Madzhab-bermadzhab



Yüklə 177,71 Kb.
səhifə1/5
tarix06.03.2018
ölçüsü177,71 Kb.
#45192
  1   2   3   4   5

MADZHAB-BERMADZHAB

DAN

WAHABI
OLEH :

Abu Sittah At-Tenjuluny


  1. Muqoddimah.

Ada diantara saudara kita yang bertanya kepada saya mengenai masalah madzhab dan bermadzhab, adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut :

    1. Sejarah Madzhab.

    2. Penting dan Tidaknya Bermadzhab.

    3. Ciri-Ciri Madzhab.

    4. Bagaimana Dengan Wahabi.

    5. Sejarah Wahabi.

    6. Sikap Kita Terhadap Madhab dan Wahabi.

Saya katakan, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan baik danbenar diperlukan kajian yang cukup dan buku-buku rujukan yang memadai, sedangkan hal ini bagi saya tidak terpenuhi terutama buku-buku rujukan, sebenarnya masalah ini telah banyak ulama-ulama kita yang terdahulu maupun yang terkemudian dan tertulis dalam kitab-kitab mereka, khususnya yang berbahasa Arab, dan ada juga ulama dari Indonesia yang menulis sejarah imam empat madzhab dengan bahasa Indonesia antara lain Kyai Haji Moenawar Cholil rhm, (beliau juga menulis buku-buku lain seperti : Kembali kepada Alquran dan Assunnah, Mukhtarul Hadits (hadits-hadits pilihan), kelengkapan tarikh Nabi Muhammad saw, dan lain-lain), menurut saya beliau adalah salah seorang dari kalangan ulama’ Ahlussunnah kawasan Nusantara yang tulisan-tulisannya perlu dibaca oleh generasi Islam sekarang, meskipun tidak menutup mata ada satu dua kesalahan. Beliau adalah seorang alim, untuk kawasann Nusantara ini mencari orang yang ilmunya setaraf dengan beliau bisa ditunjuki dan dihitung dengan jari, akan tetapi sayang, para pewaris ilmu beliau dan para penerusnya tidak menonjol sebagaimana penerus Ahmad Hassan, Asy-Syaikh Ahmad Syurkati, Ahmad Dahlan, dan Hasyim Asy’ari rhm. Mudah-mudahan generasi Islam masa kini bisa mewarisi ilmu-ilmu mereka, yang haq dengansebaik-baiknya.

Selanjutnyamengingat keterbatasan saya, maka saya akan menjawabbeberapa pertanyaan tersebut yang saya anggap perlu sesuai dengan kemampuan saya, mudah-mduahan tidak menyelesihi yang haq, jika jawaban saya kurang memenuhi pertanyaan , minimal saya telah berusaha menunaikan satu kewajiban yaitu menunaikan salah satu dari hak dan kewajiban seorang muslim terhadap muslim yang lain, sebagaimana yang tersebut dalam hadits yang masyhur dikalangan kaum muslimin yakni :

Dan apabila (mereka) meminta nasehat kepadamu, maka berilah nasehat kepadanya.” Adapun jawaban saya terhadap pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut :



  1. Penjelasan Madzhab, Bermadzhab dan Wahabi.

  1. Sejarah Ringkas Terbentuknya Madzhab-Madzhab.

Para sahabat r.a belajar masalah agama dan meminta fatwa langsung kepada Rasulullah saw dan pada waktu beliau masih hidup, telah ada sebagian sahabat yang memberikan fatwa kepada manusia sebagaimana yang disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim, berkenaan dengan kisah seorang pekerja buruh yang berzina dengan istri tuannya. Dalam hadits tersebut dikatakan bahwa sebelum orang tua lelaki pekerja buruh yang masih bujang itu menanyakan hukuman hadnya kepada Rasulullah saw, dia telah bertanya kepada ahlul ilmi, yang ada disekitarnya dan mereka telah menjawabnya, (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/271), dan ada juga contoh-contoh lain.

Kemudian sesudah Rasulullah saw wafat, tidak semua sahabat menjadi mufti, tugas fatwa dipikul oleh sebagian mereka, terutama yang banyak memberikan fatwa. Al Allamah Ibnu Qoyyim rhm, menyebutkan masalah ini dalam pendahuluan kitabnya, “I’lamul Muwaqiin”. Kemudian karena banyaknya jihad ekspansi dan banyak negeri-negeri kafir ditaklukan, oleh tentara Islam yang dipelopori oleh para sahabat r.amaka tersebarlah mereka di seluruh penjuru negeri dan kota-kota yang ada, diantara mereka ada yang keluar berjihad ke Romahormuz, seperti Abdullah bin Umar, ada yang ke Kabul, Afghanistan, seperti Abdur Rahman bin Samrah, dan ada yang ke Syam, Irak, Mesir, India, Sind, negara-negara bagian Rusia, Afrika Utara dan lain sebagainya, -Subhanallah- sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana semangatnya para sahabat r.a dalam berjihad untuk menundukkan negara-negara kuffar dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru bumi yang bisa mereka jangkau. Dari satu data saja misalnya, pada waktu haji wada’ (haji perpisahan), jumlah sahabat yang ikut hadir, bersama-sama Rasulullah saw pada saat itu tidak kurang dari 100.000 (seratus ribu) sahabat, akan tetapi dari jumlah yang begitu banyaknya yang dikuburkan di kuburan, “Al-Baqi” hanya sekitar, 250 sahabat saja, atau bahkan kurang daripada jumlah itu, maka kira-kira selebihnya dimana mereka meninggal dan dimana mereka dikuburkan? –wallahu a’lam- yang jelas mayoritas mereka mati dalam keadaan menunaikan tugas suci keluar berdakwah dan berjihad fie sabilillah.

Kemudian para penduduk masing-masing negeri yang dikunjungi dan ditempati para sahabat r.a, berguru dan belajar ilmu dari para sahabat yang ada dikalangan mereka, mereka belajar dari sahabat tersebut ilmu syariat seperti Alquran, Al Hadits, dan fiqih dan pada masa itu hadits dan fiqih belum ditulis dan dihimpunkan dalam buku-buku. Hadits Rasulullah saw, baru mulai dibukukan dan dihimpunkan pada akhir abad pertama pada tahun 99 Hijriyah, atas perintah Amirul Mukminin Umar bin Abdul Aziz, karena beliau khawatir ilmu akan hilang dengan wafatnya para ulama, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari bahwa Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazan yakni amil atau wakil beliau yang ditugaskan di Madinah untuk meneliti hadits Rasulullah saw dan menulisnya. Berkata Ibnu Hajar Al Asqalany (852 H) dlam sejarahnya bahwa Abu Naim telah meriwyatkan kisah ini dalam tarikh Asbahan dengan lafaz yang maksudnya : Bahwa Umar bin Abdul Aziz telah menulis surat ke seluruh penjuru memerintahkan agar memperhatikan dan meneliti hadits Rasulullah saw, dan menghimpunkannya, lihat Fathul Bari I/194-195.

Maka bangkitlah para ulama’ pada saat itu untuk menulis dan menghimpunkan hadits dengan cara dan kebijaksanaan masing-masing, ada yang menghimpunkannya sesuai dengan sahabat yang meriwayatkannya, maka disebut masanid (musnad) dan ada juga yang menghimpunkannya sesuai dengan bab ilmu dan fiqih, yang ini disebut “Muwaththa”, “Mushannaf”, “Al-Jami’” dan “Sunan”, dan sebagainya.

Lalu perkembangan berikutnya untuk memelihara Assunnah atau hadits daan menjaga keasliannya, Alah ta’ala mengilhamkan ilmu hadits kepada ulama-ulama kita yang hebat-hebat, antara lain mereka adalah (sesuai dengan urutan wafatnya) :

Al-Auza’I (157 H), Syu’bah bin al-Hajjaj (160 H), Sufyan Ats-Tsauri (161 H), Malik Bin Anas (179 H), Waki’ bin Al Jarah, (197 H), Sufyan bin Uyainah (198 H), Abdur Rahman bin Al Mahdi, (198 H), Yahya bin sa’id Al-Qoththony (198 H).

Kemudian sesudah mereka, Yahya bin Mu’in, (233 H), Ali bin Al Madini, Ishaq bin Rahawiyah (238 H) dan Ahmad bin Hambal (241 H).

Kemudian sesudah itu Ashabu Kutubus Sittah (Penulis Buku Hadits yang Enam) yaitu : Al Bukhari (256 H), Muslim (261 H), Ibnu Majah (273 H), Abu Daud, (275 H), At-Tirmidzi (279 H), dan an-Nasa’I (303 H).

Kemudian sesudah mereka, Abdur Rahman bin Abi Hatim Ar-Razi (327 H), penulis kitab Al-Jarhu wat-Ta’dil, sebuah buku yang menjadi rujukan utama bagi para penulis sesudahnya dalam masalah ini.

Kemudian sesudahnya : Ad-Daruquthni (385 H), Al Khathib al Baghdadi (463 H), dan lain-lainnya.

Mka dengan jasa-jasa ulama’- ulama tersebut sempurnalah penlisan buku-buku hadits yang masyhur pada akhir abad ketiga termasuk penyebutan perawi-perawinya, sehingga ulama-ulama pakar sesudahnya yang berbicara dalam masalah ini termasuk rijal hadits, seperti Al Hafidz Al Mishri, Adz-Dzahabi, Ibnu Hajar, Ibnu Sholah, (643 H), dan sebagainya semuanya merujuk kepada mereka –Radhiyalaahu anhum wa Rohiimahum ajma’iin-

Adapun pembukuan fiqih dalam buku tersendiri yang sebelumnya masih bercampur dengan kitab-kitab hadits sesuai dengan bab-babnya, baru terjadi pada akhir abad kedua, hampir satu abad setelahpembukuan hadits, yaitu dengan bentuk, para shahabat masyayikh dan murid-muridnya, menghimpun fatwa-fatwa syaikh-syaiknya dalam berbagai persoalan, maka yang masyhur pada saat itu adalah :



  1. Abu Hanifah, (150 H) di Kufah.

  2. Al- Auza’I di (157 H) di Syam.

  3. Malik bin Anas (179 H) di Madinah.

  4. Sufyan bin Uyainah (198 H) di Mekah.

  5. Asy-Syafi’I (204 H) di Bagdad dan Mesir.

  6. Ahmad bin Hambal (241H) di Bagdad.

  7. dan masih banyak lagi selain mereka, seperti Sufyan At-Tsauri (161 H), Al-Laits bin Sa’ad (175 H), Ishaq bin Rahawiyah (238 H), dan lain sebagainya.

Imam-imam ini berfatwa berdasarkan Al-Kitab dan Assunnah dan ucapan sahabat dan tabi’in baik dalam masalah yang telah disepakati oleh mereka maupun yang diperselisihkan dan ada juga yang berfatwa berdasarkan qias diatas Al-Kitab, Assunnah dan Ijma’.

Maka dari sinilah lahir dan terbentuknya maszhab-madzhab yaitu dari fatwa-fatwa Imam-Imam yang ditulis oleh murid-muridnya, lalu madzhab-madzhab tersebut terbagi menjadi dua, ada yang diikuti dan ada yang tidak diikuti.

Adapun madzhab-madzhab yang diikuti yaitu :



    1. Madzhab Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit rhm (150 H).

    2. Madzhab Imam Malik bin Anas rhm (179 H) .

    3. Madzhab Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I rhm (204 H).

    4. Madzhab Imam Ahmad bin Hambal rhm (241 H).

Dan akhirnya dikenali dengan sebutan Al Madzahibul Arba’ah (Madzhab yang Empat), yang mana setiap madzhab ini mempunyai pengikut dari kaum muslimin, dari semenjak terbentuknya hingga sampai saat ini.

Adapun madzhab-madzhab yang tidak diikuti, seperti Madzhab Al-Auza’I, Al-La’its bin Saad, Ishaq bin Rahawiyah dan lain sebagainya, semula mereka mempunyai pengikut, pada zamannya, namun akhirnya terputus beramal dengan madzhab mereka, akan tetapi ucapan-ucapan Imam-Imam tersebut tetap ter-rekamdalam kitab-kitab fiqih dan masih diperhitungkan keberadaannya dalam masalah ikhtilaf dan ijma’.

Kemudian sesudah mereka munculah seorang ulama’ bernama Daud bin Ali Al Asbahani (270 H), beliau menolak qias dalam berdalil dan berhujjah, hanya mengambil tiga saja, yaitu : Al-Kitab, Assunnah dan Ijma’. Dan beliau berlebih-lebihan dalam berhujjah dengan dzahirnya nash-nash sehingga para pengikutnya disebut “Adz-Dzahiriyah”, dan madzhabnya akhirnya disebut dengan Madzhab Dzhahiri, dan salah seorang pengikutnya yang sangat terkenal adalah Ibnu Hazm yang dengan ijtihadnya beliau juga menolak qias. Madzhab ini tidak banyak diikuti sebagaimana madzhab yang empat disebabkan kecaman para ulama’ terhadap para pengikutnya.

Adapun golongan Syiah dan Khowarij, mempunyai madzhab-madzhab fiqih tersendiri, dan tidak terkategori sebagai ahlussunnah.



Para pengikut madzhab yang empat dan lainnya ditinjau dari segi pembagian geografi kurang lebih sebagai berikut :

  1. Madzhab Abu Hanifah : yaitu madzhab yang paling banyak pengikutnya pada masa kini, hal ini antara lain sebabnya disamping merupakan madzhab pertama, para sahahabat Abu Hanifah sepeti Al Qodhi Abu Yusuf dan lainnya, mereka menduduki dan menjabat sebagai Qodhi (hakim), dalam negara kekhilafahan dan termasuk juga yang membantu tersebarnya madzhab ini, karena secara resmi Khilafah Utsmaniyah bermadzhab Hanafi. Dan pada masa kini, madzhab ini tersebar di Mesir,, Syam, India, Pakistan, Afghanistan, dan negara-negara di seberang sungai yang terletak di sebelah utara Afghanistan yang disebut negara-negara Republik Islam, yang terletak di bagian selatan Uni Sovyet dahulu.

  2. Madzhab Maliki. : Pengikutnya yang paling banyak adalah di negara Maghribi, karena penduduk Maghribi dan Andalusia banyak mengadakan rihlah untuk haji, dan menuntut ilmu ke Hijaz, dan mereka berguru kepada Imam Malik dan membawa madzhabnya ke negara mereka, dan Madzhab Maliki juga mempunyai pengikut dari sebagian penduduk Mesir, Sudan dan Teluk.

  3. Madzhab Asy-Syafi’i. Pada hari ini pengikutnya ada di Mesir, Syam, Yaman, Somalia, dan di negara-negara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, Thailand dan Filipina, dan lain sebagainya).

  4. Madzhab Ahmad.: Pengikut utamanya adlah di Jazirah Arabia termasuk di negara-negara Teluk.

  5. Adapun Khowarij. Yang diikuti madzhab fiqihnya pada hari ini adalah madzhab Khowarij, “Al-Ibadhiyah” pengikut Abddullah bin Abadh, dan madzhab mereka diamalkan di kesultanan Oman, hampir separuh penduduknya mengikuti madzhab tersebut.

  6. Adapun Syi’ah, mempunyai tiga madzhab yaitu :

  1. Asy-Syiah Zaidiyah, pengikut Imam Za’id bin Ali bin Al-Husain (122 H), mereka ada di Yaman, Madzhab mereka merupakan madzhab Syiah yang paling dekat dengan pemahaman Ahlussunnah, Imam Asy-Syaukani berhujjah dengan ucapan imam-imam mereka dalam kitab fiqih beliau.

  2. Asy-Syiah Al-Ja’fariyah. Mereka mengaku sebagai pengikut Imam Ja’far Ash-Shodiq, mereka ada di Iran dan Pakistan.

  3. Asy-Syiah Al Imamiyah. Pengikutnya adalah mayoritas penduduk Iran, dan ada juga di Pakistan, Afghanistan, Azerbaijan, Lebanon, Irak, negara-negara Teluk dan lainnya. (silahkan rujuk dalam Al-Jami’ 12/29-32)

  1. Kitab-kitab fiqih yang terkenal dalam madzhab-madzhab Ahlussunnah wal Jamaah.

    1. Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Hanafi.

  1. Al-Mabsuth olah As-Sarkhosi (Syamsul Aimmah Abu Bakar Muhammad bin Ahmad bin Abu Sahl (483 H)).

  2. Badai’us-Shona’I fi Tartibisy Syaroi’ oleh Alauddin al Kasani (587 H).

  3. Fathul Qodir Syarhul Hidayah oleh Kamaluddin Muhammad Abdul Wahid bin Al Humam (861 H).

  4. Raddul Muhtar ‘ala Durril Mukhtar oleh Ibnu Abiddin (Muhammad Amin bin Umar (1252 H)), kitab ini dikenal dengan sebutan “Hasyiyah Ibnu Abidin” karena merupakan hasyiyah beliau atas kitab Ad-Durril Mukhtar karangan Muhammad Ali Al-Haskafi (1088 H).

  5. Tabyiinul Haqoiq Syarhu Kanzid-Daqoiq oleh FAkhruddin Utsam bin Ali Az-Zaila’I (743 H), kitab Kanzud Daqoiq matan yang mang masyhur dalam fiqih Hanafi oleh Hafidzuddien An-Nasafi (710 H)

  6. Al Bahrur Roiq Syarhu Kanzid-Daqoiq oleh Zainuddin bin Najim Al Hanafi (970 H).

  7. Madzhahrul Haqoqil Khofiyyah minal Bahrir-Roiq oleh Khairuddin bin Ahmad Ar-Ramli (1081 H).

  8. An-Nahrur Faiq fi Syarh Kanzid Daqoiq oleh Umar bin Ibrahim bin Najim (1005 H).

  9. Majmaul Anhar syarhu Mutaqal Abhar oleh Asy-Syaikh Zaadah.

  10. Al-Fatawa al Khaniyah oleh Qodhi Khan (Hasan bin Manshur al Uzajandi (592 H)).

  11. Al Fatawa Al Hindiyah adalah himpunan fatwa-fatwa para ulama India yang bermadzhab Hanafi dan disebut juga Al Fatawa Alim Kabiriyah, karena fatwa tersebut ditulis berdasarkan permintaan Raja India Muhammad Urnahzib yang digelari (‘Alim Kabir), beliau adalah raja India Muslim dari dinasti Mughol terakhir sebelum India dijajah oleh tentara kafir Inggris.

    1. Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Maliki.

      1. Al Mudawwanah Al Kubra oleh Imam Malik bin Anas (179 H ) diriwayatkan oleh Abdus-Salam bin Said At-Tarukhi yang terkenal dengan sebutan “Sahnun” (240 H), dari Abdur Rahman bin Al Qosim (191 H) dari Imam Malik.

      2. Ar-Risalah oleh Ibnu Abi Zaid Al qirwani (Abu Muhammad Abdullah bin Abdur Rahman an-Nafzawi (386 H), beliau adalah imam dari para pengikut madzhab Maliki pada masanya.

      3. Abu Umar Ibnu Abdil Barr (463 H) dia menulis kitab Al-Kaafi fi Fiqhi Ahlil Madinah Al0Maliki dan KItab At-Tamhid lima fil Muwaththa minal ma’aani wal masaanid dan kitab al-Istidzhar fi Syarhi Madzhahibil Ulamaa’ul Anshar.

      4. Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid oleh Ibnu Rusyd Al Hafidz (595 H).

      5. Syuruh Mukhtashar Kholil oleh Al Allamah Kholil bin Ishaq bin Musa Al Maliki (776 H) dan sebagainya.

    2. Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Asy-Syafi’i.

  1. Al-Umm oleh Imam Asy-Syafi’I (Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H)).

  2. Al-Muhadzdzab oleh Abu Ishaq Asy-Syairazi (Ibrahim bin Ali (476 H)). Beliau juga menulis kitab fiqih “At-Tanbiih”.

  3. Al-Wajiz oleh Abu Hamid Al-Ghazali (505 H) dan disyarah oleh Abul Qasim Ar-Rafi’I (623 H) dalam kitabnya Fathul Aziz Syarhul Wajiz.

  4. Al Majmu’ oleh An-Nawawi, demikian juga dengan kitab Syarh Al Muhadzdzab (676 H), yang belum tamat karena beliau meninggal (sampai pada bab Riba) lalu disempurnakan oleh sejumlah ulama’ sesudahnya yaitu ali bin Abdul Kaafi As-Subki Al-Kabir, Muhammad Najib al Muthi’I dan Muhammad Husain Al Aqbi.

  5. Minhajut-Tholibin wa Umdatul Muftiyyin oleh An-Nawawi kitab ini berjilid-jilid dan termasuk kitab yang paling penting bagi orang-orang yang akhir yang bermadzhab Asy-Syafi’I dan kitab ini disyarah oleh banyak ulama’ dari madzhab ini antara lain :

        • Ibnu Hajar al-Maki Al Haitami (974 H) dengan nama Tuhfatul Minhaj bi syarhil Minhaj.

        • Syamsuddin Muhammad Asy-Syarbini Al-Khathib (977 H) dengan nama : Mughnil Muhtaz bi Syarhil Minhaj.

        • Syamsuddin Abul Abbas ar-Ramli (Muhammad bin Ahmad bin Hamzah (1004 H)), dengan nama Nihayatul Muhtaz bi-Syarhil Minhaj.

        • Dan lain-lain

  1. Radlatuth-Tholibin oleh An-Nawawi tebal kitab ini ada 12 jilid dan merupakan kitab tersendiri, bukan termasuk bagian dari kitab Minhajuth-Tholibin.

  2. Kitab-kitab Syaikhul Islam Abu Yahya Zakaria Al Anshori (936 H) seperti Al-Ghararul Bahiyyah fi Syarhil Bahjah Al Wardiyyah dll.

  3. Al-Fatawa Al Kubra oleh Ibnu Hajar Al Makki Al Haitami.

  4. Kifayatul Akhyar oleh Abu Bakar al Hushni Asy-Syafi’I (829 H), Syarah matan Ghayatul Ikhtishor oleh Al-Qodhi Abu Syuja’ al Asfahani.

    1. Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Hambali.

Penghimpun fiqih Madzhab Hambali adalah Abu Bakar Al-Khallal (311 H) penulis kitab “As-Sunnah” beliau mengumpulkan fiqih Ahmad bin Hambal rhm dari murid-muridnya, yakni dalam kitab beliau “Al-Jami’ fil Madzhab.”

Sebenarnya ulama-ulama terdahulu dari kalangan madzhab ini telah banyak menulis fiqih, seperti Al-Qodhi Abu Ya’la (458 H), Abul Wafa’ bin Uqail (513 H), Abul Khithoh Al-Kaludzani (510 H), Abul Barkat Ibnu Taimiyah (625 H), akan tetapi kitab mereka tidak tersebar, lalu dinukil olehpara ulama sedsudahnya yang menulis fiqih dalam madzhab ini seperti : Ibnu Qudamah, Ibnu Muflih dan Mardawi.

Adapun kitab-kitab yang tersebar antara lain sebagai berikut :


      1. Kitab-kitab tulisan Al-Muwaffiq Ibnu Qudamah (620 H). Beliau menulis empat kitab yang terkenal, yaitu :

(a). Al-Umdah, (b) Al Mughni’. (c) Al Kaafi, (d). Al-Mughni.

Buku-buku ini disyarah oleh para ulama’ antara lain sebagai berikut :



        • Al-Umdah disyarah oleh Bahauddin Al Maqdisi (624 H), dalam bukunya “Al-Uddah Syarhul Umdah”.

        • Al Muqni’ syarah dan ikhtisarnya banyak antara lain :

          • Syarah Syamsuddin Abul Faraj Abdur Rahman bin Qudamah (682 H), dalam kitabnya “Asy-Syarhul Kabir” Abul Faraj menamakan syarahnya dengan “Asy-Syaafi.”

          • Syarah Syaifuddin Ibnul Manja (695 H), dalam kitabnya Al-Mumti’ Syarhul Muqni’.

          • Syarah ‘Alauddin Al-Mardawi (885 H) dalam kitabnya “Al-Inshaf fi Bayanir Rajih Minal Khilaf” kitab sebanyak 12 jilid, kitab ini menghimpun kebanyakan pendapat fuqoha, dalam madzhab ini, dan tidak banyak menyebutkan dalil, maka kedudukan beliau dalam madzhab tersebut mufti muqollid dalam madzhab.

          • Syarah Ibnu Muflih dalam kitabnya,l “Al-Mubda’ Syarhul Muqni’” (Burhanuddin Ibrahim bin Muhammad bin Muflih (884 H)), penulis kitab “Al-Maqshadul Arsyad fi Dzikri Ashhabil Imam Ahmad”, beliau bukan Syamsuddin Ibnu Muflih (762 H), penulis kitab Al Furu’.

Adapun ikhtisar dari kitab “Al-Muqni’” antara lain adalah kitab Zadul Mustanqi’ oleh Syarafuddin Musa Al Hajawi (986 H), merupakan matan yang sangat penting dalam Madzhab Hanabilah dan lain sebagainya.

        • Al-Kaafi. Tetap sebagaimana asalnya kitab ini terdiri dari 4 jilid.

        • Al-Mughni’ sebanyak 9 jilid ada yang dicetak menjadi satu dengan Asy-Syarahul Kabir ‘Alal Muqni dalam 12 jilid dan kementrian wakaf Kuwait telah membuat daftar isi dan bahasannya secara tertib menurut abjad dengan nama, “Mu’jamul Fiqih Al-Hambali” dicetak dalam dua jilid, Mu’jam (Kamus) ini merupakan kamus yang komplit dan besar manfaatnya.

      1. Kitab-kitab Syamsuddin Ibnu Muflih (Abu Abdullah Muhammad bin Muflih Al Maqdisi Al Hambali (763 H)), yang terpenting dari kitab Al Furu; ialah menyebutkan pendapat-pendapat yang dipilih oleh Asy-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (728 H). apabila beliau mengatakan , Berkata Syaikhuna berarti yang disebut adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah , kitab Al Furu’ ada 6 jilid beliau juga menulis buku “Al-Adabus-Syar’iyyah wal Manhul Marriyah”.

      2. Syarafuddin Musa Al-Hajawi (968 H), buku beliau yaitu “Zaadul Mustaqni’ Muktashor Al Muqni’ dan kitab yang lain, “Al-Iqna’” yang disyarah oleh ASy-Syaikh Al Baghuti dalam “Kasysyaful qina’”

      3. Mar’I bin Yusuf Al-Karami Al-Hambali (1033 H), buku beliau adalah matan “Daliluth-Tholib” dan disyarah oleh beberapa ulama’.

      4. Manshur bin Yunus al-Bahuti (1051 H), beliau menulis beberapa buku fiqih yaitu,

  • Ar-Raudhatul Mari’ Syarhu Zaadil Mustaqni’

  • Syarhul Muntahal Iradat, 3 jilid, dan kitab “Muntahal Iradat fil Jam’I Bainal Muqni’ wat Tanqih Ma’asy Syarhi waz-Ziyaadat” oleh Asy-Syaikh Ibnun Najjar al-futuhi Al Hambali (972 H).

  • Kasyfatul qina’ a’la Matnil Iqna’ setebal 6 jilid.

Catatan : Kitab-kitab Asy-Syaikh Manshur Al Bahuti merupakan pegangan atau sandaran bagi para ulama’ jazirah Arabia dalam berfatwa dari sejak zaman Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab (1206 H) hingga hari ini, sebagian mereka ada yang berpegang dengannya dan sebagian yang lain ada yang mengambil pilihan-pilihan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam masalah-masalah yang diperselisihkan.

Dan perlu diketahui bahwa kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak dimasukkan disini, sebab lebih tepat dijadikan kitab pertarjih saja, -wallahu a’lam- demikian pendapat Asy-Syaikh Abdul Qodir rhm.



    1. Kitab-Kitab Fiqih Madzhab Dzhahiri.

            1. Al Muhalla oleh Ibnu Hazm (Abu Muhammad Ali bin Ahmad bin Hazm (456 H)), sebanyak 11 jilid, kitab ini merupakan kitab fiqih muqarin (Perbandingan) dan ada daftar indeksnya dalam 2 jilid, disebut “Mu’jamul Muhalla fil Fiqhidz-Dzhahiri” dikeluarkan oleh Fakultas Asy-Syari’ah Universitas Damsyiq, tahun 1966 M.

            2. Maraatibul Ijma’ Ibnu Hazm

    1. Kitab-Kitab Fiqih Asy-Syaukani. (Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani (1250 H)).

Beliau dalam menulis kitab-kitab fiqih tidak terikat dengan madzhab tertentu, akan tetapi beliau berusaha meencari dan memilih yang sesuai dengan Al-Kitab dan Assunnah, oleh karena itu kita tidak memasukkan buku-buku beliau dalam Madzhab tersebut, maka kitab-kitabnya merupakan kitab-kitab tarjih, namun beliau ada terpengaruh dengan sebagian manhaj dan syudzudz Ibnu Hazm misalnya berdalil dengan istishab, beliau berhujjah dengan qias sebagai mana jumhur,

Adapun buku-buku dan tulisan-tulisan beliau :



  1. Ad-Durarul Bahiyyah –oleh Asy-Syaukani- merupakan matan mukhtashar dan ada dua syarahnya yaitu :

    • Ad-Duraril Mudhiyyah Syarhu Ad-Durarul Bahiyyah oleh Asy-Syaukani sendiri.

    • Ar-Raudhah An-Nadhiyyah Syarh Ad-Durarul Bahiyyah oleh Shiddiq Hasan Khan al Qanuji Al Bukhari (1307 H).

  1. Nailul Authar Syarhu Muntaqol Akhbar. Yaitu syarah hadits-hadits ahkam yang tersebut dalam kitab “Muntaqol Akhbar” oleh Abul Barakat Ibnu Taimiyah, Asy-Syaukani dalam syarahnya berpegang berdasarkan ucapan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, beliau sangat mengagumi Ibnu Hajar.

  2. As-Sailul Jarralul Mutadaffiqu ‘ala Hadaiqil Azhar , bukunya ada 4 jilid, dalam buku ini Asy-Syaukani membetulkan kesalahan-kesalahan yang terdapat dalam kitab “Al-Azhar” yaitu kitab fiqih yang paling masyhur dikalangan Syi’ah Zaidiyah, merea ada di Yaman sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, Asy-Syaukani rhm dilahirkan di Yaman, beliau lama menjabat sebagai qodhi (hakim) bahkan sebagai pimpinan para hakim yang bermadzhab Syi’ah Zaidiyah yaitu golongan Syi’ah yang paling dekat dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jama’ah, mereka adalah Asy-Syi’ah Al Mufadhdhilah (yaitu syi’ah yang menganggap Ali bin Abi Thalib r.a lebih utama daripada shahabat termasuk Abu Bakar, Umar dan utsman r.a), Asy-Syaukani hendak berbuat baik dan memberi nasehat serta berkhidmat kepada penduduk negerinya daripara pengikut madzhab zaidi, dan orang-orang yang mempelajari fiqihnya, maka beliau mengoreksi dan mengkritik sebagian maudhu’ dari kitab “Al-Azhar” dan menerangkan yang benar sesuai dengan Al-Kitab dan Assunnah yang terdapat di dalamnya, oleh karena itu kitab tersebut termasuk kitab tarjih.

  3. itulah kitab-kitab fiqih yang terkenal di dalam berbagai madzhab ahlussunnah wal jamaah, adapun kitab-kitab fiqih yang dipunyai golongan-golongan syiah dan sebagainya tidak perlu saya sebutkan disini , sebab tidak ada kepentingannya, dan peranannya bagi kita sebagai Ahlussunnah, selain untuk mengetahui kebatilannya dan hal ini tidak diwajibkan atas setipa muslim kecuali orang-orang yang bersangkutan dengannya, misalnya untuk berhujjah, dan berdebat dengan mereka, untuk berdakwah, memberi tahdzir kepada umat tentang bahaya syiah, atau bagi setiap muslim, yang menghadapi fitnah mereka, atau yang hidup di kalangan mereka, agar terhindar dari keburukan-keburukan dan kebatilan-kebatilan mereka, kitab-kitab fiqih syiah tidak dijadikan sandaran, pegangan dan rujukan bagi Ahlussunnah dan Ahlul Ilmi dan tidak diperhitungkan dalam masalah Ijma’ dan Ikhtilaf.

Adapun mengenai kitab-kitab Fiqih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Al-Allamah Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rhm. Tidak kita masukkan dalam rangkaian kitab-kitab fiqih Madzhab, alasannya antara lain sebagai berikut:

              1. Beliau berdua tidak menulis buku fiqih tersendiri yang memuat segala persoalan fiqih atau sebagiannya secara urut sebagaimana kitab-kitab fiqih yang lain.

              2. Hampir seluruh masalah fiqih yang beliau bahas adalah berupa fatwa karena menjawab pertanyaan atau menjelaskan kepada ummat atau mentarjih pendapat-pendapat ulama’ Assunnah yang sezaman dengan beliau maupun sesudahnya, khususnya yang tidak berta’ashub dengan madzhab, berpendapat bahwasanya tarjih beliau kebanyakannya benar.

Dengan alasan itu dan yang lainnya, maka menurut Asy-Syaikh Abdul Qodir bin Abdul Aziz rhm penulis Al-Jami’ buku-buku fiqih beliau leih sesuai di dudukkan dan dihimpunkan dalam buku-buku tarjih daripada di letakkan dan dirangkaikan dalam buku-buku madzhab, namun demikian kalau kita perhatikan bahwa Iktiyaarat atau tarjihat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah banyak terdapat dalam kitab fiqih Madzhab Hambali, khususnya dalam “Al-Furu’” yang telah tersebut diatas, sebab penulisnya (Syamsuddin bin Muflih atau Abdullah Muhammad bin Muflih Al-Maqdisi Al-Hambali (762 H)) adalah murid beliau. Dan ada juga salah seorang alim dari Madzhab Hambali bernama Alauddien Al Ba’li Al Hambali (803 H), menghimpun tarjihat (persoalan-persoalan yang sudah ditarjih) beliau dalam sebuah kitab yang berjudul “Al-Ikhtiyaaratul Fiqhiyyah min Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah”

Dan adapun tulisan-tulisan fiqih beliau berdua yang terkatagori sebagai tarjih tersebut bisa dilihat :

Tulisan syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terkandung dan termuat dalam Majmu’ Fatawa dari jilid 21 hingga 35.

Tulisan-tulisan Al-Allamah Ibnul Qoyyim tersebar dalam buku-buku beliau, misalnya I’lamul Muwaqi’in, Badai’ul Fawaid, Ighotsatul Lahfan, Zaadul Ma’ad, Ahkam Ahlidz-Dzimmah, Ath-Thuruqul Hukmiyyah dan lain sebagainya. Dan Alhamdulillah untuk memudahkan mencari bahasan ni, ada seorang syaikh bernama Bakar Abu Zaid telah berkhidmat kepada para penuntut ilmu, beliau telah membuat daftar indeks bahasan tersebut dalam sebuah kitab yang beliau namakan “Tagribu li’ulumi Ibnil Qoyyim”.



  1. Bermadzhab dengan madzhab tertentu termasuk bid’ah yang terjadi sesudah tiga abad terbaik.

Rasulullah saw bersabda,


Yüklə 177,71 Kb.

Dostları ilə paylaş:
  1   2   3   4   5




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə