Metode Tabsyir Dan TanzHir dalam pendidikan



Yüklə 76.24 Kb.
tarix06.09.2018
ölçüsü76.24 Kb.


Metode Tabsyir Dan TanzHir dalam pendidikan

jiwa menurut perspektif Al-Qur’an

Ainal Mardhiah

Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Raniry

Jl. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh

Email: ainalmardhiah@yahoo.com



ABSTRACT

Any teaching methods that are more pertinent and consistent with cognitive, affective and physicomotoric approaches need to be considered in education activities. However, Al-Qur’an offers the tabsyir and tanzhir method in forming the human key soul. Tabsyir is to make the soul happy with describing any fantastic things. Meanwhile, the tanzhir is to warn the soul to be careful towards any bad deed and its impact. Tabsyir and tanzhir are the methods to form the soul and are applied together.


Kata Kunci: Pendidikan Jiwa, Tabsyir, Tanzhir
I. PENDAHULUAN

Pendidikan tidak terlepas dari kebutuhan metodologi yang tepat agar sasaran yang ingin dicapai dalam pendidikan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Metodologi pendidikan berfungsi untuk memberikan jalan kepada pendidik agar dapat dipergunakan dalam mendidik sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, kondisi murid (tingkat perkembangan), materi (bahan pengajaran), situasi, fasilitas yang ada, juga kemampuan guru itu sendiri.

Oleh karenanya pendidik tidak bisa mengandalkan satu metode saja dan menyatakan mutlak benarnya metodologi tersebut dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi terhadap objek didikannya. Mengingat objek didik yang bermacam-macam serta situasi dan kondisi yang berbeda, maka tidaklah bijaksana apabila hanya mengandalkan satu metode saja.

Di samping itu mempertimbangkan kecenderungan masing-masing aspek pendidikan itu sendiri yaitu aspek kognitif, afektif, psikomotorik yang hendak dididik. Berbeda aspek pendidikannya yang menjadi perhatian, maka berbeda pula kecenderungan dan sasaran yang hendak dicapai serta berbeda pula metodologi dan metode yang harus diterapkan. Demikian juga dengan jiwa yang hendak dibahas dalam makalah ini. Jiwa memiliki ciri-ciri dan kecenderungan sendiri, yang membedakan dengan yang lainnya. Berikut akan dibahas lebih lanjut tentang metodologi pendidikan jiwa dengan membatasi penyajian pada epistemologi jiwa menurut filosof Barat, filosof Muslim dan menurut al-Qur’an, mendidik jiwa melalui metode tabsyir dan tanzhir serta kelebihan dan kekurangan metode tabsyir dan tanzhir.


II. EpistEmologi Jiwa

A. Jiwa dalam Pandangan Filosof Barat dan Filosof Islam

Dalam literatur filsafat dan antropologi dijumpai berbagai pandangan para ahli tentang hakikat manusia. Sastraprateja, misalnya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk historis. Hakikat manusia sendiri adalah suatu sejarah, 1 yang hanya dapat di lihat dalam perjalanan sejarah bangsa manusia. Sastraprateja lebih lanjut mengatakan bahwa apa yang diperoleh dari pengamatan atas pengalaman manusia adalah suatu rangkaian anthropological constant yaitu dorongan dari orientasi yang tetap dimiliki manusia. Lebih lanjut ia menambahkan, sekurang-kurangnya ada enam anthropological constant yang dapat ditarik dalam pengalaman sejarah umat manusia yaitu; (1) Relasi manusia dengan kejasmanian, alam dan lingkungan ekologis, (2) Keterlibatan dengan sesama, (3) Keterikatan dengan struktur sosial dan institusional, (4) Ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat, (5) Hubungan timbal balik antara teori dan praktis, (6) Kesadaran religius dan pra religius. Keenam anthropological constant merupakan satu sintesis dan masing-masing saling berpengaruh satu sama lain.2

Pendapat tersebut terkesan memberi gambaran tentang manusia dari sudut pandang manusia hidup, bergerak dan bereksistensi dalam kehidupannya. Hal ini akan membantu untuk menjelaskan proses perjalanan yang harus ditempuh manusia pada umumnya. Keenam kegiatan tersebut terlihat merupakan rangkaian kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan oleh manusia, yang secara umum dapat dikatakan bahwa dalam bereksistensinya manusia tidak bisa melepaskan diri dari ketergantungan pada orang lain.

Sementara menurut para filosof Yunani, pembahasan tentang eksistensi manusia juga dibicarakan secara sistematis. Mereka berusaha memahami serta menjelaskan hakikat kehidupan alam kecil (mikro cosmos) yaitu manusia, dengan tokoh-tokohnya seperti Socrates (4470-339 SM.), Plato (428-348 M.) Aristoteles dan sebagainya. Sementara filosof modern juga mengkaji persoalan-persoalan kemanusiaan. Alexis (seorang peletak dasar humaniora di Barat) misalnya, me-ngatakan bahwa manusia adalah makhluk misterius, karena derajat keterpisahan manusia dari dirinya berbanding terbalik dengan dunia yang ada di luarnya.3

Pendapat ini menunjukkan betapa sulitnya memahami manusia secara tuntas dan menyeluruh. Sehingga setiap kali seseorang selesai memahami dari satu aspek tentang manusia, maka muncul pula aspek lainnya yang belum dibahas. Mengenai unsur jiwa yang dimiliki manusia banyak dikaji di kalangan para filosof muslim maupun filosof Barat. Dari kalangan filosof Barat dikenal seperti Aristoteles, menurutnya jiwa adalah actus yang pertama yang paling asasi yang menyebabkan tubuh menjadi hidup. Jiwa adalah asas hidup dalam arti seluas-luasnya yang memimpin segala perbuatan menuju tujuannya. Terjadi jiwa dikaitkan dengan pengembangbiakan tubuh pada waktu manusia mati jiwanya akan binasa. Maka tidak ada pra eksistensi jiwa, dan dalam jiwa yang tidak dapat mati.4 Di antara tokoh tersebut adalah seperti Plato, Descartes, John Locke dan lainnya.

Di kalangan filosof Islam dikenal seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Al-Farabi (870-950 M.) misalnya mencoba merinci masalah jiwa. Usaha perincian ini lebih lanjut dikembangkan oleh Ibnu Sina (980-1037 M.) yang mencoba memilah-milah jiwa menjadi tiga hal. Pertama, jiwa tumbuh-tumbuhan. Kedua, jiwa binatang. Dan Ketiga, jiwa manusia.5

Berbeda dengan pendapat di atas, para mutakallimin berpendapat bahwa jiwa manusia adalah merupakan jism halus, yang panjang, lebar, dan mampu berpikir, menghajat tempat, mampu membedakan dan mengendalikan jasadnya. Hal ini menurut tokoh Muktazilah, al-Nazm merupakan bagian terpenting dalam diri manusia hakikat manusia.6

Dari uraian tersebut di atas, diperoleh gambaran bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki kelengkapan jasmani dan rohani. Dengan kelengkapan jasmani, sehingga dapat melaksanakan tugas yang memerlukan dukungan fisik, dan dengan kelengkapan lainnya, ia dapat melaksanakan tugas yang memerlukan dukungan mental. Selanjutnya agar kedua unsur tersebut dapat berfungsi dengan baik dan produktif, maka perlu dibina dan diberikan bimbingan. Dalam hal ini pendidikan memegang peranan penting.
B. Epistemologi Jiwa menurut al-Qur’an

Secara harfiah nafs (jiwa) berarti esensi dan sendi sesuatu disebut jiwa sesuatu atau realitas (hakikatnya).7 Dalam kamus bahasa Indonesia, nafs ( jiwa) diartikan dengan keseluruhan kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan dan sebagainya).8 Sedangkan secara terminologi etika, nafs diartikan khayalan dan angan-angan palsu dari manusia yang terpisah dari dirinya.9 Kata nafs juga berarti jiwa jasmani atau hawa nafsu, berbagai hasrat dan keinginan.

Masih banyak pengertian lain yang diberikan kepada kata nafs namun dari pengertian di atas dapat diambil dua makna. Pertama, nafs adalah keseluruhan kehidupan manusia yang mencakup makna dari kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia. Kedua, nafs dalam pengertian perasaan halus.10

Nafsu dalam makna pertama adalah nafsu yang memiliki sifat hewani dan bernama al-nafs al-amarah jiwa yang selalu menyuruh kepada kejahatan. Nafs ini biasanya mempunyai kecenderungan pada kegiatan seperti menyuruh berbuat jahat. Ia cenderung ujub, congkak, tipu-menipu, benci, tamak, rakus, suka berangan-angan, hasut, keluh-kesah, putus asa, loba, suka mengumpulkan harta, kikir, pelit, enggan, bodoh, tolol, malas, berkata kotor, berwatak kasar, mengikuti hawa nafsu, suka menghina, panjang angan-angan, lekas marah, boros, gegabah, sewenang-wenang, aniaya, zalim, bermusuhan, cekcok, nakal, fitnah, cerai-berai, buruk sangka, sentiment, cerca, tidak tahu malu, khianat, suka berbuat maksiat, merasa gembira atas bencana yang menimpa orang lain dan masih banyak lagi yang tidak mungkin disebutkan di sini (QS. Yusuf: 53).

Dapat dipahami dari ayat tersebut, bahwa dari jiwa insan itu lebih banyak menyuruh untuk melakukan keburukan, karena terdapat berbagai dorongan fisik dan psikis lantaran rela diletakkan berbagai kenikmatan serta alat pemenuhan untuk mencapai kenikmatan tersebut. Namun demikian apabila jiwa dididik dan disucikan serta mulai menjauhi kejahatan, maka ia mulai mencela dan dengan demikian memperbaiki dirinya sendiri. Jalan seperti ini disebut nafs lawwamah atau jiwa yang tercela (QS. al-Qiyamah: 2).11

Dari gambaran ayat di atas, terlihat bahwa pada suatu saat nantinya orang akan menyesali kejahatan, mengapa ia melakukan berbagai kejahatan dan tidak melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya. Manakala jiwa itu benar-benar sudah disucikan dan mencapai kebahagiaan atau cinta Allah, maka iapun mengembang-kan kemampuannya untuk berbuat baik dan benar dan bukan lagi menjadi sumber kejahatan. Ia melakukan apa saja yang diperintahkan Allah. Jiwa yang seperti ini adalah jiwa yang dimaksudkan dalam makna kedua yang disebut di atas yaitu jiwa dalam makna perasaan halus. Jiwa dalam pengertian ini adalah jiwa yang terpuji, karena itu adalah jiwa manusia atau hakikat dirinya yang mengetahui akan Allah dan semua pengetahuan. Yang tidak pernah menolak perintah-perintah yang di-terima dari Allah, tetapi mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada mereka.

Nafsu seperti ini kemudian menjadi sumber mengalir semua amal kebaikan dan pikiran-pikiran baik. Jiwa seperti ini disebut al-nafs al- muthmainnah atau jiwa yang tenang.12 Dalam al-Qur’an disebutkan:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ . ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً . فَادْخُلِي فِي عِبَادِي . وَادْخُلِي جَنَّتِي

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya, maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku.” (QS. al-Fajr: 27-30)

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang telah yakin kepada hak dan tiada lagi perasaan syak. Jiwa yang demikian telah berpegang teguh kepada ketentuan-ketentuan syariat. Sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh nafsu syahwat dan berbagai keinginan. Ia akan dikembalikan ke tempat terhormat oleh Tuhan dan memperoleh keridhaan karena tidak pernah melanggar ketentuan-ketentuan syariat di dalam mengambil hak-haknya dan menunaikan kewajiban-kewajibannya.

Jiwa seperti itu akan dimasukkan ke dalam hamba-hamba yang salih dan mukmin. Jiwa-jiwa yang bersih dan tenang ibarat cermin yang dapat memancar-kan cahaya yang berhias diri dengan makrifat dan ilmu pengetahuan. Sehingga tatkala jiwa telah berpisah dari badan maka jiwa-jiwa tersebut saling berdekatan, penuh kasih sayang dan ketulusan hati serta mempunyai hubungan baik.13


C. Pendidikan Jiwa melalui Tabsyir dan Tanzhir

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pada prinsipnya jiwa cenderung kepada kesesatan dan kejahatan. Dan itu akan dapat menghancurkan pribadi atau masyarakat serta akan jauh dari kebahagiaan di akhirat nanti. Oleh karenanya jiwa perlu diupayakan untuk mengubah dari nafsu amarah atau nafsu lawwamah kepada nafsu muthmainnah, karena dengan nafsu al-muthmainnah manusia akan mendapatkan ridha dari Allah.

Oleh karenanya pendidikan jiwa adalah pendidikan yang hendak mengupayakan perubahan jiwa manusia dari jalan amarah kepada jalan muthmainnah. Untuk mengupayakan hal tersebut tentu saja membutuhkan metode yang tepat, yaitu metode tabsyir dan tanzhir.

Tabsyir adalah menggembirakan dengan menyajikan hal-hal yang menyenangkan pada masa yang akan datang bilamana yang bersangkutan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya, atau menjauhi hal yang dilarang untuk melakukannya.14 Sedangkan tandai artinya memperingatkan seseorang supaya berhati-hati terhadap hal yang tidak baik dan mengundang banyak resiko di kemudian hari.15

Dengan demikian, tabsyir bertujuan agar orang mematuhi aturan Allah, tandai demikian juga, akan tetapi tekanan tabsyir lebih kepada upaya-upaya melakukan kebaikan. Sedangkan tanzhir titik tekannya pada upaya menjauhi kejahatan. Kedua metode ini adalah termasuk kiat alami yang tidak mungkin ditinggalkan oleh seorang pendidik. Sebab peserta didik perlu mengetahui akibat dari tingkah laku mereka yang baik maupun yang buruk. Itulah sebabnya al-Qur’an telah mengisyaratkan perilaku yang baik hasilnya adalah baik. Dan dikaitkan dengan pahala, syurga dan kenikmatannya. Kemudian sebaliknya dengan tandai, ia mengisyaratkan perilaku buruk akibatnya buruk pula. Dan ia mengaitkan dengan dosa, kedahsyatan neraka Jahim dan siksaan yang abadi bagi orang-orang yang melampaui batas. Karena manusia akan dihisab berdasarkan setiap amal yang dia kerjakan. Dan balasan sesuai dengan perbuatan yang dikerjakan pula.

Bila dikaitkan dengan pendidikan jiwa yang memiliki beberapa ciri dalam penerapan metode tersebut sangatlah cocok, terutama sekali karena kecen-derungan jiwa itu sendiri. Mahmud Ali Kasyani mengemukakan ada lima sifat jiwa,16 yaitu sebagai berikut: Pertama, perbudakan hawa nafsu. Nafsu ingin menikmati kesenangan-kesenangan badan dan jasmani serta memenuhi hasrat-hasrat dan berbagai keinginan hawa nafsu itu sangat menginginkan kesenangan duniawi serta menganggap nafsu sebagai tuhannya. Ia sama dengan pembuat berhala dan penyembah berhala. Dalam al-Qur’an dijelaskan, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pen-dengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

Salah satu tugas dari syeitan selalu berusaha menipu manusia untuk memperturutkan hawa nafsu, “Bagi mereka (yang mengikuti tipu daya syeitan itu) tempatnya di neraka Jahannam. Dan mereka tidak menemui jalan lari dari padanya”. Dan sebaliknya, “Dan orang-orang yang beriman dan beramal shaleh akan kami masukkan ke dalam syurga yang sungainya tetap mengalir, mereka kekal tinggal di dalamnya. Janji Allah itu benar.”. (QS. Al-Baqarah: 25)

Dari kedua ayat tersebut di atas, tersaji sebuah peringatan dan ancaman bagi orang yang memperturutkan hawa nafsu. Sebagaimana orang-orang mukmin menyembah Allah, orang-orang yang mengikuti hawa nafsu menyembah berhala-berhala atau beribadah kepada berhala-berhala ciptaannya sendiri berbentuk materi maupun non materi. Bagi mereka neraka Jahannam tempatnya. Dalam ayat ketiga, Allah memberikan janji gembira kepada orang yang beriman dan beramal shalih dengan imbalan syurga.

Kedua, sifat lainnya dari nafs adalah kemunafikan (nifak), yakni dalam banyak hal nafs tidak cocok dengan hatinya. Menyanjung-nyanjung dan memuji manusia setinggi langit di hadapannya dan kemudian melecehkan di belakangnya. Di hadapannya menampakkan ketulusan, di belakangnya ia justeru bersikap sebaliknya. Sebagaimana firman Allah, “Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami Telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syeitan-syeitan mereka, mereka mengatakan: “Se-sungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. al-Baqarah:14) “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah.” bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. ” (QS. al-Baqarah: 206).

Ketiga, sifat nafs adalah bermegah-megahan atau suka pamer. Nafsu menampilkan diri seolah-olah mempunyai kualitas terpuji sekalipun semuanya ini boleh jadi tercela di hadapan Allah sehingga ia terkenal dan kesohor di kalangan orang banyak tetapi tercela dalam pandangan Allah ia makin dekat dengan manusia namun makin jauh dengan Allah. (QS. al-Furqan:3) “Apakah kamu perhatikan orang-orang yang mengira dirinya bersih…?” (QS. al-Nisa’: 49). “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia ( sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Lukman: 18)

Keempat, sifat lainnya adalah mengklaim ketuhanan dan terus kepada menentang Allah. “Dan (juga ada tanda-tanda kekuasaan Allah) pada dirimu kenapa tidak kamu perhatikan…?. Kelima, Kikir dan tamak. “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. al-Taubah: 34). “Siapa yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (ganjaran) pinjaman itu baginya dan ia akan memperoleh pahala.” (QS. al-Maidah: 11)


D. Kelebihan dan Kekurangannya

Bagi seorang pendidik, metode yang digunakan dalam mendidik tidak boleh terpaku pada satu model saja, tetapi minimal menggunakan dua metode yaitu tabsyir atau tandai. Dalam al-Qur’an dan sunnah selalu disandingkan antara ridha dan amarah, antara kebaikan dan keburukan, kenikmatan dan siksaan.17 Hendaknya juga mulai dengan memberi motivasi bukan dengan mengancam, sehingga hati anak terlebih dahulu terpaut kepada Allah melalui persuasif (raja’), sebab seorang anak lebih membutuhkan cinta terutama di masa kecilnya.

Ancaman juga perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak-anak. Cara ini akan memunculkan rasa takut yang diperlukan dalam jiwa anak namun bukan takut yang tanpa alasan edukatif.18 Demikian pula dalam amal-amal yang lain kita wajib memberi semangat untuk melakukan kebaikan dan memperingatkan hal-hal yang buruk.

Metode ini lebih mudah digunakan karena materinya sudah ada dalam al-Qur’an dan hadits.19 Metode ini sifatnya lebih universal. Dapat digunakan kepada siapa saja dan dimana saja. Namun kekurangan kedua metode ini, lemah karena hukuman dan ganjarannya bersifat abstrak, dan akan diterima nantinya di akhirat.20

Abdurrahman al-Nahlawi, mengemukakan ada empat keistimewaan yang paling penting dari kedua metode ini. Pertama, kedua metode ini bersandar pada argumentasi dan keterangan. Semua ayat yang mengandung tabsyir dan tanzhir mengandung isyarat keimanan kepada Allah. Kedua, dilihat dari segi pendidikan hal ini mengandung anjuran dalam menanamkan keimanan dan akidah yang benar di dalam jiwa anak-anak, agar dapat menjanjikan (tabsyir) syurga kepada mereka dan mengancam (tanzhir) mereka dengan azab Allah. Sehingga tabsyir dan tanzhir langsung atau tidak langsung mengundang anak-anak merealisasikan dalam amal dan perbuatan. Ketiga, bersandar kepada gambaran yang indah tentang kenikmatan syurga atau dahsyatnya azab jahannam. Oleh karena itu, hendaknya pendidik menggunakan gambar-gambar dan makna-makna yang melukiskan dahsyatnya siksaan serta nikmatnya gambaran yang diberikan selaras dengan tingkat perkembangan anak. Keempat, metode-metode ini menggugah perasaan peserta didik terhadap Rabbaniyah seperti perasaan khauf kepada Allah, perasaan khusyuk, perasaan cinta, perasaan raja’. Kelima, metode ini me-nyeimbangikan perasaan takut terhadap siksaan neraka dan harapan masuk syurga Allah.

Untuk itu, diperlukan motivasi kepada setiap anak untuk melakukan kebaikan-kebaikan, serta menjauhi setiap tindakan yang menjurus pada kejahatan. Dengan demikian jiwa anak-anak sejak usia dini sudah mendapatkan rangsangan-rangsangan dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.


V. KESIMPULAN

Menurut para filosof Barat, jiwa adalah asas hidup dalam arti yang seluasnya yang memimpin segala perbuatan menuju tujuannya. Sementara menurut filosof muslim, jiwa dirincikan menjadi jiwa tumbuh-tumbuhan, jiwa binatang dan jiwa manusia. Sementara dalam al-Qur’an, jiwa adalah keseluruhan kehidupan manusia yang mencakup makna dari kekuatan amarah dan syahwat dalam diri manusia.

Di dalam al-Qur’an metode-metode tersebut dikenal dengan metode tabsyir, yang merupakan suatu metode menggembirakan dengan menjanjikan hal-hal yang menyenangkan pada masa yang akan datang bilamana yang bersangkutan mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya atau menjauhi hal-hal yang dilarang. Sedangkan metode tandai adalah suatu metode untuk mengingatkan seseorang supaya berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari, karena setiap aktifitas yang dilakukan oleh seseorang akan berimplikasi (positif maupun negatif) di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA

Delfgauw, Bernard. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. terj. Sujono Soemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1990

Dimas, M. Rasyid. 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak. Jakarta: Rabbani Press, 2001

Hadiwijono, Harun. Sejarah Sari Filsafat Barat. Jakarta: Kanisius, 1980

Hawa, Said. Jalan Ruhani. Bandung: Mizan, 1995

Iconnu, L’Home et. al-Insan Dzalika al-Majbul. Mesir: Dar al-Fikri al-‘Arabiyah, t. th.

Al-Kasyani, Mahmud Ali. Misbah Al-Hidayah. Lucnow: Nawar Kishal Press, 1890

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi. juz. XXVIII, terj. Bahrun Abu Bakar, dkk. Mesir: Mustafa Al-Babi Al-Halabi, 1974

Nasution, Harun. Filsafat dan Mistisme dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1978

Nata, Abuddin. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Logos, 1997

Qutb, M. Manhaj At-Tarbiyah Al-Islamiyah. Beirut: Dar al-Syuruq, t. th.

Raharjo, M. Dawam. Insan Kamil; Konsep Manusia Menurut Islam. Jakarta: Temprint, 1987

Sarwar, U.G. Filsafat Al-Qur’an. Jakarta: Rajawali, 1994

Sastarprateja, M. Manusai multimentional, sebuah Renungan Filsafat. Jakarta: Gramedia, 1982

Al-Syahrastani. al-Milal wa al-Nihal. Beirut: Dar Al-Fikri, 1956

Tafsir, Ahmad. Ilmu Pendidikan dan Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992

Thaib, M. Pendidikan Islami; Metode 30T. Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1996

Valiuddin, Mir. Zikr dan Kontemplasi dalam Tasawuf. Bandung: Pustaka Hidayat, 1997


1 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan (Jakarta: Logos, 1997), 28

2 M. Sastarprateja, Manusia multimentional, sebuah Renungan Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1982), 1

3 L’Home et Iconnu, al-Insan Dzalika al-Majbul (Mesir: Dar al-Fikri al-‘Arabiyah, t. th.),

4 Harun Hadiwijono, Sejarah Sari Filsafat Barat (Jakarta: Kanisius, 1980), 51; U. G. Sarwar, Filsafat Al-Qur’an (Jakarta: Rajawali, 1994), 142; Bernard Delfgauw, Sejarah Ringkas Filsafat Barat, terj. Sujono Soemargono (Yokyakarta: Tiara Wacana, 1992), 34

5 Harun Nasution, Filsafat dan Mistisme dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), 26-47

6 Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal (Beirut: Dar al-Fikri, 1956), 57, dan M. Dawam Raharjo, Insan Kamil; Konsep Manusia Menurut Islam (Jakarta: Temprint, 1987), 7

7 Mir Valiuddin, Zikr dan Kontemplasi dalam Taswuf (Bandung: Pustaka Hidayat, 1997), 46

8 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1990), 364

9 Mir Valiuddin, Zikr…, 46-47

10 Said Hawa, Jalan Ruhani (Bandung: Mizan, 1995), 46

11 Mir Valiuddin, Zikr…, 47

12 Mir Valiuddin, Zikr…, 48

13 Ahmad Mustafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, juz. XXVIII, terj. Bahrun Abu Bakar, dkk. (Mesir: Mustafa al-Babi al-Halabi, 1974), 274

14 M. Thaib, Pendidikan Islami; Metode 30T (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1996), 108

15 M. Thaib, Pendidikan Islami..., 174

16 Mahmud Ali Al-Kasyani, Misbah Al-Hidayah (Lucnow: Nawar Kishal Press, 1890), 61-64

17 M. Rasyid Dimas, 25 Kiat Mempengaruhi Jiwa dan Akal Anak (Jakarta: Rabbani Press, 2001), 73

18 M. Qutb, Manhaj al-Tarbiyah al-Islamiyah (Beirut: Dar al-Syuruq, t. th.), 164

19 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dan Perspektif Islam (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1992), 147

20 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan..., 147

Al-Mu‘ashirah Vol. 6 No. 2, Juli 2009




Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə