Delajjam karya Rido Amilin H. E para pelaku pelaku panggung / aktor



Yüklə 270,42 Kb.
səhifə2/6
tarix27.12.2018
ölçüsü270,42 Kb.
1   2   3   4   5   6

KULOP KOPLIK : Iya, memang ada. Pasti aku diundang, sebab kalau tidak ada aku maka suasana akan dingin di kedatuan. Kau kan tahu Pek kalau aku Rajo gitar tunggal. Tapi meskipun aku seorang rajo, aku tidak berani menolak keinginan Rajo Kubu, aku takut Pek. Jujur saja aku terpaksa memenuhi undangan itu. Kau tahu sendiri pek. Kalau keingianan Kamal itu ditolak, hemm bisa-bisa aku besok sudah dikuliti, lalu dijemur sampai kering di kedatuan. meskipun aku gelarku sama seperti Rajo. Tapi aku takut… Rajoku tidak sekuat Rajo kedatuan. Ah kacau.

(DULFATIH TERLIHAT MELAMUN SANGAT DALAM).



NEK ROKIAH: Iya aku tahu itu, bahkan semua orang juga sudah pasti tahu. Sejak ia menundukan kedatuan dengan sifat liciknya itu. Kita semua sengsara. Sangat berbeda dengan Peserah. Kamal adalah kebalikan dari kebaikan. Bahkan penantang.

DULFATIH: (KETAKUTAN) Purnama melingkar? Aku gagal oh aku gagal. Kutukan itu.

NEK ROKIAH: Nak.. nak.. kau kenapa nak? Apa yang gagal, tidak ada yang gagal.

DULFATIH: (TERKEJUT) eh tidak Mak, tidak ada apa-apa. Aku hanya baru mendengar sikap buruk dari kedatuan. Lop bolehkah aku ikut saat puncaknya itu. Tapi..

KULOP KOPLIK: Tapi… tenang kau pasti ikut serahkan kepada Kulop Koplik, sekarang ayo kita pulang. Sungguh aku harus ke jamban rasanya sangat di ujung.

(MEREKA MENGEMAS BARANG-BARANG DAN PULANG KERUMAH).



Lampu menggelap perlahan-lahan.

Pekan Tiga

ORANG-ORANG TERLIHAT TERIKAT DENGAN TALI YANG TERBUAT DARI AKAR/KULIT KAYU, DICAMBUK, DITENDANG DAN DISIKSA HINGGA MEREKA MENJERIT KE LANGIT HIJAU. ALGOJO DENGAN MANDAU BESAR BERKILAU ALGOJO MENGIRINGI TAWANAN. SELAIN ITU, PARA GADIS-GADIS DISEKAP DALAM KANDANG YANG DIPIKUL OLEH ALGOJO-ALGOJO. YANG MEMAKAI BAJU KULIT-KULIT BINATANG. PARA SANDERAPUN TERLIHAT TERSIKSA MENANGIS, DAN MENJERIT. PARA GEROMBOLAN INI TERUS BERJALAN TERUS UNTUK MENCAPAI KEDATUAN, MELEWATI HUTAN-HUTAN, HINGGA AKHIRNYA MEREKA BERTEDUH DI HUTAN KERING.



ORANG-ORANG : (MENJERIT, MENANGIS, MINTA TOLONG)

ORANG 1 (Lanang)1 : Awak haus tuan, sudikah kiranya memberi sedikit air minum.

ALGOJO KUMBANG : (MENGAYUN CAMBUK)Muka setan, banyak cakap! Tidak ada air minum. Tidak ada makanan. Cepat jalan!!. Ku makan tau rasah kau.

ORANG 2 (Betino) : Tuan, kasihanilah Wak tuo itu, iya memang haus. Dengan segala hormat berilah ia sedikit air. Berbaik hatilah tuan. Biarlah ia mengamil jatahku tuan.

ALGOJO KUMBANG : Setan jalang!! Mau jadi pahlawan rupanya. Oy dengarkan betino ini. Lagaknya ingin menjadi pahlawan. (TERTAWA)Semut Lado cambuk mukanya yang memelas itu!

ALGOJO SEMUT LADO SIAP MENGAYUNKAN CAMBUKNYA.



ALGOJO KADAL : (BENTUK KEPALANYA TELENG)Jangan! Jangan di cambuk betino itu. Sekalipun jangan pernah! Kalau kau mencambuknya kau akan di cambuk sampai mati oleh Tuan Rajo Kubu Dalam, Tuanku Latusko Kamal sudah memesan betino itu. Lecet sedikit kita semua akan di masuk dalam Lumbung Lintah.

ALGOJO SEMUT LADO: Kumbang?

ALGOJO KUMBANG: Tahan! Untung Si Teleng mengingatkanku. Kalau tidak. Entahlah nasibku akan dihisap oleh linta-linta raksasa yang haus darah. Lado berikan saja ia minum. Kita akan istirahat sebentar. Ikat mereka di akar jaga jangan sampai mereka lolos. Cambuk sampai mati bila mencoba melarikan diri.

ALGOJO SEMUT LADO: Iyo kumbang.

ALGOJO KUMBANG: Algojo Lipan, berapa jauh lagi kita akan tembus ke Dusun Muaro Kubu?

ALGOJO LIPAN: (MELIHAT MATAHARI, MENCIUM TANAH. MEMBACA DAUN-DAUN KERING) Kabar gembira Kumbang, kita akan tiba di dusun Muaro kubu tepat sebelum dua petang. Tepatnya lagi saat malam puncak setengah purnama kita akan sampai ke kediamnan Tuanku Latusko. Tampaknya angin berhembus ke hulu rawas, itu bertanda hujan tidak akan tiba dalam dua hari ini. Artinya akan baik dalam perjalanan kita.

ALGOJO KUMBANG: Kalu begitu, apakah ada waktu kita untuk berteduh di sini?

ALGOJO LIPAN: Boleh saja. Tapi tidak untuk bermalam di sini. Aku mendengar berita. Bahwa pasukan Tunggul Kayu Aya di tundukan oleh seorang lelaki pengembara, orang-orang banyak menjulukinya dengan pendekarKain kuning menyilang di dada. Ia sangat sakti. Aku takut ia akan menghampiri kita.

ALGOJO KUMBANG: Seorang pengembara dengan kain kuning menyilang di dada? Siapa itu. Ah. Baiklah, kita tidak akan bermalam disini. Kita hanya berteduh beberapa waktu. Oh iya teleng kemarilah

ALGOJO KADAL: Iyo Kumbang.

ALGOJO KUMBANG: Apa yang tuan Rajo Kamal sampaikan kepadamu sebelum kita berangkat ke dusun Bawah Tebing? Ku lihat engkau cukup lama waktu itu bercakap-cakap dengan tuanku rajo. Apa yang ia katakan padamu?

ALGOJO KADAL: Tidak banyak kumbang. Rajo hanya menitip pesan padaku untuk membawa gadis-gadis Menesan. Ia juga menitipkan kalau kita harus memperlakukan gadis-gadis itu dengan baik, jangan sampai ada goresan pada betis gadis-gadinya. Gadis-gadis itu nanti akan

ALGOJO KUMBANG: Akan menjadi santapan kenikmatan ku di malam purnama penuh. Begitu?

ALGOJO KADAL: Iyo Kumbang. Tepat seperti itu ucap rajo.

ALGOJO KUMBANG: Itulah sebabnya para gadis-gadis menesan ini di kurung dalam kandang. Lalu diangkat bak putri Sayati?

ALGOJO KADAL: Benar Kumbang, bahkan rajo meminta bila perlu kita memberikan batal yang terbuat dari kapokemas milik Dewa Sutra . Hanya untuk gadis menesan ini duduk. Hem lagaknya sudah seperti ratu saja.

ALGOJO LIPAN: Kumbang. Tampaknya aku mencium sesuatu yang aneh. Jaraknya sekitar 500 jejak kaki melangkah menuju ke mari.

ALGOJO KUMBANG: Apakah ia bergerombolan atau hanya beberapa?

ALGOJO LIPAN: (MENEMPELKAN TELINGANYA KE TANAH).Sangat banyak kumbang, kita sepertinya kalah pasukan bila mesti harus di hadapi. Ajian Sengat berdarahkupun tidak ada apa-apanya. Aroma kesaktianya cukup tinggi. Hanya Obanda Siden yang mampu melawan ajian para Kubu Darat ini. Sebaiknya kita cepat bergegas.

ALGOJO KUMBANG: Semot lado, semot api, mari siapkan kita akan berangkat. Teleng siapkan jejak pengecoh perjalanan. Agar mereka terbudi dengan jebakan kita.

ALGOJO-ALGOJO MEMBUKA TALI IKATAN, SEDANGKAN TELENG MENUMPAKAN DARAH YANG ADA DI DALAM BULOH. DISETIAP ARAH. UNTUK MENGKECOH PELACAKAN KUBU DARAT. LALU MEREKA BERANJAK DARI TEMPATNYA BERTEDUH. LAMPU MENGELAM.



BABAK DUA

Pekan satu

SUASANA DI RUANG KEDATUAN TAMPAK SEPI, HANYA ADA PUTRI SAYATI YANG DITEMANI OLEH DAYANG-DAYANGNYA, IA DUDUK LALU BERDIRI KEMBALI. SESEKALI IA MENGHADAP CERMIN. LALU DUDUK KEMBALI. PUTRI SAYATI SANGAT CANTIK DEGAN GAUN SUTRA YANG MEMBALUTI TUBUHNYA, JUGA MAHKOTA SEORANG PUTRI KEDATUAN. JUGA GELANG KAKI DAN TANGANYA YANG TERBUAT DARI EMAS YANG SANGAT BERNILAI HARGANYA.



(PUTRI SAYATI TERLIHAT CEMAS).

PUTRI SAYATI : Entah dari mana harus ku mulai langkah menemuinya. (BERJALAN JALAN) tegap tubuhnya selalu menghantuiku, apa lagi tutur bahasanya yang begitu santun. Oh Dulfatih begitu bahagianya seorang wanita yang mendampingimu kelak. (GELISAH) Aku harus mengutus Soda untuk menemuinya menyampaikan pesan-pesanku. (MENUJU KE KAMAR LALU TERTAHAN OLEH PUTRI SAYATIN)

PUTRI SAYATIN : (NADA MENGEJEK) Ku kira seorang gadis terhormat jatuh pada budak biasa di pinggiran jalan. Sangat menyedihkan. Andai saja Bapak Rajo mengetahui hal ini. Aku tidak dapat membayangkan berpa lama akan disekap. (MENIRU GAYA SAYATI) tegap tubuhnya selalu menghantuiku, apa lagi tutur bahasanya yang begitu santun. Oh Dulfatih begitu bahagianya seorang wanita yang mendampingimu kelak.

PUTRI SAYATI : Cukup Dik Sayatin, jangan kau teruskan.

PUTRI SAYATIN : Jangan pernah pangil aku Adik. Secara kesamaan wajah kau memang sangat mirip denganku. Tapi sejujurnya aku tidak sudi bila diadukan oleh Peserah kalau kita kembar yang serasi. Untuk apa? Tidak ada yang dapat di banggakan. Memiliki kakak seorang penurut, tekun dan rajin. Juga sangat di sayang oleh Umaknya. Juga lebih tepatnya lagi musuh dalam selimut! Aku sangat membencimu!

PUTRI SAYATI : Dik sayatin, kejadian di waktu lampau janganlah kau terus mengungkitnya, aku tahu waktu itu aku salah. Memberitahukan pada Umak bahwa kau akan mengikuti Obanda Siden ke Dusun Dua Muara. Hingga Umak menghukumu. Sungguh Dik yang ku lakukan untuk menyelamatkan engkau seorang. Tidak lebih.

PUTRU SAYATIN : Oh seperti itukah, mains sekali kakak? Aku sangat terharu mendengarnya. Mungkin Bak Rajo akan mendengarnya langsung dari mulutmu tentang pemuda penantang kedatuan itu. Bapak akan memenjarakanmu tepat di mana aku di sekap. Sementara kekasihmu Dulfatih itu akan dipancung dengan Mandau tebal bermata dua milik Algojo. Dengan mudahnya aku berbicara pada Bapak Rajo, disamping ia sangat geram dengan nama Dulfatih pengembara berkain kuning menyilang didada itu. Aku sangat yakin Rajo akan mengulitinya bila ia tau kalau putrinya sedang dilanda cinta oleh musuh kedatuan.

PUTRI SAYATI : Jangan Dik, jangan lakukan itu. Itu akan menyakiti Dulfatih. Kau boleh menghukumku. Hukumlah aku agar kau puas, tapi jangan Dulfatih ia tidak bersalah dalam masalalu kita.

PUTRI SAYATIN : Iya aku sangat bisa. Bapak akan lebih mendengarkanku daripada dirimu. Kau tau! Malam ini adalah puncak purnama tunggal, juga penyambutan Obanda Siden yang tengah bertugas dari Ujung Tebing, tepat di depan para tetua-tetua. Akan ku umumkan bahwa didalam kedatuan ini ada seorang wanita yang melindungi penghianat. Setelah ku sebutkan namamu bisa-biasa bapak akan melemparkanmu dalam kandang litah setan itu. Kau tahu peranggi Rajo kedatuan bukan.

PUTRI SAYATI : Dik jangan Dik, jangan lakukan itu. Aku akan bersikap tegas bila kau melakukan itu nanti malam. Hanya saja aku masih memikirkanmu. Tapi bila sebaliknya angin berpinta. Maka akupun akan mengikuti arahnya. Kau tentu tahu maksudku (MASUK KEDALAM)

PUTRI SAYATIN : (KESAL) Aku akan menjatuhkanmu Sayati. Tidak ada yang lebih manesan dari pada aku. Juga orang-orang akan mengatakan hal itu bukan kepadamu. Tapi padaku! Selama engkau masih hidup itu bencana bagiku. Sayati tunggulah saatnya kau akan menemui waktunya. (MASUK KEDALAM)

(USEN CANGOK DAN PESERAH MASUK).



MANSOR HASAN : Tak disangka-sangka kami kedatangan tamu jauh.

USEN CANGOK: Wakde jangan terlalu berlebihan. Aku kebetulan lewat dusun ini. Jadi aku putuskan untuk singgah sebentar.

MANSOR HASAN: Ada gerangan apa yang membawamu melintasi dusun ini? Tampaknya tadi kau membawa algojo-algojo pilihan.

USEN CANGOK: Aku baru saja bertandang ke kediaman Wakcik Sitoher. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung kesana. Wakcik juga menyempatkan pesan salam pada kedatuan Seselang. Termasuk padamu De, salam hangat katanya.

MANSOR HASAN: Saduarahku Toher, oh sudah lama sekali kami tidak berkumpul. Apakah dia terlihat baik di sana?

USEN CANGOK: Iya dia sedikit batuk. Tapi selebihnya ia masih melalap sambal cungkadrioh dan daun pucuk ubi De. E..Wakde mengapa sangat sepi di kedatuan ini. Apakah Latusko Kamal tengah berpergian?

MANSOR HASAN: Iya, Rajo tengah mempersiapkan untuk penyambutan besar malam nanti. Kau tinggalah beberapa hari di kedatuan, juga perjalananmu sudah terbilang tidak terlalu jauh untuk kembali, tinggalah.

USEN CANGOK: Penyambutan?

MANSOR HASAN: Iya penyambutan, penyambutan Obanda Siden dan algojo yang merubuhkan penyusup di Dusun Tebing. Selain itu pula tepat malam ini terhitung kembali sudah tepat purnama tunggal. Mangde kira kau tahu hal ihwal itu.

(PEK JAT MASUK MEMBAWA BUAH-BUAHAN LALU MELETAKANYA DI SEBELAH MEJA LATUSKO).



PEK JAT: Bak ada pesan dari rajo untuk menyantun tamu-tamu yang datang lebih awal nanti malam. Siapa ini? Ow.. Adik Usin. Kapan tiba di sini? Sangat lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?

MANSOR HASAN: Tentu saja Jat. Oh iya bagaimana dengan mu Sen? Sudah jangan terlalu banyak berpikir, menginap saja di sini. Semestinya kita berkumpul sebagai keluarga besar bukan. Mangde harus mengurus beberapa hal untuk nanti malam, minta antarlah pada kakak iparmu tempat istirahat. Wakde akan mengunjungimu nanti setelah selesai semua persiapannya. .(MASUK)

USEN CANGOK: Rasanya agak bingung. tapi ya sudah aku akan bermalam disni. Oh Ayuk jat. Kabarku sangat baik tidak ada satupun yang hilang dari tubuhku. Untuk apa gitar tunggal dan peletok bulo itu yuk?

PEK JAT: Untuk kulop Koplik. Malam nantikan ada pesta besar Sen, Tradisi kita kalau purnama tunggal, pasti kau tahu. Usen Kau tampaknya sangat lelah, mari biar Ayuk antarkan kau kekamarmu dulu. Sudah, engkau menginap saja. Tinggalah beberapa hari di sini. Mari ikut Ayuk ke kamarmu.

USEN CANGOK: Iya yuk, sepertinya terlalu sayang jika aku melewatkan perayaan malam ini, juga badanku ini terasa sangat lelah. Perjalanan begitu jauh. Aku akan mermalam disini untuk beberapa waktu.

(PEK JAT DAN USEN MASUK

(LAMPU MENGELAM DENGAN PELAN LALU LENYAP MENJADI HITAM PEKAT)

Pekan Dua

DI DALAM RUANGAN TERLIHAT SATU KURSI YANG TERBUAT DARI KAYU BULAT TERLETAK DI TENGAH, SEDANGKAN DI SAMPING KIRI DAN KANANYA KURSI-KURSI YANG TERBUAT DARI KAYU BULAT BESAR ALAMI BERJAJAR. SEMENTARA PERISAI DAN BAJU BELAGO RAJO TERLETAK DI BELAKANG KURSI. JUGA DINDING ISTANA DIHIAS DENGAN KAYU BULAT KECIL DAN BESAR. KEPALA HARIMAU DAN MANDAU PANJANG TERLETAK MENYILANG DI DINDING-DINDING.



LATUSKO KAMAL: Aku tidak menyangka akan kedatangan tamu jauh malam ini. Tepat tuju purnama menghilang. Tapi kini kembali entah ada angin apa. Kurasa ada angin yang lain membawanya kekedatuan Beselang ini.

USEN CANGOK: Kebetulan aku lewat tak jauh dari Kedatuan Kak. Aku menilai alangkah ruginya bila tidak singgah dan bertemu adik-adiku di kedatuan ini. Aku harap Akak melupakan masalalu kita 7 tahun yang lalu. Aku sudah bukan yang dulu percayalah.

LATUSKO KAMAL: Bagaimana dapat di sangkal dengan kebetulan engkau datang kesini. Ya aku memang sudah melupakanya. Bahkan aku sudah membuangnya di ujung sungai. Apa yang kau lakukan di Sungai merah? Banyak kabar tersebar engkau akan mendirikan kedatuan di sana?

USEN CANGOK: Bagaimana kakak bisa tahu tentang hal itu?

LATUSKO KAMAL: Usen.. Usen.. kau masih tak paham juga. Aku ini Rajo di kedatuan ini. Sebagai rajo aku memiliki ketelatenan ilmu yang tak satupun dari kalian mengetahui. Kalau saja aku tidak tahu mungkin aku ini bukan Rajo di kedatuan ini.

USEN CANGOK: Benar Kak. Memang aku akan bangkit untuk mendirikan kedatuan di sana. Namun ada beberapa hal yang menganjal tentang rencana itu.

LATUSKO KAMAL: Aku sudah paham tabiat kau Sen. Tidak usahlah kau bergumam dengan panjang dan berliku-liku. Sejak kau datang sudah ku baca matamu. Hanya saja aku sebagai Akak, aku harus mendengarkan mata itu. Meski ku tak paham artinya.

USEN CANGOK: Aku butuh beberapa kotak emas dan perak kak. Aku tidak tahu akan mencarinya kemana. Aku sudah mengunjungi Wak Toher, tapi hasilnya sangat mengecewakan. Dengan berat aku kesini, dengan maksud Kakak dapat membantu mengatasi masalah yang aku hadapi.

(OBANDA DAN PARA ALGOJO KEDATUAN MASUK MEMENUHI UNDANGAN RAJO).



ALGOJO: ROMBONGAN ALGOJO SUDAH TIBA

LATUSKO KAMAL: Setelah perayaan ini kita sambung lagi.

OBANDA SIDEN: Beri sembahku pada tuanku Rajo (BERLUTUT, SEMUA ALGOJO DAN PELAYAN BERSUJUD)

LATUSKO KAMAL: (TERTAWA) Obanda siden, mahkluk buas tanpa belas. Berdirilah. Sudah kunanti kedatanganmu dengan algojo-algojomu.

OBANDA SIDEN: Terimakasih tuanku Rajo.

LIMA PELAYAN MASUK DENGAN MEMBAWA BERAGAM MACAM, PELAYAN1 MEMBAWA BUNGA TUJU WARNA DI DALAM SEBUAH MANGKUK SENG LAMA. PELAYAN DUA JUGA TERLIHAT MEMBAWA ASAP-ASAP, SEDANGKAN PELAYAN TIGA DAN EMPAT MEMBAWA DARAH DI DALAM BULOH, DAN YANG TERAKHIR MEMBAWA SANGKAR BURUNG DENGAN ISI BURUNG BEO LALU DI LETAKAN DI TENGAH-TENGAH DAN MEREKA KELUAR LAGI..



PELAYAN: Rajo acara siap di mulai.

LATUSKO KAMAL: segeralah.

PEAYAN: (MENGANGGUK) Silahkan tuan Rajo.

DULFATIH YANG MENYAMAR MASUK BERSAMA KULOP KOPLIK, KULOP KOPLIK MENGAMBIL GITAR TUNGGAL GAMBUS, SEDANGKAN DULFATIH MEMBAWA BURDAH DAN BEBERAPA BAMBU KECIL SEBAGAI ALAT MUSIC TANGAN.



LATUSKO KAMAL: Tepat pada malam ini. Tepat pula kemenangan yang di raih oleh kedatuan Beselang, tentu itu berkat Algojo Tangan kananku yang haus darah, Siden. Juga tepat malam ini sebuah kelestarian sudah kita bangun. Tapi sebelum itu, kita telah kedatangan tamu jauh. Tamu lama yang kini sudah menjadi tamu yang baru. Sambutlah adik Usen Al Kamal. Juga sebelum itu. Kita akan di buat takjub oleh Algojo tangan kanan ku. Silahkan obanda (DUDUK)

OBANDA SIDEN: Beri salam kepada tuan Usen Al Kamal tamu jauh. Malam ini tentu adalah malam yang begitu gemilang, juga di samping itu kegemilangan tidak akan ada apa-apanya bila darah tidak tertumpah. Dan tangis ratap pilu tidak di gusarkan. Dengan segala kesetiaan kami pada Tuanku Rajo. Dengan ini saya persembahkan persembahan yang gemilang.(PARA ALGOJO MASUK MEMBAWA PERSEMBAHAN ORANG-ORANG BERTEPUK TANGAN)

TELENG MEMBAWA MASUK KERANGKA YANG BERISI WANITA-WANITA CANTIK, SEMENTARA ALGOJO-ALGOJO LAINYA MEMBAWA GADUNG DALAM KARUNG GONI DAN BEBERAPA KOTAK EMAS DAN PERAK. LALU MEREKA MELETAKANNYA DI HADAPAN RAJO KUBU DALAM.



LATUSKO KAMAL (TETAWA) kau sangat paham keinginanku Algojo. Lihatlah peserah betapa kuatnya aku. Betapa tangguhnya kedatuan Beselang kubu pada kejayaanku. Kini apa lagi yang kau renungkan. Sudah pasti Obanda Siden dengan gigih memenuhi perintahku. Kau tahu apa yang harus engkau perbuat bukan.

MANSOR HASAN: Sambut selamat seribu bulan pada Obanda Siden. Selamat atas kemenangan yang di gapai olehmu. Rajo mohon pamit untuk mengurus segalanya. Algojo bawa mereka masuk. Suru para pelayan memandikan wanita-wanita itu, jangan lupa berikan ia pakaian sutra lalu mandikan dengan bunga tuju warna. Satu lagi, berikan ia minyak wangi dari dasar sumur dusun jernih. (KELUAR)

LATUSKO KAMAL: Bagus-bagus. Pergilah. Semuanya dengarkan aku. Dengan segala kegemilangan yang di tempuh oleh Obanda Siden, maka malam ini aku sebgai Rajo kedatuan meminta Obanda Siden dengan hormat maju ke Palang Pangkal penyempurnaan. Dengan darah, dengan segala luka, dengan segala kekuatan leluhur, telah ku tanggali engkau pada malam ini sebagai panglima perang kedatuan.(MENYIRAMI DARAH PADA DELAJAM BARU) tertawa

ORANG-ORANG DI KEDATUAN BERTEPUK TANGAN. DULFATIH DAN KULOP KOPLIK HANYA DIAM DAN TERUS MENYAKSIKAN.



OBANDA SIDEN: Terimokasih rajo.

LATUSKO KAMAL: Dan semuanya, nikmati malam yang menang ini. Wahai Kulop Koplik kenalkan tembang bertema apa yang akan kau lantuntkan pada malam ini?

KULOP KOPLIK: Sembah salam pada tuanku Rajo. Juga selamat pada tuan Delajam baru kedatuan. Malam ini tepat Purnama tunggal, tepat pula tradisi akan kita iringi didalamnya, namun sebelum itu akan hamba kenalkan kepada tuan yang mulia. Hamba telah memiliki adik dari dusun sebelah. Muslimin seorang pemokal yang merdu di dusun sebelah. Juga pandai mengetuk bulo bertakup. Juga akan mempersiapkan kegemilangan yang Berjaya di kedatuan ini.

MUSLIMIN: Beri seribu hormat pada tuanku rajo kedatuan. Hamba Muslimin akan bersedia bertembang malam ini, juga hamba sebagai wakil akan mengajukan tema Sahut menyahut malam ini. Menimbang tema itulah yang tepat sebagai perayaan purnama tunggal pada malam ini.

LATUSKO KAMAL: Sahut menyahut Syair, ide yang sangat meyakinkan. Kulop lantunkan.

KULOP KOPLIK : Rajo. Malam ini memang ada yang harus kita tekuni beberapa syarat bila ingin mengusung tema itu, yang pertama kita didalam sini adalah sindir dan menyindir, angkat mengakat menjadi satu dan melebur dalam Syair sahut menyahut. Juga yang berkenan dalam ruangan ini adalah kita harus memainkan kecuali para pelayan dan algojo tidak di perkenanlan.

LANTUNAN GITAR TUNGGAL DAN KETUKAN BULOH MILIK MUSLIMIN MEMENUHI RUANGAN. TAMPAK KULOP KOPLIK MULAI BERSYAIR DAN DI BALAS OLEH DULFATIH YANG MENYAMAR SEBAGAI MUSLIMIN.



KULOP KOPLIK: Sambung menyambung tali di jamban
angin berkicau panas di ulu rawas
semboyan hilang menjadi angin bermata pedang
terguncang-guncang, tertatih-tatih hingga mati.
Oy malang.. oy malang..


MUSLIMIN: Hidup Berjaya pada kekelaman, keleman bermata merah
menusuk kalbu di dasar sungai, membuat pilu uluh hati
nasib yang sian menjadi semakin sian.
lantas kuasa tak dapat di lawan. Mereka menangis kalianpun tertawa.

(RAJO BERDIRI)



LATUSKO KAMAL: Tebing tinggi tebing yang penuh tantangan
Angin yang sedang mulai menembus kulit
memang terbilang harus menghantam kegemulaian.
sebab tahta memang berkuasa.


USEN CANGOK: Bertemu angin di ujung dusun
Berlari-lari budak kecik berperut buncit
melantun kita bertemu dalam senyuman
Bebalut hari-hari dalam penantian yang lama


OBANDA SIDEN: Sebelum petang matahari berwarna merah
Menekuk jalan yang berwarnah kuning.
alangkah setia padamu raja.
bahkan badan menjadi taruhan, untuk memberi ketundukan.

(SUASANA DIDALAM SEMAKIN KERUH).



MSULIMIN: Sepandai-pandainya tupai melumpat.
pasti kelak akan jatuh.
sepandai-pandainya kita mengelak
pasti kelak akan bertemu


Jalan-jalan ke negeri seberang.
melihat burung berwrna kelam
sungguh akan datang masa yang kelam
pada waktu malam tidak terbayang


LATUSKO KAMAL: Hentikan itu lop! Kau muslimin alangkah menikam syair-syair yang engkau lantunkan. Syair lagumu telah merendahan martabat kedatuan. Delajam angkat mandaumu. Penggal kepala anak setan itu.

OBANDA SIDEN: Iyo rajo ku.

USEN CANGOK: kak de.

LATUSKO KAMAL: Diam sen!

KULOP KOPLIK: Beri ampun pada tuanku rajo. Ampunkan tuanku rajo atas segala syair yang di lantunkan keponakan hamba. Dengan segala rasa hormat dalam bersyair sebenarnyalah adalah syair, sebagai lawan kita harus membela. Hukum syair memang seperti itu rajo. Wahai tuanku rajo mengertilah adat dalam bersyair. Sekali lagi ampunilah muslimin tuanku rajo.

LATUSKO KALAM: Meskipun ada syarat dan segala macam didalam bersyair aku tidak akan menuruti, dan kau Muslimin telah menginjak-injak harga diriku, Delajam apa yang kau tunggu hajar mulutnya yang berjingrak itu.

(OBANDA MELAJU DENGAN TINJU YANG KASAR, DULFATIH DI HAJAR HINGGA SEORANG PUTRI MASUK MENGHENTIKANYA).



PUTRI SAYATI: Cukup. Berhenti Delajam. Bapak ampunilah kelancangan ini. Bapak sesunguhnya aku pernah menempu pelajaran dalam bersyair. Sunggu tidak terhormat bila syair lawan berlawan tidak di adukan dengan syair belawan pula. Bukan dengan ketangkasan tinju oleh delajam, Muslimin tidak bersalah. Ia hanya meneruskan adat yang sebenarnya telah terjadi sebelum kita bapak.(MENDEKATI DULFATIH DENGAN MEMBAWA KAIN MENGELAP BEKAS TINJUANYA)

LATUSKO KAMAL: Muslimin. Kalau saja tidak keluar putriku maka tamatlah kau malam ini. Dan ingat ini adalah pelajaran untukmu. Tidak ada yang dapat merendahkan aku Latusko Kamal. Mesikipun dalam bentuk syair menyair.(RAJO DAN DELAJAM KELUAR DI IKUTI OLEH ALGOJO ALGOJONYA)


Yüklə 270,42 Kb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə