Dakwah islamiyah antara kewajiban dan kebutuhan ditinjau dari filsafat dakwah



Yüklə 341,52 Kb.
səhifə1/3
tarix27.10.2017
ölçüsü341,52 Kb.
#17237
  1   2   3


BAB III

DAKWAH ISLAMIYAH ANTARA KEWAJIBAN DAN KEBUTUHAN DITINJAU DARI FILSAFAT DAKWAH


  1. Fitrah manusia sebagai Da’i dan Mad’u

Manusia dalam istilah al-Qur’an menggunakan kata Insan (Ins, Nas, dan Unas), istilah ini merujuk kepada manusia yang menyeluruh dan terpadu. Kata Insan terambil dari kata “Uns”yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Menurut M. Quraish Shihab; “kata Insan digunakan al-Qur’an untuk merujuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga”.1Dengan kata lain, kata insan menurut al-Qur’an terdiri dari jasmani dan rohani (jasad dan ruh).

Walaupun insan terdiri dari dua unsur, namun kedua-duanya merupakan satu kesatuan. Antara kedua unsur ini yang mutlak, tetap dan hakiki adalah unsur rohani. Unsur jasmani adalah unsur yang bergantung kepada unsur rohani, unsur jasmani bersifat nisbi dan merupakan manifestasi kebenaran hakiki. Jadi, unsur yang paling penting dari insan adalah unsur rohani.

Selain itu ada tiga komponen yang paling penting dari manusia, yaitu kalbu, akal, dan nafsu.


  1. Kalbu

Kata kalbu dengan segala bentuknya di dalam al-Qur’an disebutkan sebanyak 132 kali (tidak termasuk kata kerja dan sinonim). Imam al-Ghazali menjelaskan dalam Ihya Ulumuddin, bahwa kalbu memiliki cahaya ketuhanan (nur Illahi) dan mata batin (alshirah al-Bathiniah). Sementara al-Zamakhsyari, menurutnya kalbu secara fitrah cenderung menerima kebenaran dari Allah SWT.2 Karena itu kalbu memiliki fitrah Ilahiyah atau fitrah Rabbaniyah. Kalbu berada pada kedudukan supra kesadaran atau lepas dari kesadaran manusia. Ia merupakan pusat dalam diri dan berperanan sebagai pemandu dan pengendali. Jika kalbu berfungsi dengan baik, maka kehidupan insan menjadi baik dan sesuai dengan fitrah aslinya, begitu juga sebaliknya. “Sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik maka semua tubuh akan menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka seluruh tubuh menjadi rusak pula”.

  1. Akal

Di dalam al-Qur’an kata akal disebutkan sebanyak 49 kali (tidak termasuk sinonimnya seperti al-Lubb) dan semuanya dalam bentuk kata kerja. Ini menunjukkan bahwa dibanding dengan kalbu, akal bukanlah jauhar (subtansi), melainkan sebagai aktivitas atau tindakan. Jelasnya merujuk kepada tindakan otak manusia.3

Dari segi bahasa (etimologi), akal mempunyai makna menahan (al-Imsak), ikatan (al-Ribat), melarang (al-Nahiy), dan mencegah (al-man’u). orang berakal (al-‘aqil) adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Bila hawa nafsunya telah dapat dikawal, maka akal rasionalnya muncul untuk memainkan peranan. Dari segi kedudukannya akal berada pada tingkat kesadaran diri insan.

Akal mampu menerima pengetahuan, membuat kognisi (daya cipta), memiliki daya pembeda (antara baik dan buruk), dan dapat membawa insan kepada zat keinsanannya. Ia mampu untuk berfikir dan bernalar, daya argumentatif, pemahaman, hafalan, berimajinasi, penemuan dan pengucapan. Jadi fitrah akal adalah “keinsanan” atau disebut juga sebagai fitrah insaniyah.


  1. Nafsu

Prinsip kerja nafsu merupakan prinsip kerja kenikmatan dan prinsip ini bersamaan dengan prinsip hewan. Oleh karena itu, nafsu merupakan fitrah hewaniyah. Apabila manusia menurut kehendak nafsu saja, ini berarti manusia hanya menurut kehendak hewaniyah. Akibatnya, kedudukan manusia yang demikian adalah sama dengan hewan. Walau manusia telah diberikan akal dan derajat yang mulia, akan tetapi bila ia bertindak dengan mengikuti hawa nafsu semata berarti derajatnya lebih hina dari pada hewan. Firman Allah dalam surat al-A’raf ayat 179 yang berbunyi:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. al-A’raf:179)4
Jasad manusia merupakan organ fisik atau benda, setiap makhluk hidup (biotik) memiliki unsur-unsur benda atau bahan yang sama. Namun organ fisik manusia lebih sempurna dari pada organ fisik makhluk-makhluk lain. Unsur-unsur tersebut seperti tanah, dan air adalah benda-benda abiotik (mati) dan mendapat tenaga yang menghidupkan disebut al-hayah (nyawa atau daya hidup). Dengan nyawa manusia dapat bernafas, merasakan sakit, lapar, dan lain sebagainya.

Jasad hanya dapat menangkap sesuatu yang berbentuk kongkrit atau maujud. Maksudnya seluruh panca indera seperti mata, tangan, dan kaki hanya dapat menangkap objek yang berbentuk dan jelas, tetapi tidak mampu menangkap sesuatu yang berbentuk abstrak (mujarrad). Oleh karena itu, jasad sepenuhnya bergantung pada roh untuk mengetahui dan memahami segala-galanya dengan tepat, betul, mendalam, dan lengkap. Dengan kata lain, jasad merupakan wadah untuk menampung roh.

Selain itu, sisi lain yang paling penting bagi manusia adalah fitrah yang dibekalkan oleh Allah SWT. Kata fitrah ini diungkapkan dalam al-Qur’an sebanyak 20 kali. Ia bermakna suci atau bersih, tulus, potensi beragama, tauhid dan bersedia menerima kebenaran. Dari segi istilah fitrah berarti citra asli yang dinamis, yang terdapat pada sistem-sistem psikofisik manusia dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Citra unik tersebut telah ada semenjak awal penciptaannya5

Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa manusia telah dilengkapi oleh Allah SWT dengan unsur-unsur yakni jasmani, rohani (kalbu, akal, dan nafsu), dan fitrah insaniyah. Dengan unsur-unsur tersebut manusia mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia dibanding makhluk ciptaan Allah yang lain. Dengan kata lain, secar fitrah manusia telah dilengkapi dengan sarana dan prasarana baik sebagai hamba hamba (mad’u) maupun sebagai khalifah fil ard (da’i atau pemimpin umat).



  1. Fitrah manusia sebagai subjek dakwah.

Pada hakikatnya fitrah manusia sebagai subjek dakwah adalah panggilan jiwa, untuk selalu amar ma’ruf nahi munkar dan merupakan kewajiban syar’i yang dibebankan oleh Allah SWT bagi orang yang berkewajiban untuk melakukan kegiatan dakwah. Dalam al-Qur’an dikatakan bahwa manusia adalah makhluk yang diciptakan paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain. Di samping diciptakan dengan fisik yang sempurna, manusia juga dibekali akal dan agama.6 Kesempurnaan dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada manusia merupakan kemudahan bagi manusia itu sendiri untuk memperoleh kabahagiaan dunia dan akhirat.

Kegiatan dakwah adalah kegiatan yang bertujuan untuk membimbing kehidupan beragama manusia menjadi lebih baik. Untuk tercapainya tujuan tersebut diperlukan metode yang sangat efektif dan efisien dalam menjalankan misi dakwah sehingga sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan kompleks.

Secara umum kegiatan dakwah dapat dipahami sebagai kegiatan komunikasi. Komunikasi adalah salah satu faktor penting dalam perkembangan kehidupan sosial manusia. Tidak ada satu manusiapun yang dapat hidup dan berkembang tanpa melakukan komunikasi dengan manusia lain. Dari kegiatan komunikasi maka akan terjadi interaksi atau hubungan sosial dan selanjutnya akan membentuk hubungan interpersonal (antar pribadi sesama manusia. Dalam teori psikologi sosial bahwa syarat terjadinya hubungan antarpribadi harus didahului oleh komunikasi, interaksi, kontak sosial. Suatu pesan tidak akan sampai ke penerima pesan jika penerima pesan tidak merasa mempunyai kepentingan atau hubungan dengan pesan tersebut. Maka dalam pelaksanaan dakwah prinsip-prinsip komunikasi harus menjadi perhatian pelaksana dakwah dan pemerhati agama untuk kelancaran kegiatan dakwah.7

Dakwah membutuhkan usaha ilmiah (ilmu) yang menyangkut taktik, teknik, dan strategi. Karena Islam mengingatkan kepada orang-orang berilmu untuk menyampaikan sebuah kebenaran. Firman Allah dalam surat at-Taubah (9) ayat 122 yang berbunyi:



Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (QS. At-Taubah: 122)8
Dalam berdakwah kadang-kadang diperlukan sebuah ijtihad dalam mengahdapi persoalan yang berkembang. Untuk itu da’i haruslah mencurahkan seluruh potensinya, pikirannya, perasaan, kemauan maupun semangat. Da’i tidak mungkin menyumbangkan pikiran yang baik jika tidak memiliki kemampuan untuk mensistematiskan pokok-pokok permasalahan dalam struktur yang logis, fungsional, maupun rasional.

Seorang juru dakwah mesti memahami psikologis sasaran yang dihadapi, seperti sosiokultural, politik, bahasa, agama, falsafah hidup, modernitas, dan perubahan sosial. Terkait dengan dakwah maka psikologi dakwah pada hakekatnya merupakan landasan dimana metodologi dakwah seharusnya dikembangkan. Psikologi dakwah ditujukan untuk membantu para pelaksana dakwah memahami latar belakang hidup naluriah manusia sebagai makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Dengan kata lain, pelaksana dakwah mampu memperhitungkan, mengendalikan serta mengarahkan perkembangan modernisasi masyarakat berdasarkan pengaruh teknologi modern yang positif. Semua corak kehidupan tersebut secara normatif kultural akan mengontrol dan menjiwai kehidupan masyarakat di dalamnya. Corak kehidupan tersebut secara psikologis akan menuntut sistem pendekatan yang berbeda satu sama lain.

Semakin modern kehidupan seseorang, maka semakin komplek kehidupan psikologisnya dan semakin banyak menuntut sistem pendekatan yang bersifat antar ilmu yang lebih dalam dan luas, mengingat begitu kuatnya keterkaitan dakwah dengan psikologi. Maka, psikologi dakwah merupakan konsep yang tepat dalam membantu terlaksananya efektifitas dakwah. Psikologi dakwah berusaha menyingkap apa yang tersembunyi di balik prilaku manusia yang terlibat dalam proses dakwah, dan selanjutnya menggunakan pengetahuan tersebut untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan dakwah. Psikologi dakwah memberikan pandangan tentang mungkinnya dilakukan perubahan tingkah laku atau sikap mental psikologis manusia yang terlibat dalam proses dakwah (terutama sasaran dakwah) sesuai dengan pola kehidupan yang dikehendaki oleh ajaran dakwah.

Pengetahuan tentang karakteristik manusia secara psikologis perlu diketahui oleh pelaksana dakwah, karena salah satu fokus dari dakwah dalam memahami karakteristik manusia sebagai komunikannya yakni faktor situasi dan kondisi apa yang mempengaruhi tingkah laku mereka dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Tugas setiap umat manusia adalah menyerukan kebenaran dan kebaikan, serta mencegah kemungkaran. Dengan kata lain, setiap muslim berkewajiban untuk berdakwah, sebagaimana yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 110 yang berbunyi:



Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran ayat 110)9
Dari ayat tersebut diperintahkan kepada setiap muslim untuk melakukan perannya sebagai pelaksana dakwah, hanya saja pada kenyataannya, tidak setiap umat muslim yang sengaja berdakwah telah melakukan perannya dengan efektif. Karena kegiatan dakwah pada dasarnya adalah kegiatan penyampaian informasi dan modifikasi perilaku, maka seorang pelaksana dakwah memerlukan pengetahuan tentang psikologi (psikologi dakwah dan psikologi komunikasi) agar kegiatan dakwah berjalan dengan baik dan lancar. Prinsip psikologi komunikasi dapat dijadikan dasar dalam mengetahui faktor-faktor yang menghambat penyampaian informasi dalam kegiatan dakwah Islam, sehingga kegiatan transformasi informasi berjalan dengan lancar. Prinsip melaksanakan dakwah diserukan Allah dalam firman-Nya surat an-Nahl ayat 125 – 128 yang berbunyi:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan Balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, Sesungguhnya Itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS.an-Nahl :125-128)10
Pengertian ayat di atas dapat memberikan dua hal dalam kegiatan dakwah yaitu sikap mental positif dan penyampaian informasi secara baik dan benar oleh pelaksana dakwah.11

  1. Sikap mental yang positif

Berhasil atau tidaknya suatu kegiatan dakwah sangat ditentukan oleh sikap mental pelaksana dakwah. Sikap mental yang optimis dan sabar adalah sikap yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kegiatan dakwah. Sikap optimis akan memberikan motivasi kerja yang besar dan kemudahan dalam mengerjakan sesuatu. Sebaliknya sikap pesimis akan menyulitkan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan, sesederhanapun pekerjaan itu. Dalam teori harapan (Expectation Theory) dijelaskan bahwa, apa yang diharapkan seseorang sangat besar kemungkinannya akan menjadi kenyataan, karena apa yang diharapkan seseorang akan mempengaruhi perilakunya.

  1. Penyampaian pesan dakwah

Sebagaimana yang terdapat dalam surat an-Nahl ayat 125 di atas, pesan dakwah harus disampaikan dengan hikmah12 dan pelajaran yang baik. Hikmah dapat diartikan sebagai kebijaksanaan yang berdasarkan ilmu pengetahuan. Ada tiga faktor yang saling menentukan keberhasilan dakwah sesuai dengan prinsip psikologi komunikasi, seperti diungkap oleh Nashori,13 yakni siapa penyampai pesan (komunikator), teknik penyampaian pesan (komunikasi), dan siapa penerima pesan (komunikan). Proses perubahan sikap seseorang dari tidak tahu sampai menjadi tahu berlangsung dalam tiga proses dasar, yaitu : perhatian (attention), berkesinambungan (comprehension), dan penerimaan (acceptance). Ketiga proses tersebut dinamakan sebagai tiga tahap perubahan sikap, dapat digambarkan sebagai berikut :

Attention Comprehension Acceptance

  1. Attention, yaitu perhatian terhadap pesan, orang tidak akan berubah sikap apabila tidak memperhatikan pesan yang disampaikan. Untuk itu diperlukan usaha untuk menarik perhatian orang agar pesan dakwah yang disampaikan diterima dengan baik dan benar.

  2. Comprehension, adalah pemahaman terhadap pesan dakwah. Seseorang yang telah menerima pesan dakwah diharapkan akan mempunyai pemahaman tentang pesan yang disampaikan. Pemahaman tidak akan tidak akan berlangsung tanpa adanya perhatian (Attention).

  3. Acceptance, adalah penerimaan isi dakwah. Penerimaan atau penolakan isi dakwah sebagai sikap hidup ditentukan oleh sejauh mana pemahaman terhadap pesan yang diterima. Dengan adanya penerimaan pesan dakwah diharapkan orang akan menjalankan dan mengamalkan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan ketentuan ajaran yang disampaikan (dakwah).

Seorang juru dakwah yang mampu merubah sikap dan perilaku sasaran dakwah sesuai dengan ajaran Islam adalah yang mempunyai ciri-ciri14 sebagai berikut:

  1. Trustworthy, yaitu sikap jujur dan dapat dipercaya.

Sifat ini sangat menentukan apakah orang lain mendengar dan mematuhi apa yang disampaikan oleh seseorang. Orang tidak akan percaya kepada seseorang jika apa yang dikatakan dengan yang dilakukannya tidak sesuai. Kejujuran merupakan indikator keberhasilan dalam menyampaikan suatu pesan.

  1. Expertise, yakni keahlian dalam bidang yang disampaikan. Dengan kata lain, mempunyai pengetahuan yang luas. Seorang juru dakwah harus menguasai pesan yang disampaikannya dengan baik. Perpaduan antara keulamaan dengan keintelektualan sangat perlu dalam menghadapi perubahan sosial akibat industrialisasi dan modernisasi. Kehidupan masyarakat yang semakin majemuk dan kebutuhan hidup yang semakin komplek telah membawa banyak perubahan dan pergeseran pola pikir dan pola hidup yang lebih cepat dan praktis. Untuk tidak berkurangnya efektifitas dakwah maka diperlukan para ulama yang mempunyai keahlian dan mempunyai intelektualitas yang tinggi dalam mencari pemecahan masalah hidup masyarakat modern yang semakin tinggi dan rumit.

  2. Popularity, artinya dikenal orang karena amal perbuatannya. Seorang juru dakwah akan menjadi terkenal, karena mempunyai kewibawaan dan selalu memberikan contoh yang baik, serta apa yang diucapkannya sama dengan yang diperbuatnya.

  3. Good Performance, artinya berpenampilan menarik. Seorang juru dakwah mesti memiliki penampilan yang bagus, rapi dan tidak asal-asalan. Karena seorang da’i adalah orang yang menjadi panutan baik bagi umat dakwah maupun umat ijabah. Setiap gerak geriknya akan selalu menjadi perhatian banyak orang.

Selain itu untuk menggugah dan memancing keingintahuan dari sasaran dakwah seorang da’i sangat dianjurkan untuk mempunyai sikap15 sebagai berikut:

  1. Memiliki sikap yang energik, tampil ke podium dengan wajah cerah berseri, dengan pakaian yang rapi dan bersih serta serasi. Bila tidak demikian, agaknya lebih baik bila ia tidak berceramah.

  2. Berusaha membuat mad’u merasa “dekat” dengannya. Banyak cara untuk menciptakan hal semacam ini, seperti menghimpun mereka bila mereka duduk berpencar, berbicara tidak di atas podium, dan berdiri di depan mereka bila ia sedikit, atau berbicara sambil duduk dengan penuh keakraban dari persahabatn dan lain sebagainya.

  3. Ketika berbicara hendaknya ia tidak melakukan gerakan yang berulang-ulang dan dibuat-buat, atau sering menoleh ke kanan dan ke kiri secara tidak wajar.

Seorang da’i harus mampu menyesuaikan dan mengarahkan pesan dakwahnya sesuai dengan tingkat berfikir dan lingkup pengalaman simad’u, supaya tujuan dakwah sebagai ikhtiar untuk mengaktualisasikan nilai-nilai dan ajaran Islam ke dalam kehidupan pribadi atau masyarakat dapat terwujud, dan mengarahkan mereka sebagai khairul ummah, yaitu umat yang adil dan terpilih (ummatan wasathan), sehingga terwujudlah umat yang sejahtera lahir dan batin, bahagia dunia dan akhirat

  1. Fitrah Manusia sebagai Objek Dakwah

Objek dakwah atau penerima dakwah (mad’u) adalah seluruh umat manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, kaya ataupun miskin, muslim maupun non-muslim, kesemuanya menjadi objek dari kegiatan dakwah Islam, semuanya berhak mendapat ajakan dan seruan ke jalan Allah.16 Ditinjau dari kehidupan psikologis, masing-masing dari golongan masyarakat tersebut memiliki karakteristik antara yang satu dengan yang lainnya. Sesuai dengan kondisi dan kontekstualitas lingkungannya. Hal tersebut menuntut kepada sebuah sistem dan pendekatan dakwah yang efektif dan efisien, mengingat dakwah adalah penyampaian ajaran agama sebagai pedoman hidup yang universal, rasional, dan dinamis.

Salah satu tanda kebesaran Allah adalah keragaman makhluk ciptaan-Nya yakni manusia. Firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13:



Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs. Al-Hujurat:13)17

Dan dalam surat ar-Ruum ayat 22:



dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Ar-Rumm:22)18
Ayat ini menjelaskan bahwa keragaman jenis kelamin, warna kulit, dan bahasa sebagai tanda kebesaran Allah yang perlu diteliti dengan seksama untuk mengenal lebih dekat tipologi manusia untuk menentukan pola interaksi masing-masing kelompok yang berbeda. Mengenal tipologi manusia adalah salah satu faktor penentu suksesnya tugas dakwah, dan merupakan salah satu fenomena alam yang hanya bisa ditangkap oleh orang alim.

Kelompok-kelompok yang menjadi sasaran dakwah, diantaranya:



  1. Dalam surat al-Baqarah, mad’u di bagi kepada tiga kelompok, yaitu mukmin, kafir, dan munafik. Menurut Abu Abdillah, “empat ayat di awal surat al-Baqarah mendeskripsikan tentang sifat orang mukmin, dua ayat mendiskripsikan orang kafir, dan tiga belas ayat berikutnya mendeskripsikan sifat orang munafik…”19 dalam istilah M. Natsir, kelompok mad’u ada tiga, yaitu “…kawan yang setia sehidup semati, dari awal sampai akhir, dan lawanyang secara terang-terangan memusuhinya dari awal sampai akhir; dan lawan yang bermain berpura-puramenjadi kawan, sambil menunggu saat untuk menikam dari belakang….”20

  2. Menurut Imam Habib Abdullah Haddad, mad’u dapat dikelompokkan dalam delapan rumpun, yaitu:

  1. Para ulama.

  2. Ahli zuhud dan ahli ibadah.

  3. Penguasa dan pemerintah.

  4. Kelompok ahli perniagaan.

  5. Fakir miskin dan orang lemah.

  6. Anak, isteri,dan kaum hamba.

  7. Orang awam yang taat dan yang berbuat maksiat.

  8. Orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.21

  1. Abdul KarimZaidan dalam Ushul da’wah mengelompokkan mad’u dalam empat rumpun, yaitu: al-mala’ (penguasa), jumhur al-nas (mayoritas masyarakat), munafiqun, dan ahli maksiat.22

  2. Muhammad Abu al-Fath Bayanuni mengelompokkan mad’u dalam dua rumpun besar yakni: pertama, rumpun muslimun atau mukminun atau umat istijabah (umat yang telah menerima dakwah), kedua; Non-Muslim atau umat dakwah (umat yang perlu sampai kepada mereka dakwah Islam). Umat istijabah dibagi dalam tiga kelompok, yaitu: a) sabiqun bi al-kahirat (orang yang shaleh dan bertaqwa), b) Dzalimun linafsih (orang fasik dan ahli maksiat), c) Muqtashid (mad’u yang labil keimanannya). Seadang umat da’wah dibagi dalam empat kelompok, yaitu: a)Atheis, b) Musyrikun, c) Ahli Kitab, d) Munafiqun.23

  3. Sa’id bin Ali binWahf al-Qaththani melakukan pembagian yang hamper sama dengan al-Bayanuni, yaitu membagi mad’u dengan kategori muslim dan non-muslim. Mad’u dari rumpun muslim dibagi kepada dua, yaitu: 1) muslim yang cerdas dan menerima sikap kebenaran. 2) muslim yang siap menerima kebenaran, tapi mereka sering lalai dan kalah dengan hawa nafsu. Sedangkan non-muslim, pembagiannya sama dengan al-Bayanuni, tetapi beliau tidak memasukkan munafik dalam kelompok non-muslim.24

  4. M. Bahri Ghazali mengelompokkan mad’u berdasarkan tipologi dan klasifikasi masyarakat.

Berdasarkan tipologi, masyarakat dibagi dalam lima tipe, yaitu:

  1. Tipe Innovator, yaitu masyarakat yang memiliki keinginan keras pada setiap fenomena sosial yang sifatnya membangun, bersifat agresif dan tergolong memiliki kemampuan antisipatif dalam setiap langkah.

  2. Tipe pelopor, yaitu masayarakat yang selektif dalam menerima pembaharuan dengan pertimbangan tidak semua pembaharuan dapat membawa perubahan yang positif. Untuk menerima atau menolak ide pembaharuan, mereka mencari pelopor yang mewakili mereka dalam menggapai pembaharuan itu.

  3. Tipe pengikut dini, yaitu masyarakat sederhana yang kadang-kadang kurang siap mengambil resiko dan umumnya lemah mental. Kelompokmasyarakat ini umumnya adalah kelompok kelas dua di masyarakatnya, mereka perlu seorang pelopor dalam mengambil tugas kemasyarakatan.

  4. Tipe pengikut akhir, yaitu masyarakat yang ekstra hati-hati sehingga berdampak kepada anggota masyakat yang skeptis terhadap sikap pembaharuan. Karena faktor kehati-hatian yang berlebih, maka setiapgerakan pembaharuan memerlukan waktu dan pendekatan yang sesuai untuk bisa masuk.

  5. Tipe kolot, ciri-cirinya tidak mau menerima pembaharuan sebelum mereka terdesak oleh lingkungannya.

Sedangkan berdasarkan klasifikasi, masyarakat dapat dihampiri dengan dua pendekatan, yaitu:

    1. Pendekatan kondisi sosial budaya, yang terbagi dalam masyarakat desa dan kota.

    2. Pendekatan tingkat pemikiran, terbagi dalam dua kelompok yakni kelompok masyarakat maju (industri), dan kelompok masyarakat terbelakang.25

Berdasarkan pengklasifikasian mad’u di atas, maka dapat dilihat dari lima tinjauan, yaitu:

  1. Mad’u ditinjau dari segi penerimaan dan penolakan ajaran Islam, terbagai dua, yaitu muslim dan non-muslim

  2. Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengamalan ajaran agamanya, terbagi tiga, dzalimun linafsih, muqtashid, dan sabiqun bilkhairat.

  3. Mad’u ditinjau dari segi tingkat pengetaguan agamanya, terbagi ulama, pembelajar dan awam.

  4. Mad’u ditinjau dari segi strutur sosialnya, terbagi tiga: pemerintah (al-mala’), masyarakat maju (al-mufrathin), dan terbelakang (al-mustadh’afin).

  5. Mad’u ditinjau dari segi prioritas dakwah, dimulai dari diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lain sebagainya.

Pengetahuan tentang apa dan bagaimana mad’u, baik jika ditinjau dari aspek psikologis, pendidikan, lingkungan sosial, ekonomi serta keagamaan, merupakan suatu hal yang pokok dalam dakwah. Karena hal tersebut sangat membantu dalam pelaksanaan dakwah, terutama dalam hal penemuan tingkat dan macam materi yang akan disampaikan atau metode mana yang akan diterapkan, serta melalui media apa yang tepat untuk dimanfaatkan, guna menghadapi mad’u dalam proses dakwah.

Untuk mengetahui keadaan masyarakat yang menjadi sasaran dakwah, maka perlu mengklasifikasikan sasaran dakwah menurut derajat pemikirannya. Hamzah Ya’cub sebagaimana dikutip oleh Fathul Bahri An-Nabiry membaginya kepada beberapa kelompok26 antara lain sebagai berikut:



  1. Umat yang berfikir kritis, manusia yang masuk golongan ini adalah orang-orang yang berpendidikan dan mempunyai pengalaman yang luas. Manusia pada level ini hanya dapat dipengaruhi jika pikirannya mampu menerima dengan baik.dengn katalain, berhadapan dengan kelompok ini, harus mampu menyuguhkan dakwah dengan gaya dan bahasa ayang dapat diterima oleh akal sehat mereka, sehingga mereka mau menerima kebenarannya.

  2. Umat yang mudah dipengaruhi, yaitu: suatu masyarakat yang mudah untuh dipengaruhi oleh paham baru, tanpa menimbang-nimbang secara matang apa yang dikemukakan kepadanya.

  3. Umat yang bertaklid, yakni: golongan masyarakat yang fanatik buta bila berpegangan pada tradisi dan kebiasaan turun –temurun.

Senada dengan apa yang dikemukakan oleh Hamzah Ya’cub di atas Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar sebagaimana dikutip oleh Fathul Bahri An-Nabiry,27 menyimpulkan dalam garis besarnya, umat yang dihadapi oleh seorang juru dakwah itu dapat dibagi menjadi tiga golongan, yang masing-masingnya harus dihadapi dengan cara yang berbeda-beda pula. Ketiga golongan tersebut antara lain:

  1. Golongan cerdik cendekia yang cinta akan kebenaran, dan dapat berfikir secara kritis cepat dalam menangkap arti persoalan yang seang terjadi. Mereka ini harus dipanggil dengan hikmah, yakni dengan alasan-alasan, dalil-dalil, dan hujah yang dapat diterima oleh akal mereka.

  2. Golongan orang awam, yaitu orang kebanyakan yang belum dapat berfikir secara kritis dan mendalam, belum dapat menangkap pengertian yang tinggi-tinggi. Mereka ini dipanggil dengan mau’izatil hasanah.28 Dengan anjuran dan didikan yang baik-baik serta denga ajaran yang mudah dipahami.

  3. Golongan yang tingkat kecerdasannya berada diantara kedua golongan tersebut. Golongan ini tidak dapat dicapai dengan hikmah, juga tidak akan sesuai jika dilayani seperti golongan awam. Salah satu ciri mereka adalah suka membalas sesuatu, tetapi hanya dalam batas tertentu, dan tidak sanggup secara mendalam benar. Kepada mereka ini akan cocok jika dipanggil dengan mujadalah billati hiya ahsan, yakni dengan bertukar pikiran, guna mendorong supaya mereka mampu berfikir secara sehat, dan pada prakteknya dilakukan dengan cara yang lebih baik.

Namun demikian, tidaklah berarti bahwa menghadapi golongan awam akan selalu lebih mudah dari pada menghadapi golongan cerdik cendekiawan. Memang, dalam menghadapi kaum cerdik cendekiawan itu akan menentukan pemahaman pada ilmu pengetahuan yang luas dan mendalam. Akan tetapi seringkali mereka ini, dengan sekedar sindiran atau qarinah saja, sudah dapat menangkap apa yang dimaksud. Hanya dengan sedikit pancingan dan dorongan untuk berfikir mereka dapat merintis jalan sendiri, dan akhirnya mencapai kebenaran.

Kepada golongan awam, cukuplah bagi mereka untuk dikemukakan bahan-bahan-bahan yang sederhana. Tidak ada gunanya membawakan pemikirn-pemikiran yang tinggi dan muluk-muluk kepada mereka. Disinilah letak kesulitannya, bagimana strategi seorang da’i untuk meramu sebuah materi ilmu yang tinggi, ke dalam bahasa yang mudah dicerna dan dipahami oleh daya pikir mereka. Jadi, belum tentu berdakwah kepada kelompok awam ini akan jauh lebih mudah daripada menghadapi kaum cerdik-cendekiawan. Sebab, kaifiat atau cara menghidangkan sesuatu yang sulit dalam bentuk yang mudah, tentu tidak dapat dikatakan sebagai suatu perkara yang “mudah”.

Da’i juga harus menyampaikan pesan dakwah sesuai dengan taraf kemampuannya masing-masing, tidak memaksakan sesuatu yang berada diluar kesanggupan mereka.29 Salah satu hikmah itu adalah ilmu. Hal ini didasarkan pada surat al-Isra’ ayat 36 yang berbunyi:

Artinya: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS. Al-Isra’:36)30


Dengan kata lain seorang da’i harus memiliki bekal ilmu yang cukup sebelum terjun untuk melakukan kegiatan dakwah. Mereka harus mampu mengakomodasikan segala permasalahan yang terjadi pada mad’u, untuk itu diperlukan sebuah kecerdasan, pengetahuan31 serta pandangan yang jauh untuk menentukan strategi dakwah dan harus dibekali dengan ilmu yang memadai dan intelektual yang tinggi.32 Sifat cerdas yang harus dimiliki oleh seorang da’i, adalah sebagai berikut:

  1. Harus pandai dalam arti memiliki pandangan yang luas dalam merespon dan menangani peristiwa-peristiwa yang terjadi pada umat.

  2. Memiliki pandangan, firasat, sikap terhadap setiap urusan atau permasalahan.

  3. Harus mampu menangkap hal-hal yang tersembunyi dibalik peristiwa.

  4. Mampu mengambil manfaat dari setiap peristiwa yang terjadi.

Demikian pula menghadapi golongan ketiga yang letaknya berbeda diantara golongan cerdik cendekiawan dan golongan awam, yang harus dihadapi dengan mujadalah billati hiya ahsan, tidaklah akan selalu lebih mudah daripada menghadapi golongan pertama (cerdik cendekia), dan tidak akan selalu lebih sulit daripada golongan kedua (awam). Golongan seperti apapun yang akan dihadapi, masing-masingnya menghendaki cara yang mengandung kemudahan dan kesulitannya sendiri. Pokok persoalannya bagi seorang da’i adalah bahwa ia harus menguasai isi dari materi dakwah yang hendak disampaikannya, harus dapat menilai corak atau golongan apakah yang akan dihadapi harus peka, sehingga dirinya bias merasakan keadaan dan suasana, ruang dan waktu, di mana ia menyampaikan dakwahnya harus dapat memilih metode dan kata-kata yang tepat setelah memahamkan semua itu.

Memilih kata yang tepat dalam kegiatan dakwah merupakan hal yang sangat penting dan perintah ini juga terdapat dalam al-Qur’an. Menurut Larry A. Samovar “we cannot communicate33 artinya manusia tidak bisa menghindar dari proses komunikasi dan interaksi sesamanya. Pada hakikatnya ketika manusia berkomunikasi pada dasarnya memindahkan atau menyalin pikirannya dalam bentuk lambing.agar lambing itu bermakna, maka perlu disampaikan secara tepat. Karena tujuan dasar komunkasi tersebut antara lainmencetak kesan orang laindan memberikan kontribusi realitas (Impression Management an Reality Contributiv ).



  1. Hikmah dalam Memilih kata yang Tepat.

Memilih kata yang tepat dalam kegiatan dakwah sangatlah penting, karena hikmah yang didapat dengan mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat akan terhindar dari kebodohan dan mendekatkan kepada hal-hal yang yang tidak dinginkan. Kata-kata yang baik akan dapat menyentuh hati sanubari dari objek dakwah, sehingga menggugah perasaan dan menghantarkan pada sebuah perenungan34 yang dalam. Salah satu sifat orang yang bijaksana (orang yang memiliki hikmah) adalah berfikir lebih dahulu sebelum berkata.

  1. Memilih kata yang tepat dalam al-Qur’an

Memilih kata yang tepat menurut perspektif al-Qur’an adalah, term qaulan sadida disebutkan sebanyak 2 kali yaitu pada ayat 9 surat an-nisa’ yang berbunyi:

Artinya: dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan Perkataan yang benar. (QS. An-Nisa’: 9)35

Dan dalam surat al-Ahzab ayat 70-71 yang berbunyi:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (QS. Al-Ahzab: 70-71)36


Dalam ayat tersebut di atas, diingatkan agar kaum mukminin tidak melakukan perbuatan yang pernah dilakukan kaum Yahudi terhadap nabinya, yaitu perbuatan menyakiti Nabi Musa AS. Perintah berkata benar (Qaulan sadida) didahului perintah bertaqwa, sedang pada ayat 71 Allah menjelaskan bahwa berkata yang benar (Qaulan sadida) yang dilakukan atas landasan takwa itu akan mengantar pada perbaikan amal dan ampunan dadri dosa. Akhir dari ayat 71 Allah menegaskan bahwa komitmen kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan kemenangan tingkat awal.

Sadiid menurut bahasa berarti benar, tepat.37 Ibnu Manzur memberikan makna sadiid yang dihubungkan dengan qaul (perkataan) mengandung arti mengenai sasaran.38 Bentuk dari proses penyampaian pesan dakwah adalah model dari pendekatan bahasa dakwah yang bernuansa persuasif.39 Secara psikologis pesan dakwah yang menyentuh hati mad’u adalah jika materi (pesan) yang disampaikan itu benar da tepat, baik dari segi bahasa maupun logika mad’u, dan disampaikan oleh da’i yang mempunyai kualitas kepribadian yang integral yakni “takwa”. Ketakwaan bagi pribadi da’i adalah salah satu sifat da’i pada hikmah karena takwapada tingkatan tertinggi menunjukkan kepribadian manusia yang benar-benar utuh dan integral.40 Takwa merupakan stabilitas yang terjadi setelah semua unsur-unsur yang positif diserap ke dalam diri manusia.

Secara umum tugas seorang da’i adalah menyampaikan pesan dakwah kepada umatnya. Namun di sini perlu diketahui oleh seorang da’i, bahwa ketika seorang da’i melakukan kegiatan dakwah perlu memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan latar belakang psikologis mad’u yang dihadapinya, artinya kepada siapa dia memberikan bimbingan/ kegiatan dakwah, di antaranya:



        1. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi sosiologis berupa masyarakat terasing, pedesaan, kota besar, dan kecil.

        2. Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi struktur kelembagaan berupa masyarakat, pemerintah, dan keluarga.

        3. Sasaran yang berupa kelompok-kelompok masyarakat diliohat dari segi sosiokultural berupa golongan priayi, abangan, dan santri. Klasifikasi ini terutama terdapat dalam masyarakat Jawa.41

        4. Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat usia, berupa golongan anak-anak, remaja, dan orang tua.

        5. Sasaran yang berhubungan dengan golongan masyarakat dilihat dari segi profesi atau pekerjaan berupa golongan petani, pedagang, seniman, buruh, pegawai negeri (administrator).42

        6. Sasaran yang menyangkut golongan masyarakat dilihat dari segi tingkat hidup sosial-ekonomi, berupa golongan orang kaya, orang menengah, dan orang miskin.

        7. Sasaran yang menyangkut kelompok masyarakat dilihat dari segi jenis kelamin (sex) berupa golongan wanita, pria dan sebagainya.

        8. Sasaran yang berhubungan dengan golongan dilihat dari segi khusus berupa golongan masyarakat tuna susila, tuna wisma, tuna karya, narapidana, dan sebagainya.43

Bila dilihat dari kehidupan psikologis masing-masing golongan masyarakat tersebut di atas memiliki ciri-ciri khusus yang menuntut kepada sistem dan metode pendekatan dakwah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sistem dan metode pendekatan yang didasari dengan prinsip-prinsip psikologis yang berbeda merupakan suatu keharusan bilamana kegiatan dakwah dapat berjalan sebagaimana mestinya dikalangan golongan masyarakat tersebut, sesuai dengan yang dinyatakan Nabi Muhammad SAW agar memperhatikan aspek kejiwaan dan kemampuan berfikir sasaran dakwah.


  1. Yüklə 341,52 Kb.

    Dostları ilə paylaş:
  1   2   3




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə