Bab I pendahuluan latar Belakang



Yüklə 196,53 Kb.
səhifə1/3
tarix06.08.2018
ölçüsü196,53 Kb.
#67444
  1   2   3

BAB I

PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi manusia untuk saling berbagi pikiran, pengalaman, gagasan, pendapat, keinginan, dan harapan kepada sesama manusia. Dalam bahasa juga, manusia mewariskan, menerima, dan menyampaikan segala pengalaman dan pengetahuan lahir batin.

Pada karya sastra, bahasa yang dipergunakan berbeda dengan karya ilmiah. Dalam karya sastra penggunaan bahasa yang dihadapkan pada usaha sepenuhnya untuk pengungkapan isi batin, daya imajinasi pembaca atau perbandingannya, sedangkan karya ilmiah lebih dititikberatkan pada penggunaan bahasa yang merangsang pemikiran pembaca.

Karya sastra senantiasa hadir dengan wujud yang berlapis-lapis serta beraneka ragam makna di dalamnya. Hal ini membuka jalan penikmat atau pembaca untuk memberikan berbagai penafsiran ulang secara terus menerus atau hasil karya sastra. Seringkali karya sastra yang telah ditulis jauh di masa lampau, di masa kini dikaji kembali karena dipandang punya relevansi atas keadaan sekarang, sebaliknya, karya sastra yang dihasilkan di masa kini, bisa pula berarti refleksi atau anasir atau peristiwa di masa lalu yang mungkin telah dikekang dari ingatan. Karena itu karya sastra bisa dijadikan sebagai salah satu metode untuk merangsang bangkitnya ingatan-ingatan personal (personal memory) maupun ingatan-ingatan bersama (collective memory).

Sastra merupakan suatu hal yang tidak pernah lepas dari peradaban manusia. Hampir pada setiap zaman, sastra selalu memegang peranan penting karena mengkspresikan nilai-nilai kemanusiaan. Ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan yang diwujudkan dalam suatu gambaran kongkrit yang membangkitkan pesona.

Secara definitif rumusan-rumusan yang tetap terhadap karya sastra selalu sulit diberikan. Tapi, secara intuitif dapat dipantau dan dipahami gejala-gejalanya. Gejala-gejala yang ditumbuhkan oleh karya sastra berupa pengungkapan kembali kenyataan pengalaman manusia, baik secara intelektual, emosional, maupun imajinatif. Karya sastra memiliki kemampuan untuk menimbulkan ambiguitas lewat metafora-metafora bahasa yang menghidupkanya.

Masalah penggunaan bahasa sangat penting peranannya karena bahasa merupakan media yang paling utama untuk mewujudkan karya sastra. Karena itu, dapat dikatakan bahwa sastra adalah bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang obyeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Dengan bahasa pula, senantiasa pengarang menyajikan kehidupan yang sebagian besar merupakan kenyataan sosial.

Karya sastra tidak disusun begitu saja. Tanpa daya penggunaannya yang tidak mampu memberikan efek tertentu pada pembacanya. Melalui gaya bahasa atau majas seseorang dapat mengenal kepribadian pengarang. Dengan gaya yang khas, pengarang dapat membuat pembaca larut dalam karya sastra (cerpen), sehingga dapat menggugah rasa keindahan berbahasa kepada pembaca.

Keraf: (1996:112) menyatakan bahwa: gaya bahasa adalah pengungkapan pikiran melalui jiwa secara khas yang memperlihatkan jiwa kepribadian penulis. Pemajasan (figura of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa, penggunaan bahasa penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harfiah kata-kata yang mendukungnya, melainkan pada makna yang ditambahkan, makna tersirat. Jadi, ia merupakan gaya yang sengaja mendayagunakan penuturan dengan memanfaatkan bahasan kias.

Suatu karya sastra seringkali ditulis tanpa khusus diarahkan agar menjadi hal yang penting. Apalagi hal besar masyarakatlah yang akhirnya menentukan arti sebuah karya sastra bukan pengarang, bukan penerbit, dan bukan pula ahli sastra. Berkaitan dengan itu, maka upaya pengkajian sebuah cerpen dengan analisis penggunaan majas merupakan usaha yang baik dan berguna, tujuannya adalah untuk membantu dan mengarahkan pembaca dalam menilai kualitas sebuah karya sastra.

Khusus mengenai cerita pendek atau lebih populer dengan kata cerpen merupakan salah satu jenis fiksi yang paling banyak ditulis orang. Hampir setiap media massa yang terbit di Indonesia menyajikan cerpen setiap minggu. Majalah-majalah hampir selalu memuat satu atau dua cerpen, seolah-olah tanpa memuat cerpen, isi majalah tidak lengkap. Bahkan stasiun-stasiun radio juga menyiarkan hal serupa secara berkala.

Adapun alasan yang paling prinsipil bagi peneliti memilih judul penelitian ini karena Wawan Mattaliu adalah seorang penyair dan penulis cerpen yang lahir di Mannaungi Kabupaten Maros mendapat penghargaan di beberapa event, seperti : penulis terbaik III di PESKIMNAS di Surabaya pada tahun 2001, penulis cerpen terbaik BKKNI Sulawesi-Selatan pada tahun 2002, sebagai penulis beliau diundang dalam temu sastra MASTERA yaitu sebuah forum sastra Asia Tenggara yang berlangsung di Malaysia, Brunai Darussalam, dan Singapura tahun 2002. Menggagas Forum Budaya Kita (FBK), sebagai duta seni ke Kuala Lumpur pada tahun 1998, menggagas lahirnya Kelompok Penulis Karampuang (KPK) Makassar, juga aktif dikomunitas sastra Baniaga, menjabat Ketua Dewan Kesenian Butta Salewangang (DKBS) Kabupaten Maros, puisinya terkumpul dalam Antologi Palontang (1991), juga tergabung dalam 14 September (1995), Ombak Makassar (2000), Jurnal Puisi Indonesia (2002), Pintu yang Bertemu (2003), Surga yang Tak Seksi (2004).

Secara pasti bahwa beliau termasuk orang yang mempunyai sumbangsi besar terhadap pertumbuhan dan penyuburan sastra di Indonesia, khususnya di Kabupaten Maros Sulawesi-Selatan. Maka dari itu, sebagai salah satu bentuk apresiasi peneliti kepada penulis cerpen “warisan” atas kerja kerasnya dalam upaya pengembangan sastra, sehingga peneliti memilih cerpen “warisan” karya Wawan Mattaliu sebagai bentuk judul karya tulis ilmiah.


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka untuk mengarahkan penelitian kepada sasaran yang ingin dicapai, peneliti menetapkan rumusan masalah tersebut adalah bagaimana penggunaan majas perbandingan metafora dalam cerpen “warisan” karya Wawan Mattaliu ?


C. Tujuan Penelitian

Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan penggunaan majas perbandingan metafora dalam cerpen “warisan” karya Wawan Mattaliu.



D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk :



  1. Memberikan pemahaman kepada pembaca dalam mengapresiasi majas/gaya bahasa dalam sebuah cerpen.

  2. Menambah wawasan dan kreatifitas kepada masyarakat pembaca dalam mengapresiasi sastra khususnya cerpen.

  3. Sebagai bahan pertimbangan bagi pihak-pihak yang mengadakan penelitian berupa cerpen.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Tinjauan pustaka

1. Definisi cerpen

Pada cerpen aspek masalah yang diceritakan sangat dibatasi. Dengan adanya pembatasan ini maka masalah yang diceritakan akan tergambar lebih jelas dan mengesankan bagi pembaca. Oleh karena itu, sebuah cerita prosa yang disebut dengan cerita pendek memang pengembangan plotnya sangat dibatasi. Adegan yang ditampilkan dipilih secara format yang mana tidak penting dibuang.

Sedwick: (dalam Tarigan, 1984:176) menyatakan bahwa cerita pendek adalah menyajikan suatu keadaan tersendiri atau suatu kelompok keadaan yang memberikan kesan yang tunggal pada jiwa pembaca. Cerita pendek tidak boleh dengan hal-hal yang tidak perlu atau “a short-story must not be cultured up with irrelevances”.

Bouraq: (dalam Wawan, 2004:2) mengemukakan bahwa cerpen adalah pembatasan. Di dalam cerpen saya bisa menjadi apa saja, memaksa perempuan-perempuan yang datang dari kenyataan untuk menjadikan saya suaminya bahkan pada saat tertentu aku mengawininya, memiliki anak, hidup sejahtera. Meskipun pada kenyataannya mereka menjaga jarak.

Notosusanto: (dalam Tarigan, 1984:176) menyatakan bahwa “cerita pendek adalah cerita yang panjangnya sekitar 5000 kata atau kira-kira 17 halaman kuarto spasi rangkap yang berpusat dan lengkap pada dirinya sendiri.

Wijaya: (dalam Efendi, 1999:73), sebuah cerita pendek adalah bagaikan mimpi baik dan mimpi buruk, tidak terlalu penting urutan jalinan karena kadang-kadang ada dan kadang tidak, yang utamanya adalah pekabaran yang diperbarunya, daya pukau magis, tamsil, ibarat, tikaman jiwa, firasat dan berbagai efek yang diberi analoginya menyerang siapa yang secara mendetail dan persis melukiskan apa yang akan terjadi, tetapi ia juga bisa kebalikan atau buram sama sekali sebagai sebuah ramalan yang memerlukan tafsir. Cerita pendek adalah teror mental kepada pembaca.

Suharso: (2009:703) mengemukakan cerpen ialah semacam cerita rekaan yang sering kita jumpai pada media cetak. Dalam novel kritis (pergolakan) jiwa pelaku mengakibatkan perubahan nasib, tapi dalam cerpen tidak harus mengakibatkan perubahan nasib tokoh pelakunya.

Edgar: (dalam Suryanto, 2007:175) menyatakan bahwa cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam, suatu hak yang kiranya tak mungkin dilakukan untuk sebuah novel.

Sumardjo: (1999:19) mengemukakan bahwa cerpen adalah cerita yang membatasi diri dalam membahas salah satu unsur fisiknya dalam obyek terkecil. Untuk menggambarkan suatu masalah secara jelas dan memberikan kesan yang kuat kepada pembaca, seorang penulis mesti selektif.

Suryanto: (2007:161) mengemukakan bahwa cerpen dapat mengungkapkan realitas sosial, budaya, sekaligus menjadi sarana merefleksikan kehidupan manusia, sebagai bahan renungan. Sementara Sumardjo: (1994:132) mengemukakan, semua bagian dari sebuah cerpen harus terikat pada kesatuan jiwa: pendek, padat, lengkap, tak ada bagian-bagian yang boleh dikatakan lebih dan bisa dibuang.

Merujuk beberapa definisi di atas, dapat dikatakan bahwa cerpen adalah cerita rekaan atau cerita yang berbentuk prosa yang di dalamnya terdapat gejolak jiwa penulis yang dituangkan dalam karyanya.


2. Jenis-jenis majas

Majas atau gaya adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian, ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.

Bentuk pengungkapan yang menggunakan bahasa kias jumlahnya relatif banyak namun, kemunculan dalam sebuah karya sastra relatif tinggi. pemilihan dan penggunaan berbentuk kiasan bisa saja berhubungan dengan selera, kebiasaan, kebutuhan dan kreatifitas pengarang.

Bentuk-bentuk permajasan yang banyak dipergunakan pengarang adalah bentuk perbandingan dan persamaan.

Agni (2009:107) majas terdiri dari 4 jenis yaitu:


  1. Majas Perbandingan

  2. Majas Sindiran

  3. Majas Penegasan

  4. Majas Pertentangan

Untuk lebih jelas tentang jenis-jenis majas dapat dilihat pada pembahasan berikut :

1) Majas perbandingan

Majas perbandingan adalah jenis majas bahasa Indonesia yang memperbandingkan sesuatu dengan yang lain. Majas perbandingan dapat dikelompokan sebagai berikut:



  1. Alegori adalah majas yang menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran, merupakan metafora yang diperluas dan berkesinambungan tempat atau wadah obyek atau gagasan yang diperlambangkan. Dengan kata lain alegori adalah majas yang memakai satu kata untuk makna yang terselubung.

Contohnya:

(1) Iman adalah kemudi dalam mengarungi zaman; (2) Hidup kita diumpamakan dengan biduk atau bahtera yang terkatung-katung di tengah lautan.



  1. Alusio adalah majas perbandingan yang merujuk secara tidak langsung pada karya sastra, seorang tokoh atau peristiwa berdasarkan peranggapan adanya pengetahuan bersama yang dimiliki oleh pengarang dan pembaca.

Contohnya:

    1. Apakah peristiwa medium akan terjadi lagi ?; (2) Saya ngeri membayangkan kembali peristiwa Westerling di Sulawesi Selatan?; (3) Jangan seperti kura-kura dalam perahu; (4) Kamu ini berpura-pura saja sudah gaharu cendana pula.

  1. Simile adalah majas yang membandingkan antara dua hal yang pada dasarnya berlainan atau sengaja dianggap sama antara satu dengan lainnya yang dinyatakan dengan kata-kata depan dan penghubung seperti : layaknya, bagaikan, dan lain-lain.

Contohnya:

(1) Pikirannya kusut bagai benang dilanda ayam; (2) Seperti langit dan bumi; (3) Ibarat mengejar bayangan di siang hari



  1. Metafora adalah majas pengungkapan berupa perbandingan analogis menghilangkan kata seperti, layaknya, bagaikan, antara dua hal yang berbeda.

Contohnya:

(1) Aku adalah angin yang kembar; (2) Dia adalah anak emas pamanku; (3) Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar.



  1. Antroposmifisme adalah metafora yang menggunakan kata atau bentuk lain yang berhubungan dengan manusia untuk hal lain bukan manusia.

Contohnya:

Setelah sampai di kaki gunung di mulut sungai



  1. Sintesia adalah pengungkapan berupa ungkapan yang berhubungan dengan suatu indera untuk dikenangkan pada indea lain.

Contohnya:

Betapa sedap memandang gadis cantik yang selesai berdandan



  1. Antonomasia adalah majas yang merupakan penggunaan gelar resmi atau jabatan sebagai pengganti nama diri.

Contohnya:



    1. Pengarang menandatangani surat penghargaan tersebut; (2) Gubernur Sumatera Utara akan meresmikan pembukaan seminar adat Karo di Kabanjahe bulan depan.

  1. Apronim adalah pemberian nama yang cocok dengan sifat atau pekerjaan orang.

Contohnya:

Karena sehari-hari ia bekerja sebagai kusir gerobak, ia dipanggil karto gerobak.



  1. Metonimia adalah majas yang memakai nama ciri atau nama hal yang ditautkan dengan nama orang, barang merek atau atribut sebagai penggantinya.

Contohnya:

    1. Aku selalu minum Aqua; (2) Para siswa di kelas kami, senang membaca S. T Alisyahbana; (3) Dia datang memakai Fiat bukan Ford (mobil); (4) Amat disuruh bapak membeli Bentoel (rokok).

  1. Litotes adalah majas yang di dalam pengungkapannya menyatakan sesuatu yang positif dengan bentuk negatif atau bentuk yang bertentangan. Litotes merupakan ungkapan berupa mengecilkan fakta dengan tujuan merendahkan diri.

Contohnya:

    1. Apa yang kami berikan tak berarti buatmu; (2) Kak Sugiarto sama sekali bukan pemain jalanan; (3) Apa yang dapat saudara harapkan dari saya?; (4) Ilmu tiada harta pun tiada.

  1. Hiperbola adalah pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

Contohnya:

    1. Pemikiran-pemikiran terbesar ke seluruh dunia; (2) Sempurna sekali, tiada kekurangan suatu apapun buat pengganti baik atau cantik.

  1. Personifikasi adalah jenis majas yang melekatkan sifat insan kepada barang yang tidak bernyawa dan ide yang abstrak. Majas ini dapat pula diartikan sebagai penggambaran benda-benda yang tak bernyawa seolah-olah memiliki sifat seperti manusia.

Contohnya:

    1. Mentari mengintip wajahku lewat jendela; (2) Hujan memandikan tanaman disiang hari; (3) Badai menderu-deru, lautan mengamuk; (4) Hatinya berkata bahwa perbuatan itu tak boleh dilakukannya.

  1. Depersonifikasi adalah kebalikan dari personifikasi yaitu pengungkapan yang tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.

Contohnya:

    1. Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya; (2) Andai kamu menjadi langit, maka dia menjadi tanah

  1. Pars prototo adalah pengungkapan sebagian dari objek untuk menunjukkan keseluruhan objek.

Contohnya:

Sejak kemarin dia tidak kelihatan batang hidungnya



  1. Totum proparte adalah ungkapan seluruh objek padahal yang dimaksud hanya sebagian.

Contohnya:

Indonesia bertanding volly melawan Thailand (menyebutkan seakan-akan seluruh bangsa Indonesia bermain hanya enam orang bermain).



  1. Eufemisme adalah ungkapan yang lebih luas sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar dengan anggapan-anggapan merugikan atau tidak menyenangkan.

Contohnya:

(1) Tuna aksara pengganti buta huruf; (2) Kata perempuan diganti dengan wanita; (3) Laki-bini diganti dengan suami-istri; (4) Orang yang bodoh dikatakan kurang pandai.

17. Hipokorisme adalah penggunaan nama timangan atau kata yang dipakai untuk menunjukkan hubungan karib.

Contohnya:

Lama Otok hanya memandangi ikatan bunga biji mata itu, yang membuat Otok kian terkesima.

18. Hiperbola adalah pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.

Contohnya:

(1) Pemikiran-pemikirannya tersebar ke seluruh dunia; (2) Kurus kering tiada daya kekurangan pangan buat pengganti kelaparan.

19. Depersonifikasi adalah pengungkapan dengan tidak menjadikan benda-benda mati atau tidak bernyawa.

Contohnya:

(1) Kalau engkau jadi bunga, aku jadi tangkainya; (2) Bila kakanda menjadi darah, maka adinda menjadi daging.

20. Disfemisme adalah pengungkapan pernyataan tabu atau yang dirasa kurang pantas sebagaimana adanya.

Contohnya:

Jika aku bunga, engkau kumbangnya.



  1. Fabel adalah menyatakan perilaku binatang sebagai manusia yang dapat berpikir dan bertutur kata.

Contohnya:

Kancil dan buaya



  1. Parabel adalah ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.

Contohnya:

Cerita Adam dan Hawa



  1. Perifrase adalah ungkapan yang panjang sebagai pengganti ungkapan yang lebih pendek.

Contohnya:

Kemanapun ia pergi, besi tua bermerek, Yamaha produksi tahun 1970 selalu menemaninya.



  1. Eponim adalah menjadikan nama orang sebagai tempat atau pranata.

Contohnya:

Gelora Bung Karno, Gunung Sukarnapura, Rezim Suharto.



  1. Simbolik adalah melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud.

Contohnya:

Katakanlah Cinta dengan Bunga


2) Majas sindiran

  1. Ironi adalah majas sindiran yang menyembunyikan fakta yang sebenarnya dan mengatakan kebalikan dari fakta tersebut.

Contohnya:

    1. Kota Bandung sangatlah indah dengan sampah-sampahnya; (2) Aduh, bersihnya kamar ini, puntung rokok dan sobekan bertebaran di lantai; (3) O, kamu cepat bangun, baru pukul sembilan pagi sekarang ini.

  1. Sarkasme adalah majas yang mengandung olok-olokan atau sindiran pedas yang menyakiti hati.

Contohnya:

(1) Mampus kamu, manusia tidak tahu diri, (2) Mulutmu harimaumu; (3) Mampus pun engkau tak ada peduliku; (4) Hai anjing, pergi dari sini sebelum engkau kulemparkan keluar!



  1. Sinisme adalah majas sindiran yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan ketulusan hati.

Contohnya:

(1) Tak usah kamu perdengarkan suaramu yang merdu dan memecahkan telinga itu; (2) Memang andalah tokohnya yang sanggup menghancurkan desa ini dalam sekejap mata.



  1. Satire adalah penggunaan humor secara luas, aprodi atau iron untuk menertawakan sesuatu masalah.

Contohnya:

(1) Saya tersedu, belum pernah seumur hidup; (2) jemu aku dengan bicaramu.



  1. Innu endo adalah sindiran yang bersifat mengecilkan faktanya sesungguhnya.

Contohnya:

(1) Jadinya sampai kini Neng Syarifa belum dapat jodoh karena setiap ada jejaka yang meminangnya ia sedikit jual mahal; (2) Karena ia menyisihkan selembar dua lembar kertas kantor; (30) Abangku sedikit gemuk karena terlalu kebanyakan makan daging berlemak.


3) Majas penegasan

  1. Apofasiasi adalah majas yang menegaskan sesuatu tetapi tampaknya menyangkal.

Contohnya:

(1) Saya tidak ingin mengungkapkan dalam rapat ini; (2) saya tidak mau mengungkapkan dalam forum ini bahwa saudara telah menggelapkan ratusan juta rupiah uang negara; (3) Datanglah dia, makanlah dia, lalu pulang tanpa ucapan sepatah kata; (4) Kupilih warna yang serasi bagi kain kebaya kakakku.



  1. Pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan) yang sebenarnya tidak perlu dipergunakan.

Contohnya:

(1) Kamilah yang memikul peti jenazah itu di atas bumi; (2) Saya telah mencatat kejadian itu dengan tangan saya sendiri; (3) Mereka mendengar fitnahan itu dengan telinga mereka sendiri; (4) Darah merah membasahi baju dan tubuhnya.



  1. Repetisi adalah majas yang mengandung berkali-kali atau kelompok kata yang sama.

Contohnya:

(1) Selamat datang, pahlawanku, selamat datang, kekasihku, selamat datang, bunga bangsa, selamat datang, buah hatiku, kami menantimu dengan bangga dan bergembira, selamat datang, selamat datang; (2) Baru beberapa langkah dia berjalan tiba-tiba suara gemuruh mengejutkan-orang berteriak- Siaap! Siaaaap….



  1. Parairama adalah pengulangan konsonan awal dan akhir dalam kata atau bagian kata yang berlainan.

Contohnya:

Mondar-mandir, kolang-kaling, lekuk-lekuk



  1. Aliterasi adalah jenis majas yang memanfaatkan purwakanti atau kata-kata yang permulaannya sama bunyinya.

Contohnya:

(1) Danau hamba daku datang dari danau; (2) Duga dua diam didiriku; (3) Keras-keras kena air lembut juga; (4) Dara damba aku datang dari danau.



  1. Paralelisme adalah jenis majas yang berusaha mencapai kesejajaran dalam pemakaian kata-kata atau fakta-fakta yang menduduki fungsi yang sama dalam bentuk gramatikal yang sama.

Contohnya:

(1) Baik kaum pria maupun kaum wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama secara hukum; (2) Jika kamu minta, aku akan datang; (3) Bukan hanya korupsi yang harus dikutuk, tapi juga harus diberantas di negara pancasila ini.



  1. Tautologi adalah pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.

Contohnya:

Kejahatan itu tidak saya inginkan dan tidak saya harapkan.



  1. Sigmantisme adalah pengulangan bunyi “S” untuk efek tertentu.

Contohnya:

Kutulis surat ini kala hujan gerimis



  1. Antanaklasis adalah majas yang menggunakan perulangan kata yang sama dengan makna berbeda atau majas yang mengandung ulangan kata yang berhomonim.

Contohnya:

Ketika mengetahui bahwa bunga yang diberikan kepada bunga desa itu diterima, hatinya berbunga-bunga.



  1. Klimaks adalah sejenis majas yang berupa susunan ungkapan yang makin lama mengandung penekanan.

Contohnya:

(1) Aku kesepian di tengah keramaian; (2) Ayam ini kelaparan ditumpukan padi.



  1. Antiklimaks adalah pemaparan pikiran atau hasil secara berturut-turut dari yang kompleks/lebih penting menurun kepada hal yang sederhana/kurang penting.

Contohnya:

Ketua pengadilan negeri itu adalah orang kaya, pendiam, dan tidak terkenal namanya.



  1. Inversi adalah menyebutkan dahulu predikat dalam suatu kalimat sebelum subjeknya.

Contohnya:

Pergilah ia meninggalkan kami, keheranan kami melihat perangnya.



  1. Retoris adalah ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.

Contohnya:

Inikah yang kau namai bekerja?



  1. Elipsis adalah penghilangan satu kata atau beberapa unsur kalimat yang dalam susunan normal dan unsur-unsur tersebut seharusnya ada.

Contohnya:

Risalah derita yang menimpa ini



  1. Koreksio adalah ungkapan dengan menyebutkan hal-hal yang dianggap keliru atau kurang tepat, kemudian disebutkan maksud yang sesungguhnya.

Contohnya:

Silakan pulang saudara-saudara, eh maaf, silakan makan.



  1. Polisidenton adalah pengungkapan suatu kalimat atau wacana, dihubungkan dengan kata penghubung.

  2. Asidenton adalah pengungkapan suatu kalimat atau wacana tanpa kata penghubung.

Contohnya:

Dan kesesakan, kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa.



  1. Interupsi adalah ungkapan berupa penyisipan keterangan tambahan di antara unsur-unsur kalimat.

Contohnya:

Tiba-tiba ia-suami itu disebut perempuan lain.


  1. Ekslamasio adalah ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

Contohnya:

Wah, biar ku peluk, dengan tangan menggigil.



  1. Enumerasio adalah ungkapan dengan menggunakan kata-kata seru.

Contohnya:

Laut tenang. Di atas permadani biru itu tampak satu-satunya perahu nelayan meluncur perlahan-lahan. Angin berhembus sepoi-sepoi. Bulan bersinar dengan terangnya. Disana-sini bintang-bintang gemerlapan. Semuanya berpadu membentuk suatu lukisan yang harmonis. Itulah keindahan sejati.



  1. Preterito adalah ungkapan penegasan dengan cara menyembunyi-kan maksud yang sebenarnya.

Contohnya:

Sudahlah, nasi sudah menjadi bubur, tidak perlu kita sesali apa yang telah terjadi.



  1. Alonim adalah penggunaan varian dari nama untuk menegaskan.

Contohnya:

Dulah Varian dari Abdullah.

  1. Kolokasi adalah asosiasi tetap antara suatu kata dengan kata lain yang berdampingan dalam kalimat.

Contohnya:

Susah memang berurusan dengan si kepala batu (“Kepala Batu” adalah asosiasi yang tetap antara “kepala” dan “batu”).



  1. Silepsis adalah penggunaan satu kata yang mempunyai lebih dari satu makna dan yang berfungsi dalam lebih dari satu konstruksi sintaksis.

Contohnya:

Ia telah kehilangan topi dan semangatnya.



  1. Zeugma adalah silepsi dengan menggunakan kata yang tidak logis dan tidak gramatis untuk konstruksi sintaksis yang kedua, sehingga menjadi kalimat yang rancu.

Contohnya:

Ia menundukkan kepala dan badannya untuk memberi hormat kepada kami.


4) Majas pertentangan

Majas pertentangan dapat dikelompokkan ke dalam lima bagian yaitu :



  1. Paradoks adalah ungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar.

Contohnya:

    1. Aku kesepian di tengah keramaian; (2) Dia besar tapi nyalinya kecil; (3) Dia kaya tapi miskin; (4) Gajinya besar tetapi hidupnya melarat.

  1. Oksimoron adalah majas yang mengandung pertentangan dengan mempergunakan kata-kata yang berlawanan dalam frase yang sama.

Contohnya:

    1. Keramah-keramah yang bengis; (2) Olah raga mendaki gunung memang menarik hati walaupun sangat berbahaya; (3) Bahasa memang dapat dipakai sebagai alat pemersatu tetapi dapat juga sebagai alat pemecah-belah.

  1. Antitesis adalah pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti dengan yang lainnya.

Contohnya:

(1) Kaya-miskin, tua-muda, besar-kecil, semua mempunyai kewajiban terhadap keamanan bangsa; (2) Hidup-matinya, susah-senangnya, serahkanlah kepadaku; (3) Dia bergembira-ria atas kegagalanku dalam ujian ini.



  1. Kontradiksi interminus adalah pernyataan yang bersifat menyangkal yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.

Contohnya:

Yang belum melunasi uang sekolah tidak boleh mengikuti ujian umum, kecuali Bisma



  1. Anakroisme adalah ungkapan yang mengandung ketidaksesuaian dengan antara peristiwa dengan waktunya.

Contohnya:

Dalam tulisan Cesar, Shakespeare menuliskan jam berbunyi tiga kali (saat itu jam belum ada).

3. Majas metafora

Majas atau gaya bahasa kerapkali menambah kekuatan pada suatu kalimat. Metafora, misalnya, dapat menolong seorang pembicara atau penulis melukiskan suatu gambaran yang jelas melalui komparasi atau kontras. Metafora berasal dari bahasa Yunani ‘Methapora’ yang berarti ‘memindahkan’, dari kata meta diatas; melebihi pherein; membawa. Metafora membuat perbandingan antara dua hal atau benda untuk menciptakan suatu kesan mental yang hidup walaupun tidak dinyatakan secara eksplisit dengan pengunaan kata-kata seperti, ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana, penaka serupa seperti pada perumpamaan. Dale: (1971 dalam Tarigan 1985).

Metafora ini bahasa kiasan seperti perbandingan hanya tidak mempergunakan kata-kata pembanding seperti : bagai, laksana, seperti, dan sebagainya. Metafora ini menyatakan sesuatu sebagai hal yang sama atau seharga dengan hal lain. Becker: (1978: 317 dalam Rahmat, 2009: 66 ).

Kemudian Altenbernd: (1970: 15 dalam Rahmat 2009: 66) menyatakan metafora sebagai sesuatu hal yang sama atau seharga dengan hal lain yang sesungguhnya tidak sama. Misalnya:

“Bumi ini perempuan jalang”

(Subagio “dewa telah mati”)

“Tuhan adalah warga negara paling modern”

(Subagio “katekhisasi”)

“Sorga hanya permainan sebentar”

“Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar”

(Chairil Anwar “Tuti Artic”, 1959 dalam Rahmat, 2009)

Dalam sajak Subagio, bumi dipersamakan dengan perempuan jalang dan Tuhan dipersamakan dengan warga negara yang paling modern. Dalam saja Chairil Anwar tersebut sorga dipersamakan dengan permainan sebentar sedangkan cinta dipersamakan dengan bahaya.

Metafora terdiri dari dua term atau dua bagian, yaitu term pokok (Principal Term) dan term kedua (Secondary Term). Term pokok disebut juga tenor, term kedua disebut juga vehicle. Term pokok atau tenor menyebutkan hal yang dibandingkan, sedangkan term kedua adalah untuk membandingkan misalnya “bumi” adalah perempuan jalang. Bumi adalah term pokok sedang perempuan jalang adalah term kedua.

Seringkali penyair langsung menyebutkan term kedua tanpa menyebutkan term pokok atau tenor. Metafora macam ini disebut metafora implisit (Implied Metaphor). Misalnya: hidup ini mengikat dan mengurung, hidup diumpakan sebagai tali yang mengikat dan juga sebagai kurungan yang mengurung, dari contoh di atas disebutkan bukan pembandingnya tapi sifat pembandingnya.

Bumi ini perempuan jalang

Yang menarik laki-laki jantan dan pertapa

Ke rawa-rawa mesum ini

(Dewa telah mati, 1975 dalam Rahmat, 2009)

Rawa-rawa mesum adalah kiasan kehidupan yang kotor yang mesum, kehidupan yang penuh percabulan, merupakan vehicle atau term kedua. Di samping itu ada metafora yang disebut metafora mati (dead metaphor), yaitu metafora yang sudah klise hingga orang sudah lupa bahwa itu metafora. Misalnya kaki gunung, lengan kursi, dan sebagainya.

Contoh:


Amir Hamzah:

Kupangku di lengan lagu

Ku daduhkan di selendang dendang

(Barangkali, 1959)

Buka mata mutiaraMu

Barangkali mati di pantai hati

Gelombang kenang membanting diri

(Barangkali, 1959)

Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang singkat: bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata dan sebagainya. Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan pada dengan pokok kedua. (Suharso, 2009)

Metafora adalah pemakaian kata-kata bukan arti yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan berdasarkan persamaan atau perbandingan. Selanjutnya Tarigan: (1988) menjelaskan bahwa metafora merupakan jenis gaya bahasa perbandingan yang paling singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan yang satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yang dipikirkan, yang menjadi objek dan yang satu lagi merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi dan kita menggantikan yang belakang itu menjadi yang terdahulu tadi.

Sumarjo: (1986 dalam Jabrohim, 2009) mengatakan bahwa gaya atau majas merupakan ciri khas seorang pengarang atau cara yang khas pengungkapan seorang pengarang. Ada yang mengatakan bahwa gaya adalah pribadi pengarang itu sendiri. Gaya dalam pembicaraan ini meliputi pemilihan kata-kata, penggunaan dialog, penggunaan detil, dan cara memandang persoalan dan sebagainya. Sumbangan gaya yang terutama ialah menciptakan tone “nada” cerita. Sedangkan A. Sayuti: (1988: 78 dalam Jabrohim 2009) mengatakan bahwa gaya merupakan sarana sedangkan nada merupakan tujuan.
4. Gambaran umum tentang cerpen “warisan”

Wawan Mattaliu adalah seorang penyair. Penyair yang juga menulis cerpen hampir selalu memiliki kekhasan, terutama dalam hal bagaimana estetika cerita bergeser menjadi puitika cerita. Struktur pencitraan dibuat sedemikian rupa hingga seluruh cerita menjadi sebuah metafora yang menyimpan pesan tentang situasi sosial yang kita hadapi. Adapun gambaran umum cerpen “warisan” sebagai berikut:

Sebuah bangunan besar dengan aksentuasi mediteranian. Disampingnya ada sebuah kolam yang dirindangi sebatang cemara. Di sisi utara ada sepetak garasi yang cukup luas, dengan deretan kendaraan, sebuah Porche biru metalik, satu Lamborghini warna putih dan sebuah Dodge abu-abu tipe off road.

Memasuki ruangan, sederet meja tamu dengan variasi ukiran Jepara, agak ke sudut, ada tatanan benda-benda antik dari kaca yang disanggah oleh dua batang gading gajah, yang mengapiki semuanya adalah lukisan ekspresionis dari seorang pelukis terkenal menempel anggun di dinding yang dilapisi marmer. Sunyi! Hanya ada sepasang ikan arwana dalam akuarium yang mengisyaratkan adanya kehidupan disitu. Sangat mewah! Luks!.

Tapi itu tiga jam yang lalu. Sesuatu berubah begitu cepat.

Yang kini terhidang, sebuah pilar yang melintang di atas kolam dan asap yang belum juga reda. Cemara yang seharusnya hijau, menawarkan bayang perih, daunnya telah tuntas dilahap api.

Istana itu roboh. Gemeretak bangunan yang ambruk itu terdengar perih. Malam menjadi panas. Dari dalam gumpalan asap yang padat, ada aroma daging terbakar yang sangat menyengat. Di luar, tepat pada bekas pagar, sekerumuan orang menatap ke dalam dengan nanar. Ia seakan menanti pembakaran sate selesai

Asap akhirnya berhenti setelah hari berganti. Serombongan orang itu masih saja disitu, mereka menyisiri puing-puing gedung itu, memeriksa dengan sangat teliti. Agak lama akhirnya mereka menemukan tiga tubuh yang hangus sempurna.

“Ada yang lolos satu !”

“Siapa ?”

“Mungkin anak laki-lakinya !”

“Bukan mungkin, tapi pasti ! Yang ada disini hanya perempuan.”

“Kalau begitu kita harus mencarinya !”

Suara-suara itu terus bersahutan, ada beberapa yang saling berbisik.

Kita cari dia sekarang !” Terdengar suara yang lebih lantang.

Orang-orang dengan wajah penuh dendam itu baru saja beranjak, tiba-tiba saja terdengar suara, “Tunggu!”

Seorang lelaki tanpa baju dengan tubuh yang legam mengangsur ke depan rombongan.

“Saudara-saudara sekalian. Kita jangan bergerak gegabah, kita mesti mempelajari situasi. Dia bukan orang bodoh ! Buktinya sekian lama keluarga mereka menipu kita, dia merampas tanah yang kita tempati hidup dan mengharapkan kehidupan lebih baik dari tanah itu. Betul ! Kita mesti menuntaskan semuanya tanpa membuang waktu terlalu banyak ! Tapi kita perlu strategi. Kita bagi kelompok, kita sisiri semua daerah “!, suara orang itu terdengar berapi-api. Orang-orang di depannya mendengar dengan serius.

“Kita bagi sekarang,” tambahnya lagi.

Kerumunan orang-orang itu langsung serempak bergerak menjadi empat kelompok. Lalu bergerak ke empat arah yang berbeda.

Dan betul! Ketika malam pembakaran itu, seorang lelaki terbangun oleh kerumunan asap. Ia cuma mendengar jerit perih perempuan yang melahirkannya dari kamar sebelah. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Aroma bensin dan jalaran api terlalu cepat. Dia langsung menerobos jendela kamar, lalu terpelanting di samping garasi. Dia pasti kesakitan, tapi ada kekuatan yang melahirkan kemampuan lari yang sedemikian cepat. Tetesan darah dari ubunnya yang terbentur dinding garasi tak menghalangi terjangnya melintasi pagar, dia terus berlari dengan napas yang terengah dan wajah yang pias.

Ini adalah malam pertama setelah pembakaran itu, lelaki muda itu kini terpuruk di kolong jembatan, di antar sampah yang tersangkut ketika banjir dulu. Dia duduk, lututnya ditekuk sambil merangkulinya dengan dua tangan sangat erat. Ada kecamuk tak setuju yang bermain di benaknya. Dia merasa tak pernah terlibat pada permainan ini. Dia tak punya hak untuk meminta ke Tuhan untuk dilahirkan oleh orang yang sesuai dengan keinginannya sekarang. Apalagi oleh orang yang telah mati tiga tahun lalu tapi meninggalkan pendaman lahar dendam oleh sebagian orang yang pernah dia hisap keringatnya, bahkan yang lebih keji, dia telah membunuh secara perlahan dengan merampas sumber-sumber hidupnya dengan kekuasaan semu yang pernah dia miliki.

Lelaki itu terus berserapah di antara gigitan nyamuk. Semua itu nyaris mengantarnya tidur, tapi kelonteng kentongan dan hiruk pikuk banyak orang menyadarkannya segera. Sebuah sinar senter dari pinggiran jembatan sebelah telah memfokusinya.

“Itu dia!”

“Ayo tangkap!”

“Bunuh! Ayo kita bunuh!”

Malam menjadi ramai, orang-orang berkoar.

Di hadapannya kini, orang-orang meruah dengan berbagai senjata di tangan. Ada parang, kapak, linggis, dan apa saja yang bisa menamatkan riwayatnya.

Ketakutan tetaplah sebuah kekuatan. Lelaki muda itu seketika menjadi gesit. Dia baru saja meloncati pembatas jembatan lalu dengan cepat menghilang pada kegelapan. Malam tampaknya cukup berpihak, bulan di atas sana yang seharusnya purnama tertutup awan. Dia terus berlari, tapi sekerumunan kelompok lain menadahnya dengan lontaran beberapa lembing bambu. Ada satu yang menancap tepat pada pangkal pahanya, tersungkur lalu bangkit sambil sekali mengibaskan tangan, lembing itu terlepas meninggalkan luka dan kucuran darah. Ia kembali berlari seperti sama sekali tak ada luka ditubuhnya. Orang-orang di belakangnya pun bergerak menyusul. Kini dia hanya pasrah pada kehendak kakinya, kemana arah yang mesti ia tuju.

Tak ada yang berubah, lelaki muda itu terus berlari. Di belakangnya orang-orang semakin ramai. Hanya ada satu hal yang lain, benaknya tiba-tiba refleks memandu kakinya kearah taman makam pahlawan di pinggiran kota. Malam masih saja pekat, tapi dia terus berlari dengan darah yang mengucur di pahanya. Agak jauh di belakangnya suara-suara berseliweran.

“Tangkap !”

“Bunuh !”

“Dia harus membayar semuanya !”

Suara-suara itu terus saja terdengar dan menghentikan nyanyian serangga malam. Di atas sana, bulan mulai menampakkan diri. Cahayanya merekam perburuan itu seakan-akan dia harus ikut memikul penyelesaian cerita.

Lelaki itu kini berada di ambang taman makam pahlawan. Larinya semakin deras. Sangat cepat lalu tersungkur pada sisi sebuah nisan kayu berukir. Sebuah benda memori yang berperan tahun yang lalu di angkutnya ke tempat ini dengan sebuah upacara kebesaran bersama ratusan orang berseragam dan serentetan salvo. Dia merangkak mendekat lalu menggenggamnya dengan sangat kuat. Orang-orang yang tadi memburunya kini pun telah sampai, tapi tak ada yang mendekat. Mereka hanya berdiri pada batas pandang dengan mata yang sangat nanar. Mereka membentuk jejeran yang teratur tanpa suara, seakan menanti selesainya sebuah permainan sulap.

Lelaki muda itu sesekali menahan napas. Hanya tatapannya yang sangat tajam menghuman nama yang terukir rapi pada nisan yang masih saja digenggamnya.

“Tuan besar,” terdengar suara lelaki muda itu. Serak.

“Kau telah meninggalkan sebuah permainan besar, tuan. Hari ini semua orang menuntut pertanggungjawabanmu. Aku memang ikut menikmati apa yang kau peroleh, tapi aku sama sekali tidak pernah terlibat. Lihat! Apa yang pernah kamu banggakan telah habis! Bahkan istrimu sekalipun!”

Lelaki muda itu terus bicara, nadanya semakin tinggi. tiba-tiba saja tangannya menyentak dengan sangat keras. Nisa ditangannya tercabut.

“Tuan! Aku tidak pernah meminta apa-apa. Tapi memang kau terlalu serakah! Lihat! Mereka ikut menuntutku! Sebentar lagi mereka akan membunuhku! Padahal aku tidak pernah meminta menjadi anakmu! Tidak pernah!”

Suara itu sangat perih dan semakin parau. Orang-orang di sekitarnya diam tak beranjak.

“Tuan! Kamu harus melihat apa hasil dari yang kamu perbuat!”

Suara lelaki muda itu melengking tinggi, lalu tangannya mengayunkan nisan itu sangat kuat ke gundukan pekuburan beberapa kali. Dia menggali!

“Kamu harus melihatnya!” ujarnya berulang kali. Tangannya masih saja sibuk mengayunkan nisan, remah-remah tanah berserabutan. Orang-orang mulai bergerak mendekat beberapa langkah, tapi tetap tak ada yang bersuara. Mereka akan setia menanti terjadinya sebuah keajaiban. Seekor kelelawar terbang menyilang bulan yang sempurna menjadi purnama.

Sampai kokok ayam terdengar mengingatkan pagi sebentar lagi datang, lelaki muda itu belum juga lelah. Yang terlihat kini tinggal punggungnya dijedahi oleh ujung nisan yang terus diayunnya. Orang-orang terus mendekat tanpa suara.

Dan kemudian, orang-orang terhenyak!

Lelaki itu baru saja menghentikan penggaliannya, lalu dia terlihat menyentak sesuatu di ikuti oleh suara gemeretak.

Orang-orang tersentak.

Mulut mereka setengah terbuka. Dengan cahaya purnama yang tersisa, orang-orang melihat di tangan anak muda itu sebuah benda agak putih dibungkusi oleh tanah. Tengkorak! Anak muda bergerak naik. Orang-orang mundur beberapa langkah.

“Tuan besar, lihat mereka yang kini menuntutmu. Lihat! Ayo lihat! Mereka yang telah kau hisap darahnya dan kini ikut memburuku seperti seekor babi hutan!”

Orang-orang tak beranjak, tapi ada siratan tak percaya pada matanya dengan jelas.

“Kau sudah puas sekarang? Tuan sudah menjadikan mereka serigala. Tuan harus bertanggung jawab! Tuan harus membayar semuanya! Harus!” ujarnya dengan suara tinggi, lalu dengan keras membanting benda itu tepat menghantam nisan yang berukir tinta emas, di susul suara benda pecah. Lelaki mudah itu menekur badannya ke tanah.

Hening!

Beberapa menit sama sekali tidak ada suara. Tapi hanya beberapa menit, karena selanjutnya terdengar orang-orang di sekeliling lelaki muda itu bertepuk tangan dengan keras. Semakin lama bahkan semakin keras.


Cerpen warisan bercerita tentang bagaimana penduduk yang pernah diperas oleh seorang tuan besar, setelah menunggu sekian lama akhirnya melakukan balas dendam terhadap keluarga tuan besar itu setelah meninggal. Mereka membakar habis rumah beserta isi dan keluarga si tuan besar. Dalam waktu 3 jam semuanya berubah karena kekerasan, sementara si anak yang selamat kemudian harus terus berlari sebagai korban buruan penduduk hingga ia sampai di makam pahlawan, tempat tuan besar itu dimakamkan. Cerpen ini adalah metafora untuk pernyataan si anak bahwa: (1) penguasa adalah perampok rakyat, (2) setiap yang dikuburkan di taman pahlawan bisa dicurigai sebagai koruptor, (3) generasi muda bukan bagian dari permainan busuk yang sedang berlangsung di negeri ini.

Cerita ini merupakan satir terhadap budaya korupsi di negeri kita, memperlihatkan bagaimana rakyat hanya mampu melakukan balas dendam dengan kekerasan terhadap kekuasaan yang korup dimana mengubah kenyataan hanya dalam waktu 3 jam. Tetapi setelah itu makam si tuan besar yang dibongkar oleh anaknya sendiri, lalu tengkorak si tuan besar dihancurkan oleh anaknya sendiri. Tetapi masalah belum selesai walau sampai di ujung kehidupan seseorang (kuburan dan tengkorak). Kekerasan sosial yang dilakukan rakyat berubah menjadi kekerasan metafisis yang dilakukan si anak, membawa rakyat memasuki sebuah ujung yang bisu tidak menjawab, rakyat juga menjadi hening di batas dunia seperti ini.

Rakyat melakukan kekerasan karena hukum tidak lagi berfungsi. Si anak juga melakukan kekerasan terhadap kuburan ayahnya sendiri, karena rakyat tidak mau mendengar suaranya. Cerpen ini memperlihatkan rumitnya pemecahan yang harus ditempuh ketika sebuah negeri terlalu lama hidup dalam budaya korupsi dan budaya ini kemudian menghasilkan budaya kekerasan, yang bicara kemudian adalah keyakinan yang buta. Cerpen ini memberikan suatu asumsi bagaimana dosa itu alat sosial dimana potensi desa itu mengalami potensi sosiologis.

Namun yang menjadi objek penelitian dalam cerpen ini adalah penggunaan majas metafora yang terdapat dalam kutipan cerpen.



Yüklə 196,53 Kb.

Dostları ilə paylaş:
  1   2   3




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə