Topik 18: Tolonglah



Yüklə 169.26 Kb.
səhifə1/3
tarix18.01.2018
ölçüsü169.26 Kb.
  1   2   3

Topik 18: Tolonglah!

Bismillahirrahmanirrahim

Kita masih akan lanjutkan mengenai topik Fi'il Amr (Kata Kerja Perintah). Pada topik sebelumnya telah kita bahas 6 langkah mudah membentuk Fi'il Amr. Masih ingat kan? Gak ingat juga gak apa... Hehe... Topik kali ini akan kita lanjutkan lagi, pendalaman 6 langkah tsb.

Kita akan beri 2 contoh: yaitu menolong - nashoro نَصَرَ dan mempelajari/belajar - 'allama علّم

Contoh 1: نصر

Kita latih lagi 6 langkah tsb:


Langkah 1. KKL menolong --> NASHARA نصر
Langkah 2. KKS menolong --> YANSHURU ينصُرُ
Langkah 3. Buang YA --> NSHURU نْصُرُ
Langkah 4. Harokat akhir matikan --> NSHUR نصُرْ
Langkah 5. Harokat NUN sukun --> tambahkan alif --> Kemungkinan UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR
Langkah 6. Pilih UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR.

Kita berhenti sejenak disini. Kita dihadapkan dengan 3 pilihan. Dalam topik 18 ini, langkah ke 6 kita pertajam sbb:


6.1 Jika KKL terdiri dari 4 huruf, huruf pertama alif fathah, maka alif tambahan (hasil langkah 5) berharokat Fathah (lihat contoh AFSID : RUSAKLAH, pada topik 17).
6.2 Jika KKL bukan termasuk jenis 6.1, maka harokat Alif tambahan (hasil langkah 5) adalah:
- kasroh jika huruf KKS sebelum terakhir fathah atau kasrah
- dhommah jika huruf KKS sebelum terakhir dhommah

Wuih... mangkin puyeng aje nih ane... Bang... Tenang... Tenang... Kita akan beri 2 contoh untuk memudahkan (kelihatannya saja rumit, tapi kalau dilatih dengan contoh Insya Allah gak seserem yang dibayangkan)... Oke kembali kita ke topik NASHARO. Kita sudah sampai pada langkah ke 5, dengan memberikan pilihan: UNSHUR, INSHUR, atau ANSHUR.

Mari kita terapkan rumus 6.1 dan 6.2

6.1 KKL dari MENOLONG adalah NASHARA نصر . KKL adalah 3 huruf. Sehingga rumus 6.1 ini tidak berlaku, karena rumus ini hanya berlaku untuk KKL 4 huruf, huruf pertama adalah alif berharokat fathah. Kalau demikian lanjut ke 6.2

6.2 KKL bukan termasuk jenis 6.1, maka kita tinggal melihat harokat huruf sebelum akhir dari KKSnya. Okeh... KKS dari NASHARO adalah YANSHURU, huruf terakhir dari ينصرadalah RO, huruf sebelum akhir adalah SHOD. ينصُر. Harokat SHOD apa???? Harokat SHOD dhommah ( ُ ). Jika dhommah, maka alif tambahan (hasil langkah 5) juga berharikat dhommah. Sehingga menjadi أنصر UNSHUR (bukan INSHUR, atau ANSHUR).

Jadi kita ringkas:


نصر - NASHARO : (dia telah) menolong --> KKL
ينصر - YANSHURU : (dia sedang) menolong --> KKS
لا تنصر - LA TANSHUR : (hai kamu) jangan menolong ! --> Perintah larangan
أنصر - UNSHUR : (hai kamu) MENOLONGLAH! --> fi'il amer (PERINTAH)

Gimana Mas, jelas kan? Hmmm... rada ribet ya... Ya, namanya belajar, musti kudu bersusah-susah dikit. Jurus yang saya berikan ini sudah yang dipermudah loh... Bisa-bisa kalau Mas belajar dengan ustadz lain, rumus yang diberikan lebih susah hehe... Atau malah disuruh gapalin rumus?

Okeh... kita masuk ke contoh 2: 'ALLAMA (mempelajari/belajar)

Kita ulangi 6 langkah diatas.


1. KKL : 'ALLAMA علم
2. KKS : YU'ALLIMU يعلم
3. Buang YA: 'ALLIMU علِّمُ
4. Harokat akhir matikan: 'ALLIM علمْ
5. Harokat huruf awal, yaitu harokat 'AIN fathah, berarti rumus 5 tidak berlaku
6. Karena rumus 5 tidak berlaku maka rumus 6 juga tidak berlaku

Kesimpulan:


علّم - 'allama: (dia telah) memperlajari/belajar --> KKL
يعلم - yu'allimu: (dia sedang) belajar --> KKS
لا تعلم - laa tu'allim: (hai kamu) jangan belajar --> Kata kerja perintah larangan
علّم - 'allim (berhenti sampai langkah 4 diatas) : (hai kamu) Belajarlah! --> Fi'il amr.

Demikian dua contoh telah diberikan untuk mempertajam teknik menentukan fi'il amr. Insya Allah untuk contoh-contoh yang lain akan kita lanjutkan.



Topik 19: Al-Baqaroh 12 & Manfaat Kamus

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah kita sudah sampai pada Al-Baqaroh ayat 11. Terakhir kita "terhenti" di ayat ini kan (lihat topik 16). Cukup panjang kita bahas ayat 11 ini sampai ke Topik 18. Kali ini kita mencoba baranjak maju ke ayat selanjutnya, yaitu ayat 12.

Kita cuplik ayat 12 ini:



 

 



 

Kita coba terjemahkan:

الا - alaa : ingatlah (dihafalkan saja)
ان - inna : sesungguhnya (akan dibahas dalam bab Harf Inna)
هم - hum : mereka (sebagai maf'ul/penderita)
هم - hum : mereka (sebagai fa'il/pelaku)--> dibaca humu, karena setelahnya ada AL
المفسدون - al mufsiduuna : orang-orang yang berbuat kerusakan (fa'il)
و - wa : dan (terkadang bisa berarti tetapi)
لكن - la kinna : akan tetapi (akan kita bahas dalam bab Harf Inna)
لا - laa : tidak
يشعرون : mereka senantiasa (sedang) menyadari

Ingatlah, sesungguhnya mereka(lah) orang-orang yang berbuat kerusakan, akan tetapi tidak(lah) mereka (sedang) menyadari(nya).

Kita coba bahas ya.

Ada satu kata kerja (fi'il) dalam ayat ini yaitu : يشعرون - yas'uruuna : mereka sedang menyadari. Sisanya adalah isim dan harf. Isim yang menarik untuk dibahas adalah المفسدون - al mufsiduuna, dalam bentuk ma'rifah (spesifik), jika kita buang alif-lam menjadi مفسدون - mufsiduuna, dalam bentuk nakiroh (umum).

Oke kita bahas dua topik itu saja ya... Baiklah:

Kata يشعرون

Lihat pelajaran-pelajaran sebelumnya. Kita dihadapkan dengan kata kerja. Bagaimana tahunya dong mas? Sebenarnya sudah diajarkan dalam topik yang lalu, tapi tidak ada salahnya diulang disini. Oke tandanya bahwa dia itu kata kerja:
1. Dia diawali ya diakhiri waw nun.( يـ ... ون )
2. Ingat kembali bila ada pasangan YA, WAW, NUN itu merupakan ciri yang kuat dari fi'il mudhori' (KKS)
3. Arti dari KKS yang ada YA, WAW, NUN itu : mereka sedang ... kata-kerja
4. Jika kita buang YA, WAW, NUN, maka akan lahir kata kerja aslinya.

Kita elaborasi sedikit teknik ini:


Kata يشعرون kalau kita buang YA, WAW, NUN, maka tersisa شعر - sy 'u ru . Tinggal tiga kata: SYIN, 'AIN, RA.

Beberapa waktu yang lalu ada yang email ke alamat yahoo saya, menanyakan bagaimana caranya kita tahu harokat suatu huruf. Misal kita dikasih 3 huruf, arab gundul, شعر , nah bagaimana cara membacanya?

Oke kita bisa dapatkan banyak kemungkinan:
SYA 'A RA
SYA 'A RI
SYA 'A RU

SYA 'I RA


SYA 'I RI
SYA 'I RU

dst, banyak sekali kemungkinannya. Akan tetapi yang umum adalah biasanya (mayoritas) kata kerja asli yang terdiri dari tiga huruf itu harokatnya fathah semua, sehingga yang kita gunakan adalah:

شعر - sya 'a ra

untuk kepastian harokat tersebut kita perlu kamus (periksa di kamus). Di kamus akan ada entri berikut

شعر - يشعر : sya'a ra (KKL) - yas 'u ru (KKS) yang bisa berarti:
1. bersyair
2. menyadari / mengetahui

Maka kita pilih yang lebih tepat arti yang no. 2.

Disini dapat kita lihat arti pentingnya kamus bahasa Arab:
Jika kita sudah dapat akar kata (3 huruf) seperti SYIN 'AIN RA diatas, maka kita bisa mencari tahu 3 hal:
1. Kita bisa tahu apa KKL (Kata Kerja Lampau / fi'il madhy)
2. Kita bisa tahu apa KKS (Kata Kerja Sedang / fi'il mudhori')
3. Kita bisa tahu harokat untuk KKL dan KKS nya

Kembali lagi ke kasus diatas, kata يشعرون dalam Al-Baqaroh 12, jika kita pecah:


شعر - sya 'a ra : dia telah mengetahui
يشعر - yas 'u ru : dia sedang mengetahui
يشعرون - yas 'u ruu na : mereka sedang mengetahui

Oke mudah-mudahan jelas ya pren...

Sekarang kita masuk ke topik selanjutnya yaitu:

Kata al-mufsiduuna المفسدون

Kata al-mufsiduuna, ini adalah kata benda. Why? Jawabannya telah dijelaskan di topik-topik yang lalu, tapi kita ulangi saja disini ya:

1. Adanya huruf alif dan lam, ciri kata benda
2. Jikapun alif lam dibuang maka tinggal مفسدون - mufsiduuna, maka adanya MIM ... WAW NUN, maka ini ciri kata benda orang

Oke sekarang kita coba urai lagi...

Kata مفسدون - mufsiduuna, apa akar katanya?

Oke berikut kita coba teknik mencari akar kata untuk kata al-mufsiduun diatas:

Pertama-tama adanya MIM ... WAW NUN, berarti ciri dari kata benda orang, yang bisa berarti orang yang ...kata-kerja.

Oke kalau kita buang MIM, YA, NUN maka akan tersisa huruf FA SIN DAL.

فسد , sekali lagi, setelah proses pembuangan sebagian huruf kita tidak bisa langsung menentukan harokat masing-masing huruf bisa: fasada, fasadi, fasadu, fasuda, dst.

Lalu mana yang harus dipilih? Ini menjadi satu persoalan. Persoalan ke dua adalah, apakah akar kata al-mufsiduuna itu FASADA atau AFSADA? Loh apa lagi nih... bingung... biar gak bingung, Insya Allah temukan jawabannya dalam topik berikut, kita akan bahas mengenai topik DSK (Dhommah, Sukun, Kasroh), yang mana pola ini banyak sekali kita temui dalam al-Quran. Sebagai bocoran saja untuk topik depan, kata kerja asli (yang terdiri dari tiga huruf) dalam bahasa arab mempunyai 12 bentuk turunan. Yang umum adalah 8 bentuk. Bentuk yang sangat sering muncul dalam Al-Quran adalah bentuk turunan I.

Contoh kata kerja berikut:
nazala: turun
anzala: menurunkan (bentuk turunan I)

Nah bentuk turunan I ini yang Insya Allah kita akan pelajari. Kita akan mencari tahu apakah kata yang dipakai dalam Al-Baqarah 12 ini (dalam mufsiduun) itu:

fasada
afsada (bentuk turunan I).
Topik 20: FASADA atau AFSADA? NAZALA atau ANZALA?

Bismillahirrahmaanirrahiim


Baiklah... topik yang lalu pertanyaan ini sudah dimunculkan. Kita bahas dalam topik ini ya... Insya Allah.
Sebagaimana telah disinggung sedikit, hampir semua kata kerja dalam bahasa Arab terdiri dari 3 huruf. Beda dong ya sama bahasa Indonesia. Kata kerja "mempersatukan" dalam bahasa kita asal katanya (root) adalah "satu" (4 huruf). Kata "satu" ini mendapat awalan mem-per dan akhiran an. Banyak sekali orang asing yang sangat kesulitan dengan aturan imbuhan (awalan + akhiran) dalam bahasa Indonesia ini. Misalkan dalam tata bahasa Indonesia disebutkan:

me-xx-kan : membuat sesuatu menjadi xx


memper-xx-kan : membuat sesuatu menjadi saling ber-xx

maka,
me-satu-kan atau menyatukan (asimilasi) : membuat sesuatu menjadi satu


memper-satu-kan : membuat sesuatu saling bersatu

Nah, dalam bahasa Arab kata kerja juga mendapat imbuhan yang merubah arti. Dalam bahasa Arab proses penambahan imbuhan ini baik berupa awalan, sisipan, atau akhiran akan membentuk kata kerja baru yang disebut Kata Kerja Turunan (KKT).

Ada 12 jenis kata kerja turunan dalam bahasa Arab, akan tetapi yang paling sering digunakan hanya ada 8. Insya Allah kita akan bahas satu persatu nanti.

Oke biar gak bertele-tele kita akan kasih satu contoh. Kata kerja NAZALA نزل adalah kata kerja dasar (kadang disebut juga kata kerja asal, atau root word). NAZALA نزل artinya turun. Harap diingat lagi pelajaran-pelajaran sebelumnya yaitu kata kerja asal selalu bentuknya past tense dengan pelaku Dia laki-laki.Kita sudah jelaskan mengenai hal tersebut pada topik KKL (kata kerja lampau). Silahkan baca-baca lagi topik 1 s/d 5. Dengan aturan ini maka NAZALA نزل arti harfiahnya Dia turun.

Oh ya sebelum lupa, salah satu keunikan bahasa Arab adalah bahwa pada suatu kata kerja, pasti melekat siapa pelakunya. Contoh NAZALA artinya turun. Siapa pelakunya? Karena ini kata kerja asal (root) maka pelakunya adalah Dia laki-laki. Bagaimana kalau pelakunya saya, misalkan dalam kalimat:

"saya turun". Bahasa arabnya NAZALTU نزلتُ

Perhatikan: saya turun (2 kata) dalam bahasa arab hanya menjadi satu kata NAZALTU (inilah salah satu alasan mengapa terjemahan buku bahasa arab ke bahasa Indonesia menjadi lebih tebal dari buku aslinya).

Baiklah, kembali ke topik utama.

Kalau saya mau katakan "dia turun", maka kata turun disini tidak memerlukan objek. Beda kasusnya kalau saya sebut "dia makan", maka kata makan disini butuh objek (penderita). Saya bisa mengatakan "dia makan nasi". Kata nasi disini adalah objeknya.

Kalau begitu kata kerja dapat kita bagi menjadi kata kerja yang perlu objek dan kata kerja yang tidak perlu objek.

Sekarang kalau saya bertanya,bagaimana teknik mengubah kata kerja yang tidak perlu objek menjadi kata kerja yang perlu objek?

Proses pengubahan ini dalam bahasa arab disebut proses membentuk Kata Kerja Turunan Pertama atau KKT I



KKT I
Kata turun atau NAZALA, kalau saya ubah kata turun menjadi menurunkan, maka inilah yang disebut KKT I. Kenapa? Karena kata "turun" adalah kata kerja tidak perlu objek, dan kata "menurunkan" adalah kata kerja yang perlu objek.

Contohnya:


Dia turun : NAZALA نزل
Dia menurunkan buku: أنزل الكتابَ

Kata turun dalam kalimat pertama tidak perlu objek. Tapi kata kerja pada kalimat kedua memerlukan objek.

Bagaimana prosesnya membentuk KKT I? Ternyata cukup sederhana. Kita hanya perlu menambahkan alif didepan kata kerja asal yang 3huruf. Huruf pertama sukunkan, huruh kedua dan ketiga fathahkan.

Sehingga:


nazala : dia turun نزل
anzala :dia menurunkan (sesuatu) أنزل

Allah menurunkan Quran : Allahu anzala al-quraana الله أنزل القرأن


Sama juga halnya dengan:

karuma : dia mulia كرم


akrama : dia memuliakan (seseorang) أكرم

Dia memuliakan ustadznya : akrama ustaazahu أكر م أستاذه

Atau contoh lain:
fasada: dia rusak فسد
afsada: dia merusakkan (sesuatu) أفسد

Dia merusakkan bumi : afsada al-ardha أفسد الأرض

Demikianlah telah kita bahas KKT I. Sebagai info tambahan bentuk kata kerja turunan tipe I (KKT I) ini cukup banyak ditemukan dalam Al-Quran. Untuk lebih mendalami KKT I ini insya Allah dua topik didepan akan mengkaji lebih dalam bentuk KKT I ini.
Topik 21: MUSLIM dan Pola DSK

Bismillahirrahmanirrahim

Banyak sekali kita bertemu dengan pola-pola DSK di Al-Quran. Sebut contoh: muslim (orang yang tunduk), mu'min (orang yang beriman), mufsid (orang yang merusak), mundzir (orang yang memberi peringatan). Itu semua yang didepannya diawali oleh huruf Mim, yang merupakan ciri-ciri kata-benda orang (kata benda pelaku

Belum lagi kata kerja sedang (KKS) yang berpola DSK, seperti: yuslim (sedang tunduk), yu'min (sedang beriman), yufsid (sedang merusak), yundzir (sedang memberi peringatan).

Perhatikan surat Al-Baqaroh ayat 1 - 12. Semua kata-kata itu Anda temukan, bukan?

Semuanya berpola DSK. Apa itu pola DSK?

Pola DSK adalah pola yang harokat huruf pertama Dhommah, huruf kedua Sukun, huruf ketiga Kasroh. Ya, Dhommah, Sukun, Kasroh (DSK).

Mari kita ambil contoh:




Disitu terlihat apa yang saya maksud DSK. Lihat, lingkaran-lingkaran kecil warna merah. Lingkaran pertama untuk D (dhommah), lingkaran kedua untuk S (Sukun) lingkaran ketiga untuk K (Kasroh).

Apa pentingnya DSK? Ini saya kasih bocorannya ya... hihi...

Pertama-tama bahwa jika Anda ketemu DSK, misalkan kata: yuslim -Kata Kerja Sedang KKS(dia tunduk), atau muslim ISIM-kata benda (orang yang tunduk), maka jika ketemu DSK seperti ini ingat-ingatlah pesan "guru":

"Hai anak-ku jika kamu menemui pola DSK, maka sebenarnya akar katanya sudah mendapat tambahan Alif"

Nah Anda sebagai anak yang baik, membaca-baca lagi buku, apa sih maksud "guru". Setelah Anda baca-baca buku pelajaran bahasa Arab, Anda jadi mengerti. Maksud Pak Guru sbb:

Ambil contoh: kata muslim. Terdiri dari 4 huruf kan: mim, sin, lam, mim

Akar katanya adalah: sin lam mim (sa-li-ma) سلم

Di kamus, kata salima itu artinya: selamat, sentosa

Lalu Anda buru-buru mengambil kesimpulan, ooh kalau begitu kata muslim (ada tambahan mim), artinya orang yang selamat, atau orang yang sentosa (bahagia). Nah ini kesimpulan anda terlalu terburu-buru.

Yang betul itu, seperti ini.

Anda dapatkan kata:


مُسْلِمٌ

Muslim. Lihat harokatnya: DSK kan?

Lalu cari akar katanya: - buang mim di depan, menjadi: sin lam mim.

Cari di kamus, kata sin-lam-mim. Di kamus anda akan ketemu kata SALIMA artinya selamat, sentosa.

Nah, karena muslim itu DSK, maka Anda harus mencari di kata ALIF SIN LAM MIM

أسلم


itulah pentingnya pola DSK. Artinya apa? Artinya, untuk tahu arti kata muslim, anda cari di kata

أسلم aslama

Di kamus anda ketemu kata tsb:

أسلم aslama, artinya: menyerah, atau tunduk

Dengan demikian orang yang menyerah, atau orang yang tunduk disebut:

مسلم muslim

Kira-kira Anda mengerti gak? Saya ulangi. Kalau ketemu di Al-Quran, suatu kata baik dia kata benda, atau kata kerja yang punya pola DSK, maka jangan Anda kira, maksud kata tsb adalah akar kata 3 huruf nya, tapi akar kata 3 huruf plus Alif.

Coba bandingkan:


سلم - salima: dia selamat, atau dia sentosa
أسلم - aslama: dia tunduk

Beda kan... antara selamat, dengan tunduk... Maka kata bentukan dari أسلم - aslama, itu juga merujuk kepada makna : tunduk.

Contoh:

Aku telah tunduk: أسلمت - aslamtu


Aku selalu tunduk: أسلم - uslimu
Dia telah tunduk: أسلم - aslama
Dia selalu tunduk: يسلم - yuslimu

dst...


Demikian telah kita jelaskan pola DSK, dimana pola ini bermanfaat mana kala Anda, ingin mencari tahu arti kata di kamus. Sebagai penutup, kita beri contoh: kata mufsiduun. Perhatikan kata ini akar katanya: fasada. Tetapi karena kata bentukannya mufsiduun, berpola DSK, maka Anda harus mencari di kamus arti mata mufsiduun itu pada kata أفسد - afsada, bukan di kata فسد . Artinya, kalau ingin tahu apa arti kata mufsiduun, carilah di entri kata afsada.

Insya Allah akan kita lanjutkan pada topik berikutnya...


Topik 22: KKT I, dan KKT II
 

Bismillahirrahmanirrahim

Kita telah menyelesaikan bentuk KKT I. Dan dampak dari KKT I itu yaitu lahirnya pola DSK. Kita review sedikit ya.

KKT I, yaitu bentuk Kata Kerja Turunan I. Bentuk ini didapat dengan menambahkah Alif didepan. Contoh yang sering kita bawa adalah:

KKD (Kata Kerja Dasar): nazala, artinya turun. KKT I nya adalah anzala, artinya menurunkan. Perhatikan:

KKD نزل - nazala: turun


KKT I أنزل - anzala: menurunkan

Fungsi dari KKT I ini adalah membuat kata yang tidak perlu objek menjadi perlu objek. Ingat kembali, kata "turun" adalah kata kerja tidak perlu objek. "Saya turun". Tapi kata "menurunkan" perlu objek. "Saya menurunkan buku, dari rak dilantai 2". Kata "buku" adalah objek dari kata "menurunkan".

Kita flash-back lagi, bentuk KKT I ini dalam bentuk kata kerja lampau (KKL), sedangkan bentuk kata kerja sedang (KKS) nya berpola DSK.

Contohnya:


KKT I, bentuk KKL: أنزل - anzala: dia (telah) menurunkan
KKT I, bentuk KKS: ينزل - yunzilu : dia (sedang) menurunkan --> Pola DSK

Sekarang fokus kita adalah KKT II, yaitu bentuk Kata Kerja Turunan jenis ke dua.

KKT II

Bentuk ini adalah bentuk yang secara fungsi hampir sama dengan KKT I, yaitu menjadikan kata kerja yang tidak perlu objek menjadi objek. Contohnya di Al-Quran surat 2 ayat 97, yaitu kata nazzala, yang artinya sama dengan anzala yaitu menurunkan.



Jadi kata أنزل - anzala: menurunkan, dalam bentuk KKT I, bisa juga نزّل - nazzala: menurunkan, dalam bentuk KKT II.

Artinya sama, sama-sama menurunkan (sesuatu).

Demikianlah telah kita bahas sepintas bentuk KKT II. Ingat KKT II ini dibentuk dengan cukup mudah, yaitu, kata kerja dasar (KKD) 3 huruf, maka huruf kedua di tasydid.

Insya Allah akan kita lanjutkan topik ini...



Topik 23: Latihan Al-Fatihah ayat 1 & 2

Bismillahirrahmanirrahim

Sepertinya, kita perlu memperbanyak latihan dan saat ini mengurangi tempo untuk teori. Dan menurut sebagian orang, lebih baik latihannya dari surat-surat pendek yang biasa dibaca dalam sholat. Agar hafalan kita nambah dus, pengertian kita terhadap surat tsb menjadi lebih baik (karena bisa menerjemahkan).

Oke baiklah... Insya Allah kita mulai dengan surat Al-Fatihah.

بسم bismi

bi ب : dengan. Ini adalah huruf jar (kata depan). Ingat di topik-topik awal, kata setelah huruf jar adalah kata benda.

smi سم : asal katanya dari samaa سما (memberi nama), dan kata bendanya ismun إسم yang artinya nama. Mestinya ب dengan إسم menjadi بإسم bi-ismi, tapi karena huruf jar ب maka hamzahnya lebur, sehingga menjadi بسم bismi.

Apa arti bismi? Bi = dengan, smi = nama, dengan demikian bismi = dengan nama.

Oh ya ingat lagi sifat huruf jar, yaitu dia menasab-kan (istilah me-nasabkan ini sering dipakai dalam tatabahasa arab, yang artinya membuat harokat huruf akhir menjadi kasroh (baris bawah)). Dengan demikian, yang benar membacanya:

bismi,


bukan bismu, atau bisma.

Kata selanjutnya: الله . Sehingga بسم الله artinya dengan nama Allah.

Oh ya perlu dilihat disini harokat terakhir dari Allah, adalah kasroh. Dengan demikian dibaca:

Bismillahi,

bukan bismillahu, atau bismillaha.

Perlu ingat lagi (sudah dibahas ditopik kata majemuk), bahwa kalau 2 kata benda bertemu dan kata benda kedua berharokat kasroh, maka 2 kata itu adalah kata majemuk (dalam bahasa Arab disebut Mudhof).

Oke, jadi bismillahi, artinya dengan nama Allah.

Kalau kita urutkan dari asal-asal katanya:

ب إسم الله bi ismi Allahi, dibaca: bismillahi

Bagaimana kalau kita baca bismillahu? Dalam bahasa arab jika kata benda berharokat dhommah, maka dia menjadi pelaku. Sehingga kalau kita baca: Allahu, dalam bismillahu, maka artinya akan berobah, dimana Allah menjadi subject dan bismi menjadi prediket. Dengan demikian arti dari bismillahu, adalah Allah untuk nama, atau Allah dengan nama. Inilah fungsi i'rob dalam tatabahasa Arab, karena salah i'rob (harokat akhir) akan merubah arti.

الرحمن الرحيم

Arrohman, lihat ada alif lam, tandanya ini kata benda. Arrohiim, juga ada alif lam, tandanya ini kata benda. Hal kedua adalah, i'rob (harokat akhir) arrahmaan dan arrohiem adalah kasroh, sehingga ditulis arrahmaani, bukan arrohmaanu, atau arrohmaana. Dan arrahiemi, bukan arrahiemu, atau arrahiema. Apa artinya ini?

Perhatikan sebelum arrohman ada kata Allah, yang juga kasroh. Ini berarti kata - kata ini adalah kata kata majemuk (mudhof)

Dalam tatabahasa arab :

ب إسم الله الرحمن الرحيم

Kalimat diatas hanya terdiri dari 2 pola:

Huruf jar ب + Mudhof إسم الله الرحمن الرحيم

Arrohmaan berasal dari kata رحم rohima: mengasihi


Arrohiem berasal dari kata yang sama dengan arrohmaan, yaitu رحم : mengasihi, atau memberi ampunan.

Akan tetapi karena ada tambahan alif dan nun pada Arrohmaan, maka artinya berubah, menjadi sifat yang maha, artinya الرحمان artinya Maha Pengasih. Dan kata Arrohiem, karena ada tambahan ي maka artinya berubah menjadi sifat yang extensif dan terus menerus, yang sering diartikan Maha Penyayang.

Demikianlah kita telah selesaikan latihan menerjemah Surat Al-Fatihah ayat 1.

Sekarang kita masuk ke ayat 2:


الحمد لله رب العالمين

Kata الحمد alhamdu. Asal katanya adalah حمد hamida yang artinya memuji. Ada alif-lam berarti dia adalah kata benda. Kata حمد ini mempunyai masdar (kita belum pelajari ini) hamdun, yang artinya pujian.

Kata lillahi, لله , ini terdiri dari 2 kata, yaitu ل li (yang artinya untuk atau kepunyaan/milik) dan الله Allah. Seharusnya tertulis ل الله tetapi karena alif lebur ke li, maka menjadi ل لله dan karena li lebur kepada lam pada kata Allah, maka menjadi لله lillahi.

Perhatikan bahwa ل li adalah huruf jar. Sesudah huruf jar, adalah kata benda. Sehingga lillahi artinya untuk Allah, atau kepunyaan Allah. Sehingga:

الحمد لله alhamdu lillahi artinya segala puji milik Allah, atau segala puji untuk Allah.

Mengapa ada kata (segala)? Al-hamdu sendiri artinya pujian atau puji. Tetapi karena ini dilekatkan kepada Allah, maka maknanya meliputi semua hal pujian. Oleh karena itu Alhamdulillah biasa diterjemahkan segala puji milik Allah.

رب العالمين rabbul 'aalamien.

رب rabbu artinya Tuhan. العالمين berasal dari عالم yang artinya alam (karena ada tambahan ين maka artinya sesuatu yang banyak, atau sangat luas atau sering disebut semesta alam).

Perhatikan bahwa rabbu al-'aalamien ini juga kata majemuk (mudhof).

Dengan demikian pola kalimat

الحمد لله رب العالمين menggunakan pola

Subject (الحمد) + keterangan (لله) + keterangan (رب العالمين)

Apa tanda-tanda subject? Berulang kita katakan bahwa tanda Subject adalah adanya i'rob Dhommah. Lihat Alhamdu, bukan al-hamda, atau al-hamdi. Tandanya Al-Hamdu ini adalah Subject.

Sehingga ayat ke 2 ini: Segala puji milik Allah Tuhan semesta alam.

Insya Allah kita akan lanjutkan ayat berikut dan diteruskan dengan latihan surat-surat pendek lain.


Topik 24: Latihan Al-Fatihah ayat 4

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, ditengah kesibukan saya, saya teruskan untuk membahas ayat 4. Alhamdulillah juga ada akhi dari Jawa Timur, yang mengatakan mengikuti dari topik 1 sampai 23. Senang rasanya, tulisan saya ada yang membaca. Saya teringat hadist Riwayat Muslim: Rasulullah SAW bersabda, siapa yang berbuat kebaikan, dia akan dapat pahala. Dan jika kebaikan itu dicontoh/dikerjakan orang, dia akan mendapat pahala dari orang itu, tanpa mengurangi pahala buat orang itu. Subhanallah...

Oke kita lanjutkan ke pelajaran berikutnya ayat 4.

Eitt kok ayat 3 dilewati Mas? Oh iya, sengaja, karena ayat 3 itu bagian dari ayat 1. Arrahmaan Arrahiem. Jadi pembahasannya sama dengan ayat 1.

مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ - maaliki yaumi ad-dien

Insya Allah kita bahas satu-satu ya... Oke..

Kata مالك : yang memiliki. Asal katanya ملك - malaka artinya memiliki. Hmmm... Kata ini sepertinya diserap ke bahasa Indonesia ya... Coba lihat kata ملك - malaka, ini adalah kata past tense (KKL), sedangkan KKSnya يملك - yamliku, kalau ya kita buang maka menjadi mlik, di bahasa Indonesia disebut milik.

Oke ملك -malaka, ini adalah kata kerja yang artinya memiliki. Nah, kita disini akan mempelajari membentuk kata-benda pelaku dari sebuah kata kerja. Dalam bahasa Arab ini disebut isim fa'il. Gimana caranya Mas? Insya Allah guampaaang....

Oke caranya:


1. Jika kata kerjanya 3 huruf, maka
2. Tambahkan alif setelah huruf pertama

dah... gampang kan... Contoh kata: نصر - nashoro (artinya menolong). Orang yang menolong? Guampang... tambahkan saja alif setelah nun, menjadi ناصر - naashirun, atau naashir (orang Indonesia sering menyebut nasir)... eh jadi ingat teman saya waktu SMA, namanya Nasir. Dulu saya suka manggil dia: Nasir, Nasir, darimana aja elo [pakai bahasa minang tentunya...] (sekarang setelah belajar bahasa Arab, jadi ingat dia... Pantesan ya si Nasir itu dulu suka menolong saya). Kalau yang menolong naashir, kalau orang yang ditolong apa dong? Insya Allah guampang juga. Tinggal tambahin mim didepan nun pada نصر dan tambahkan waw sebelum ro. Jadinya منصور - manshuurun (orang yang ditolong). Nah kalau ingat Mansur ini ingat penyanyi zaman saya SMP dulu. Sekarang kita jadi tahu ya... bahwa nasir sama mansur itu 2 orang dalam satu kejadian. Satu penolong (nasir), satu yang ditolong (mansur).

Oke deh, kembali ke MALIK... kalo gitu kata kerja ملك -malaka, artinya memiliki. Kalau saya buat seseorang yang memiliki berarti saya tinggal tambah alif setelah م yang menjadi مالك - maa li kun (orang/sesuatu yang memiliki). Oh gitu... hmmm... tapi Mas kok bacanya maalikun? Kok gak maalakin, maalukun, maalikan, dll?

Hmm ini sebenarnya ada topik yang membahasnya, sebutlah topik tinggat Advance gitu deh.... Tapi biar gak pusing, gini saya saya kasih ciri-cirinya:


1. Kata kerja 3 huruf, setelah ditambah alif, maka harokatnya adalah:
2. Huruf kedua (setelah alif) adalah kasroh.

Jadi, yang betul maalikun, bukan maalakun.

Oke. Lalu kenapa maalikun, bukan maaliku? Nah ini ingat lagi pelajaran awal-awal mengenai isim (kata benda). Aslinya kata benda itu, akhirannya dhommahtain (akhiran un). Sedangkan jika dia mendapatkan tambahan alif lam المالك , maka akhirannya dhommah, sehingga dibaca al-maaliku.

Oke, balik lagi ke ayat:

مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Ada 3 kata disini. Ke 3 nya kata benda (isim). Yaitu: maaliki yaumi addien.

Kata maaliki artinya yang memiliki. Lho, katanya yang betul maalikun. Kok sekarang jadi maaliki. Nah, ada 2 sebab kenapa maalikum menjadi maaliki:
1. Perhatikan, karena huruf kaf berharokat kasroh (mali- ki), maka kita mencurigai ada huruf jar di depannya. Artinya ayat ini merupakan lanjutan ayat sebelumnya yang ada huruf jarnya. Kalau dilihat ayat sebelumnya ada huruf jar Li pada Lillahi rabbil 'aalamin. Inilah yang menyebabkan kata maalikun menjadi maalikin.

2. Perubahan dari maalikin menjadi maaliki, karena kata ini merupakan kata majemuk (mudhof). Ingat rumus mudhof sbb:


KB1 (tidak pakai tanwin) + KB2 (alif-lam+kasroh)
Contoh: Rasul (milik) Allah = Rasulu Allahi atau dibaca Rasulullah.
رسول الله

Bukan dibaca Rasulun Allahi, atau Rasuulun Allaha, dsb

Oke kembali lagi ke ayat:

مَـالِكِ يَوْمِ الدِّينِ :

Maaliki = yang memiliki
yaumi, berasal dari yaumun artinya hari. Menjadi yaumi, karena dia mudhof-ilah (bagian dari kata majemuk).
Ad-dieen, berasal dari daa-na yang berarti tunduk, sedangkan kata bendanya ad-dien, artinya agama.

Perhatikan harokat terakhir juga kasroh, karena dia ini mudhof-ilaih (bagian dari kata majemuk).

Sehingga ayat ke 4 ini jika diterjemahkan:
(2&3:segala puji bagi Allah Tuhan semesta Alam, yang Rahman, yang Rahim), yang memiliki hari agama.

Hari-agama ini menurut ahli tafsir, artinya hari pembalasan. Hari dimana waktu itu manusia akan dibalas semua amal-amalnya. Hari pembalasan ini juga disebut, yaumul-qiyaamah, yaumulhisaab, yaumuljazaa' dsb. Masya Allah, bagaimana ya nasib kita nanti dihari ad-dien ini?

Allahu a'lam. Insya Allah kita lanjutkan nanti.



Dostları ilə paylaş:
  1   2   3


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə