Metodologi Penelitian Tafsir Hadis



Yüklə 459 b.
səhifə5/13
tarix09.03.2018
ölçüsü459 b.
#45232
1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   13

Faktor yang cukup mencolok berkaitan dengan kemunculan corak tafsir fiqhi adalah karya-karya yang menampilkan pandangan fiqih yang cukup sektarian, ketika kita menemukan tafsir fiqhi sebagai bagian dari perkembangan kitab-kitab fiqh yang disusun oleh para pendiri madzhab. Meskipun begitu, ada pula sebagian yang memberikan analisis dengan membandingkan perbedaan pandangan madzhab yang mereka anut.

  • Di antara kitab-kitab yang tergolong tafsir fiqhī:

    • Ahkām al-Quran karya al-Jassās (w. 370 H);
    • Ahkām al-Quran karya Ibn al-‘Arabi (w. 543 H);
    • Al-Jāmi‘ li ahkām al-Quran karya al-Qurtubī (w. 671 H).


    Tafsir Falsafi

    • Latar belakang yang menyebabkan munculnya corak penafsiran falsafi terhadap al-Qur’an adalah karena berkembangnya gerakan penerjemahan yang dilakukan pada masa Abbasiyah. Gerakan ini telah membuka khazanah berbagai ilmu pengetahuan, termasuk pemikiran filsafat Yunani.

    • Ada dua reaksi atas perkembangan semacam ini:

      • Pertama, sebagian kelompok menolak filsafat karena bertentangan dengan agama. Kelompok ini mengerahkan seluruh hidupnya untuk menolak dan menjauhkan orang dari filsafat. Di antara para tokohnnya yang terkenal adalah
        • Imam Ghazali, dan
        • Fakhr al-Din al-Rāzī
        • Keduanya memaparkan dalam tafsirnya teori-teori filsafat yang jelas-jelas berada dalam pandangan yang bertentangan dengan agama, dan dengan al-Quran secara khusus. Maka mereka menolak sesuai dengan kadar yang bisa mencukupkan argumentasi dan mengkritik metodenya.
      • Kedua, kelompok yang sangat mengagumi filsafat dan menerima teori-teroi yang sebenarnya bertentangan dengan nass syariat yang dipercaya bersifat pasti. Kelompok ini mengupayakan adanya keserasian antara falsafah dengan agama, dan menghilangkan pertentangan di antara keduanya. Akan tetapi, kelompok ini tidak sampai pada tahap penyesuaian yang benar-benar sempurna, sebagaimana terlihat dalam penjelasan mereka terhadap ayat-ayat al-Quran yang berupa penjelasan yang disokong oleh teori-teori filsafat yang tidak mungkin dimiliki oleh nash al-Quran dalam kondisi apapun.
    • Kitab tafsir yang tergolong ke dalam corak penafsiran falsafi yang mewakili kelompok yang menolak filsafat adalah Mafātih al-Ghayb karya Fakhr al-Razī (w. 606 H),

    • sedangkan dari kelompok kedua tidak ada karya yang bisa dikelompokkan ke dlaam karya tafsir selain dari penafsiran terhadap penggalan-penggalan ayat al-Qur’an dalam kitab filsafat.



    Tafsir Ilmi

    • Alasan yang melahirkan penafsiran ilmiah adalah karena seruan al-Quran pada dasarnya adalah sebuah seruan ilmiah. Yaitu seruan yang didasarkan pada kebebasan akal dari keragu-raguan dan prasangka buruk, bahkan al-Quran mengajak untuk merenungkan fenomena alam semesta, atau seperti juga banyak kita jumpai ayat-ayat al-Quran ditutup dengan ungkapan-ungkapan, “Telah kami terangkan ayat-ayat ini bagi mereka yang miliki ilmu”, atau dengan ungkapan, “bagi kaum yang memiliki pemahaman”, atau dengan ungkpan, “bagi kaum yang berfikir.”

    • Apa yang dicakup oleh ayat-ayat kauniyah dengan makna-makna yang mendalam akan menunjukkan pada sebuah pandangan bagi pemerhati kajian dan pemikiran khususnya, bahwa merekalah yang dimaksudkan dalam perintah untuk mengungkap tabir pengetahuannya melalui perangkat ilmiah yang berkenaan dengan itu. Walhasil, ketika sebagian ulama menangkap hakikat bahwa al-Qur’an mendorong manusia untuk berpikir dan menguasai ilmu pengetahuan, mereka menyusun tafsir ayat-ayat kauniyah, menurut kaidah bahasa dan kelazimannya, menurut ukuran yang mereka bisa terangkan sebagai bagian ilmu yang bersumber dari agama mereka berdasarkan kesimpulan analisis yang mereka dapatkan dari kenyataan pula.

    • Karya yang bisa digolongkan dalam kelompok tafsir ilmi adalah

      • Tafsir al-Kabīr karya Imam Fakh al-Razî dan
      • Tafsir al-Jawahir karya Tantawi Jauhari.
      • Sebagian ulama ada juga yang memasukkan beberapa karya seperti Ihyā’ ‘ulūm al-dīn, dan Jawāhir al-Quran karya Imam al-Ghazāli; serta al-Itqan karya al-Suyūtī sebagai karya yang mencerminkan corak tafsir ilmi ini, akan tetapi bila tafsir dipahami sebagai genre untuk karya yang menampilkan penafsiran al-Qur’an berdasarkan tata urutan ayatnya sesuai dengan mushaf, sebagaimana corak ini tergolong kepada metode tafsir tahlili, maka ketiga karya yang disebut terakhir tidak bisa di masukkan ke dalamnya.


    Tafsir Adabi Ijtima’i

    • Tafsir Adabi Ijtima’i yaitu corak penafsiran yang menekankan penjelasan tentang aspek-aspek yang terkait dengan ketinggian gaya bahasa al-Qur’an (balaghah) yang menjadi dasar kemukjizatannya. Atas dasar dalam prosedur penafsirannya mufassir menerangkan:

      • makna-makna ayat-ayat al-Qur’an,
      • menampilkan sunnatullah yang tertuang di alam raya dan sistem-sistem sosial,
      • Semua dilakukan sehingga ia dapat memberikan jalan keluar bagi persoalan kaum muslimin secara khusus, dan persoalan ummat manusia secara universal sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh al-Qur’an.
    • Karya-karya tafsir yang dapat dimasukkan dalam kategori ini:

      • Tafsir al-Manar karya Muhammad Rasyid Rida (w. 1935),
      • Tafsir al-Maraghi karya Mustafa al-Maraghi (w. 1945), dan
      • Tafsir al-Qur’an al-Karim karya Mahmud Syaltut.


    c

    • Kelompok Kajian Hadis dan Ilmu Hadis



    Pengertian dan Ruang Lingkup

    • Kajian Hadis dimaksudkan sebagai kajian yang menjadikan hadis Nabi SAW sebagai objek kajiannya.


    • Yüklə 459 b.

      Dostları ilə paylaş:
    1   2   3   4   5   6   7   8   9   ...   13




    Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
    rəhbərliyinə müraciət

    gir | qeydiyyatdan keç
        Ana səhifə


    yükləyin