Topik 18: Tolonglah



Yüklə 169.26 Kb.
səhifə3/3
tarix18.01.2018
ölçüsü169.26 Kb.
1   2   3

Topik 41: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Bismillahirrahmanirrahim

Topik kali ini kita Insya Allah akan masuk ke Latihan ayat 1 Surat Al-Ikhlas. Oke baiklah. Ayat 1 berbunyi:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Qul: Katakanlah
Huwa: Dia
Allahu: Allah
Ahadun: Ahad (Maha Esa)

Oke... Ada 2 pola bahasa yang bisa kita pelajari disini:


1. Fi'il Amar (Kata Kerja Perintah)
2. Al-Jumlah Al-Mufidah (bentuk Kalimat Sempurna)

Kata QUL: katakanlah! ini merupakan fi'il amr. Fi'il amr sudah banyak saya berikan contohnya. Saya juga sudah memberikan 6 langkah mudah membentuk fi'il amr. Apa perlu saya ulangi? Jika ya, Insya Allah saya akan ulangi. Jika tidak maka kita lanjut ke topik 2.

Sementara saya asumsi tidak perlu, karena Anda sudah mengerti. Maka kita masuk topik 2, yaitu bentuk Kalimat Sempurna (jumlah mufidah).

Al-Jumlah Al-Mufidah الجملة المفيدة

Jumlah Mufidah atau kalimat sempurna, dalam bahasa Arab mirip dengan definisi kalimat sempurna dalam bahasa Indonesia. Apa itu? Yaitu minimal terdiri dari subject dan prediket. Dalam bahasa Arab, subject itu biasa disebut al-mubtada, dan prediket itu biasa disebut al-khobar. Kalimat sempurna yaitu bila kalimat tersebut sudah memberikan faedah (mufidah).

Jadi definisi kalimat sempurna dalam bahasa Arab adalah suatu kalimat yang terdiri dari mubtada dan khobar, dan memberikan manfaat (artinya bisa dimengerti).

Dari definisi ini maka: kalimat Huwa Allahu Ahadun dapat dipecah menjadi kalimat sempurna:

Huwa Allahu هو الله - Dia (adalah) Allah.

Ini adalah kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Huwa هو - Dia, dan khobarnya adalah Allahu الله - Allah.

الله احد - Allahu Ahadun : Allah (itu) Maha Esa.

Ini adalah juga kalimat sempurna, dimana mubtada nya adalah Allahu الله dan khobarnya adalah Ahadun احد - Maha Esa.

Ciri-ciri Mubtada

Salah satu ciri-ciri mubtada, adalah bahwa i'rob (harokat akhir) adalah dhommah, atau dhommatain, untuk kata-kata yang sifatnya tidak mabni. Wah wah apa lagi nih... Mabni itu apaan lagi tuh...

Oke, gini gini... Pertama saya jelaskan dulu, bahwa ciri-cirinya dhommah. Coba lihat:

Allahu ahadun. Harokat Allah disini adalah dhommah, sehingga dibaca Allahu (bukan Allaha atau Allahi). Sehingga kata Allahu (dalam Allahu Ahadun), dapat menjadi Mubtada'.

Sedangkan ada kata benda yang sifatnya tetap (mabni). Contoh kata Musa مسى ini adalah mabni. Tidak pernah dia dibaca Musi, atau Musu. Berbeda dengan kata kitaab كتاب ini bukan mabni, tapi berobah-ubah, bisa kitaabu, kitaabi, kitaaba.

OKE... kembali ke lap top... Jadi dalam ayat 1 surat Al-Ikhlas ini kita bertemu dengan jumlah mufidah:

Huwa Allahu Ahadun


Mubtada: Huwa
Allahu Ahadun: Khobar Jumlah (khobar dalam bentuk kalimat)

Sedangkan Khobar Jumlah, juga sebuah kalimat sempurna dimana:


Allahu: Mubtada
Ahadun: Khobar

Gitu ma' cik... Kira-kira ngerti kan????

Insya Allah akan dilanjutkan ke topik berikutnya, mengenai definisi kedua Jumlah Mufidah. Sebagai penutup, jumlah mufidah dalam topik ini maksudnya yaitu kalimat sempurna yang terdiri dari mubtada dan khobar.

Dalam topik berikutnya, ada defisini ke 2 jumlah mufidah itu, yaitu suatu kalimat yang terdiri dari Kata Kerja + Pelaku.

Allahu a'lam

Topik 42: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 1

Bismillahirrahmanirrahim

Baiklah, kita sudah bahas dalam ayat 1, tentang bentuk al-jumlah al-mufidah, yaitu satu bentuk kalimat sempurna dalam bahasa Arab. Maksud sempurna disini adalah kalimat yang memberikan manfaat/faedah (mufidah).

Telah dijelaskan contoh-contohnya. Disini diberikan contoh lain:


انا مسلم - ana muslim (saya muslim)

Ini adalah kalimat sempurna, karena sudah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket).

Kalau kita perhatikan contoh diatas, maka Mubtada dan Khobar itu sama sama kata benda. Ada lagi satu bentuk kalimat sempurna yaitu jika terdiri dari Kata Kerja + Pelaku, atau sering disebut Fi'il + Fa'il.

Nah Fa'il dalam bahasa Arab selalu kata benda. Dengan demikian, jika kalimat itu terdiri dari Kata Kerja dan Pelaku, maka telah dikatakan merupakan kalimat sempurna.

Contohnya begini:

هو يكتب - huwa yaktubu : dia sedang menulis


الطالب يكتب - al-tholibu yaktubu : seorang pelajar sedang menulis

Pola kalimat diatas juga disebut pola kalimat sempurna, karena terdiri dari Pelaku + Pekerjaan (Fa'il + Fi'il).

Oh ya, dalam bahasa Arab sangat sering polanya kata-kerjanya yang didahulukan, baru pelakunya. Jadi kalimat kedua itu seringnya ditulis sbb:

يكتب الطالب - yaktubu al-tholibu : seorang pelajar sedang menulis.

Ini pola yang lebih sering dijumpai, walaupun pola pertama tidak salah secara gramatikal.

Yang tidak boleh adalah kalau Pelakunya Kata Ganti (dia, kamu, dst) diletakkan setelah kata kerja.

Jadi pola seperti ini salah:
يكتب هو - yaktubu huwa : dia sedang menulis

Pola ini salah, karena kata ganti pelaku didalam bahasa Arab tidak boleh terletak setelah kata kerja. Kenapa? Disinilah uniknya bahasa Arab. Karena kata kerja bahasa Arab secara langsung telah menyimpan pelakunya.

Jadi kalau kita tulis:
يكتب - yaktubu saja, ini adalah kata kerja yang pelakunya dia (laki-laki), sehingga kalau kita tulis:
يكتب - yaktubu saja, ini sudah cukup yang artinya: dia sedang menulis.

atau misalkan:


أكتب - aktubu : saya sedang menulis
تكتب - taktubu : kamu (laki-laki) sedang menulis
نكتب - naktubu : kita/kami sedang menulis

Dan seterusnya.

Sebagai resume kita telah menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kalimat sempurna itu dikatakan memberi manfaat jika telah terdiri dari Mubtada (Subject) dan Khobar (Prediket), atau Fi'il (Kata Kerja) dan Fa'il (Kata Benda Pelaku).

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

Katakanlah: Allah itu Esa. Menurut Tafsir Ibnu Katsir, maksud ayat ini adalah, bahwa Allah itu lah Tuhan yang Satu, tidak ada tandingan, tidak ada yang setara dengan Nya. Kata Al-Ahad tidak dapat digunakan untuk diatributkan ke seseorang, karena kata Al-Ahad ini hanya untuk Allah SWT (demikian Ibnu Katsir).

Insya Allah akan kita lanjutkan ke ayat-ayat selanjutnya.



 
Topik 43: Latihan Surat Al-Ikhlas Ayat 2

Bismillahirrahmanirrahim

Kebetulan pagi ini saya masih menunggu tamu di salah satu Hotel di Kualalumpur (tugas luar kota). Sembari menunggu saya sempatkan untuk membahas Topik 42 dan 43 ini, Insya Allah.

Pada ayat 2, akan digambarkan tentang bagaimana kekuasaan Allah itu Maha Lengkap (tafsir kata Al-Shomad menurut Abu Wa'il).

اللَّهُ الصَّمَدُ - Allahu Al-Shomadu

Perhatikan bahwa struktur kalimat diatas adalah, kalimat sempurna, dimana:


Mubtada: Allahu (lihat ciri-nya yaitu dhommah, sehingga Allahu, bukan Allaha, atau Allahi), dan
Khobar: Al-shomadu (tempat bergantung).

Kata al-Shomad memiliki dua pengertian yaitu: tempat bergantung, yaitu suatu yang cukup dengan sendirinya, dan semua bergantung ke dia. Allah Al-Shomad, artinya: Allah tempat bergantung semua makhluk. Pengertian kedua, yaitu dari akar katanya shomada, artinya: abadi atau kekal.

Menurut Ibnu Abbas: As-Shomad artinya: Yaitu suatu Dzat yang semua makhluk bergantung kepadaNya untuk mencukupi semua kebutuhan dan permintaannya. Dia adalah Raja yang memiliki kesempurnaan kekuasaannya, Sangat Mulia dengan KemuliaanNya, Sangat Perkasa dengan segala keperkasaanNya, Maha Tahu dengan segala IlmuNya.

Kata al-Shomad tidak boleh diatributkan kepada makhluk, karena sifat ini hanyalah Milik Allah (Tafsir Ibnu Katsir).

Demikian dapat kita pelajari dalam ayat 2 ini kembali kita bertemu dengan kalimat al-jumlah al-mufidah. Insya Allah topik berikutnya kita akan belajar, bentuk perubahan kata kerja sekarang (Present Tense) menjadi bentuk JAZM.
Topik 47: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, JAZM

Bismillahirrahmanirrahim.

Para pembaca yang dirahmati Allah SWT. Baiklah, sekarang kita masuk kembali ke pelajaran rutin kita. Kita tinggalkan topik-topik seputar lebaran. Mudah-mudahan puasa Syawal kita diterima di sisi Allah SWT. Amin.

Baiklah. Kita tuliskan ayat 3:

لم يلد و لم يولد

lam : tidak


yalid : (Dia) beranak [punya anak]
wa: dan
lam : tidak
yuulad : (Dia) diperanakkan [punya Bapak dan Ibu]

Kita bertemu dengan 3 pelajaran disini:


1. Bentuk penegatifan (menegasikan kalimat) dengan LAM لم
2. Bentuk JAZM (MAJZUM) dari kata kerja sedang (KKS)
3. Bentuk pasif dari sebuah kata kerja sedang (KKS)

Nah kita akan bahas satu-satu Insya Allah.

Oke, sekarang kita bahas apa maksud LAM لم (tidak)

Dalam bahasa Arab, jika kita hendak mengatakan "tidak" terhadap sebuah kata kerja kita bisa pakai لم - lam atau لا - laa atau ما - maa. Tiga-tiganya artinya Tidak.

Gimana aturannya dan apa efeknya?

Oke, aturannya begini. LAM dan LAA لم لا hanya dipakai untuk KKS, sedangkan ما - maa biasanya selalu dipakai untuk KKL. Contohnya begini:

Saya faham (mengerti) : انا أفهم - ana afhamu
Saya tidak faham : انا لا أفهم- ana laa afhamu

atau jika saya pakai LAM

Saya faham (mengerti) : انا افهم - ana afhamu
Saya tidak faham: انا لم أفهم - ana lam afham

Secara arti LAA dam LAM sama saja, artinya "Tidak". Walau menurut sebagian orang ada bedanya. Kalau LAM, itu Tidak nya bersifat MUTLAK. Atau bisa dikatakan ANA LAM AFHAM artinya : saya "benar-benar" tidak faham.

Secara kaidah grammar, KKS sesudah LAM, huruf terakhir di sukun. Sehingga penulisannya:

لم أفهمْ - laam afham. Tidak seperti LA, yang KKS nya huruf terakhirnya di dhommah.


لا أفهمُ - laa afhamu.

Bagaimana dengan ما - maa?

Sebagaimana dijelaskan tadi, maa dipakai untuk KKL.

Saya sudah paham : فهمتُ - fahimtu


Saya tidak sudah paham : ما فهمتُ - maa fahimtu (catatan bahasa Indonesia "Saya tidak sudah paham" agak membingungkan mungkin, padanan bahasa Inggrisnya: I had not understood).

Okeh... jelas ya Jack... Sekarang kembali ke topik utama.

لم يلدْ - lam yalid : (DIA-ALLAH) tidak melahirkan. Lihat ciri-ciri JAZM nya bahwa huruf dal pada yalid berharokat sukun. Sehingga ditulis lam yalid, bukan lam yalidu.

Sebenarnya kita bisa juga menulis spt ini:

لا يلدُ - laa yalidu : (dia) tidak melahirkan. Secara bahasa mirip dengan LAM YALID. Akan tetapi penggunaan LAM lebih bersifat peniadaan (pe-tidak-an) secara mutlak.

Demikian kita telah bahas 2 hal: makna LAM dan apa bedanya dengan LA. Dan bentuk mazjum (jazm) dari sebuah KKS. Insya Allah topik selanjutnya kita akan bahas mengenai bentuk pasif dari KKS.




Topik 48: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 3, KKS Pasif

Bismillahirrahmanirrahim.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita telah sampai pada ayat 3 surat Al-Ikhlas, dimana dalam ayat ini kita bertemu dengan 3 pelajaran berbahasa Arab, yaitu: pengertian LAM, bentuk MAJZUM, dan terakhir bentuk kata kerja sedang (KKS) pasif. Pada kesempatan kali ini kita akan tuntaskan pembahasan ayat 3 ini.

Oke kita masih ada sisa topik di ayat 3 ini yaitu mengenai Kalimat Pasif. Insya Allah kita akan bahas.



Kalimat Pasif

Anda semua pasti sudah tahu apa itu kalimat pasif. Ya, tanpa perlu definisi, kita sering menggunakan pola ini. "Saya disuruh membuat PR". Atau "Mobil dibeli pedagang", dsb.

Dalam bahasa Arab, demikian juga. Ada kalimat aktif, ada pasif.

Lalu bagaimana ciri-ciri kalimat Pasif? Berikut saya kasih TIPS mudahnya (mengutip dari metode Granada), anda sekalian hafalkan rumus ini (kalau bisa... kalau gak mau juga gak apa2x... hehe):

KKL Pasif: U-I (1:dhommah 2:kasroh 3:x)
KKS Pasif: U-A (1:dhommah 2:fathah 3:x)

Contohnya:



KKL Pasif

Surat An-Nur (24) ayat 45:


الله خلق كل دابت من ماء : allahu khalaqa kulla daabbatin min maa-in
Allah menciptakan setiap daabbatin dari air

Lihat kata menciptakan: خلق - kha la qa

Bagaimana kalau diciptakan. Kata خلق - khalaqa (menciptakan) berubah harokat menjadi (ingat rumus... U-I), sehingga menjadi khuliqo خلق (diciptakan).

Contohnya dalam surat At-Thooriq (86) ayat 6


خلق من ماء دافق - khuliqa min maain daafiq
Dia (manusia)diciptakan dari air yang terpancar

Lihat perubahannya:


خَلَقَ - khalaqa (menciptakan)
خُلِقَ - khuliqa (diciptakan) --> Pola U-I

KKS Pasif
Sekarang kita lihat bagaimana pola KKS Pasif.

Wah... karena sudah kepanjangan... kita tunda dulu ya pembahasan rumus U-A ini. Hehe... Sampai ketemu di topik lanjutan.



 

Topik 50: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4

Bismillahirrahmanirrahim.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT. Kita akan segera masuk ke ayat 4 surat Al-Ikhlas. Di ayat ini kita bertemu dengan sebuah kata kerja khusus yang disebut كان - kaana. Kita akan pelajari kenapa dia dsebut khusus, dan apa fungsi kaana ini. Insya Allah.

Baiklah kita tuliskan ayat 4:


و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad

wa= dan
lam= tidak


yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang

Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.

Kita belum bahas secara tuntas dulu. Nanti kita akan wrap-up dibagian akhir. Anda tentu sudah tahu tentang wa, lam, la hu dan ahad. Ahad artinya satu (orang), atau satu (sesuatu). Maka disini ahad saya terjemahkan satu (orang) = seseorang.

Fokus kita adalah kata يكن - yakun. Akar katanya adalah kaana كان. Kata kaana dan perubahan bentuknya (misal menjadi yakun) ini adalah spesial. Bahkan dalam buku-buku pelajaran tata-bahasa arab, pembahasan tentang kaana ini dibahas dalam satu sub-bab, atau bab tersendiri.

Mengapa dia spesial? Oke, mari saya bawakan sebuah perbandingan antara bahasa Inggriss dengan bahasa Arab.

Misalkan saya mengatakan: Umar seorang siswa. Dalam bahasa Arab saya mengatakan:


عمر طالب - umar thoolibun

Kalimat diatas adalah kalimat sempurna (artinya memberi faidah). Umar adalah seorang siswa. Masalahnya kita bisa bertanya lagi. "Jadi siswanya, dulu, atau sekarang". Nah disini mulai ada masalah. Informasi dari عمر طالب tidak memberikan indikasi waktu. Kenapa? Karena dalam bahasa Arab, sebuah kata benda tidak membawa indikasi waktu didalamnya. Perhatikan bahwa kata "Umar" adalah kata benda (isim), dan kata "thoolibun" juga kata benda.

Bagaimana dalam bahasa Inggris? Kita punya dua pilihan:
Umar was a student (Umar -dulu adalah seorang pelajar)
Umar is a student (Umar -sekarang adalah seorang pelajar)

Nah disini fungsi kaana muncul. Saya bisa mengatakan begini:


كان عمر طالباً - kaana Umar thooliban = Umar was a student
يكون عمر طالب - yakuunu Umar thooliban = Umar is a student

Ternyata dalam bahasa Arab salah satu cara memberikan indikasi waktu kepada sebuah kalimat berita adalah dengan menambahkan kaana atau yakuunu.

Ambil contoh dalam Al-Quran: doa Nabi Yunus sewaktu didalam perut ikan:
Laa ilaaha illa Anta: tidak ada Tuhan selain Engkau
Inni kuntu mina al-zholimiin:

إنى كنتُ من الظالمين - Indeed I was part of the wrongdoers = sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.

Lihat bahwa kuntu adalah kaana tapi untuk orang ke 1 laki-laki tunggal (Aku).

Insya Allah di topik 51 kita akan bahas salah satu fungsi kaana ini, yaitu me-rafa'kan mubtada menashab-kan khobar.


Topik 51: Makna Kaana

Bismillahirrahmanirrahim.

Pembaca yang dirahmati Allah SWT, kita masih membahas tentang Kaana. Kaana ini karena agak unik, maka kita perlu membahasnya, agak sedikit panjang ya... Gpp kan? Hehe...

Oke... Ingat kaana, tentu Anda ingat dengan "Kun Fayakun". Ya saya ingat sekali waktu kecil sering dikasih tahu orang-orang tua: "Apa yang tidak mungkin bagi Allah. Jika Dia ingin berbuat sesuatu, Dia tinggal berkata: Kun كن - jadilah, Fayakun فيكن - maka jadilah ia".

Nah, kun كن itu adalah bentuk kata kerja perintah (fi'il amr) dari كان sedangkan fayakun itu asalnya adalah fa yakuunu ف + يكون . Kenapa waw nya hilang, menjadi fayakun فيكن saja? Ini nanti akan dibahas pada Topik : Kalimat Syarat dan Jawab.

Oke kita tinggalkan dulu kun fayakun... Kalau ada waktu kita akan singgung lagi.

Sekarang kita masuk membahas, apa saja makna kaana كان. Oke kita akan lihat, dan bahas di topik ini. Sedangkan tugas kaana, akan kita bahas di topik 52.

Makna Kaana

Kana itu ada 3 macam maknanya, tergantung konteks. Apa saja itu?


1. Kaana berarti adalah/atau tidak terjemahkan (is atau was dalam bahasa Inggriss)
2. Kanaa bisa berarti menjadi (to become)
3. Kanaa bisa berarti selalu

Baiklah kita bahas satu-satu...

1. Kaana bermakna adalah. Contohnya begini.

Zaid was handsome (Zaid --adalah-- ganteng). Ada 2 alternatif:


زيد جميل - Zaidun Jamiilun
كان زيد جميلاً - kaana Zaidun Jamiilan

Dua-duanya bisa dipakai. Kalimat pertama menjelaskan bahwa Zaid itu ganteng. Sedangkan kalimat kedua menjelaskan bahwa (dulu) Zaid itu ganteng (sekarang mungkin ganteng mungkin kurang ganteng).

Oh ya, kadang adalah itu tidak enak secara bahasa Indonesia, makanya kalau kaana dalam arti adalah ini, biasanya tidak diterjemahkan.

2. Kaana bermakna menjadi

Contohnya:
محمدٌ معلمٌ - muhammadun mu'allimun : Muhammad seorang guru
كان محمدٌ معلماً - kaana muhammadun mu'alliman : Muhammad telah menjadi seorang guru
يكون محمد معلماً - yakuunu muhammadun mu'alliman: Muhammad (sedang) menjadi seorang guru

3. Kaana bermakna senantiasa/selalu

Contohnya:
كان الله عليماً حكيماً - kaana Allahu 'aliiman hakiiman : Adalah (senantiasa) Allah (bersifat) Maha Mengetahui Maha Adil

Secara umum kaana itu berarti adalah. Tinggal dilihat apakah konteksnya KKL kaana, atau KKS yakuunu.



Topik 52: Latihan Surat Al-Ikhlas ayat 4, Fungsi Kaana

Bismillahirrahmanirrahim.

Para pembaca yang dirahmati Allah. Kita akan menyelesaikan, latihan ayat 4 ini. Tapi sebelumnya saya kasih pertanyaan sedikit. Di topik 50, kita sudah terjemahkan ayat 4, yaitu:

و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad wa= dan


lam= tidak
yakun= adalah (Dia)
la hu = bagi Dia
kufuwan = yang setara
ahad = seseorang

Nah lalu saya nerjemahin begini:


Dan adalah tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.

Atau jika hendak diperhalus, kata adalah bisa dibuang (baca penjelasannya di topik 51), sehingga bisa menjadi:

Dan tidak seseorang(pun) yang setara bagi Dia.

Loh mas bukannya kalau mau urut mestinya terjemahannya:

Dan tidak adalah bagi Dia yang setara seorang(pun).

Saya tidak terjemahkan demikian. Kenapa? Karena kita akan melihat tugas kaana. Bagaimana tugas kaana itu? Nih saya kasih istilah yang mungkin agak teknis dikit ya... Ok... Siap...?



Tugas Kaana
Kaana bertugas:
- Me-rafa'kan mubtada
- Me-nashab-kan khobar

Weh... weh... kalau mubtada dan khobar rasanya kite-kite sudah pernah dengar deh di topik-topik yang lalu. Oke... saya lagi baik hati. Saya ulangi sedikit ya. Kalau ambil contoh: Zaid ganteng زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun. Perhatikan Zaidun adalah mubtada (subjek), dan Jamiilun adalah khobar (prediket). Perhatikan dalam kondisi normal maka Zaid adalah rofa' (yaitu harokat akhir dhommah), sehingga dibaca Zaidun, bukan Zaidan, atau Zaidin. Dan dalam kondisi normal khobar juga rofa', maka dibaca Jamiilun.

Jadi ingat saja, rofa' atau marfu' itu = dhommah atau dhommatain. ُ atau ٌ .

Nah sekarang kalau kita lihat tugas nya kaana itu menashabkan khobar.

Ingat, nahsab = fathah atau fathatain. َ atau ً .

Sehingga kalau kita terapkan:

زيدٌ جميلٌ - zaiduun jamiilun : Zaid ganteng

Jika kita tambahkan kaana didepannya menjadi:

كان زيدٌ جميلاً - kaana zaidun jamiilan : (adalah) Zaid ganteng.

Oh ya, kalau suatu kata benda (isim), jika bersifat nakiroh (tidak ada al), maka ada tambahan alif, sehingga ditulis:

جميلاً bukan جميلً .

Nah kira-kira kita sekarang bisa membayangkan, bahwa kalaupun setelah kaana ada kata beda (isim) yang terbalik, maka metode penerjemahannya sama. Artinya dari kondisi apakah dia nashab atau rafa' kita bisa tahu mana subjek dan prediketnya.

Anggaplah saya (agak) salah, tertukar menuliskan:

كان جميلاً زيدٌ - kaana jamiilan zaidun

Karena kita tahu bahwa yang jadi mubtada (subject) adalah zaidun, maka kita menerjemahkannya:

(adalah) Zaid ganteng,

bukan

(adalah) Ganteng zaid.



Demikian juga dalam ayat 4 surat Al-Ikhlas ini, kita bisa lihat bahwa yang menjadi mubtada adalah احدٌ - ahadun : seorang(pun). Dan yang menjadi khobarnya adalah كفوًا - kufuwan (karena harokatnya fathatain setelah kaana).

Oleh karena itu ayat ini kita terjemahkan:


و لم يكن له كفوا أحد - wa lam yakun la hu kufuwan ahad


Dan tidak (adalah) [mubtada=ahadun] [khobar=kufuwan] [pelengkap=lahu].


Dan tidak (adalah) [seseorang(pun)] [yang serupa] [bagi Dia].

Semoga menjadi jelas ya. Insya Allah.... Alhamdulillah, akhirnya selesai kita bahas latihan surat Al-Ikhlas ini. Kita akan ketemau lagi minggu depan.








Dostları ilə paylaş:
1   2   3


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə