Manusia dalam persfektif al-qur’an LILI sholihat, sh pendahuluan



Yüklə 131,64 Kb.
tarix28.10.2017
ölçüsü131,64 Kb.
#17343

MANUSIA DALAM PERSFEKTIF AL-QUR’AN

  • Lili sholihat, SH



PENDAHULUAN

     

Dan pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”

(QS. adz Dzaariat: 21)

Manusia merupakan salah satu aktor utama dalam alQur'an. Keutamaannya itu terletak dari sisi kemuliaannya,1 dengan banyak disebutkan peristilahan di dalamnya,2 potensi yang dimilikinya,3 khitab atau amanah dari Allah Swt. yang harus dipikulnya,4 tempat yang harus dipelihara dan dirawatnya,5 pedoman atau aturan yang harus dipegang dan diamalkannya.6

Bagaimanapun, manusia merupakan, salah satu dari makhlukmakhluk ciptaan Allah Swt. la juga sebagian besar mempunyai sifatsifat yang sama dengan makhluk lain dan diciptakan dengan unsurunsur yang ada juga pada mahkluk lain.

Apabila kita menelusuri tentang substansi manusia, maka Kita akan menemukan tiga substansi pokok, yaitu , pertama, substansi material dan kedua substansi imaterial, dan ketiga substansi fungsional. Secara mateital, manusia disebut dengan alBasyar yang ujungnya berakar ke tanah. Sementara dipandang dari sudut imaterial, manusia terdiri unsur ruhaniah seperti ruh, akal, indra, d1l. Sedangkan dipandang dari sudut fungsional alQur'an menyebut manusia sebagai abdun atau 'abid yang artinya hamba yang tugasnya mengabdi. Di samping itu alQur'an menyebut sebagai khalifah manusia memiliki potensi dalam mengembangkan karya dan ilmu.

Dari paparan di atas penulis mencoba membongkar tentang halhal yang berkaitan dengan basic pokok manusia menurut alQur'an. Maka untuk lebih terperinci pembabasan masalah manusia dibagi menjadi beberapa sub bahasan berikut ini :



  1. Hakikat manusia dalam Al-Qur’an

  2. Proses penciptaannya

  3. Istilah-istilah untuk manusia

  4. Potensi manusia

  5. Pedoman hidup manusia

  6. Tugas manusia

  7. Kesimpulan.


1. Hakikat Manusia dalam alQur'an

Pembicaraan tentang hakikat manusia pada dasarnya membicarakan persoalan yang selalu menarik untuk dibicarakan karena tidak pemah habis selama manusia masih berpikir. Pembicaraan pada-dasarnya membabas pokok persoalan yang bersifat radikal, yaitu berusaha menemukan akan pengertian manusia yang mungkin saja melewati batasbatas pengertian yang hanya menekan pada salah satu aspek kehidupannya. Seperti yang terdapat dalam kajian berbagai disiplin ilmu, umpamanya antropologi, sosiologi, biologi dan psikologi. Hakikat manusia adalah sesuatu yang amat vital yang menemukan kehidupannya di tengah kancah kehidupan sosial .7

Prof Dr. M. Quraish Shihab telah mengutip pendapat Dr. A. Carrel dalam bukunya Man The Unknown yang menjelaskan tentang kesukaran yang dihadapi untuk mengetahui hakikat manusia. Dia mengatakan bahwa pengetahuan tentang makhlukmakhluk hidup secara umum dan manusia khususnya belum mencapai kemajuan, seperti yang telah dicapai dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya.8 Kesukaran itu menurut Quraish Shihab disebabkan oleh tiga hal yaitu:


  1. Pembahasan tentang masalah manusia terlambat dilakukan karena pada mulanya perhatian manusia hanya tertuju pada penyelidikan alam.

  2. Ciri khas akal manusia yang lebih cenderung memainkan halhal yang tidak kompleks

  3. Multikompleksnya masalah manusia

Namun demikian, Pencarian hakikat manusia ini akan melahirkan kesadaran bahwa dirinya memiliki asal yang sangat terkait dengan unsurunsur manusia itu sendiri.

Upaya pencarian hakikat manusia tidak cukup berhenti pada suatu pandangan untuk menjelaskan tentang unsur pokok yang secara internal ada di dalam dirinya atau pun ada pada apa yang dimilikinya yang sesungguhnya bersifat eksternal. Untuk itu, diperlukan sandaran pemikiran yang lebih mendasar guna memahami dan menentukan hakikat manusia itu, yaitu suatu sandaran yang dapat membawa ke arah pemahman yang lebih mendasar dan berada pada tingkat yang lebih tinggi dari hasil pemikiran manusia (ilmu dan filsaftat). Sandaran yang dimaksud lebih tinggi dan lebih kuat dari sekadar hasil pemikiran manusia itu adalah firmanfirman Tuhan (wahyu ilahi).9

Konsep manusia dalam Islam, diambil dari ayat al-Qur’an dan Hadits. Menurut surat al Mu'minun ayat 1216, manusia diptakan Allah dari intisari tanah yang dijadikan nuhtfah dan disimpan di tampat yang kokoh. Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku, darah beku Itu dijadian mudghah,, mudghah dijadikan tulang, tulang yang dibalut dengan daging dan kemudian dijadikan Allah makhluk lain. Surat asSajdah ayat 79 selanjutnya menjelaskan bahwa setelah kejadian manusia dalam kandungan mengambil bentuk, ditiupkanlah ruh oleh Allah Swt. ke dalamnya dan dijadikannya pendenganran, penglihatan, dan perasaan. Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah Swt ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari darah beku, dan 40 ha ri mudhgah.10

Berdasarkan ayat dan hadits tersebut di atas, jelas bahwa manusia terdiri dari dua unsur, macam dan material, jasmani dan ruhani. Pembicaraan mengenai kedua unsur ini sangat menarik karena banyak istilah dan pendapat yang dikemukakan para ilmuwan.

Prof Dr. Harun Nasution misalnya menjelaskan tentang kedua unsur manusia itu dengan jelas. menurutnya manusia tersusun dari unsur materi yaitu tubuh yang mempunyai hayat dan unsur imateri yaitu ruh yang mempunyai dua daya: daya rasa di dada dan daya pikir di kepala. Daya rasa jika diasah dengan baik, mempertajam hati nurani, daya pikir jika dilatih mempertajam penalaran.11

Senada dengan pendapat Harun Nasution, Dr. H. Afif Muhammad 12berpendapat bahwa hakikat substansi manusia terdiri dari dua unsur yaitu : unsur bawah dan unsur atas. Unsur bawah yang dimaksud adalah tanah, jasad (turab, basyor) Sedangkan unsur atas adalah ruh yang dimasukan ke janin.13

Dengan demikian, Apabila kita menghubungkan ayat dan hadits juga pendapat-pendapat di atas dengan QS. adzDzaari ayat: 56, maka kita dapat mengatakan bahwa manusia adalah makhluk Allah yang terdiri unsur jasmani dan ruhani yang berkewajiba untuk mengabdi (lbadah).
2 . Proses Penciptaan Manusia

AIQuran telah menjelaskan dua unsur manusia yaitu jasad dan ruh. Keduanya diciptakan oleh Allah Swt melalui proses atau tahapan tertentu. Namun kebanyakan ayat al-Qur’an yang bertebaran di suratsurat yang berkenaan dengan penciptaan manusia membicarakan tentang proses penciptaan, unsur jasad. Proses atau tahapantahapan tersebut adalah sebagai berikut:

Penciptaan jasad pertama diawali dari tanah, hal tersebut dijelaskan al-Qur’an dalam surat alHajj ayat 5 yang artinya :

“Hai sekalian manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan, maka (ketahuilah) sesungguhnya telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiaannya dan yang tida sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagi bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kamu kepada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan (umur pendek) dan ada pula diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahui... (QS. Al-Hajj: 5)

Ayat tersebut turun (nuzul) berkenaan dengan ungkapanungkapan orang kafir yang meragukan bahkan tidak mempercayai adanya kehidupan akhirat. Kemudia Allah Swt meyuruh rasulNya untuk menjawab problem ini dengan memperhatikan proses permulaan penciptaan manusia. Adapun munasabah sabab nuzul ini dengan QS. 36: 79 dan QS 17 51 yang intinya menjelaskan keraguan orang kafir terhadap hari kebangkitan (akhirat)

Ayat ini dengan jelas menceritakan proses penciptaan manusia mulai dari Adam as yang diciptakan dari tanah sampai kepada anak cucu Adam yang diciptakan dengan proses reproduksi yaitu sperma.

Proses tersebut menurut al-Qur’an menjelaskan berkaitan dengan penciptaan asal manusia dari tanah.14 Yang dimaksud disini adalah manusia pertama yaitu Adam as. 15 munasabah pernyataan in dijelaskan dalam surat ali-Imran (3) ayat 59 yang artinya “ sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti Adam yakni Allah menciptakan Adam dari Tanah. Penciptaan Adam dari tanah menurut ayat yang lain, terbuat dari tanah liat, dan lumpur hitan (QS. Al-Hijr: 28-29)

Jadi sampai disini, kita dapat melihat asal penciptaan manusia (Adam As.) adalah dari tanah. Tanah ini merupakan unsur pembentuk jasad yang dalam istilah Afif Muhammad disebut unsur bawah.



Kedua, al-Qur’an rnenjelaskan dalam proses penciptaan setelah Adam As (anak cucu Adam) melalui proses penjabaran yang cukup panjang. Proses tersebut diawali dengan penciptaan sperma dari sari pati tanah16, kemudian Allah menciptakan dari sari pati itu sperma yang ditumpahkan17 dalam ayat lain sperma yang hina18, sperma yang memancar19.

Ketiga, kemudiaan sperma, berproses menjadi alaqah (segumpal darah), kemudian 'alaqah diproses menjadi mudghah (segumpal daging), setelah itu menjadi bayi. Surat alMu'minun 14 melanjutkan proses reproduksi yang dijelaskan dalam QS al- Hajj: 5 yaitu dengan tambahan informasi bahwa setelah 'alaqah menjadi mudhgah, dan sebelum menjadi bayi, ada proses mudghah menjadi 'idhamafa kasauna al-idhama lahman (tulang belulang yang dibungkus kulit). Kemudian tulang belulang dibungkus kulit itu berbentuk bayi dan akhirnya keluarlah (thifla)

Dalam ayat lain terkadang al-Qur’an menginformasikan proses penciptaan manusia secara singkat , misalnya dalam surat alKahfi: 38 , proses penciptaan manusia berawal dari tanah kemudian Sperma, kemudian manusia sempurna.

Selama proses berlangsung dari muthfah ke ‘alaqah dst, al-Qur’an menyebutkan ada satu peristiwa yang hanya Allah Swt. yang tahu. Peristiwa ini adalah ditiupkan atau dimasukan ruh oleh Allah Swt. ke janin tersebut20. Tidak ada satu ayatpun yang memberikan jawaban atas Pertanyaan kapan dan bagaimana cara masuknya ruh tersebut. Namun ada keterangan hadits yang menyatakan bahwa masuknya ruh pada usia janin berumur tiga bulan atau 120 hari. Selanjutnya setelah ditiupkan ruh, Allah menciptakan atau memberikan indra pendengaran dan penglihatan.(QS. 32:9), bahkan dalam ayat lain ditambahkan dengan qaib atau fuadh (QS, 67:23, 17:36)

Maurice Bucaille memiliki argumen yang sistematis dalam menjelaskan proses penciptaan manusia. Ia berpendapat bahwa disamping pernyataan yang sangat umum teks Quran menarik perhatian kita mengenai soalsoal teks reproduksi yang dapat kita kelompokan sebagai berikut:

1) Adanya setetes cairan yang menyebabkan terjadinya pembuahan QS. 16: 4; 77 37; 23 : 13.

2) Watak dari zat yang membuahi QS.86: 6; 87: 20; 76: 2, 32: 8

3) Menetapnya telor yang sudah dibuahi QS.22: 5: 96: 2; 23: 14; 75.38

4) Perkembangan embrio QS. 23.; 14; 32 ; 9, 53: 45 4621


Berdasarkan kepada penjelasan di atas, kita dapat mengurutkan proses penciptaan manusia itu sebagai berikut:

  1. Adam as sebagai manusia pertama diciptakan dari tanah liat dan lumpur hitam

  2. Anak cucu Adam as. diciptakan dari sari pati tanah yang kemudian menjadi sperma yang tertumpah, memancar, dan hina.

  3. Kemudian setelah sperma menjadi 'alaqah, alaqah menjadi mudhdah, lalu ia menjadi ‘idhaman lahman.

  4. Pada saat proses di atas (poin 2 dan 3) berlangsung ditiupkanlah ruh.22 di samping ruh Allah menciptakan atau memberikan indra pendengaran, dan penglihatan, dan hati23

  5. Setelah sampai pada masa yang telah ditetapkan Allah Swt. (kelahiran paling cepat 6 bulan, mayoritas 9 bulan, dan pendapat lain satu tahun)24, lalu lahirlah bayi atau manusia sempurna (thifl, rajul)

C. IstfiahIstilah untuk Manusia

Ada tiga kata yang digunakan al-Qur’an untuk menunjukan kepada manusia



  1. menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun dan Sin, semacam insan. ins, nas, atau unas.

  2. menggunakan kata basyar

  3. menggunakan kata Bani Adam, dzurirat Adam.25

Kata insan digunakan al-Qur’an untuk menunjukan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia yang berbeda antara seorang dengan lain akibat perbedaan fisik dan mental, dan kecerdasan.

Ada beberapa kali alQur'an mengungkapkan yang menunjukan kepada pengertian manusia, istilah insan yang disebut 65 kali dalam al-Qur’an berakar dari kata. "ins" yang disebutkan sebanyak 18 kali jamaknya disebutkan anas yang hanya disebut sekali pada surat alFurqan ayat 49 yaitu dalam hubungan rizki Allah baik yang diturunkan kepada binatang maupun manusia yang banyak menurut alTobary yang dikutip oleh Jalaludin memberikan keterangan; "annas"adalah bentuk jamak dari "insan" dengan mengganti nun oleh ya atau boleh jadi bentuk jamak dari “insy” Seperi yang menjadi "karasy" bentuk lain insan adalah insiy yang disebut sekali yakni dalamhubungan nadzar maryam yakni saum dengan tidak berbicara dengan manusia lain.

Dengan demikian ungkapan insan dalam alQur'an dikelompokan ke dalam katagori:

a) Insan sebagai khalifah yakni pemikul amanah

b) Insan dengan sifatsifat negatifnya

c) Insan dalam proses penciptaannya

Pertama, insan sebagai khalifah, pemikul amanah ini didasari bahwa manusia telah diberi bekal dalam menjankan hidupnya yang bersifat abstraktif, tak dapat dilihat dan tak pula dapat diraba, akan tetapi hanya dapat dirasakan dan diketahui efek setelah fungsi dari hal tersebut bekerja. Bekal berikutlah yang diperistilahkan al-Qur’an sebagai ruhaniyah (komponen hati dan akal). Setelah Allah membentuk manusia dari tanah atau ada yang menyebutkan manusia dari lumpur, kemudian Allah memberikan kesempurnaan dengan meniupkan ruhnya kepada jasa (bentuk) yang dibuat dari tanah tadi, maka barulah mahluk manusia itu menjadi hidup. Adam as lah yang menjadi tokoh sentral dalam penciptaan manusia pertama ini dan Beliau pun dipercaya Allah untuk memegang tanpuk amanah untuk mengisi bumi ini “khalifah fi al-ardh”. Potensi ini menjadi nilai membedakan manusia dengan mahluk lain.

Kedua, insan dikaitkan dengan sifat-sifat negative banyak dijumpai dalam al-Qur’an yang disebut secara tegas dan gamblang. Sifat-sifat tersebut diantaranya:

1. bodoh (atAhzzab: 78)

2. pembantah dan suka berdebat (alKahfi: 54, alNahl: 4; Yaasin 77)

3. resah, gelisah dan segan membantu (alMa'arij: 1921)

4. kurang berterima kasih. (alAdiyah: 6)

5. dzalim dan kafir (Ibrahim: 34, alHaj: 66; azZuhruf 1555)

6. tergesagesa (alIsra 11; alAnbiya: 77)

7. bakhil (alIsra: 100)

8. pembuat dosa (al-AIaq: 5; al-Qiyamah: 5)

9. ragu-ragu terhadap hari pembalasan (Maryam: 66)

Sifatsifat negatif inilah bahwa manusia makhluk ciptaan yang sekalikali akan terjerumus kepada sifatsifat tersebut. Hal ini tergantung kepada manusia seoptimal mungkin untuk menghindarinya. Namun dengan demikian perlu diketahui bahwa karakteristik manusia tersebut tidak intern dengan kejadiannya manusia tidak berdosa, tidak bersifat jelek. Sebaliknya manusia secara fitrahnya memiliki sifat bersih, suci dan potensial menerima dan melaksanakan kebenaran. Hal ini bermakna bahwa sifat negatif ini tumbuh dan berkembang sebagai pengaruh dan interaksiinteraksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan manusia lain atau pun makhluk lain.

Sedangkan kata yang menunjuk manusia yang kedua adalah basyar. Kata itu terambil dan akar kata yang pada mulanya berarti penampakkan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama lahir kata basyarah yang berarti kulit. Manusia dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang lain.26

Apabila kita menghitung, kata basyar dalam alQur’an didapati 36 kali dalam bentuk tunggal dan sekali dalam bentuk mutsana. Salah satu ayat berkait dengan kata basyar adalah sebagai berikut:

"Aku adalah basyar (manusia) seperti kamu yang diberi wahyu" (QS. AtKahfi : 110)

Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa sosok Muhammad dari segi basyarnya sama dengan seluruh manusia. Dari sisi lain. kata basyar mengisyaratkan suatu proses kejadian manusia melalui tahaptahap sehingga mencapai tahap kedewasaan.

"Dan diantara tandatanda kekuasaanNya (Allah) menciptakan kamu dari tanah, kemudian ketika kamu jadi basyar kamu bertebaran" (QS. alRum 20)

Bertebaran di sini biasa diartikan berkembang biak akibat hubungan seks atau bertebaran mencari rejeki. Kedua hal ini tidak dilakukan oleh manusia kecuali oleh orang yang memiliki kedewasaan dan tanggung jawab. Karena itu pula Maryam As mengungkapkan keheranannya dapat memperoleh anak padahal la belum pemah disentuh oleh basyar (manusia dewasa yang mampu berhubungan seks ) (QS. aliImran: 47). Kata basyiru hunna yang digunakn oleh al-Qur’an sebanyak dua kali (QS. Al-Baqarah: 187), juga diartikan dengan hubungan seks.

Jadi tampak jelas bahwa basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia yang dijadikannya mampu memikul tanggung jawab. Dan karena itu pula tugas kekhalifahan dibebankan kepada basyar (alHijr: 28) dan (alBaqarah: 30).
D. Potensi Manusia

Setelah kita membahas dan menganalisis tentang hakikat dan penciptaan manusia, kita telah mencatat halhal penting bagaimana alQur'an menyingkap dan menegaskan tentang hakikat manusia dalam proses penciptaannya atau asal mulanya, Diantara catatancatatan itu ialah bahwa dengan tegas alQur'an menyatakan bahwa manusia berada pada posisi yang tinggi dan mulia, karena manusia memiliki ciri khas yang membedakan dengan makhluk lainnya yaitu berpikir.27 Sehingga para ahli manthiq misalnya mengatakan :

Artinya "Manusia adalah hewan yang berpikir"

Telah ditemukan sekian ayat yang memuji dan memuliakan manusia, seperti pernyataan tentang terciptanya manusia dalam bentuk dan keadaan yang sebaikbaiknya (QS. AtTin: 5), dan penegasan tentang dimuliakannya makhluk ini dibanding dengan makhlukmakhluk Allah yang lain (QS. AlIsra , 70)28

Secara khusus ayatayat tersebut dapat diuraikan dan dianalisis dalam berbagai tafsir berikut imi :

                  

"Dan sesungguhnya kami telah muliakan anak cucu Adam, kami angkat mereka di daratan dan di lautan, kami beri rizki mereka dari yang baikbaik dan kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna, atas kebanyakan makhluk Yang kami ciptakan" (QS. AlIsra: 70).

Secara etimologis, "karromna" sepadan dengan makna "Fudhulna". Artinya kemuliaan atau keutamaan. Kemuliaan atau keutamaan manusia itu di antaranya adalah bentuk yang baik, seimbang, berdiri tegak, mampu membedakan sesuatu dengan akal dan ilmu, memahami bahasa ataupun. isyarat, menguasai bumi, disamping itu manusia memiliki akal, dengan akalnya manusia berilmu pengetahuan, mencapai kemajuan dan berbudaya.29

Selanjutnya alJuhaely menafsirkan "karromna Bani Adam”dengan "Ja’alna lahum karoman aw syarofun wa fadlilan”30 artinya menjadikan bani Adam mulia dan utama dalam bentuk yang terbaik dan sempurna.

Bentuk yang terbaik dan sempurna yang menunjuk kepada manusia ini dalam surat atTiin sebagai berikut :

      

"Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya"(QS atTin: 4)

Maksud "ahsani taqwim" dalam ayat di atas menunjukan dan menjelaskan tentang kemulyaan manusia baik sisi rupa, bentuk, dan lainlain.31

AlQurthubi telah menceritakan sebuah kisah berkaitan dengan sebaikbaik bentuk manusia sebagai berikut: " Isa bin Musa alHasimy adalah seorang yang sangat mencintai istrinya. Suatu hari ia berkata kepada istrinya : "Engkau akan kuceraikan dengan thalaq tiga. Jika tidak lebih baik dari pada bulan, lalu istrinya bangkit dan menutupi wajahnya. Dan ia berkata: "Engkau menceraikan aku lalu ia berenung sepanjang malam. Besok harinya ia melapor ke Khalifah alMansur dan menceritakan peristiwa yang telah menimpanya lalu Khalifah mengundang para fuqoha dan meminta fatwa mereka, kemudian seluruh fuqaha memberi fatwa babwa perempuan itu telah tertalak, Namun ada seorang fuqoha dari golongan sahabat Abu Hanifah yang tidak memberi komentar. Kemudian Khalifah berkata:"Mengapa engkau tidak berbicara?", lalu ia menjawab dengan ayat al-Qur’an (surat atTin sampal ayat “laqod kholaknal insaana fil ahsani taqwinn)", wahai Amirul Mu'minin manusia itu paling baik segalanya tidak ada sesuatu yang lebih baik darinya. Kemudian khalifah berkata kepada Isa: "betul apa yang kau katakan.32

Berkaitan dengan penjelasan laqod karonaa banii Adam dan luqod kholaqnal insane fii ahsani taqwiin, Afif Muhamad mencoba menyusun penjelasan yang dikutip dari Mu’jam Gharib al-Qur’an karya alAshfahani untuk menjelaskan maksud ayat di atas. Maksud sebaikbaik bentuk itu dalam tiga hal, yaitu


  1. Fisik, dilihat dari sisi ini, manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk lainnya, seperti binatang (monyet). Maka, agar fisik ini tunduk kepada Allah ia harus dilatih (riyadhah) sehingga menggerakkan seluruh potensi lainnya untuk berbuat baik atau ibadah. Jika tidak dilatih berbuat baik, maka fisik bisa menentang kepada hukum Allah. Oleh karena itu fisik membutuhkan riyadhoh.

  2. Akal, merupakan hidayah dari Allah. Dengan akal manusia, bisa menciptakan budaya dan mendapatkan ilmu pengetahuan dan mencapai kemajuan. Dengan akal yang terdidik maka ia menjadi potensi yang sangat besar mencapai kriteria mu'min dan khalifah fil Ardh. Namun akal ini pun dapat menjadi sombong karena tidak tunduk kepada hukum Allah seperti Fir'aun. Oleh karena itu akal membutuhkan ta’lim

  3. Hati, merupakan potensi manusia berkaitan dengan kesadaran atau perasaan. Hati sangat berperan dalam membawa kebaikan fisik. Jika hatinya kurang baik (buruk), maka cenderung berbuat kerusakan atau kejahatan. Tetapi jika hatinya baik, maka baik pula gerak fisiknya. Jika hati tidak terpelihara, maka ia akan dholal (gelap) bahkan bisa menjatuhkan harkat dan martabatnya lebih hina dari binatang, oleh karena itu hati membutuhkan ta'dhib

Dengan mengemukakan ayatayat dan kisah di atas, Nampak jelas bahwa Allah swt menciptakan manusia dengan segala kesempurnaan dan potensi yang dimilikinya.

Dalam ayat lain kita jumpai potensipolensi itu disebutkan alQur'an yaitu sam'a (pendengaran), alBashar (penglihatan), dan af'idah atau faud ayatayat tersebut ialah

            

artinya; "katakanlah! Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan, hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur"(QS. alMulk. 23)

Menurut bahasa Ansya'a sepadan dengan khalaqa dan al fiduh semakin dengan alqulub (hati ).33

Maksud ayat di atas adalah bahwa manusia memiliki potensi sebagai wujud kemuliannya, potensi tersebut ialah pendengaran, penglihatan dan hati. Walaupun disitu ditegaskan bahwa manusia yang menggunakan potensi ini sedikit dibanding dengan yang tidak menggunakannya.

Dalam penjelasan selanjutnya, Juhaely menjelaskan bahwa ayat tersebut berkenaan dengan perintah Allah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada kaum musyrikin yang tidak mau mensyukuri potensilootensi itu yang telah diberikan Allah. Dimana Allah swt telah mengadakan indra pendengaran supaya manusia dapat mendengar nasihatnasihat, menciptakan penglihatan supaya manusia bisa melihat alam jagat raya ciptaanNya dan menciptakan hati dan akal untuk memikirkan ciptaanNya dan menemukan hakikat segala sesuatu. Namun sedikit sekali orang yang dapat menggunakan potensipotensi tadi yakni potensi yang telah dianugrahkan Allah Swt kepada manusia yang sebenarnya adalah berfungsi untuk menta’ati Allah Swt, melaksanakan segala perintah-Nya dan Meninggalkan Segala larangan-Nya.34

Oleh karena itu, sangat wajar dan pantas apabila potensipotensi yang dimiliki manusia akan diminta pertanggung jawaban. Posisi yang tinggi dan mulia pada manusia menunjukan bahwa manusia memiliki potensi tersendiri yang dimilikinya.


E. Tugas Manusia di Dunia

Al-Qur’an banyak menegaskan tentang tugas hidupnya yang harus dilaksanakan di dunia (alardh) seperti mengabdi ('ibadah) dan memakmurkan bumi (isti'mar). Di antara ayat tersebut misalnya:

                      ............

Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekalikali tidak ada bagimu, Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari tanah dan menciptakan kamu pemakmuran... (QS. 11:61)

           

Hai manusia beribadahlah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orangorang sebelummu agar kamu bertakwa" (QS. 2:21)

Secara global kita dapat menarik kesimpulan berkaitan dengan tugas manusia berdasarkan dalam ayat alQur'an sebagai berikut:


  1. Mengabdi (ibadah) kepadanya.35

  2. Memelihara dan menjaga bumi, serta memakmurkannya (alam)36

  3. Memurnikan Tauhid dari syirik37

4. Amar Ma'ruf Nahi Munkar 38

Beribadah sebenarnya merupakan konsekwensi manusia diciptakan oleh Allah. Di mana Allah Swt. telah membuat "Ikrar Primordial" dengan manusia berikut ini "Dan (Ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan anakanak Adam dari sulni mereka dan Allah mengambil persaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukanlah Aku ini Tuhamnmu?" dan mereka menjawab : "Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu ) agar di hari kiamat nanti kamu tidak mengatakan" Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orangorang yang lengah terhadap ini (keesan Tuhan) (OS 7: 172 ).39

Jadi tugas pokok manusia sebagai hamba (abdun) adalah mengabdi (ibadah) kepada kepada Allah Swt (ma'bud) dalam arti seluasluasnya. lbadah menjadi inti dari segala hal. Sebab baik memurnikan tauhid dari syrik, memelihara bumi, dan amar ma’ruf merupakan bentuk pengabdian juga.

Di samping itu manusia memiliki tugas fungsional yaitu menjadi khalifah di bumi. Hal ini berdasarkan QS. 2:30

        

"Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”

Khalifah jamaknya adalah khulafa atau khalaif dalam kamus alMunawir berarti pengganti40. Maksudnya menurut Imam Jalalen adalah Adam as.41

Dalam pandangan fungsionalnya, al-Qur’an memilah dan menyebutkan manusia sebagai khalifah serta pengabdi yang pada ujungnya alam memberikan pertanggung jawaban di hadapan Allah. Para ahli tafsir sepakat bahwa maksud khalifah pada QS 2: 30 adalah Adam as. Selain Adam as, Daud as. juga disebut al-Qur’an sebagai khalifah (QS 38: 2225). Keduanya diberi kepercayaan dan amanah untuk memimpin dan mengelola bumi. Namun dalam pejalanan hidupnya keduanya digambarkan al-Qur’an pernah tergelincir tetapi diampuni Tuhan.42

Adam as ketika diangkat menjadi khalifah, malaikat menyangkal perlunya seorang khalifah di bumi karana sudah ada mereka yang selalu bertasbih dan memuji Allah serta mensucikannya, sedangkan khalifah mempunyai potensi untuk membuat kerusakan di bumi dan selalu menumpahkan darah. Potensi inilah yang diperhatikan malaikat. Kemudia Allah mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak dapat diketahui sama sekali oleh malaikat mengenal khalifah itu. Hal itu adalah kemampuan untuk menyebutkan namanama. Dengan kemampuan ini, yang berarti juga kemampuan untuk berinisiatif.43

Sampai di sini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sementara, bahwa kata khalifah dalam alQur'an digunakan untuk : a) siapa yang diberi kekuasaan, dan, b) seorang khalifah berpotensi melakukan kekeliruan dan kesalahan akibat mengikuti hawa nafsu.

Baqir AlShadr, dalam bukunya, alSunan alTarikhiyah fi alQur'an mengemukakan bahwa kekhalifahan mempunyai tiga unsur yang saling kait mengkait. Kemudian ditambahkan unsur keempat yang berada di luar namun sangat menentukan arti kekhalifahan dalam pandangan alQur'an.

Keempat unsur tersebut adalah :

1). Manusia, yang dalam hal ini dinamai khalifiah.

2). Alam raya, yang ditunjuk alBaqarah sebagai ardh.

3). Hubungan anatara manusia dan alam raya serta seisinya.

4) yang memberi penugasan atau kekuasan yakni AIlah Swt.

Sebagai khalifah, ia memikul beban tanggung jawab menciptakan tatanan sosial yang bermoral di atas dunia yang di sebut al-Qur’an sebagai amanah.44 Amanah menurut penafsiran Musathafa alMaraghi yang dinukil dari surat alNisa ayat 38 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya" mengandung bermacammacarn pengertian, diantaranya:


  1. Amanah manusia terhadap Tuhannya berupa taqwa, penggunan seluruh potensi yang dimilikinya, anggota badannya dll. Sehingga seluruh aktivitasnya menimbulkan manfaat bagi dirinya dan mendekatkan diri kepada. Tuhannya, dan apabila ia melanggar merasa berkhianat kepada Tuhannya.

  2. Amanah manusia terhadap sesama manusia berupa kepercayaan atau tanggung jawab yang diberikannya.

  3. Amanah manusia terhadap dirinya sendiri yakni berusaha melakukan halhal yang lebih baik dan bermanfat untuk kepentingan agama dan kehidupannya.

Oleh karenanya ada suatu ayat yang bersifat umum dan dianggap dapat mewakili ayat lain yang berbicara tentang hal di atas.

“orangorang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ini niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah berbuat yang munkar (QS. 22: 41).


E. Pedoman Hidup Manusia dan tempat Tinggalnya

Halhal lain yang sangat urgen berkaitan dengan manusia adalah al-Qur’an itu sendiri sebagai pedoman hidup dan bumi sebagai tempat tinggalnya. Pada pembahasan terdahulu dijelaskan bahwa manusia memiliki potensi yang tinggi, dan mulia dibanding makhluk yang lainnya. Di antara kemuliaan itu adalah diberinya akal dan hati. Namun akal dan hati harus tunduk kepada nilainilai yang tinggi tidak boleh tunduk kepada nilai yang rendah. nilai yang tinggi itu tentu nilai ilahiyah. Sehingga dalam perjalanan kembalinya selamat dan sampai kepada Allah. Untuk itu Allah Swt Yang Maha Mengetahui (al 'Alim) menurunkan al-Qur’an.

             .............

"Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia .... (QS. alBaqarah: 185)

ayat tersebut menegaskan kepada kita bahwa al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi manusia, lebih spesifik lagi bagi orang yang takwa.45 alQur'an menjadi pedoman rnanusia karena ia memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya.46 Manusia menjadi berpikir untuk mencapai yang dikehendakinya,47 menjadi aturan atau hukum (syari'at) dalam kehidupan manusia sehingga lahir kehidupan yang tertib, damai, sejahtera, serta kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat48

Untuk dapat melaksanakan alQur'an itu, Allah swt menciptakan bumi sebagai tempat kehidupan manusia.”dan bagi kamu tempat kediaman di Bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan (QS alBaqarah: 36)


KESIMPULAN

Setelah Penulis mendeskripsikan secara sistematis berkaitan dengan manusia, maka penulis dapat beberapa kesimpulan sebagai berikut :



  1. Hakikat manusia adalah makhIuk Allah yang memiliki dua unsur yaitu material dan immaterial. Unsur material terbuat dari tanah kering, Lumpur hitam Sedangkan unsur immatenal terdiri dari ruh, indra, akal, hati, dll.

  2. Ada beberapa istilah al-Qur’an yang menunjuk kepada makhluk bernama manusia, yaitu insan, basyar, dzurriyah (bani Adam)

  3. AIQur'an. menyingkap tentang potensi yang diberikan Allah Swt kepada manusia, seperti bentuk tubuh yang terbaik, akal, hati, fithrah, dll.

  4. Dalam perjalanan kehidupannya, manusia memiliki tugas yang al-Qur’an tegaskan seperti : ibadah, amar ma'ruf, memelihara dan memakmurkan bumi, disamping ada tugas fungsional sebagai khalifah, Nabi, serta Rasul.

  5. Manusia adalah makhluk yang lemah artinya terbatas dalam segala hal, baik fisik, ilmu, dan lain sebagainya. Oleh karena itu manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan, kemuliaan, dibekal alQur'an sebagi pedoman hidup yang akan menghantarkannya kepada kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.

  6. Untuk menjalankan tugasnya manusia diberi tempat yaitu bumi. la diperbolehkan untuk memanfaatkan segala apa yang terkandung di dalamnya sebagai sumber kehidupannya.

DAFTAR PUSTAKA
AlQur'an Terjemah (hadiah dari Khadim alHarmaen asySyarifain Raja fahd ibn 'Abd alAziz alSa'ud, 1971.

Abdullah Muhammad bin Ahmad alAnshari alQurthubi, alJuami' alAhkam al-Qur'an, Beirut: Dar alFikr, t.t

AlHasany, Fathurrahman li alThalib alQur’an, Maktabah Dahlan, t.t.

H.M,D. Dahlan, Kuncikunci Menyingkap Isi alQur'an, Bandung: Yayasan Pustaka Fithri, 2001M

M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an, Bandung Mizan, 1992.

Wahbah Juhaeli, Tafsir alMunir fi alAqidah wa alSyariah wa alManhaj,Libanon: Dar alFikr alMa 'ashir. t.t

M. Hasan alHasimy, Tafsir wa bayan ma'a asbab annuzul, Beirut: Dar Rasyd, t.t

M. dawarn Rahario, Ensiklopedi al-Qur’an, Jakarta: Pondok Indah, 1996

Ahmad W. Munalwir, AlMunawwir, Yogyakarta: Pesantren Krapyak alMunawir, 1984

Jalaluddin Muhammad bin Ahmad alMuhalla dan jalaluddin bin Abdurrahman bin Abi bakar alSuyuthi, Tafsir al-Qur’an alAdzim, Surabaya: Bengkul Indah,t. t

AIZamakhsari, alKasyaf, Beirut: Dar alFkir, t.t.

Ismail Haq, alBuruswi, Ruh albayan, Beirut : Dar alFkir, t,t.

Aisyah Abdurrahman, Sentivilas Hermenelika al-Qur’an, alih bahasa oleh M. Adib al-Arief, Yogyakarta, LKPSM, 1997.

Machasin, Menyelami Kebebasan Manusia, INHIS: Pustaka Pelajar, 1996



Said Qutb, Fi Dzilal al~Quran, Kairo: Dar asSarq, 1998



1 QS. AIIsra: 70, lihat QS. AITiin: 4.

2 IstilahIstilah yang sering disebut alQur'an yang menunjuk kepada manusia di antaranya: basyar, insane (Unas, Anasy, Ins)

3 QS. AlTiin: 4 QS. MMulk: 23, OS. AIIsra 36.

4 QS. Al Ahjab 72

5 QS. Maryam 40 QS AIBaqarah: 11, 60; alA'raf. 55, 84.

6 QS. Al-Baqarah, 2, 185, QS, alMaidah 50

7 Syahidin, metode Pendidikan Qurani: Teori dan Aplikasi. (Jakarta: misaka Gazila 1999), cet ke-1 h. 27

8 M. Quraish Shihab, wawasan Quran, (Bandung Mizan, 1996) cet. Ke-1, hal 277

9 Syahidin, op. Cit h. 28

10 Harun Nasution, Islam Rasional, (Bandung: Mizan, 1995), cet ke-1, hal 37.

11 Harun Nasution, op, cit. hal 38.

12 Dr. H. Afif Muhammad, MA. Adalah mantan ketua jurusan Tafsir Hadis pada Fakultas Ushuluddin dan sekarang menjabat sdebagai Asisten Direktur 1 pasca Sarjana IAIN “SGD” Bandung.

13 Sari tulisan wawancara dengan mantan Ketua Tafsir Hadist, Dr. H. Afif Muhammad, MA. Oada tanggal 8 maret 2004.

14 Ibid hal. 158

15 QS. 23 : 12

16 QS. Al-Qiyamah (75): 27

17 QS. As-Sajdah (32): 8, lihat juga al-Mursalat (87): 20

18 AS. At-Tariq: 6

19 QS. 15:29; 38:71-72

20 QS 15: 29, 3 8: 7 1  7 2.

21Dr, Maurice Bucaille, Bibel, Quran. dan Snain Modern, (Terj. Prof Dr, HM. Rasyidi), (jakarta, Bintang, 1978), Cet. 1, hal. 232  239.

22 QS. 17 : 85

23 QS 76: 2, 32: 9

24 Wahbah Juhaeli, op. cit., juz 17,h. I09.


25 M. Quraish Shihab, Op. cit hal. 278

26 M. Quraish Shihab, ibid

27 Shahidin op.cit., h. 45

28M. Quraish Shihab, op. cit., hal. 282 lihat juga BUstanuddin Agus, Al-Islam (Jakarta: Rajawali Press 1993), hal 20.

29 Wahbah juhaeli, tafsir munir fi al-‘Aqidah wa al-Syari’ah wa al-Manhaj, (Libanon: dar al-Fikr al-Ma’ashir, 1991), cet ke-1, jilid 16, h. 120

30 Wahbah juhaeli, ibid.h.66

31 Wahbah juhaely, op. cit. juz 30, h. 303-304

32 Al-Qurthubi, tafsir qurthubi……….

33 Wahbah juhaely, op. cit. jus 29, h.30

34 Ibid, h.33

35 Lihat QS. 2:21, 128, 189, 200; 5:2; 6:162; 9:112; 13:14; 39:2; 40:14,65; 98:5.

36 Lihat QS. 2:11, 5:56, 84; 5:64; 28: 77

37 QS 40:11

38 QS. 7:157; 3:104, 114.

39 Fazlurrahman, (op. cit., h. 36-37

40 Ahmad W. Munawir, Al-Munawwir, (Yogyakarta: pesantren krapyak al-Munawir, 1984)

41 Jalaluddin Muhammad bin Ahmad al-Muhalla dan Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abi bakar al-Suyuthi, tafsir al-Qur’an al-‘Adzim (surabaya: Bengkul Indah, t.t) h. 6.

42 QS 2:36-37 dan QS 38: 22-25

43 Machasin, menyelami kebebasan manusia, (INHIS: pustaka Pelajar, 1996). Hal 9.

44 Fazlul Rahman, tema-tema Pokok al-Qur’an, (bandung: Penerbit Pustaka, 1983), Cet ke-1. Hal 28

45 QS. 2:2

46 QS. 17:9

47 QS. 16:44 : 47:24

48 QS. 36:2; 4:104



Yüklə 131,64 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə