Bab I pendahuluan latar Belakang Masalah



Yüklə 105,88 Kb.
tarix27.10.2017
ölçüsü105,88 Kb.
#17235

BAB I

PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang Masalah

Al-Insan (manusia) sebagai salah satu makhluk Allah telah menarik perhatian banyak peneliti, mungkin karena ia unik. Kecenderungan penelitian tentang al-Insan karena al-Insan merupakan objek kajian yang terpenting, sehingga mendapat perhatian lebih dari para ilmuan, seperti sosiolog, antropolog, psikolog, filosof, agamawan, dan lain-lain.

Menurut pandangan klasik dari Yunani dan Romawi, manusia itu adalah makhluk yang berakal. Plato misalnya, menyatakan akallah yang membuat manusia menjadi manusia dan berbudi pekerti. Bagi Aristoteles, akal adalah kekuatan yang tinggi dari jiwa, akal adalah sifat milik manusia yang memisahkannya dari watak yang non-manusiawi. Pandangan renaisans1 terhadap manusia tetap memberikan kesan “percaya kepada akal” sebagai pokok dasar dari defenisi manusia. Perbedaannya dengan pandangan klasik adalah bahwa keistimewaan manusia itu dilihat dari segi kebebasan dan hubungan manusia dengan Tuhan.2

Sebagai kitab suci dari Allah, Al-Qur`an merupakan petunjuk yang mengandung pedoman dan informasi bagi manusia dunia dan akhirat. Persoalan tentang al-Insan-pun dapat dirujuk dalam al-Qur`an. Namun, isi al-Qur`an baru akan menjadi petunjuk-petunjuk bila telah dipelajari dan dipahami. Apabila dihayati dan diamalkan, ia akan membentuk realitas keimanan yang dibutuhkan bagi stabilitas dan ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat.3

Salah satu informasi penting al-Quran tentang manusia adalah mengenai potensi manusia. Ada banyak cara dan kata-kata yang digunakan al-Quran dalam menjelaskan tentang potensi manusia, contohnya saja seperti kata an-Nafs, ar-Ruh, al-Fitrah, al-Qalb, al-’Aql, al-Bashirah, al-Fu’ad dan al-Hawa. Masing-masing kata tersebut diungkapkan dalam al-Quran sebagai potensi yang dimiliki oleh manusia dan memiliki peran, fungsi dan kontek yang berbeda-beda. Namun, secara tektual kata potensi lebih dikenal dalam bahasa Arab dengan istilah Fitrah.

Kata al-Insan dijumpai di dalam al-Quran tersebut sebanyak 65 kali dalam 63 ayat yang tersebar ke dalam 43 surat.4 Kata al-Insan memiliki arti yang sama dengan istilah basyar dan al-nas,5 namun makna dari masing-masing kata itu berbeda. Secara harfiah, Insan berarti manusia, jama’nya kata al-nas.6 Kata insan memiliki tiga asal kata. Pertama, berasal dari kata anasa yang berarti ”melihat, mengetahui dan minta izin”. Kedua, berasal dari kata nasiya berarti ”lupa”. Ketiga, berasal dari kata al-uns yang artinya ”jinak lawan dari buas”.7

Menurut Quraish Shihab, kata al-Insan bila ditinjau dari sudut pandangan al-Quran lebih tepat asal katanya terambil dari kata al-uns. Quraish Shihab menambahkan, bahwa kata al-Insan digunakan dalam al-Quran untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raganya.8 Semua pengertian dari asal kata al-Insan tersebut di atas, menunjukkan kepada karakter dan kebiasaan kemanusiaan yang lahir dari kesadaran penalarannya, yaitu melihat, mengetahui, lupa, jinak atau damai.

Dalam al-Qur'an, al-Insan banyak disebut sebagai makhluk yang amat terpuji dan memiliki kualitas yang tinggi, tetapi disebut pula sebagai makhluk yang amat tercela.9 Manusia berkali-kali diangkat derajatnya, berulangkali pula direndahkan. Mereka dinobatkan jauh mengungguli alam sorga, bumi dan bahkan para malaikat, tetapi pada saat yang sama, mereka bisa tak lebih berarti dibandingkan dengan setan terkutuk dan binatang jahanam sekalipun.10

Menurut al-Thabathaba’iy, dilihat dari segi wujudnya, al-Insan adalah sesuatu yang tumbuh dan berkembang secara evolutif menuju kepada kesempurnaan.11 Artinya, al-Insan merupakan makhluk potensial. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa al-Insan adalah makhluk multidimensi. Disamping memiliki akal dan nafsu, ia juga merupakan makhluk yang dimuliakan dan puncak dari kesempurnaan ciptaan Allah yang diciptakan dalam gambaran-Nya,12 dan karena itu juga Al-Insan ialah makhluk yang dikondisikan sebagai penanggungjawab atas kelangsungan hidup ciptaan-ciptaan Allah yang lainnya.13

Keberadaan al-Insan semakin sempurna ketika Allah mengangkatnya sebagai khalifah di muka bumi.14 Al-Insan dibebani amanat untuk memakmurkan bumi ini ketika amanat itu ditolak oleh makhluk-makhluk Allah yang lain.15 Al-Insan menerima amanat itu karena secara potensi atau fitrah, ia sanggup menerima beban amanat dan memikulnya. Karena itu, al-Insan ditakdirkan oleh Allah sebagai makhluk yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, karena kehidupan dunia ini adalah ujian menuju kepada kehidupan yang lebih kokoh berupa kebahagiaan atau kesengsaraan.16

Ibn Katsir mengungkapkan, kekhalifahan dan kepemimpinan adalah satu kemulian besar yang Allah berikan kepada Adam a.s dan merupakan anugerah bagi keturunannya.17 An-Nahlawi juga mengatakan, manusia menurut pandangan Islam meliputi, Pertama, manusia sebagai makhluk yang dimuliakan, artinya Islam tidak memposisikan manusia dalam kehinaan, kerendahan atau tidak berharga seperti binatang, benda mati atau makhluk lainnya.18 Kedua, manusia sebagai makhluk istimewa dan terpilih. Salah satu anugrah Allah Swt. yang diberikan kepada manusia adalah menjadikan manusia mampu membedakan kebaikan dan kejahatan atau kedurhakaan dari ketakwaan dan dapat menilai diri sendiri serta mengarahkan perilaku dan pekerjaannya dengan bebas.19 Ketiga, manusia sebagai makhluk yang dapat dididik. Allah Swt. telah menganugrahi manusia sarana untuk belajar, seperti penglihatan, pendengaran dan hati. Dengan kelengkapan sarana belajar tersebut, Allah swt. selalu bertanya kepada manusia dalan firman-Nya “afala ta’qilun”, “afala tatafakkarun”, dan lain-lain pertanyaan Allah Swt. kepada manusia yang menunjukkan manusia mempunyai potensi untuk belajar.20

Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk melanggar perintah Allah swt., padahal Allah swt. telah menjanjikannya kedudukan yang tinggi.21 Sejak awal Allah Swt. menghendaki manusia untuk menjadi hamba-Nya yang paling baik, tetapi karena sifat dasar alamiahnya, manusia mengabaikan itu. Ini memperlihatkan bahwa pada diri manusia itu terdapat potensi-potensi baik, namun karena potensi itu tidak didayagunakan maka manusia terjerembab dalam lembah kenistaan, bahkan terkadang jatuh pada tingkatan di bawah hewan.22

Abdullah Fattah Jalal menyebutkan, banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan alat-alat potensial yang dianugerahkan oleh Allah kepada al-Insan untuk meraih dan menjadi manusia yang sempurna. Masing-masing mediasi itu saling berkaitan dan melengkapi.

Dari diuraikan di atas, terlihat semacam dualisme pandangan al-Quran terhadap al-Insan. Dengan posisi seperti ini, bagaimana proporsional dan keseimbangan perspektif al-Quran tentang al-Insan terkait dengan keunggulan serta kemuliaan al-Insan pada satu sisi dan kelemahan serta kekurangan al-Insan pada sisi yang lain yang dikaitkan dengan fitrah dan potensi-potensi yang dimilikinya. Lain dari pada itu, bagaimana pula wacana tafsir tentang keunggulan dan kelemahan al-Insan serta segala potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian masalah ini. Penulis akan mengupas masalah ini lebih dalam lagi secara ilmiah dan dideskripsikan ke dalam bentuk tesis dengan judul “Potensi Al-Insan Dalam Perspektif Al-Quran”.


  1. Rumusan dan Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka bahasan pokok yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah “bagaimana potensi al-Insan dalam perspektif al-Quran”.

Agar penelitian ini terfokus dan lebih terarah, maka berdasarkan rumusan di atas, penulis membatasi masalah pokok kepada;



  1. Bagaimana keutamaan dan keunggulan al-Insan dalam perspektif al-Quran

  2. Bagaimana kelemahan dan kekurangan al-Insan dalam perspektif al-Quran

  3. Bagaimana al-Insan yang berkualitas dalam perspektif al-Quran




  1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sejalan dengan batasan masalah yang telah penulis paparkan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah;

        1. Menjelaskan keutamaan dan keunggulan al-Insan dalam perspektif al-Quran

        2. Menjelaskan kelemahan dan kekurangan al-Insan dalam perspektif al-Quran

        3. Menjelaskan al-Insan yang berkualitas dalam perspektif al-Quran

Sedangkan kegunaan dari penelitian ini yang disesuaikan dengan tujuannya diantaranya ialah:

  1. Menambah referensi dan literatur dalam bidang tafsir

  2. Dapat mengembangkan wawasan keilmuan

  3. Ikut serta memberikan sumbangan ilmiah bagi perkembangan ilmu pengetahuan

  4. Memenuhi prasyarat mencapai gelar Magister

  5. Dapat dijadikan sebagai konsep yang berguna bagi perubahan masyarakat kearah yang lebih baik




  1. Defenisi Operasional

Judul penelitian ini adalah Potensi Al-Insan Dalam Perspektif Al-Qur`an. Untuk menghindari kesalah pahaman terhadap judul, maka perlu dijelaskan maksudnya:

Kata ”potensi” adalah kemampuan atau kekuatan dasar yang telah ada dalam diri manusia yang masih bersifat potensial atau dengan kata lain belum mengaktualisasi.23

Kata ”al-Insan” berasal dari bahasa Arab. Kata al-Insan mempunyai tiga asal kata. Pertama, berasal dari kata anasa yang berarti ”melihat, mengetahui dan minta izin”. Kedua, berasal dari kata nasia berarti ”lupa”. Ketiga, berasal dari kata al-uns yang artinya ”jinak lawan dari buas”.24 Menurut Jamil Shaliba, kata insan menunjukkan pada sesuatu yang secara khusus digunakan untuk arti manusia dari segi sifatnya, bukan fisiknya. Dalam bahasa Arab kata insan mengacu kepada sifat manusia yang terpuji seperti kasih sayang, mulia dan lainnya. Selanjutnya kata insan digunakan oleh filosof klasik sebagai kata yang menunjukan kepada arti manusia secara totalitas yang secara langsung mengarah pada hakikat manusia. Selain itu, kata insan juga menunjukkan pada arti terkumpulnya seluruh potensi intelektual, rohani, dan fisik yang ada pada manusia, seperti hidup, sifat kehewanan, berkata-kata dan lain sebagainya.25

Pengertian operasional, al-Insan yang dimaksud dalam judul ini ialah manusia yang dapat menunjukkan seluruh totalitasnya, yaitu jiwa dan raganya yang menyebabkan dia pantas untuk menerima amanah.

Kata ”perspektif” mempunyai arti, 1) Cara melukiskan suatu benda dan lain-lain pada permukaan yang mendatar sebagaimana terlihat oleh mata pada tiga dimensi (panjang, lebar, dan tingginya); 2) Sudut pandang; pandangan.26 Yang penulis maksud dalam tesis ini adalah cara al-Qur’an mengungkapkan tentang al-Insan.

Al-Qur`an adalah kitab suci umat Islam,27 Kitab yang mulia, kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW dan beribadah membacanya.28 Yang dimaksud adalah kitab suci umat Islam.

Secara keseluruhan judul ini bermaksud membahas arti penting potensi al-Insan terkait dengan keutamaan dan kekurangannya secara mendalam menurut konsep al-Qur`an.


  1. Kajian Kepustakaan

Dalam penelusuran kepustakaan, penulis tidak menemukan karya ilmiah yang membahas tentang potensi al-Insan dalam perspektif al-Quran yang menggunakan metode tafsir maudhu’iy. Namun begitu, penulis menemukan beberapa tulisan ilmiah yang telah membahas tema ini dalam perspektif lain.

Kajian-kajian tentang manusia sudah sangat tua dan sangat banyak dilakukan oleh para pakar dan pemikir, setua kehidupan manusia itu sendiri, baik sejak zaman filosof Yunani, zaman Islam, hingga pada sekarang ini.

Kajian tentang manusia sebelumnya antara lain telah dilakukan oleh Muhammad Yasir Nasution, dalam bukunya “Manusia Menurut Al-Ghazali”, M. Yasir Nasution mengemukakan konsep Al-Ghazali tentang manusia, manusia adalah makhluk yang terdiri dari badan (fisik atau jasmani), jiwa dan al-ruh. Essensi ketiganya adalah jiwa. Jiwa dan badan mempunyai hubungan yang aksidental, pada saat hubungan keduanya terputus. Kedua unsur itu disatukan dalam al-nafs (jiwa). Jiwa bersifat immateri dan dinamis.29 Karya ini berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan. Perbedaan yang paling signifikan ialah pada aspek penekanan dan objeknya. Karya Yasir hanya membahas bagian jiwa dari al-Insan. Sedangkan penulis, selain jiwa juga mengakaji bagian lain dari komponen al-Insan. Dari segi pendekatan, Yasir menggunakan pendekatan sufistik, sedangkan penulis menggunakan pendekatan tafsir.

Kajian tentang manusia sebelumnya juga telah dilakukan oleh H. Musa Asy’arie. Menurut Musa Asy’arie manusia disebutkan dalam al-Qur’an dalam berbagai bentuk suku kata seperti insan, dan basyar. Kedua kata itu mempunyai hubungan yang erat dengan kedudukan manusia sebagai khalifah dan ‘abd. Insan sebagai realisasi dari khalifah dan basyar merealisasikan sifat ‘abd.30 Dalam karya ini, Asy’arie melihat manusia dari segi penciptaannya serta makna-makna dari term-term yang memiliki arti manusia. Ia tidak melihat al-Insan dari sisi keutamaan dan kelemahan serta potensi-potensi yang dimilikinya sebagaimana yang penulis lakukan.

Muhammad Syamsuddin, juga telah melakukan kajian tentang manusia dalam pandangan KH. A.Azhar Basyir, bahwa eksistensi manusia adalah berasal dari ruh Allah yang mempunyai substansi material (dari tanah) dan substansi ruhaniah (ruh ciptaan Allah). Individualitas diukur secara emperis dalam keterlibatannya dengan sesama manusia dan lingkungannya. Keberadaannya ditentukan oleh relasi sosial disekitarnya. Dalam relasi sosial, individu dibatasi oleh norma-norma yang sudah ada, dan mereka terinternsalisasi oleh sistem nilai yang melingkupinya sejak kecil sampai dewasa.31 Karya Syamsuddin ini menyorot al-Insan dari sisi perkembangan mentalnya yang dilengkapi dengan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan mental tersebut, dari kecil hingga dewasa. Syamsudin tidak mengungkapkan potensi-potensi keunggulan dan kelemahan manusia secara signifikan. Inilah perbedaan penelitian penulis dengan karya Syamsudin.

Dalam tesis Adri di IAIN “IB” Padang (2007), dengan judul Filsafat Manusia Menyendiri Menurut Ibnu Bajjah. Dalam penelitiannya, Andri menjelaskan esensi dan eksistensi manusia dalam perspektif filosof. Andri juga sedikit menyinggung potensi manusia, namun ia menekatkan pada potensi akal manusia. Karena manusia akan dapat dikatakan telah memiliki eksistensi bila manusia telah mengaktualkan akalnya. Penelitian ini berbeda dengan penelitian penulis, yang melihat manusia secara holistik. Artinya, manusia dilihat dari sisi keunggulan dan kelemahannya serta segala potensi yang ia miliki.

Karya ilmiah Elvi Sukhairi (tesis, 2007 IAIN “IB” Padang), yang berjudul Penciptaan Perempuan Pertama Dalam Perspektif Tafsir Al-Quran. Dalam tesis ini ditemukan, Elvi membahas tentang “gambaran penciptaan manusia dalam al-Quran”. Dalam penelitiannya, Elvi lebih fokus menjelaskan masalah penciptaan manusia. Ia juga mengungkap tentang keunggulan dan keutamaan manusia, tetapi itu hanya dilihat dari sisi penciptaan dibanding dengan makhluk lain. Sedangkan keunggulan-keunggulan lainnya tidak, seperti keunggulan manusia dari sisi spritual, sosial, intelektual dan emosional. Di sinilah letak perbedaan penelitian Elvi dengan yang penulis lakukan

Sedangkan dalam karya ilmiah Hermawan (Tesis, 1998 IAIN “IB” Padang) yang berjudul Konsep Manusia Menurut At-Thabataba’iy (Suatu Studi Analisis Filsafati atas Tafsir Al-Mizan). Dalam penelitian ini, Hermawan melihat manusia dari sisi esensi, yaitu konsep penciptaan manusia. Ia menjelaskan material penciptaan, proses penciptaan serta tujuan penciptaan manusia. Hermawan tidak meneliti manusia dari sisi keunggulan dan kelemahannya serta potensi-potensi manusia. Perbedaan yang mendasar karya ini dengan penelitian penulis ialah terletak pada objek atau focus kajiaannya.

Tesis Yen Fikri Rani (2004) tentang Pemikiran Seyyed Hossein Nasr dalam Mengatasi Krisis Spritual Manusia menjelaskan Nasr memiliki formula yang utuh untuk mengatasi krisis spritual manusia. Pertama, malalui Islam awal dan Islam akhir dengan melihat sejarah Islam sebagai perbandingan untuk mengobati masyarakat yang dilanda keresahan akibat terjadinya kehampaan spritual, kedua, melalui filsafat Perennial yang menyoroti tentang pesan keagamaan yang sama pada setiap agama pada level esoteris, ketiga, melalui Tasawuf sebagai dimensi batiniah. Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan. Penelitian ini lebih focus kepada masalah aspek spiritual manusia dan kemudian pendekatan yang digunakan ialah pendekatan teosofis-sosiologis. Sedangkan penulis menjadikan al-Insan dan segala dimensinya sebagai objek sentral dengan menggunakan metode maudhu’i.

Taufiqurrahman (tesis, IAIN ”IB” Padang 2000) tentang Khalifah Dalam Perspektif al-Quran: Analisis Pendekatan Tafsir Tematik. Dalam penelitiannya, penulis mengangkatkan tema pokok, yaitu khalifah. Di sini khalifah dipahami sebagi predikat/amanah yang disandangkan kepada manusia yang nantinya akan dimintakan pertanggungjawabannya di akhirat dan juga dilihat sebagai suatu sistem kehidupan. Namun penelitian ini menggunakan kata-kata Khalifah yang terdapat di dalam al-Quran hanya dilihat pada aspek munasabahnya. Kemudian penulispun tidak konsisten menggunakan ayat-ayat yang menggunakan kata khalifah tersebut dalam menafsirkan permasalahan seputar khalifah. Penelitian yang telah dilakukan ini berbeda dengan penelitian yang penulis lakukan, karena penulis menjadikan Al-Insan sebagai kosentrasi subjek kajian dan menjelaskan aspek-aspek yang terkait dengan ke-Insan-an secara menyeluruh, termasuk juga al-Insan dilihat sebagai khalifah. Kemudian dari pada itu, penulis juga sedikit merasa terbantu oleh tesis Taufiqurrahman ini dalam mengungkap bagian-bagain tertentu dari konsep al-Insan.

Masih banyak lagi karya-karya lain yang telah malakukan kajian tentang manusia (al-Insan). Karya-karya tersebut tidak mungkin penulis muat semuanya. Namun begitu, karya tersebut dapat penulis jadikan sebagai rujukan dan perbandingan dalam proses penelitian nantinya.

Secara umum, yang menjadi perbedaan dengan karya-karya di atas dalam tesis ini adalah kajian al-Insan dilakukan secara lebih mendalam dan fokus terhadap objek kajian yakni kenggulan dan keutamaan al-Insan, kekurangan dan kelemahan al-Insan, dan al-Insan yang berkualitas.



  1. Metode Penelitian




      1. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan library research yang bercorak kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif-analisis kritis. Deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada saat penelitian dilakukan.32 Kemudian semua isyarat dan fenomena yang berhubungan dengan pokok objek kajian yang deskripsikan itu dianalisis secara kritis.


      1. Sumber Data (Rujukan)

Sumber data dalam penelitian ini dapat diklasifikasikan kepada dua jenis sumber. Pertama, sumber primer; yaitu ayat-ayat al-Quran yang yang menggunakan term-term yang menjadi padanan istilah al-Insan. Dalam menganalisis tafsiran ayat-ayat tersebut, penulis merujuk kitab-kitab tafsir al-Quran tahlili baik klasik maupun modern guna mengeksplorasi penafsiran ayat-ayat terkait, sesuai relevansi dan kebutuhan.

Kitab tafsir yang penulis gunakan untuk menganalisis tafsiran ayat-ayat al-Insan adalah Tafsir al-Quran al-‘Azhim (Tafsir Ibn Katsir), karya Ibn Katsir. Karena tafsir ini dipandang oleh ulama lebih selektif terhadap riwayat dan diakui banyak mufasir tentang otoritasnya. Selain itu, kitab tafsir ini juga banyak dijadikan sebagai rujukan primer oleh ulama-ulama modern dalam penafsiran tematik.

Dengan fokus kepada satu kitab tafsir bukan berarti penulis tidak menggunakan kitab-kitab tafsir yang lainnya. Tetapi penulis tetap menggunakan kitab-kitab tafsir yang lainya sebagai pembanding atau penguat dalam menjelaskan suatu tafsiran ayat nanntinya. Kitab-kitab tafsir tersebut ialah Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Quran, karya Muhammad ibn Jarir al-Thabari, tafsir ini terkenal dengan pendekatan historisnya. Tafsir al-Manar: Tafsir al-Quran al-Karim, karya Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, merupakan pakar tafsir modern dengan pendekatan rasional dan lebih fokus kepada isu sosial dan kemasyarakatan. Kitab Fiy Zilal al-Quran, karya Syyid Quthub; Mizan fiy Tafsir al-Quran, karya Muhammad Husain Thaba’thaba’iy. Kitab Tafsir al-Azhar, karya Hamka. Tafsir al-Misbah, karya M. Quraisy Shihab dan kitab-kitab tafsir lainnya.

Kedua, sumber sekunder, yaitu berupa buku-buku, artikel, jurnal dan karya-karya ilmiah lainnya yang memiliki relevansinya dengan pokok kajian masalah yang dibahas.

Dalam penterjemahan ayat-ayat al-Quran, penulis menggunakan al-Quran terjemahan keluaran Departemen Agama Republik Indonesia (Depag RI). Kemudian, untuk melacak ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan tema pembahasan, penulis menggunakan kitab al-Mu’jam al-Fahras li alfazh al-Quran al-Karim, karya Muhammad Fuad Abd al-Baqiy. Sedangkan untuk memonitor sebab turunnya ayat, penulis memakai kitab Asbab al-Nuzul, karya Abi al-Hasan ‘Ali Ibn Ahmad al-Wahidiy yang telah ditahqiq oleh Aiman Shalih Sya’ban.



Sebagai acuan dalam penulisan penelitian ini, digunakan buku pedoman penulisan karya tulis yang dikeluarkan oleh IAIN Imam Bonjol Padang, termasuk system transiterasinya.


      1. Langkah-langkah penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode tafsir maudhu’iy atau tematik, sebagai metode tafsir kontemporer yang cukup baik serta focus mengkaji sebuah tema dari tema-tema al-Quran dan tafsirnya. Penulis beranjak dari metode yang ditawarkan oleh Abd al-Hayy al-Farmawiy dalam kitabnya al-Bidayah fiy Tafsir al-Maudhu’iy.33 Langkah-langkah operasional tafsir al-Maudhu`iy yang digunakan ialah:

        1. Menetapkan tema yang akan dikaji berdasarkan tema-tema yang disajikan al-Qur`an dan tafsirnya.

        2. Menghimpun dan menetapkan ayat-ayat yang menyangkut masalah tersebut

        3. Menyusun secara sistematis ayat-ayat yang telah dihimpun sesuai dengan kerangka pembahasan.

        4. Mempelajari sebagian ayat-ayat yang terpilih dengan jalan menghimpun ayat-ayat yang sama pengertiannya, atau mengkompromikan antara ’Am dan Khash, yang mutlak dengan muqayyad, atau yang kelihatannya kontradiktif sehingga semuanya bertemu dalam satu muara tanpa perbedaan.

        5. Mengkaji pemahaman ayat-ayat itu dari pemahaman dan pendapat mufassir, baik klasik maupun kontemporer untuk melahirkan konsep yang utuh tentang al-Insan dan aspek yang berkaitan dengannya.

Semuanya dikupas dengan seksama menggunakan penalaran objektif, serta didukung oleh fakta, argumen hadits atau fakta kehidupan yang ditemukan dan tidak lupa pula menjelaskannya dengan ilmu-ilmu lain yang relevan dengan pembahasan yang dibahas, seperti sosiologi dan lain-lain.


1 Kata renaisance adalah istilah dalam bahasa Prancis. Dalam bahasa latin, “re + nasci” berarti kebangkitan kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh sejarahwan yang terkenal, Michelet, dan dikembangkan oleh J. Burckhardt (1800), untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa, dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15 dan ke-16. lihat Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Rosda, Bandung: 2005, h. 125

2


Harol H. Titus, dkk., Persoalan-persoalan Filsafat, terj. H.M. Rasjidi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), h. 41-42

3 Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 2005), h. 13, selanjutnya disebut Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an

4


Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqiy, al-Mu’jam al-Mufahras liy Alfazh al-Qur’an al-Karim, (Beirut: Dar al-Fikr, 1987), h. 119-120 selanjutnya disebut al-Baqiy, al-Mu’jam al-Mufahras

5

Di dalam al-Quran kata basyar disebut sebanyak 36 kali, dan digunakan untuk menggambarkan dimensi fisik manusia. Sedangkan istilah al-Nas digunakan dalam al-Quran untuk menyatakan adanya sekelompok orang atau masyarakat. Lihat Musa ’Asy’ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan Dalam Al-Quran, (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam, 1992), h. 19-27, selanjutnya disebut Musa ’Asy’ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan... Lih. Abdus Shabur Sahin, Penciptaan Nabi Adam; Mitos atau Realitas, pent. Hanif Anwari, judul asli, Abi Adam: Qishshahal-Khaliqah, (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2004), h. 70, Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an, h. 279-280



6 Mahmud Yunus, Kamus Bahasa Arab Indonesia, (Jakarta: Hidakarya, 1990), h. 51 & 387

7 Ibn Mansur, Lisan al-’Arab, (Mesir: Daral-Misriyah, 1968), Jil. VII, h. 306-314, selanjutnya disebut Ibn Mansur, Lisan al-’Arab

8


Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, h. 280

9


Abbas Mahmud al-Aqqad, Manusia Diungkap Qur’an, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993), h. 11

10


Murtadha Muthahhari, Perspektif al-Qur'an tentang Manusia dan Agama, terj, Sugeng Rijono dan Farid Gaban, (Bandung: Mizan, 1992), h. 117

11 Al-Allamah al-Sayyid Muhammad Husayn Al-Thabathaba’iy, Al-Mizan fiy Tafsir al-Quran, (Bairut: Muassasat al-a’lamiy li al-Mathbu’at, 1991), cet. I, Jil. I, h. 113. selanjutnya disebut Al-Thabathaba’iy, Al-Mizan fiy Tafsir al-Quran

12 Tim Penyusun, Enslikopedi Islam, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, tth), Jil. III, h. 163

13


"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi"QS. Al-Baqarah : 30

14

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…..” (QS. al-Baqarah (2):30)



15

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mere khawatir akan mengkhianatinya dan dipikullah amanat itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (al-Ahzab (33) : 72)



16 Al-Thabathaba’iy, Al-Mizan fiy Tafsir al-Quran, jil. XIX, h. 109

17


Abu al-Fida’ Isma’il Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, (Bairut: Dar al-Fikr, 1969), Jil.I, h. 69, selanjutnya disebut Ibn Katsir, Tafsir ibn Katsir

18


Lihat QS. al-Isra’(17) : 70 dan QS. al-Hajj (22) : 65

19


Q.S. Al-Israa’ : 70-72. lihat Ahzami Samiun Jazuli, Kehidupan Dalam Pandangan Al-Quran, terj. Sari Narulita dkk., (Jakarta: Gema Insani, 2006), h. 47-48

20

Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 35



21

Allah berfirman: “Dan kalau Kami menghendaki sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah…..” (QS. al-A’raaf (7) : 176)



22

Berhubungan dengan hal ini, K.H Didin Hafidhuddin mengacu pada surat al-Fatihah ayat 7 mengklasifikasikan manusia menjadi tiga, “ pertama;mereka golongan yang memperoleh nikmat. Kedua; golongan orang-orang yang dimurkai Allah. Ketiga: golongan orang-orang sesat”. Golongan yang pertama memperlihatkan bahwa pada dasarnya manusia mampu untuk mencapai derajat yang lebih baik, dan bisa saja melampau derajat para malaikat. Sedangkan dua kelompok berikutnya adalah golongan yang melupakan kebermanusiaan dalam manusia.” Didin Hafidhuddin, Tafsir al-Hijri, (Jakarta: Yayasan Kalimah Thayyibah, 2000), h. 204


Abdullah Fattah Jalal, Min al-Ushul al-Tarbiyah fi al-Islam (Mesir: Dar al-Kutub, 1977) h. 103-110.



23 MDJ. Al-Barry & Sofyan Hadi, Kamus Ilmiah Kontemporer, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), h. 246

24 Ibn Mansur, Lisan al-’Arab, h. 306-314

25


Jamil Shaliba, Al-Mu’jam al-Falsafi, (Beirut: Dar al-Kitab, 1978), Jil. I, h. 158

26


Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 602

27Tim Penyusun Kamus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, h. 32

28


Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia, h. 335

29 Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, ( Jakarta: Sri Gunting 1999), h. 217.

30


Musa Asy’ari, Manusia Pembentuk Kebudayaan, h. 151.

31 Muhammd Syamsuddin, Manusia dalam pandangan KH.A. Azhar Basyir, (Yogyakarta:Titian Ilahi Press, 1997), h. 95

32 Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), h. 234

33 Dalam kitab ini disebutkan langkah-langkah metode rafsir maudu’i, yaitu: 1) Menetapkan tema yang akan dikaji berdasarkan tema-tema yang disajikan al-Qur’an dan tafsirnya. 2) Menghimpun ayat-ayat yang berkaitan dengan tema tersebut sesuai dengan kronologi urutan turunnya. 3) Menyusun secara sistematis ayat-ayat yang telah dihimpun sesuai dengan kerangka pembahasan. 4) Meneliti secara cermat semua penggunaan kata atau kalimat yang dipakai dalam ayat-ayat terkait, terutama kosa kata yang menjadi pokok persoalan dalam ayat itu. 5) Mengkaji semua aspek yang berkaitan kata atau teks ayat secara seksama dengan melihat asbab nuzul dan munasabah ayat. 6) Mengkaji pemahaman ayat-ayat itu dari pemahaman dan pendapat mufassir, baik klasik maupun kontemporer untuk melahirkan konsep yang utuh tentang pokok masalah dan aspek yang berkaitan dengannya. Lihat Abd Hayy Al-Farmawy, al-Bidayah al-Tafsir al-Maudhu’iy, (Mishr: Mathba’at al-Hadharah al-’Arabiyyah, 1997), h. 52. selanjutnya disebut ‘Abd Hayy Al-Farmawy, Al-Bidayah al-Tafsir al-Maudhu’iy

Abd Hayy Al-Farmawy, Al-Bidayah al-Tafsir al-Maudhu’iy, h. 52, lih. Mustafa Muslim, Mabahits fiy al-Tafsir al-Maudhu’iy, (Dimasyq: Dar al-Qalam, 1989), h. 27

1


Yüklə 105,88 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə