Landasan teori pengajaran bahasa indonesia



Yüklə 0.54 Mb.
səhifə6/14
tarix18.01.2018
ölçüsü0.54 Mb.
1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   14

SELUK-BELUK KALIMAT EFEKTIF BAHASA INDONESIA DAN PENULISAN DAFTAR PUSTAKA




Dr. Achmad Tolla, M.Pd.

A. Latar Belakang

Kalimat merupakan kesatuan ujaran yang menyatakan setiap gagasan, pikiran atau konsep serta perasaan yang dimiliki seseorang. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997:4341). Setiap kalimat yang baik harus memenuhi persyaratan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidah tersebut meliputi: (1) unsur-unsur penting yang harus dimiliki setiap kalimat, (2) aturan-aturan tentang Ejaan yang Disempurnakan, dan (3) cara memilih kata dalam kalimat.

Sebuah kalimat menjadi jelas maknanya jika memiliki paling kurang subjek dan predikat dan ditulis sesuai dengan aturan Ejaan yang Disempurnakan, serta kata-kata yang dipergunakan haruslah tepat. Kalimat yang jelas dan benar tidak akan sulit bagi orang lain untuk memahaminya. Kalimat yang demikian disebut kalimat efektif. Menurut Yunus (1996:115), kalimat efektif adalah kalimat yang mempunyai kemampuan menyampaikan pesan pembicara atau penulis kepada pendengar atau pembaca. Bila hal ini tercapai, diharapkan pembaca atau pendengar akan tertarik kepada apa yang disampaikan oleh penulis atau pembicara.

Agar kalimat yang disampaikan, baik lisan maupun tulisan dapat memberi informasi kepada pendengar atau pembaca, perlu diperhatikan beberapa hal yang merupakan ciri-ciri kalimat efektif berikut ini.



B. Pembentukan Kalimat Efektif

  1. Penekanan dalam Kalimat

Yang dimaksud dengan penekanan ialah suatu perlakuan khusus menonjolkan bagian kalimat sehingga berpengaruh terhadap makna kalimat secara keseluruhan (Finozza, 2001:139). Seorang pembicara biasanya akan memberi penekanan pada bagian kalimat dengan memperlambat ucapan, meniggikan suara, disela oleh jeda, dan diakhiri oleh intonasi selesai. Dalam penulisan huruf latin, kalimat dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda perhentian mutlak (tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru). Berikut dikemukakanh beberapa cara untuk memberi penekanan dalam kalimat tulisan.


    1. Posisi dalam kalimat

Untuk memberi penekanan pada bagian tertentu sebuah kalimat, penulis dapat mengemukakan gagasan pokok pada bagian depan kalimat. Cara ini di sebut juga pengutamaan bagian kalimat.

Contoh:


  • Kita akan ujian akhir semester pada bulan Desember.

  • Ujian akhir semester kita tempuh pada bulan Desember.

Ketiga kalimat di atas mempunyai pengertian yang sama, tetapi gagasan

pokoknya berbeda.



    1. Urutan yang logis

Yang dimaksud dengan urutan yang logis ialah ide kalimat itu dapat diterima oleh akal sehat. Sebuah kalimat biasanya mengemukakan suatu kejadian atau peristiwa. Kejadian dalam suatu peristiwa hendaknya diperhatikan agar urutannya tergambar dengan logis. Urutan yang logis dapat disusun secara kronologis dengan penataan urutan yang makin lama makin penting sehingga tampak menggambarkan suatu proses.

Contoh:


Telekomunikasi cepat-vital dimaksudkan untuk keamanan, mobilitas pembagian, dan persatuan.

3) Pengulangan kata

Pengulangan kata dalam kalimat diperlukan untuk memberi penegasan pada bagian yang dianggap penting. Hal ini bertujuan agar kalimat menjadi lebih jelas.

Contoh:


  • Saudara-saurdara, kita tidak suka dibohongi; kita tidak suka di tipu; dan kita tidak suka dibodohi.

  • Pembangunan dilihat sebagai proses yang rumit dan mempunyai banyak dimensi, tidak hanya berdimensi ekonomi, tetapi juga dimensi politik, sosial, dan budaya.

    1. Pertentangan kata terhadap makna yang ditonjolkan

Penekanan pertentangan kata, dilakukan terhadap kalimat majemuk setara. Makna klausa pertama dari kalimat tersebut menjadi terasa lebih tegas karena dipertentangkan dengan makna klausa kedua.

Contoh:


  • Rakyat Indonesia tidak menghendaki pemerintah yang bersifat munafik, tetapi pemerintah yang bersifat jujur.

  • Dia dengan mudah memperoleh nilai A pada mata kuliah bahasa Indonesia, padahal, kita mendapatkan nilai B saja sulit.

5) Partikel penekanan

Partikel penekanan adalah kata yang tidak dapat mengalami perubahan bentuk dan hanya berfungsi menampilkan unsur yang diiringinya.



  1. Partikel yang

Partikel yang ditempatkan di antara subjek dan predikat.

Contoh:


  • Partai yang memilih calon presiden (yang) jujur diharapkan memperoleh kemenangan dalam pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 2004—2009.

Bandindingkan dengan:

  • Partai memilih calon presiden jujur diharapkan memperoleh

kemenangan dalam pemilihan Presiden Republik Indonesia periode

2004—2009.



  1. Partikel -lah

Partikel -lah dapat digunakan untuk menghaluskan nada perintah dan memberikan ketegasan yang sedikit keras. Selain itu, partikel –lah dapat diikuti oleh partikel yang ditempatkan antara subjek dan predikat.

Contoh:


  • Pergilah sekarang, sebelum hujan turun!

  • Dari ceritamu, jelaslah kamu yang bersalah.

  • Dialah yang membaca buku ini.

  1. Partikel -kah

Partikel –kah mengubah kalimat positif menjadi kalimat interogatif. Jika dalam kalimat interogatif sudah ada kata tanya seperti apa, di mana, dan bagaimana, maka kata itu menjadikan kalimat lebih formal dan sedikit lebih halus.

Contoh:


- Diakah yang akan datang? (Dia yang akan datang.)

- Ke manakah anak-anak pergi? (Ke mana anak-anak pergi.)



  1. Partikel –tah

Parikel –tah dipakai dalam kalimat interogatif, tetapi penanya sebenarnya tidak mengharapkan jawaban. Ia seolah-olah hanya bertanya pada diri sendiri karena keheranan atau kesangsiannya.

Contoh:


  • Apatah artinya hidup ini tanpa engkau?

- Siapatah gerangan yang mau menolongku?

  1. Partikel pun

Partikel pun dalam bentuk tulisan dipisahkan dari kata di depannya sebagaimana contoh berikut ini.

(1) Pun dipakai untuk mengeraskan arti kata yang diiringinya.

Contoh:


  • Mereka pun akhirnya setuju dengan usul kami.

  • Dia pun pergi setelah dimarahi pimpinannya.

  • Setelah terjadi kesalahpahaman, dia pun pergi dengan melambaikan tangannya.

(2) Dengan arti yang sama seperti di atas, pun sering pula dipakai bersama dengan -lah untuk menandakan perbuatan atau proses mulai berlaku atau terjadi.

Contoh:


  • Para anggota yang menolak pun mulailah berpikir lagi.

  • Anggota yang tidak memilih calon ini pun haruslah menerima keputusan akhir.

Perlu diketahui pula bahwa ada beberapa kata yang ditulis serangkai

dengan partikel –pun. Contoh:



adapun, andaipun, bagaimanapun, betapapun, biarpun, begitupun,

beginipun, kendatipun, namunpun, sekalipun, sungguhpun, walaupun
6) Penekanan dengan kata keterangan dan kata penghubung

Keterangan penekanan yang lazim digunakan adalah kata memang, apalagi, lagipula, bahkan, dan lebih-lebih lagi.

Contoh:


  • Kami memang sudah mendengar kabar itu sejak kemarin.

  • Mencari pekerjaan di Makassar tidak semudah yang bayangkan, apalagi kalau tidak mempunyai koneksi.

  • Ayah tiri itu tidak hanya mencintai istrinya, bahkan juga anak tirinya.

7) Penekanan dengan pemindahan unsur

Yang dimaksud dengan pemindahan unsur adalah memindahkan unsur lain atau bagian kalimat ke posisi awal kalimat (Chaer, 1988:367). Ada tiga cara pemindahan unsur yang dapat dilakukan untuk penekanan kalimat:



  1. Pemindahan predikat

  1. Jika kalimat menggunakan kata kerja intransitif, maka predikat mendahului subjek kalimat.

Contoh:

  • Keluar mereka dari persembunyiannya.

  • Mengintip mereka dari kamarnya.

  1. Jika kalimat menggunakan kata kerja transitif, maka predikat dan objek kalimat harus dipindahkan sekaligus.

Contoh:

  • Makan nasilah kamu dengan cepat.

  • Minum airlah kamu jika haus.

c. Jika subjek kalimat menunjukkan keadan khusus, maka predikat yang berupa kata sifat terletak di awal kalimat.

Contoh:


  • Gemuk orang itu.

  • Kurus orang ini.

  1. Jika subjek berupa kata benda ordinat, maka predikat kata benda terletak pada awal kalimat

Contoh:

  • Binatang anjing itu.

  • Binatang gorilla itu.

  1. Predikat terdiri atas kata bilangan.

Contoh:

- Seribu rupiah utangku.

- Seratus rupiah sisa uangku.

Contoh c, d, dan e tidak produktif dalam komunikasi


  1. Pemindahan objek

Objek pada kalimat aktif transitif dapat diletakkan pada awal kalimat, jika kalimat di ubah menjadi kalimat pasif.

Contoh:


  • Anjing dilempar dengan batu oleh Iwan.

  • Iwan dilempar dengan batu oleh orang utan.

  1. Pemindahan keterangan

Contoh:

  • Tadi pagi beliau tidak mengajar.

  • Tadi malam beliau terlambat tidur.

8) Penekanan dengan bentuk pasif

Yang di maksud dengan penekanan ini adalah penekanan pada objek penderita.

Contoh:


  • Komik dibaca adik.

  • Ibu disayang ayah.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada jenis penekanan ini.

    1. Jika subjek kalimat aktif adalah kata ganti orang, maka predikat kalimat pasif tidak menggunakan awalan di-; diganti dengan kata ganti.

Contoh:

  • Buku itu sudah saya baca. (pasif).

  • Saya sudah membaca buku itu. (aktif).

    1. Jika predikat kalimat aktif berupa frase yang mengatakan bentuk mau, ingin, dan suka, maka kalimat seperti itu tidak dapat dipasifkan.

Contoh:

  • Adi mau melamar Ira.

  • Ira mau dilamar Adi. (tidak logis)
  1. Kehematan dalam Kalimat

Upaya penghematan dalam kalimat dilakukan dengan menghindari pemakaiaan kata, frase, atau unsur lain yang tidak perlu. Hemat tidak berarti kita harus menghilangkan unsur penting kalimat sehingga menjadi kurang jelas. Hemat di sini berarti tidak memakai kata-kata mubazir, tidak mengulang subjek, dan tidak menjamakkan kata yang memang sudah bermakna jamak.

    1. Pemakaian kata mubazir

Kenyataan menunjukkan bahwa kadang-kadang seorang penulis biasa tanpa sadar memakai dua kata atau lebih yang memiliki makna yang sama. Pemakaian kata bersinonim tidak mambuat kalimat itu menjadi lebih jelas, tetapi justru kalimat menjadi tidak efektif.

Contoh:


= Agar Anda memperoleh nilai ujian yang memuaskan, belajarlah dengan baik. (hemat)

  • Agar supaya ia tidak marah, saya lebih baik memberinya hadiah. (tidak hemat)

= Supaya ia tidak marah, saya lebih baik memberinya hadiah.

(hemat)


    1. Pengulangan subjek kalimat

Penulis tanpa sadar sering mengulangi subjek dalam suatu kalimat yang

sebenarnya tidak diperlukan.

Contoh:


  • Para mahasiswa PPs IAIN dapat mengikuti kuliah semester ganjil setelah mereka mengikuti martikulasi. (pengulangan subjek)

  • Para mahasiswa PPs IAIN dapat mengikuti kuliah semester ganjil setelah mengikuti martikulasi. (tanpa pengulangan subjek)

    1. Hiponimi

Dalam setiap bahasa ada jenis kata yang memiliki makna bawahan kata atau ungkapan yang lebih tinggi. Di dalam makna kata tersebut terkandung makna umum kelompok kata yang bersangkutan.

Contoh:


  • Pemilihan umum tahun ini jatuh pada tanggal 5 bulan April 2004.

  • Ketua KPU dipersilakan maju ke depan untuk menjelaskan cara mencoblos gambar.

Bandingkan dengan:

  • Pemilihan umum tahun ini jatuh pada tanggal 5 April 2004.

  • Ketua KPU dipersilakan ke depan untuk menjelaskan cara mencoblos gambar.

    1. Pemajemukan kata yang jamak

Penggunaan pasangan kata yang masing-masing bermakna jamak merupakan pemborosan kata. Oleh karena itu, dianjurkan menggunakan salah satu di antaranya.

Contoh:


  • Banyak para petani-petani sayur yang telah berhasil dengan baik.

  • Banyak para mahasiswa-mahasiswa berdemonstrasi di depan kantor DPRD Makassar.

Bandingkan dengan:

  • Banyak -petani sayur yang telah berhasil dengan baik.

  • Para petani sayur telah berhasil dengan baik.

  • Petani-petani sayur telah berhasil dengan baik.




  • Banyak mahasiswa berkonsentrasi di depan Kantor DPRD Makassar.

  • Para mahasiswa berkonsentrasi di depan Kantor DPRD Makassar.

  • Mahasiswa-mahasiswa berkonsentrasi di depan Kantor DPRD Makassar.



  1. Kevariasian dalam Kalimat


Menurut Akhadiah (1995:127), seseorang akan dapat menulis dengan baik bila dia juga seorang pembaca yang baik. Akan tetapi, pembaca yang baik tidak berarti dia juga penulis yang baik. Seorang penulis harus menyadari bahwa tulisan yang dibuatnya akan dibaca orang lain. Membaca bertujuan agar pembaca mendapat sesuatu dari bacaannya. Ini berarti bahwa penulis harus berusaha menghindarkan pembaca dari keletihan dan kebosanan. Penulis harus berusaha membuat pembaca senang terhadap hasil tulisannya.

Tulisan yang mempergunakan pola serta bentuk kalimat yang terus-menerus sama akan membuat suasana menjadi kaku dan monoton sehingga akan menimbulkan kebosanan pembaca. Oleh sebab itu, untuk menghindarkan suasana monoton dan rasa bosan, suatu paragraf dalam tulisan memerlukan bentuk pola dan jenis kalimat yang bervariasi. Variasi-variasi kalimat ini harus dari keseluruhan tulisan. Tentang variasi kalimat ini dapat terjadi pada beberapa bentuk.




  1. Cara memulai

Ada beberapa cara memulai kalimat untuk mencapai keefektifan kalimat antara lain dengan variasi pada awal kalimat. Pada umumnya, kalimat dapat dimulai dengan subject, predikat, frase dan kata modalitas.

    1. Subjek pada awal kalimat

Orang umumnya mengetahui bahwa memulai kalimat dapat dilakukan dengan cara meletakkan subjek pada awal kalimat. Hal ini dapat dilihat pada pola dasar kalimat bahasa Indonesia dengan senantiasa menempatkan subjek pada awal kalimat. Pola ini merupakan pola yang umum kalimat bahasa Indonesia.

Contoh:


  • Mahasiswa memerlukan pelayanan yang baik agar cepat selesai.

  • Dosen PPs IAIN melayani mahasiswa dengan sangat bail.

(2) Predikat pada awal kalimat

Predikat adalah kata yang menerangkan perbuatan atau sifat dari subjek pelaku (Finoza, 2001:84). Sebuah kalimat dapat diawali dengan predikat. Kalimat seperti ini di sebut kalimat inversi atau kalimat susun balik.
Contoh:


  • Digiring kami melalui jalan kecil dan tiba di pondok yang terbuat dari bambu.

- Direbus telur itu sebelum dimakan.
(3) Kata modal pada awal kalimat

Ada cara lain dalam memulai kalimat, yaitu meletakkan kata modal pada awal kalimat. Kata modal tersebut dapat mengubah arti kalimat secara keseluruhan. Kata modal dapat didefinisikan sebagai kata yang menerangkan kata benda, kata kerja, dan kata sifat, seperti: sering, tentu, barangkali, belum, sudah, mungkin, past, mungkin. Penggunaan kata-kata modal akan menyebabkan kalimat-kalimat akan berubah nadanya. Kalimat yang tegas menjadi ragu-ragu atau sebaliknya, dan yang keras menjadi lembut ataupun sebaliknya. Penggunaan kata modal dapat menyatakan bermacam-macam sikap.

Contoh:


  • Sering mereka belajar bersama-sama.

  • Tentu keberhasilan usaha seperti ini adalah hasil kerja sama dan kerja keras semua pihak.

  • Barangkali hujan akan turun hari ini.

  • Belum/sudah saya baca berita itu.

  • Ketegangan mungkin yang dapat menyebabkan hasil belajarnya menurun.

(4) Frase pada awal kalimat

Kelompok kata yang tidak mengandung predikat dan belum membentuk klausa atau kalimat disebut frase (Finoza, 2001:84). Bentuk-bentuk sintaksis yang tergolong ke dalam kelompok kata demikian, misalnya: dengan demikian, oleh karena itu, dalam kehidupan sehari-hari, menyadari akan hal itu, secara tidak langsung, untuk maksud yang sama, dan masih banyak bentuk yang lain.

Contoh:


  • Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa merupakan alat komunikasi yang amat penting.

  • Secara tidak langsung, Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 itu memecah-belah persatuan bangsa.

2) Panjang-pendek kalimat

Kalimat yang efektif tidak diukur dari sudut panjang-pendeknya kalimat. Akan tetapi, umumnya, kalimat yang panjang selalu rumit dan tidak efektif. Ada upaya yang sering penulis lakukan untuk membuat pembaca agar tertarik membaca tulisannya. Upaya yang dimaksud ialah memvariasikan kalimat pendek dan kalimat panjang dalam satu wacana

Contoh:

Tiga puluh tahun yang lalu, kami para psikolog, yakin bahwa kasus semacam itu cuma pengecualian, karena kami yakin kepribadian anak sudah terbentuk sejak dini. Setelah tahun-tahun pertama kemungkinannya kecil untuk berubah. Namun, kini kami tahu lebih banyak. Sejarah hidup ribuan anak-anak membuktikan bahwa drama perkembangan manusia bisa tiba-tiba berbalik ke arah yang positif setiap saat.



3) Jenis kalimat

Variasi kalimat dapat juga berbentuk penggunaan jenis kalimat tertentu. Jenis kalimat berita misalnya, dianggap lebih netral dan lugas dalam menyampaikan pesan penulis. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kalimat tanya dan kalimat perintah diabaikan dalam menyampaikan informasi, jika diperlukan.

Contoh:

Menghadapi anak-anak nakal, tidak heran kalau orang tua dan gurunya kehilangan harapan. Akan tetapi, apakah betul anak seperti ini pasti suram masa depannya? Belum tentu! Buktinya, banyak anak yang nakal di sekolah menengah, tetapi tumbuh menjadi orang yang sukses.



4) Kalimat aktif dan pasif

Penggunaan kalimat aktif atau pasif juga sebagai cara untuk menarik perhatian pembaca dan memberi kejelasan gagasan yang dikemukakan. Kalimat aktif yang dapat diubah menjadi kalimat pasif hanyalah kalimat aktif yang inti predikatnya berupa verba transitif dan mempunyai objek.

Contoh:

- Panitia Pemilu 2004 Kota Makassar meninjau tempat-



tempat pemungutan suara di setiap kelurahan. (aktif)

- Tempat-tempat pemungutan suara di setiap kelurahan ditinjau

oleh Panitia Pemilu 2004 Kota Makassar. (pasif)

5) Kalimat langsung dan tidak langsung

Penggunaan kalimat kalimat langsung di sela-sela kalimat tidak langsung juga salah satu bentuk variasi kalimat. Kadang-kadang pendapat atau pikiran seseorang yang dituliskan atau diucapkan akan terasa lebih hidup apabila dikutif secara langsung. Selain itu, juga dimaksudkan untuk menunjukkan sikap objektif penulis.

Ada dua cara yang lazim digunakan untuk mengutip pendapat atau pikiran orang lain secara langsung. Pertama, kutipan langsung yang tidak lebih dari tiga baris atau kurang dari 40 kata ditempatkan di dalam paragraf dengan hanya mengapitnya dengan tanda petik dua dan diikuti atau diawali dengan nama, tahun, dan halaman buku atau keterangan lain.

Copntoh:

Ateisme adalah sebuah paham yang mengingkari keberadaan Tuhan. Keingkaran mereka tidak hanya ditujukkan oleh perilaku, tetapi terutama dengan tertutupnya hati mereka terhadap keberadaan Maha Pencipta. Mereka dikelompokkan orang-orang yang memiliki hati yang sakit sehingga tidak mampu menerima kebenaran. Hati yang demikian digambarkan sebagai “Hati yang sakit adalah hati yang mengelak dari penciptaannya semula, yakni mengelak untuk mengetahui Allah, mencinta-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, dan kembali kepada-Nya” (Ibnu Kayyim, 1423:103). Kedua, kutipan langsung yang lebih dari tiga baris atau lebih dari 40 kata dipisahkan dari paragraf, diketik dengan spasi rapat, dan tidak diapit dengan tanda petik dua.

Contoh:


Ateisme adalah sebuah paham yang mengingkari keberadaan Tuhan. Keingkaran mereka tidak hanya ditujukkan oleh perilaku, tetapi terutama dengan tertutupnya hati mereka terhadap keberadaan Maha Pencipta. Mereka dikelompokkan orang-orang yang memiliki hati yang sakit sehingga tidak mampu menerima kebenaran. Hati yang sakit digambarkan oleh Ibnu Kayyim (1423:103 sebagai berikut.

Hati yang sakit adalah hati yang mengelak dari penciptaannya semula, yakni untuk mengetahui Allah, mencintai-Nya, rindu bertemu dengan-Nya, kembali kepada-Nya, dan mengutamakan semuanya itu atas segala syahwat. Seandainya seorang hamba mengetahui segala sesuatu, tetapi dua tidak mengetahui Tuhannya, maka seakan-akan dia tidak mengetahui sesuatu. Seandainya dia mendapatkan semua dunia, kenikmatan dan syahwatnya, tetapi tidak memiliki cinta kepada Allah dan rindu kepada-Nya, maka seakan-akan dia tidak mendapatkan kelezatan, kenikmatan dan penyejuk hati sama sekali.


C. Gejala Kerancuan Kalimat

1. Pernyataan yang tidak mengandung unsur subjek



  1. Dengan demikian akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya.

  2. Oleh karena itu disebut sebagai biang kekerasan dan kerusuhan di Poso.

Seharusnya:

  1. Dengan demikian, bantuan itu akan memudahkan para mahasiswa untuk menyelesaikan studinya.

  2. Oleh karena itu, ia disebut sebagai biang kekerasan dan kerusuhan di Poso.

2. Pernyataan yang tidak mengandung unsur predikat

  1. Di samping itu pula Jakarta yang merupakan pusat pemerintahan di mana seluruh lembaga-lembaga pemerintah berkantor.

  2. Tertinggi di rayon C sedang yang terendah di rayon A.

Seharusnya:

  1. Di samping itu, Jakarta merupakan pusat pemerintahan tempat semua lembaga pemerintah berkantor.

  2. Prestasi itu tertinggi di rayon C, tetapi terendah di rayon A.

3. Pernyataan berupa anak kalimat pengganti predikat

  1. Sehingga keyakinan tersebut cukup kuat untuk tetap mendorongnya berjuang terus.

  2. Sebab tahap seleksi penerimaan polisi telah rampung.

Seharusnya:

  1. Kita perlu memberi keyakinan hidup sehingga keyakinan tersebut cukup kuat untuk mendorongnya berjuang terus.

  2. Latihan fisik sudah dapat direncanakan sebab tahap seleksi penerimaan polisi telah rampung.

Gejala ini ditandai dengan penggunaan kata hubung pada

awal kalimat, seperti:

sehingga, sebab, karena, agar, supaya, bila, apabila,

meskipun, walaupun.



  1. Pernyataan yang hanya berupa keterangan penjelas atau keterangan tambahan

  1. Karena kondisi lahannya yang berkadar kapur tinggi sehingga kurang baik untuk pertanian.

  2. Terutama terkonsentrasi pada muara Sungai Jeneberang.

Seharusnya:

  1. Daerah itu tidak dapat dikembangkan menjadi daerah pertanian karena kondisi lahannya berkadar kapur tinggi.

  2. Beberapa hari terakhir pengerukan terutama terkonsentrasi pada muara Sungai Jeneberang.

  1. Pernyataan yang berupa frase preposisi:

  1. Bagi seorang wartawan, sebagai pedoman penulisan berita.

  2. Mengenai jumlah calon anggota DPD yang terindikasi sebagai anggota partai.

Seharusnya:

  1. Kode etik sangat berguna bagi seorang wartawan sebagai pedoman penulisan

berita.

  1. Rapat itu membicarakan mengenai jumlah calon anggota DPD yang terindikasi sebagai anggota partai.

  1. Pernyataan yang dimulai dengan kata hubung setara:

  1. Dan unit-unit kecil tersebut lebih muda untuk dipetikemaskan.

  2. Atau pada waktu bertutur dengan ragam bahasa formal, tiba-tiba diselipkannya ragam bahasa informal.

Seharusnya:

  1. Unit-unit kecil tersebut lebih mudah dipetikemaskan.

  2. (Pada) waktu bertutur dengan ragam bahasa formal, tiba-tiba diselipkannya ragam bahasa informal.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. 2002. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Akhaidah, Subarti dkk. 1995. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Chaer, Abdul. 1998. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Pt. Rineka Cipta.

Chahyono, Yudi, Bambang. 1995. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Air langga Universitas, Press.

Finozza, Lamuddin. 2001. Komposisi Bahasa Indonesia. Jakarta: Diksi Insan Mulia.

Junus, Husein dan Arifin Banasurn. 1996. Bahasa Indonesia Tinjauan Sejarahnya dan Pemakaian Kalimat yang Baik dan Benar. Surabaya: Usaha Nasional.

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. . Jakarta: Balai Pustaka.

Sudarno dan Eman A. Rahman. 1998. Terampil Berbahasa Indonesia. Jakarta: Pt. Hikmah Syahid Indah.




Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   14


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə