Bab II ayat-ayat al-qur’an tentang nikmat



Yüklə 173,44 Kb.
tarix29.10.2017
ölçüsü173,44 Kb.

BAB II

AYAT-AYAT AL-QUR’AN TENTANG NIKMAT
Al-Qur’an diturunkan untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia, memberikan cahaya kepada pikirannya, dan mendidik jiwa serta akal mereka. Di waktu yang sama, Al-Qur’an juga memberikan solusi yang benar atas segala persoalan yang kerap kali datang menguji keberlangsungan dakwah dalam setiap tingkatannya. Selain itu, Al-Qur’an juga memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang diajukan Rasulullah SAW., sebagai perantara atas segala pertanyaan yang diajukan oleh kaum mukmin dan lainnya. Al-Qur’an juga memberikan tanggapan terhadap sejumlah kejadian dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada kehidupan umat manusia, yakni dengan tanggapan yang berisikan penjelasan tentang sikap risalah ajaran Islam terhadap kejadian dan peristiwa-peristiwa tersebut. Atas dasar inilah, maka ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Qur’an dibagi menjadi dua bagian, yaitu:1

  1. Ayat-ayat yang diturunkan untuk memberikan hidayah dan pendidikan, serta pencerahan, tanpa didahului dengan adanya kejadian dan sebab-sebab tertentu pada masa wahyu diturunkan, yang menyebabkan ayat itu diturunkan. Contohnya, ayat-ayat yang menggambarkan tentang akan terjadinya hari kiamat, nikmat, dan azab kubur, serta kejadian-kejadian lainnya. Allah SWT., menurunkan ayat-ayat tersebut untuk memberikan hidayah kepada umat manusia yang bukan merupakan jawaban atas pertanyaan, atau solusi dari kejadian yang datang secara tiba-tiba, atau tanggapan dan sikap atas kejadian-kejadian yang tengah berlangsung.

  2. Ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan karena didahului dengan adanya sebab berupa kejadian-kejadian yang terjadi pada masa wahyu diturunkan. Contohnya adalah persoalan-persoalan yang dihadapi oleh Rasulullah SAW., dalam berdakwah, atau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban, atau kejadian yang menuntut adanya tanggapan dan keterangan khusus. Penyebab-penyebab yang menuntut turunnya ayat-ayat Al-Qur’an ini disebut juga dengan sebutan asbabun nuzul. Definisi asbabun nuzul adalah segala sebab yang terjadi pada masa wahyu diturunkan yang menyebabkan turunnya wahyu.

Term “nikmat” dalam kitab suci Al-Qur’an terdapat pada 77 ayat ditambah kata “alaa’” sebanyak 31 ayat pada surat Ar-Rahman, yakni di antaranya:

No.

Lafadz

Surat dan Ayat

Status

1.

نِعْمَةً , نِعْمَةٌ

  • Al-Baqarah ayat 211,231

  • Ali Imran ayat 103,171,174

  • Al-Maidah ayat 6,11,20

  • Al-Anfal ayat 53

  • Ibrahim ayat 6,28,34

  • An-Nahl ayat 18,53,71,72,83,114

  • Asy-Syu’ara ayat 22

  • Al-Ankabut ayat 67

  • Luqman ayat 31

  • Al-Ahzab ayat 9

  • Fathir ayat 3

  • Ash-Shaffat ayat 57

  • Az-Zumar ayat 8,49

  • Az-Zukhruf ayat 13

  • Al-Hujurat ayat 8

  • At-Thur ayat 29

  • Al-Qamar ayat 35

  • Al-Qalam ayat 2,49

  • Al-Lail ayat 19

  • Ad-Dhuha ayat 11

- Madaniyyah

- Madaniyyah

- Madaniyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah



2.

النَِّعِمُِ

  • Al-Maidah ayat 65

  • At-Taubah ayat 21

  • Yunus ayat 9

  • Al-Hajj ayat 56

  • Asy-Syu’ara ayat 85

  • Luqman ayat 8

  • Ash-Shaffat ayat 43

  • At-Thur ayat 17

  • Al-Waqi’ah ayat 12,89

  • Al-Qalam ayat 34

  • Al-Ma’arij ayat 38

  • Al-Insan ayat 20

  • Al-Infithar ayat 13

  • Al-Muthaffifin ayat 22,24

  • At-Takatsur 8

- Madaniyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Makiyyah


3.

أَنْعَمَ

  • An-Nisa’ ayat 69,72

  • Al-Maidah ayat 23

  • Maryam ayat 58

  • Al-Ahzab ayat 37

- Madaniyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah



4.

أَنْعَمْتَُ

  • Al-Fatihah ayat 7

  • Al-Baqarah ayat 40,47,122

  • An-Naml 19

  • Al-Qashash 17

  • Al-Ahzab 37

  • Al-Ahqaf ayat 15

- Makiyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah



5.

أَنْعَمْنَا

  • Fushshilat ayat 51

  • Az-Zukhruf ayat 59

- Makiyyah

- Makiyyah



6.

أَنْعَمَهَا

  • Al-Anfal ayat 53

- Madaniyyah

7.

نِعْمَةَ

  • Al-Maidah ayat 7

- Madaniyyah

8.

نِعْمَةٍ

  • Ad-Dukhan ayat 27

- Makiyyah

9.

نِعْمَتَكَ

  • An-Naml ayat 19

  • Al-Ahqaf ayat 15

- Makiyyah

- Makiyyah



10.

نِعْمَتَهُ

  • Ali Imran ayat 103

  • Al-Maidah ayat 6

  • Yusuf ayat 6

  • An-Nahl ayat 81

  • Al-Fath ayat 2

- Madaniyyah

- Madaniyyah

- Makiyyah

- Makiyyah

- Madaniyyah


11.

نِعْمَتِىَ

  • Al-Baqarah ayat 40,47,122,150

  • Al-Maidah ayat 3,110

- Madaniyyah

- Madaniyyah



12.

نِعَمَهُ

- Luqman ayat 20

- Makiyyah

13.

أَنْعُمِ - ِلأَنْعُمِهِ

- An-Nahl ayat 112,121

- Makiyyah

14.

ءَالآءِ

Ar-Rahman ayat 13,16,18,21,23,25,28,30, 32,34,36,38,40,42,45,47,49,51,53,55,57, 59,61,63,65,67,69,71,73,75,77

- Madaniyyah


A. Ayat-Ayat Makiyyah

Golongan ayat Makiyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan di Makkah selama 12 tahun 5 bulan 13 hari, terhitung sejak tanggal 17 Ramadhan tahun ke-41 dari kelahiran Nabi (6 Agustus 610M) sampai tanggal 1 Rabi’ul Awal.2 Berikut ini ciri-ciri dari gaya bahasa dan tema surat yang termasuk ke dalam kelompok Makiyyah adalah:3



  1. Ayat dan surat-suratnya pendek dan ringkas, serta memiliki kesamaan cara penyampaian atau gaya bahasanya.

  2. Ayat dan surat-suratnya berisikan seruan tentang dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT., masalah wahyu, alam ghaib, hari akhir, serta gambaran tentang surga dan neraka.

  3. Berisikan tentang seruan untuk memegang teguh akhlak al-karimah dan istiqomah dalam berbuat kebaikan.

  4. Berisikan tentang perlawanan terhadap kaum musyrik dan memberantas cita-cita mereka.

  5. Surat-suratnya banyak diawali dengan kalimat “wahai manusia” dan tidak menggunakan kalimat “wahai orang-orang yang beriman”.

Adapun ayat-ayat tentang nikmat khusus term نِعْمَةً , نِعْمَةٌ yang termasuk ke dalam surat Makiyyah ialah: (selain term tersebut, penyebutannya terdapat pada lampiran)

  • Surat Ibrahim ayat 6, 28, dan 34

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari (Fir’aun dan) pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Q.S. Ibrahim [14]:6)4


“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah5 dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan.” (Q.S. Ibrahim [14]:28)6


“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.S. Ibrahim [14]:34)7




  • Surat An-Nahl ayat 18, 53, 71, 72, 83, dan 114

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nahl [16]:18)8


“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (Q.S. An-Nahl [16]:53)9


“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?10” (Q.S. An-Nahl [16]:71)11


“Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (Q.S. An-Nahl [16]:72)12


“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S. An-Nahl [16]:83)13


“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Q.S. An-Nahl [16]:114)14




  • Surat Asy-Syu’ara ayat 22

“Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israel.” (Q.S. Asy-Syu’ara [26]:22)15




  • Surat Al-Ankabut ayat 67

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok. Maka mengapa (sesudah nyata kebenaran) mereka masih percaya kepada yang bathil dan ingkar kepada nikmat Allah?” (Q.S. Al-Ankabut [29]:67)16




  • Surat Luqman ayat 31

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur.” (Q.S. Luqman [31]:31)17




  • Surat Fathir ayat 3

“Hai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepada kamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?” (Q.S. Fathir [35]:3)18




  • Surat Ash-Shaffat ayat 57

“Jikalau tidaklah karena nikmat Tuhanku, pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).” (Q.S. Ash-Shaffat [37]:57)19




  • Surat Az-Zumar ayat 8 dan 49

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya, lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu, dan dia mengada-adakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, “Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu. Sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.” (Q.S. Az-Zumar 39]:8)20


“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (Q.S. Az-Zumar 39]:49)21




  • Surat Az-Zukhruf ayat 13

“Supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]:13)22




  • Surat At-Thur ayat 29

“Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila.” (Q.S. At-Thur [52]:29)23




  • Surat Al-Qamar ayat 35

“Sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Al-Qamar [54]:35)24




  • Surat Al-Qalam ayat 2 dan 49

“Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.” (Q.S. Al-Qalam [68]:2)25


“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.” (Q.S. Al-Qalam [68]:49)26




  • Surat Al-Lail ayat 19

“Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya.” (Q.S. Al-Lail [92]:19)27




  • Surat Ad-Dhuha ayat 11

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (Q.S. Ad-Dhuha [93]:11)28


Dari uraian ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat Makiyyah tentang nikmat berisikan mengenai pertolongan terhadap yang tertimpa kemudharatan, pengingkaran terhadap nikmat Allah, pemberian limpahan rezeki dari Allah, dan cobaan dari Allah. Oleh karena itu, uraian tersebut dapat dikatakan dalam ciri-ciri ayat Makiyyah tentang dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT.

B. Ayat-Ayat Madaniyyah

Golongan ayat Madaniyyah ialah ayat-ayat yang diturunkan sesudah Nabi Muhammad SAW., melakukan hijrah ke Madinah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, terhitung sejak Nabi hijrah ke Madinah sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun 63 dari tahun kelahiran Nabi.29 Berikut ini ciri-ciri umum surat Madaniyyah, yaitu:30



  1. Susunan ayat dan surat-suratnya panjang.

  2. Bukti-bukti kebenaran dan dalil-dalil yang dipergunakan lebih mengutamakan kebenaran-kebenaran agama.

  3. Di dalamnya berisikan tentang perlawanan terhadap ahlul kitab dan seruan kepada mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan syariat agama.

  4. Banyak bercerita tentang orang-orang munafik dan problema-problema yang disebabkan karena mereka.

  5. Lebih banyak mengutarakan tentang sanksi-sanksi, hukum waris, hak dan aturan-aturan politik, sosial dan negara.

Adapun ayat-ayat tentang nikmat khusus term نِعْمَةً , نِعْمَةٌ yang termasuk ke dalam surat Madaniyyah ialah: (selain term tersebut, penyebutannya terdapat pada lampiran)



  • Surat Al-Baqarah ayat 211 dan 231

“Tanyakanlah kepada Bani Israel, “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran)31 yang nyata, yang telah kami berikan kepada mereka.” Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah32 setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:211)33


“Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka34. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah, serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]:231)35




  • Surat Ali Imran ayat 103, 171, dan 174

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran [3]:103)36


“Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali Imran [3]:171)37


“Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar38.” (Q.S. Ali Imran [3]:174)39




  • Surat Al-Maidah ayat 6, 11, dan 20

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, maka mandilah, dan jika kamu sakit40 atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh41 perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Q.S. Al-Maidah [5]:6)42


“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal.” (Q.S. Al-Maidah [5]:11)43


“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.” (Q.S. Al-Maidah [5]:20)44





  • Surat Al-Anfal ayat 53

“(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri45, dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Anfal [8]:53)46




  • Surat Al-Ahzab ayat 9

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya47. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Ahzab [33]:9)48




  • Surat Al-Hujurat ayat 8

“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Hujurat [49]:8)49


Dari uraian ayat-ayat di atas dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat Madaniyyah tentang nikmat berisikan mengenai kebenaran-kebenaran dalam agama Allah, kesyukuran terhadap nikmat Allah, dan karunia dari Allah. Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam ciri-ciri dari ayat Madaniyyah yang mengutamakan kebenaran-kebenaran agama Allah dan lebih kepada tanda-tanda kebenaran-Nya.
C. Sebab Turun Ayat Al-Qur’an Tentang Nikmat

Perbedaan antara Makiyyah dan Madaniyyah dalam teks merupakan perbedaan antara dua fase penting yang memiliki andil dalam membentuk teks, baik dalam tataran isi ataupun struktur. Hal ini merupakan buah dari interaksinya dengan realitas yang dinamis-historis. Jika ilmu Makiyyah dan Madaniyyah mengungkapkan gejala-gejala umum dari interaksi tersebut, maka ilmu tentang asbabun nuzul menyingkapkan secara terperinci interaksi tersebut dan memberi informasi mengenai fase-fase pembentukan teks dalam realitas dan kebudayaan secara lebih cermat.50

Terkait dengan perbedaan Makiyyah dan Madaniyyah, ayat-ayat Al-Qur’an terbagi menjadi dua golongan, yakni golongan surat Makiyyah dan golongan surat Madaniyyah. Adapun urutan yang termasuk ke dalam golongan surat Makiyyah ialah: Al-‘Alaq, Al-Qalam, Al-Muzammil, Al-Mudatsir, Al-Fatihah, Al-Lahab, At-Takwir, Al-A’la, Al-Lail, Al-Fajr, Ad-Dhuha, Al-Insyirah, Al-Ashr, Al-‘Adiyat, Al-Kautsar, At-Takatsur, Al-Ma’un, Al-Kafirun, Al-Fil, Al-Falaq, An-Nas, Al-Ikhlas, An-Najm, ‘Abasa, Al-Qadr, Asy-Syams, Al-Buruj, At-Tin, Quraisy, Al-Qari’ah, Al-Qiyamah, Al-Humazah, Al-Mursalat, Qaf, al-Balad, At-Thariq, Al-Qamar, Shad, Al-A’raf, Al-Jin, Yasin, Al-Furqan, Fathir, Maryam, Thaha, Al-Waqi’ah, Asy-Syu’ara, An-Naml, Al-Qashash, Al-Isra’, Yunus, Hud, Yusuf, Al-Hijr, Al-An’am, Ash-Shaffat, Luqman, Saba’, Az-Zumar, Al-Mu’min, Fushshilat, Asy-Syura, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Adz-Dzariyat, Al-Ghasiyah, Al-Kahfi, An-Nahl, Nuh, Ibrahim, Al-Anbiya’, Al-Mu’minun, As-Sajdah, At-Thur, Al-Mulk, Al-Haqqah, Al-Ma’arij, An-Naba’, An-Nazi’at, Al-Infithar, Al-Insyiqaq, Ar-Rum, Al-Ankabut, dan Al-Muthaffifin. Sedangkan urutan yang termasuk golongan surat Madaniyyah ialah: Al-Baqarah, Al-Anfal, Ali Imran, Al-Ahzab, Al-Mumtahanah, An-Nisa’, Az-Zalzalah, Al-Hadid, Muhammad, Ar-Ra’d, Ar-Rahman, Al-Insan, At-Thalaq, Al-Bayyinah, Al-Hasyr, An-Nur, Al-Hajj, Al-Munafiqun, Al-Mujadalah, Al-Hujurat, At-Tahrim, At-Taghabun, Ash-Shaf, Al-Jumu’ah, Al-Fath, Al-Maidah, At-Taubat, dan An-Nashr.

Dari uraian di atas, ayat-ayat tentang nikmat yang terdapat asbabun nuzul-nya yang sesuai dengan urutan turunnya Al-Qur’an yakni sebagai berikut:




  • Al-Qalam ayat 2

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum kafir Quraisy menuduh Nabi SAW., sebagai orang gila, bahkan sebagai setan. Maka turunlah ayat ini sebagai bantahan atas ucapan mereka itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij)51

  • Surat Al-Lail ayat 19

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya, seorang fakir yang banyak anak. Setiap kali pemilik kurma itu memetik buahnya, ia memetiknya dari rumah tetangganya itu. Apabila ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak orang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut mereka pun dipaksanya keluar.

Orang fakir itu mengadukan halnya kepada Nabi SAW. Beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah SAW., bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda, “Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si anu. Sebagai gantinya kamu akan mendapat pohon kurma di surga.” Si pemilik pohon kurma berkata, “Hanya sekian tawaran tuan? Aku mempunyai banyak pohon kurma, dan pohon kurma yang diminta itu yang paling baik buahnya.” Lalu si pemilik pohon kurma itu pun pergi.

Pembicaraan si pemilik pohon kurma dengan Nabi SAW., itu terdengar oleh seorang dermawan yang langsung menghadap Rasulullah dan berkata, “Seandainya pohon kurma itu menjadi milikku, apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku?” Rasulullah menjawab, “Ya!” Maka pergilah orang itu menemui si pemilik pohon kurma. Si pemilik pohon kurma berkata, “Apakah engkau tahu bahwa Muhammad SAW., menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Aku telah mencatat tawaran beliau. Akan tetapi buah pohon kurma itu sangat mengagumkan. Aku banyak mempunyai pohon kurma, tetapi tidak ada satu pohon pun yang selebat itu.” Orang dermawan itu berkata, “Apakah engkau mau menjualnya?” Ia menjawab, “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, akan tetapi pasti tidak akan ada yang sanggup.” Orang dermawan itu berkata lagi, “Berapa yang engkau inginkan?” Ia berkata, “Aku inginkan empat puluh pohon kurma.” Orang dermawan itu terdiam, kemudian berkata lagi, “Engkau minta yang bukan-bukan. Tapi baiklah aku berikan empat puluh pohon kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika engkau benar-benar mau menukarnya.” Ia pun memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan penukaran itu.

Orang dermawan itu menghadap Rasulullah SAW., dan berkata, “Ya Rasulullah, pohon kurma itu telah menjadi milikku. Aku akan menyerahkannya kepada tuan.” Maka berangkatlah Rasulullah SAW., menemui pemilik rumah yang fakir itu dan bersabda, “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan keluargamu.” Maka turunlah ayat ini (surat Al-Lail ayat 1 sampai akhir) yang membedakan kedudukan dan kesudahan orang bakhil dengan orang dermawan. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lain-lain, dari Al-Hakam bin Abban, dari Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas. Menurut Ibnu Katsir, hadits ini sangat gharib)52

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Abu Bakar memerdekakan tujuh orang hamba yang disiksa oleh pemiliknya karena beriman kepada Allah. Ayat 17-21 turun berkenaan dengan peristiwa itu, sebagai janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Urwah)53

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Abu Quhafah, ayah Abu Bakar, berkata kepada Abu Bakar, “Aku lihat engkau memerdekakan hamba-hamba yang lemah. Hai anakku, sekiranya engkau memerdekakan hamba-hamba yang kuat, pasti mereka akan membela dan mempertahankanmu.” Abu Bakar menjawab, “Wahai ayahanda, aku mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.” Maka turunlah ayat 5-21 yang berkenaan dengan sikap Abu Bakar ini. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Amir bin Abdillah bin Az-Zubair yang bersumber dari bapaknya)54



  • Surat Az-Zukhruf ayat 59

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah berkata kepada kaum Quraisy, “Sesuatu yang disembah selain Allah tak akan memberikan kebaikan sedikit pun.” Kaum Quraisy berkata, “Bukankah engkau menganggap bahwa Isa adalah Nabi dan seorang hamba yang shaleh, padahal dia pun disembah?” Ayat 57-59 turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan kaum Quraisy yang selalu berusaha membantah ajaran Rasulullah SAW. (Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih dan At-Thabarani, yang bersumber dari Ibnu Abbas)55

  • Surat An-Nahl ayat 81 dan 83

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika seorang Arab bertanya kepada Nabi SAW., tentang Allah, beliau membacakan ayat, Wallahu ja’ala lakum mim buyutikum sakana… (Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal…) (Q.S. An-Nahl:80). Orang itu pun mengiyakannya. Kemudian Nabi SAW., membaca kelanjutan ayat tersebut, …wa ja’ala lakum min juludil an’ami buyutan tastakhiffunaha yauma zha’nikum wa yauma iqamatikum… (…dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan membawanya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim…) (Q.S. An-Nahl:80). Orang itu pun mengiyakannya. Kemudian Rasulullah membaca lagi kelanjutan ayat tersebut, dan orang itu pun mengiyakannya. Namun ketika Rasulullah sampai pada ayat, …kadzalika yutimmu ni’matahu alaikum la’allakum tuslimun (…demikianlah Allah menyempurnakan nikmat-Nya atasmu agar kamu berserah diri kepada-Nya) (Q.S. An-Nahl:81), orang itu berpaling dan tidak mau masuk Islam. Maka turunlah ayat selanjutnya, yakni ayat 83 yang menegaskan bahwa walaupun orang-orang tahu akan nikmat yang diberikan Allah, tapi kebanyakan mereka tetap kafir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid)56

  • Surat Ibrahim ayat 28

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat 28-29 turun berkenaan dengan tokoh-tokoh Quraisy yang terbunuh dalam peperangan Badr. Ayat tersebut menegaskan bahwa pengorbanan mereka demi kekufurannya telah membinasakan dirinya, kaumnya, dan negaranya sendiri. Sementara itu, tempat mereka di akhirat adalah neraka Jahanam. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Atha’ bin Yasar)57

  • Surat Al-Ankabut ayat 67

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy berkata, “Hai Muhammad! Tidak ada yang menghalangi kami untuk memeluk agamamu kecuali takut diculik dan dibunuh, karena orang-orang Badui lebih banyak daripada kami. Sekiranya sampai berita kepada mereka bahwa kami memeluk agamamu, mereka akan menculik kami, dan kami akan dimakan mentah-mentah.” Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. (Diriwayatkan oleh Juwaibir dari Ad-Dlahhak yang bersumber dari Ibnu Abbas)58

  • Surat Al-Baqarah ayat 150

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat ini sehubungan dengan peristiwa sebagai berikut: Ketika Nabi SAW., memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, kaum musyrikin Makkah berkata, “Muhammad dibingungkan oleh agamanya. Ia memindahkan arah kiblatnya ke arah kiblat kita. Ia mengetahui bahwa jalan kita lebih benar daripada jalannya, dan ia sudah hampir masuk agama kita.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari As-Suddi melalui sanad-sanadnya)59

  • Surat Al-Baqarah ayat 231

Dalam suatu riwayat dikemukakan ada seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian merujuknya sebelum habis iddahnya, terus menceraikannya lagi dengan maksud menyusahkan dan mengikat istrinya agar tidak bisa menikah dengan yang lain, maka turunlah ayat ini. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas)60

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa turunnya ayat ini berkenaan dengan Tsabit bin Yasar Al-Anshari yang menalak istrinya. Tetapi setelah hampir habis iddahnya, ia merujuknya lagi, lalu menceraikannya lagi dengan maksud menyakiti istrinya. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari As-Suddi)61

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian berkata, “Sebenarnya aku hanya main-main saja.” Kemudian ia memerdekakan hambanya, tetapi tidak lama kemudian ia berkata, “Aku hanya main-main saja.” Maka turunlah ayat ini sebagai teguran atas perbuatan seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Umar di dalam musnad-nya dan Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abud Darda’. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari Ubadah bin Ash-Shamit. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Al-Hasan, yang haditsnya mursal)62



  • Surat Ali Imran ayat 103

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika kaum Aus dan Khazraj duduk-duduk, berceritalah mereka tentang permusuhannya di zaman jahiliyyah, sehingga bangkitlah amarah kedua kaum tersebut. Masing-masing bangkit memegang senjatanya, saling berhadapan. Maka turunlah ayat 101-103 yang melerai mereka. (Diriwayatkan oleh Al-Faryabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu Abbas)63

  • Surat Ali Imran ayat 174

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika kaum musyrikin pulang dari Perang Uhud, mereka berkata, “Mengapa kalian tidak bunuh Muhammad dan merampas gadis Madinah? Alangkah buruknya perbuatan itu, pulanglah kalian kembali!” Hal itu terdengar oleh Rasulullah SAW., sehingga beliau pun menyiapkan pasukan yang menyambut baik seruannya. Kemudian mereka mengejar kaum musyrikin hingga sampai ke Hamraul Asad atau Bi’ru Abi Utbah. Maka turunlah ayat 172 sebagai pujian atas sambutan para sahabat.

Dalam hadits itu pula dikemukakan bahwa Abu Sufyan pernah berkata kepada Nabi SAW., “Hidupmu akan berakhir di musim pasar di Badr, tempat kawan-kawanku dahulu terbunuh (pada perang Badr yang lalu).” Di antara para sahabat ada yang lesu dan enggan, terus pulang, sedang yang bersemangat, bersiap siaga untuk berperang dan berdagang. Ketika Rasul dan sahabat-sahabatnya sampai di Badr (di musim pasar), tak seorang pun pasukan Abu Sufyan yang ada di sana. Mereka pun berdaganglah. Maka turunlah ayat 174 yang menceritakan keadaan para sahabat yang mendapat nikmat dan karunia Allah. (Diriwayatkan oleh At-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas)64

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Nabi SAW., mengutus Ali bin Abi Thalib untuk memimpin pasukan mencari Abu Sufyan. Bertemulah mereka dengan seorang Badui dari Khuza’ah yang berkata, “Sesungguhnya kaum (Quraisy) telah berkumpul dan bersiap siaga untuk menggempur kalian.” Mereka berkata, “Cukuplah Allah yang akan membela kami, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong dan Penjaga.” Maka turunlah ayat 174 yang memuji kaum muslimin yang berjuang di jalan Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Rafi’)65


  • Surat Al-Ahzab ayat 9

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa pada waktu peperangan Ahzab, pada malam yang sangat gelap gulita, para sahabat Rasulullah bersiap-siap menantikan pasukan musuh. Terlihat pasukan yang dipimpin Abu Sufyan berada di atas pasukan kaum muslimin (di atas bukit), sedang orang-orang Yahudi Bani Quraizhah (sekutu Abu Sufyan) berada di bagian bawah (di lembah-lembah). Dikhawatirkan mereka akan mengganggu keluarga dan anak-anak kaum muslimin. Pada malam itu terasa angin berhembus sangat kencang. Kaum munafikin meminta izin kepada Nabi untuk meninggalkan tempat itu dengan alasan rumah mereka kosong, padahal sebenarnya mereka akan melarikan diri. Setiap orang yang meminta izin kepada Nabi SAW., pasti beliau izinkan. Namun mereka terus lari dan bersembunyi.

Ketika Nabi SAW., memeriksa pasukan kaum muslimin seorang demi seorang, sampailah beliau kepada Hudzaifah seraya bersabda, “Cobalah selidiki keadaan musuh.” Hudzaifah pun berangkat. Dia melihat angin menghantam perkemahan musuh, sehingga tiada sejengkal pun perkemahan yang luput dari serangan angin itu. Dia juga mendengar kemah-kemah dan barang-barang terlempar batu yang dibawa angin, dan mereka berteriak mengajak kawan-kawannya mundur. Kemudian Hudzaifah menghadap Rasulullah dan melaporkan hal ihwal musuh. Maka turunlah ayat ini sebagai perintah untuk selalu ingat akan nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Kitab Ad-Dala-li, yang bersumber dari Hudzaifah)66



  • Surat Al-Ahzab ayat 37

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat, …wa tukhfi fi nafsika mallahu mubdih… (…sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya…). Ayat 37 turun berkenaan dengan peristiwa Zainab binti Jahsy dan Zaid bin Haritsah. (Diriwayatkan oleh Bukhari yang bersumber dari Anas)67

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Zaid bin Haritsah mengadu kepada Nabi SAW., tentang kelakuan Zainab binti Jahsy. Bersabdalah Rasulullah SAW., “Tahanlah istrimu!” Maka turunlah ayat ini yang mengingatkan Rasulullah akan sesuatu yang tetap dirahasiakan oleh dirinya, yang telah diberitahukan oleh Allah. (Diriwayatkan oleh Al-Hakim yang bersumber dari Anas)68

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika telah habis iddah Zainab (setelah diceraikan oleh Zaid), bersabdalah Rasulullah SAW., kepada Zaid, “Pergilah engkau kepada Zainab dan terangkanlah kepadanya bahwa aku akan mengawininya.” Berangkatlah Zaid memberitahukan maksud Rasulullah. Zainab pun menjawab, “Aku tidak akan berbuat apa-apa sebelum meminta pertimbangan dari Rabb-ku.” Kemudian ia pergi ke tempat sujudnya.

Setelah turun ayat ini, datanglah Rasulullah SAW., mengawininya tanpa menunggu persetujuannya. Pada waktu itu, para sahabat dijamu makan roti dan daging (walimah). Mereka pun berangsur pulang, hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bercakap-cakap di sana.

Rasulullah SAW., keluar-masuk rumah istri-istrinya, dan Zaid pun mengikutinya. Beberapa lama kemudian diberitahukan kepada beliau bahwa semua orang sudah meninggalkan rumah Zainab. Maka pergilah Rasulullah SAW., mendapatkan Zainab diikuti oleh Zaid, akan tetapi oleh Rasulullah dihalangi dengan hijab.

Berkenaan dengan peristiwa tersebut, turun pula ayat 53 sebagai larangan kepada kaum muslimin untuk memasuki rumah Rasulullah kecuali dengan seizin beliau. (Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, dan An-Nasa’i)69



  • Surat An-Nisa’ ayat 69

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang laki-laki menghadap Nabi SAW., dan berkata, “Ya Rasulullah! Aku mencintai tuan lebih daripada cintaku kepada diriku dan anakku sendiri. Jika sedang di rumah, aku selalu ingat kepada tuan dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan tuan. Dan jika aku ingat akan ajalku dan ajal tuan, aku yakin bahwa tuan akan diangkat (pada kedudukan yang paling tinggi) beserta nabi-nabi di surga. Apabila masuk surga, aku takut kalau-kalau tidak bisa bertemu dengan tuan.” Maka Nabi terdiam tidak menjawab sedikit pun, sehingga Jibril turun dengan membawa ayat ini sebagai janji Allah kepada orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. (Diriwayatkan oleh At-Thabarani dan Ibnu Marduwaih dengan sanad la ba’sa bih (lumayan: tidak shahih dan tidak dla’if), yang bersumber dari Aisyah)70

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa para sahabat Rasulullah SAW., pernah berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak mau berpisah dengan tuan, tapi nanti di akhirat tuan akan diangkat beserta nabi-nabi lainnya lebih tinggi derajatnya daripada kami, sehingga kami tidak dapat bertemu dengan tuan.” Maka turunlah ayat ini sebagai janji Allah bahwa mereka (yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) akan digolongkan kepada orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah SWT. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Masruq)71

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang pemuda menghadap Nabi SAW., dan berkata, “Ya Nabi Allah, kami dapat bertemu dengan tuan di dunia ini, sedang di akhirat kami tidak dapat bertemu, karena tuan berada pada derajat yang tertinggi di surga.” Maka Allah menurunkan ayat ini. Kemudian Rasulullah bersabda, “Engkau besertaku di dalam surga, Insya Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ikrimah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, Masruq, Ar-Rabi’, Qatadah, dan As-Suddi, tetapi mursal)72


  • Surat Al-Insan ayat 20

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Umar bin Khattab menghadap Rasulullah SAW., kebetulan beliau sedang tidur di atas tikar pelepah kurma, sehingga bekasnya pun kelihatan pada badan beliau. Umar menangis melihat keadaan itu. Beliau bersabda, “Mengapa engkau menangis?” Umar menjawab, “Tuan telah menceritakan kemegahan Kisra (Persia) dan kerajaannya, Hurmuz dan kerajaannya, serta raja Habasyah dan kerajaannya. Sementara tuan sendiri, ya Rasulullah, tidur di atas tikar pelepah kurma.” Rasulullah bersabda, “Apakah engkau tidak ridha, dunia bagi mereka dan akhirat bagi kita?” Allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menjanjikan kenikmatan di hari akhir. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ikrimah)73

  • Surat Al-Hujurat ayat 17

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa sebagian bangsa Arab berkata, “Wahai Rasulullah! Kami beriman dan tidak memerangi tuan, akan tetapi suku yang lain memerangi tuan.” Ayat ini turun melukiskan sifat-sifat orang yang merasa berjasa karena masuk Islam. (Diriwayatkan oleh At-Thabarani dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Abdullah bin Abi Aufa. Diriwayatkan pula oleh Al-Bazzar dari Said bin Jubair yang bersumber dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Al-Hasan, disebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada waktu Fatkhul Makkah)74

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa pada tahun ke-9 H, sepuluh orang dari Bani Asad menghadap Rasulullah SAW., di antaranya terdapat Thulaihah bin Khuwailid. Pada waktu itu Rasulullah SAW., sedang berada di masjid bersama para sahabatnya. Berkatalah juru bicara mereka, “Ya Rasulullah, kami percaya bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah Yang Maha Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya tuan adalah hamba dan utusan-Nya. Kami datang menghadap tuan walaupun tuan belum pernah mengirim utusan kepada kami, dan kami bertanggung jawab atas orang-orang yang ada di belakang kami.” Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan orang-orang yang merasa berjasa, dan karenanya merasa berhak meminta balas jasa. (Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b Al-Qurazhi)75

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa segolongan orang Arab dari Bani Asad menghadap Nabi SAW., sambil berkata, “Kami datang kepada tuan untuk masuk Islam. Kami ini tidak pernah memerangi tuan.” Allah menurunkan ayat ini yang melukiskan adanya orang-orang yang menuntut balas jasa karena merasa berjasa telah masuk Islam. (Diriwayatkan oleh Said bin Manshur di dalam Kitab sunan-nya yang bersumber dari Said bin Jubair)76


  • Surat Al-Fath ayat 2

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Rasulullah SAW., pulang dari Hudaibiyyah, bersabdalah beliau kepada para sahabat, “Telah turun kepadaku ayat yang lebih aku cintai daripada segala yang ada di muka bumi ini.” Kemudian Rasulullah membacakan ayat tersebut kepada mereka. Mereka berkata, “Betapa untung dan bahagianya tuan, ya Rasulullah! Allah telah menerangkan nasib tuan di kemudian hari. Namun bagaimana nasib kami?” Maka turunlah ayat selanjutnya, yakni ayat 5 yang menjelaskan nasib mereka di akhirat. (Diriwayatkan oleh Asy-Syaikhan (Bukhari dan Muslim), At-Tirmidzi, dan Al-Hakim yang bersumber dari Anas)77

  • Surat Al-Maidah ayat 3

Dalam suatu riwayat dikemukakan, ketika Hibban sedang menggodok daging bangkai, Rasulullah SAW., ada bersamanya. Maka turunlah ayat ini yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang. (Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah di dalam Kitab Ash-Shahabah, dari Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar, dari bapaknya yang bersumber dari datuknya, Hibban bin Hajar)78

  • Surat Al-Maidah ayat 6

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kalung Siti Aisyah jatuh dan hilang di suatu lapangan dekat kota Madinah. Rasulullah SAW., memberhentikan untanya, lalu turun untuk mencarinya. Kemudian beliau beristirahat hingga tertidur di pangkuan Siti Aisyah. Tidak lama kemudian datanglah Abu Bakar menampar Siti Aisyah sekerasnya seraya berkata, “Kamulah yang menahan orang-orang karena sebuah kalung!” Nabi SAW., terbangun dan tibalah waktu Subuh. Beliau mencari air tetapi tidak mendapatkannya. Maka turunlah ayat ini. Berkatalah Usaid bin Mudlair, “Allah telah memberi berkah kepada manusia dengan sebab keluarga Abu Bakar.” Ayat tersebut mewajibkan berwudhu atau bertayamum sebelum shalat. (Diriwayatkan oleh Bukhari dari Amr bin Al-Harits, dari Abdurrahman bin Al-Qasim, dari bapaknya yang bersumber dari Aisyah)79

Dalam riwayat lain dikemukakan, setelah terjadi peristiwa hilangnya kalung Aisyah yang menimbulkan fitnah besar. Pada suatu ketika, dalam suatu peperangan beserta Rasulullah SAW., kalung Aisyah jatuh lagi. Orang-orang pun terhalang pulang karena perlu mencari kalung yang hilang itu. Berkatalah Abu Bakar kepada Aisyah, “Wahai anakku, tiap-tiap perjalanan engkau selalu menjadi bala dan menjengkelkan orang lain.” Maka Allah menurunkan ayat ini yang membolehkan tayamum. Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya engkau membawa berkah.” (Diriwayatkan oleh At-Thabarani dari Abbad bin Abdillah bin Zubair yang bersumber dari Aisyah)80



  • Surat Al-Maidah ayat 11

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Nabi SAW., keluar beserta Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Thalhah, dan Abdurrahman bin Auf menuju Ka’b bin Al-Asyraf dan Yahudi Banin Nadlir untuk meminjam uang sebagai pembayar diyat (denda) yang harus dibayarnya. Orang Yahudi berkata, “Silahkan duduk, kami akan menyajikan makanan dan memberikan apa yang tuan perlukan.” Kemudian Rasulullah SAW., duduk. Hayy bin Akhthab berkata kepada kawannya (tanpa setahu Nabi SAW.), “Kalian tidak akan dapat melihat dia lebih dekat daripada sekarang. Timpakan batu ke kepalanya dan bunuhlah dia. Kalian nanti tidak akan menghadapi kesulitan lagi.” Mereka mengangkat batu penggiling gandum yang sangat besar untuk ditimpakan kepada Rasul. Akan tetapi Allah menahan tangan mereka, lalu datanglah Jibril memberitahu agar Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai perintah untuk mensyukuri nikmat. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah dan Yazid bin Abi Ziad. Lafal hadits ini bersumber dari Yazid. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abdullah bin Abi Bakar, Ashim bin Umar bin Qatadah, Mujahid, Abdullah bin Katsir dan Abu Malik)81

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini diturunkan kepada Rasulullah SAW., di saat beliau berada di kebun kurma, ketika diintai oleh Bani Tsa’labah dan Bani Muharib pada ghazwah (peperangan yang dipimpin Rasulullah SAW.) yang ketujuh. Mereka bermaksud membunuh Nabi SAW., yang sedang tidur dengan mengirim seorang Arab untuk melaksanakannya. Si orang Arab itu mengambil pedang Nabi kemudian menghunusnya dan menggertak beliau sambil berkata, “Siapa yang menghalangi engkau dari pedang ini?” Nabi bersabda: “Allah.” Maka jatuhlah pedang itu dari tangannya, tetapi Rasulullah tidak membalasnya. Ayat ini turun sebagai perintah untuk selalu bertawakal kepada Allah. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah)82



Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa seorang laki-laki dari suku Muharib, namanya Ghaurats bin Al-Harits, berkata kepada kaumnya, “Akan ku bunuh Muhammad untuk kemenangan kalian.” Kemudian ia datang kepada Rasulullah SAW., di saat beliau duduk-duduk, sedang pedangnya terletak di pangkuannya. Ia berkata, “Coba aku lihat pedangmu itu.” Nabi bersabda, “Boleh.” Pedang itu diambilnya, dihunus, dan diayun-ayunkannya untuk diletakkannya (dibacokkannya) sambil berkata, “Apakah engkau tidak takut kepadaku?” Nabi menjawab, “Tidak!” Ia berkata lagi, “Apakah engkau tidak takut, padahal pedang ada di tanganku?” Nabi menjawab, “Tidak, karena Allah akan menghalangi dan menyelamatkanku darimu.” Kemudian pedang itu dimasukkan lagi ke dalam sarungnya seraya diserahkan kembali kepada Rasulullah SAW., maka turunlah ayat ini sebagai ajaran untuk selalu ingat akan nikmat yang telah Allah berikan. (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Kitab Dala-ilun Nubuwwah, dari Al-Hasan yang bersumber dari Jabir bin Abdillah)83

1 Muhammad Baqir Hakim, Ulumul Qur’an, Penterjemah: Nashirul Haq dkk., (Jakarta : Penerbit Al-Huda, 2006), hlm. 35-36

2 Al-Hafidz, Kamus Ilmu…, hlm. 173

3 Hakim, Ulumul…, hlm. 104-105

4 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 380

5 Yang dimaksud dengan nikmat Allah di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

6 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 384

7 Ibid., hlm. 385

8 Ibid., hlm. 404

9 Ibid., hlm. 409

10 Ayat ini salah satu dasar ukhuwah dan persamaaan dalam Islam. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

11 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 412

12 Ibid., hlm. 412

13 Ibid., hlm. 414

14 Ibid., hlm. 419

15 Ibid., hlm. 574

16 Ibid., hlm. 638

17 Ibid., hlm. 657

18 Ibid., hlm. 695

19 Ibid., hlm. 721

20 Ibid., hlm. 746

21 Ibid., hlm. 753

22 Ibid., hlm. 795

23 Ibid., hlm. 867

24 Ibid., hlm. 881

25 Ibid., hlm. 960

26 Ibid., hlm. 964

27 Ibid., hlm. 1068

28 Ibid., hlm. 1071

29 Al-Hafidz, Kamus Ilmu…, hlm. 168

30 Hakim, Ulumul…, hlm. 105

31 Yaitu tanda-tanda kebenaran yang dibawa nabi-nabi mereka, yang menunjukkan kepada keesaan Allah, dan kebenaran nabi-nabi itu selalu mereka tolak. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

32 Yang dimaksud dengan nikmat Allah di sini ialah perintah-perintah dan ajaran-ajaran Allah. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

33 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 51

34 Umpamanya: memaksa mereka minta cerai dengan cara khulu’ atau membiarkan mereka hidup terkatung-katung. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

35 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 56

36 Ibid., hlm. 93

37 Ibid., hlm. 106

38 Ayat 172, 173, dan 174, membicarakan tentang peristiwa perang Badar Shughra (Badar kecil) yang terjadi setahun sesudah perang Uhud. Sewaktu meninggalkan perang Uhud itu, Abu Sufyan pemimpin orang Quraisy menantang Nabi dan sahabat-sahabat beliau bahwa dia bersedia bertemu kembali dengan kaum muslimin pada tahun berikutnya di Badar. Tetapi karena tahun itu (4 H) musim paceklik dan Abu Sufyan sendiri waktu itu merasa takut, Maka dia beserta tentaranya tidak jadi meneruskan perjalanan ke Badar, lalu dia menyuruh Nu’aim ibnu Mas’ud dan kawan-kawan pergi ke Madinah untuk menakut-nakuti kaum muslimin dengan menyebarkan kabar bohong, seperti yang disebut dalam ayat 173. Namun demikian, Nabi beserta sahabat-sahabat tetap maju ke Badar. Oleh karena tidak terjadi perang, dan pada waktu itu di Badar kebetulan musim pasar, maka kaum muslimin melakukan perdagangan dan memperoleh laba yang besar. Keuntungan ini mereka bawa pulang ke Madinah seperti yang tersebut pada ayat 174. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

39 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 106

40 Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

41 Artinya: menyentuh. Menurut Jumhur ialah “menyentuh”, sedang sebagian mufassirin ialah: “menyetubuhi”. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

42 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 158-159

43 Ibid., hlm. 159

44 Ibid., hlm. 162

45 Allah tidak mencabut nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada sesuatu kaum, selama kaum itu tetap taat dan bersyukur kepada Allah. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

46 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 270

47 Ayat ini menerangkan kisah “ahzab” yaitu golongan-golongan yang dihancurkan pada peperangan Khandaq karena menentang Allah dan Rasul-Nya. Yang dimaksud dengan tentara yang tidak dapat kamu lihat adalah para malaikat yang sengaja didatangkan Tuhan untuk menghancurkan musuh-musuh Allah itu. Lihat dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya karangan Syeikh Saleh ibn Abdul Aziz ibn Muhammad Al-Syeikh.

48 Muhammad Al-Syeikh, Al-Qur’an dan…, hlm. 668

49 Ibid., hlm. 846

50 Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Qur’an: Kritik Terhadap Ulumul Qur’an, Penterjemah: Khoiron Nahdliyyin, (Yogyakarta : PT. LKiS Pelangi Aksara, 2005), hlm. 87

51 A.A. Dahlan dkk., Asbabun Nuzul: Latar Belakang Historis Turunnya Ayat-Ayat Al-Qur’an, (Bandung : CV. Penerbit Diponegoro, 2002), hlm. 591

52 Dahlan dkk., Asbabun Nuzul…, hlm. 647-648

53 Ibid., hlm. 648-649

54 Ibid., hlm. 649

55 Ibid., hlm. 485

56 Ibid., hlm. 313

57 Ibid., hlm. 303

58 Ibid., hlm. 409

59 Ibid., hlm. 42-43

60 Ibid., hlm. 80

61 Ibid., hlm. 81

62 Ibid., hlm. 81

63 Ibid., hlm. 107

64 Ibid., hlm. 120-121

65 Ibid., hlm. 121

66 Ibid., hlm. 425-426

67 Ibid., hlm. 432

68 Ibid., hlm. 432

69 Ibid., hlm. 432-433

70 Ibid., hlm. 150-151

71 Ibid., hlm. 151

72 Ibid., hlm. 151

73 Ibid., hlm. 617-618

74 Ibid., hlm. 519

75 Ibid., hlm. 519

76 Ibid., hlm. 519

77 Ibid., hlm. 504

78 Ibid., hlm. 183

79 Ibid., hlm. 185-186

80 Ibid., hlm. 186

81 Ibid., hlm. 187

82 Ibid., hlm. 188

83 Ibid., hlm. 188

20


Yüklə 173,44 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə