Kajian pustaka



Yüklə 172,3 Kb.
səhifə1/3
tarix30.12.2018
ölçüsü172,3 Kb.
#88094
  1   2   3




BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. Pengertian Jiwa Agama

Untuk memahami lebih jelas mengenai definisi jiwa agama, maka menurut penulis perlu didefinisikan satu persatu dari tiap kata yang ada didalamnya. Karena dengan memahami arti tiap kata akan lebih memperjelas arti setelah kata-kata itu digabungkan dan lebih memudahkan penuluis untuk mengkajinya.

        1. Jiwa

Kata jiwa dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan “seluruh kehidupan batin, perasaan, fikiran dan angan-angan.1 Dan dalam kamus ensiklopedi umum, jiwa diartikan “unsure hidup yang ada dalam tubuh, dan dianggap ada atau hidup bersama dengan tubuh itu”.2 Serta dalam kamus ilmiah popular, jiwadiartikan “semangat,spirit,nyawa,dan watak.”3 Selanjutnya secara ilmiah terdapat beberapa pendapat yang menjelaskan arti dari jiwa, diantaranya:

  1. Menurut Ahmad fauzi dalam bukunya Psikologi umum mengatakan bahwa pengertian jiwa tidak disamakan dengan pengertian nyawa, arwah, sukma, dan bathin.tetapi pengertia dari jiwa yang dimaksud oleh Ahmad fauzi adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak dan yang menjadi penggerak serta pengatur bagi seluruh perbuatan-perbuatan pribadi (personal behavior) dab hewan tingkat tinggi dan juga dari manusia.4

  2. Kartini kartono menjelaskan, jiwa dianggap sebagai “pusat tenaga batin, yang memberikan nafas kehidupan pada manusia dengan segenap tingkah lakunya dan membuat manusia jadi manusia individu yang khas, unik, serta berbeda dengan orang atau subjek lainnya.5

  3. Wayan ardhana dan Sudarso sudirdjo mengartikan jiwa adalah slf (diri). Self adalah”suatu organisme atau makhluk hidup yang sangat dinamis (aktif), yang selalu yang selalu mempengaruhi dan dipengaruhi self-self lain.”6

  4. Menurut M. kasiram, jiwa adalah unsure yakni suatu bagian yang mendasarkan pandangan pada elemen-elemen yang berdiri sendiri.7

  5. Menurut aristoteles mengartikan jiwa adalah “roh”, yang mana roh itu adalah suatu kumpulan dari fungsi-fungsi hidup yang kepadanya setiap makhluk itu adalah bergantung.8

  6. Sedangkan menurut Yahya jaya dalam bukunya spiritualisasi islam mengatakan jiwa disamakan dengan spiritual, dan mengartikan dengan empat istilah, yakni “al-qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-‘aql.”9 Keempat istilah tersebut menurutnya memiliki arti khusus dan umum, yaitu: Dalam pengertian pertama al-qalb berarti qalbu jasmani (kalbu jasmani), al-ruh yang bersifat roh jasmani dan latif, al-nafs yang berarti hawa nafsu dan sifat pemarah, serta al-‘aql yang berarti ilmu. Sedangkan dalam pengertian kedua, keempat itu bersamaan artinya yakni jiwa atau spiritualitas manusia yang bersifat latif, rabbani, dan rohani yang merupakan hakekat, diri, dan zat manusia. Oleh karena itu manusia dalam pengertian pertama (fisik) tidak kembali pada Allah, sedangkan dalam pengertian kedua (jiwa) kembali padaNya.10

  7. Abdul Razak Al- Kasyani dalam fuad nashori mendefinisikan jiwa adalah “perantara tubuh atau jasad dengan ruh.11

  8. Imam malik memberikan pengertian, bahwa jiwa adalah

“Rangkaian dari seluruh unsur-unsur tersebut (nyawa, arwah, sukma, batin, akal budi), yang menjelma sebagai kekuatan dalam diri dan menjadi penggerak bagi jasad, penggerak tingkah laku manusia, menumbuhkan sikap dan sifat, serta mendorong tingkah laku. Maka berfungsinya jiwa dapat diamati melalui tingkah laku yang nampak pada manusia.”12

Bertolak dari beberapa pengertian diatas, maka dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud jiwa adalah suatu rangkaian dari seluruh unsur-unsur (nyawa, roh, bathin, akal, nafsu, dan lain-lain), yang saling mempengaruhi dan menjadi kekuatan dalam diri manusia, yang mana itu berperan sebagai penggerak tingkah laku manusia, yang dapat menumbuhkan sikap sertasifat dari manusia itu dalam hubungannya dengan manusia yang lain.



        1. Agama

Kata agama secara bahasa disamakan dengan kata “religi” dalam bahasa Inggris, dan kata “Ad-diin” yang berdiri sendiri dalam bahasa Arab. Sedangkan secara istilah kata agama banyak para tokoh yang mendefinisikan antara lain:

  1. Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan agama adalah “system, prinsip keagamaan, terhadap Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewjiban-kewjiban yang bertalian dengan kepercayaan itu.”13

  2. Kamus ilmiah popular memberikan definsi agama adalah “suatu kepercayaan dan keyakinan kepada Tuhan.”14

  3. M. Daud Ali memberikan definisi agama adalah “ kepercayaan kepada tuhan yang dinyatakan dengan mengadakan hubungan dengan dia, melalui upacara penyembahan dan permohonan dan membentuk sikap hidup manusia menurut atau berdasarkan ajaran agama itu.”15

  4. Abuddin Nata memberikan definisi agama sebagai berikut:

“Ajaran yang berasal dari Tuhan atau hasil renungan manusia yang terkandung dalam kitab suci yang turun-temurun diwariskan dari generasi kegenerasi dengan tujuan untuk memberikan tuntutan dan pedoman hidup bagi manusia agar mencapai kebahagiaan didunia dan akhirat.”16

Dari beberapa ide dan pendapat diatas, maka dapat diambil suatu pemahaman bahwa yang dimaksud dengan agama adalah suatu aturan-aturan yang berasal dari Tuhan sebagai pedoman kepercayaan dan keyakinan manusia kepadaNya dan berguna untuk kebaikan di dunia akhirat.



Jadi bertolak dari beberapa pendapat diatas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa jiwa agama adalah suatu rangkaian dari seluruh unsur-unsur (nyawa, roh, bathin, akal, nafsu ), yang saling mempengaruhi dan menjadi kekuatan dalam diri manusia, tentang suatu aturan-aturan yang berasal dari Tuhan sebagai pedoman kepercayaan dan keyakinan manusia kepadaNya dan berguna untuk kebaikan di dunia akhirat.

  1. Unsur-unsur dalam jiwa

Jiwa terbentuk setelah ruh Allah dimasukkan ke tubuh yang sudah mempunyai nyawa itu. Ruh Allah inilah yang ketika digunakan berfikir disebut akal, apabila berkehendak disebut nafsu, apabila merasa disebut hati nurani.17 Kemudian jiwa itu menjelma sebagai kekuatan dalam diri dan menjadi penggerak bagi jasad, penggerak tingkah laku manusia, menumbuhkan sikap dan sifat, serta mendorong tingkah laku. Maka berfungsinya jiwa dapat diamati melalui tingkah laku yang nampak pada manusia.”18

  1. Nyawa

Nyawa adalah energi hidup yang ada dalam setiap sel2 kromoson di tubuh manusia (jiwa) sebelum dia terbentuk sempurna (pra janin sempurna), maupun sesudahnya. Nyawa atau energi hidup ini berada dalam kode-kode genetika di DNA, RNA maupun dalam pita kromosom yang lain. Nyawa ini komando kehidupan yang bersifat teknis, mengerakkan jantung, aliran darah, syaraf-syaraf, dan sel-sel diseluruh tubuh manusia.19

  1. Ruh

Hakekat manusia terdiri dari dua unsur pokok yakni, gumpalan tanah (materi/badan) dan hembusan ruh (immateri). Di mana antara satu dengan satunya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan agar dapat di sebut manusia. Ruh menjadi faktor penting bagi aktivitas nafs manusia ketika hidup di muka bumi ini, sebab tanpa ruh, manusia sebagai totalitas tidak dapat lagi berpikir dan merasa. Ruh adalah zat murni yang tinggi, hidup dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra, sedangkan ruh menelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air ke dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh mampu menerimanya.20

  1. Menurut Imam Nawawi tentang makna Ruh adalah “Jisim yang lembut, jernih, yang mengalir dalam jisim seperti aliran air dalam tumbuh-tumbuhan, maka dari itu ruh mengalir di seluruh badan”.

  2. Salah seorang ahli Mazhab Malik menjelaskan tentang ruh dengan makna “adalah Jisim yang memiliki bentuk seperti bentuk jasad pada sakalnya dan gerakannya”.

  3. Sedangkan ibnu al-Qasim dari abdul ar-Rahim bin Khalid ia berkata: “Ruh itu memiliki jisim, dua tangan, dua kaki, dua mata dan kepala yang mengapung/mengalir dari jasad”.21

Terkait dengan definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas, sekiranya dapat menjadikan suatu pemahaman / wawasan yang lebih luas mengenai makna dari ruh . Definisi tersebut bukanlah suatu harga yang mati namun masih banyak pengertian yang lebih luas dan lebih mendalam, namun dari pengertian diatas penulis dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa ruh tidak bisa dipisahkan dari jasad / nafs, karena ruh tersebut memberi kehidupan pada jasad, dengan kata lain jasad tidak akan ada fungsinya tanpa adanya ruh.

Macam-macam ruh:




            1. Yüklə 172,3 Kb.

              Dostları ilə paylaş:
  1   2   3




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə