Panduan Masa Perayaan Paskah dan Pentakosta [mppp] 2014 Sinode gksbs pengantar



Yüklə 0,5 Mb.
səhifə3/9
tarix06.08.2018
ölçüsü0,5 Mb.
#67441
1   2   3   4   5   6   7   8   9

Bacaan: Mazmur 51: 1 – 7
AWAS BAHAYA SLOGAN: DOSA...? SIAPA TAKUT?

Alkitab memang merupakan sebuah cermin besar bagi manusia sepanjang zaman. Betapa tidak, Daud yang nampaknya begitu setia dan menjadi kekasih Allah dapat melakukan perzinahan dengan seorang istri dari prajuritnya yang setia. Itulah bukti ketidaksempurnaan seorang manusia. Namun demikian kita masih dapat meneladani pemahaman Daud akan dosa. Teladan ini penting sebab Kekristenan sekarang ada yang di bawah pengaruh dunia yang cenderung menyepelekan dosa dan konsekuensinya. Jika Kristen terpengaruh oleh paham dunia modern maka tidak akan ada lagi tonggak dan mercusuar moralitas di dunia ini.

Ungkapan perasaan Daud pertama kali setelah ditegur oleh Natan adalah ‘kasihanilah aku’ [ayat 2]. Ini menandakan bahwa Daud tidak sekadar malu setelah boroknya dibongkar namun lebih dari itu ia sadar dengan sepenuh hati bahwa dosa sudah membuat dirinya menjadi seorang manusia yang tak berharga dan tak berpengharapan di hadapan Allah, karena hanya kepada-Nyalah Daud berdosa [ayat 6]. Daud menempatkan secara tepat tempat dosa dalam jalur hubungan antara manusia dengan Allah. Karena itu sebelum memohon ampun, ia mohon belas kasihan dari Allah sebab belas kasihan merupakan dasar utama pengampunan Allah.

Selain dampak yang ditimbulkan mengapa dosa tidak dapat diremehkan? Sebab dosa adalah ketidakmampuan untuk mencapai sasaran yang ditetapkan Allah [ayat 2], sebuah pemberontakan terhadap Allah [ayat 4, 6] serta sesuatu yang najis di hadapan Allah [ayat 4]. Dengan kata lain disadari atau tidak, dosa adalah sebuah tindakan manusia untuk menetapkan dan menjalankan nilai- nilai ciptaan manusia dan bukan Allah. Dosa bahkan dipersonifikasikan sebagai suatu kekuatan [ayat 5]. Manusia akan selalu kalah karena pada dasarnya manusia sudah rusak secara total [ayat 7].


Renungkan: Sejarah Alkitab mencatat bahwa setelah pertobatannya seperti yang tercatat dalam mazmur ini, Daud tidak lagi melakukan dosa yang sama. Karena itu pengajaran hakikat dosa dan konsekuensinya harus didengung-dengungkan terus agar jemaat Tuhan senantiasa jijik untuk melakukan dosa. Mulailah dengan cara tidak menghaluskan kata-kata ketika menyebut suatu perbuatan yang bertentangan dengan firman Tuhan misalnya: pemberian uang kepada petugas ketika sedang mengurus surat dihaluskan menjadi biaya administrasi. AMIN
Liturgi:

Nyanyian PKJ 2

Doa pembuka

Nyanyian PKJ 15

Pembacaan Firman dan renungan

Nyanyian PKJ 230

Doa Syafaat dan penutup

***


Bahan Khotbah Minggu Pra Paskah II; 16 Maret 2014

Warna Liturgi Ungu

Bacaan: Matius 17:1-9

Tujuan: Warga jemaat semakin mempercayai Yesus Kristus sebagai juru selamat manusia

SEMAKIN PERCAYA
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Hari ini, kita akan mendengarkan kisah mengenai peristiwa yang ajaib yang dilakukan oleh Kristus. Peristiwa ini adalah sesuatu yang misteri dan luar biasa, dimana kemuliaan Tuhan Yesus nampak di depan mata ke-tiga muridNya. Gereja di Timur menyebutnya denga Perayaan Perubahan Rupa dengan nama Taborian. Enam hari setelah peristiwa kaisarea Filipi, Tuhan Yesus membawa ketiga murid yang dekat dengannya yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes ke sebuah gunung yang tinggi.


Bahan kotbah kita pada minggu Prapaskah ke II ini diawali dengan penjelasan Yesus kepada murid-murid-Nya peristiwa yang akan terjadi pada diri-Nya, yaitu ia akan pergi ke Yerusalem dan disana ia akan menangung banyak penderitaan bahkan sampai mati [Matius 16: 21 ]. Ketika Yesus menceritakan perihal ini kepada para murid agaknya mereka tidak bisa memahami perkataan Yesus. Dia sudah menjadi tokoh terkenal karena mukjizat-mukjizat-Nya. Mungkinkah Dia mati disalib? Ini jelas tidak masuk akal. Bukankah Dia lebih berkuasa ketimbang semua orang? Bagaimanapun, para murid dan hampir keseluruhan masyarakat Yahudi telah menaruh harapan besar pada-Nya, bahwa Yesus adalah Mesias yang akan membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi. Pengalaman mengikut Yesus selama ini bukanlah perkara biasa mereka telah menjadi saksi hidup dari mukjizat, hingga sikap hidup Yesus dalam setiap pelayanan-Nya. Yesus sang guru mereka ini menerima orang apa adanya. Baik pegawai tinggi kerajaan Romawi, pemungut cukai, pelacur, maupun anak-anak diterima Yesus sama baiknya. Ada pergulatan besar dalam diri para murid ketika sosok Yesus yang sangat di harapkan sebagai sang pembebas, dan mereka telah melihat karya-Nya yang besar itu baik dalam Mujizat maupun keperduliannya kepada orang-orang yang dianggap tidak layak dalam kalangan masyarakat Yahudi, kemudian akan begitu capat mengalami peristiwa pahit yang rasanya tidak mungkin akan dialami oleh Yesus.

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,



Melalui Peristiwa yang dilihat oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes paling tidak ada beberapa hal yang sangat luar biasa yang tidak pernah mereka lihat selama ini dalam diri Yesus, dan ini dapat dipakai untuk mereka untuk memperteguh keyakinan para murid tentang siapa Yesus sebenarnya.


  1. Perubahan Yesus

Kebiasaan Yesus menyendiri dan berdoa di tempat yang sunyi sudah menjadi hal yang bisa bagi para murid-Nya. Namun dalam peristiwa kali ini ada hal yang sangat berbeda manakala mereka melihat hal yang sangat menakjubkan, mereka melihat Yesus berubah rupa di depan mata mereka. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang [ayat 2]. Wajah Yesus yang bercaya seperti matahari dan pakaian-Nya putih bersinar seperti terang merupakan yang pertama kali mereka lihat dalam diri Yesus. Yesus yang selama ini mereka lihat dalam kehidupan keseharian tidak ada yang berbeda seperti pada umumnya orang lain, tetapi hari itu berubah dalam kemulyaan yang sangat luar biasa.


  1. Bersama Nabi besar

Kebersamaan Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika bersama-sama melayani dengan Yesus selama ini menjadi saksi tentang keberadaan Yesus, ia berjumpa dengan siapa, dan ia melakukan apa, di mana dan dengan siapa. Pada hari itu mereka melihat Yesus sedang berbicara dengan dua orang yang sangat terkenal di zaman nenek moyang mereka yaitu nabi Musa dan nabi Elia. Nabi Musa dan Nabi Elia adalah dua orang nabi besar bagi bangsa Israel, yang barang tentu tindak pernah dilihat oleh Petrus dan kawan-kawan. Mereka mungkin hanya mendengar kisah dua nabi besar ini dari pencerita sejarah suci di sinagoge-sinagoge yang mereka masuki. Musa adalah nabi yang memberikan hukum hukum Allah kepada bangsa Israel. Berkat Musalah, bangsa Israel memiliki hukum-hukum Allah, termasuk 10 hukum. Sedangkan Elia adalah nabi yang sangat besar dan terutama diantara para nabi nabi dalam kerajaan Israel. Musa, sebagai pemberi hukum yang terbesar dan Elia sebagai nabi yang terbesar diantara para nabi bertemu dengan Tuhan Yesus sebelum Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib. Yesus adalah orang yang besar dan luar biasa karena Ia mampu berbicara dengan orang-orang yang sudah tidak ada di zaman Yesus.


  1. Suara Bapa

Rasa suka cita para murid semakin diperteguh dengan adanya awan yang terang menaungi mereka dan mereka mendengar suara “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” [ayat 5]. Ada dua hal penting dalam perkataan Bapa ini, Yesus adalah Anak yang dikasihi oleh Bapa sendiri, dan Bapa berkenan kepada-Nya, dan yang terakhir para murid diminta untuk mendengarkan-Nya, perintah yang terakhir ini merupakan penegasan bahwa mereka tidak boleh ragu dan menolak apa yang dikatakan oleh Yesus.
Dari tiga hal yang luar biasa yang dilihat para murid Yesus justru membuat mereka gentar dan ketakutan. Hal yang manarik dari Yesus adalah menguatkan para muridnya dan untuk sementara waktu mereka tidak diperkenankan menceritakan persoalan/kemuliaanNya ini kepada orang lain, tetapi akan tiba waktunya Yesus akan menyatakan kemuliaan diriNya dengan kebangkitanNya dari antara orang mati sebagai puncak pemberitaan bahwa Yesus adalah Allah. Dengan puncak pemberitaan ini akan semakin menyakinkan dan tidak diragukan lagi bahwa Yesus adalah benar-benar Allah.
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Tampaknya kisah perubahan wajah Yesus di gunung yang tinggi ini, merupakan salah satu metode pengajaran Yesus untuk para murid-muridnya. Bisa jadi para murid bingung dengan jalan yang hendak ditempuh Yesus. Mungkin mereka bertanya-tanya: ”Bagaimana mungkin Yesus mati dibunuh? Mungkinkah orang membunuh-Nya? Mungkinkah orang menangkap-Nya, setan-setan saja takut kepada-Nya? Bukankah itu suatu kemustahilan?” Memang suatu kemustahilan. Namun, baiklah kita ingat bahwa Yesus tidak pernah ditangkap. Yang benar: Dia menyerahkan diri-Nya. Dan kematian bukanlah akhir; kebangkitan membuktikan bahwa Dia sungguh Allah. Kisah perubahan wajah Yesus ini merupakan salah satu metode Yesus untuk menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Penampakan yang dilihat oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes ketika nabi Musa dan Elia hadir mnyatakan bahwa Yesus bukan pribadi yang biasa, melainkan Ia adalah pribadi yang luarbiasa. Pernyataan bahwa Yesus adalah pribadi yang luar biasa bukan biasa-biasa saja di pertegas dengan pernyataan dari Bapa sendiri sebagai pihak yang paling berkuasa di atas segala penciptaan-Nya. Kenyataan itu seharusnya tak membuat para murid gentar menghadapi salib. Jalan salib adalah jalan sengsara yang harus dilalui sang Guru. Hanya dengan jalan itulah keselamatan manusia menjadi nyata. Sesungguhnya, tidak hanya Yesus yang harus menempuh jalan itu. Para murid juga diminta menempuh jalan sengsara rela menderita agar makin banyak orang merasakan kasih Allah.

Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus,

Pernahkan kita diragukan oleh orang yang kita kenal, atas kemampuan yang kita miliki bahkan oleh orang yang paling dekat dengan kita. Contohnya Istri meragukan kesetiaan suaminya, seorang ayah meragukan kemampuan anaknya. Sebagai orang yang diragukan tentu kita akan berusaha untuk menyakinkan orang tersebut agar ia memiliki keyakinan yang penuh kepada kita.

Demikian juga dalam hidup beriman kita kepada Kristus, mungkin ada warga jemaat diantara kita pada saat ini yang mengalami keraguan ketika ia mengikut Yesus, mungkin karena tantangan hidup yang berat, atau karena pengaruh hubungan kita dengan masyarakat di sekitar kita, yang mayoritas tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah.

Belajar dari kebenaran firman Tuhan hari ini, sebelum Yesus mengalami penderitaan dan mengalami kematian di kayu salib hal yang dapat kita petik adalah Jangan meragukan ke Allahan Yesus, kehadiran Yesus yang sederhana serta sikap hidupnya yang terkadang sering menyapa orang kecil dan berdosa mungkin menjadi penyebabkan orang ragu akan Yesus sebagai Tuhan dan juru selamat dunia. Bagi kita Yesus adalah benar-benar Allah, apa yang meyakinkan kita bahwa Yesus adalah Allah diantaranya adalah: dilihat dari apa yang ada dalam diri Yesus yaitu keperdulaian terhadap orang berdosa, kuasa kebangkitanNya, mujizatNya kesemuanya itu dapat kita temukan ketika kita semakin mengenal Yesus melalui pendalaman kesaksian Alkitab.

Belajar melalui perjumpaaan Yesus dengan nabi-nabi besar yang sudah tidak ada di dunia ini karena hanya Allah saja yang bisa melakukan perjumpaan seperti itu, danYesus mampu melakukan itu sebagai Allah yang tidak di batasi ruang dan waktu. Yesus adalah pribadi yang sangat berkuasa yang dapat melakukan hal-hal di luar yang dapat kita pikirkan. Terakhir yang menyatakan bahwa Yesus patut dipercaya dan semakin diyakini karena ini adalah perintah dari Bapa sendiri sebagai sang pencipta dan pemilik atas kehidupan ini. …Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”… [ayat 5].

Setelah kita yakin benar tentang Yesus dan segala pekerjan-Nya, maka Jangan takut untuk memikul salib bahkan mati disalib karena Yesus Kristus, Salib adalah symbol penderitaan bagi orang Kristen salib atau penderitaan ini tidak boleh di hindari melaikan harus dihadapi, bahkan jika salib itu harus membawa orang kristen mengalami kematian sekalipun. kenapa kita tidak boleh takut karena selama saudara dan saya tinggal dalam kebenaran maka tidak ada yang perlu di takutkan karena ada Yesus yang akan menyentuh kita dan berkata “ Jangan Takut “. Maz 27:1. TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Langkah selajutnya adalah saudara dan saya diminta untuk memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan kepada semua ciptaan-Nya. Saudara dan saya berada ditengah orang-orang yang tidak percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, dan tugas saudara dan saya adalah menyakinkan mereka bahwa Yesus adalah Tuhan, dengan dasar yang sudah saudara dan saya yakini. Akhirnya jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, mari kita semakin meyakini Allah kita, mari kita tidak takut dengan perlawanan atas keyakinan kita, dan mari kita yakinkan orang yang belum menyakini Yesus adalah Tuhan, kirannya Tuhan Yesus memberkati. Amin [TAR]


LITURGI

Nats Pembimbing : 1 Yohanes 5: 10

Berita Anugerah : Titus 3 : 8

Nast Persembahan : Kisah Rasul 16:34

Nyanyian 1. KJ : 10:1,2, 4-5

2. KJ : 13: 1-3

3. KJ : 240a:1-3

4. KJ : 293:1-3

5. KJ : 367:1-

6. KJ : 369:1,3


***

Bahan Renungan Minggu Pra Paskah II; Tanggal, 17-22 Maret 2014

Bacaan: 2 Timotius 1:7-10
SIAP MENJADI SAKSI KRISTUS

Surat II Timotius ditulis Paulus dari penjara di Roma pada masa tahanan yang ke-2 pada sekitar tahun 65. Pengantar surat adalah Tikhikus [4:12]. Keadaan Paulus di tempat tahanan kali ini lebih berat dari pada masa tahanan yang pertama [tahun 60-62], karena pada masa itu ia diperkenankan tinggal di rumah kontrakannya sendiri [statusnya sebagai tahanan rumah] dan menerima tamu-tamu [Kis. 28:16,30]. Pada masa tahanan ke-2 ia berada di dalam penjara [2 Tim. 1:8], bahkan ia dibelenggu [2 Tim. 1:16] dan diperlakukan sebagai sorang penjahat [2 Tim. 2:9].

Dalam bacaan kita Rasul Paulus mempunyai keinginan supaya dalam hati Timotius timbul semangat melayani dan bisa melanjutkan pekerjaan pemberitaan Injil berdasarkan karunia Allah yang dicurahkan atas Timotius dan yang memperlengkapi dia dengan keberanian, kekuatan, kasih dan penguasaan diri. Namun kelihatannya Timotius agak berat meneruskan pelayanan Rasul Paulus, karena ada rasa takut dan malu . Godaan untuk merasa malu akan [karena] kesaksian Tuhan senantiasa ada, karena menurut I Kor. 1:23 “kita memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”. Orang yang memberitakan Kristus semacam ini akan menerima comoohan dan ini menjadikan dia enggan untuk bersaksi tentang Krisus. Orang yang takut untuk menerima cercaan karena Yesus, juga akan takut untuk dipandang sebagai pendukung orang yang “memikul salib” Kristus. Ini sudah dialami Paulus sendiri [II Tim. 1:15,16]. Oleh sebab itu Paulus menganjurkan kepada Timotius agar tidak malu dalam memberitakan Injil saat diketahui dirinya [Paulus] dipenjara.

Bagaimana dengan kehidupan kita sekarang ini? Dalam kehidupan orang Kristen jika menyadari bahwa telah diberi keselamatan di dalam Kristus Yesus, maka di dalam hidup harus mau menjadi saksi Kristus. Tetapi dalam kenyataannya kehidupan yang diharapkan menjadi saksi bagi Kristus lewat kehidupan yang dapat menjadi teladan dalam masyarakat, kenyataan banyak orang Kristen yang malah menjadi batu sandungan dalam hidupnya. Tidak sedikit pula yang dengan sadar malah takut karena iman kepada Kristus, Lebih parahnya lagi mau menukar keyakinan dengan sesuatu yang hanya dimiliki sesaat saja di dunia ini. Misalnya saat dihadapkan dengan masalah pasangan hidup. Sudah menjadi keprihatinan Gereja, banyak pemuda-pemudi yang dengan sadar “menukar” atau “melepas” keyakinannya saat mencari pasangan hidup. Dengan banyak kejadian yang ada sekarang ini, kita diharapkan untuk selalu menyadari keberadaan kita. Bahwa kita yang percaya kepada Kristus telah menerima keselamatan lewat pengorbanan darah Kristus Yesus, seharusnyalah kita selalu bersyukur dengan memberikan hidup kita sebagai alat kasih Kristus untuk manjadi saksi-Nya didunia ini. Keselamatan yang diberikan kepada kita lewat pengorbanan Tuhan Yesus Kristus wajib kita pegang terus sampai akhir hidup kita. Dengan percaya dan mengasihi Tuhan Yesus, kita harus siap menjadi saksi Kristus dalam hidup kita, baik lewat tutur kata maupun tingkah laku yang selalu menyenangkan Allah dan sesama kita.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah menjadi saksi Kristus dalam kehidupan kita masing-masing, dengan kehidupan yang selalu menjadi contoh bagi sesama. Atau jangan-jangan kita malah jadi batu sandungan bagi sesama, lewat perilaku dan tingkah laku kita yang selalu berada dalam dosa. Marilah kita menjadi garam dan terang dunia, selalu menjadi contoh/teladan yang baik dalam kehidupan keseharian kita. Dengan cara itulah kita menjadi saksi-saksi Kristus yang hidup. Amin

Liturgi:

Nyanyian: PKJ 187

Doa Pembuka

Nyanyian: Pkj 15

Pembacaan Firman dan renungan

Nyanyian: Kj 426

Doa syafaat dan penutup.

Bahan Khotbah Minggu Prapaskah III; 23 Maret 2014

Warna Liturgi: Ungu

Bacaan: Keluaran 17:1-7

Tujuan: Jemaat dapat menyelesaikan masalah dengan berpusat kepada Allah.
BERPUSAT KEPADA ALLAH
Jemaat yang dikasihi dan yang mengasihi Tuhan,

Setelah bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, lalu bangsa ini dipimpin oleh Musa berjalan menuju Kanaan, yaitu tanah yang dijanjikan Tuhan, tanah yang penuh dengan susu dan madu. Perjalanan menuju ke tanah kanaan bukanlah perjalanan yang mudah, bangsa Israel harus melewati padang gurun yang luas, siang hari mengalami kepanasan dan malam hari diliputi kedinginan yang luar biasa. Tetapi Allah yang membawa bangsa Israel keluar dari tanah Mesir adalah adalah Allah yang bertanggung jawab. Dalam setiap kesulitan-kesulitan yang dihadapai bangsa ini, Allah selalu campur tangan dengan mujizat yang dilakukan di hadapan mereka. Dengan harapan, bangsa Israel dapat mengerti , mengenal dan beriman kepada Allah. Tetapi bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, keras kepala. Walaupun Allah telah melakukan banyak mujizat di hadapan bangsa Israel, tetapi mereka masih suka memberontak kepada Allah, tidak percaya kepadaNya. Terlebih lagi ketika mereka sedang mengalami kesulitan, mereka selalu mencobai Tuhan dengan bersungut-sungut dan melawan Musa yang dipanggil oleh Allah sebagai pemimpin mereka. Keluaran 17: 1-7 adalah salah satu wujud pemberontakan bangsa Israel kepada Allah.

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Ketika bangsa Israel dalam perjalannya sampai di Rafidim, maka berkemahlah mereka di sana. Tetapi di sana tidak ada air yang bisa diminum oleh bangsa ini. Dalam situasi seperti itu, mereka mulai panik dan mulai bertengkar dengan Musa. Mereka berkata kepadanya :“ berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum”, tetapi Musa menjawab perkataan mereka:” mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobaiTuhan?” Pertengkaran yang dilakukan oleh bangsa Isreal dengan Musa, sebenaranya mau menunjukan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang mudah lupa akan perbuatan Allah yang besar, yang pernah dilakukan kepada mereka. Baru saja mereka menerima dan akan terus menerima roti Mana dan daging burung puyuh yang diturunkan dari langit oleh Allah, sebagai tanda pemeliharaan-Nya. Tetapi mereka melupakan semua itu, mereka hanya tertuju kepada masalah yang sedang dihadapi. Dalam menghadapi persoalan yang ada, mereka tidak berusaha mencari jalan keluar dengan berpikir jernih dan membicarakannya baik-baik dengan pemimpin mereka, mereka juga tidak mau datang kepada Allah. Tetapi mereka langsung mencari kambing hitam dengan menyalahkan pemimpinnya. Mereka menyalahkan Musa dengan menganggap, bahwa Musa adalah seorang pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Hal ini nampak, ketika mereka berkata kepada Musa:” mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” dan yang lebih parah lagi, mereka mencobai Tuhan, dengan mengatakan:”apakah Tuhan ada di tengah kita atau tidak?” Bangsa Israel lupa, bahwa Musa membawa keluar bangsa Israel karena Allah sendiri yang telah memanggil dan mengutusnya, sehingga mereka mulai ragu dengan kepemimpinan Musa, mulai ragu dengan Allah, mulai tidak percaya kepadaNya. Mereka selalu mengukur keberhasilan Musa dalam memimpin dengan kepuasan yang mereka dapat.

Dengan perkataannya, sebenaranya Musa mau menyadarkan mereka, bahwa segala persoalan tidak harus diselesaikan dengan cara bertengkar. Dengan menyebut nama Tuhan, sebenarnya Musa mau mengingatkan bahwa Tuhan itu ada dan setia. Tetapi bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, bangsa yang keras kepala, ia tidak mau mendengarkan Musa, dan tidak percaya kepada Allah, walaupun mereka telah melihat perbuatan-perbuatan besar yang telah dilakukanNya. Mereka tetap bersungut-sungut dan dalam kegarangan mereka mau menyerang Musa.

Jemaat yang mengasihi Tuhan.

Menanggapi situasi yang mulai tidak terkendali, lalu apa yang dilakukan oleh Musa? Sebagai seorang pemimpin bangsa yang besar, yang telah dipanggil dan diutus oleh Allah, Musa datang kepada Allah yang memanggil dan mengutusnya. Musa berseru-seru dan mengadu kepada Allah, meminta pertimbangan kepada Allah, supaya ia tahu apa yang harus dilakukannya. Musa sadar akan keberadaan dirinya yang ada di tengah bangsa Israel yang sedang marah kepadanya, sehingga ia merasa akan dihukum mati dengan cara dilempari batu. [ hal ini adalah salah satu bentuk hukuman mati di masyarakat Israel].

Jemaat yang dikasihi Tuhan,

Musa adalah pemimpin yang Teosentris, yang memusatkan perhatiannya kepada kehendak Allah. sehingga dalam segala situasi Musa selalu berkomunikasi dengan Allah, untuk mendapat kekuatan, penghiburan, serta jalan keluar terhadap masalah yang sedang ia hadapi. Ketika Musa datang kepada Allah, maka Allah meresponnya dengan berfirman kepadanya:"Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kau pakai memukul sungai Nil dan pergilah.” Musa diperintahkan oleh Allah berjalan di depan bangsa Israel. Sebagai seorang pemimpin ketika sedang ada persoalan seharusnya berani menghadapinya, tidak hanya dibelakang, bersembunyi dan tidak berusaha menyelesaikannya. Tetapi harus punya integritas, tahu tugas dan tanggung jawabnya, dan itulah yang dikehendaki Allah di dalam diri Musa. Selain itu Musa juga diperintahkan oleh Allah membawa beberapa tua-tua di antara umat Israel dan juga membawa tongkat yang dipakai untuk memukul sungai Nil. Tua-tua adalah orang-orang yang mempunyai pengaruh dalam kehidupan masyarakat Israel, dengan mengajak tua-tua dan menjadi saksi, paling tidak akan membantu Musa dalam meyakinkan bangsa Israel untuk setia kepada Allah. Sehingga Musa juga mempunyai teman yang bisa diajak untuk bekerja sama dalam mengarahkan umat. Membawa tongkat sebagai sarana, paling tidak mengingatkan bangsa Israel akan perbuatan Allah yang dilakukan ketika mereka ada di Mesir. Dengan tongkat itu Musa memukul air di sungai Nil sehingga tidak bisa diminum airnya [ lihat:….. ] dan dengan tongkat yang sama Allah akan menolong bangsa Israel untuk mendapatkan air untuk diminum.

Jemaat yang dikasihi dan yang mengasihi Tuhan,

Perintah Allah kepada Musa, tidak hanya sekedar perintah, tetapi dibarengi dengan janji penyertaan Allah, bahwa Allah akan berdiri di depan Musa di atas gunung batu di Horeb. Dan Musa diperintahkan memukul gunung batu itu, karena dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum. Musapun melakukan apa yang diperintahkan Allah di depan mata tua-tua Israel. Maka keluarlah air dari dalam gunung batu itu seperti yang difirmankan oleh Tuhan. Lalu dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: "Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?" nama Masa dan Meriba sebagai peringatan bahwa Israel pernah bertengkar dan mencobai Allah.

Jemaat yang memuliakan Allah,

Belajar dari kehidupan bangsa Israel dan kepemimpinan Musa. Dalam hidup berkeluarga, bergereja dan bermasyarakat juga mengalami dinamika, ada persoalan-persoalan yang timbul dan tenggelam. Dalam kehidupan bergereja, kita pasti pernah mengalami persoalan, baik karena perbedaan pendapat, atau karena factor lainnya. Dengan adanya persoalan sebenarnya jemaat sedang didik untuk menjadi lebih dewasa. Ketika gereja kita sedang mempunyai masalah, sebagai anggota jemaat, kita tidak diajar hanya untuk menyalahkan pemimpin yang duduk di depan, tetapi kita diajar untuk membantu mencari solusi yang sesuai dengan Firman Tuhan, sehingga semua terselesaikan dengan baik. Demikian juga dengan kita, yang dipanggil oleh Tuhan menjadi pemimpin, baik itu sebagai kepala rumah tangga, sebagai pengurus komisi, sebagai Majelis, atau sebagai pemimpin lainnya. Kita diajar untuk mempunyai integritas [kesatuan antara perkataan dan perbuatan]. Berusaha dengan keras untuk menjadi pemimpin yang baik, seperti yang diharapkan Tuhan. Bila ada persoalan bagaimana harus berusaha menyelesaikannya, tidak bersembunyi atau lari dari masalah. Dan semua yang dilakukan harus berpusat pada kehendak Allah. seperti yang dilakukan oleh Musa. Banyak keluarga, banyak gereja yang menjadi kuat dan bersatu kembali, ada pemulihan, ketika dalam penyelesaian masalah kembali kepada firman Tuhan, mencari kehendak Allah dan berpusat kepada Kristus. Tidak berpusat kepada keinginan orang banyak, keinginan pribadi, keinginan-keinginan orang tertentu , apakah itu tokoh gereja, orang kunci, atau orang berpendidikan tinggi. Ketika semua hanya berpusat kepada keinginan orang banyak, keinginan pribadi atau orang-orang tertentu, serta tidak berpusat kepada Tuhan, maka yang sering terjadi adalah kepentingan atau keinginan pribadi yang menonjol, sehingga perpecahan gereja tidak dapat dielakan. Oleh karena itu, kita sebagai keluarga, gereja yang hidup di tengah-tengah zaman yang terus bergejolak, yang terus berubah, mari kita senantiasa berpusat kepada Allah, dengan mencari kehendakNya dan melakukan segala firmanNya. sehingga kita ditolong dari kehancuran, di mana gejolak dan perubahan zaman tidak akan mengkoyak-koyak keluarga kita, persekutuan kita. Tuhan memberkati


Yüklə 0,5 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
rəhbərliyinə müraciət

gir | qeydiyyatdan keç
    Ana səhifə


yükləyin