Pendidikan akhlak dan karakter untuk mencapai martabat insan kamil



Yüklə 190,1 Kb.
tarix27.10.2017
ölçüsü190,1 Kb.
#17241



PENDIDIKAN AKHLAK DAN KARAKTER UNTUK

MENCAPAI MARTABAT INSAN KAMIL
Dipresentasikan dalam Seminar Nasional “Membangun

Karakter Muslim Berdasarkan Al-Quran dan Hadits”

Di Aula Universitas Pembangunan Panca Budi

Medan, 18 Desember 2010

Oleh:

Dr. Munawar Rahmat, M.Pd.

Sekjen DPP ADPISI



UNIVERSITAS PEMBANGUNAN PANCA BUDI

MEDAN


2010
PENDIDIKAN AKHLAK DAN KARAKTER UNTUK

MENCAPAI MARTABAT INSAN KAMIL 1

Dr. Munawar Rahmat, M.Pd. 2


A. Pendahuluan

Kata akhlak, karakter, nilai, moral, etika, dan makna-makna lainnya begitu mudah diucapkan tapi susah diamalkan. Di saat Presiden Susilo Bambang Yudoyono menggulirkan perlunya ‘Pendidikan Karakter Bangsa’, seabreg makalah, buku, dan seminar tentang tema ini bagai jamur di musim penghujan, bermunculan di mana-mana. Ini sangat bagus. Tapi ada juga yang sepertinya tanpa mengaca diri apakah dirinya orang yang berkarakter, bernilai, dan berakhlak (yang baik) serta memiliki ilmu yang mumpuni dalam bidang ini, tiba-tiba seperti pejuang dan penggagas pendidikan karakter, nilai, dan akhlak. Oleh karena itulah marilah kita buat bersama konsep pendidikan akhlak, karakter, atau nilai secara benar serta mengimplementasikannya dengan benar pula dan dengan penuh kesungguhan, tidak setengah-setengah terlebih-lebih asal-asalan.

Terlebih-lebih dalam Islam. Akhlak dalam Islam bukanlah sekedar moralitas biasa. Akhlak justru merupakan misi Islam. Para Nabi dan Rasul diutus ke dunia ini justru untuk ‘menyempurnakan’ akhlak mulia. Artinya berakhlak mulia saja tidaklah cukup melainkan harus akhlak mulia yang sempurna. Insya Allah kajian akhlak dalam buku ini adalah akhlak mulia yang sempurna. Akhlak bukanlah sekedar sebuah wacana, melainkan merupakan amal-nyata; bukan sekedar teori dan konsepsi, melainkan merupakan sebuah praktek dan amal-nyata; bukan juga sekedar praktek dan amal sesaat, melainkan sebuah praktek dan amaliah permanen yang mendarah-daging dalam sikap, perilaku, dan kehidupan sehari-hari.

Kata akhlak berasal dari kata al-akhlâqu (Bahasa Arab), bentuk jama’ dari kata al-khuluqu atau khulûqun, yang berarti tabi’at, kelakuan, perangai, tingkah laku, karakter, budi pekerti, dan adat kebiasaan. Kata akhlak digunakan Al-Quran untuk memuji ketinggian akhlak Rasulullah: Wa innaka la`allâ khuluqin `azhim =Sesungguhnya kamu mempunyai akhlak yang tinggi (Qs. 68/Al-Qalam: 4). Kemudian dalam Qs. 33/Al-Ahzab ayat 21 ditegaskan bahwa Rasulullah sebagai figur teladan: Laqod kâna fi rasûlillâhi uswatun hasanatun =Sungguh pribadi Rasulullah itu merupakan suri teladan bagi orang yang berkehendak kembali kepada Allah, meyakini Hari Akhir, dan banyak berzikir. Nabi Muhammad SAW pun menegaskan misi kenabiannya: Innamâ bu`itstu li`utammima makârimal akhlâqin =Sesungguhnya aku diutus (ke dunia ini) untuk menyempurnakan akhlak yang ‘mulia’. Hal ini menegaskan bahwa perilaku akhlaqi merupakan puncak keberagamaan. Oleh karena itu Ibn Miskawaih (1994: 3) menegaskan, akhlak adalah sifat yang tertanam di dalam diri seseorang yang dapat mengeluarkan sesuatu perbuatan dengan senang dan mudah tanpa pemikiran, penelitian dan paksaan. Artinya, suatu perbuatan disebut akhlak jika perbuatan itu dilakukan oleh seseorang secara otomatis dan permanen, tanpa pemikiran, penelitian, atau paksanaan dari orang-orang yang memiliki otoritas, karena sudah menjadi karakter, watak, dan kebiasaannya; yakni suatu sikap dan perbuatan yang sudah mendarah-daging dalam kehidupan sehari-harinya (Munawar Rahmat, 2010b; Sofyan Sauri, 2011). Murtadha Muthahhari (1995) mengingatkan bahwa perbuatan akhlaqi merupakan perilaku ikhtiari yang terpuji di atas kewajban. Sebagai contoh, orang yang mendirikan shalat malam dan shalat-shalat sunat setelah mendirikan shalat wajib 5 waktu; atau seorang kaya-raya yang mengeluarkan infaq dan shodaqoh (yang sunat-sunat) setelah membayarkan seluruh kewajiban ibadah harta (zakat, shodaqoh, infak, dan lain-lain). Sementara karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang terdiri atas sejumlah nilai, moral dan norma yang diyakini dan digunakan sebagai landasan cara pandang, berpikir, bersikap dan bertindak. (Kemdiknas, 2010). Dengan demikian, kata Baedhowi (2010: 3-4), pada hakekatnya karakter sama dengan akhlak. Karakter merupakan suatu moral excellence atau akhlak yang dibangun di atas kebajikan (virtues), yang hanya akan memiliki makna apabila dilandasi dengan nilai-nilai yang berlaku dalam suatu bangsa.

Misi kenabian untuk menyempurnakan akhlak yang ‘mulia’ merupakan Kasih-Sayang Allah bagi manusia yang telah memiliki akhlak mulia, agar akhlak mulianya itu dapat sejalan dengan Kehendak Allah, yakni berlandaskan keimanan, dengan niat lillah, juga dilakukan secara benar dan ikhlas, tanpa ada pamrih sedikit pun.
B. Akhlak/Karakter Berkaitan dengan Persoalan Baik-Buruk

Apakah term baik-buruk dan benar-salah bersifat obyektif ataukah subyektif, absolut ataukah relatif, dan universal ataukah parsial? apa sumber, instrumen, dan kriterianya? bisakah manusia mengetahui persoalan baik-buruk dan benar-salah, atau hanya Tuhan saja yang mengetahuinya?

Mari kita perhatikan fenomena berikut. Berbakti kepada kedua orang tua merupakan nilai universal yang dipandang baik dan benar oleh semua manusia di dunia. Kisah Alqomah sangat berhasil menciptakan tradisi berbakti kepada ibu, sekaligus mitos larangan menyakiti sekecil apa pun perasaan gundah-gulana sang ibu. Cerita Malin Kundang sudah menjadi mitos bagi seluruh masyarakat Indonesia. Demikian juga mitos ‘saciduh metu saucap nyata’ telah benar-benar menciptakan rasa ngeri pada anak-anak Sunda. Hadits surga di bawah telapak kaki ibu mungkin telah dihapal oleh seluruh masyarakat Indonesia, yang muslim maupun non-muslim.

Tapi ekspresi berbakti kepada kedua orang tua bisa bermacam-macam. Semua anak manusia penghuni bumi ini memuliakan kedua orang tua. Malah dalam beragama pun sang anak lebih cenderung untuk beragama sebagaimana agama dan mazhab yang dianut oleh orang tuanya. Dalam Psikologi Agama diungkapkan bahwa fenomena konversi agama hanya terjadi pada segelintir manusia. Amat-sangat sulit bagi sang anak untuk berbeda agama, mazhab, dan keyakinan dengan orang tuanya. Sungkem (dalam arti: mencium kaki atau lutut kedua orang tua) sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa, yang juga menjadi tradisi seluruh anak manusia dengan ekspresi yang berbeda-beda. Bagi Suku Amish (Amerika Serikat), anak lelaki berusia 10 tahun yang berani menempeleng ayahnya menjadi buah bibir masyarakat. Malah pada Suku Eskimo (Denmark), tindakan seorang anak yang membunuh orang tuanya yang sedang sakit dan tidak sembuh-sembuh lebih dari 7 hari dinilai sebagai tindakan berbakti kepada orang tua.

Pertanyaan dari perspektif agama islam, bisakah manusia menentukan baik-buruk dan benar-salah? agar lebih kongkrit, bagaimanakah pandangan al-quran tentang baik-buruk dan benar-salah, bisakah manusia menentukannya?

Dalam Qs. 2/Al-Baqarah ayat 216 ditegaskan bahwa manusia tidak bisa menentukan baik-buruk dan benar-salah:



Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.. Allâh Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui (yang baik dan yang buruk). Artinya, hanya Allah-lah Yang Tahu apa-apa yang baik dan yang buruk. Implikasinya, kalau kita ingin tahu yang baik maka kita harus merujuk kepada Allah.
Pertanyaan lanjutan yang harus kita ungkapkan, bagaimanakah cara kita dapat yakin bahwa ‘sesuatu’ itu merupakan Kehendak Allah? Contoh, mengerjakan shalat secara khusyu` merupakan perbuatan yang baik; sedangkan shalat sâhûn sebagai perbuatan yang buruk. Siapakah yang dapat dipercaya untuk mendeskripsikan shalat khusyu` dan sâhûn? Apakah masing-masing kita boleh mendeskripsikannya?

Jika kita kembali ke ayat tadi (Qs. 2/Al-Baqarah: 216), kita tidak bisa mendeskripsi-kannya. Shalat khusyu` dan sâhûn itu harus dideskripsikan oleh Allah. Sebab utamanya, ayat Al-Quran itu terdiri atas ayat-ayat yang muhkamât (maknanya jelas, seperti perintah-perintah dan larangan-larangan Al-Quran) dan mutasyâbihât (maknanya samar-samar). Padahal tidak ada yang bisa menta`wilkan makna ayat-ayat mutasyâbihât kecuali Allah (dan ar-rôsyihûna fil `ilmi). Hanya karena Allah itu Maha Ghaib, tidak mungkin menampakkan DiriNya di bumi dan tidak mungkin mengajari secara langsung kepada setiap orang, maka Allah lalu mengangkat WakilNya (Khalifah fil ardhi) atau UtusanNya (Rasulullah). Mereka itulah yang disucikan oleh Allah (al-muthohharûn), sehingga dipahamkan dengan Al-Quran. (Telaah kembali Qs. 3/Ali Imran ayat 7 & Qs. 56/Al-Waqi`ah ayat 77-79). Artinya, jika kita ingin tahu makna shalat khusyu` dan shalat sahûn yang benar haruslah merujuk kepada Rasulullah atau kepada Ûlil Amri, sebagaimana firmanNya dalam Qs. 4/An-Nisa ayat 59:

Qs. 4/an-Nisa ayat 59 di atas menggunakan 2 kata athî`û, yaitu: (1) athî`ûllah =Taatilah Allâh, dan (2) athî`ûr rasûla wa ûlîl amri minkum =Taatilah pula Rasûl dan Ûlîl Amri di antara kamu. Kata Ûlîl Amri dicantolkan dengan kata Rasûl menunjukkan bahwa Ûlîl Amri itu memang Wakil Rasûl, yakni Wakilnya Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk melanjutkan fungsi dan tugas kerasulannya hingga hari kiamat. Mengapa ada Ûlîl Amri, karena Nabi Muhammad Saw penutup nabi-nabi serta Nabi rahmatan lil `âlamin. Dalam Al-Quran ada 14 kata athî`û (=taatilah= fi`il amar). Ke-14 kata athî`û ternyata hanya dihubungkan dengan Allâh, Rasûl, dan Ûlîl Amri. Tidak ada satu pun kata athî`û dihubungkan dengan selain Allâh, Rasûl, dan Ûlîl Amri itu. Kata athî`û (fi`il amar, perintah) bukanlah kalimat bersyarat. Hal ini menunjukkan bahwa mentaati Allâh, mentaati Rasûl, dan mentaati Ûlîl Amri merupakan perintah yang wajib ditaati secara mutlak tanpa syarat, karena Allâh sebagai Muwakkil (yang mewakilkan), sedangkan Rasûl dan Ûlîl Amri sebagai Wakil (WakilNya atau khalifah fil ardhi).

Hakekat beragama sebenarnya adalah mentaati Allâh. Tapi karena Allâh itu Al-Ghaib (tidak menampakkan DiriNya di muka bumi dan tidak mungkin mengajari secara langsung kepada setiap manusia) maka Allâh lalu mengangkat WakilNya, yakni Rasûlullâh. Karena ada kaedah Wakil = Muwakkil, maka mentaati Rasûlullâh pada hakekatnya sama dengan mentaati Allâh. Demikian juga halnya dengan Ûlîl Amri sebagai Wakil Rasûlullâh, maka mentaati Ûlîl Amri pada hakekatnya sama dengan mentaati Rasûlullâh, sama dengan mentaati Allâh. Oleh karena itulah dalam Qs. 4/An-Nisa ayat 59 ini keharusan mentaati Allâh dilanjutkan dengan keharusan mentaati Rasûlullâh dan Ûlîl Amri. Dalam hadits-hadits Nabi, Ûlîl Amri itu mungkin merujuk kepada Khulafaur Rosyidin al-Mahdiyyin (Wakil-wakilnya kanjeng Nabi) atau Ulama Pewaris Nabi (Ulama yang mewarisi Ilmunya Nabi secara sempurna).

Mengkritisi pertanyaan tadi, mengapa manusia tidak bisa membedakan baik-buruk atau benar-salah? Ayat-ayat Al-Quran berikut menyebutkan iblis dan syetan sangat aktif membisikkan pandangan sesatnya kepada manusia:

Pertama, iblis bersumpah akan menciptakan pandangan yang baik kepada manusia, padahal buruk (karena tidak sejalan dengan Kehendak Allah):

Iblis berkata: "Ya Tuhan, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia)memandang baik (perbuatan yang tidak sejalan dengan Kehendak-Mu) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua (manusia akan mengikuti jejak iblis); kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka."( Qs. 15/Al-Hijr ayat 39-40)
Kemudian dalam Qs. 34/Saba` ayat 20 Allah menginformasikan tentang TERBUKTI-nya sumpah iblis tersebut:

Dan sesungguhnya iblis telah dapat membuktikan kebenaran sangkaannya terhadap mereka lalu mereka (manusia) mengikutinya, kecuali sebagian kecil orang-orang yang beriman.
Kedua ayat ini menegaskan bahwa iblis selalu menciptakan pandangan yang baik pada manusia, padahal menurut Allah buruk. Maksudnya, iblis selalu menggoda manusia sehingga manusia merasa beriman, merasa saleh, merasa taat beragama, merasa berakhlak mulia, dan perasaan-perasaan baik lainnya; padahal menurut Allah adalah tidaklah beriman, beragama yang salah, dan berakhlak buruk. Hanya orang yang sudah mencapai tingkatan IKHLAS saja yang tidak tergoda oleh iblis.

Orang ikhlas adalah manusia yang sudah mencapai martabat tinggi di sisi Allah, di atas orang yang bertakwa; sedangkan orang yang bertakwa di atas orang yang beriman. Orang yang ikhlas hanyalah sebagian kecil dari orang-orang yang bertakwa, sedangkan orang yang bertakwa adalah sebagian kecil dari orang-orang yang beriman. Artinya, orang yang tidak dapat terpengaruh oleh iblis itu sangat sedikit.



Kedua, syetan (dari bangsa jin dan bangsa manusia) selalu membisik-bisikkan pandangan sesatnya kepada setiap manusia, yang dirasakan oleh manusia sebagai pandangan yang baik (Qs. 114/An-Nas: 4-6). Sedangkan syetan itu merupakan musuh yang nyata (bukan musuh yang samar-samar) bagi manusia.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu. (Qs. 2/Al-Baqarah: 208)
Perintah masuklah ke dalam Islam secara ‘keseluruhan’nya ditujukan kepada orang-orang yang telah menyatakan dirinya beriman (telah beragama Islam). Artinya, orang yang sudah menyatakan beragama Islam haruslah masuk ke dalam Islam keseluruhannya, tidak sebagian-sebagian. Kemudian ditegaskan bahwa syetan itu ‘musuh yang nyata’ bagi manusia, yakni selalu aktif yuwaswisu fî shudûrin nâs =berbisik-bisik dalam dada manusia, dengan menciptakan pandangan yang baik pada agama dan keyakinan yang sesat sehingga diyakininya agama dan keyakinan yang dipeluknya itu baik dan benar; padahal tidak sejalan dengan Kehendak Tuhan. Artinya, syetan itu (baik dari bangsa jin ataupun bangsa manusia) benar-benar sebagai musuh yang nyata membelokkan orang-orang Islam dari kehendak Allah.

Ketiga, manusia selain memiliki musuh eksternal (iblis beserta bala tentaranya syetan-jin dan syetan-manusia) juga memiliki musuh internal, yakni nafsu yang selalu mendorong untuk melakukan perbuatan buruk, tapi sebagaimana iblis merasakannya sebagai sesuatu yang baik (Qs. 3/Ali Imran: 14). Al-Quran menegaskan bahwa nafsu selalu mendorong kepada perbuatan yang buruk, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhan (Qs. 12/Yusuf: 53). Tentang nafsu akan dijelaskan secara lebih rinci nanti.

Keempat, akibatnya sangat mengerikan. Karena memiliki keimanan yang keliru, maka kebanyakan manusia sangat menyesal pada saat kematiannya. Mohon Qs. 34/Saba` ayat 51-54 direnungkan dan dibaca secara berulang-ulang:

Dan (alangkah ngerinya) jika kamu (dibisakan) melihat ketika mereka (orang yang merasa beriman, padahal tidak mengenal Tuhan Yang Al-Ghaib) terperanjat ketakutan (pada saat kematiannya), maka mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk disiksa di tempat sesat)

Dan (ketika merasakan sakitnya siksaan) mereka berkata (memohon pertolongan Allâh): "Kami beriman kepadaNya!" (Kami beriman kepada Allâh, tapi mengapa kami disiksa? Kemudian Tuhan menyanggahNya: “Tidak! Mereka sama sekali tidak beriman)”Bagaimanakah mereka dapat mencapai (keimanan kepada Tuhan Yang Al-Ghaib) dari tempat yang jauh itu?” Dan sesungguhnya mereka telah mengingkari (Diri)-Nya (Yang Al-Ghaib) sebelum itu (ketika di dunia); dan mereka (ketika di dunia hanya) menduga-duga tentang (Tuhan) Yang Al-Ghaib dari tempat yang jauh.

Dan dihalangi antara mereka dengan apa yang mereka ingini (=ingin diterima keimanannya saat itu, atau dikembalikan ke dunia untuk taubat, atau dijadikan tanah) sebagaimana yang dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa dahulu. Sesungguhnya mereka dahulu (ketika di dunia) dalam keraguan yang mendalam (=tidak pernah yakin karena tidak pernah mengenali Tuhan Yang Al-Ghaib). (Qs. 34/Saba`: 54)
Qs. 34/Saba` ayat 51-54 ini memberikan peringatan betapa persoalan agama (keimanan, peribadatan, dan akhlak mulia) tidak boleh asal-asalan, tidak boleh berdasarkan informasi sepintas, tidak boleh berdasarkan informasi dari produk budaya dan akal pikiran. Akibatnya sangat fatal. Pada saat mati yang hanya satu kali terjadi, mati dalam keadaan su`ul khotimah (mati sesat). Na`udzu billâhi min dzâlik.
C. Pendidikan Akhlak untuk Mencapai Martabat Insân Kâmil

Pendidikan akhlak tidak bisa dipisah dari pendidikan manusia seutuhnya. Pendidikan akhlak justru diarahkan untuk mencapai manusia seutuhnya; atau dalam Islam, untuk mencapai martabat insân kâmil (manusia sempurna). Insân kâmil adalah hamba Allâh yang mengamalkan Islam kâffah (total) secara maksimal, yakni memenuhi perintah Allâh udkhulû fîs-silmi kâffah (Qs. 2/Al-Baqarah: 208). Menurut KH Muh. Munawwar Affandi (2002, 2004), memasuki Islam secara kâffah adalah dengan meng-Islamkan ke-4 unsur manusia, yakni: raga, hati, roh, dan rasa. Pandangan ini sejalan dengan Al-Qusyairi (Juhaya S. Praja, 1990: 149-150) yang mengemukakan adanya tiga alat dalam tubuh manusia dalam hubungannya dengan Allâh, yakni qolb yang berfungsi untuk mengetahui Sifat-sifat Allâh, ruh yang berfungsi untuk mencintai Allâh, dan sirr (rasa) yang berfungsi untuk melihat Allâh. Demikian juga Sufi Jawa, Pangeran Mangkunegoro IV (1811–1881 M), secara tersirat mengemukakan adanya empat unsur manusia ketika menjelaskan tentang sembah (ibadah), yakni: sembah raga (=ibadah raga), sembah cipta (=ibadah hati), sembah jiwa (=ibadah roh), dan sembah rasa (=ibadah rasa). (Muhammad Ardani, 1995).

Keempat unsur manusia dapat digambarkan sebagai berikut:


Keterangan Gambar:


1

= Raga

2

= Hati nurani

2b

= Hati sanubari

2c

= Akal

3

= Roh

4

= Rasa (sirr)






Gambar 1

Empat Unsur Manusia (Munawar Rahmat, 2010)

Uraian keempat unsur manusia sebagai berikut:

1) Pertama, jasad. Keberadaannya di dunia dibatasi dengan umur. Wujud nafsu manusia tidak lain adalah wujud jasad ini yang sengaja dicipta oleh allah untuk diuji. Karena wujud jasad ini sebagai ujian, maka oleh Allâh diberi hati (yakni hati sanubari) yang wataknya persis seperti iblis, yakni abâ wastakbara (takabur) dan anâ khoerun minhu (ujub, merasa lebih baik, bahkan dibandingkan dengan khalifahNya Allah sekali pun).

2) Kedua, hatinurani. Letaknya tepat di tengah-tengah dada. Tandanya deg-deg. Disebut juga dengan hati jantung. Hatinurani dijadikan Allâh dari cahaya, wataknya seperti para MalaikatNya Allah yang rela sujud (patuh dan tunduk) kepada wakilNya Allah di bumi (Qs. 2/Al-Baqarah: 30-34). Bukti adanya hati adalah dalam diri kita ada cinta dan benci.

3) Ketiga roh, ada tujuh berlapis-lapis. Letaknya di dalam hatinurani. Roh adalah Daya dan Kekuatan Tuhan yang dimasukkan ke dalam jasad manusia, lalu menandai dengan keluar-masuknya nafas, menjadi hidup seperti kita di dunia sekarang ini. Ciri adanya roh adalah kita dihidupkan di dunia ini (ditandai dengan keluar-masuknya nafas).

4) Keempat, sirr (rasa). Letaknya di tengah-tengah roh yang paling halus (paling dalam). Rasa inilah yang kembali ke âkhirat. Rasa adalah jatidiri manusia. Bukti adanya rasa adalah kita dapat merasakan berbagai hal dan segala macam (asin, pahit, getir, enak dan tidak enak, sakit dan sehat, senang dan susah, sakit hati, frustasi, dll).
Akal bukanlah unsur manusia melainkan pembantu utama hati; ibarat Perdana Menteri sebagai pembantu utama Raja, antara lain diungkapkan oleh Imam Ghazali (Ali Issa Othman, 1982). Oleh karena itu Al-Quran mengungkapkan tentang hati menggunakan ‘kata benda’ (karena merupakan salah satu unsur manusia) sedangkan kata akal menggunakan ‘kata kerja’ (karena sebagai fungsi dari hati). Jika Sang Raja baik, maka ia akan memerintah Perdana Menteri untuk menjalankan kebaikan-kebaikan bagi rakyat di negerinya; sebaliknya, jika Sang Raja angkara murka maka Sang Perdana Menteri akan diperintah untuk menjalankan proyek-proyek ambisiusnya yang merusak bangsa dan rakyat. Demikian juga hati. Jika hati nurani yang menjadi raja, maka sang akal akan memikirkan garapan dunia demi subhanaKa (Memahasucikan Allah), yakni untuk kebajikan dan kemaslahatan umat manusia sesuai dengan perintah Allah dan RasulNya. Tapi jika hati sanubari yang menjadi rajanya, maka sang akal akan digunakan untuk mengumbar nafsu dan syahwat serta memperkokoh watak ‘aku’-nya.

Untuk mencapai martabat insân kâmil (hamba Allah yang dipanggil ke surga-Nya) maka manusia yang sudah berwujud jiwa-raga haruslah mengalami proses taroqi (menaik) menuju Tuhan dengan menundukkan nafsu dan syahwat sekurang-kurangnya telah mencapai tangga nafsu muthmainnah, sebagaimana firmanNya:



Wahai jiwa yang tenang (nafsu muthmainnah). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho (nafsu rodhiyah) lagi diridhai-Nya (nafsu mardhiyah). Maka masuklah ke dalam (jama'ah) hamba-hamba-Ku (nafsu kamilah atau insân kâmil); dan masuklah ke dalam surga-Ku. (Qs. 89/Al-Fajr: 27-30)
Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa nafsu muthmainnah merupakan titik berangkat untuk kembali kepada Tuhan. Tapi dengan modal nafsu muthmainnah pun masih diperintah lagi oleh Allâh untuk menaiki tangga nafsu di atasnya: rodhiyah, mardhiyah, hingga kâmilah. Setelah itu Allâh sendiri yang akan menariknya (melalui fadhl dan rahmatNya) untuk mencapai martabat insân kâmil.

Ulama Sufi, antara lain Al-Ghazali (1989), menjelaskan 7 macam nafsu sebagai proses taroqi (menaik) manusia menuju Tuhan, yakni:



  1. Nafsu Amarah, dengan ciri-ciri: Sombong, iri-dengki, dendam, nuruti nafsu, serakah, jor-joran, senang marah, pembenci, tidak tahu kewajiban, akhirnya gelap tidak kenal Tuhan.

  2. Nafsu Lawwamah, dengan ciri-ciri: Enggan, cuek, senang memuji diri, pamer, dusta, mencari `aib orang, senang menyakiti, dan pura-pura tidak tahu kewajiban.

  3. Nafsu Mulhimah, dengan ciri-ciri: Suka memberi, sederhana, menerima apa adanya, belas kasih, lemah lembut, taubat, sabar, tahan menghadapi kesulitan, dan siap menanggung betapa beratnya menjalankan kewajiban.

  4. Nafsu Muthmainnah, dengan ciri-ciri: Senang beribadah, senang sodaqoh, mensyukuri nikmat dengan memperbanyak amal, tawakkal, ridha dengan ketentuan Allah, dan takut kepada Allah.

  5. Nafsu Rodhiyah, dengan ciri-ciri: Pribadi yang mulia, zuhud, lkhlas, wira`i, riyadhah, dan menepati janji.

  6. Nafsu Mardhiyah, dengan ciri-ciri: Bagusnya budi pekerti, bersih dari segala dosa makhluk, rela menghilangkan kegelapannya makhluk, dan senang mengajak serta memberi penerangan kepada roh-nya makhluk.

  7. Nafsu Kamilah, dengan ciri-ciri: `Ilmul-yaqin, `ainul-yaqin, dan haqqul-yaqin.

Ibn Araby (Masataka Takeshita, 2005; Munawar Rahmat, 2010a) membagi manusia ke dalam 3 golongan, yakni: Insân kâmil (nafsu Kamilah), monster berbutuh manusia (nafsu Amarah dan Lawwamah), dan manusia yang berproses menuju Insân kâmil (nafsu Mulhimah hingga Mardhiyah). Jika digambarkan, proses taroqi (naik) manusia menuju Tuhan sbb:






















Nafsu Kamilah

7




= Insân kâmil



















Nafsu Mardhiyah

6




= manusia yang diridhoi Tuhan




Nafsu Rodhiyah

5




= manusia yang ridho dengan Tuhan (ikhlas)




Nafsu Muthmainnah

4




= manusia bertaqwa



















Nafsu Mulhimmah

3




= manusia beriman




Nafsu Lawwamah

2




= monster bertubuh manusia (2)




Nafsu Amarah

1




= monster bertubuh manusia (1)


Gambar 2

Proses taroqi manusia menuju Tuhan

(Munawar Rahmat, 2010a)
Untuk mencapai martabat insân kâmil, maka nafsu kita seharusnya berada di level-7 (nafsu kamilah), tapi jangan diaku. Jangan diaku punya `ilmul-yaqin, `ainul-yaqin, dan haqqul-yaqin. Kalau diaku tetap saja nafsu yang dalam Qs. 12/Yusuf ayat 53 disebutkan sebagai: innan nafsa la-ammarôtun bis-sû-i (=karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan). Artinya, nafsu kamilah sekalipun akan dinilai Tuhan sebagai nafsu yang buruk (yang bisa mengantarkannya ke neraka); illâ mâ rohima robbî (kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku). Nafsu yang dirahmati Tuhan adalah nafsu yang bagus-bagus (mulhimah, muthmainnah, radhiyah, mardhiyah, dan kamilah) sebagai proses taroqi (menaik) karena ketaatannya kepada Allah dan RasulNya, bukannya yang di-‘aku’ sebagai prestasi mujahadah, riyadhoh dan riyalat-nya.

Tapi dengan welas asih dan pertolongan Allah, untuk dapat kembali kepada Tuhan hingga sampai dengan selamat – asalkan me-nafi-kan daya, kekuatan, dan wujud diri dan dunianya serta hanya meng-itsbat-kan DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib dalam rasa hatinya – maka dengan nafsu muthmainnah saja (level-4) sudah cukup mengantarkan jati-dirinya kembali kepada Tuhan dengan selamat dan bahagia. Tingkatan nafsu kamilah dapat dicapai setelah dirinya meninggalkan dunia yang fana ini.


D. Riyadhoh untuk Mencapai Martabat Insân Kâmil

Upaya mencapai martabat insân kâmil hanyalah melalui riyadhoh (berlatih terus-menerus) menundukkan nafsu dan syahwat. Nabi SAW menyebutnya jihad akbar, yakni perang untuk mengalahkan nafsu sendiri hingga tunduk dikendalikan oleh hatinurani (ketaatan mutlak kepada Allah dan RasulNya), jangan sampai dikendalikan oleh hati sanubari atau nafsu Oleh karena itu pendidikan akhlak harus bisa menundukkan nafsu, syukur-syukur dapat membunuhnya sebagaimana para Malaikatul Muqorrobun yang hanya tunduk dan patuh kepada Allah dan RasulNya. Ada 7 karakter ‘inti’ (sebagai dasar beragama) yang perlu dipersonalisasikan melalui riyadhoh, yakni:



    1. Tahap 1, Taubat. Orang yang berada pada tahap ini selalu menuduh kepada dirinya sendiri bahwa dirinyalah orang yang paling banyak sendiri dosa-dosanya, paling banyak sendiri salah dan kurangnya, paling apes, hina, nista, tidak bisa apa-apa dan tidak punya apa-apa, merasa jelek sendiri bahkan dibanding dengan kere di kolong jembatan sekali pun. Mereka sadar sebagai hamba yang disebutkan oleh Allah: Yâ ayyuhan-nâsu antumul-fuqorô (Wahai manusia, kalian adalah faqir). Karena faqir, maka rasa hatinya selalu berharap untuk dapat selalu dekat dengan Yang Tidak Punya Apes, Langgeng, Sempurna, dan Maha Kuasa. Mereka bukan berarti punya rasa rendah diri. Rasa hati di sini adalah tawadhu’, handap asor, wira’i, dan sekaligus menjaga akhlaqul-karimah. Ilmu mereka benar-benar bermanfaat karena mereka bisa membalik wataknya. Watak manusia yang apabila mendapat koreksi dan celaan biasanya kecewa, marah, dan tidak terima, hamba yang suka bertaubat bahkan sebaliknya. Mereka justru bersyukur. Semua koreksi dan celaan diterima sebagai datangnya peringatan dari Tuhannya untuk mawas diri dan koreksi diri. Bersyukur dan menyadari bahwa masih banyaknya kecerobohan dirinya, masih banyak salah dan menyepelekan urusan. Kemudian watak manusia yang apabila dipuji, lalu senang dan bangga. Justru bagi mereka diterima dengan rasa takut sekiranya sampai berani menduakan Tuhannya (musyrik); sebab segala puja dan puji hanyalah bagi DiriNya Ilahi. Berbangga diri termasuk perbuatan syirik.

    2. Tahap 2, Zuhud. Orang yang berada pada tahap ini mempunyai kepedulian yang tinggi memajukan lingkungannya (masyarakatnya dan bangsanya, sesuai dengan kemampuan masing-masing) tanpa pamrih. Mereka senang memberi, senang membantu, senang memberikan solusi-solusi yang termudah bagi lingkungannya, dan mereka benar-benar menjadi ‘ragi’ di lingkungannya. Lingkungan dijadikan lahan tambahnya ibadah dan amal sosial dalam memproses diri untuk mendekat kepada Allah. Tetapi rasa hati mereka hanya mengingat-ingat Allah. Apabila dirinya dimampukan Allah untuk memajukan lingkungannya (dengan mewujudkan bangunan yang bermanfaat dan berguna), maka yang disyukuri bukanlah wujudnya bangunan melainkan Diri Tuhannya yang telah menjadikan hatinya ‘mau’ membangun. Dengan begitu mereka terhindar dari 4 karakter ‘inti’ yang buruk (sebagai bencananya amal baik, bagaikan api yang membakar habis kayu kering), yakni takabur (sombong), sum’ah (berusaha agar orang lain tahu kehebatan dirinya), ujub (bangga diri: bangga dengan kepintarannya, popularitasnya, kayanya, dsb), dan riya (ketinggian derajatnya ingin diakui orang lain).

    3. Tahap 3, Qona`ah. Bukan sekedar menerima pemberian dari Tuhan dengan senang hati seberapa pun besarnya (besar atau kecil, banyak atau sedikit). Maksud qona`ah di sini adalah seseorang yang karena kuatnya tekad dalam membuktikan niatnya mendekatkan diri kepada Allah sehingga sampai dengan selamat bertemu dengan-Nya, maka ia akan dengan sungguh-sungguh berusaha mengurangi, syukur-syukur dapat menghilangkan dari dalam dirinya watak dan kehendak bangsa hewan.

    4. Tahap 4, Tawakkal `alallah. Orang yang tawakkal akan menyerahkan (mewakilkan) segala urusannya kepada Allah, sehingga pikirannya (kalau sudah tawakkal) tidak difungsikan lagi. Mereka benar-benar bergantung secara kuat kepada Allah. Ketika mendapat tugas yang – menurut ukuran umum sangat berat, mereka jalankan dengan ringan-ringan saja, karena apa pun yang terjadi Allah-lah yang mengatur, mengawasi, mengendalikan, menjaga, dan menolongnya.

    5. Tahap 5, `Uzlah, yakni menyendiri di tengah-tengah kalangan. Maksudnya, di kalangan masing-masing mereka berusaha keras untuk maju dan profesional dalam menyiapkan diri sebagai SDM yang sebesar-besarnya bermanfaat bagi kemajuan lingkungannya. Namun tekadnya menyendiri. Tidak sebagaimana kebanyakan manusia di muka bumi yang tekadnya bersenang-senang, pamer, jor-joran, dan berbangga-bangga dengan harta, kedudukan, kehormatan, dan gengsi harga diri. Tekad orang yang `uzlah sama sekali bukan untuk bersenang-senang; apalagi hingga mengumbar hawa nafsu dan syahwat. Tekadnya menyendiri ikhlas seikhlas-ikhlasnya.

    6. Tahap 6, Mulazimatu Dzikr (melanggengkan zikir). Maksudnya mengeluarkan dari dalam hati ingatan kepada apa saja selain DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib.

    7. Tahap 7, Sabar, yakni selalu dengan sadar dan rela memaksa jiwa-raganya sendiri hingga selalu mau melaksanakan perintah Allah dan RasulNya. Shalat ( shalat 5 waktu, shalat malam, dan shalat-shalat sunat) dikerjakannya dengan khusyu` dan sungguh-sungguh, sehingga shalatnya berdiri-tegak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar. Zakat, shodaqoh, infaq, dan seluruh ibadah harta dijalaninya. Pertama kali memang dipaksakannya, karena masih merasakan sebagai harta miliknya. Tapi lama kelamaan dirasakannya ringan-ringan saja, karena sekarang sudah merasakannya sebagai harta milik Allah. Dirinya hanya diamanati saja untuk mengelola harta sesuai Kehendak Allah dan RasulNya. (KH Moh. Munawwar Affandi, 2002, 2004)

Ke-7 tahapan riyadhoh di atas harus ditanamkan secara bertahap, yang secara visual dapat digambarkan sebagai berikut:




7.

TAUBAT

ZUHUD

QONA`AH

TAWAKKAL

`UZLAH

MULAZIMATU DZIKR

SABAR

6.

TAUBAT

ZUHUD

QONA`AH

TAWAKKAL

`UZLAH

MULAZIMATU DZIKR




5.

TAUBAT

ZUHUD

QONA`AH

TAWAKKAL

`UZLAH







4.

TAUBAT

ZUHUD

QONA`AH

TAWAKKAL










3.

TAUBAT

ZUHUD

QONA`AH













2.

TAUBAT

ZUHUD
















1.

TAUBAT



















Gambar 3

Tahap-tahap penanaman 7 karakter ‘inti’



untuk menundukkan nafsu
Secara operasional, ke-7 karakter ‘inti’ itu harus ditanamkan secara bertahap dan berurutan sebagai berikut:

  1. Menanamkan taubat, hingga benar-benar merasakan bahwa dirinya paling banyak melakukan dosa-dosa dan kesalahan, lalu dirinya bangkit untuk selalu ber-istighfar. Dosa dan kesalahan yang selalu dan sering dilakukan (oleh orang yang paling taat beragama sekalipun) adalah: pertama, lupa kepada Tuhan (lupa berzikir), padahal seharusnya selalu ingat Tuhan, sekurang-kurangnya ketika sedang shalat (jangan sampai shalatnya divonis sâhûn [=lalai, lupa berzikir] yang diancam dengan neraka); kedua, masih merasakan wujud (padahal yang Wujud hanyalah Tuhan); ketiga, masih merasakan punya daya dan kekuatan (sehingga kita sering merasa pintar, merasa kaya, merasa hebat, dll), padahal sebenarnya dipintarkan, dikayakan, atau dibuat hebat oleh Tuhan untuk diuji (apa lulus atau gagal); dan keempat, masih kurang dalam melakukan ibadah dan amal sosial. Ingat, para Nabi dan para Rasul saja (padahal mereka manusia-manusia suci) selalu bertaubat. Nabi Muhammad SAW mengungkapkan, bahwa dirinya bertaubat paling sedikit 70 kali dalam sehari-semalam.

  2. Dengan tetap dalam kondisi taubat, lalu berusaha zuhud. Orang yang zuhud bukanlah sekedar bersungguh-sungguh dalam beribadah, melainkan juga mempunyai kepedulian yang tinggi untuk memajukan lingkungannya.

  3. Dengan tetap dalam kondisi taubat dan setelah karakter zuhud mulai tertanam, lalu berusaha menanamkan karakter qona`ah, yakni dengan sungguh-sungguh berusaha mengurangi, syukur-syukur dapat menghilangkan dari dalam dirinya watak dan kehendak bangsa hewan.

  4. Dengan tetap dalam kondisi taubat dan zuhud, dan karakter qona`ah sudah mulai tertanam, lalu berusaha menanamkan karakter tawakkal `alallah, yakni mewakilkan segala urusan kepada Allah. Apa pun hasilnya, menyenangkan atau tidak menyenangkan (menurut ukuran nafsu) ia terima dengan senang hati, karena hal itu adalah keputusan terbaik dari Allah bagi dirinya.

  5. Dengan tetap dalam kondisi taubat, zuhud dan qona`ah, dan karakter tawakkal `alallah sudah mulai tertanam, lalu berusaha menanamkan karakter `uzlah. Dalam bekerja mereka bekerja secara professional dan berdisiplin tinggi, tapi niatnya benar-benar lillah dan hatinya hanya ingat Allah. Tekad kerja kerasnya tidak seperti kebanyakan orang untuk mengumpulkan harta kekayaan dan jabatan, melainkan untuk menambah ibadah dan amal sosial. Rasa hatinya hanya mengingat-ingat DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib.

  6. Dengan tetap dalam kondisi taubat, zuhud, qona`ah dan tawakkal `alallah, dan karakter `uzlah sudah mulai tertanam, lalu berusaha menanamkan karakter mulazimatu dzikr (langgengnya zikir), yakni mengeluarkan dari dalam hatinya ingatan kepada apa saja selain DiriNya Ilahi Yang Al-Ghaib.

  7. Dengan tetap dalam kondisi taubat, zuhud, qona`ah dan tawakkal `alallah dan `uzlah, dan karakter mulazimatu dzikr sudah mulai tertanam, lalu berusaha menanamkan karakter sabar, yakni selalu dengan sadar dan rela memaksa jiwa-raganya sendiri hingga selalu mau melaksanakan perintahnya Allah dan RasulNya.

Dengan tertanamnya 7 karakter ‘inti’, maka nyaris otomatis segala karakter yang baik-baik (seperti: jujur, amanah, adil, ihsan, bertanggung-jawab, menolong orang, tenggang rasa, dan lain-lainnya) akan tertanam pula, hanya dengan penjelasan sepintas saja. Bersamaan dengan menanamkan 7 karakter ‘inti’ yang baik, juga berusaha keras menghilangkan 4 karakter ‘inti’ yang buruk, bagai api yang memakan habis kayu kering, yakni takabur (merasa dirinya lebih baik: lebih pintar, lebih tahu, dan perasaan lebih-lebih lainnya, bahkan dibanding Utusan Tuhan sekalipun; persis seperti iblis yang sombong), sum’ah (berusaha agar orang lain tahu kehebatan dirinya), ujub (bangga diri: bangga dengan kepintarannya, popularitasnya, dsb), dan riya (bukan sekedar pamer, tapi kehebatannya ingin diakui orang lain). Jika ke-4 karakter ‘inti’ yang buruk ini terkikis, maka nyaris otomatis karakter-karakter buruk lainnya pun (seperti: pemarah, iri-dengki, hasud, dusta, dll) akan hilang dengan sendirinya, hanya dengan penjelasan sepintas saja.


E. Penutup

Akhlak bukanlah sekedar moralitas biasa melainkan merupakan misi utama agama Islam. Para Nabi/Rasul diutus ke dunia ini justru untuk menyempurnakan akhlak mulia. Oleh karena itu pendidikan akhlak tidak bisa dilakukan dengan biasa-biasa melainkan harus dilakukan secara sungguh-sungguh.

Pendidikan akhlak dalam Islam dimaksudkan untuk meningkatkan derajat manusia agar mencapai martabat insan kamil (manusia sempurna). Ada tujuh tangga nafsu yang harus dilalui oleh manusia jika ingin mencapai martabat insan kamil. Pertama harus mampu menundukkan kedua nafsu yang buruk-buruk, yakni nafsu amarah dan lawwamah. Kemudian mengisinya dengan nafsu yang baik-baik, dimulai dengan nafsu mulhimah (seperti memaksanakan diri untuk beribadah dan menghindari larangan-larangan Allah); kemudian masih harus ditingkatkan lagi hingga sekurang-kurangnya mencapai tangga nafsu keempat, yakni nafsu muthmainnah (sepeerti senang beribadah, senang bersedekah, memiliki kepedulian yang tinggi). Jika sudah mencapai tangga nafsu muthmainnah ini maka Allah sendiri yang akan menariknya hingga orang itu akan dimampukan mencapai tangga-tangga nafsu di atasnya hingga mencapai nafsu kamilah (insan kamil). Untuk itu pendidikan akhlak yang perlu dilakukan bukan sekedar pendidikan biasa saja (seperti ceramah dan kuliah) melainkan perlu dilakukan dengan cara riyadhoh, yakni pendidikan yang penuh sadar, ketat, sungguh-sungguh, dengan selalu memohon dibukakan pintu hidayah agar selalu dimaukan dan dimampukan Tuhan dalam berakhlaqul karimah.
REFERENSI
Al-Qur`ân dan Terjemahnya, Departemen Agama RI (dalam Al-Qur`ân Digital).

Affandi, KH Muhammad Munawwar (2002). Risalah Ilmu Syaththariyah: Jalan Menuju Tuhan. Bandung: Pustaka Pondok Sufi.


Affandi, KH Muhammad Munawwar (2004). Menggagas Nasib Bangsa Ke Depan dari Sudut Pandang Ahladz Dzikr. Tanjunganom Nganjuk: Pondok Sufi.
Ardani, Moh. (1995). Al-Quran dan Sufisme Mangkunegara IV (Studi Serat-serat Piwulang). Disertasi yang dibukukan. Yogyakarta: PT Dana Bhakti Wakaf.
Baedhowi (2010), “Pembinaan Akhlak dan Karakter Bangsa di Lingkungan Sekolah”, Makalah yang disampaikan dalam Rapat Kajian “Pembinaan Akhlak dan Karakter Bangsa di Lingkungan Sekolah” di Gedung Dewan Pertimbangan Presiden Jl. Veteran III No. 2 Jakarta, tanggan 1 Oktober 2010.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad (1989), Ihya` Al-Ghazali, Jilid 7, Terjemahan Prof. Tk. H. Ismail Yakub, SH, MA, Jakarta Selatan: CV Faizan.
Kemdiknas (2010). Bahan Pelatihan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa

Miskawaih, Ibn (1994). Menuju Kesempurnaan Akhlak: Buku Daras Pertama tentang Filsafat Etika. Terjemahan. Bandung: Mizan.


Muthahhari, Murtadha (1995). Falsafah Akhlak: Kritik atas Konsep Moralitas Barat. Terjemahan Faruq bin Dhiya’. Jakarta: Pustaka Hidayah.

Othman, Ali Issa (1982), Manusia Menurut Al-Ghazali, terjemahan Johan Smith & Anas Mahyudin Yusuf, Bandung: Pustaka.


Praja, Juhaya S. (1990). „TQN Pondok Pesantren Suryalaya dan Perkembangannya Pada Masa Abah Anom (1950-1990)“, dalam Nasution, Editor (1990). Thoriqot Qodiriyyah Naqsyabandiyyah: Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya. Tasikmalaya: Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyah (IAILM).
Rahmat, Munawar (2010). Implikasi Konsep Insân kâmil dalam Pendidikan Umum di Pondok Sufi Pomosda. Disertasi pada Sekolah Pascasarjana UPI. Tidak diterbitkan.
Rahmat, Munawar (2010a). Martabat Asy-Syaththar: Menciptakan Insân kâmil di Pondok Sufi Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa Tanjunganom Nganjuk. Jurnal Al-Qalam IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Vol. 27 No. 1 (Januari-April 2010) ISSN: 1410-3222 (Akreditasi SK Dikti Depdiknas No. 108/ DIKTI/Kep/2007, tgl 23 Agustus 2007).
Sauri, Sofyan (2011). Filsafat dan Teosofat Akhlak: Kajian Filosofis dan Teosofis tentang Akhlak, Karakter, Nilai, Moral, Etika, Budi Pekerti, Tatakrama, dan Sopan Santun. (Editor: Munawar Rahmat). Bandung: Rizki Press.
Takeshita, Masataka (2005), Insân kâmil Pandangan Ibnu `Arabi, Sebuah Disertasi, Surabaya: Risalah Gusti.

1 Dipresentasikan dalam Seminar Nasional “Membangun Karakter Muslim Berdasarkan Al-Quran dan Hadits” di Aula Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, 18 Desember 2010.

2 Dr. Munawar Rahmat, M.Pd. adalah Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Dosen Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPP ADPISI), dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

dari 14



Yüklə 190,1 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə