Makna akhlak



Yüklə 101.86 Kb.
səhifə2/2
tarix30.12.2018
ölçüsü101.86 Kb.
1   2

Nisbah Ilmu Akhlak dengan Ilmu Aqidah

Pokok kajian aqidah adalah mentauhidkan Allah dengan semurni-murninya tauhid serta memberantas syirik. Dalam aqidah Islam dikaji rukun iman, Sifat-sifat Allah, Asma-asma Allah, dan perbuatan-perbuatan Allah. Bersamaan dengan itu dikaji pula masalah syirik dan kemusyrikan, terdiri dari 3 tingkatan: (1) syirik akbar (syirik besar) yakni menyekutukan Tuhan atau menduakan Tuhan. Maksudnya, bertuhankan Allah sekaligus bertuhankan selain Allah – terutama menuhankan (mementingkan) hawa-nafsu dan meminta bantuan bangsa Jin. Dalam Qs. Luqman ayat 12 disebutkan bahwa syirik merupakan dosa yang paling besar dan tidak ada ampunanNya sama sekali; (2) syirik ashghor (syirik kecil), terutama takabur (sombong), ujub (bangga diri), riya (pamer dengan amal saleh, atau ketinggian derajatnya ingin diakui oleh orang lain), dan sum`ah (ingin kehebatan dirinya terdengar oleh orang lain). Disebut syirik kecil karena tidak secara langsung menyekutukan Tuhan. Tapi tetap saja musyrik yang sangat berbahaya. Sabda Nabi SAW: takabur, ujub, riya, dan sum`ah bagaikan api yang membakar habis kayu kering, yakni menghapuskan seluruh amal-amal saleh (sehingga pelakunya tidak punya amal saleh sedikit pun); dan (3) syirik khofy (syirik tersamar), yakni perbuatan syirik tapi tidak dirasakan syirik. Ini tentu sangat berbahaya. Nabi Muhammad SAW bersabda: kamu melihat syirik itu seperti kamu melihat semut hitam-kecil berjalan di atas batu-hitam di malam hari yang gelap gulita. Maksudnya, jika kita ingin bisa melihat perbuatan syirik harus menggunakan senter yang terang benderang. Senternya adalah selalu bersandar kepada sabda dan teladan Rasulullah. Contoh syirik khofy adalah merasa punya daya dan kekuatan (merasa bisa, merasa pintar, merasa berprestasi, dan merasa hebat);padahal yang punya Daya dan Kekuatan hanyalah Allah. La haula wala quwwata illa billahil `aliyyil `azhim=Tidak ada daya dan kekuatan kecuali Daya dan Kekuatan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar.

Ilmu Akhlak mengkaji pula dimensi-dimensi keimanan dan keyakinan. Dalam mengimani Allah, Ilmu Akhlak mendorong orang-orang beriman untuk selalu memohon pengampunan kepada Allah (ber-taubat), selalu memohon hidayah-Nya, selalu memohon fadhl (karunia) dan rahmat-Nya, selalu berorientasi akhirat (zuhud), selalu mewakilkan urusan kita kepada Allah (tawakkal `alallah), dan terutama lagi selalu mengingat Allah (dzikir).




  1. Nisbah Ilmu Akhlak dengan Ilmu Syari`ah

Pokok kajian syari`ah adalah ibadah, baik ibadah mahdhoh ataupun ibadah ghoer mahdhoh. Ibadah mahdhoh adalah ibadah yang pokok-pokoknya ataupun rincian-rinciannya ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW. Contohnya: syahadatain, shalat, puasa, zakat, dan hajji. Adapun ibadah ghoer mahdhoh adalah ibadah yang pokok-pokoknya ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW, sedangkan bentuknya mengikuti perkembangan zaman. Misalnya berdagang. Pokok-pokok yang ditetapkan oleh Nabi adalah: halal, jujur, dan tidak ada penipuan. Bentuknya bisa barter (tukar menukar barang dengan barang, seperti membeli beras dengan ayam) atau uang koin mas dan perak, atau bisa juga dengan uang kertas, uang plastik, billyet, dan cek seperti di zaman sekarang.

Ilmu Akhlak mengkaji juga bidang-bidang ibadah. Contohnya, ibadah shalat. Jika syari`ah (Ilmu Fiqih), mengkaji sisi lahir peribadatan (syarat, rukun, bacaan dan gerakan shalat), maka Ilmu Akhlak mengkaji sisi batinnya (yakni shalat yang khusyu`, shalat untuk mengingat Allah, shalat daim (di luar shalat pun tetap seperti ketika meakukan shalat, yakni selalu mengingat-ingat Allah), dampak shalat (tercegahnya perbuatan fakhisyah dan kemunkaran), menghindari shalat sahun (menyimpang dari tujuan shalat, shalatnya lalai =tidak mengingat Tuhan), menghadirkan Tuhan Allah dalam shalat, dan ikhlas dalam beribadah. Orang yang shalatnya ikhlas, dia mendirikan shalat dengan niat lillah dan demi Allah semata, tanpa pamrih dunia (seperti mengharapkan pahala harta, jabatan, popularitas, dll) maupun pamrih akhirat (seperti mengharapkan pahala akhirat, ingin dimasukkan ke surga, atau ingin dihindarkan dari neraka). Ibarat orang yang ingin diterima oleh sang Raja, ingin didekatkan kepada sang Raja oleh sang Raja. Ia tidak akan meminta jabatan atau hadiah harta dari sang Raja, tidak juga takut dengan hukuman sang Raja. Ia akan berbuat sesuai kehendak sang Raja. Ia hanya menghendaki diterima oleh sang Raja dengan sepenuh hati. Tentu saja jika sang Raja senang pada orang itu, maka apa yang ada pada sang Raja akan diberikannya, dan apa yang tidak disenanginya akan dijauhkannya.




  1. Nisbah Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf

Diskusi dan perdebatan pro-kontra tentang tasawuf cukup menguras energi kaum muslimin. Ujung-ujungnya terbelahnya kaum muslimin ke dalam kelompok yang ‘anti’ dan ‘pro’ tasawuf dan kehidupan sufistik.

Ibrahim Hilal (2002: 19-20) menyebutkan bahwa ia telah mengambil esensi dari beberapa buku tasawuf. Ia mendefinisikan tasawuf sebagai menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap kehidupan duniawi, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan shalat malam, dan melantunkan berbagai jenis wirid sampai fisik atau dimensi jasmani seseorang menjadi lemah dan dimensi jiwa atau Ruhani menjadi kuat. Jadi, lanjut Hilal, tasawuf adalah usaha menaklukkan dimensi jasmani manusia agar tunduk kepada dimensi Ruhani (nafs), dengan berbagai cara, sambil bergerak menuju kesempurnaan akhlak, seperti dinyatakan kaum sufi; dan meraih pengetahuan atau ma`rifat tentang Zat Ilâhi dan kesempurnaanNya. Konsep ma`rifat dikritik secara panjang lebar oleh Hilal dan dituduhkan sebagai pengaruh proses gnosis Yunani (Hilal, 2002: 34-47).

Dengan mengutip Nicholson, Hilal mengatakan bahwa proses ma`rifat seperti ini berasal dari bahasa Yunani, gnosis, yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh tanpa perantara. Orang yang sudah mencapai ma`rifat demikian di dunia tasawuf dikenal dengan `arif. Dan gelaran ini pun bukan berasal dari Islam. Pandangan Hilal ini ada benarnya, karena memang dalam realitasnya kaum Sufi untuk mencapai ma`rifat bi dzâtillâh dengan cara kasyf atau gnosis.

Berbeda dengan Hilal, Khozin Afandi (2001: 9) mengungkapkan, bahwa tasawuf mengkaji bagaimanakah hakekat manusia bertemu dengan hakekat Tuhan melalui seorang ahli (Ahli Zikir, yakni Rasulullah atau Ulama Pewaris Nabi, atau dalam tasawuf dan tarekat dikenal dengan Guru Mursyid atau Guru Wasithah)dalam ilmu hakekat. Di sini Afandi lebih menekankan peranan seorang Ahli Zikir. Jadi, berdasarkan definisi tasawuf ini, ma`rifat tidaklah sama dengan gnosis. Ketika membahas talqin zikir, Khozin Afandi (2009: 35-38) menyebutkan bahwa ma`rifat bi Dzâtillâh diperoleh melalui talqin (pembisikan atau metode tunjuk) dari seorang Ahli Zikir, bukan melalui kasyf.

Memang ada suara-suara minor memandang tasawuf berasal dari luar Islam. Ada yang mengatakan tasawuf berasal dari pengaruh agama Hindu, Budha, Kristen, dan lainnya; ada juga yang mengatakan berasal dari pengaruh falsafah Yunani (antara lain Hilal, yang telah disebutkan tadi). Ibrahim Hilal (2002: 83-100) pun membuat satu judul dalam Tasawuf dan Pengaruh Asing, yang pada pokoknya bahwa kehidupan sufi bukanlah berasal dari Islam. Kemudian Anwar (2002: 3-8) malah mempertanyakan tasawuf, dengan membuat satu judul dalam bukunya “Kenapa harus tasawuf, bukankah ada akhlak?” Dan ia pun membuat tiga judul lainnya dalam payung “tasawuf tanpa tarekat”. Pada pokoknya Anwar menegaskan, bahwa kalaupun mau bertasawuf bukanlah seperti yang ditunjukkan para sufi, melainkan ya berakhlak itu.

Tetapi pandangan minor terhadap tasawuf dan tarekat banyak penyanggahnya, terlebih-lebih oleh kaum praktisi tarekat. Hingga kini praktek tarekat tumbuh subur di dunia Islam (antara lain ditunjukkan oleh penelitian Bruinnessen (1999), dalam Kitab Kuning. Di Indonesia saja terdapat lebih dari 40 organisasi tarekat). Harun Nasution (1990: 1-12) secara keras membantah bahwa tasawuf dan kehidupan sufi berasal dari luar Islam. Pandangan beliau dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) Nabi SAW menjalani hidupnya sebagai sufi, (2) Khulafaur Rôsyidîn – Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib – dan sahabat senior meneladani kehidupan Nabi SAW sebagai sufi, (3) ketika kekhalifahan di tangan Bani Umaiyah dan Bani Abbasiyah yang korup dan nepotis, banyak ulama yang menjalani hidup sebagai sufi, dan (4) ajaran tasawuf memiliki akar-akar yang kokoh dalam Al-Quran dan Hadits.

Memang ada kesamaan antara tasawuf dengan akhlak, yakni sama-sama menempuh perjalanan ruhani menuju Tuhan dengan membaguskan sikap dan perilaku akhlaqi. Bedanya, tasawuf menekankan peranan Ahli Zikir untuk membimbing kehidupan religius murid-murid sufi agar sampai kepada Tuhan, sementara akhlak sama sekali tidak membicarakan peran Ahli Zikir. Di sinilah titik-temu sekaligus titik-pisah antara Ilmu Tasawuf dengan Ilmu Akhlak.

TABEL 1.1

KAITAN ANTARA DIMENSI, ILMU, DAN AMAL

(IMAN, IBADAH, DAN AKHLAK)



No.

Dimensi

Ilmu

Sikap & Amal

1.

Sufistik

Ilmu Tasawuf

Ma`rifat bi Dzatillah

2.

Keimanan

Ilmu Aqidah

Beriman dengan Rukun Iman

3.

Ibadah

Ilmu Syari`ah

Beribadah dengan benar & ikhlas (terutama Rukun Islam)

4.

Akhlak

Ilmu Akhlak

Berakhlaqul karimah

Dengan mencermati nisbah di antara ke-4 Ilmu Islam tersebut, sebenarnya kehidupan religius yang dijalani oleh seorang saleh terdiri dari 3 dimensi, yakni: dimensi aqidah, dimensi ibadah, dan dimensi akhlak, dengan fondasinya dimensi sufistik. Hubungan di antara ke-4 Ilmu Islam dan dimensi-dimensi religius dapat digambarkan sbb:

Gambar 1.1

Kaitan antara Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf,

Ilmu Aqidah, dan Ilmu Ibadah
Ilmu Tasawuf mengkaji bagaimanakah fithrah manusia (hakekat manusia) bertemu dengan Fithrah Tuhan (hakekat Tuhan) dalam Ilmu Hakekat melalui seorang Ahli Zikir, yakni Rasulullah atau Ulama Pewaris Nabi (atau dalam Ilmu Tasawuf dan Tarekat dikenal dengan Guru Mursyid, dan khusus dalam Tasawuf atau Tarekat Syaththariah dikenal dengan Guru Wasithah). Perjumpaan manusia dengan Tuhan merupakan ‘inti’ beragama, karena manusia berasal dari Tuhan dan seharusnya kembali kepada Tuhan (inna lillahi wa inna ilaihi roji`un). Jika fondasi agama sudah benar dan kokoh, maka Ilmu Aqidah dapat mengantarkan manusia untuk beriman secara benar, yakni imannya yang ma`rifatun wa tashdiqun; yakni imannya dengan mengenal Tuhan Yang AsmaNya Allah dan membenarkan bahwa orang yang mengenalkan Tuhan itu adalah Rasulullah atau Ulama yang mewarisi Ilmu Kenabian (Ulama Pewaris Nabi). Dengan demikian, maka ibadahnya juga akan benar, karena benar-benar menyembah Tuhan yang sudah dikenalinya (memeuhi perintah Allah: wa`bud robbaka hatta ya`tiyakal yaqin =Sembahlah Tuhanmu sampai kamu yakin Tuhan yang kamu sembah itu hadir). Kemudian Ilmu Ibadahnya mengantarkan orang-orang beriman untuk dapat beribadah secara benar dan ikhlas. Beribadah dapat dikatakan benar jika peribadatannya itu dilakukan atas dasar memenuhi perintah Allah dan RasulNya, bukannya memenuhi kehendak nafsu dan syahwatnya. Lalu, ibadahnya itu dilakukan secara ikhlas, tanpa pamrih dunia ataupun pamrih akhirat. Puncaknya, Ilmu Akhlaknya dapat mengantarkan orang-orang yang beriman mencapai kesempurnaan akhlak mulia.

Adapun dalam sikap dan pengamalan dapat dibedakan antara dimensi iman, dimensi ibadah, dan dimensi akhlak mulia. Ketiga dimensi ini merupakan satu kesatuan yang utuh, tidak dapat dipisah-pisah. Hubungan ketiga dimensi iman, dimensi ibadah, dan dimensi akhlak mulia dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.2

Segi-tiga dimensi Iman, Ibadah, dan Akhlak Mulia


Dimensi iman melandasi dimensi ibadah dan akhlak mulia; dimensi ibadah yang berbasis iman melandasi dimensi akhlak mulia. Makna lainnya, dimensi ibadah merupakan perwujudan dimensi iman; dimensi akhlak mulia merupakan perwujudan dimensi ibadah yang dilandasi dimensi iman. Makna lainnya lagi, dimensi iman tidaklah bermakna tanpa diwujudkan dalam dimensi ibadah; dan dimensi ibadah tidaklah bermakna tanpa diwujudkan dalam dimensi akhlak mulia.

Atau seperti gambar berikut:

Gambar 1.3

Dimensi Iman melandasi dimensi Ibadah dan dimensi Akhlak Mulia,

Dimensi Ibadah berbasis Iman melandasi dimensi Akhlak Mulia
Implementasinya bagi seorang pendidik agama (mulai orang tua di rumah, guru di sekolah, dan ustad di masjid), jika melihat anak-anak menunjukkan akhlak yang tidak mulia maka periksalah ibadahnya. Jika ibadahnya bagus maka tinggal memperbaiki akhlaknya. Tapi jika ibadahnya kurang bagus maka perbaiki dulu ibadahnya. Setelah ibadahnya bagus, baru kemudian perbaiki akhlaknya. Adapun jika ternyata ibadahnya juga kurang bagus, maka periksa dulu keimanannya. Jika keimanannya sudah bagus, perbaiki ibadahnya; dan ini relatif mudah. Tapi jika keimanannya masih bermasalah, maka bereskan dulu keimanannya, kemudian perkokoh keimanannya.

Demikian juga upaya memperbaiki akhlak mulia diri kita sendiri (dan ini justru yang paling utama).Urutannya, pertama bereskan dulu keimanan kita, perkokoh keimanan kita. Kemudian, benarkanperibadatan kita agar ibadah yang kita lakukan benar-benar sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah. Jika sudah benar pun masih harus dibereskan, yakni ibadah yang kita lakukan harus dilakukan dengan ikhlas seikhlas-ikhlasnya, jangan sampai ada pamrih dunia (ingin memperoleh nikmat-nikmat dunia: harta, kedudukan, popularitas, dan lain-lain) maupun pamrih akhirat (mencari pahala, ingin masuk surga, dan takut masuk neraka). Ibadah yang kita lakukan harus benar-benar lillah (karena Allah). Pokoknya yang dituju dengan ibadah kita hanyalah Allah, bukan ciptaan Allah. Ingat, dunia, surga, dan neraka bukanlah Allah melainkan ciptaan Allah.


E. RENUNGAN

Coba simak kisah seorang Bani Israel yang paling tekun beribadah tapi terperdaya oleh seorang perempuan. Alkisah ada tiga orang pemuda bersaudara yang mempunyai seorang saudara perempuan, dan tidak mempunyai saudara perempuan lainnya. Ketiga pemuda tersebut memenuhi panggilan berjihad di jalan Allah. Mereka bingung kepada siapakah menitipkan saudaranya yang perempuan. Akhirnya mereka sepakat untuk menitipkannya kepada seorang ahli ibadah sampai mereka kembali dari peperangan (tentunya dengan penuh harapan agar saudaranya yang perempuan dapat terjaga dengan aman).

Awalnya, sang ahli ibadah itu menolaknya. Tetapi karena ketiga bersaudara itu terus mendesaknya akhirnya sang ahli ibadah menerima permintaan mereka. Dia lalu berkata kepada mereka, “Tempatkanlah saudara perempuanmu di rumah dekat tempat ibadahku.” Lantas mereka menempatkan saudara perempuan mereka di rumah tersebut, kemudian mereka pun pergi.

Maka perampuan tersebut tinggal bersama sang ahli ibadah tersebut selama beberapa waktu. Sang ahli ibadah selalu turun dari tempat ibadahnya untuk membawakan makanan. Kemudian dia memanggil perempuan tersebut, lalu si perempuan keluar dari dalam rumah untuk mengambil makanan yang dihidangkan kepadanya. Lantas setan menebarkan tipu dayanya, seolah-olah senantiasa memberi motivasi kepada ahli ibadah untuk berbuat kebaikan. Setan membisikkan rasa keberatan kepada ahli ibadah jika perempuan tersebut keluar dari rumahnya di siang hari, dan menakut-nakutinya jangan sampai ada seorang pun yang melihat perempuan tersebut. Akhirnya, sang ahli ibadah mengunci perempuan tersebut. “Seandainya engkau mau datang membawa makanan untuknya dan engkau letakkan di pintu rumah yang ditinggali perempuan tersebut, niscaya engkau mendapat pahala yang besar.” Setan pun terus-menerus membisiki hal tersebut, hingga akhirnya dia berjalan ke tempat perempuan tersebut dengan membawa makanan serta meletakkannya di pintu rumah tanpa mengajak bicara perempuan tersebut. Sang ahli ibadah melakukan hal ini selama beberapa waktu.

Iblis pun datang lagi untuk memperdaya sang ahli ibadah, “Seandainya kamu mau berbicara dan mengobrol dengan perempuan tersebut, maka pasti dia merasa terhibur dengan obrolanmu lantaran dia sedang kesepian.” Demikianlah Iblis senantiasa membisikinya, hingga akhirnya sang ahli ibadah mau berbincang-bincang dengan perempuan tersebut dalam beberapa waktu. Sang ahli ibadah itu pun selalu memandangi perempuan tersebut dari atas tempat ibadahnya. Setelah itu, iblis datang lagi membisikinya, “Seandainya engkau mau turun menghampirinya, hingga engkau duduk di pintu tempat ibadahmu lalu berbicara dengannya dan dia duduk di pintu rumahnya berbicara denganmu, niscaya hal ini lebih baik dan lebih menghibur dirinya.” Iblis berhasil membuat sang ahli ibadah turun dan duduk di depan pintu tempat ibadahnya untuk berbicara dengan perempuan tersebut dan demikian pula sebaliknya. Perempuan tersebut keluar dari rumah sehingga dia duduk di pintu rumah. Mereka berdua pun melakukan hal ini selama beberapa waktu.

Kemudian iblis datang lagi. Ia memperdayai ahli ibadah seolah hendak melakukan kebaikan dan meraih pahala ketika dia melakukan itu semua terhadap perempuan tersebut. Iblis membisikkan, “Seandainya kamu mau keluar dari pintu tempat ibadahmu, lalu kamu duduk di dekat pintu rumah perempuan tersebut untuk berbincang-bincang dengannya, niscaya hal tersebut lebih menghibur dan lebih baik baginya.” Iblis senantiasa membisikkan hal tersebut sampai sang ahli ibadah melakukannya. Akhirnya, sang ahli ibadah pun melakukannya dalam beberapa waktu.

Lantas iblis datang lagi seolah memotivasi untuk melakukan kebaikan seraya membisikkan, “Andai saja kamu mau berdekatan dengannya, engkau duduk di pintu rumahnya untuk berbincang-bincang dengannya dan si perempuan tidak perlu keluar dari rumahnya.” Lantas dia pun melakukan hal tersebut. Dia pun turun dari tempat ibadanya dan berdiri di pintu rumah si perempuan dan berbincang-bincang dengannya. Mereka berdua pun melakukan hal tersebut selama beberapa waktu. Selanjutnya, iblis datang lagi membisikinya, “Andai saja kamu mau masuk ke dalam rumah perempuan tersebut, lalu kamu berbincang-bincang dengannya dan kamu tidak membiarkan dirinya menampakkan wajahnya kepada seorang pun, niscaya hal tersebut lebih baik bagimu.” Iblis senantiasa membisikinya, sehingga dia pun masuk ke dalam rumah dan berbincang-bincang dengan perempuan tersebut seharian penuh. Ketika waktu siang telah berlalu, dia naik ke tempat ibadahnya. Lagi-lagi iblis mendatangi setelah itu, dia terus-menerus menghiasi perempuan tersebut di hadapan sang ahli ibadah. Hingga akhirnya sang ahli ibadah menyentuh si perempuan itu. Iblis pun terus-menerus kecantikan si perempuan dalam pandangan sang ahli ibadah. Iblis membujuknya hingga akhirnya dia menzinai perempuan tersebut dan menghamilinya. Akhirnya perempuan tersebut melahirkan seorang anak.

Kemudian iblis datang dan membisiki, “Bagaimana pendapatmu, jika saudara-saudara perempuan ini datang, seementara saudara perempuannya melahirkan anak hasil perzinaan dengan kamu, apa yang akan kamu perbuat? Pastilah keburukanmu akan terungkap atau mereka akan membuka keburukanmu. Oleh karena itu, bunuhlah anak itu, lalu kuburkan. Sungguh, si perempuan akan tutup mulut karena dia juga takut saudara-saudaranya tahu apa yang telah engkau perbuat terhadapnya.” Lantas sang ahli ibadah melakukannya. Dia pun membunuh anak tersebut. Selang beberapa waktu iblis membisiki lagi, “Apakah kamu yakin perempuan tersebut dapat merahasiakan pada saudara-saudaranya atas apa yang telah engkau perbuat terhadapnya dan perbuatanmu yang telah membunuh anaknya. Maka tangkaplah perempuan itu, lalu bunuhlah, dan kuburkanlah dia bersama anaknya!” Iblis pun terus-menerus membisikkan hal itu, hingga akhirnya dia pun membunuh perempuan tersebut dan menguburkannya di tempat kuburan anaknya, lalu menutupi keduanya dengan batu besar dan meratakan tanahnya. Kemudian dia naik ke tempat ibadahnya, lalu dia beribadah di dalamnya seperti sedia kala.

Sang ahli ibadah masih tetap dalam keadaan seperti itu hingga saudara-saudara perempuan tersebut pulang dari medan perang. Mereka mendatangi sang ahli ibadah dan menanyakan perihal saudara perempuannya. Sang ahli ibadah menangis dan memberitahukan kepada mereka bahwa perempuan tersebut telah meninggal dunia. Dia katakan bahwa saudara perempuan kamu itu merupakan perempuan terbaik, mudah-mudah dia mendapat rahmat Allah SWT.” Ketika malam tiba para pemuda itu pun tidur. Ketika mereka terlelap dalam pembaringannya, iblis mendatangi mereka dan menjelma sebagai seorang musafir. Awalnya, iblis mendatangi saudara paling tua. Iblis bertanya kepadanya tentang saudara perempuannya. Dia pun menceritakan sebagaimana yang dikatakan oleh sang ahli ibadah tentang kematiannya, tentang ahli ibadah yang mendoakannya agar mendapat rahmat, dan tentang sang ahli ibadah yang menunjukkan kuburan saudara perempuannya tersebut kepadanya. Lalu iblis berkata, “Sang ahli ibadah itu berbohong! Yang benar dia telah menghamili saudara perempuanmu hingga dia melahirkan seorang anak, lalu sang ahli ibadah itu membunuh anak dan saudara perempuanmu. Dia menguburkan anak dan saudara perempuanmu di lubang yang sama di belakang pintu rumah yang ditempati oleh saudara perempuan kalian di sebelah kanan tempat orang masuk rumah. Oleh karena itu, pergilah kamu dan masuklah ke dalam rumah yang kemarin ditempati saudara perempuanmu itu, pastilah kamu akan menemukan keduanya sebagaimana yang saya katakan.” Lalu iblis mendatangi saudara kedua di dalam tidurnya, yang mengatakan hal yang sama sebagaimana yang iblis katakan kepada saudaranya yang paling tua. Lalu iblis mendatangi saudara paling kecil dan mengatakan hal yang sama kepadanya. Ketika mereka bangun tidur, mereka pun heran akan mimpi yang dialami oleh masing-masing. Mereka saling berpandangan satu sama lain dan berkata kepada saudaranya, “Sungguh, tadi malam saya bermimpi aneh.” Mereka pun saling menceritakan mimpi mereka satu sama lain. Lantas saudara paling tua berpendapat, “Ini hanya bunga tidur. Bukan kenyataannya. Kita tidak perlu mempercayai mimpi kita ini!” Tapi saudara paling kecil berpendapat lain, “Demi Allah, aku tidak akan melewatkan begitu saja mimpi saya ini sehingga saya benar-benar akan mendatangi tempat tersebut dan saya akan melihatnya sendiri.” Akhirnya mereka semua berangkat ke rumah yang pernah ditempati saudara perempuan mereka. Mereka membuka pintu dan mencari lokasi yang dijelaskan kepada mereka di dalam mimpi. Ternyata, mereka benar-benar menemukan saudara perempuan mereka bersama anaknya di dalam lubang kubur dalam keadaan disembelih.

Lantas mereka meminta pertanggung-jawaban sang ahli ibadah mengenai peristiwa tersebut. Sang ahli ibadah membenarkan tuduhan mereka. Selanjutnnya mereka mengadukan kasus ini kepada Raja. Pengadilan memutuskan sang ahli ibadah yang telah menghamili dan membunuh perempuan dan anaknya itu untuk disalib. Ketika eksekusi dimulai iblis mendatangi sang ahli ibadah lalu berkata, “Saya adalah temanmu yang telah membujukmu dengan perempuan yang telah engkau hamili dan telah engkau bunuh beserta anaknya. Jika kamu sekarang mau menurutiku niscaya saya akan menyelamatkanmu dari keadaanmu sekarang ini.” Sang ahli ibadah menganggukkan kepalanya setuju akan menuruti iblis. Iblis meminta sang ahli ibadah untuk kufur terhadap Allah. Dan ketika sang ahli ibadah menyatakan persetujuannya, iblis malah meninggalkannya. Akhirnya sang ahli ibadah itu mati dalam tiang salib dalam keadaan kufur kepada Allah SWT. Na`udzu billahi min dzalik ! (Disadur dari Kisahmuslim.com, 2013).


F. KESIMPULAN

Akhlak bukanlah moralitas biasa terlebih-lebih moralitas hasil rekayasa sesaat. Akhlak juga bukan perilaku yang baik menurut anggapan umum. Akhlak adalah perilaku yang baik dan bersifat ikhtiari yang dilakukan seseorang secara spontanitas karena kesadarannya dalam menjalankan perintah Allah dan RasulNya; dan perilaku yang baiknya itu dilakukan secara berkualitas dan istiqomah (ajeg, tetap, terus-menerus). Seseorang yang ber-akhlaqul karimah bukan hanya tampak dalam penampilan lahiriyahnya yang memang menampilkan perilaku yang baik. Perilaku baik yang ditampilkannya itu karena didorong oleh hati nuraninya yang selalu condong kepada kebaikan sebagai ikhtiar menjalankan ketaatan kepada Allah atas dasar ketaatan kepada RasulNya dan meneladani RasulNya. Dengan demikian akhlak mulia yang “sempurna” haruslah berdasarkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Zat Yang Maha Ghaib, Allah AsmaNya.

Dostları ilə paylaş:
1   2


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə