Jurusan akuntansi



Yüklə 127,71 Kb.
səhifə1/3
tarix29.10.2017
ölçüsü127,71 Kb.
#20255
  1   2   3

MAKALAH AGAMA ISLAM
D

I

S



U

S

U



N
Oleh:
Lailul Asmi Pulungan

default

JURUSAN AKUNTANSI

SEMESTER I

UNIVERSITAS ISLAM SUMATERA UTARA

2010

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.


Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesabaran sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah agama ini. Makalah ini disusun sedemikian rupa untuk memenuhi salah satu tugas pendidikan pendidikan agama islam.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak maka makalah ini tidak dapat terwujud. Untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih kepada



  1. Kedua orangtua dan kakak yang telah memberikan bantuan moral serta spiritual.

  2. Bapak Ibu Dra. Hj. Latifah Hanum, MA selaku dosen mata kuliah Pendidikan agama islam.

  3. Rekan rekan yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

  4. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Semoga Allah swt membalas kebaikan yang telah diberikan semua pihak kepada penulis.

Penulis sadar bahwa penulis hanyalah manusia biasa. Makalah ini pasti banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh kerena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari teman-teman yang yang akan penulis gunakan untuk pembuatan makalah yang akan datang supaya lebih baik lagi.

Semoga makalah ini memberi manfaat khususnya bagi aktivitas pendidikan dan umumnya bagi para pembaca.
Wassalamualaikum Wr.Wb

                                                                               Medan,   Januari 2011

                                                                                                 Penulis

i

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I UNSUR UNSUR KEJADIAN MANUSIA


  1. Aspek Historis Kejadian Manusia 1

  2. Komponen Biologis Manusia 5

  3. Reproduksi Manusia 7

  4. Ruh Dan Nafas 8

  5. Fitrah Manusia 11

  6. Akal, Qalbu, Nafsu 13

  7. Karakteristik Manusia 17

BAB II KEBERADAAN MANUSIA DIMUKA BUMI



  1. Misi Penciptaan Dan Tugas Hidup Manusia 18

  2. Status Dan Fungsi Manusia 20

  3. Tujuan Dan Program Hidup Manusia 22

  4. Teladan Hidup Manusia 24

  5. Lawan Dan Kawan Hidup Manusia 27

BAB III SETAN



  1. Pengertian Setan 28

  2. Sifat-Sifat Setan 30

ii

BAB I



UNSUR-UNSUR KEJADIAN MANUSIA

  1. Aspek Historis Kejadian Manusia

Manusia adalah mahluk paling sempurna yang pernah diciptakan oleh Allah SWT. Kesempurnaan yang dimiliki oleh manusia merupakan suatu konsekuensi fungsi dan tugas mereka sebagai khalifah dimuka bumi ini. Al-Quran menerangkan bahwa manusia berasal tanah dengan mempergunakan bermacam-macam istilah, seperti : Turab, Thien, Shal-shal, dan Sualalah.

Hal ini dapat diartikan bahwa jasad manusia diciptakan Allah dari bermacam-macam unsur kimiawi yang terdapat dari tanah. Adapun tahapan-tahapan dalam proses selanjutnya. Al-Quran tidak menjelaskan secara rinci. Akan tetapi hampir sebagian besar para ilmuwan berpendapat membantah bahwa manusia berawal dari sebuah evolusi dari seekor binatang sejenis kera, konsep-konsep tersebut hanya berkaitan dengan bidang studi biologi. Anggapan ini tentu sangat keliru sebab teori ini ternyata lebih dari sekadar konsep biologi. Teori evolusi telah menjadi pondasi sebuah filsafat yang menyesatkan sebagian besar manusia. Dalam hal ini membuat kita para manusia kehilangan harkat dan martabat kita yang diciptakan sebagai mahluk yang sempurna dan paling mulia.

Sesungguhnya setiap kejadian yg Dia ciptakan amat indah dan semuanya telah tertulis jika dikaji di dalam kitab suci Al-Quran. Maha suci Allah, pencipta yang baik dan mengetahui setiap kejadian yang engkau aturkan.

Firman Allah dalam surah Al-Mu’minun ayat 12-14 :



23_12.gif

23_13.gif

23_14.gif

1

Artinya:



“Sesungguhnya Kami menciptakan manusia daripada tanah. Kemudian Kami jadikan manusia daripada saripati air mani (nutfah) yang tersimpan di dalam tempat yang kukuh (rahim). Dari nutfah (benih) Kami proses menjadi ‘alaqah (segumpal darah), dari ‘alaqah menjadi mudghah (segumpal daging), kemudian dari segumpal daging Kami jadikan tulang. Dan setelah proses itu Kami balut pula dengan daging. Setelah itu kami ciptakan makhluk baru berbentuk lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.”

Alquran tidak merinci secara kronologi penciptaan manusia menyangkut waktu dan tempat. Namun alquran menjelaskan jawaban yang sangat penting , dari titik manakah kehidupan itu bermula.



http://www.mengandung.com/images/human.gif

Asal usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evolusi. Evolusi menurut para ahli paleontology dapat dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :



  • Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus.

  • Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut pithecanthropus erectus.

2


  • Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan.

Fosil jenis ini di neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo Soloensis).

  • Keempat, manusia modern atau Homo sapiens yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya.

Beberapa Definisi Manusia :



  1. Manusia adalah makhluk utama, yaitu diantara semua makhluk natural dan supranatural, manusia mempunyai jiwa bebas dan hakikat hakikat yg mulia.

  2. Manusia adalah kemauan bebas. Inilah kekuatannya yg luar biasa dan tidak dapat dijelaskan : kemauan dalam arti bahwa kemanusiaan telah masuk ke dalam rantai kausalitas sebagai sumber utama yg bebas – kepadanya dunia alam –world of nature–, sejarah dan masyarakat sepenuhnya bergantung, serta terus menerus melakukan campur tangan pada dan bertindak atas rangkaian deterministis ini.

  3. Manusia adalah makhluk yg sadar. Ini adalah kualitasnya yg paling menonjol; Kesadaran dalam arti bahwa melalui daya refleksi yg menakjubkan, ia memahami aktualitas dunia eksternal, menyingkap rahasia yg tersembunyi dari pengamatan, dan mampu menganalisa masing-masing realita dan peristiwa. Dengan demikian ia melewati batas penginderaannya dan memperpanjang ikatan waktunya sampai ke masa lampau dan masa mendatang, ke dalam waktu yg tidak dihadirinya secara objektif. Kesadaran adalah suatu zat yg lebih mulia daripada eksistensi.

  4. Manusia adalah makhluk yg sadar diri. Ini berarti bahwa ia adalah satu-satuna makhluk hidup yg mempunyai pengetahuan atas kehadirannya sendiri, ia mampu mempelajari, manganalisis, mengetahui dan menilai dirinya.

  5. Manusia adalah makhluk kreatif. Aspek kreatif tingkah lakunya ini memisahkan dirinya secara keseluruhan dari alam, dan menempatkannya di samping Tuhan. Hal ini menyebabkan manusia memiliki kekuatan ajaib-semu yg memberinya kemampuan untuk melewati parameter alami dari eksistensi dirinya, memberinya perluasan dan kedalaman eksistensial yg tak terbatas, dan menempatkannya pada suatu posisi untuk menikmati apa yg belum diberikan alam.

3


  1. Manusia adalah makhluk idealis, pemuja yg ideal. Dengan ini berarti ia tidak pernah puas dengan apa yg ada, tetapi berjuang untuk mengubahnya menjadi apa yg seharusnya. Idealisme adalah faktor utama dalam pergerakan dan evolusi manusia. Idealisme tidak memberikan kesempatan untuk puas di dalam pagar-pagar kokoh realita yg ada. Kekuatan inilah yg selalu memaksa manusia untuk merenung, menemukan, menyelidiki, mewujudkan, membuat dan mencipta dalam alam jasmaniah dan ruhaniah.

  2. Manusia adalah makhluk moral. Di sinilah timbul pertanyaan penting mengenai nilai. Nilai terdiri dari ikatan yg ada antara manusia dan setiap gejala, perilaku, perbuatan atau dimana suatu motif yg lebih tinggi daripada motif manfaat timbul. Ikatan ini mungkin dapat disebut ikatan suci, karena ia dihormati dan dipuja begitu rupa sehingga orang merasa rela untuk membaktikan atau mengorbankan kehidupan mereka demi ikatan ini.

  3. Manusia adalah makhluk utama dalam dunia alami, mempunyai esensi uniknya sendiri, dan sebagai suatu penciptaan atau sebagai suatu gejala yg bersifat istimewa dan mulia. Ia memiliki kemauan, ikut campur dalam alam yg independen, memiliki kekuatan untuk memilih dan mempunyai andil dalam menciptakan gaya hidup melawan kehidupan alami. Kekuatan ini memberinya suatu keterlibatan dan tanggung jawab yg tidak akan punya arti kalau tidak dinyatakan dengan mengacu pada sistem nilai.

Al Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis, dan social. Manusia sebagai basyar tunduk pada takdir Allah, sama dengan makhluk lain. Manusia sebagai insan dan al-nas bertalian dengan hembusan roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang takdir Allah.

4


  1. Komponen Biologis Manusia

Historis dalam proses perkembangan kultur material dan spiritual manusia di atas bumi. Manusia merupakan manifestasi makhluk bio sosial, wakil dari spesies homo sapiens. Menurut Alex MA., “homo sapiens” adalah manusia mempunyai potensi berpikir dan kebijaksanaan.

Menurut filsafat manusia, manusia dipahami secara konseptual sesuai dengan sudut


pandang kefilsafatan tertentu. Bahwa manusia adalah homo mechanicus, homo erectus, homo ludens. Semuanya itu mengenai susunan kodrat kejasmanian. Kemudian dinamakan homo sapiens, animal rationale, animal symbolicum yang menitikberatkan konsepsinya pada susunan kodrat kejiwaan terutama daya cipta. Manusia sebagai homo recentis dan homo volens, yang menitik beratkan pada aspek rasa dan karsa. Semua tesis- tesis ini menyatu sebagai homo mensura dan homo feber, menyatu sebagai homo educandum.

Di samping susunan kodrat kejasmanian dan kejiwaan, manusia juga makhluk sosial atau homo economicus dan homo sicius atau dalam artian lain homo viator dan homo religius yang berhubungan dengan kedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan. Kesemua istilah itu akan membawa manusia sebagai homo concorus, yaitu makhluk yang siap untuk transformasi diri dan adaptif.

Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi umat Islam secara jelas mengetengahkan konsep manusia, menurut Muin Salim pengungkapan manusia dalam al-Qur’an melalui dua
pendekatan. Pertama, dengan menelusuri arti kata-kata yang digunakan al-Quran untuk menunjuk makna manusia.

Secara terminologis, ungkapan al-Qur’an untuk menunjukkan konsep manusia terdiri atas tiga kategori, yaitu:



  1. al-insan, al-in’s, unas, al-nas, anasiy dan insiy;

  2. al-basyar; dan;

  3. c) bani adam “anak adam ” dan §urriyyat adam “keturunan adam”

Menurut M. Dawam Raharjo istilah manusia yang diungkapkan dalam al -Qur’an seperti basyar, insan, unas, insiy, ‘imru, rajul atau yang mengandung pengertia perempuan seperti imra’ah, nisa’ atau niswah atau dalam ciri personalitas, seperti al-atqa, al-abrar, atau ulul-albab, juga sebagai bagian kelompok sosial seperti al-asyqa, dzul-qurba, al-dhu’afa atau al-musta«’af-n yang semuanya mengandung petunjuk sebagai manusia dalam hakekatnya dan manusia dalam bentuk kongkrit.

5

Firman Allah swt :



“Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Menurut M. Quraish Shihab, kata basyar terambil dari akar kata yang pada umumnya


berarti menampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamakan basyarah karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang lainnya. Al-Qur’an menggunakan kata ini sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan 1 kali dalam bentuk mu£anna (dual) untuk menunjukkan manusia dari aspek lahiriah serta persamaannya dengan manusia seluruhnya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian manusia dengan menggunakan kata basyar, artinya anak keturunan adam atau bani adam , mahkluk fisik atau biologis yang suka makan dan berjalan ke pasar. Aspek fisik itulah yang menyebut pengertian basyar mencakup anak keturunan adam secara keseluruhan.

Al-Basyar mengandung pengertian bahwa manusia akan berketurunan yaitu mengalami proses reproduksi seksual dan senantiasa berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan biologisnya, memerlukan ruang dan waktu, serta tunduk terhadap hukum alamiahnya, baik yang
berupa sunnatullah (sosial kemasyarakatan), maupun takdir Allah (hukum alam).

Semuanya itu merupakan konsekuensi logis dari proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Untuk itu, Allah swt. memberikan kebebasan dan kekuatan kepada manusia sesuai


dengan batas kebebasan dan potensi yang dimilikinya untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta, sebagai salah satu tugas kekhalifahannya di muka bumi.

Adapun penamaan manusia dengan kata al-insan yang berasal dari kata al-uns, dinyatakan dalam al-Qur’an sebanyak 73 kali dan tersebar dalam 43 surat.21 Secara etimologi, al-insan dapat diartikan harmonis, lemah lembut, tampak, atau pelupa.


6


  1. Reproduksi Manusia

Reproduksi merupakan suatu masalah yang dibahas manusia. Dari permulaan dan juga dalam perincian-perinciannya pembahasan itu mengandung konsepsi yang salah. Pada abad pertengahan dan sampai periode yang belum begitu lama, mitos dan khayal meliputi soal reproduksi. Hal tersebut memang wajar, oleh karena untuk memahami mekanisme reproduksi yang kompleks, orang harus tahu anatomi, harus telah menemukan mikroskop dan harus sudah ada ilmu-ilmu fundamental yang menjadi sumber fisiologi, embriyologi, obstetrik dan lain-lain.

Qur-an berlainan dengan itu semua. Ia menyebutkan tempat-tempat mekanisme yang tepat dan menyebutkan tahap-tahap yang pasti dalam reproduksi, tanpa memberi bahan yang keliru sedikit jua pun. Semuanya diterangkan secara sederhana dan mudah difahami oleh semua orang serta sangat sesuai dengan hal-hal yang ditemukan Sains pada kemudian hari. 

Reproduksi disebutkan dalam beberapa puluh ayat, tak pakai urutan yang jelas, tetapi dengan beberapa penjelasan mengenai soal-soal khusus. Untuk mendapatkan ide yang menyeluruh, ayat-ayat tersebut perlu dikelompok-kelompokkan, setelah dikelompokkan sebagai dalam hal yang sudah kita bicarakan, komentar akan jadi lebih mudah.


7


  1. Ruh Dan Nafas




  1. Ruh

Kata roh juga memiki 2 makna :

  • Makna yang pertama adalah roh alami atau nyawa yang berbentuk seperti uap, bersumber dari darah hitam yang terdapat dalam rongga hati. Uap ini tersebar melalui pembuluh nadi yang ada di semua bagian anggota tubuh. Roh dengan makna seperti ini dapat diilustrasikan seperti cahaya lampu yang menerangi setiap sudut rumah. Inilah yang dimaksud oleh para dokter dengan nyawa.

  • Makna yang kedua adalah bisikan halus rabbaniah (ketuhanan)  yang menjadi makna hakiki dari hati. Roh dan hati ini menyampaikan bisikan halus tersebut dalam satu rangkaian secara berurutan. Makna roh seperti inilah yang diisyaratkan firman Allah SWT:http://web1hari.com/file/gif/17/17_85.gif

Artinya :

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.’” ( QS. Al-Israa’ 85).

8


  1. NAFAS

Nafs atau jiwa atau soul, adalah sebuah entitas lain dari diri manusia sebagai jasad, dimana dia berasal dari alam malakut yang terbuat dari elemen cahaya, akan tetapi bukanlah seperti cahaya yang terbayangkan oleh kita ketika melihat cahaya lampu, elemen cahaya ini sangat khas dan tak terinderai oleh mata lahiriyah kita, sebagaimana Allah telah menciptakan malaikat dari elemen yang sama. Jiwa juga memiliki indera sebagaimana yang dimiliki oleh indera jasad tetapi dalam dimensi yang berbeda karena perbedaan elemen pembentuknya.

Misalkan dalam jasad ada mata untuk melihat setiap benda yang dapat di inderai yang memiliki wujud dengan ruang dan waktu, maka dalam jiwa atau nafs terdapat mata jiwa atau istilah umum yang digunakan adalah mata batin, yang dalam Alquran diistilahkan dengan al-bashirah, juga memiliki fungsi untuk melihat, namun yang dilihatnya adalah apa yang tak tampak dalam penglihatan jasad, karena itu dia dapat memiliki kemampuan melihat jauh di atas kemampuan jasad, seperti alam malakut semisal malaikat dan jiwa-jiwa lainnya. Bahkan sering kita mendengar seorang yang karena keshalihannya sehingga Allah Swt anugerahkan sebuah keterbukaan pada bashirah-nya hingga dia bisa membaca apa yang ada dalam hati orang lain.

Demikian pula dengan indera jasad lainnya, maka jiwa pun memiliki indera yang semisal. Jadi yang membedakan keduanya hanyalah materi yang membentuknya. Jasad tersusun dari materi bumi, yaitu air, api, tanah dan udara yang semuanya berasal dari alam mulk atau alam kasat mata (alam syahadah), sedangkan jiwa dibuat dari materi cahaya, yang semisal dengan materi malaikat karena keduanya berasal dari alam malakut. AlGhazali menyebut istilah nafs ini dengan sebutan ”sesuatu yang abstrak yang membentuk diri manusia secara hakiki”.

Selanjutnya beliau melanjutkan bahwa nafs ini dilukiskan dengan berbagai macam sifat sesuai dengan bebagai keadaannya yang berbeda-beda. Jika ia dalam keadaan selalu tenang dan tenteram dalam menerima ketentuan Allah dan lainnya, dan terhindar dari kegelisahan yang disebabkan oleh pelbagai macam godaan ambisi, maka ia disebut nafs muthmainnah (jiwa yang tenang dan tentram).

9

Firman Allah surah



fajr 27.gif

fajr 28.gif

Artinya :



”Wahai nafs muthmainnah, kembalilah kepada Rabb-mu dalam keadaan ridla dan diridlai.” ( QS fajr ayat 27-28 )

Sedangkan apabila nafs ini selalu gelisah karena berada dalam kondisi perlawanan terhadap godaan syahwat hawa nafsu, maka ia disebut dengan nafs lawwaamah. (jiwa yang senantiasa menyesali dirinya dan mengecam). Karena ia selalu menyesali dirinya sendiri atas kelalaiannya dalam melakukan pengabdian kepada Allah.

Firman Allah surah

Artinya :



”..dan Aku (Allah) bersumpah dengan nafs lawwaamah (jiwa yang selalu mengecam)” (QS 75:2)

Selanjutnya, jika nafs ini tidak berusaha menyesali dirinya, bahkan senantiasa tunduk patuh kepada dorongan hawa nafsu dan memperturuti bisikan syetan, maka ia disebut nafs ammaarah bis-suu`i (Nafs yang cenderung menyuruh pada kejahatan).


10


  1. Fitrah Manusia

Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan ketenangan. Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar. Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan Islam.

Maka ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan agamanya, Allah mengingatkan mereka melalui firmannya. Dalam Q. S. al-Rum: 30 ditegaskan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Rasulullah saw. melalui salah satu hadisnya juga menyebutkan bahwa pada dasarnya setiap anak manusia dilahirkan dalam keadaan suci, tak bernoda. Rasul menegaskan: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka tergantung pada kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak seorang Yahudi, Nashrani, atau Majusi”. Dari dua landasan teologis di atas, jelaslah bahwa dalam diri manusia ada potensi bersih dan suci. Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan kejahatan akan senantiasa mengantarkan manusia menuju kehinaan dan kesengsaraan.

Ironisnya, banyak di antara kita yang melupakan fitrah insaniyah (kemanusiaan) kita. Sebagian besar kita justru dipengaruhi, bahkan dikuasai oleh nafsu. Kita menjadikan nafsu sebagai ilah (tuhan) dalam kehidupan ini. Padahal Allah SWT secara tegas mengecam para budak ‘nafsu’ dengan firman-Nya: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.” (Q.S. Al-Furqan: 43-44)

Betapa nista dan hinanya gelar yang disematkan Allah SWT kepada para pemuja nafsu. Mereka diibaratkan seperti binatang, bahkan jauh lebih hina dari binatang tersebut. Dan jelas, tempat yang telah disiapkan bagi mereka adalah neraka Jahannam (Q. S. Al-A’raf: 179)

11

Bagi manusia yang masih sadar akan eksistensi kemanusiaannya, tentu ia tidak mau direndahkan derajatnya, ia akan mempertahankan fitrah kemanusiaannya. Bahkan, ia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas kemanusiaannya. Tetapi bagi mereka yang telah dibutakan mata hatinya oleh dekapan nafsu, ia akan terlena dan terbuai, tidak memedulikan lagi fitrah kemanusiaannya yang suci. Ia akan terlelap dalam bisikan nafsu, sampai akhirnya maut datang menjemputnya. Na’udzubillahi min dzalik.



Semoga kita termasuk manusia-manusia yang senantiasa menjaga fitrah insaniyah kita, menyadari eksistensi kemanusiaan kita, sehingga mengarungi hidup dan kehidupan di dunia ini selalu berada dalam bimbingan wahyu Ilahi. Amin

12


  1. Akal, Qalbu Dan Nafsu




  1. Akal

Kata akal mempunyai 2 makna yaitu:

  • Makna yang pertama adalah mengetahui hakekat sesuatu.

  • Makna yang kedua adalah orang berilmu yang ilmunya itu menjadi seperti sifat baginya. Makna ini sama seperti bisikan halus rabbaniah yang telah dijelaskan sebelumnya. Jadi tidak mungkin yang dimaksud dengan akal dalam sabda Nabi SAW, “Yang pertama diciptakan Allah SWT adalah akal. Lalu dikatakan kepada akal ,’Menghadaplah’ maka akalpun menghadap” adalah makna akal yang pertama.

Dengan demikian jelas bagimu bahwa yang dimaksud dengan hati, roh, dan an-nafs alam berbagai ayat dan hadist diatas adalah bisikan halus rabbaniah (ketuhanan).  Sahl at-Tustari’ berkata “Hati itu laksana singgasana dan dada menjadi kursinya.” Ucapan ini menunjukan bahwa yang dimaksud “hati” olehnya adalah bukan gumpalan daging yang berisikan darah hitam melainkan bisikan halus rabbaniah.

Sedangkan menurut ilmuwan dari negara barat sono punya pendapat lain yaitu :

Perilaku manusia merupakan hasil interaksi tiga subsistem dalam kepribadian manusia Id, EgoSuperego. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (hawa nafsu) pusat insting.

Ada 2 insting dominan :



  1. Libido, insting reproduktif  yang menyediakan energy dasar untuk kegiatan manusia yang konstruktif atau disebut juga insting kehidupan (eros) yang bukan hanya meliputi dorongan seksual, tetapi juga meliputi segala hal yang mendatangkan kenikmatan termasuk kasih ibu, pemujaan pada Tuhan dan cinta diri (narcisism).

  2. Thanatos, insting destruktif dan agresif atau disebut juga insting kematian. Semua motif manusia adalah gabungan antara eros dan thanatos. Idbergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), ingin segera memenuhi kebutuhannya. Id bersifat egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id adalah tabiat hewani manusia.

13

Subsistem kedua adalah ego berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dengan tuntutan rasional dan realistik. Ego lah yang menyebabkan manusia mampu menundukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional ia bergerak berdasarkan prinsip realitas. Ketika Idmendesak supaya anda membalas ejekan dengan ejekan lagi, ego memperingatkan anda bahwa lawan anda adalh “bos” yang dapat memecat anda. Kalau anda mengikuti desakanId, anda konyol.

Subsistem yang ketiga adalah Superego yaitu merupakan polisi kepribadian, mewakili yang ideal. Superego adalah hati nurani yang merupakan internalisasi dari norma-norma sosial dan cultural masyarakatnya. Ia memaksa ego untuk menekan hasrat-hasrat yang tak berlainan kealam bawah sadar. Baik Id maupun Superego berada dalam bawah sadar manusia. Ego berada ditengah antara memenuhi desakan Id dan peraturan Superego. Secara singkat perilaku manusia merupakan interaksi antara komponen biologis (Id), komponen psikologis (Ego), dan komponen sosial (Superego) atau unsur animal, rasional dan moral (hewani, akali dan nilai). Maksud dan tujuan penulisan ini adalah sebagai usaha untuk memahami motif dari tindakan atau perilaku yang kita lakukan. Hendaknya sebelum melakukan suatu perbuatan kita selidiki dulu sumbernya apakah  berasal dari komponen biologis saja atau berasal dari bisikan halus rabbaniyah yang selalu mengajak kita untuk berbuat kebaikan,  ‘hanya anda yang tahu ?’.

14



  1. Yüklə 127,71 Kb.

    Dostları ilə paylaş:
  1   2   3




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə