Ilmu al-qur'an pengertian pertumbuhan dan perkembangannya



Yüklə 128 Kb.
səhifə1/5
tarix02.11.2017
ölçüsü128 Kb.
  1   2   3   4   5

Ringkasan

Al-Mabahits fi Ulumil Qur'an

Syaikh Mannaul Qatthan


ILMU AL-QUR'AN
Pengertian pertumbuhan dan perkembangannya.

Mushaf  pada zaman khallifah  Ustman bin Affan dinamakan Mushaf imam (mushaf yang pertama kali ). Sedangkan penulisan mushaf tersebut dinamakan Ar- Rasmu Al Utsmani yaitu yang dinisbatkan pada shohabat Utsman, dan ini dianggap sebagai permulaaan ilmu rasmi Al quran.

Pada masa khalifah Ali-lah, awal mula diletakkan kaidah-kaidah nahwu, yang ini juga dianggap sebagai permulaaan ilmu irabrabil quran. Para sahabat melanjutkan usaha itu sampai pada zaman Tabin, Tabiut tabiin. Ibnu Taimiyah berkata: "Ilmu tafsir, yang paling tahu tentang pembahasan ini adalah mereka Ulama' tafsir dari penduduk makkah, kufah, madinah (mereka memiliki kelebihan dari ahli tafsir lainnya).


  • Bahwa tafsir mulanya dinukil

  • Dan diriwayatkan dari mereka semua meliputi Ilmu Garib, Ilmu Asbabun Nuzul, Ilmu Makkki wa Madani, ilmu Naskh dan Mansukh berdasarkan riwayat yang didektekan.

  • Pada abad 2 H, dibukukannya hadist yang itu ada sangkut pautnya dengan tafsir, sehingga para ulama membukukan tafsir. Diantara mereka yang terkenal adalah Yazid bin harun (w.117H), Syu'bah bin Hajjaj( w.160H), Waki' bin Jarrah (w.197H), Sufyan bin uyainah (w.198H), Abdurrazaq bin Hammam (w.112H). mereka pakar hadist dan tafsir namun tafsir mereka tidak sampai ke tangan kita.

  • Ditulis secara bebas dan independen.

Kemudian langkah mereka diikuti oleh Ibnu Jarrir At Thabari (w.310H), tafsirnya sempurna berdasarkan susunan ayat. Maka dengan inilah lahirlah Tafisr bil ma'sur lalu diikuti  tafsir birra'yi.

Disamping ilmu tafsir, lahir pula pokok bahasan berhubungan dengan Al Qur'an, yang ini sangat diperlukan bagi Mufassir. Diantara mereka:

•    Asbabun Nuzul oleh Ibnu Qutaibah, gurunya Imam Bukhari (234H).


•    Nasikh Mansukh dan Qiraat oleh Abu  'ubaid Al Qasim (224 H).

•    Problematika Al Quran oleh  Ibnu Qutaibah (276 H)

•    Al Hawa Wal Ulumul Quran oleh Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (w.309H).


•    Ilmu - ilmu Qur'an oleh Abu Muhammad bin Qasim Al Anbari ( w. 751H).


•    Garibul Quran oleh Abu Bakar as Sajistani (w. 330H).


•    Al Istighna' fi ulumil Qur'an oleh Muhammad bin Ali Al Adawi(388H).


•    I'jazul quran oleh Abu Bakar Al Baqalani 403

•    I'rabul Quran oleh Ali bin Ibrahim bin Said Al Hufi 430
•    Amsalul Quran oleh Al Mawaerdi 450
•    Majas dalam Al Quran oleh Al Izz bin Abdussalam 660
•    Ilmu Qiraat dan Aqsamu Quran mengenai cara membaca Al Quran oleh Alamudin Asshahawi 643
Berkata Syaikh Muhammad Abdul Adzim Az Zarqani bahwa ia tidak menemukan didalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang  ditulis oleh Ali bin Ibrahim bin Said ( Al Hufi, w.330 H ) dengan judul "Al Burhan fi Ulumil Quran" terdiri 30 jilid ( 15 tidak tersusun dan tidak berurutan). Dengan metode yang begitu bagus sehingga ia dianggap sebagai orang yang pertama kali membukukan ulumul quran.
•    Fununun Afnan fi 'Ajaibi Ullumul Quran oleh Ibnu Jauzi 597
•    Kemudian Al Burhan fi 'Ulumi Quran  oleh Badruddin Az Zarkasyi 794H
•    Jalaludin Al Balqani 824 H memeberikan tambahan dari Al burhan.
•    Al itqan oleh Jalaludin As Suyithi ( 991).
Pembahasan itu semua dikenal dengan  nama ulumul Quran yang menjadi kata istilah dalam  Mabahis ulumul Quran.
Kata "uluum" jamak dari kata ilmu yang berarti Al Fahmu wal idrak ( paham dan menguasai).
Yang dimaksud ulumul Quran ialah ilmu membahas masalah yang ada kaitannya dengan Al Quran dari segi aasbabun Nuzul, pengumpulan dan penertiban Quran, pengetahuan surat-surat Makkah dan Madinah, Nasikh Mansukh, Al Mukhkam dan Mutasyabih dll ( yang merupakan  ilmu yang harus dikuasai oleh mufassir).
Terkadang ilmu ini dinamakan dengan ilmu Ushulut Tafsir. Karena didalamnya ada pembahasan yang harus diketahui oleh seorang mufassir.

AL QUR'AN AL-KARIM

Al Qur'an adalah risalah Allah kepada manusia seluruhnya: Al A'raf : 158: Al Furqan :1, Al Ahzab : 40, Asy Syura: 13. Jibril membawa Al Quran ( Asy Syu'ara' : 193) . dan Sifat Sifat Al Quran : At Takwir: 19-24 Al Waqiah: 77-79. Al Quran digunakan beberapa kurun ( AL Hijr: 90). Risalah ini juga ditujukan kepada jin ( Al Akqaf :29-31). Tinggal bagaimakakah kita ? Thaha : 123-124.


Para ulama menyebutkan bahwa definisi Al Quran adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wassalam, berpahala bagi yang membacanya. ( Al Kahfi:109 )dan ( Luqman:27 ) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad yang pembacanya merupakan suatu ibadah.
Nama diantaarnya; Quran ( Al Isra': 9) dan (Al Anbiya' :10), Furqan (Al Furqan : 1), Zikr ( Al Hijr: 9), Tanzil ( As Syuara' : 192).
Sifatnya diantaranya: Nur ( An Nisa': 174), Huda, Syifa', Rahmah ( yunus: 57 ), Mubin ( Al Maidah:57), Mubarak ( Al Anam: 92), Busyra ( Al Baqarah: 97), Aziz ( Fussilat: 41), Majid ( Al Buruj: 21), Basyir ( Fussilat : 3-4).

Perbedaaan antara hadist Qudsi dengan nabawi:


Hadist Nabawi ada dua yaitu:
1)    Tauqifi, kandungannya diterima Rasulullah dari  Wahyu lalu beliau menjelaskan dengan kata katanya, dan kandungannya ini dinisbahkan kepada Allah sedangkan dari segi pembicaraaan dinisbatkan kepada Rasululah.
2)    Taufiqi, Apa yang disimpulkan Rasulullah menurut pemahaman beliau terhadap Al Quran, bersifat ijtihadi. Seperti apa yang turun mengenai tawanan perang Badar Rasulullah mengambil pendapat Abu Bakar dengan  menerima tebusan kepada mereka ( Al Anfal: 67).

Subhat subhat masalah ini :


Bahwa H. Nabawi adalah wahyu secara makna, lafadznya dari Rasulullah . Mengapa H. Nabawi tidak dinamakan H. Qudsi ?
Jawaban:
Bahwa lafadz H. Qudsi dari Rasulullah, dengan alasan apakah H. Qudsi dinisbatkan kepada Allah melalui kata nabi Allah ta'ala berfirman ?

WAHYU ILAHI

Secara bahasa: Wahyu adalah isyarat yang tersembunyi dan cepat.
Dibagi menjadi 5 pengertian bahasa :
1.    Ilham sebagai bawaaan dasar manusia, seperti : Wahyu kepada ibu Musa ( Al Qashash :7).
2.    Ilham berupa Naluri pada binatang, kepada lebah ( An Nahl: 68).
3.    Isyarat cepat melalui rumus dan kode, seperti isyarat Zakaria( Maryam: 11).
4.    Bisiskan dan tipu daya syaithan, menjadikan  buruk kelihatan indah, Al An'am:112 dan 121).
5.    Apa yang disampaikan Allah kepada Malaikat.( Al Anfal: 12).

Secara syar'I: Kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi baik melalui perantara atau tidak yang pertama melalui suara terjelma atau tanpa suara.


Perbedaaan antara wahyu  dan ilham: Ilham adalah suatu perasaan yang diyakin jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti yang diminta tanpa mengetahui dari mana datangnya ( seperti perasaaan lapar, haus, sedih, senang).

Cara wahyu turun kepada malaikat:


1.    Kalam Allah kepada malaikat ( Al Baqarah: 30), wahyu Allah kepada mereka ( Al Anfal: 12), malaikat mengurus urusan dunia ( Adz Dzariyat: 4 dan An Naziat: 5).
2.    Al Quran telah ditulis dilaufudz mahfudz ( Al Buruj:  21-22), diturunkan sekaligus ke Baitul Izzah yang berada dilangit dunia pada malam lailatul qadar Ramadhan.( Al Qadr: 1), ( Ad dhukan : 1), ( Al Baqarah: 175).

Para ulama berbeda pendapat mengenai cara turunnya wahyu Allah ( Al Quran ) kepada jibril, antara lain:


1.    Bahwa jibril menerimanya secara pendengaran dari Allah, dengan lafadz khusus.( benar).
2.    Jibril menghafalkannya dari lauful mahfudz.( salah ).
3.    Maknanya disaampaikan kepada jibril sedangkan lafadznya adaalah dari Jibril atau dari Muhammad.( H. Qudsi).
Keistimewaaan wahyu adalah ia adalah mukjiat, kepastiannya mutlak, membaca dianggap ibadah, wajib disampaikan dengan lafadznya.

Cara Wahyu oleh Allah kepada kepada Para Rasul ( Asy Syura:51):


1.    Perantara jibril.
2.    Tanpa perantara darinya, seperti
•    Rukyah Shadiqah( mimpi yang benar dalam tidur).
عن عائشة قالت: أول مابدئ به، الرؤي الصالحة في النوم فكان لايري رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح (متفق عليه)  
•    Kalam ilahi dari balik tabir tanpa melalui perantara. Al A'raf: 143), An Nisa': 164).

Cara penyampaian wahyu oleh malaiakat kepada Rasul.


1.    Datang kepadanya dengan suara seperti gemerincing lonceng dan suara yang amat kuat yang memepengaruhi faktor kesadaran( cara yang paling berat ).
2.    Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki laki dalam bentuk manusia. Bukan bereti Jibril melepaskan sifat kerohaniannya atau dzatnya telah berubah menjadi seorang laki lakai tetapi yang dimaksud adalah dia nampak diri dalam bentuk manisia adalah untuk menyenagkan Rasulullah.
Dalil tentang keadaan Rasulullah :
روت عائشة رضي الله عنها أن حارث نب هشام , سأل النبي فقال أحيانا يأتيني مثل صلصة – الجرس وهو أشده علي فيفصم عني وقد وعيت عنه ماقال . وأ أحيانا يتمثل لي الملك رجلا فيكلمني فأعي عنه يقول.
Hikmah diturunkannya Al Quran secara berangsur angsur.
1.    Memudahkan cara penghafalan dan kepemahaman sedangkan ketika itu orang orang Arab adalam kaum yang ummi.
2.    Menetapkan hati Rasulullah ( Al Furqan: 32).
3.    Sesuai dengan kejadian dan berangsurnya dalam segi pensyatiatan.
4.    Sebagai bantahan dan mukjiat.
5.    Merupakan dalil yang sudah tetap bahwa Al Quran adalah dari sisi Allah
6.    Mentarbiyah Rasulullah dalam kesabaran atas cacian Musyrikin dan memantapkan hati orang orang mukmin dan sebagai tasliyah bagi mereka dengan sabar dan yakin.

AL MAKKI WA MADANI

Mengetahui  makki dan madani dengan dua cara yaitu:
1.    Manhaj sima'I an Naqli.disandarkan pada hadist yang shahih dari para shahabat yang hihup pada saat menyaksikan turunnya wahyu, dari para tabien yang menerima dan mendengan rkan dari para shakhabat.( sebagian besar manhaj ini digunkan ).
2.    Manhaj Qiyasi ijtihadi bersandar pada ciri makki dan madani.
Perbedaaan antara Makki dan Madani:
1.    Dari segi waktu turunnya.
2.    Dari segi tempat turunnya.
3.    Dari segi sasarannya.

Ciri khas ketentuan dari maki dan madani:


A.    Makki
a)    Setiap surah yang didalamnya mengandung "Sajadah".
b)    Setiap surat yang mengandung lafadz kalla, lafadz ini hanya ada pada separuh terakhir dari Al Quran, sedangkan ini disebutkan dalam alquran hanya 33x dalam lima belas surat.
c)    Setiap surat yang ada lafadz " Ya Ayuhannas" dan tidak ada surat mengandung " Ya Ayuhalladzi Naaamanu", Kecuali surat Al Hajj.
d)    Setiap surat yang mengandung kisah para nabi dan umat umat terdahulu, kecuali Surat al baqarah.
e)    Setiap surat yang dibuka  dengan huruf singkatan seperti alif laaam miiim kecuali Al Baqarah dan Al Imran, sedangkan Ar Ra'du masih diperselisihkan.
f)    Setiap surat yang mengandung kisah Adam dan Iblis kecuali surat Al Baqarah.
Dari segi ciri khas:
1.    Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepad Allah.
2.    Peletakan dasar umum bagi perundangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat.
3.    Menyebutkan kisah para Nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran bagi mereka sehingga mengetahui nasib bagi yang mendustakannya.
4.    Suku katanya pendek disertai kata-kata yang mengesankan.
B.    Madani
1.      Setiap surat berisi kewajiban, had.
2.      Yang disebutkan orang munafik adalah Madani kecuali Al Ankabut.
3.      Yang didalamnya ada dialog dengan Ahli Kitab.

Dari segi ciri khas:


1.    Menjelaskan ibadah dan muamalah had kelaurga, warisan, jihad, hubungan sosila, internasional.
2.    Seruan terhadap Ahli Kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani dan ajakan kepada mereka untuk masuk islam.
3.    Menyingkap perilaku orang munafik suku kata dan yatnya panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuannya.

Yang terpenting dipelajari para ulama dalam pembahasan ini adalah :


1.    Yang diturnkan dimakkah.
2.    Di Madinah.
3.    Yang diperselisihkan.
4.    Ayat makiyah dalam surat madaniyah.
5.    Ayat madaniyah dalam surat makiyah
6.    Yang diturunkan dimakkah sedangkan hukumnya madani
7.    Di madinah diturunkan dimakkah
8.    Yang serupa dengan yang yang diturunkan di Makkah dalam kelompok Madani.
9.    Di Madinah dalam kelompok Makki.
10.    Yang dibawa dari makkah ke Madinah.
11.    Yang dibawa dari madinah ke Makkah.
12.    Yang turun di musim panas dan di musim dingin.
13.    Di waktu siang dan di waktu malam.
14.    Yang turun waktu menetap dan waktu dalam perjalanan.

Pendapat tentang :


•    Bilangan surah makki ( 82).
•    Madani ( 20: Al Baqarah, Ali Imran, An Nisa', Al Maidah, Al Anfal, At Taubah, Annur Al Ahzab, Muhammad, Al Fath, Al Hujurat, Al Hadid, Al Mujadalah, Al Hasyr, Al Mumtahanah, Al Jumuah, Al Munafiqin, At Talaq, At Tahrim, An Nashr ) dan,
•    Yang diperselisihkan ( 12 yaitu: Al Fatihah, Ar Ra'du, Ar Rahman, As Saff, At Taghabun, At Tatfif, Al Qadar, Al Bayyinah, Az Zalzalah, Al Ikhlas, Al Falaq, An Nass).
PENGETAHUAN MENGENAI YANG TURUN PERTAMA DAN YANG TURUN TERAKHIR.

a)    YANG TURUN PERTAMA KALI :


1.    Al Alaq: 1-5.( yang paling shahih) ( turun mengenai kenabian ).
2.    Al Mudtdatsir : 1 ( ayat yang turun pertama kali secara lengkap) awal kerasulan).
3.    Al Fatihah (didukung oleh hadist mursal). Surat yang pertama kali turun.
4.    Bismilah (didukung oleh hadist mursal).

b)    YANG TERAKHIR TURUN KALI:


1.    Ayat yang terakhir turun mengenai riba, Al Baqarah: 278.
2.    Ayat yang terakhir turun mengenai kalalah, An Nisa': 176.
3.    Ayat yag terakhir turun mengenai hutang, Al Baqarah: 282.
4.    Ayat yang paling terakhir turun adalah Al Baqarah: 281.
5.    Ayat terakhir kali diturunkan adalah At Taubah: 128-129.
6.    Bahwa yang tearakhir turun adalah Surat Al Maidah.
7.    Bahwa tyang terakhir turun adalah Ali Imran: 195.
8.    Dikatakan adalah yang paling terakhir turun adalah An Nisa': 93.
9.    Dikatakan menurut Ibnu Abas surat yang paling terakhir turun adalah An Nashr.

Catatan : Pendapat ini semua tidak mengandung sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah masing-masing merupakan ijtihad dan dugaan.


Yang mula-mula diturunkan menurut persoalannya.
1.    Yang pertama kali uturn mengenai makanan adalah Al 'An'am: 145, An Nahl: 114-115, Al Baqarah: 173, Al Maidah: 3.
2.    Yang pertama kali diturunkan dalam hal minuman adalah ayat pertama mengenai khamr (Al Baqarah: 219, An Nisa': 43, Al Maidah: 90-91.
3.    Yang pertama kali diturunkan mengenai perang adalah Al Hajj :39.

Faedah pembahasan ini :


A.    Menjelaskan perhatian yang diperoleh quran guna menjaganya dan menentukan ayat-ayatnya.
B.    Mengetahui rahasia perundangan Islam menurut sejarah sumbernya yang pokok.
C.    Membedakan yang nasikh dengan yang mansukh.

ASBABUN NUZUL.

Perhatian ulama akan ilmu ini sangatlah penting diantaranya, guru Imam Bukhari ( Ali bin Madani ), Al Wahidi  . Al Jabari ( meringkas bukunya Al Wahidi).

Pedoman mengetahui asbabunnuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah atau dari sahabat. Muhammad sirin mengatakan : "Ketika kutanyakan kepada Ubaidah mengenai satu ayat Quran, dijawabnya: Bertakwalah kepada Allah dan berkata benar. Orang-orang yang mengetahui mengenai apa Quran itu diturunkan telah meninggal". Menandakan kehati-hatian beliau dalam mengambil riwayat yang shahih, Asbabu Nuzul dari ucapan para shahabat yang bentuknya seperti musnad yang pasti menununjukkan Asbabun Nuzul. Imam syuyuthi menyatakan bahwa boleh ucapan Tabiin yang menunjukan Asbabun Nuzul diterima  bila ucapan itu jelas. Dan mempunyai kedudukan mursal bila penyandaran kepada tabiin itu benar dan dari seorang Mufassir yang mengambil dari para shahabat, serta didukung oleh hadist mursal lainnya.


Definisi Asbabun Nuzul adalah berkisar pada dua hal yaitu:
1.    Bila terjadi pada suatu peristiwa maka turunlah ayat Quran mengenai peristiwa itu hal seperti ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas yang mengatakan, bahwa ketika turun ayat 214: Rasulullah pergi naik ke bukit shafa lalu berseru.
2.    Bila Rasulullah ditanya sesuatu hal maka turunlah ayat Quran menerangkan hukum menerangkan hukumnya. Sebagaimana Khaulah binti Tsa'labah dikenakan Zihar oleh suaminya, Aus bin Shamit.
Diantara ayat Al Quran yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab mengenai akidah iman, kewajiban islam, dan syariat Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Al Ja'bari berkata : "Quran diturunkan dalam dua katagori: turun tanpa sebab dan turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan".

Definisi Asbabun Nuzul: Sesuatu hal yang karenanya Qur'an diturunkan pada kejadian itu, baik berupa peristiwa ataupun pertanyaan.

Manfaat mengetahui Asbabun Nuzul adalah:
1.    Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara' terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa karena sayangnya kepada umat.
2.    Mengkhususkan dan membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum.
3.    Apabila yang diturunkan itu lafazd umum dan terdapat dalil atas penghususannya maka pengetahuan mengenai Asbabun Nuzul itu membatasi penghususan hanya terhadap yang selain bentuk sebab.
4.    Cara terbaik untuk memahami makna Al Qur'an dan mengungkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak ditafsiri tanpa mengetahui Asbabun Nuzul.
5.    Dapat menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisian.

Lafadz umum menjadi pegangan, bukan sebab khusus.


Apabila ayat yang diturnkan sesuai dengan sebab secara umum, atau sesiau dengan sebab secara khusus maka yang umum diterapkan pad akeumuman dan yang khusus pada ke khususannya.

Contoh : QS. Al Baqarah: 222, anas berkata:" Bila istri-istri orang Yahudi haid, mereka keluarkan dari rumah, tidak diberi makan dan minum dan didalam rumah tidak boleh bersama. Lalu Rasulullah ditanya tentang hal itu maka Allah menurunkan: mereka bertanya kepadamu tentang haid.

Contoh kedua: Al Lail: 17-21, diturunkan mengenai Abu Bakar. Kata Atqa adalah dari ismun tafdil artinya superlatif, maka bila tafdil itu disertai Al 'Adiyah ( kata sandang yang menunjukkan bahwa kata yang dimasuki itu telah diketahui maksudnya), sehingga ini dikhususkan bagi orang yang karenanya ayat ini diturunkan. Kata sandang "Al" menunjukan umum bila ia berfungsi sebagai kata sambung (maushul) atau ma'rifatkan kata jamak. Sedangkan Al Atqa pada bukan kata ganti penghubung / kata jamak, melainkan tunggal. Sehingga menurut Al Wahidi: Al Atqa adalah Abu Bakar menurut pendapat para ahli tafsir.
Abu Bakar memerdekan budak sebanyak 7: Bilal, Amir bin Fuhairah, Nahdiyah dan anak perempuannya, Ummu 'isa, dan budak perempuan Bani Mau'il.

Jika sebab itu khusus, sedangkan ayat yang diturunkan berbentuk umum maka para ahli usul berselisis pendapat: antara yang dijadikan pegangan itu lafdz yang umum atau sebab yang khusus?


1.    Jumhur ulama ( pendapat yang paling shahih ) berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah adalah lafadz umum bukan sebab khusus. Misalnya ayat lian yang diturnkan kepada mengenai tudukan Hilal bin Umayyah kepda Istrinya, yag harus mendatangkan bukti walaupun terhadap istrinya sehingga datang Jibril dan menurunkan ayat An Nur: 6-9.
Hukum yang diambil dari lafadz umum ini ( dan orang orang yang menuduh istrinya) tidak hanya mengenai peristiwa Hilal, tetapi diterapkan pula pada kasus serupa lainnya tanpa memerlukan dalil lain.
2.    Segolongna ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab khusus alasannya lafadz umum menunjukkan bentuk sebab yang khusus.

Redaksi Asbabun Nuzul.


•    Terkadang berupa pernyataan tegas mengenai sebab, jika perawi mengatakan: "Sebab Nuzul ayat ini adalah begini", mengunakan fa' ta'qibiyah ( kira-kira "maka". Yang menujukkan urutan peristiwa yang dirangkai dengan kata "turunlah ayat". Seperti sabda Rasulullah: "Rasulullah ditanya tentang hal begini maka turunlah ayat ini ".سئل رسول الله عن كذا قنزلت الاية
•    Terkadang berupa pernyataan tegas.

•    Terkadang berupa pernyataan yang hanya mengandung kemungkinan mengenainya.


Turunnya Qur'an


Al Qur'an turun kepada Rasulullah  saw selama dua puluh tiga tahun. Dalam hal ini para ulama memiliki dua madzhab pokok.

Madzhab pertama


Yaitu pendapat Ibnu Abas dan sejumlah ulama yang di jadikan pegangan umumnya ulama. Yaitu bahwa Al Qur'an turun sekaligus ke Baitul Izzah di langit dunia agar para malaikat menghormati kebesarannya. Kemudian di turunkan kepada Rasulullah secara bertahab selama 23 tahun sesuai dengan kejadian dan peristiwa sejak di utus hingga wafatnya.
Madzhab kedua
Yaitu yang diriwayatkan oleh As sya'bi bahwa permulaan turunya Al Qur'an di mulai pada malam lailatul qadar pada bulan ramadlan yang merupakan malam yang di berkahi. Kemudian turun secara bertahab sesuai dengan kejadian dan peristiwa selama kurang lebih 23 tahun.
Madzhab ketiga
Bahwa Al Qur'an di turunkan kelangit dunia selama 23  malam lailatul qadar, yang pada setiap malamnya selama malam-malam lailatul qadar di tentukan oleh Allah untuk diturunkan setiap tahunnya. Dan jumlah wahyu yang diturunkan ke         langit dunia pada malam lailatul qadar, untuk masa satu tahun penuh itu kemudian diturunkan secara berangsur-angsur kepada Rasulullah saw sepanjang tahun. Ini ijtihad sebagian mufasir. Pendapat  ini   tidak memiliki dalil.

Maka pendapat yang kuat adalah


Pertama, diturunkan secara sekaligus pada malam lailatul qadar ke Baitul Izzah di langit dunia.
Kedua, diturunkan dari langit  dunia kebumi secara berangsur-angsur selama 23 tahun. 13 tahun di Mekkah dan 10 tahun di Madinah.
Sedangkan kitab-kitab samawi sebelumnya seperti taurat, injil, dan zabur turun sekaligus (secara lengkap).
•    Hikmah turunnya Al Qur'an secara bertahab
1.    Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam.
2.    Tantangan dan mukjizat.
3.    Mempermudah hafalan dan pemahamana.
4.    Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahaban dalam pentahaban hukum.
5.    Bukti yang pasti bahwa Al Qur'an diturunkan dari sisi yang Maha Bijaksana dan Maha terpuji.
•    Faidah turunnya Al Qur'an berangsur-angsur dalam   pendidikan dan pengajaran
Faidah turunnya Al Qur'an secara berangsur-angsur merupakan metode untuk mengaplikasikan proses belajar mengajar yang berlandaskan dua asas : perhatian terhadap tingkat pengetahuan siswa  dan pengembangan potensi akal, jiwa dan jasmaninya dengan apa yang dapat membawanya kearah kebaikan dan kebenaran.
Ia juga merupakan bantuan yang paling baik bagi jiwa manusia dalam upaya menghafal Qur'an,memahami, mempelajari memikirkan makna-maknanya dan mengamalkan apa yang dikandungnya.

PENGUMPULAN DAN PENERTIBAN AL QUR'AN


Para ulama membagi Jam'ul Qur'an menjadi dua :


Pertama: Pengumpulan dalam arti Hifdzuhu ( menghafalnya di dalam hati )
Kedua   : Pengumpulan dalam arti kitabatuhu kullihi ( penulisannya secara sempurna )
•    Pengumpulan Al Qur'an dalam arti menghafal pada masa nabi shalallahu 'alaihi wassalam.
Beliau adalah hafidz pertama. Setiap kali satu ayat turun beliau menghafal dalam dada dan menempatkannya di dalam hati. Sebab bangsa arab secara kodratu mempunyai daya hafal yang kuat dan pada umumnya mereka buta huruf.
Pada masa ini terdapat tujuh Hufadz yang masyhur sebagaimana diriwayatkan oleh imam Bukhari. Mereka adalah Abdullah bin mas'ud, Salim bin Ma'qal bekas budak Abu Hudzaifah, Mu'az bin Jabal, Ubai bin Kaab, Zaid bin Tsabit,Abu Zaid bin Sakan dan Abu Darda.
•    Pengumpulan Al Qur'an pada masa nabi dalam arti penulisan.
Rasulullah mengangkat para penulis wahyu Qur'an dari sahabat-sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, Ubai bin Kaab dan Zaid bin Tsabit. Bila ayat turun beliau memerintahkan mereka untuk menulisnya dan menunjukan tempat ayat tersebut dalam surah, sehingga penulisan dengan lembaran itu membantu penghafalan di dalam hati.  Disamping itu para sahabat lainnya pun menulis tanpa di perintahkan oleh nabi.


Yüklə 128 Kb.

Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə