Bab I pendahuluan



Yüklə 0,9 Mb.
səhifə1/9
tarix09.01.2019
ölçüsü0,9 Mb.
#94276
  1   2   3   4   5   6   7   8   9


BAB I

PENDAHULUAN


  1. Latar Belakang Masalah

Kecerdasan dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam, yaitu Intelligence Quotient (IQ), Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ)1. Namun, yang diteliti dalam penelitian ini hanyalah Emotional Quotient (EQ) atau kecerdasan emosional. Sedangkan kecerdasan emosional menurut Goleman merupakan kemampuan yang meliputi kemampuan untuk memotivasi diri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan untuk berpikir dan berdoa2

Emosi dapat dikelompokkan pada kesedihan, amarah, takut, gembira, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu. Agar dorongan-dorongan tersebut dapat disalurkan secara benar dan tepat baik pada diri sendiri maupun bagi sosialnya, ada lima dimensi yang dapat mencerminkan tingkat kecerdasan emosi yang dapat dimiliki oleh seseorang. Secara garis besar dimensi-dimensi kecerdasan emosional tersebut adalah, pertama; kemampuan mengenali emosi diri, kedua; kemampuan mengelola emosi diri, ketiga; kemampuan memotivasi diri ketika menghadapi kegagalan atau rintangan dalam mencapai keinginan, keempat; kemampuan mengenali emosi orang lain, dan kelima: kemampuan membina hubungan dengan sosialnya miliki oleh seseorang

Kecerdasan emosional memiliki peran penting dalam keberhasilan siswa, begitupula di dalam menghafalkan Al-Qur’an. Ketika seorang anak cerdas secara emosi maka ia akan mampu mengatasi situasi sulit yang menghampiri saat proses menghafal Al-Qur’an, sedangkan menghafal Al-Qur’an membutuhkan waktu yang cukup lama.

Sebagai umat Islam, kita mempunyai sumber hukum yang digunakan sebagai pedoman hidup sekaligus sebagai acuan dalam melakukan segala urusan kehidupan. Sumber hukum dan pedoman tersebut adalah kitab suci Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslim dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus mereka imani dan aplikasikan dalam kehidupan mereka agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena itu, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslim tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya, tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga autentisitasnya

Seiring berjalannya waktu usaha-usaha pemeliharaan Al-Qur’an terus dilakukan dari generasi ke generasi berikutnya, dan salah satunya usaha nyata dalam proses pemeliharaan kemurnian Al-Qur’an yaitu menghafalnya.

Sebagian orang menganggap bahwa menghafal Al-Qur’an itu sulit. Padahal, secara tegas Allah telah menyatakan bahwa Al-Qur’an mudah untuk dipelajari termasuk dihafal. Mengenai hal ini Allah berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْناَ الْقُرْءَ انَ لِلذِّ كْرِفَهَلْ مِنْ مُّدَّ كِرٍ (سوره القمر/۵٤ :١٧)

Artinya: “Dan sesungguhnya, telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran” (QS. Al-Qamar/54: 17)

Ayat tersebut sebagaimana dikatakan oleh banyak ulama, merupakan jaminan bahwa Al-Qur’an mudah untuk dipelajari dan dihafalkan. Sebagian orang berpandangan bahwa menghafal Al-Qur’an itu sulit, pandangan-pandangan yang beredar dimasyarakat antara lain: banyaknya kendala yang menghalangi proses menghafal. Tebalnya mushaf, ayatnya yang banyak, dan bahasanya yang rumit menjadikan mereka beranggapan bahwa menghafal Al-Qur’an sangat sulit. Selain menilai sebelum mencoba, kurangnya keyakinan akan jaminan Allah menjadi salah satu hal sebagian orang menganggap bahwa menghafal Al-Qur’an itu sulit3.

Pada dasarnya menghafal Al-Qur’an merupakan hal yang mudah, mudah bagi mereka yang memang menjalaninya dengan keikhlasan dan ketekunan. Tidak di pungkiri memang, akan ditemui berbagai macam hambatan di dalam menghafal Al-Qur’an, begitu pula yang dihadapi oleh para siswa/i di SMP Islam Dewan Da’wah. Para siswa adalah sebagai anak-anak yang tengah memasuki usia remaja, yang notabene dari segi emosi masih sangatlah labil maka tidak heran jika muncul berbagai macam permasalahan. Permasalahan yang sering dihadapi para siswa SMP Islam Dewan Da’wah adalah ada di antara mereka berpersepsi bahwa menghafal itu sulit, mudah putus asa, rasa malas, bosan, kurangnya kesabaran dan ketekunan siswa dalam menghafal Al-Qur’an, terlalu banyak bermain gadget, serta kurangnya kesadaran siswa dalam mengulang hafalan Al-Qur’an, serta belum konsisten dalam menjalankan dan mengelola jadwal menghafal yang telah dibuatnya.

Selain memiliki target untuk mencetak generasi yang berakhlakul karimah sekolah SMP Islam Dewan Da’wah juga memiliki target yang diharapkan para siswa/i mampu memahami prinsip-prinsip Aqidah Islam dengan benar, mengamalkan praktek ibadah sesuai tuntunan sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mampu berkomunikasi dengan bahasa Arab dengan baik, juga diharapkan nantinya mampu menghasilkan para penghafal Al-Qur’an.

Dalam menghafal Al-Qur’an perlu adanya kecerdasan emosional, karena pada hakikatnya manusia menginginkan keberhasilan. Untuk menjadi orang yang berhasil diperlukan suatu kecerdasan tertentu di antaranya kecerdasan akal (intellegence question). Akan tetapi dengan kecerdasan akal (IQ) saja tidak dapat menjamin keberhasilan hidup seseorang. Tidaklah benar asumsi masyarakat selama ini bahwa orang yang mempunyai IQ tinggi dikatakan cerdas dan orang yang mempunyai IQ rendah tentu bodoh. Para psikolog sepakat bahwa IQ hanya menyumbangkan kira-kira dua puluh persen sebagai faktor dalam menentukan keberhasilan, delapan puluh persen berasal dari faktor lain

Pada akhirnya kecerdasan emosional disebut sebagai keterampilan lunak yang besar andilnya dalam menentukan kesuksesan kita mulai mendapat perhatian dan mulai diperhitungkan oleh pendidik, pelaku bisnis,dan media. Oleh karena itu, maka permasalahannya kaitannya dengan penelitian ini adalah bagaimana membangun kecerdasan emosional (EQ) siswa, adakah hubungan yang cukup sinergis antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa.

Dari hal tersebut menggambarkan adanya hal yang patut diduga, yaitu hubungan yang saling mempengaruhi antara kecerdasan emosional dan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa.

Tentu hal ini tidak lepas dari adanya faktor yang mempengaruhi, baik faktor dari dalam maupun dari luar. Faktor dari dalam antara lain kematangan usia, kekuatan iman, takwa, dan kecerdasan, sedang faktor dari luar berupa lingkungan. Dengan demikian perlu adanya bantuan berupa bagaimana membangun kecerdasan emosional bagi siswa agar memiliki kemampuan menghafal yang maksimal

Inilah mengapa diperlukannya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional di dalam menghafal Al-Qur’an. Ketika anak mempunyai kecerdasan emosional yang baik, maka akan berpengaruh baik pula pada kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa. Sehingga hafalan Al-Qur’an siswa akan bagus dan baik dalam menghafalnya. Akan tetapi, ketika anak mempunyai kecerdasan emosional yang rendah, maka akan mempengaruhi rendahnya semangat dalam menghafal Al-Qur’an.



Berangkat dari uraian di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Siswa di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi.

  1. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat di identifikasikan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut:

  1. Kurangnya kesabaran dan ketekunan dalam menghafalkan Al-Qur’an

  2. Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain gadget

  3. Terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bermain dengan teman-teman

  4. Kurangnya kesadaran siswa untuk melakukan muroja’ah hafalan




  1. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka perlu adanya pembatasan masalah untuk menghindari kesalah fahaman dalam memahami judul skripsi ini, penulis membatasi masalah dan memfokuskan pada “Kecerdasan Emosional yang dibatasi pada aspek Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Pada Siswa Kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan-Bekasi.


  1. Rumusan Masalah

Atas berbagai permasalahan, latar belakang, dan identifikasi masalah di atas, selanjutnya peneliti merumuskan masalahnya sebagai berikut:

  1. Bagaimana kecerdasan emosional siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Tahun Pelajaran 2018/2019?

  2. Bagaimana kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Tahun Pelajaran 2018/2019?

  3. Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Tahun Pelajaran 2018/2019?




  1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini yaitu:

  1. Untuk mengetahui kecerdasan emosional siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Tahun Pelajaran 2018/2019

  2. Untuk mengetahui kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Tahun Pelajaran 2018/2019

  3. Untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa kelas IX di SMP Islam Dewan Da’wah Tambun Selatan Bekasi Tahun Pelajaran 2018/2019




  1. Manfaat Penelitian

  1. Bagi penulis

Sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi sarjana (S1) di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan di Universitas Negeri Banten (UIN) “Sultan Maulana Hasanuddin Banten”. Dan sebagai sarana memperluas penegtahuan penulis khususnya mengenai kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa.



  1. Bagi Akademisi

Dapat dijadikan sebagai panduan dan membantu pengetahuan referensi bagi mahasiswa dan juga tambahan informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan di dalam dunia pendidikan untuk penelitiannya.

  1. Bagi Lembaga Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih ide tau gagasan tentang bagaimana Hubungan Antara Kecerdsan Emosional Dengan Kemampuan Menghafal Al-Qur’an Siswa. Untuk kemudian dijadikan sumber pengayaan pada Mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten.

  1. Bagi Pengembangan Ilmu

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai inovasi baru dalam pengembangan ilmu khususnya dunia pendidikan mengenai kecerdasan emosioanl terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa, serta memberikan pengetahuan bagi peneliti dan lembaga pendidikan untuk dijadikan acuan atau referensi pada masa yang akan datang.


  1. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah proses pembahasan dalam penulisan skripsi, maka penulis membagi ke dalam 5 (lima) bab, dalam tiap bab akan diuraikan sub babnya dengan rincian sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, dan Sistematika Pembahasan

Bab II Landasan Teoritis tentang hubungan antara kecerdasan emosional dengan kemampuan menghafal Al-Qur’an siswa. Meliputi dua variabel, yang pertama tentang Kecerdasan Emosional terdiri dari Pengertian Kecerdasan Emosional, Ciri-ciri Kecerdasan Emosional dan Faktor Kecerdasan Emosional. Dan yang kedua Menghafal Al-Qur’an, yang meliputi Pengertian Menghafal Al-Qur’an, Metode Menghafal Al-Qur’an, Hukum Menghafal Al-Qur’an, Keutamaan Menghafal Al-Qur’an, Syarat-syarat Menghafal Al-Qur’an, Faedah Menghafal Al-Qur’an, Hambatan-hambatan dalam Menghafal Al-Qur’an, dan Kaidah-kaidah menghafal Al-Qur’an

Bab III Metodologi Penelitian yang meliputi, Tempat Dan Waktu Penelitian, Metode Penelitian, Variabel Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Teknik Analisis Data

Bab IV Hasil Penelitian yang meliputi, Hasil Penelitian Dan Pembahasan Hasil Penelitian.

Bab V Penutup yang meliputi, Kesimpulan dan Saran.




BAB II

LANDASAN TEORITIS, PENELITIAN YANG RELEVAN, KERANGKA BERFIKIR, PENGAJUAN HIPOTESIS


  1. Landasan Teoritis

  1. Kecerdasan Emosional

  1. Pengertian Kecerdasan Emosional

Sebelum mengenal makna kecerdasan emosional secara mendalam ada baiknya jika kita memahami apa itu kecerdasan. Kecerdasan adalah pemahaman dan kesadaran seseorang terhadap apa yang dialaminya atau sesuatu yang ada dalam pikirannya, dari pikiran diubah menjadi pengalaman yang menjadi kata-kata atau angka.

Seorang psikolog modern yakni David Wechsler mengatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional, dan menghadapi lingkungannya secara efektif4. Sedangkan dalam makna harfiah, Oxford English Dictionary mendefinisikan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan fikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap5. Daniel Goleman mengatakan bahwa kecerdasan emsoional adalah Emosi adalah energi dahsyat yang kekuatannya melampaui batas kesadaran dan fisik6. Semua emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak, rencana seketika untuk mengatasi masalah yang telah ditanamkan secara berangsur-angsur oleh evolusi. Akar kata emosi adalah movere kata kerja bahasa latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”, ditambah awalan ”e untuk memberi arti “bergerak menjauh”, menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi7.

Menurut Abuddin Nata kecerdasan emosional adalah kepiawaian, kepandaian, dan ketepatan seseorang, dalam mengelola diri sendiri dalam hubungan dengan orang lain yang berada di sekelilingnya dengan menggunakan seluruh potensi psikologis yang dimilikinya, seperti inisiatif dan empati, adaptasi, komunikasi, kerjasama dan kemampuan personal yang secara keseluruhan telah mempribadi pada diri seseorang8. Hal ini sejalan dengan definisi kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Riana Mashar bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk mengenali, mengolah, dan mengontrol emosi agar anak mampu merespons secara positif setiap kondisi yang merangsang munculnya emosi-emosi itu9. Sedangkan dalam buku Emotional Intelligence Itu “Dipraktekin” (Dipraktikan) kecerdasan emosi adalah sebuah keterampilan manusia dalam proses evolusi tujuannya adalah survival10. Dan menurutut Ary Ginanjar kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan perasaan orang lain dan tau bagaimana bersikap terhadap situasi yang dihadapi11. Hal ini serupa dengan apa yang dijelaskan oleh Ary Ginanjar dalam bukunya ESQ For Teens Kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh manusia12. Dan dalam bukunya yang lain, Ary Ginanjar menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kepekaan mengenali dan mengelola perasaan sendiri dan orang lain yang kemudian menjadi kerangka dalam berperilaku, bersosialisasi atau mengambil keputusan yang tepat13.

Goleman menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri, mengatur suasana hati, menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan produktif untuk meraih suatu keberhasilan14



Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk memotivasi diri, mengatur suasana hati, menggunakan emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, membangun hubungan produktif untuk meraih suatu keberhasilan.


  1. Ciri-ciri Kecerdasan Emosional

Pada kenyatannya kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan baik di sekolah, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, wilayah tersebut meliputi sekelompok kemampuan kecerdasan emosional dan sosial, adapun kelima wilayah kecerdasan emosional meliputi:

  1. Kesadaran diri

Kesadaran diri dalam mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi merupakan dasar kecerdasan emosional. Pada wilayah ini diperlukan adanya pemantauan perasaan dari waktu ke waktu agar timbul wawasan dan pemahaman tentang diri.

  1. Mampu mengelola emosi

Kemampuan mengelola emosi merupakan landasan dalam mengenal diri sendiri atas emosi. Emosi dapat dikatakan berhasil apabila dapat dikelola dengan baik, adapun langkah yang dilakukan hendaknya; mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, dan dapat segera bangkit dari keterpurukan.

  1. Memotivasi diri

Maksud disini ialah usaha yang dilakukan seseorang dan tergerak untuk melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki.

  1. Mampu berempati

Kata empati sendiri memiliki arti kemampuan alam perasaan seseorang untuk menempatkan diri ke dalam alam perasaan orang lain sehingga bisa memahami pikiran, perasaan, dan perilakunya. Orang yang mampu berempati cenderung mampu menghangatkan suasana untuk menempatkan dirinya pada situasi dan perasaan orang lain.

  1. Mampu menjalin sosial dengan orang lain

Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi serta jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan ketrampilan-ketrampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan dan untuk bekerjasama dalam tim15.


  1. Faktor yang mempengaruhi Kecerdasan Emosional

Setiap anak harus di pantau perkembangannya sedini mungkin, baik itu perkembangan kognitifnya, emosionalnya, maupun spiritualnya. Karena didalam perkembangannya anak akan banyak menerima hal-hal baru dari luar lingkungan keluarga, oleh sebab itu orangtua harus bisa memantau perkembangan anak secara baik, dan orangtua lah yang memilah dan memilih mana yang baik dan buruk bagi anak. Keluarga terutama orangtua memang memiliki andil yang sangat penting didalam perkembangan anaknya, dalam hal emosional pun orangtua sangat diharapkan mampu berperan aktif didalam membimbing anak-anak mereka dalam hal pembentukan dan pengendalian emosi. Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah:

  1. Faktor Keluarga

Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam upaya mengembangkan pribadi anak. Perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nilai-nilai kehidupan, baik agama maupun sosial budaya yang diberikannya merupakan faktor yang penting untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang baik dan berbudi pekerti luhur16.

Hal ini tentu saja tidak mengherankan mengingat keluarga merupakan sekolah sekaligus lingkungan masyarakat yang pertama kali dimasuki oleh manusia. Di sekolah yang pertama inilah manusia yang masih berstatus sebagai anak melewatkan masa-masa kritisnya untuk menerima pelajaran-pelajaran yang berguna untuk perkembangan emosinya.



  1. Faktor Masyarakat

Masyarakat merupakan faktor dari luar yang mempengaruhi kecerdasan emosional, di mana masyarakat yang maju dan kompleks tuntutan hidupnya cenderung mendorong untuk hidup dalam situasi kompetitif, penuh saingan dan individualis dibanding dengan masyarakat sederhana. Faktor masyarakat terdiri dari lingkungan sosial dan non-sosial17. Lingkungan sosial meliputi lingkungan keluarga, guru dan siswa. Sedangkan lingkungan non-sosial meliputi keadaan sekolah, alam sekitar dan lain-lain. Baik lingkungan sosial maupun non-sosial, keduanya berpengaruh terhadap kecerdasan emosional siswa dan pada akhirnya akan berpengaruh pada prestasi belajar siswa.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional adalah keluarga atau orang tua dan faktor masyarakat. Keluarga merupakan pendidikan pertama dan utama bagi anak, sedangkan masyarakat merupakan faktor lanjutan dan apa yang telah diperoleh anak dari keluarga. Keduanya sangat berpengaruh terhadap emosional anak dan keluargalah yang mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkan masyarakat, karena di dalam kel uarga kepribadian anak dapat terbentuk sesuai dengan pola pendidikan orang tua dalam kehidupannya dan tentunya hal ini akan lebih baik, sebab setiap orangtua menginginkan anak-anak mereka menjadi pribadi yang baik terutama di dalam bermasyarakat.





  1. Kemampuan Menghafal Al-Qur’an

  1. Pengertian Kemampuan

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kemampuan berasal dari kata “mampu” yang berarti kuasa (bisa, sanggup, melakukan sesuatu, dapat, mempunyai harta berlebihan)18. Kemampuan adalah suatu kesanggupan dalam melakukan sesuatu. Sedangkan di dalam Kamus Bahasa Arab-Indonesia kemampuan berasal dari kata Istatha’a yang berarti berkuasa, bertenaga19

  1. Pengertian Menghafal Al-Qur’an

Al-hifz (hafalan) secara bahasa adalah lawan dari pada lupa, yaitu selalu ingat dan sedikit lupa. Penghafal adalah orang yang menghafal dengan cermat dan termasuk sederetan kaum yang menghafal20. Secara istilah kata menghafal menurut KBBI berasal dari kata “hafal” yang berarti telah masuk dalam ingatan, dapat mengucapkan di luar kepala (tanpa melihat buku atau catatan lain)21. Sedangkan kata menghafal berarti berusaha meresapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat. Al-hifz juga diartikan menahan diri dari sesuatu yang tidak dihalalkan oleh Allah.

Secara bahasa Al-Qur’an berasal dari kata Qara’a yang memiliki arti bacaan22, dan Qira’ah yang berarti menghimpun huruf-huruf dengan kata yang satu dengan yang lainnya dalam suatu ucapan yang tersusun rapih.



اَلْقُرْاَنْ َكَلاَمُ اللهِ الْمُنَزَّلُ عَلَي نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

اَلْمَتَعَبَّدُ بِتِلاَ وَتِه

Artinya: “Al-Qur’an adalah Kalam atau Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pembacaannya merupakan suatu ibadah”23. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:



مَنْ قِرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ عَزَّوَجَلَّ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَا لِهَا، وَلاَ أَقُوْلُ : ألم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barangsiapa membaca satu huruf Al-Qur’an maka dia akan mendapatkan satu kebaikan. Setiap satu kebaikan diberi sepuluh kali lipat pahala kebaikan yang sama. Aku tidak mengatakan ‘Alif Laam Miim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf”24

Al-Qur'an adalah kitab yang diajarkan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya yang mulia, dan dibawa para malaikat pencatat yang mulia lagi baik. Al-Qur'an adalah kitab yang dikumpulkan Abu Bakar As-Shiddiq atas anjuran Umar bin Khattab dan dibukukan oleh Utsman bin Affan serta seluruh kaum muslim (para sahabat) bersepakat atasnya25.

Menghafal Al-Qur’an adalah suatu pekerjaan yang mulia di sisi Allah ta’ala. Bahkan orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an dan mengamalkan isi kandungannya adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan dan pahala yang berlipat ganda dari Allah. Karena demikian setiap kaum muslimin mempunyai minat yang besar untuk menghafal Al-Qur’an26.

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menghafal Al-Qur’an dapat diartikan sebagai kinerja efektif seseorang untuk melafalkan dan membunyikan Al-Qur’an dengan tanpa melihat mushaf dan membaca Al-Qur’an serta mengamalkan isi kandungannya adalah orang-orang yang mempunyai keutamaan dan pahala yang berlipat ganda dari Allah



  1. Yüklə 0,9 Mb.

    Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5   6   7   8   9




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə