengetahuan dalam: (a) terma-terma logis termasuk terma-terma matematik murni; (b) terma-terma observasional; dan (c) terma-terma teoretis yang juga disebut konstruk. Mengenai kalimat-kalimat juga terdapat pengelompokkan yang sama, yaitu: (a) kalimat-kalimat logis yang tidak mengandung terma-terma observasional atau deskriptif; (b) kalimat-kalimat observasional yang tidak mengandung terma-terma teoretis; dan (c) kalimat-kalimat teoretis yang dapat merupakan: (i) mengandung baik terma-terma observasional maupun teoretis; dan (ii) hanya mengandung terma-terma teoretis.

Terma-terma teoretis dikenalkan melalui teori-teori yang didasarkan atas dua jenis postulat, yaitu: (a) postulat teoretis, merupakan hukum-hukum dari teori dan sepenuhnya mengandung kalimat-kalimat teoretis; dan (b) postulat korespondensi, kalimat-kalimat campuran yang berisikan terma-terma teoretis dan observasional.

Penggunaan bahasa Indonesia dalam karya-karya ilmiah memberikan kesan bahwa kita kurang kritis dan cermat berbahasa. Kita tidak melakukan analisis kritis dalam hal memilih dan menggunakan terma-terma ketika merumuskan pendapat, hukum atau teori. Bahasa yang banyak digunakan tidak berbeda dari bahasa sehari-hari yang menonjolkan bentuk fonografik. Apakah ini membuktikan bahwa Bahasa Indonesia belum dapat digunakan sebagai bahasa pengetahuan? Penggunaan terma-terma seperti: “data-data”, “para”, “bisa”, “akibat”, “dampak”, “terhadap” dan kegemaran penggunaan awalan ganda seperti: “member”, “diber”, “memper”, “diper” membuktikan betapa besar pengaruh sosiologisme dalam penggunaan bahasa. Tentu ada pengecualian, tetapi kaidah pengecualian itu jangan dibuat berlaku umum. Selain itu keengganan menggunakan “mengaji”, “pengaji”, “pengajian” dan malah yang digunakan -meskipun melanggar kaidah imbuhan- ialah “mengkaji”, “pengkaji”, “pengkajian” dan membuat singkatan seperti “semiloka” pengganti “seminar dan lokakarya”, “Diknas” pengganti “Pendidikan Nasional dsb. membuktikan betapa besar pengaruh psikologisme. Bahasa pengetahuan haruslah mencerminkan rasionalitas, bukan emosionalitas atau
menonjolkan kandungan emotif dan juga bukan karena bahasa itu telah berterima dalam masyarakat atau digunakan oleh orang banyak. Bahasa Pengetahuan itu menyajikan ide, konsepsi yang terkandung dalam informasi dari obyek pengetahuan yang persis, pasti dan konsisten. Bila bahasa yang digunakan mengandung ambiguitas, terjadilah distorsi dalam penafsiran dan pemahaman informasi pengetahuan. Keadaan yang demikian menghambat pengembangan pengetahuan ilmiah.



Dostları ilə paylaş:
1   ...   6   7   8   9   10   11   12   13   14


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə