Bab I pendahuluan a. Latar Belakang



Yüklə 148,24 Kb.
səhifə1/3
tarix08.01.2019
ölçüsü148,24 Kb.
#92760
  1   2   3

BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Kemajuan yang telah merambah dalam berbagai aspek kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, budaya dan polotik, mengharuskan individu untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan pasti. Padahal dalam kenyataannya tidak semua individu mampu melakukannya sehingga yang terjadi justru masyarakat atau manusia yang menyimpan banyak problem. Tidak semua orang ,mampu beradaptasi, akibatnya adalah individu-inbdividu yang menyimpan berbagai problem psikis dan fisik, dengan demikian dibutuhkan cara efektif untuk mrngatasinya.

Berbicara masalah solusi, kini muncul kecendrungan masyarakat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual (tasawuf). Tasawuf sebagai inti ajaran islam muncul dengan memberi solusi dan terapi bagi problem manusia dengan cara mendekatkan diri kepada Allah yang maha pencipta. Peluang dalam menangani problema ini semakin terbentang luas diera modern ini. Tulisan ini berangkat dari sebuah fenomena sosial masyarakat yang kini hidup di era modern, dengan perubahan sosial yang cepat dan komunikasi tanpa batas, dimana kehidupan cenderung berorientasi pada materirialistik, skolaristik, dan rasionalistik dengan kemajuan IPTEK di segala bidang. Kondisi ini ternyata tidak selamanya memberikan kenyamanan, tetapi justru melahirkan abad kecemasan (the age of anxienty). Kemajuan ilmu dan teknologi hasil karya cipta manusia yang memberikan segala fasilitas kemudahan, ternyata juga memberikan dampak berbagai problema psikologis bagi manusia itu sendiri. Masyarakat modern kini sangat mendewa-dewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, sementara pemahaman keagamaan yang didasarkan pada wahyu sering di tinggalkan dan hidup dalam keadaan sekuler. Mereka cenderung mengejar kehidupan materi dan bergaya hidup hedonis dari pada memikirkan agama yang dianggap tidak memberikan peran apapun. Masyarakat demikian telah kehilangan visi ke-Ilahian yang tumpul penglihatannya terhadap realitas hidup dan kehidupan. Kemajuan-kemajuan yang terjadi telah merambah dalam berbagai aspek kehidupan, baik sosial, ekonomi budaya dan politik. Kondisi ini mengharuskan individu untuk beradaptasi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat dan pasti. Padahal dalam kenyataannya tidak semua individu mampu melakukannya sehingga yang terjadi justru masyarakat atau manusia yang menyimpan banyak problem. Bagi masyarakat kita, kehidupan semacam ini sangat terasa di daerah-daerah perkotaan yang saling bersaing dalam segala bidang. Sehingga kondisi tersebut memaksa tiap individu untuk beradaptasi dengan cepat. Padahal tidak semua orang mampu untuk itu. Akibatnya yang muncul adalah individu-individu yang men

yimpan berbagai problem psikis dan fisik, dengan demikian dibutuhkan cara efektif untuk mengatasinya. Berbicara masalah solusi, kini muncul kecenderungan masyarakat untuk mengikuti kegiatan-kegiatan spiritual (tasawuf). Tasawuf sebagai inti ajaran Islam muncul dengan memberi solusi dan terapi bagi problem manusia dengan cara mendekatkan diri kepada Allah yang Maha Pencipta. Selain itu berkembang pula kegiatan konseling yang memang bertujuan membantu seseorang menyelesaikan masalah. Karena semua masalah pasti ada penyelesaiannya serta segala penyakit pasti ada obatnya. Peluang tasawuf dalam menangani penyakit-penyakit psikologis atas segala problem manusia, semakin terbentang lebar di era modern ini. Maka dari itu, penulis mencoba  untuk mengulas sedikit tentang Tasawuf di Era Modern.



B.       Rumusan Masalah

Untuk lebih terarahnya pembahasan ini, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:



  1. Bagaimana cara pandang tasawuf di era modern?

  2. Apa makna tasawuf dalam konteks yang luas?

  3. Apa fungsi tasawuf di era modern terhadap kehidupan sekarang ini?

  4. Penerapan Konsep Tasawuf Dalam Kehidupan Modern

C.      Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulis adalah sebagai berikut:



  1. Untuk mengetahui cara pandang tasawuf di era modern.

  2. Untuk memahami tasawuf dalam konteks yang luas (kehidupan).

  3. Untuk mengetahui fungsi tasawuf di era modern terhadap kehidupan.

  4. untuk mengetahui Penerapan Konsep Tasawuf Dalam Kehidupan Modern.


BAB II

PEMBAHASAN


  1. Pengertian Tasawuf Positif (Tasawuf Modern)

Dari sejarahnya, Sufisme masuk pada tahap yang lebih dalam, dan lebih dari syari'ah. Dia merupakan perjalanan lebih lanjut dari syari'ah, bukan semata lahiriyah saja, tapi juga batiniyah. Ciri khas pada sufisme adalah pada yang batiniyah itu. Artinya yang disentuh di dalam tasawuf adalah aspek-aspek hubungan batin manusia dengan Tuhan, ketimbang ritualnya. Tapi, ini bukan berarti Tasawuf meninggalkan sisi ritual. Kita sering menyebutnya dengan istilah tasawuf positif.

Tasawuf Positif atau tasawuf modern merupakan tasawuf yang bersikap positif terhadap kehidupan duniawi, yang dibuktikan dengan melibatkan diri dalam kegiatan duniawi, seperti ; bisnis, pemerintahan, politik, pendidikan, dan lain-lain. Dengan kata lain, tasawuf positif ini menghendaki manusia taat beribadah kepada Allah tetapi aktif pula dalam berbagai kegiatan duniawi.

Kemudian tasawuf positif tidak mengabaikan syari’ah. Tasawuf dan syariah tidak saling menolak, tetapi memperkuat satu sama lain, sehingga tidak ada tasawuf tanpa syari’ah dan tidak ada syari’ah tanpa tasawuf. Dalam tasawuf positif akhlak merupakan sasaran menjalani kehidupan sufisfik, yakni orang yang mempraktikkan kehidupan sufisfik selalu mengontrol nafsunya, sehingga menjadi orang yang sabar, bebas dari dengki, iri, dendam, kemarahan yang tidak pada tempatnya, nafsu serakah, dan lain-lain.

Akhirnya, tasawuf positif mementingkan amal saleh sebagai bagian dari akhlak sosial dan bukan hanya akhlak individual. Ini berbeda dengan tasawuf selama ini yang kadang-kadang dianggap sebagai anti sosial, karena mengajarkan



  1. Tasawuf Di Era Modern

Tasawuf di era modern ini, ditempatkan sebagai cara pandang yang rasional sesuai dengan nalar normatif dan nalar humanis-sosiologis. Kepekaan sosial, lingkungan (alam) dan berbagai bidang kehidupan lainnya adalah bagian yang menjadi ukuran bahwa tasawuf di era modern itu tidak sekedar pemenuhan spiritual, akan tetapi lebih dari itu yaitu mampu membuahkan hasil bagi yang ada di bumi ini.

Menurut Bagir tasawuf itu bukan barang mati. Sebab tasawuf itu merupakan produk sejarah yang seharusnya dikondisikan sesuai dengan tuntutan dan perubahan zaman. Penghayatan tasawuf bukan untuk diri sendiri, seperti yang kita temui di masa silam. Tasawuf di era modern adalah alternatif yang mempertemukan jurang kesenjangan antara dimensi ilahiyah dengan dimensi duniawi. Banyak orang yang secara normatif (kesalehan individu) telah menjalankan dengan sempurna, tetapi secara empiris (kesalehan sosial) kadang-kadang belum tanpak ada. Dengan demikian lahirnya tasawuf di era modern diharapkan menjadi tatanan kehidupan yang lebih baik.

Rasulullah dalam kehidupan beliau telah menggambarkan sebagai orang sufi yang sangat sederhana,  beliau menjauhkan dirinya dari kehidupan mewah, yang merupakan amalan zuhud dalam ajaran Tasawuf. Beliau sering melakukan khalwat di Jabal Nur untuk mendapatkan petunjuk dari tuhan-Nya. Berulangkali Nabi menempuh kehidupan yang seperti itu, dengan bekal yang sangat terbatas; berupa roti kering, buah-buahan dan air putih, yang menggambarkan kesederhanaan seorang sufi.

Di Jabal Nur, Nabi mengasingkan dirinya (‘uzlah) dan hidup sendirian (infirad) dari masyarakat Quraisy yang semakin hari semakin rusak akhlaknya. Ditempat itu, beliau ingin bertemu dengan tuhan-Nya (liqa) dan memohon petunjuk-Nya serta mencari kehidupan yang berbeda dengan kehidupan Quraisy yang setiap saat melakukan dosa. Akhirnya datanglah malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu Allah yang mengandung petunjuk dan ajaran, yang selanjutnya disampaikan kepada umat manusia, agar terhindar dari jalan yang sesat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.

Setelah Nabi resmi diangkat menjadi Rasul, ia mulai melaksanakan tugasnya, dengan menanamkan keimanan dan akhlaq mulia kepada masyarakat Quraisy. Meskipun nabi sebagai kepala pemerintahan, ia masih tetap memiliki kehidupan yang sederhana, sebagaimana yang diriwayatkan oleh para Sahabatnya, bahwa dirumah beliau hanya terdapat selembar tikar dan makanan yang sederhana. Dan kadang-kadang juga Nabi dan keluarganya berpuasa karena tidak ada makanan di rumahnya.

Beberapa sahabat yang tergolong sufi di abad pertama, dan berfungsi sebagai Maha guru bagi pendatang dari luar kota Madinah, yang tertarik kepada kehidupan sufi antara lain:



  1. Abu Bakar As-Siddiq; wafat tahun 13 H.

Sebagai saudagar yang kaya raya ketika masih berada di Makkah. Namun ketika hijrah ke Madinah harta kekayaannya habis karena disumbangkan untuk kepentingan tegaknya agama Allah, sehingga ia dan keluarganya mengalami kemiskinan dalam hidupnya.

  1. Umar bin Khattab; wafat tahun 23 H.

Sebagai orang yang tinggi kasih sayangnya terhadap sesama manusia. Dan ketika menjadi Khalifah, beliau selalu mengadakan pengamatan langsung terhadap keadaan rakyatnya. Suatu ketika Umar mendapatkan seorang ibu yang berpura-pura memasak untuk menenangkan tangis anak-anaknya yang sangat lapar. Ketika umar menyelidikinya, ia malihat bahwa yang di masak itu adalah batu, maka beliau bertanya kepada ibu itu, mengapa ibu tidak memasak roti, hanya memasak batu? Jawab si ibu, saya tidak mempunyai gandum. Seketika itu pula Umar pulang dengan cepat mengambil gandum di Baitul Mal kemudian ia sendiri yang memikulnya untuk diberikan kepada ibu yag miskin tadi. Inilah sikap Tawadhu’ Umar sebagi seorang sufi dan yang senang hidup dalam kemiskinan sebagai halnya Abu Bakar.

  1. Utsman bin Affan; wafat tahun 35 H.

Meskipun ia diberi kelapangan rizki oleh Allah, namun ia selalu ingin hidup yang sederhana. Sedangkan harta kekayaannya yang berlimpah ruah, selalu dijadikan sarana untuk menolong orang-orang miskin. Hal ini tergambar pada dirinya bahwa ia termasuk sufi, karena beliau tidak tertarik kepada kekayaan atau kesenangan duniawi.

  1. Ali bin Abi Thalib; wafat tahun 40 H.

Beliau juga termasuk orang yang senang hidup sederhana, dalam suatu riwayat, bahwa ketika sahabat lain berkata kepadanya, mengapa Khalifah senang memakai baju itu? Padahal baju itu sudah robek-robek, Ali menjawab, aku senang memakainya agar menjadi tauladan kepada orang banyak sehingga mereka mengerti bahwa hidup sederhana itu merupakan sikap yang mulia. Maka sikap dan pernyataan inilah yang menandakan diri beliau sebagai seorang sufi.

Dan untuk contoh-contoh perilaku bertasawuf dari tokoh-tokoh ulama sufi thabi’in antara lain:



  • Al-Hasan_Al-Basry;_hidup_tahun_22_H-110_H.__Ia_mendapatkan_ajaran_Tasawuf_dari_Hudhaifah_bin-Yaman'>Al-Hasan Al-Basry; hidup tahun 22 H-110 H.

Ia mendapatkan ajaran Tasawuf dari Hudhaifah bin-Yaman, sehingga ajaran itu mempengaruhi sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Maka ia dikenal sebagai ulama sufi yang sangat dalam ilmunya tentang rahasia-rahasia yang terkandung dalam ajaran Islam, dan sangat menguasai ilmu batin.

Ilmu yang didapatkan dari gurunya selalu diajarkan kepada murid-muridnya yang bertebaran di kota Basrah. Iapun dikeal sebagai orang yang pertama kali menggunakan Masjid Basrah sebagai madrasah (tempat mengajarkan ilmu agama)

Dalam mengamalkan ajaran zuhud, ia berpendapat bahwa kita harus lebih dahulu memperkuat perasaan tawakkal kepada Allah, khauf (takut) terhadap siksaan-Nya dan raja’ (mengharapkan) karunia-Nya. Kemudian kita harus meninggalkan kenikmatan dunia, karena hal itu merupaka hijab (penghalang) dari keridaan Allah SWT.

Ada beberapa pernyataan (kata-kata hikmah) yang pernah dilontarkan kepada murid-muridnya;



  1. Perasaan takut yang mengarah kepada perasaan tentram, lebih baik daripada perasaan tentram yang akan menimbulkan perasaan takut.

  2. Tafakur membawa kita kepada kebaikan yang akan dikerjakannya. Menyesal atas kesalahan, berarti kita sadar dan akan meninggalkannya. Barang yang bersifat fana (binasa) tidak dapat mengalahkan barang baqa (tetap), meskipun yang fana itu lebih banyak daripada yang baqa. Maka jagalah dirimu dari sesuatu yang menjadi tipuan bagimu.

  3. Orang yang beriman selalu berduka cita, karena ia hidup antara dua ketakutan;yakni mengenang dosanya yang telah lalu dengan segala ganjarannya kelak, serta takut ketika memikirkan dosa yang mungkin akan diperbuatnya.

  4. Akhir kehidupan dunia merupakan awal kehidupan akhirat di kubur.

  • Rabi’ah Al-Adawiyah; wafat tahun 185 H.

Manusia harus sadar bahwa kematin sedang menghadangnya, hari kiamat akan menepati janjinya dan hambanya akan dihadapakn kepada pengadilan di akhirat.

Ia terkenal sebagai ulama sufi wanita yang mempunyai banyak murid dari kalangan wanita pula. Kalau Al-Hasan menganut zuhud dengan menonjolkan falsafah tawakal, khauf dan raja’, maka Rabi’atul Adawiyah menganut zuhud dengan menonjolkan falsafah hubb (cinta) dan shauq (rindu) kepada Allah.

Salah satu pernyataannya yang melukiskan falsafah hubb dan shauq yang mewarnai kehidupannya adalah: ”Saya tidak menyembah Allah karena takut kepada neraka-Nya, dan tidak pula tamak untuk mendapatkan syurga (karena hal itu) akan menjadikan saya seperti pencari imbalan yang berakhlak buruk. (ketahuliah), bahwa saya menyembah-Nya karena cinta dan rindu kepada-Nya”.


  • Sufyan bin Said Al-Thury;hidup tahun 97 H -161 H.

Ia dilahirkan di Kufah, kemudian meninggal di Basrah. Dan beliau termasuk salah seorang ulama sufi yang dikagumi, karena kezuhudan serta kealimannya.

Masa hidupnya diisi dengan pengabdian secara Tasawuf, dan aktif mengajarkan ilmu yang ada padanya. Iapun selalu menyeru kepada sesama Ulama’ agar menjauhkan dirinya dari godaan dunia yang sering membawa manusia lupa mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Salah satu kata hikmahnya yang melukiskan bahaya yang menimpa ulama, bila menyenangi kehidupan dunia, berbunyi: “Apabila ulama yang rusak; maka siapakan yang akan memperbaikainya dan kerusakan mereka karena kecenderungannya kepada kehidupan dunia”.

Pendirian beliau sangat teguh dan tidak mau mendekati penguasa, tetapi suatu ketika, ia dipanggil menghadap oleh Khalifah Al-Mansur untuk mempertanggung jawabkan sikapnya terhadap penguasa. Ia tetap lantang pembicaraannya di hadapan khalifah sehingga orang menganggap bahwa ia pasti dipenjara, tetapi hal itu tidak terjadi baginya.

Beliau pernah ditanya oleh seorang yang mengatakan: jika sufi berkhalwat (menyepi) untuk beribadah kepada Allah, apakah yang akan dimakannya? Beliau menjawab: orang yang takut kepada Allah, tidak akan khawatir apapun yang menimpanya. Dan seorang sufi, hanya berusaha sendiri untuk biaya hidupnya, sekedar memperkuat pisiknya beribadah kepada Tuhan-Nya. Seorang tidak boleh memberatkan orang lain, termasuk tidak mengemis makanan dan menumpang tempat tinggal.




  1. Memahami Dunia Tasawuf

Tasawuf pada dasarnya merupakan jalan atau cara yang ditempuh oleh seseorang untuk mengetahui tingkah laku nafsu dan sifat-sifat nafsu, baik yang buruk maupun yang terpuji. Karena itu kedudukan tasawuf dalam Islam diakui sebagai ilmu agama yang berkaitan dengan aspek-aspek moral serta tingkah laku yang merupakan substansi Islam. Dimana secara filsafat sufisme itu lahir dari salah satu komponen dasar agama Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Kalau iman melahirkan ilmu teologi (kalam), Islam melahirkan ilmu syari’at, maka ihsan melahirkan ilmu akhlaq atau tasawuf. (Amin Syukur, 2002:112).

Meskipun dalam ilmu pengetahuan wacana tasawuf tidak diakui karena sifatnya yang Adi Kodrati, namun eksistensinya di tengah-tengah masyarakat membuktikan bahwa tasawuf adalah bagian tersendiri dari suatu kehidupan masyarakat; sebagai sebuah pergerakan, keyakinan agama, organisasi, jaringan bahkan penyembuhan atau terapi. (Moh. Soleh, 2005: 35)

Tasawuf atau sufisme diakui dalam sejarah telah berpengaruh besar atas kehidupan moral dan spiritual Islam sepanjang ribuan tahun yang silam. Selama kurun waktu itu tasawuf begitu lekat dengan dinamika kehidupan masyarakat luas, bukan sebatas kelompok kecil yang eksklusif dan terisolasi dari dunia luar. Maka kehadiran tasawuf di dunia modern ini sangat diperlukan, guna membimbing manusia agar tetap merindukan Tuhannya, dan bisa juga untuk orang-orang yang semula hidupnya glamour dan suka hura-hura menjadi orang yang asketis (Zuhud pada dunia). Proses modernisasi yang makin meluas di abad modern kini telah mengantarkan hidup manusia menjadi lebih materealistik dan individualistic. Perkembangan industrialisasi dan ekonomi yang demikian pesat, telah menempatkan manusia modern ini menjadi manusia yang tidak lagi memiliki pribadi yang merdeka, hidup mereka sudah diatur oleh otomatisasi mesin yang serba mekanis, sehingga kegiatan sehari-hari pun sudah terjebak oleh alur rutinitas yang menjemukan. Akibatnya manusia sudah tidak acuh lagi, kalau peran agama menjadi semakin tergeser oleh kepentingan materi duniawi (Suyuti, 2002: 3 - 5).

Menurut Amin Syukur, tasawuf bagi manusia sekarang ini, sebaiknya lebih ditekankan pada tasawuf sebagai akhlak, yaitu ajaran-ajaran mengenai moral yang hendaknya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari guna memperoleh kebahagiaan optimal. Tasawuf perilaku baik, memiliki etika dan sopan santun baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun terhadap Tuhannya (Syukur, 2003:3).

Menurut Omar Alishah, yang menjadi salah satu ajaran penting dalam tasawuf adalah pemahaman tentang totalitas kosmis, bumi, langit, dan seluruh isi dan potensinya baik yang kasar mata maupun tidak, baik rohaniah maupun jasmaniah, pada dasarnya adalah bagian dari sebuah sistem kosmis tunggal yang saling mengait, berpengaruh dan berhubungan. Sehingga manusia mempunyai keyakinan bahwa, penyakit atau gangguan apapun yang menjangkiti tubuh kita harus dilihat sebagai murni gejala badaniah ataupun kejiwaan manusiawi, sehingga seberapapun tingkatan keparahannya akan tetap dapat ditangani secara medis (medical care) (Alishah, 2002:11).

Pendapat Alishah tersebut senada dengan apa yang dijelaskan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an, bahwa setiap kali terjalin komunikasi dengannya seseorang akan memperoleh energi spiritual yang menciptakan getaran-getaran psikologi pada aspek jiwa raga, ibarat curah hujan membasahi bumi yang kemudian menciptakan getaran-getaran duniawi dan menyebabkan tanaman tumbuh subur. Sesuai dengan firman Allah yang tertera dalam QS. Al-Hajj: 5


فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنْبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍ بَهِيجٍ (الحج: 5)

Artinya      : “ketika kami turunkan hujan di atasnya ia pun bergerak dan subur mengembang menumbuhkan berbagai tanaman indah (berpasang-pasangan) (QS; Al-Haj: 5).




  1. Tasawuf Sebagai Terapi

Omar Alishah dalam bukunya “Tasawuf Sebagai Terapi” menawarkan cara Islami dalam pengobatan gangguan kejiwaan yang dialami manusia, yaitu dengan cara melalui terapi sufi. Terapi tasawuf bukanlah bermaksud mengubah posisi maupun menggantikan tempat yang selama ini di dominasi oleh medis, justru cara terapi sufi ini memiliki karakter dan fungsi melengkapi. Karena terapi tasawuf merupakan terapi pengobatan yang bersifat alternatif. Tradisi terapi di dunia sufi sangatlah khas dan unik. Ia telah dipraktekkan selama berabad-abad lamanya, namun anehnya baru di zaman-zaman sekarang ini menarik perhatian luas baik di kalangan medis pada umumnya, maupun kalangan terapis umum pada khususnya. Karena menurut Omar Alisyah, terapi sufi adalah cara yang tidak bisa diremehkan begitu saja dalam dunia terapi dan penanganan penyakit (gangguan jiwa), ia adalah sebuah alternatif yang sangat penting. (Alishah, 2004;5)

Tradisi sufi (tasawuf) sama sekali tidak bertujuan mengubah pola-pola terapi psikomodern dan terapi medis dengan terapi sufis yang penuh dengan spiritual, sebaliknya apa yang dilakukan Omar justru melengkapi dan membatu konsep-konsep terapi yang telah ada dengan cara mengoptimalkan peluang kekuatan individu seseorang untuk menyembuhkan dirinya, beberapa tehnik yang digunakan Omar Alishah dalam upaya terapeutik yang berasal dari tradisi-tradisi tasawuf antara lain yaitu tehnik “transmisi energi dan tehnik metafor” (Alishah, 2002:151).

Dengan demikian, terapi tasawuf atau sering juga disebut dengan penyembuhan sufis adalah penyembuhan cara islami yang dipraktekkan oleh para sufi ratusan tahun lalu. Prinsip dasar penyembuhan ini adalah bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah Yang Maha penyembuh, sedangkan para sufi sebagai terapis hanya bertindak sebagai perantara.(Najar, 2004: 195).


  1. Peranan Tasawuf Dalam Kehidupan Modern

Di era globalisasi (zaman modern) ini adalah beberapa masalah yang muncul dalam masyarakatnya, yaitu:

  1. Desintegrasi ilmu pengetahuan

Kehidupan modern, antara lain ditandai oleh adanya spesialisasi dibidang ilmu pengetahuan. Masing-masing ilmu pengetahuan mempunyai cara pandang sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Jika seseorang menghadapi masalah, lalu ia pergi kepada kaum teolog, ilmuwan, politisi, sosiologi, ahli biologi, psikolog, etnologi, dan ekonom. Mereka akan memberikan jawaban yang berbeda-beda dan terkadang saling bertolak belakang, hal ini pada akhirnya dapat membingungkan manusia.

  1. Kepribadian yang terpecah

Karena kehidupan manusia modern jauh dari nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak maka kepribadian manusia akan terpecah.

  1. Penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi

Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya. Misalnya kemampuan membuat senjata yang diarahkan untuk tujuan penjajahan bangsa lain.

  1. Pendangkalan iman

Sebagai akibat lain dari pola piker keilmuwan tersebut, khususnya ilmu- ilmu yang hanya mengakui fakta-fakta yang bersifat empiris, dapat menyebabkan iman manusia menjadi dangkal.

  1. Pola hubungan materialistik

Semangat persaudaraan dan rasa saling tolong menolong yang didasarkan atas panggilan iman sudah tidak tampak lagi.

  1. Menghalalkan segala cara

Sebagai akibat dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik, manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan.

  1. Stress dan frustasi

Kehidupan modern yang demikian kompetitif menyebabkan manusia harus mengerahkan seluruh pikiran, tenaga, dan kemampuannya. Mereka terus bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan. Akibatnya jika terkena problem yang tidak dapat dipecahkan dirinya, ia akan stress dan frustasi.

  1. Kehilangan harga diri dan masa depan

Terdapat sejumlah orang salah memilih jalan kehidupan. Masa mudanya dihabiskan untuk memperturutkan hawa nafsu dan segala cara telah ditempuhnya.

Pada abad XXI ini, penghayatan orang terhadap tasawuf dituntut lebih humanistik, empirik, dan fungsional dari yang sebelumnya. Penghayatan terhadap ajaran islam, bukan hanya reaktif, tetapi aktif serta memberikan arah kepada sikap hidup manusia didunia ini baik berupa moral, spiritual, ekonomi, sosial dan sebagainya. Dan ketika tasawuf menjadi ‘pelarian’ dari dunia yang ‘kasat mata’ menuju dunia yang spiritual, bisa dikatakan sebagai reaksi dan tanggung jawab sosial, yakni kewajiban dalam melaksanakan tugas dan merespons terhadap masalah-masalah sosial.

Saat ini manusia berada di tengah-tengah kehidupan masyarakat modern, atau sering pula disebut sebagai masyarakat yang sekuler. Pada umumnya, hubungan antara anggota masyarakat atas dasar prinsip-prinsip fungsional pragmatis. Mereka merasa bebas dan merasa lepas dari kontrol agama dan pandangan dunia metafisis.

Dalam masyarakat modern yang cenderung rasionalis, sekuler dan materialis, ternyata tidak menambah kebahagiaan dan ketentraman hidupnya. Berkaitan dengan itu, Sayyid Hossein Nasr, menilai bahwa akibat masyarakat modern yang mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, berada dalam wilayah pinggiran eksitensinya sendiri. Masyarakat yang demikian adalah masyarakat barat yang telah kehilangan visi keahlian. Hal ini menimbulkan kehampaan spiritual, yang berakibat banyaknya dijumpai orang yang stress dan gelisah akibat tidak mempunyai pegangan hidup.

Kegelisahan masyarakat modern itu antara lain disebabkan oleh perasaan takut kehilangan apa yang dimiliki, timbulnya rasa takut masa depan yang tidak disukai, merasa kecewa dengan hasil kerja yang tidak mampu memenuhi harapan dan kepuasan spiritual, dan karena dirinya banyak melakukan pelanggaran dan dosa. Untuk itu Hossein Nasr menawarkan alternative, agar mereka mau mendalami dan menjalankan tasawuf karena tasawuf dapat memberikan jawaban terhadap kebutuhan spiritual mereka. Disini tanggung jawab tasawuf bukan melarikan diri kehidupan nyata ini, akan tetapi ia adalah suatu usaha mempersenjatai dengan nilai-nilai ruhaniah, sebab dalam tasawuf selalu dilakukan zikir kepada Allah sebagai sumber gerak, sumber norma, sumber motivasi, dan sumber nilai.

Kehadiran tasawuf dapat melatih manusia agar memiliki ketajaman batin dan kehalusan budi pekerti. Tasawuf akan membawa manusia memiliki jiwa istiqomah yaitu jiwa yang selalu diisi dengan nilai-nilai ilahiah. Ia selalu mempunyai pegangan dalam hidupnya. Keadaan demikian menyebabkan ia tetap tabah dan tidak mudah terhempas oleh cobaan yang akan membelokkannya kejurang kehancuran. Dengan demikian, stress, putus asa dan lainnya akan dapat dihindari.

Itulah sumbangan positif yang dapat digali dan dikembangkan dari ajaran tasawuf. Untuk itu, dalam mengatasi problematika kehidupan masyarakat modern saat ini, akhlak tasawuf harus dijadikan salah satu alternatif terpenting. Ajaran tasawuf perlu disuntikkan kedalam seluruh konsep kehidupan. Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan perlu dilandasi dengan ajaran tasawuf.



  1. Yüklə 148,24 Kb.

    Dostları ilə paylaş:
  1   2   3




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə