Landasan teori pengajaran bahasa indonesia



Yüklə 0.54 Mb.
səhifə12/14
tarix18.01.2018
ölçüsü0.54 Mb.
1   ...   6   7   8   9   10   11   12   13   14

6. Kelompok diskusi


Perguruan Tinggi, sejak dulu dinyatakan sebagai pusat pengembangan pengetahuan ilmiah. Sehubungan dengan itu di Perguruan Tinggi ada bermacam-macam lembaga penelitian dan kelompok diskusi rasional. Melakukan penelitian-penelitian dan diskusi-diskusi rasional menjadi fungsi utama ilmuan, sedangkan mengajar merupakan fungsi kedua. Bila hal ini tidak mungkin dilakukan karena kondisi-kondisi yang diperlukan belum tersedia, keadaan yang demikian tidaklah mengabaikan keperluan melakukan penelitian dan diskusi rasional serta menerbitkan karya ilmiah. Penelitian itu tidak hanya penelitian lapangan dan melakukan eksperimen, tetapi termasuk pula kajian pustaka.

Kelompok diksusi tiap disiplin ilmu perlu diadakan. Kelompok ini tidak hanya melakukan diskusi rasional mengenai hasil-hasil penelitian dan naskah–naskah yang akan diterbitkan, tetapi mungkin pula mendiskusikan usulan-usulan penelitian. Melalui diskusi-diskusi rasional yang dilakukan secara periodik di Perguruan Tinggi, iklim dan kesadaran akan keperluan mendapatkan dan mengembangkan pengetahuan ilmiah akan dihayati. Perlu diketahui tugas utama dosen-dosen dalam melaksanakan fungsi kependidikan mereka bukan hanya menyajikan pengetahuan yang telah ada, tetapi yang lebih penting ialah menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan rasional, mahasiswa menanyakan/memasalahkan teori-teori yang mereka dapat dari dosen-dosen dan dari pustaka-pustaka. Situasi belajar yang demikian, kecuali dosen-dosen juga kritis ketika menelaah pustaka-pustaka, baik untuk keperluan perkuliahan, melakukan penelitian maupun penulisan karya ilmiah

Melalui kelompok diskusi minat dan kemampuan dosen-dosen menulis karya-karya ilmiah dikembangkan dan ditingkatkan. Apalagi syarat yang harus dipenuhi untuk pengusulan dan promosi jenjang kepangkatan ialah karya-karya ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah., artikel-artikel ilmiah itu haruslah relevan dengan matakuliah yang diajarkan dan/atau disiplin ilmu yang merupakan bidang kepakaran. Dengan publikasi karya ilmiah yang berkaitan dengan matakuliah dan disiplin ilmu, yaitu karya ilmiah yang memuat temuan-temuan baru, baik berupa fakta-fakta baru maupun interpretasi dan teori-teori baru berarti dosen-dosen berperan aktif dalam pengembangan pengetahuan ilmiah.
7. Memulai penulisan karya ilmiah.

Telah menjadi pendapat umum, persoalan bagaimana dan dari mana memulai menulis karya ilmiah, merupakan penghambat pertama dan utama. Karena kurang mampu mengatasi hambatan tersebut, minat dan keinginan menulis ditekan dan potensi menulis yang dimiliki tidak dikembangkan. Ada yang mengatakan minat menulis itu muncul karena ada inspirasi. Ada pula yang mengatakan karena keingin-tahuan (curiosity), yang lain mengatakan karena menghadapi masalah dan masalah ini perlu dipecahkan. Tiga hal tersebut tidaklah berdiri sendiri, karena inspirasi akan membangkitkan keingin-tahuan dan kemudian keingin-tahuan akan mengarahkan pada penemuan masalah yang perlu dipecahkan dengan melakukan penelitian. Hasil-hasil penelitian baik lapangan, eksperimen maupun kajian pustaka dituliskan dan dipublikasikan agar kalangan ilmuan mengetahui apa yang telah dilakukan dan ditemukan dalam kegiatan pengembangan pengetahuan ilmiah.

Sehubungan dengan itu ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebelum memulai menulis karya ilmiah.




  1. Melakukan kajian pustaka: jurnal, periodikal, makalah kerja, majalah, surat kabar dsb untuk menemukan isu-isu dan mungkin ada dari isu-isu tersebut yang menarik dan penting untuk dikaji lebih lanjut. Langkah ini merupakan kajian pendahuluan.

  2. Mendiskusikan dengan sejawat tentang niat anda untuk melakukan kajian lebih lanjut dan mendapatkan pandangan dari teman sejawat.

  3. Menetapkan isu tersebut termasuk yang mana: (i) masalah praktis yang belum terselesaikan, (ii) kesenjangan antara teori dan praktek; ataukah merupakan (iii) konflik teoretis. Bila konflik teoretis, termasuk yang mana; (a) apakah perbedaan metodologis, (b) perebutan bidang kajian; atau (c) perbedaan landasan fundamental teori.

  4. Menetapkan pendekatan: (i) apakah akan melakukan survai perpustakaan, atau (ii) melakukan penelitian empiris. Bila penelitian empiris yang dipilih, perlu ditetapkan apakah melakukan penelitian lapangan atau melakukan eksperimen.

  5. Bila memilih survai pustaka, pustaka yang disurvai tidak hanya publikasi publikasi mutakhir, tetapi juga yang lampau agar diketahui bagaimana perkembangan dan posisi teori yang dimasalahkan. Dalam hal ini penulis/peneliti harus melakukan analisis kritis dan rasional.

  6. Penelitian dalam bentuk survai-pustaka perlu menyusun proposal penelitian untuk diajukan pada pihak penyandang dana.



  1. Bila penelitian lapangan yang dipilih, penulis/peneliti hendaklah melakukan observasi pendahuluan guna mendapatkan informasi pendahuluan tentang kemungkinan melakukan penelitian, untuk mengetahui segala sesuatu yang perlu disiapkan.

  2. Bila penelitian yang diniatkan itu mungkin dilakukan dan akan mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait, penulis/peneliti menyusun proposal penelitian untuk diajukan kepada penyandang dana.

  3. Bila penelitian yang diniatkan ialah melakukan eksperimen, penulis/peneliti harus menetapkan tempat eksperimen. “Bila eksperimen di alam terbuka, penulis/peneliti perlu melakukan observasi tempat-tempat yang tepat. Bila eksperimen dilakukan dalam laboratorium, penulis/peneliti harus menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melakukan eksperimen. Penyiapan segala sesuatu ini juga dilakukan untuk eksperimen di alam terbuka.

  4. Penulis/peneliti menyusun proposal melakukan eksperimen untuk diajukan pada pihak penyandang dana.

  5. Format dan isi proposal penelitian mengikuti ketentuan-ketentuan pihak penyandang dana. Untuk ini Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di tiap Perguruan Tinggi dapat menyediakan format proposal penelitian tersebut.

  6. Berdasarkan hasil-hasil penelitian itulah ditulis karya ilmiah untuk disajikan dalam seminar/simposium ilmiah tingkat nasional atau tingkat internasional, atau dikirim ke jurnal ilmiah untuk dipublikasikan.

  7. Akan tetapi, sebelum karya ilmiah itu disajikan dalam seminar/simposium ilmiah, lebih baik didiskusikan lebih dahulu dalam kelompok diskusi terkait yang ada di tiap Perguruan Tinggi .





Dostları ilə paylaş:
1   ...   6   7   8   9   10   11   12   13   14


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə