Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal

Sizin üçün oyun:

Google Play'də əldə edin


Yüklə 149.06 Kb.
səhifə1/5
tarix18.01.2018
ölçüsü149.06 Kb.
  1   2   3   4   5

Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal




2. ORIENTALIS DAN KEBUDAYAAN ISLAM

 

WASHINGTON IRVING sebagai penulis terkemuka telah menjadi kebanggaan Amerika Serikat terhadap bangsa-bangsa lain dalam abad ke-19. Dia telah menulis buku tentang sejarah hidup Nabi. Dalam buku ini dibentangkannya sejarah Nabi itu dengan kemampuan retorika yang cukup besar sehingga tidak sedikit bagian-bagian yang dapat memikat hati pembacanya. Disamping kemampuannya itu kadang terlihat juga kejujurannya, tapi kadang tampak pula tidak toleran dan penuh prasangka. Buku ini disudahi dengan sebuah penutup yang menjelaskan pokok-pokok ajaran rukun Islam, serta apa yang dikiranya sumber-sumber yang berdasarkan sejarah yang telah dijadikan landasan ajaran itu, didahului dengan soal keimanan kepada Tuhan, kepada para malaikat, kitab-kitab, para rasul dan hari kemudian. Kemudian katanya:



 

"Rukun keenam dan terakhir daripada rukun akidah Islam (rukun iman) ialah jabariah.1 Sebagian besar kemenangan Muhammad dalam perang didasarkan kepada ajaran ini. Segala peristiwa yang terjadi dalam hidup sudah ditentukan lebih dulu oleh takdir Tuhan, sudah tertulis dalam 'Papan Abadi'2 sebelum Tuhan menciptakan alam ini, dan bahwa nasib dan ajal manusia semua sudah ditentukan, sudah tak dapat dielakkan lagi. Dengan cara apa pun menurut kemampuan usaha dan pikiran manusia, sudah tak dapat dimajukan lagi. Dengan keyakinan ini kaum Muslimin terjun ke medan perang tanpa merasa takut sama sekali. Kalau mati dalam pertempuran demikian ini sama dengan mati syahid yang akan langsung masuk surga, maka mereka yakin salah satu ini pasti akan mereka capai -syahid atau menang.


"Ajaran yang menentukan, bahwa manusia tidak berdaya dengan kemauannya yang bebas itu untuk menghindari dosa atau selamat dari siksa, sebagian kaum Muslimin menganggapnya bertentangan dengan keadilan dan rahmat Tuhan. Beberapa golongan timbul. Mereka berusaha dan terus berusaha hendak meringankan dan memberi penjelasan mengenai ajaran yang membingungkan ini. Tetapi jumlah yang masih sangsi tidak banyak. Mereka ini tidak termasuk golongan Sunnah (orthodoks).

 

"Muhammad mendapat inspirasi tentang ajaran ini tepat pada waktunya. Memang ini ilham yang luar biasa terjadi pada waktu yang tepat sekali. Kejadian ini persis sesudah Perang Uhud yang malang itu, yang tidak sedikit makan korban sahabat-sahabatnya, termasuk Hamzah pamannya. Ketika itulah, tatkala kesedihan dan kegelisahan sedang mencekam hati sahabat-sahabat yang mengelilinginya, peraturan ini dikeluarkan -- bahwa manusia tak dapat mengelak dari kematian, bila ajal sudahm tiba, sama saja di tempat tidur atau di medan



perang ...

 

"Kiranya orang takkan dapat melukiskan suatu ajaran yang lebih tepat dari ini untuk mendorong sekelompok tentara yang bodoh tidak berpengalaman itu menyerbu secara buas ke medan perang. Mereka sudah diyakinkan, kalau hidup mendapat rampasan perang, kalau mati mendapat surga! Karena ajaran ini juga tentara Muslimin sudah hampir tak dapat dikalahkan lagi. Akan tetapi ini juga yang mengandung racun yang akan menghancurkan kekuasaan Islam itu. Begitu pengganti-pengganti Nabi itu berhenti sebagai penakluk, begitu mereka menyarungkan kembali pedangnya untuk selama-lamanya, ajaran jabariah ini pun mulai pula mengerumit (menggerogoti) untuk merusak. Urat-saraf Muslimin sudah peka terhadap perdamaian, juga sudah peka terhadap kekayaan materi yang dibolehkan oleh Qur'an, dan yang merupakan pemisahan yang tajam antara prinsip-prinsip ini dengan agama Kristen, agama suci dan kasih sayang. Seorang Muslim yang ditimpa kemalangan menganggapnya sebagai nasib yang sudah ditakdirkan Tuhan dan tak dapat dihindarkan, jadi harus tunduk dan menerima, selama segala daya upaya dan pikiran manusia memang tidak berguna.



 

"Rumus yang berbunyi: "Tolonglah dirimu, Tuhan akan menolongmu" dipandang oleh pengikut-pengikut Muhammad tak dapat dilaksanakan, bahkan sebaliknya yang mereka ambil. Dari sanalah salib berhasil mengikis bulan sabit. Adanya bulan sabit ini sampai sekarang di Eropa - yang pada suatu waktu pernah mencapai kekuatan yang luar biasa hanyalah karena perbuatan negara-negara Kristen yang besar-besar; atau lebih tepat lagi: karena persaingan mereka sendiri. Bertahannya bulan sabit itu barangkali untuk menjadi bukti yang baru, bahwa: "barang siapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang."

 

Demikianlah kata-kata Washington Irving, orang yang dengan studinya itu belum memungkinkan ia dapat menangkap jiwa Islam dan dasar kebudayaannya. Salah sekali pendapatnya dalam mengartikan soal al-qadza wal-qadar (kadar atau takdir) serta soal ajal itu. Barangkali dia masih dapat dimaafkan mengingat beberapa buku Islam yang dijadikan bahan bacaannya membuat dia berpendirian demikian itu. Tetapi sebaliknya Qur'an, tidak dapat diukur dengan kalimat "Tolonglah dirimu, Tuhan akan menolongmu" dari segi kuatnya dorongan Qur'an supaya orang percaya kepada diri sendiri, dan bahwa manusia mendapat imbalan sesuai dengan perbuatan serta niat yang melahirkan perbuatan itu.



 

"Katakan: 'Wahai umat manusia! Kebenaran dari Tuhan sudah datang. Barang siapa menurut jalan yang benar, maka kebenaran itu buat kebaikan dirinya, dan barang siapa menjadi sesat, dia sesat karena dirinya juga'." (Qur'an, 10: 108.)


"Barang siapa menurut jalan yang benar, maka kebenaran itu buat kebaikan dirinya; dan barang siapa menjadi sesat, dia sesat karena dirinya juga. Seseorang tidak dapat memikulkan beban orang lain, dan Kami tiada akan menjatuhkan siksaan sebelum Kami mengutus seorang rasul." (Qur'an, 17: 15).

 

"Barang siapa menghendaki keuntungan akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu, dan barangsiapa menghendaki keuntungan dunia akan Kami berikan juga. Tetapi di akhirat ia tidak mendapat bagian." (Qur'an, 42: 20)



 

"Tuhan tidak akan mengubah nasib sesuatu golongan kalau mereka tidak mengubah nasib mereka sendiri." (Qur'an, 13: 11.)

 

Dan contoh serupa ini banyak sekali dalam Qur'an. Jelas sekali ia menunjukkan bahwa manusia mendapat pahala atau mendapat siksa sumbernya pada kehendak dan perbuatannya sendiri. Tuhan mendorong manusia berusaha dan mencari rejeki untuk makannya di muka bumi ini. Mereka disuruh berjuang di jalan Allah dengan ayat-ayat yang cukup jelas dan kuat seperti yang sudah kita baca sebagian dalam buku ini. Ini sama sekali tidak sesuai dengan apa yang dikatakan Irving dan beberapa penulis Barat, bahwa Islam agama tawakal, serba tak acuh dan pasrah, mengajar pemeluknya bahwa mereka tidak berkuasa atas diri mereka sendiri untuk mendatangkan kebaikan atau keburukan, jadi tak ada gunanya mereka berusaha dan berkehendak, sebab usaha dan kehendaknya tergantung kepada takdir Tuhan. Kalau kita berusaha dan ditakdirkan takkan memberi hasil atas usaha kita, tidak akan berhasil juga. Sebaliknya kalaupun kita tidak berusaha tapi sudah ditakdirkar; kita akan menjadi orang kaya, orang kuat atau menjadi orang beriman, kita pun akan jadi demikian tanpa ada usaha atau kerja. Ayat-ayat yang sudah kita kemukakan itu menolak dan bertentangan sekali dengan pendapat ini.



 

Mereka-yang menghubungkan sikap tawakal kaum Muslimin pada masa-masa belakangan ini berpegang pada ayat terakhir, seperti firman Tuhan ini:

 

"Nyawa yang harus menemui kematiannya, hanyalah dengan ijin Tuhan, sebab waktunya sudah ditentukan." (Qur'an, 3: 145).



 

"Setiap umat sudah mempunyai waktunya tertentu. Apabila sudah tiba waktunya, mereka takkan dapat mengundurkan atau memajukannya barang sedikit pun juga." (Qur'an, 7: 34).

 

"Setiap peristiwa yang terjadi di bumi dan pada dirimu sendiri sudah ditentukan terlebih dulu sebelum Kami menciptakannya. Buat Tuhan hal semacam ini mudah sekali." (Qur'an, 57: 22).



 

"Katakan: Takkan ada yang menimpa kita, kalau tidak sudah ditentukan Tuhan kepada kita. Dialah Pelindung kita, dan orang-orang yang beriman kepadaNya-lah mempercayakan diri." (Qur'an, 9: 51)

 

Kalau pun itu yang menjadi pegangan mereka, sebenarnya mereka tidak dapat menangkap arti ayat-ayat itu dan yang semacamnya serta hubungan erat yang digambarkan antara hamba dengan Tuhannya. Mereka sudah terdorong dengan dugaan bahwa Islam mengajarkan orang pasrah; padahal yang sebenarnya Islam menyuruh orang berjuang dan bersedia mati sebagai pahlawan, mempertahankan harga diri dan kehormatannya, dengan kebudayaannya yang dibangun atas dasar persaudaraan dan kasih-sayang.



 

Sebenarnya ayat-ayat itu dan yang sejalan dengan itu telah melukiskan suatu kenyataan ilmiah yang telah diakui pula oleh sebagian besar filsuf-filsuf dan sarjana-sarjana Barat dengan diberi nama mazhab jabariah (fatalisma) juga dan menghubungkan pengertian jabr (nasib) ini kepada hukum alam dan sejumlah kehidupan biologis yang ada, sebaliknya daripada akan menghubungkannya kepada kehendak dan kekuasaan Allah. Mazhab yang sudah diakui oleh sebagian besar filsuf-filsuf Barat ini tidak lebih puas, tidak lebih toleran, juga tidak lebih sesuai untuk umat manusia daripada mazhab filsafat yang disarikan dari Qur'an Suci itu, seperti yang akan kita lihat nanti.

 

Jabariah ilmiah (scientific determinism) ini berpendapat, bahwa ikhtiar3 yang ada pada kita dalam kehidupan ini ialah ikhtiar nisbi dengan nilai yang kecil sekali, sedang pendapat tentang ikhtiar nisbi ini lebih banyak bergantung kepada keperluan hidup sosial dari segi praktisnya daripada kepada kenyataan ilmiah atau filsafat. Kalau mazhab ikhtiar ini tidak dijadikan suatu keputusan, akan sulit juga masyarakat menemukan suatu patokan sebagai dasar hukumnya dan batas-batasnya, akan menyusun suatu pola kehidupan dan tingkah laku setiap orang yang sudah ditentukan hukumannya itu, dengan suatu hukuman pidana atau perdata.



 

Memang benar, bahwa di kalangan sarjana-sarjana dan ahli-ahli hukum itu ada juga yang tidak mendasarkan patokan hukumannya kepada pengertian jabr dan ikhtiar (nasib dan usaha, atau sengaja dan tidak sengaja), melainkan kepada reaksi yang terjadi yang sudah merupakan pegangan masyarakat yang hendak menjaga eksistensi mereka, dan yang juga berlaku buat individu yang hendak menjaga eksistensinya pula. Buat masyarakat yang berpegang kepada reaksi ini sama saja, apakah individu itu bertindak atas kemauan sendiri atau tidak atas kemauan sendiri. Akan tetapi tindakan secara ikhtiar (dengan sadar) ini pada sebagian besar ahli-ahli hukum tetap merupakan dasar dalam menjatuhkan hukuman. Sebagai alasannya ialah orang yang sudah kehilangan kebebasan atau kemauan, seperti orang gila, anak kecil atau orang dungu, ia tidak dikenakan hukuman atas perbuatannya seperti terhadap orang dewasa yang sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

 

Kalau pertimbangan-pertimbangan praktis dalam yurispruden perundang-undangan ini kita kesampingkan dan kita hanya mau mencurahkannya kepada kenyataan ilmiah dan filsafat, maka kita melihat jabariah inilah kenyataannya. Tak ada orang yang dapat memilih pada zaman mana ia mau dilahirkan, pada bangsa apa, pada lingkungan mana, juga ibu bapa yang siapa, dengan segala kekayaan dan kemiskinannya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Juga bukan karena dia pria atau wanita, bukan karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya - dalam banyak hal - yang akan menjadi faktor utama dalam membentuk dan mengarahkan segala pekerjaan dan kehidupannya. Mengenai mazhab ini Hippolyte Taine menyatakan: "Manusia itu produk lingkungannya."



 

Tidak sedikit kalangan sarjana dan para filsuf yang mendukung kenyataan ini, sampai-sampai mereka mengatakan bahwa kalau dunia kita dapat mencapai pengetahuan mengenai segala hukum dan rahasia hidup manusia ini seperti pengetahuan yang sudah

diketahuinya dalam hukum tata surya, tentu orang akan dapat menentukan nasib setiap individu atau masyarakat dengan pasti sekali, seperti yang dilakukan oleh ahli-ahli ilmu falak yang secara pasti sudah dapat menentukan waktu-waktu akan terjadinya gerhana matahari atau bulan. Namun begitu, tidak ada orang baik di Barat atau di Timur - yang mengatakan bahwa mazhab jabariah ini merintangi orang dalam usahanya mencapai sukses dalam kehidupan, atau akan merintangi bangsa-bangsa untuk terjun ke tempat yang paling baik, juga tak ada yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa yang menganut mazhab ini akan mengalami kemunduran. Sungguh pun begitu namun mazhab fatalisma di Barat tidak memberikan dorongan kepada orang supaya berusaha dan bekerja seperti yang terdapat dalam ayat-ayat Qur'an tentang tanggung awab manusia terhadap pekerjaannya.

 "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang diusahakannya. Dan hasil usahanya itu akan terlihat juga." (Qur'an 53: 39 - 40)

 

Bukankah satu ini saja sudah cukup tepat sebagai argumen terhadap prasangka pihak Orientalis yang menduga bahwa jabariah Islam itu membawa bangsa-bangsa yang menganutnya menjadi mundur?



 

Bahkan jabariah Islam ini lebih besar memberi dorongan orang berusaha untuk kebaikan dan untuk mendapatkan hasil rejekinya dari pada fatalisma di Barat. Kedua mazhab ini memang sudah bertemu bahwa dalam alam ini sudah ada hukum-hukum yang tak dapat diubah atau diganti, dan semua yang ada dalam alam ini tunduk kepada hukum-hukum tersebut. Juga manusia tunduk seperti yang lain yang ada dalam alam ini. Tetapi fatalisma ini menundukkan orang kepada lingkungannya dan cara yang turun-temurun yang sudah tak dapat lagi dihindari dan membuat iradat manusia harus tunduk kepada lingkungannya. Dalam hal ini sudah tak ada jalan lagi ia dapat mengubah diri. Sebaliknya Qur'an mengajak iradat setiap individu atas dasar rasio menuju ke arah yang lebih baik, dan diingatkannya bahwa bilamana hasil yang baik itu sudah ditentukan buat mereka, maka itu adalah atas usaha mereka sendiri dan mereka tidak akan mendapat hasil yang baik dengan seenaknya saja tanpa usaha.

 

"Tuhan tidak akan mengubah nasib sesuatu golongan kalau mereka tidak mengubah nasib mereka sendiri." (Qur'an, 13: 11)



 

Setelah Tuhan memberi petunjuk kepada umat manusia dengan kitab-kitab suci mengenai apa yang harus mereka lakukan, setelah kepada para nabi dan rasul dibukakan jalan yang benar dan disuruh memikirkan dan merenungkan segala isi dan hukum alam serta kekuasaan Tuhan, maka dengan kemampuan mereka sendiri, mereka akan memikirkan dan merenungkan semua itu. Orang yang sudah beriman akan hal ini dan mengarahkan diri ke arah itu, tentu ia akan memperoleh apa yang sudah ditentukan Tuhan. Apabila sudah ditentukan dia akan mati membela kebenaran atau kebaikan seperti diperintahkan Allah, tidak perlu ia kuatir. Dia dan yang sebangsanya akan tetap hidup di sisi Tuhan. Manalah anjuran yang lebih besar dari ini supaya orang berinisiatif, berusaha dan berkemauan?! Dan dimana pula tempatnya sikap serba tak acuh seperti diduga oleh Irving dan Orientalis-orientalis lain itu?

 

Sikap serba tak acuh sama sekali bukan tawakal4 kepada Allah. Dengan bertawakal kepada Allah tidak mungkin orang hanya akan bertopang dagu berpeluk lutut dan meninggalkan segala yang diperintahkan Tuhan. Bahkan sebaliknya, ia harus bekerja keras untuk itu, seperti dalam firman Allah:



 

"Kalau engkau telah berketetapan hati, tawakallah kepada Allah."

 

Jadi ketetapan hati dan iradat ini harus mendahului tawakal. Kita sudah berketetapan hati, lalu kita bertawakal kepada Allah, kita mencapai tujuan kita berkat itu juga. Apa yang patut kita tuju hanya Dia semata, kita patut bersikap takut hanya kepadaNya semata - kita akan mencapai semua hasil yang baik itu berdasarkan undang-undang Tuhan dalam alam ini.Undang-undang Tuhan takkan berubah dan tidak akanberganti-ganti. Hasil yang baik ini yang harus menjadi tujuankita sampai usaha kita mencapai sukses, atau kita akan mati karenanya. Hasil usaha baik yang kita capai adalah dari Tuhan. Segala bencana yang menimpa kita karena perbuatan kita sendiri dan karena kita menempuh jalan bukan ke jalan Allah. Jadi segala kebaikan dari Tuhan dan segala kesesatan dan kejahatan dari perbuatan setan.



 

Tentang kekuasaan Tuhan mengetahui segala yang terjadi dalam alam sebelum Tuhan menciptakan alam, dan bahwa Tuhan Maha Agung

 

"... tiada yang tersembunyi padaNya barang seberat atom pun di langit dan di bumi, tiada yang lebih besar atau lebih kecil dari itu, semua sudah dalam Kitab yang nyata," (Qur'an, 34: 3.)



 

berarti bahwa Tuhan telah menentukan beberapa hukum dalam alam ini yang tak dapat diubah-ubah dan pengaruhnya harus lahir pula dari sana.

 

Apabila sarjana-sarjana berpendapat seperti yang sudah kita kemukakan tadi, bahwa bila ilmu yang positif dapat mengetahui rahasia-rahasia dan undang-undang kehidupan manusia, mengetahui apa yang sudah ditentukan setiap individu dan masyarakat, seperti halnya dalam menentukan waktu-waktu akan terjadinya gerhana matahari dan bulan, maka keimanan kepada Allah tidak bisa lain berlaku juga keimanan kepada kekuasaanNya yang mengetahui segalanya sebelum alam ini diciptakan. Apabila seorang arsitek bangunan yang membuat sebuah rencana rumah atau gedung serta menantikan dilaksanakannya rencana itu, dapat mengetahui sampai berapa lama kekuatan bangunan itu dan bagian-bagiannya yang mungkin akan bertahan selama beberapa tahun lagi; demikian juga sarjana-sarjana ekonomi berpendapat, bahwa hukum ekonomi pun memberi kepastian kepada mereka untuk mengetahui adanya krisis atau kemakmuran yang akan terjadi dalam kehidupan dunia ekonomi, maka memperdebatkan ilmu Tuhan mengenai segala yang kecil dan yang besar yang menjadi ciptaanNya dalam alam ini sifatnya akan sangat merendahkan Tuhan, suatu hal yang tak dapat diterima oleh akal sehat.



Ilmu ini tidak seharusnya akan menghentikan orang dari memikirkan hari kemudian mereka serta berusaha sekuat tenaga mengikuti jalan yang benar dan menghindarkan diri dari jalan yang sesat. Ilmu Allah itu buat mereka masih gaib. Tetapi akhirnya mereka akan sampai juga kepada kebenaran sekalipun agak lambat. Tuhan telah menetapkan sifat kasih sayang itu dalam DiriNya. Ia selalu menerima taubat hamba-Nya yang mau bertaubat dan sudah banyak dosa yang diampuniNya. Selama rahmat Tuhan itu meliputi segalanya, manusia tidak perlu berputus asa akan memperoleh jalan yang benar, asal ia mau merenungkan dan memikirkan alam semesta ini. Orang tidak perlu berputus asa dari rahmat Tuhan kalau renungannya itu akhirnya akan mengantarkannya ke jalan Allah. Manusia yang celaka ialah yang tidak mengakui sifat manusianya, dan merasa dirinya sudah terlampau besar untuk memikirkan dan merenungkan hal-hal yang akan mengantarkan dirinya kepada petunjuk Tuhan. Mereka itulah orang-orang yang hendak menentang Tuhan, bukan mengharapkan beroleh rahmat Tuhan. Jantung mereka oleh Tuhan sudah ditutup, mereka yang akan menjadi penghuni neraka, yang akan mendapat tempat yang paling celaka.

 

Apakah Orientalis-orientalis itu sudah melihat arti jabariah Islam yang begitu tinggi, begitu luas jangkauannya? Apakah mereka melihat bahwa anggapan mereka itu memang sangat lemah, yang menduga bahwa jabariah Islam itu menyuruh orang berpeluk lutut tanpa usaha atau mau menerima hidup hina atau mau menyerah begitu saja? Disamping semua itu ajaran ini selalu memberikan harapan, bahwa pintu rahmat dan taubat selalu terbuka bagi barangsiapa yang mau bertaubat. Apa yang mereka duga bahwa ajaran ini menyuruh tiap Muslim menganggap setiap keuntungan dan malapetaka yang menimpa dirinya sebagai takdir yang sudah ditentukan Tuhan dan oleh karenanya ia harus diam saja, menerima segala bencana dan kehinaan itu dengan sabar, maka semua itu jauh dari kenyataan yang sebenarnya dari ajaran jabariah ini, yang mengajar orang supaya selalu berjuang dan berusaha untuk memperoleh kerelaan Allah, untuk selalu berhati teguh sebelum tawakal kepada Allah. Apabila orang belum berhasil mendapat sukses sekarang, hendaknya terus ia berusaha kalau-kalau besok ia berhasil. Harapannya yang selalu pada Tuhan agar langkahnya mendapat bimbingan ke arah yang benar, agar mendapat pengampunan dari segala dosa, adalah pendorong yang paling utama untuk berpikir dan berusaha terus-menerus dalam mencapai tujuan menurut kehendak Allah. KepadaNya ia menyembah dan kepadaNya pula ia meminta pertolongan. Tempat orang mengharapkan petunjuk batin, dan ke sana pula segalanya akan kembali.



 

Sungguh besar kekuatan yang dibangkitkan oleh ajaran yang tinggi ini kedalam jiwa manusia! Sungguh luas jangkauan harapan yang dibukakan itu. Kita terbimbing kepada kebaikan selama apa yang kita kerjakan memang karena Allah. Kalau kita sampai disesatkan oleh setan, taubat kita pun akan diterima selama pikiran kita dapat mengalahkan nafsu kita dan membawa kita kembali ke jalan yang lurus. Jalan lurus ini ialah undang-undang Tuhan dalam ciptaanNya, undang-undang yang akan menjadi penyuluh kita dengan segenap hati dan pikiran kita, serta dengan permenungan kita akan segala yang diciptakan Tuhan. Dan kita pun mulai berusaha mengenal semua rahasia alam itu.

 

Akan tetapi, apabila sesudah itu masih ada orang yang sesat dan mempersekutukan Tuhan, masih ada orang yang mau melakukan kerusakan di muka bumi ini, masih ada yang mau menutup mata dari segala arti persaudaraan, maka itu adalah contoh yang diberikan Tuhan kepada manusia guna memperlihatkan kekuasaan Tuhan sehingga yang demikian itu kelak menjadi suatu teladan buat mereka. Inilah keadilan dan rahmat Tuhan kepada seluruh umat manusia. Orang tidak akan mencegah atau membatasi melakukan semua itu. Tetapi hukuman yang akan diterimanya sesuai dengan perbuatan yang telah dilakukannya.



 

Akan tetapi, buat apa manusia berpikir, buat apa bekerja, kalau maut itu memang selalu mengintai mereka! Bila ajal sudah sampai sesaat pun tak dapat diundurkan atau dimajukan. Buat apa manusia berpikir dan buat apa pula bekerja kalau orang yang bahagia sudah ditentukan lebih dulu akan jadi bahagia, dan yang sengsara akan jadi sengsara?

 

Ini adalah pertanyaan ulangan sengaja jawabannya kita kemukakan supaya dapat kita lihat masalah ketentuan ajal ini dari segi lain: Apa yang sudah ditentukan Tuhan lebih dulu ialah undang-undang alam sejak sebelum alam itu diciptakan dan sebelum difirmankan kepadanya 'Jadilah'! maka ia pun jadi.' Dalam melukiskan ini tak ada yang lebih tepat dari firman Allah ini "Tuhan kamu telah menetapkan sifat kasih sayang itu dalam DiriNya." Ini berarti bahwa kasih sayang itu sudah menjadi sifat Tuhan dan menjadi salah satu undang-undangNya dalam alam semesta. Tak ada suatu kewajiban yang diharuskan terhadap DiriNya. Kewajiban memang tidak seharusnya ada atas Yang Maha Kuasa. Dalam hal ini Allah berfirman:



 

"Kami tiada akan menjatuhkan siksaan sebelum Kami mengutus seorang rasul."

 

Apabila ada suatu golongan yang sesat dan kepada mereka Tuhan tidak mengutus seorang rasul, maka undang-undang Tuhan disini berlaku - tiada seorang dari mereka akan dijatuhi siksaan. Buat setiap orang yang beriman, tanda-tanda kebesaran Tuhan dalam alam ini sudah wajar sekali, bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam. Apabila Tuhan sudah mengutus seorang rasul kepada suatu golongan, kemudian berlaku hukum alam dan kehendak Tuhan atas golongan itu, yaitu bahwa setelah diberi petunjuk ada orang dari golongan tersebut yang masih tetap mempertahankan kesesatannya, maka orang yang telah menganiaya dirinya sendiri itu akan menjadi contoh buat orang lain.


Sungguh naive sekali untuk mengatakan bahwa orang yang telah sesat ini diperlakukan tidak adil karena telah dijatuhi hukuman atas kesesatannya, padahal kesesatan demikian memang sudah termaktub lebih dulu (ditentukan) terhadap dirinya. Kita mengatakan naive untuk tidak mengatakan merendahkan Tuhan, sebab jalan pikiran yang paling tepat akan mengatakan kepada kita, bahwa barangsiapa yang sesat, ia telah menganiaya dirinya, bukan Tuhan yang menganiayanya.

 

Untuk menjelaskan ini cukup kiranya kita mengambil contoh seorang ayah yang penuh kasih sayang mendekatkan api kepada anaknya yang masih bayi. Kalau sianak memegangnya, dijauhkannya api itu seraya memberi isyarat, bahwa api itu panas. Kemudian secara berulang-ulang api itu didekatkannya lagi kepada sibayi, tidak apa juga kalau jari bayi itu sampai terbakar sedikit supaya dialami sendiri dalam kenyataan apa yang sudah diperingatkan kepadanya itu dan supaya selalu diingat selama hidupnya. Tetapi bilamana sesudah dewasa ia masih mau memegang api atau menceburkan diri ke dalam api, maka apa yang sudah menimpanya itulah ganjarannya, dan jangan ayahnya yang disalahkan, jangan ada yang minta supaya sang ayah mengalanginya dari perbuatan itu. Begitu juga misalnya seorang ayah yang sudah memberi petunjuk tentang bahaya judi atau minuman keras kepada anaknya. Maka bilamana sianak itu kelak sudah dewasa dan dia melanggar juga apa yang sudah dilarang oleh ayahnya lalu karenanya ia mendapat bencana, maka bukanlah sang ayah yang kejam menganiayanya, sekalipun ia akan mampu mencegah dari berbuat demikian. Sang ayah sama sekali bukan kejam kalau membiarkan sianak sampai melanggar apa yang sudah menjadi larangan, dan ini merupakan contoh buat keluarga dan saudara-saudaranya yang lain. Begitu juga keluarga dan saudara-saudara yang sampai ratusan atau ribuan jumlahnya dalam sebuah kota yang memang banyak godaannya karena pengaruh keadaan. Sudah cukup baik dan adil sekali kiranya kalau konsekwensi yang tak dapat dihindarkan menimpa mereka sebagai ganjaran terhadap perbuatan mereka sendiri. Itu akan dapat memperbaiki keadaan anggota masyarakat yang lain, meskipun apa yang telah menimpa anak-anak negeri yang aniaya itu sangat disesalkan. Inilah contoh keadilan yang paling sederhana dan berimbang sehubungan dengan masyarakat manusia kita ini, seperti yang sudah kita lukiskan tadi. Apalagi bila kita membayangkan dan membandingkan dengan alam semesta, dengan makhluk-makhluk yang berjuta-juta banyaknya dalam luasan ruang dan waktu yang tak terbatas! Apa yang sudah menimpa individu dan masyarakat - karena perbuatannya sendiri - dalam bentuk yang sudah tidak mampu lagi khayal kita membayangkannya, semua itu baru merupakan contoh keadilan atau keseimbangan dalam bentuknya yang sangat sederhana.



Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5
Orklarla döyüş:

Google Play'də əldə edin


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə