Pada Bab III



Yüklə 53.12 Kb.
tarix06.03.2018
ölçüsü53.12 Kb.


SINOPSIS
Kemajemukan adalah ciri dan keunggulan Bangsa Indonesia. Pendidikan harus mengakomodasi keberagaman dan memberikan jaminan kapada seluruh peserta didik untuk mendapatkan hak dan pelayanan yang sama. Sekolah harus menjadi pintu utama dalam menanamkan kemampuan menerima perbedaan dalam suasana akademis, demi menjaga Indonesia sebagai rumah bersama. Buku yang saya beri judul Sekolah, Rumah Besar Rumah Bersama ini, melihat sekolah sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari unsur-unsur yang memiliki ikatan fungsional untuk pencapaian tujuan bersama.

Pada Bab I, saya menjelaskan kriteria sekolah yang dapat berfungsi sebagai rumah besar bagi setiap penghuninya. Sekolah besar tidak harus dengan bangunan fisik gedung yang besar dan luas. Sekolah sebagai rumah besar, adalah sekolah yang dapat dirasakan seluruh anak didik sebagai rumah bersama. Sekolah harus menjadi wadah bagi keberagaman etnis, budaya dan agama. Semua peserta didik harus mendapatkan kesempatan, hak dan pelayanan yang sama, tanpa memandang tingkat kecerdasan, kualitas karakter, maupun latar belakang sosial ekonomi. Guru harus menerima kemajemukan sebagai tantangan kepahlawanan.

Pada Bab II, saya menjelaskan bahwa hampir tidak alasan bagi guru untuk tidak merasa bahagia. Tunjangan Profesi Pendidik dan berbagai tunjangan lain telah membuat kehidupan guru penerima sertifikasi lebih sejahtera. Sumber kebahagian lainnya adalah penghormatan dan apresiasi masyarakat dengan gelar pahlawan bagi profesi guru. Kepahlawanan memang identik dan butuh tantangan. Karenanya, dibutuhkan kinerja, keikhlasan, dan kesabaran yang ekstra untuk menghadapi tantangan profesi yang semakin kompleks.

Pada Bab III, saya menjelaskan tentang guru sebagai profesi yang terhormat dan mulia. Kehormatan dan kemulian seorang guru sangat erat dengan kemampuan dan kompetensi. Kompetensi seorang guru ditentukan oleh semangat untuk tetap belajar dan membaharukan diri. Guru dituntut senantiasa membaharukan keterampilan keguruannya agar mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta perubahan sosial yang begitu cepat.

Pada Bab IV, saya menguraikan berbagai masalah yang ada di sekolah. Menjelaskan sekolah sebagai suatu sistem sosial. Sekolah adalah potret masyarakat dalam skala yang lebih kecil, yang didalamnya terdapat peserta didik, guru, tenaga kependidikan, kepala sekolah sebagai unsur pimpinan, serta berbagai norma sosial yang mengikat dan mengatur seluruh warga sekolah. Dibutuhkan guru yang berkarakter untuk mengurai benang kusut pendidikan, sekaitan penerimaan peserta didik baru, pemanfaatan dana BOS, jabatan kepala sekolah, kekerasan di lingkungan sekolah, kesejahteraan guru honorer, dan peran organisasi guru dalam membantu meningkatkan kualitas tenaga pendidik.

Pada Bab V, saya menjelaskan tentang ukuran kesuksesan seorang guru. Guru sukses adalah yang mampu memberi dan menjadi inspirasi bagi anak didiknya untuk melakukan perubahan yang positif. Guru sukses adalah mereka yang mampu menjadikan berbagai tantangan pekerjaan sebagai motivasi dan pendorong untuk senantiasa mengubah diri dan kompetesnsi sesuai dengan tuntutan profesi. Pada bab ini pula beberapa kisah yang yang dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi kalangan pendidik.


KURIKULUM VITAE

Nama : MUHALIS BEBANG

Tempat, Tanggal Lahir: Sidrap Sulsel, 12 Desember 1973

Riwayat Pendidikan :



        1. SD Negeri 4 Benteng Sidrap (1980-1986)

        2. SMP Negeri 1 Rappang Sidrap (1986-1989)

        3. SMA Negeri 157 Rappang Sidrap (1989-1992)

        4. S1 Pendidikan Geografi, IKIP Ujung- Pandang (1992-1997)

        5. S2 Program Studi IPS, Konsentrasi Pendidikan Sosiologi, UNM (2011-2013)

        6. Sementara menempuh pendidikan S3 Sosioloi PPS UNM

Riwayat Pekerjaan :

  1. Mengajar Bidang Studi Ilmu Pengetahuan Sosial di SMP Negeri 36 Makassar 1998-sekarang

  2. Menjabat Urusan Kurikulum dan Pengajaran di SMP 36 Makassar (2000 – 2015)

  3. Instruktur Nasional GURU PEMBELAJAR (Agustus 2016-sekarang)

Prestasi di Bidang Pendidikan :

  1. Juara II Tingkat Propinsi, Jenjang SMP, Pemilihan ‘Guruku Panutanku’ yang dilaksanakan Harian Fajar Makassar (2016)

Organisasi Profesi :

  1. Pengurus Pusat, Forum Komunikasi Guru IPS Nasional (PKGIPSNAS) (2016 – sekarang)

  2. Pengurus Wilayah, Forum Komunikasi Guru IPS Nasional (PKGIPSNAS) Propinsi Sulawesi Selatan (2016 – sekarang)

Riwayat Kepenulisan:

Harian Fajar :


  1. Sekolah, Rumah Besar Peserta Didik, Edisi 4 Mei 2015

  2. Kepala Sekolah yang ‘Amanah’ Sekaligus Aminah, Edisi 5 September 2015

  3. Pembaharu yang Selalu Terbarukan, Edisi 24 Nopember 2015

  4. PR Kepala Sekolah Baru di Makassar, Edisi 31 Maret 2016

  5. Menegur, Mendidik dan Janji Merdeka, Edisi 17 Agustus 2016

Harian Ujungpandang Ekspress

  1. Ketika BOS Menggoda, Edisi 26 Nopember 2015

  2. Warkop dan Geliat Ekonomi Makassar, Edisi 1 Desember 2015

  3. Pesona Rammang-rammang, dan Ruralisasi, Edisi 16 Desember 2015

  4. Pelestarian Nama Lokal, Edisi 31 Desember 2015

  5. Maudu Adaka, Potensi Ekonomi Sanrobone, Edisi 9 Januari 2016

  6. Makassar Butuh ‘Kepala Sekolah Baru’, Edisi 21 Januari 2016

  7. Catatan Kecil untuk Rektor Baru UNM, Edisi 7 Maret 2016

  8. Internet dan Percepatan Revolusi Pendidikan, Edisi 24 Mei 2016

  9. Setop Kekerasan di Lingkungan Sekolah, Edisi 9 Juni 2016

  10. Memuliakan Guru Honorer, Edisi 24 Nopember 2016

  11. Kecerdasan Majemuk dan Ujian Nasional, Edisi 7 Desember 2016

Harian Amanah

  1. Menjaring Kepala Sekolah yang Amanah, Edisi Desember 2015

  2. Cerpen, Libur Telah Tiba, Edisi Januari 2016

Harian Go Cakrawala

  1. PPDB, Lebih dari Sekadar Mengisi Formasi, Edisi Juli 2015

  2. Meminimalisir Disorientasi Masa Orientasi Siswa, Edisi Juli 2015

Tulisan-tulisannya dapat pula diakses di:

  1. Blog pribadi http://muhalisbebang.wordpress.com

  2. www.kompasiana.com dengan nama akun Masennang Masagena

  3. www.Facebook.com dengan nama akun Muhalis Bebang

DAFTAR ISI

Halaman


SAMBUTAN -

PENGANTAR -

PRAKATA -

BAB I MENJAGA INDONESIA DIMULAI DARI SEKOLAH 1

A. Rumah Besar, Rumah Bersama 3


  1. Menyikapi Kemajemukan 10

  2. Memanusiakan Anak Nakal 14

BAB II JANGAN LUPA BAHAGIA 31

  1. Guru Pahlawan Butuh Tantangan 33

  2. Menegur, Mendidik 36

  3. Menjadi Pendengar 45

  4. Nilai adalah Motivasi 49

BAB III. PROFESIONAL KARENA KOMPETENSI 53

  1. Panutan dan Supermarket Pembelajaran 53

  2. Mulia Karena Kompetensi 54

  3. Guru Super 59

  4. Guru adalah Pembaharu 61

  5. Menjadi Guru Terbarukan 63

  6. Guru Masa Depan dan Internet 65

  7. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan Konsekuensinya 68

BAB IV MASALAH-MASALAH KONTEMPORER

PENDIDIKAN INDONESIA 70



  1. Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya 70

  2. Penerimaan Peserta Didik Baru 74

  3. Disorientasi Masa Orientasi 77

  4. Sekolah yang Aman dan Nyaman 80

  5. Internet dan Revolusi Pendidikan 85

  6. Kepala sekolah dan otonomi sekolah 89

  7. Ketika Bos Menggoda 94

  8. Organisasi Guru 97

  9. Memuliakan Guru Honorer 98

BAB V. SUKSES DAN INSPIRATIF 102

  1. Kesuksesan Seorang Guru 104

  2. Belajar dan Berubah 106

  3. Mereka yang Menginspirasi 108

  4. Cerita Pendek tentang Pendidikan 117

DAFTAR PUSTAKA 126

SAMBUTAN

KEPALA DINAS PENDIDIKAN KOTA MAKASSAR
Pendidikan hendaknya selaras dengan perubahan masyarakat. Dunia sosial yang berkembangan dinamis menuntut tenaga pendidikan untuk bersinergi dengan perubahan. Zaman yang makin maju mengakibatkan tantangan pekerjaan makin kompleks. Di pundak seorang guru, melekat tugas dan tanggung jawab mencetak generasi pembaharu, sekaligus senantiasa berusaha memperbaharui kemampuan keguruannya. Karenanya, seorang guru harus terus belajar dan mengembangkan keilmuannya.

Muhalis Bebang adalah seorang guru di Makassar. Ia adalah satu di antara sedikit guru yang aktif menulis di media cetak dan online. Karya-karyanya dalam bentuk opini, artikel dan cerpen kerap menghiasi halaman beberapa koran lokal Makassar dalam beberapa tahun terakhir ini. Di sela kesibukannya sebagai guru, Ia berhasil mewujudkan mimpinya untuk menulis sebuah buku. Buku yang di beri judul “Sekolah, Rumah Besar Rumah Bersama” dipersembahkan untuk insan-insan pendidikan tanah air.

Hampir dua puluh tahun bertugas sebagai guru, memberikan banyak pengalaman dan masukan terhadap berbagai karakter, dan permasalahan yang melingkupi dunia pendidikan tanah air. Profesi guru saat ini menjadi sorotan karena kualitas pendidikan tanah air yang belum juga mampu memenuhi ekspektasi masyarakat, adalah tantangan yang harus dihadapi. Negeri ini membutuhkan guru yang berkarakter kuat. Guru yang menjadi teladan dan mampu mencetak generasi yang berkarakter pembangunan.

Baginya, masalah-masalah tersebut bukan hanya sebagai tema yang menarik sebagai bahan tulisan. Sebagai seorang guru yang bersentuhan langsung dengan problematika pendidikan, tulisannya bukan hanya berupa kritik sosial, tapi juga tawaran yang bersifat solutif dari masalah yang diangkatnya.

Hadirnya buku ini sejalan dengan visi Revolusi Pendidikan yang di gagas Pemerintah Kota Makassar. Akhirnya, saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku ini, semoga menjadi bacaan sekaligus bahan refleksi bagi kalangan guru dan unsur-unsur yang bergerak di bidang pendidikan. Terkhusus bagi penulis, semoga buku pertama ini dapat menjadi motivasi untuk karya-karya berikutnya.
Makassar, 18 Januari 2017

Drs. H. Ismunandar, MM


PENGANTAR

KETUA PROGRAM STUDI SOSIOLOGI S3 PPs UNM
Budaya merupakan ciri, identitas, dan karakter suatu bangsa. Terkikisnya budaya bangsa menjelmakan sebuah kondisi yang disebut sebagai era kompleksitas, yakni suatu pertemuan antara kekacauan dan keteraturan. Lembaga pendidikan, dalam hal ini sekolah hendaknya mampu menyikapi era kompleksitas. Satuan pendidikan dapat mengabil peran dalam menata era komleksitas, dengan mengekstraksi sumber pengetahuan sehingga dapat beradaptasi kreatif dengan perubahan serta mampu bersinergi dengan semangat zaman.

Perkembangan dalam berbagai bidang kehidupan dewasa ini telah menjadikan dunia begitu kompleks. Kekompleksan tersebut menjadikan ruang yang sangat luas bagi setiap orang untuk memilih dan juga menentukan apa yang diperlukannya untuk dijalani.

Tak sedikit kalangan guru yang acuh tak acuh dengan masalah kontemporer pendidikan kita. Negeri ini membutukan pendidik yang memiliki integritas moral dan kapabilitas yang profesional. Bila ini tidak diwujudkan, bisa dibayangkan bagaimana bangsa ini ke depan.

Sepengetahuan saya, Muhalis Bebang adalah seorang yang memiliki integritas tinggi. Ia adalah sosok pendidik yang tidak hanya mengajar di ruang-ruang kelas, tapi juga mampu menunjukkan tanggung jawab sosialnya untuk ikut andil dalam memberikan masukan buat kemajuan pendidikan di luar lingkungan tempatnya bertugas. Muhalis Bebang diberi kemampuan untuk menuangkan ide, gagasan, atau kritik membangun dalam bentuk buku yang layak dibaca. Ia mampu mengatasi rasa takutnya untuk bersuara dan berbeda pendapat dalam koridor budaya akademik.

Buku ini layak untuk dibaca oleh para guru, calon guru, dan instansi yang terkait dengan pendidikan. Buku ini bukan hanya menggambarkan karakter guru saat ini, buku ini juga memberikan refleksi untuk kemajuan pendidikan Indonesia. ‘Tak Ada Gading yang Tak Retak’, tak terkecuali dengan buku ini. Namun demikian karya ini adalah suatu keberhasilan bagi saudara Muhalis Bebang dalam menuangkan keresahannya terhadap dunia pendidikan tanah air.

Kalau layar sudah terkembang, bila kemudi telah terpasang, meski diserang badai dan topan, walau dihempas ombak dan gelombang, biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, lebih baik tenggelam daripada biduk surut ke pantai. Akhirnya, saya berharap agar saudara Muhalis Bebang tetap diberikan kekuatan untuk tetap mengasah kemampuan dan mengembangkan diri, demi karya-karya berikutnya, sebagai sumbangsih dalam perbaikan pendidikan Indonesia



Makassar, 19 Januari 2017

Prof. DR. Andi Agustang, M.Si.


MOTTO
Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, kerena mereka hidup bukan di zamanmu


(Ali Bin Abu Thalib)

PERSEMBAHAN



Karya ini adalah bentuk persembahan dan ucapan terima kasih penulis kepada; Ibu dan saudara-saudaraku tercinta atas doa yang tak pernah putus, guru-guru yang ikhlas berbagi dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Terkhusus bagi istri terkasih Nur Hayaty, berserta kedua buah hati kami, Abyan Jagad Raya Bebang dan Muhammad Izzulhayat Bebang, buku ini adalah bukti, dengan usaha dan kerja keras, segalanya bisa diubah menjadi lebih baik.



Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə