Fikih ahlul bait taqlid dan Ijtihad



Yüklə 1,06 Mb.
səhifə28/29
tarix22.01.2018
ölçüsü1,06 Mb.
#39519
1   ...   21   22   23   24   25   26   27   28   29
Lebih dari itu, ayat tersebut menyebutkan secara khusus orang-orang yang setia bersama Nabi Muhammad, dengan arti taat kepadanya dan tidak menentang atau menjelek-jelekkannya. Tentunya orang-orang munafik berada di dekat Nabi dan berusaha mendekatkan diri mereka kepadanya, akan tetapi tidak ada kaum Muslimin yang menyebutkan mereka berdasarkan ayat yang berbunyi, “Orang-orang yang bersama Nnbi Muhammad. “
Berkenaan dengan sahabat golongan kedua ini, Allah SWT berfirman:
Hai orang-orang beriman! Apa yang terjadi dengan kalian! Apakah sebabnya ketika kalian di perintahkan untuk berperang di jalan Allah kalian merasa keberatan? Manakah yang lebih kalian sukai, dunia ini atau kehidupan akhirat? Jika kalian tidak man berangkat perang, ia akan mengazabmu dengan azab yang sangat pedih dan menggantikan kalian dengan yang lain; tetapi Allah tidak akan merugikan kalian sedikitpun karena Allah berkuasa atas segala sesuatu.(QS. at-Taubah : 38-39).
Ayat ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa sahabat-sahabat tersebut malas ketika ada seruan jihad dan perintah lain, sehingga mereka patut mendapatkan peringatan Allah SWT. Ayat ini bukan satu-satunya contoh ketika Allah mengancam akan menggantikan mereka: “...Apabila kalian berpaling (dari jalan ini), ia akan menggantikanmu dengan kaum lain, agar mereka tidak seperti kalian!” (QS. Muhammad : 38).
Dapatkah ditunjukkan siapa yang dimaksud ‘kalian’ pada ayat di atas?
Allah juga berfirman: “Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi... agar tidak terhapus pahalamu sedang kalian tidak menyadari. “ (QS. al-Hujurat : 2).
Hadis-hadis sahih dari mazhab Sunni menegaskan bahwa ada beberapa sahabat yang suka menentang perintah Nabi Muhammad SAW dan berdebat dengannya pada banyak peristiwa. Peristiwa tersebut di antaranya:
Usai perang Badar, Nabi Muhammad SAW memerintahkan untuk membebaskan tawanan-tawanan perang sebagai tebusan dalam membayar fidyah tetapi para sahabat ini tidak melakukannya;
Pada perang Tabuk, Nabi Muhammad memerintahkan mereka menyembelih unta untuk menyelamatkan nyawa mereka tetapi beberapa sahabat menentangnya;
Pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah, Nabi bermaksud berdamai dengan orang-orang Mekkah tetapi sahabat-sahabat yang sama menen¬tangnya. Bahkan mereka meragukan kenabian Nabi Muhammad SAW.
Pada perang Hunain, mereka menuduh Nabi Muhammad tidak adil dalam membagi - bagikan harta rampasan perang; Ketika Utsman bin Zaid diangkat Nabi Muhammad menjadi pemimpin pasukan perang Islam, sahabat-sahabat ini tidak menaati Nabi dengan tidak mengikutinya.
Pada hari kamis yang sangat tragis Nabi ingin mengungkapkan keinginannya, akan tetapi sahabat-sahabat yang sama Pula ini pun menuduh Nabi tengah meracau dan ia mencegah Nabi mengungkapkan keinginannya.
Masih banyak lagi riwayat-riwayat seperti itu yang bahkan dapat ditemukan dalam Shahih al-Bukhari.
Mengenai sahabat golongan ketiga, terdapat sebuah surah dalam Quran yang seluruhnya bercerita tentang mereka yaitu surah al-Munafiqun mengenai orang-orang munafik.
Di samping itu, banyak pula ayat mengenai Sahabat-sahabat ini. Allah berfirman:
Muhammad itu tidak lebih dari seorang Rasul telah berlalu rasul-rasul sebelumnya. Apakah bila ia wafat atau terbunuh, kamu akan berpaling dari agamamu? Barang siapa yang berpaling dari agamanya, tidak sedikitpun ia merugikan Allah; Namun Allah (sebaliknya) akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur (berjuang untuk-Nya) (QS. Ali Imran : 144).
Ayat ini turun ketika beberapa orang sahabat melarikan diri dari perang Uhud,saat mereka mendengar berita bohong bahwa Nabi Muhammad terbunuh. Meski di kemudian hari Allah SWT mengampuni mereka, akan tetapi ayat di atas memberi suatu kemungkinan bahwa beberapa sahabat akan meninggalkan Islam jika Nabi Muhammad meningggal. Tetapi Allah membuat kekecualian “dan orang-orang yang bersyukur (berjuang untukNya).“
Pada ayat lain Allah berfirman:
Hai, orang-orang beriman! Barang siapa di antara kalian yang berpaling dari agamanya, Allah akan membangkitkan suatu kaum yang Allah cintai dan merekapun mencintai-Nya,... yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang berirnan, tetapi bersikap keras kepada orang kafir, berjihad di jalan Allah dan tiada pernah merasa takut terhadap kecaman orang-orang. Itulah karunia Allah yang akan la berikan kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas Pemberiannya san Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. al-Maidah : 54).
Para Sahabat Berdasarkan Hadis-hadis Sahih
Sebelum mengetengahkan ayat-ayat Quran yang lebih jelas mengenai sahabat golongan ketiga ini, kita akan menyebutkan beberapa hadis dari kitab Shahih al-Bukhari yang menegaskan kemurtadan mereka. Karena Bukhari telah menegaskan keshahihan hadis berikut ini, diharapkan kita tidak menganggapnya ‘kafir’ usai membaca hadis-hadis ini.
Shahih al-Bukhari hadis 8.578. Diriwayatkan oleh Abdullah bahwa Nabi Muhammad berkata:
Aku adalah pendahuluan kalian di telaga Kautsar. Abdullah menambahkan, Nabi Muhammad berkata:
“Aku adalah pendahulu kalian telaga Kautsar dan beberapa orang dari kalian akan dihadapkan kepadaku hingga aku melihat mereka dan mereka akan disingkirkan dari sisiku dan aku akan berkata: ‘Ya Allah, mereka adalah sahabat-sahabatku!” Allah berfirman, “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu.“
Shahih al-Bukhari hadis 8584. Diriwayatkan dari Anas bahwa Nabi Muhammad SAW berkata:
Beberapa orang sahabat akan datang padaku di telaga Kautsar, setelah aku mengenali mereka, mereka disingkirkan dari sisiku sehingga aku berkata: “Mereka sahabatku!” Allah berfirman: “Engkau tidak tahu apa yang telah mereka ada-adakan (menambahi hal¬-hal baru) pada agama ini sepeninggalmu.” (lihat juga Shahih Muslim, bagian 5, halaman 53-54).
Shahih al-Bukhari hadis 8585. Diriwayatkan dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa’d bahwa Nabi Muhammad berkata:
Aku adalah pendahulu kalian di telaga Kautsar, dan barang siapa melewatinya, ia akan minum air dari telaga itu. Kemudian akan datang kepadaku beberapa orang yang aku kenal dan mereka mengenaliku. Tetapi sebuah penghalang akan diletakkan di antara aku dan mereka. Aku akan berkata, “Mereka sahabat-sahabatku.” Kemudian dikatakan padaku: “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan (menambah hal-hal baru) pada agama Islam sepeninggalmu. “ Aku berkata : “Betepa jauh (akan rahmat) orang – orang yang berpaling sepeninggalku.”
(Abu Hazim menambahkan, “Nu’man bin Abi Aisyah, ketika mendengarku berkata : Aku akan berkata ‘, bertanya: ‘ Apakah engkau mendengar hal ini dari Sahl ? “ Aku menjawab,’Ya1’ Nu’man berkata,’ Aku bersaksi bahwa aku mendengar Abu Said Kudhri berkata sama.”)
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad berkata:
Pada hari kebangkitan sekelompok sahabat akan datang padaku, tetapi mereka diusir dari telaga Kautsar, dan aku berkata: “Ya Allah, (mereka adalah) sahabatku!” (Allah SWT) berkata: “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan setelah engkau tiada, mereka menjadi ingkar seperti para penghianatan (berpaling dari agama Islam yang benar).”
Shahih al-Bukhari hadis 8586. Diriwayatkan dari Ibnu Musaiyab:
Beberapa orang lelaki sahabatku datang ke telaga Kautsar dan mereka diusir dari telaga itu. Aku berkata: “Ya Allah, mereka adalah sahabatku!” (Allah SWT) berfirman: “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka buat-buat sepeninggalmu; Mereka berbalik ingkar menjadi pengkhianat (berpaling dari agama Islam yang benar)” (terdapat juga pada Shahih Muslim, bagian 10, hal. 64, dan hal. 59).
Shahih al-Bukhari hadis 8587; diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad bercerita,
“Ketika aku sedang tidur, sekelompok orang (pengikutku dihadapkan padaku), dan saat aku mengenali mereka, seorang lelaki (malaikat) muncul di antara aku dan mereka (kami), ia berkata (kepada mereka): ‘Ikutlah bersamaku.’ Aku bertanya, ‘Kemana?’ la menjawab, ‘Demi Asma-Nya, kita akan ke neraka.’ Aku bertanya, Apa yang telah terjadi dengan mereka?’ Ia berkata,’Mereka menjadi ingkar sebagai pengkhianat setelah engkau tiada.’
Kemudian, sekelompok (pengikutku yang lain) dibawa ke hadapanku, dan ketika aku mengenali mereka, seorang lelaki (malaikat) muncul dari (antara kami) ia berkata pada mereka, ‘Ikutlah bersamaku!’ Aku bertanya, ‘Kemana kalian akan pergi?’ Ia berkata,

‘Demi Allah,kami akan ke neraka.’ Aku bertanya, Apa yang telah terjadi dengan mereka?’ la berkata, ‘Mereka menjadi ingkar sebagai pengkhianat sepeninggalmu.’ Maka aku tidak melihat seorang pun dari mereka yang dapat melarikan diri kecuali beberapa orang seperti unta tanpa penggembala.”

Shahih al-Bukhari 8592; diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad berkata:
Aku sedang berdiri di sisi telaga Kautsar, sehingga aku dapat melihat orang-orang di antara kalian yang akan datang kepadaku, dan ada orang-orang yang dibawa pergi dari sisiku, sehingga aku bertanya, ‘Ya Tuhanku, (mereka) adalah umatku dan pengikutku.’ Sebuah suara berkata, “Tidakkah engkau ketahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu? Demi Allah mereka berpaling darimu (berpaling dari agama Islam yang benar).”
Perawi kedua, Ibnu Abi Mulaika berkata:

Ya, Allah kami memohon perlindunganmu agar kami tidak berpaling dari (Islam) agamaku dan engkau coba uji kami dengan agama kami.


Shahih al-Bukhari hadis 9172. Diriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar bahwa Nabi Muhammad berkata:
Aku berada di telaga Kautsar, menanti orang-orang yang datang kepadaku. Kemudian beberapa orang akan dibawa pergi dari sisiku dan aku berkata, “Mereka sahabatku!” Sebuah suara berkata, “Engkau tidak mengetahui bahwa mereka menjadi ingkar, karena berkhianat (meninggalkan agama mereka).”
Ibnu Abu Mulaika berkata, “Ya, Allah! Kami memohon per¬lindungan-Mu agar kami tidak berpaling dari (Islam) agama kami dan dari cobaan yang Engkau beri.”
Shahih al-Bukhari hadis 9173. Diriwayatkan dari Abdullah bahwa Nabi Muhammad berkata:
Aku adalah pendahulu kalian di telaga Kautsar dan beberapa orang diantara kalian akan dibawa kepadaku. Ketika aku memeberi air ini, mereka dibawa pergi dariku dengan paksa sehingga aku berkata, “Ya Allah, mereka adalah sahabat-sahabatku!” Kemudian Yang Maha besar berkata, “Engkau tidak mengetahui apa yang mereka perbuat sepeninggalmu, mereka mengada-adakan hal-hal yang baru dalam agamamu setelah engkau tiada.”
Shahih al-Bukhari hadis 9174.

Diriwayatkan oleh Sahl bin Saad bahwa Rasulullah bersabda:


Aku adalah pendahulu kalian di telaga Kautsar, dan siapa saja yang datang ke telaga ini, ia akan meminum air telaga itu, dan barang siapa yang meminumnya, ia tidak akan pernah kehausan setelahnya. Kemudian datanglah padaku orang-orang yang aku kenal dan mereka mengenalku, kemudian sebuah penghalang diletakkan di antara aku dan mereka.”(Abu Sa’id Khudri menambahkan bahwa Nabi berkata, “Mereka adalah kaumku.” Sebuah suara berkata, “Engkau tidak mengetahui perubahan serta apa-apa saja yang telah mereka perbuat setelah engkau tiada.” Kemudian aku berkata, “Betapa jauh, betapa jauh dari rahmat Allah, orang-orang yang ingkar sepeninggalku.”)
Shahih al-Bukhari hadis 8.434; diriwayatkan dari Uqbah Ibnu Amir bahwa Nabi Muhammad pergi ke masjid dan melakukan shalat jenazah kali para syuhada (perang) Uhud dan kemudian menaiki mimbar. lalu berkata:
Aku adalah pendahulu kalian dan saksi atas kalian. Demi Allah, aku sedang memandangi telaga Kautsar dan aku telah diberi rahasia¬rahasia kekayaan bumi ini (atau kunci bumi ini). Demi Allah, aku tidak takut sekiranya kalian menjadi musyrik setelah aku tiada, akan tetapi aku takut kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya (kenikmatan dan kekayaan dunia ini).
Shahih al-Bukhari hadis 3.555; diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad berkata:
Demi Allah yang menggenggam jiwaku, aku akan mengusir beberapa orang kaumku dari telaga (suci) Kautsar pada hari kebangkitan sebagaimana unta-unta liar diusir dari bak makanan.
Shahih al-Bukhari hadis 4375; diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi Muhammad berkata kepada kaum Anshar :
Kalian akan menemukan kekufuran yang sangat besar sepening¬galku. Bersabarlah kalian hingga kalian bertemu Allah dan Rasul¬Nya di telaga Kautsar (telaga di surga). (Anas menambahkan, “Tetapi kami tidak bersabar.”)
Shahih al-Bukhari hadis 5488; diriwayatkan dari Musaiyab bahwa dia bertemu Bara bin Azib dan berkata (kepadanya):
Semoga engkau hidup sejahtera! Engkau merasakan kebahagiaan sebagai sahabat Nabi dan berbaiat kepadanya (al-Hudaibiyyah) di bawah pohon (al-Hudaibiyyah). (Mengenai hal. ini, Bara berkata, “Wahai keponakanku, Engkau tidak tahu apa yang telah kami perbuat sepeninggalnya.”)
Hadis-hadis ini, tidak ayal lagi, menunjukkan bahwa Nabi mengetahui dan menyadari beberapa sahabatnya akan berpaling sepeninggalnya dan oleh karena itu mendapat azab neraka. Inilah alasan lain mengapa mazhab Syi’ah berkeras bahwa Nabi Muhammad pasti telah memiliki wakil kepercayaannya dalam menangani masalah umat (negara), seorang wakil yang tidak akan merusak agama dan tetap berjalan lurus hingga ia bertemu dengan Sang Penciptanya.
Kenyataan bahwa para sahabat Nabi bertengkar dan perang berkobar setelah Nabi wafat sangatlah terkenal. Selain itu, para sahabat yang terpecah-pecah ditunjukkan Allah SWT dengan ayat berikut.
Hendaknya ada di antara kalian, segolongan umat yang mengajarkan pada kebaikan, menyuruh berbuat makruh, dan melarang berbuat munkar. Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Tetapi janganlah kalian seperti orang-orang yang berpecah belah dan bersilang sengketa setelah datang kepada kealian bukti yang nyata. Bagi mereka di sediakan azab yang mengerikan. Pada hari itu ada orang-orang yang mukanya putih berseri, dan anda orang-orang yang wajahnya hitam muram. Kepada mereka yang wajahnya hitam muram dikatakan, “Apakah kalian ingkar sesudah beriman? Maka rasakanlah siksa yang pedih karena keingkarannya!” (QS. Ali Imran : 104-106).
Ayat di atas menunjukkan bahwa ada segolongan umat yang senantiasa beriman. Ayat ini menekankan baha segolongan umat di antara mereka tidak mencakup semua orang. Akan tetapi kalimat berikutnya menjelaskan golongan ketiga yang ingkar (berpaling) dari agama mereka setelah Rasulullah wafat.
Ayat ini menunjukkan bahwa pada hari perhitungan akan ada dua golongan, yang satu berwajah putih dan yang kedua dengan wajah hitam muram. Itulah petunjuk lain bahwa para sahabat akan terpecah belah.
Berikut ini beberapa ayat lainnya yang menerangkan sahabat golongan ketiga serta perbuatan mereka.
Mereka bersumpah dengan nama Allah bahwa mereka tidak mengucapkan sesuatupun (yang buruk), padahal sebenarnya mereka telah mengucapkan fitnah, dan mereka mengatakannya setelah mereka memeluk Islam, dan mereka merencanakan maksud jahat yang tidak dapat mereka lakukan. Dendam mereka ini adalah balasan mereka atas karunia yang telah Allah serta Rasulnya berikan kepada mereka! Jika mereka bertaubat itulah yang terbaik untuk mereka, akan tetapi jika mereka berpaling (kepada keburukan), Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan mereka tidak mempunyai penolong di muka burni ini (QS. at-Taubah : 74).
Akibatnya Allah membiarkan tumbuh kemunafikan di hati mereka, (kekal) hingga hari itu merekar akan bertemu dengan-Nya, karena mereka melanggar perjanjian dengan Allah, dan karena mereka terns menerus berkata dusta.(QS. at-Taubah: 77).
Sifat arang Arab itu lebih pekat kekafirannya dan kemunafikannya, dan tentunya lebih tidak mengerti perintah yang telah Allah turunkan kepada Utusan-Nya, tetapi Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (QS. at-Taubah : 97).
Tidakkah kamu pikirkan orang – orang yang mengakui dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu dan orang – orang sebelummu ? keinginan mereka (sebenarnya) adalah mengambil keputusan (dalam pertikaian mereka) dengan Taghut, sekalipun mereka sudah diperintahkan untuk menolaknya. Tetapi syaitan ingin menyesatkan mereka sejauh – jauhnya (dari jalan yang benar). (QS. An-Nisa : 60)
Di hati mereka ada penyakit, dan Allah menambah penyakit itu. Begitu pedih siksan yang mereka dapatkan, karena mereka berdusta (pada diri mereka sendiri) (QS. al-Baqarah : 10).
Sekarang kita perhatikan ayat berikut.

Apakah masih belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman supaya tunduk hatinya dalam mengingat Allah dan kebenaran yang di turunkan (kepada mereka) agar mereka tidak meniru-niru orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya, setelah masa berlalu sehingga hati mereka menjadi keras? Sebagian besar di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. al-Hadid : 16).


Mungkin ada beberapa terjemahan yang menyatakan bahwa ayat di atas menerangkan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini tidaklah benar karena bertentangan dengan ayat itu sendiri. Pertama, Allah SWT tengah menerangkan para sahabat dan kemudian menyamakan mereka dengan Yahudi dan Nasrani.
Mengapa Allah berkata kepada kaum Yahudi dan Nasrani, “Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang beriman agar mereka tunduk dalam mengingat Allah... “ dan kemudian berkata, “dan janganlah. kalian seperti orang-orang yang telah di beri kitab sebelumnya.. . “
Mengapa Allah SWT membuat perbandingan kaum Nasrani (Yahudi) dengan kaum mereka sendiri? Apakah hal. ini masuk akal? Tentu tidak, Allah tidak bertentangan dengan diri-Nya sendiri. Akan tetapi, ayat ini turun sebagai pertanyaan Allah berkenaan dengan beberapa orang kaum Muhajirin, setelah 17 tahun Quran turun hati mereka belum yakin sepenuhnya sehingga Allah mencela mereka. Pada kalimat terakhir, Allah menunjukkan bahwa ada orarig-orang fasik di antara mereka.
Seperti yang kami sebutkan, ada beberapa ayat Quran yang mengagumi sahabat golongan pertama. Akan tetapi, ayat-ayat tersebut tidak meliputi semua sahabat. Quran seringkali menggunakan sebutan ‘orang-orang beriman di antara mereka’ atau ‘orang-orang yang pertama kali beriman di antara mereka’ yang menunjukkan bahwa kata – kata tersebut tidak menerangkan kepada semua sahabat. Sebenarnya ada orang-orang munafik diantara sahabat Nabi. Jika orang – orang munafik ini diketahui mereka pasti tidak lagi dikenal sebagai orang munafik tetepi sebagai musuh.
Selain itu, ketika Allah berfirman, “Aku telah ridha dengannya hingga kini… “, tidak menyiratkan makna bahwa mereka akan juga berlaku baik dimasa yang akan datang. Tidaklah dapat dipahami jika Allah memberikan hak imunitas yang permanen kepada orang-orang yang telah berbuat baik sebelumnya, tetapi kemudian mereka menumpahkan darah ribuan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad. jika demikian, artinya seorang sahabat dapat menggugurkan semua aturan Allah SWT serta perintah perintah Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, sebagaimana yang kami sebutkan, mazhab Syi’ah tidak mendiskreditkan semua sahabat. Ada sahabat-sahabat Nabi yang memang sangat kami hormati yaitu mereka yang Allah puji dalam Quran.
Ayat-ayat dalam Quran ini tentunya tidak meliputi semua sahabat. Allah berfirman:
Dan orang-orang yang mula-mula (beriman) di antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebaikan. Allah telah ridha kepada mereka. la telah menyediakan bagi mereka surga yang banyak mengalir sungai-sungai di dibawahnya untuk mereka tinggali selamanya. Itulah keberuntungan yang sangat besar (QS. at-Taubah : 100).
Dan (bagaimanapun) di antara orang-orang Arab terdapat orang – orang munafik, dan juga di antara orang-orang Madinah (ada) orang – orang yang yang kemunafikan telah mendarah daging, yang engkau tidak ketahui (Hai, Muhammad). Kami mengenali mereka dan kami akan menyiksa mereka dua kali lebih pedih, kemudian mereka akan dilemparkan kedalam siksaan yang nienyakitkan.(QS.at-Taubah : 101)
Ayat – ayat tersebut menunjikan bahwa ;
1) Allah ridha kepada mereka, tetapi belum tentu ridha di masa datang;
2) Allah menunjukan orang – orang yang pertama kali beriman di antara mereka. Artinya ia tidak menunjukan semua sahabat;
3) PAda ayat berikutnya, Allah membahas tentang orang – orang munafik di sekeliling Nabi yang berpura – pura menjadi sahabat sejati. Bahkan Nabi Muhammad sendiri, berdasarkan ayat di atas, tidak mengetahui mereka. Hal. ini sesuai dengan hadis Shahih al-Bukhari yang disebutkan di atas bahwa Allah akan berkata kepada Rasul-Nya, “Engkau tidak mengetahui apa yang telah di perbuat Sahabat-sahabatmu setelah engkau tiada.“
Tentunya, terdapat ayat-ayat Quran di mana Allah menggunakan kata kerja lampau tetapi dimaksudkan untuk masa sekarang atau masa yang akan datang. Tetapi masalahnya bukan selalu hal. itu. Ada banyak ayat-ayat Quran ketika Allah dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya berdasarkan perbuatan kita setiap detik. Allah tidak menempati ruang dan waktu tetapi la memiliki kekuasaan untuk mengubah keputusan-Nya dalam dimensi waktu.
Tentunya la sudah lebih dulu mengetahui apa yang la kehendaki untuk berubah kemudian, dan la Maha Mengetahui atas segala sesuatu. la tidak memperlakukan seorang beriman dengan cara yang buruk saat ini, meskipun la mengetahui bahwa orang beriman ini akan kafir di kemudian hari.
Untuk menjelaskan poin ini, lihat Quran seperti surah al-Anfal ayat 65-66, al-A’raf ayat 153, an-Nahl ayat 110 dan 119, ar-Ra’d ayat 11, di mana Allah SWT dengan jelas menyatakan bahwa ia mengubah keputusan-Nya atas dasar perbuatan kita.
Anda dapat menemukan ayat-ayat serupa dalam Quran. Oleh karenanya, keputusan Allah tentang manusia berubah setiah waktu berdasarkan perbuatan kita. Jika kita berbuat baik, la akan ridha kepada kita, dan jika kita berbuat buruk, la akan murka, dan seterusnya. Para sahabat tentu tidak terlepas dari aturan ini. Siapapun yang berbuat kebajikan, Allah akan ridha dengan kepadanya, tidak memandang apakah ia sahabat Nabi atau bukan.
Allah Maha Adil. la tidak membeda-bedakan antara sahabat dan orang-orang yang hidup saat itu. Tidak ada seorangpun yang memberikan jaminan masuk surga jika ia berbuat jahat, menumpahkan orang – orang yang tidak berdosa. Jika tidak, maka Allah tidak adil. Allah tidak adil.
Allah berfirman dalam Quran “Setiap diri bertanggung jawab atas segala perbuatannya.” (QS.al-Mudatstsir : 38); “Penuhilah janjimu, maka Aku akan memenuhi janji- Ku.” (QS. Al-Baqarah : 40 ).
Kalaupun kita berasumsi atas argumen bahwa surah at-Taubah ayat 100 memiliki makna ‘semua’ sahabat dijamin masuk surga, surah al Baqarah ayat 40 menyatakan dengan jelas bahwa apabila orang-orang itu melanggar janji setelah Nabi wafat dan menumpahkan darah orang-orang tidak berdosa, Allah tidak akan memenuhi janji-Nya.
Mari kita perhatikan ayat-ayat Quran berikut yang menunjukkan secara jelas bahwa seseorang yang sangat mulia, yang pantas masuk surga, dapat menghanguskan semua perbuatan baiknya dalam sekejap. Maka janganlah menilai perbuatan baik seseorang yang pernah diperbuatnya, jika ada, kita harus senantiasa melihat hasil akhir setiap orang.
Bahkan Nabi Muhammad sendiripun tidak mengetahui takdirnya hingga ia wafat (yaitu hingga ia melalui ujian terakhir) karena ia juga memiliki kebebasan untuk berbuat buruk. Allah berfirman:
Hai Rasulullah, jika engkau mempersekutukan Allah, amal salehmu akan terhapus, dan engkau termasuk orang-orang yang merugi

(QS. az-Zumar : 65).


Kalau amal saleh Rasul sendiripun terancam terhapus, jelaslah bagaimana kita menilai para sahabat. Tentu saja Nabi Muhammad tidak menghapus perbuatan baiknya, tetapi ada kemungkinan kalau amal salehnyapun dapat terhapus.
Dan jika di antara kalian yang berpaling dari agamanya dan mati dalam keadaan kafir, maka hapuslah semua pahala amal kebajikannya, di dunia ini dan akhirat, dan mereka akan menjadi penghuni neraka selamanya (QS. al-Baqarah : 277).
Orang – orang yang kembali kafir setelah beriman dan semakin meningkat kekafirannya, sekali – kali tidak akan diterima taubatnya dan mereka itu adalah orang – orang yang sesat (QS. Ali Imran : 90)
Pada hari kiamat, ada orang – orang yang wajahnya putih bercahaya dan ada orang – orang yang wajahnya hitam kelam. Kepada mereka berwajah hitam dikatakan : “ Mengapa kalian sesudah beriman ? Rasakanlah siksaan ini karena kekafiranmu !” (QS. Ali Imran : 106)
Orang yang telah beriman, lalu ia kafir, kemudian ia beriman kembali, lalu kafir kembali, dan semakin pekat kekafi’rannya, Allah tidak akan mengampuni dan menunjuki mereka jalan (QS. an-Nisa : 137).


Yüklə 1,06 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   ...   21   22   23   24   25   26   27   28   29




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə