Bab 1 Pendahuluan Latar Belakang



Yüklə 51,5 Kb.
tarix02.08.2018
ölçüsü51,5 Kb.
#66227

BAB 1

Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Surah Al-Anbiya' adalah surah ke-21 dalam Al-Qur'an. Surah yang terdiri atas 112 ayat ini termasuk golongan surah Makkiyah. Nama Al-Anbiya (nabi-nabi) digunakan karena surat ini mengutarakan kisah beberapa orang nabi. Permulaan surah Al-Anbiya menegaskan bahwa manusia lalai dalam menghadapi hari berhisab, kemudian berhubung adanya pengingkaran kaum musyrik Mekkah terhadap wahyu yang dibawa Nabi Muhammad SAW. maka ditegaskan Allah, kendatipun nabi-nabi itu manusia biasa, akan tetapi masing-masing mereka adalah manusia yang membawa wahyu yang pokok ajarannya adalah tauhid, dan keharusan manusia menyembah Allah Tuhan Penciptanya.

Orang yang tidak mau mengakui kekuasaan Allah dan mengingkari ajaran yang dibawa oleh nabi-nabi itu, akan diazab Allah didunia dan di akhirat nanti. Kemudian dikemukakan kisah beberapa orang nabi dengan umatnya. Akhirnya surah itu ditutup dengan seruan agar kaum musyrik Mekah percaya kepada ajaran yang dibawa Muhammad SAW supaya tidak mengalami apa yang telah dialami oleh umat-umat yang dahulu.

Ayat-ayat Surat Al-Anbiya sangat banyak, yaitu terdapat 112 ayat. Ayat-ayat tersebut merupakan persoalan penting untuk didiskusikan agar dapat memperdalam dan memahami isi kandungannya, namun demikian dalam tulisan ini tidak akan dibahas semuanya, melainkan hanya satu ayat saja yaitu ayat 104 karena kita akan memperdalam ayat tersebut. Hal demikian semata-mata mempertimbangkan keterbatasan tempat dan waktu. Dan bukan dalam artian memperkecil nilai ayat-ayat di atas.


  1. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :

  1. Bagaimanakah bunyi Ayat 104 Surat Al-Anbiya?

  2. Apakah tafsir para ulama tentang ayat tersebut?

  3. Bagaimanakah ekspansi alam itu?



  1. Tujuan

  1. Mengetahui bunyi serta arti ayat tersebut

  2. Mengetahui tafsir ayat tersebut

  3. Mengetahui tentang ekspansi alam


BAB 2

Pembahasan

  1. Surat Al-Anbiya ayat 104

نُّعِيدُهُ خَلْقٍ أَوَّلَ بَدَأْنَا كَمَا لِلْكُتُبِ السِّجِلِّ كَطَيِّ السَّمَاء نَطْوِي يَوْمَ

فَاعِلِينَ كُنَّا إِنَّا عَلَيْنَا وَعْداً



(Yaitu) pada hari ketika Kami akan menggulung langit seperti digulungnya lembaran-lembaran untuk menulis. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.

  1. Tafsir Surat Al-Anbiya ayat 104

Firman Allah SWT, لِلْكُتُبِ السِّجِلِّ كَطَيِّ السَّمَاء نَطْوِي يَوْمَ “(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas.” Abu Ja’far bin Al Qa’qa’, Syaibah bin Nishah, Al-A’raj dan Az-Zuhri membacanya : نَطْوِي , dengan ta’berharakat dhammah dan السَّمَاء secara marfu’ dalam format kalimat yang tidak disebutkan fa'ilnya.

Mujahid membacanya نَطْوِي yang bermakna : Allah menggulung langit. Adapun yang lainnya membacanya نَطْوِي dengan nun.

Manshubnya يَوْمَ karena sebagai badal dari ha’ yang dibuang di dalam shilah. Perkiraannya: alladzi kuntum tuu’aduunahu yauma nathwi as-samaa’a (yang telah dijanjikan kepadamu, yaitu pada hari Kami gulung langit). Atau nashabnya ini karena fi’il نُّعِيدُهُ pada kalimat : نُّعِيدُهُ خَلْقٍ أَوَّلَ بَدَأْنَا كَمَا “Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya.” Atau karena kalimat ﻴﺤﺰﻨﻬﻢ ﻵ “Mereka tidak disusahkan, yakni : Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar pada hari kiamat di mana Kami mengulung langit. Atau karena di sembunyikannya, kalimat “wadzkur” (dan ingatlah).

لِلْكُتُبِ السِّجِلِّ كَطَيِّ “Sebagai menggulung lembaran-lembaran kertas”. Ibnu Abbas dan Mujahid mengatakan,”Yakni: kathayyi ashshahiifah ‘alaa maa fiihaa (laksana menggulungkan lembaran-lembaran pada semua yang ada di dalamnya). Jadi lam ini bermakna ‘alaa.

Diriwayatkan juga Ibnu Abbas, “Yakni nama juru tulis Rasulullah SAW.” Riwayat ini tidak kuat karena juru tulis Rasulullah SAW cukup dikenal, dan ini tidak termasuk mereka dan ini di antara para sahabat beliau juga tidak terdapat nama As-Sijjil.

Ibnu Abbas, Ibnu Ummar dan As-Suddi mengatkan, “As-Sijjil adalah melaikat”. Dialah yang menggulung lembaran-lembaran catatan amal manusia ketika diangkat kepada-Nya. Ada yang mengatakan bahwa di langit ke-tiga, akan di angkat amalan-amalan para hamba. Amalan-amalan itu di angkat kepada-Nya pada setiap hari kamis dan senin oleh para malaikat yang bertugas menjaga makhluk-Nya. Di antara para petugasnya, sebagaimana telah dikemukakan, adalah Harut dan Marut.



As-Sijjil juga berarti dokumen, yaitu ism yang merupakan turunan dari kata as-sajaalah, yang artinya tulisan. Asalnya dari as-sijl, yaitu ad-dalw (ember kayu). Anda mengatakan “saajaltu ar-rajul” Apabila Anda menarik ember dan ia pun menarik ember. Kemudian ungkapan ini dipinjam untuk mengungkapakan mukaatabah dan muraaja’ah (pencatatan dan pemerikasaan), sehingga di sebut musaajalah. Sajjala al haakim tasjiilan (hakim menuliskan perjanjian). Al-Fadl bin Al-Abbas bin Utbah bin Abu Lahab mengatakan, yang artinya “Siapa yang akan saling tarik menarik ember denganku, maka ia pun akan saling menarik ember dengan Majid, sehingga ia akan memenuhi ember hingga tali pengikatnya.”

Kemudian ism ini dibentuk mengkuti pola fi’il seperti halnya kata himirr, thimmir dan billiy.

Abu Zur’ah bin Amr bin Jarir membacanya: السِّجِلِّ كَطَيِّ , dengan dhammah pada sin dan jim, serta tasydid pada lam. Al-A’masy dan Thalhah membacanya: السِّجِلِّ كَطَيِّ, dengan fathah pada sin, sukun pada jim dan takhfif pada lam (tanpa tasydid). An-Nuhas mengatakan, “Insya Allah maknanya sama”. Redaksinya sempurna pada kalimat: لِلْكُتُبِ.

Selannjutnya Allah mengatakan: لِلْكُتُبِ sampai di sini redaksinya telah sempurna. Qira’ah Al A’masy, Hafsh, Hamzah, Al-Kias’I, Yahya dan Khalaf adalah: لِلْكُتُبِ bentuk jamak. Kemudian dimulai lagi redaksi berikutnya, Allah mengatakan, نُّعِيدُهُ خَلْقٍ أَوَّلَ بَدَأْنَا كَمَا “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya”. Yakni Kami menghimpunkan mereka dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak berkhitan , sebagaimana seperti pertama kali mereka di dalam perut (kandungan).

An-Nasa’imeriwayatkan dari Ibnu Abbas, dari Nabi SAW, beliau bersabda , yang artinya “Pada hari kiamat nanti manusia akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang dan tidak bersunat. Manusia yang dikenakan pakaian padanya adalah Ibrahim AS.”

Kemudian beliau membacakan ayat نُّعِيدُهُ خَلْقٍ أَوَّلَ بَدَأْنَا كَمَا “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya”.

Diriwayatkan juga Muslim dari Ibnu Abbas, ia menuturkan,”Rasulullah SAW berdiri di hadapan kami memberikan wejangan, beliau bersabda yang artinya “Wahai manusia, sesungguhnya kalian kelak akan dihimpunkan kepada Allah (pada hari kiamat) dalam keadaan tidak beralaskan kaki, telanjang dan tidak berkhitan. (Allah berfirman) : ‘Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya’ Ketahuilah bahwa manusia pertama yang dikenakan padanya pada hari kiamat adalah Ibrahim AS”. Lalu dikemukakan kelanjutan haditsnya. Pembahasan tentang ini telah Kami paparkan di dalam At-Tadzkirah.

Sufyan Ats-Tsauri menyebutkan dari Salamah bin Kuhail, dari Abu Az-Za’ra’, dari Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan,” Allah’ Azza wa Jalla mengirimkan dari bawah ‘Asyr seperti mani kaum laki-laki, lalu dari itu tumbuh daging dan tubuh mereka sebagaimana bumi ditumbuhi rerumputan.” Lalu ia membacakan ayat نُّعِيدُهُ خَلْقٍ أَوَّلَ بَدَأْنَا كَمَا “Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya”.

Ibnu Abbas mengatakan,”Maknanya: Kami menghancurkan segala sesuatu dan melenyapkan sebagaimana pertama kali”. Berdasarkan makna ini, maka redaksi ini bersambung dengan redaksi: السَّمَاء نَطْوِي يَوْمَ “(Yaitu) pada hari ketika Kami akan menggulung langit”, yakni, Kami menggulungnya lalu mengembalikannya kepada kehancuran dan kefanaan sehingga tidak menjadi sesuatu pun.”

Ada juga yang mengatakan,”Kami lenyapkan langit kemudian Kami mengulanginya lagi setelah digulung dan dihilangkan.



  1. Penjelasan Ekspansi Alam

Di tahun 1929, di Observatorium California Mount Wilson, Astronom berkebangsaan Amerika Edwin Hubble menghadirkan salah satu penemuan terbesar dalam sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia dapati bahwa cahaya dari bintang-bintang itu berubah ujung spektrumnya menjadi merah dan bahwa perubahan ini lebih memperjelas bahwa itu bintang-bintang yang menjauh dari bumi. Penemuan ini berpengaruh bagi dunia ilmu pengetahuan, karena menurut aturan ilmu fisika yang sudah diakui, spektrum cahaya berkedip-kedip yang bergerak mendekati tempat observasi tersebut cenderung mendekati warna lembayung, sedangkan spektrum cahaya berkerlap-kerlip yang menjauh dari tempat observasi itu cenderung mendekati warna merah. Artinya, bintang-bintang itu menjauh dari kita secara tetap.

Lama sebelumnya, Hubble menemukan penemuan lain yang sangat penting. Bintang dan galaksi bergerak menjauh bukan hanya dari kita, tetapi juga saling menjauh. Satu-satunya kesimpulan yang dapat ditarik dari suatu alam semesta di mana semua bintang dan galaksi menjauh dari bintang dan galaksi lain adalah bahwa alam semesta 'bertambah luas' secara tetap. Untuk lebih memahaminya, alam semesta dapat dianggap sebagai permukaan balon yang meledak. Karena bagian-bagian di permukaan balon ini saling memisah sebagai akibat dari pemompaan atau penggelembungan, hal ini berlaku juga untuk obyek-obyek di ruang angkasa yang saling memisah sebagai akibat dari terus bertambah luasnya alam semesta. Sebenarnya, teori ini telah ditemukan jauh sebelumnya. Albert Einstein, yang dianggap merupakan ilmuwan terbesar abad 20, telah menyimpulkan dalam teori fisikanya setelah melalui perhitungan yang cermat bahwa alam semesta itu dinamis dan tidak statis. Namun bagaimanapun, ia telah meletakkan penemuannya bukan untuk bertentangan dengan teori model alam semesta statis yang sudah diakui luas di zamannya.

Einsten kemudian mengidentifikasi tindakannya itu sebagai kesalahan terbesar sepanjang karir keilmuwanannya. Sesudah itu, menjadi jelas melalui pengamatan Hubbles bahwa alam semesta bertambah luas.

Di sini ditunjukkan perbedaan berbagai galaksi yang letaknya jauh yang cenderung mendekati warna merah. Garis vertikal di bagian atas menunjukkan bagian tertentu spektrum. Di spektrum-spektrum lain, titik ini cenderung mengarah ke kanan sejauh arah anak panah horisontal. Kecenderungan mendekati merah ini, yang menunjukkan jauhnya, semakin nyata bila galaksi bergerak semakin jauh dari bumi.

Alam semesta yang bertambah luas itu menunjukkan bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur dalam hal waktu, maka alam semesta terbukti berasal dari 'titik tunggal'.

Perhitungan menunjukkan bahwa titik tunggal ini yang mengandung pengertian semua zat atau materi yang ada di alam semesta mempunyai 'volume nol' dan 'kerapatan yang tak terbatas'. Alam semesta terjadi karena adanya ledakan dari titik tunggal yang bervolume nol ini. Ledakan yang luar biasa dahsyatnya yang disebut Ledakan Dahsyat ini menandai awal dimulainya alam semesta.

'Volume nol' merupakan satuan teoretis yang digunakan untuk tujuan pemaparan. Ilmu pengetahuan dapat menetapkan konsep 'ketidakadaan', yang berada di luar jangkauan batas-batas pemahaman manusia, dengan hanya mengungkapkannya sebagai 'suatu titik yang bervolume nol'. Alam semesta muncul dari 'ketidakadaan'. Dengan kata lain, alam semesta itu diciptakan.

Teori Ledakan Dahsyat itu menunjukkan bahwa pada awalnya, semua obyek di alam semesta merupakan satu bagian dan kemudian terpisah-pisah.

Seperti yang dinyatakan dalam ayat tersebut, apa saja, bahkan di 'langit dan bumi' yang belum tercipta sekalipun, diciptakan dengan suatu Ledakan Dahsyat dari suatu titik tunggal, dan membentuk alam semesta yang sekarang ini dengan saling terpisah.

Jika kita bandingkan pernyataan ayat itu dengan teori Ledakan Dahsyat, maka kita mengetahui bahwa ayat itu sepenuhnya cocok dengan teori tersebut. Namun, baru pada abad ke-20, Ledakan Dahsyat dikemukakan sebagai teori ilmiah.

Meluasnya alam semesta itu merupakan salah satu bukti terpenting bahwa alam semesta diciptakan dari ketidakadaan.

Pada awalnya alam semesta ini tiada, dan akan kembali kepada ketiadaan. Maka yang tersisa hanyalah harapan agar kelak kita diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah.

Suatu ketika, Malaikat Jibril mendatangi Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang lelaki dusun. Kapan kiamat (as-sa'ah) akan tiba? tanya Jibril. Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya, jawab Rasulullah SAW. Jibril pun lantas mengisyaratkan bahwa hari kiamat adalah kejadian yang sudah pasti, namun hanya Allah SWT yang MahaTahu.

Dalam Al-Quran kiamat disebut dengan beberapa istilah. Selain as-saah, ada juga al-qariah (kejadian yang mengguncankan), al-zalzalah (gempa, bencana, turbulensi), al-haidzil akbar (guncangan dahsyat). Ayat Al-Quran yang mengungkapkan perihal kiamat pun berjumlah puluhan, dan semuanya memperingatkan kedahsyatan dan kengeriannya.

Kehancuran alam semesta digambarkan secara jelas: benda-benda angkasa bertabrakan, ada yang terapung-apung seperti awan, suasana pun total gelap gulita. Berakhirnya alam semesta ini bersamaan dengan berawalnya kehidupan baru di akhirat.

Dalam surah Al-Qiyamah ayat 6-15 dikisahkan, Bilakah hari kiamat itu? Apabila mata terbelalak ketakutan, dan bulan telah hilang cahayanya. Dan bila matahari dan bulan bertabrakan. Pada hari itu manusia bertanya-tanya: Ke manakah tempat melarikan diri? Sekali-kali tidak, tidak ada tempat berlindung! Pada hari itu hanya Tuhanmulah tempat kembali. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah mereka kerjakan dan apa yang dilalaikannya. Dan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun mereka mengemukakan berbagai alasan.

Datangnya hari kiamat memang sangat menakutkan, terutama bagi mereka yang ingkar, tak beriman. Sebaliknya, bagi mereka yang beriman, kedatangan hari kiamat bukanlah masalah, sebagaimana disebut dalam firman surah Al-Anbiya ayat 103-104, Kedahsyatan mahahebat itu tak akan menggemparkan orang-orang beriman. Mereka akan disambut oleh para malaikat, Inilah hari yang dijanjikan (Allah SWT) kepadamu. Pada hari itu Kami menggulung langit seperti menggulung lembaran kertas. Sebagaimana Kami memulai setiap kejadian, begitu pula Kami mengulangi kejadian itu sebagai suatu janji. Sesungguhnya Kami memenuhi janji itu.

BAB 3

Penutup


  1. Kesimpulan

Dari semua paparan di depan kami dapat menyimpulkan bahwa kemukjizatan Al-Qur'an benar-benar ada, terbukti dengan adanya kesingkronan antara penjelasan Al-Qur'an tentang ilmu alam dan penelitian-penelitian para ilmuan barat yang sudah menemukan bukti-bukti nyatanya. Disinilah dapat kita yakini bahwa Al-Qur'an itu memang benar-benar murni wahyu dan firman Allah, bukan semata-mata buatan Nabi Muhammad seperti anggapan non Islam pada umumnya, melainkan Al-Qur'an adalah wahyu Allah kepada Nabi Muhammad sebagai mu'jizat dan bukti kenabiannya.

Dalam Al-Qur'an terdapat banyak ilmu, ilmu fiqih, ilmu bahasa, ilmu kalam, ilmu etika, dan ilmu-ilmu lainnya, dimana memang dari tujuannya Al-Qur'an adalah sebagai pembimbing dan penuntut umat manusia, terutama umat Islam sendiri sebagai pemilik Al-Qur'an.

Dan meskipun Al-Qur'an tidak menjelaskan secara detail bagaimana terjadinya perluasan dan kehancuran alam semesta, namun apa yang ada dan yang disampaikan Al-Qur'an dalam ayat-ayatnya sudah dibenarkan diakui oleh para ilmu barat. Sehingga banyak para fisikawan yang tertarik untuk mempelajari Al-Qur'an lebih dalam karena meskipun Al-Qur'an sudah 15 abad yang lalu diturunkannya tapi Al-Qur'an selalu bisa menyesuaikan teks-teksnya dengan zaman, dan sampai sekarang belum ada yang bisa mengalahkan satu ayat pun yang ada didalam Al-Qur'an.

Diantara ayat-ayat yang menjelaskan tentang kejadian alam dalam Al-Qur'an sedikit sudah kami sebutkan di depan yaitu tentang awal penciptaan dunia, yang bersangkut paut dengan teori-teori ahli astronomi dan teori-teori ilmuah lain seperti Einstein, Newton, Edwin P. Hubble dan Gamow, namun terdapat beberapa perbedaan dalam teori mereka, dan yang sepenuhnya benar hanyalah Al-Qur'an itu sendiri.



Daftar Pustaka

Al-Qurthubi, Syaikh Imam. 2008. Tafsir Al-Qurthubi [11]. Jakarta: Pustaka Azzam

Al-Jazairi, Syaikh Abu Bakar Jabir. 2007. Tafsir Al-Qur’an Al-Aisar. Jakarta: Darus Sunnah Press

Golshani, Mehdi. 1997. Filsafat SAINS menurut Al-Qur’an. Bandung: Mizan Media Utama

Faqih, Allamal Kamal. 2006. Tafsir Nurul Qur’an. Jakarta: Al-Huda

Muthahhari, Murthadha. 2001. Pelajaran-Pelajaran Penting dari Al-Qur’an. Jakarta: Lentera

Taufiq, Muhammad Izzudin. 2006. Al-Qur’an dan Alam Semesta. Solo: Tiga Serangkai

As Samarqundi, Abu Laitc. 2005. Terjemah Tanbihul Ghafilin. Semarang: Karya Toha Putra

Wassil, Jan Ahmad. 2001. Memahami Isi Kandungan Al-Qur’an. Jakarta: UI-Press

Amini, Ibrahim. 2009. Dunia Lain. Jakarta: Al-Huda

Ar-Rifa’I, Muhammad Nasib. 1999. Kemudahan dari Allah. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3. Jakarta: Gema Insani.

Madani, Malik dan Muhammad Chirzin. 2007. Rahasia Al-Qur’an. Depok: Darul Hikmah






Yüklə 51,5 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə