Peradaban islam di persi



Yüklə 0,61 Mb.
səhifə2/10
tarix23.01.2018
ölçüsü0,61 Mb.
#40237
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

2.2.d. Agama

Kuil, meskipun berfungsi untuk tujuan keagamaan, namun berguna juga sebagai sumber penghasilan. Terilhami oleh para raja Babylon, Persia menerapkan konsep pajak kuil wajib, yaitu bahwa semua penduduk harus membayar sejumlah besar pajak atau zakat kepada kuil di daerah mereka.



    1. Kekaisaran Persia Kedua: Kekaisaran Seleukus (330SM ~ 248SM)

Pada tahun 330SM Kekaisaran Akhemeniyah diserang oleh Kerajaan Yunani yang di pimpin salah satu jenderal dari Alexander Agung yang bernama Seleukus dan lahirlah pemerintahan baru Persia yaitu Kekaisaran Seleukus dari Yunani. Seleukus mengangkat dirinya menjadi Kaisar setelah Alexander Agung wafat.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/b/b0/diadochen1.png/300px-diadochen1.png

Setelah Aleksander wafat, kekaisarannya terpecah menjadi empat kerajaan yaitu;

Kerajaan Ptolemaik (biru tua) , Kekaisaran Seleukia (kuning), Kerajaan Pergamon (jingga), dan Kerajaan Makedonia (hijau).
Ketika Alexander menguasai Persia, Alexander mengambil gelar Persia "Raja dari Segala Raja" (Shahanshah) dan mengadopsi beberapa ciri khas Persia dalam hal pakaian dan kebiasaan di istananya. Yang paling terkenal adalah adat proskynesis, kemungkinan adat mencium tangan secara simbolis, atau sujud di tanah, yang biasa orang Persia lakukan di depan atasan mereka. Orang Yunani menganggap bahwa gerakan tersebut hanya boleh dilakukan kepada dewa dan mereka percaya bahwa Alexander berniat mendewakan dirinya dengan cara menyuruh orang-orang melakukan itu padanya. Akibatnya dia kehilangan banyak simpati dari para anak buahnya, dan pada akhirnya dia meninggalkan kebiasaan tersebut.

Pada puncak kejayaannya, kekaisaran Seleukus meliputi Anatolia tengah, Levant, Mesopotamia, Persia, dan juga Turkmenistan, Pamir serta sebagian Pakistan modern.

Keaisaran Seleukia merupakan pusat penting kebudayaan Hellenistik yang menjaga keberlangsungan adat Yunani dan tempat elit politik Yunani-Makedonia mendominasi, sebagian besar di daerah perkotaan. Populasi Yunani di kota-kota yang menjadi elit dominan merupakan para emigran dari Yunani. Ekspansi Seleukia ke Anatolai dan Yunani secara tiba-tiba terhenti setelah kekalahan Seleukia oleh pasukan Romawi. Usaha mereka untuk mengalahkan musuh bebuyutan mereka Mesir Ptolemaik dipersulit oleh tuntutan-tuntutan Romawi. Sebagian besar wilayah kekaisaran ditaklukan oleh bangsa Parthia di bawah Mithridates I dari Parthia pada pertengahan abad ke-2 SM, namun para raja Seleukia terus memerintah wilayah yang kecil di Suriah hingga invasi oleh raja Armenia Tigranes Agung dan akhirnya Seleukia diruntuhkan oleh jenderal Romawi Pompeius.

Secara geografis Kekaisaran Seleukia merentang dari Laut Aigea hingga ke Afghanistan, hingga mempersatukan berbagai ras dan bangsa: antara lain bangsa Yunani, Persia, Media, Yahudi, India, dll. Para penguasanya berniat untuk menerapkan kebijakan kesatuan rasial yang dimulai oleh Aleksander. Pada 313 SM, gagasan Hellenis telah mulai ekspansinya yang berlangsung selama hampir 250 tahun di lingkungan budaya Timur Dekat, Timur Tengah, dan Asia Tengah. Kekaisaran ini memerintah dengan membangun ratusan kota untuk maksud-maksud perdagangan dan hunian. Banyak di antara kota-kota itu mulai – atau dipaksa – mengadopsi pemikiran filsafat, rasa keagamaan, dan politik Hellenis. Gagasan-gagasan budaya, keagamaan dan filsafat Hellenis disintesiskan dengan apa yang ada di masyarakat setempat dengan tingkat keberhasilan yang berbeda-beda – dengan hasil kadang-kadang kedamaian dan pemberontakan secara bersamaan di berbagai wilayah kekaisaran.



    1. Kekaisaran Persia Ketiga: Kekaisaran Parthia (247SM ~ 224M)

Kekaisaran Parthia dikenal pula sebagai Kekaisaran Arsakid. Nama Arsakid berasal dari Arsakes I dari Parthia yang, sebagai pemimpin suku Parni, mendirikan kekaisaran ini pada pertengahan abad ke-3 SM setelah dia menaklukkan wilayah Parthia di timur laut Iran, yang ketika itu merupakan sebuah kesatrapan (provinsi) yang memberontak terhadap Kekaisaran Seleukia. Mithridates I dari Parthia (berkuasa sek. 171–138 SM) sangat meluaskan kekaisaran dengan merebut Media dan Mesopotamia dari kekuasaan Seleukia. Pada puncak kejayaannya, Kekaisaran Parthia terbentang dari bagian utara Efrat, di tempat yng kini menjadi Turki tenggara, hingga Iran timur. Kekaisaran ini, terletak di jalur perdagangan Jalan Sutra antara Kekaisaran Romawi di Cekungan Mediterania dan Kekaisaran Han di Cina, menjadi pusat perdagangan dan perniagaan.

Bangsa Parthia banyak mengadopsi seni, arsitektur, kepercayaan keagamaan, dan lambang kerajaan dari kekaisaran mereka yang memiliki kebudayaan yang beragam. Di Kekaisaran Parthia terdapat kebudayaan Persia, Hellenistik, serta banyak kebudayaan lokal. Kira-kira selama separuh masa keberadaannya, para penguasa Parthia mengadopsi kebudayaan Yunani, meskipun pada akhirnya menggunakan tradisi Iran. Para penguasa Parthia memiliki gelar "Raja Segala Raja" dan mengklaim sebagai pewaris takhta Kekaisaran Akhemeniyah; dan memang, mereka menerima banyak raja lokal sebagai negara bawahan yang oleh Kekaisaran Akhemeniyah ditunjuk secara terpusat, meskipun sebagian besar sebagai satrap yang otonom. Kekaisaran Parhia memang menunjukkan sejumlah kecil satrap, sebagian besar di luar Iran, namun kesatrapan-kesatrapan ini lebih kecil dan kurang berkuasa dibanding kesatrapan pada masa Akhemeniyah. Dengan perluasan kekuasaan Parthia, pusat pemerintahan berpindah dari Nisa, Turkmenistan ke Ktesiphon di sepanjang Tigris (sebelah selatan Baghdad modern, Irak), meskipun beberapa tempat lainnya juga digunakan sebagai ibu kota.

Musuh awal Kekaisaran Parthia adalah adalah Kekaisaran Seleukia di barat dan bangsa Skythia di timur. Akan tetapi, seiring Partia meluas ke arah barat, mereka mulai menghadapi konflik dengan Kerajaan Armenia, dan pada akhirnya dengan Republik Romawi akhir. Romawi dan Parthia bersaing satu sama lain untuk menjadikan raja-raja Armenia sebagai klien bawahan mereka. Parthia dengan mudah mengalahkan Marcus Licinius Crassus pada Pertempuran Carrhae pada tahun 53 SM, dan pada tahun 40–39 SM, pasukan Parthia merebut seluruh Levant, kecuali Tyre, dari kekuasaan Romawi. Akan tetapi, Markus Antonius memimpin serangan balasan terhadap Parthia dan beberapa kaisar Romawi menginvasi Mesopotamia selama Perang Romawi-Parthia. Romawi beberapa kali menaklukkan Kota Seleukia dan Ktesiphon selama konflik tersebut, namun tidak pernah mampu menguasainya untuk waktu yang lama. Perang saudara yang sering terjadi antara para pesaing takhta Parthia terbukti lebih berbahaya daripada invasi asing, dan kekuasaan Parthia runtuh ketika Ardashir I, penguasa Estakhr di Fars, memberontak terhadap Parthia dan membunuh pemimpin terakhir mereka, Artabanos IV, pada tahun 224 M. Ardashir mendirikan Kekaisaran Sassaniyah, yang berkuasa di Iran dan Timur Dekat hingga penaklukan Muslim pada abad ke-7 M, meskipun dinasti Arsakid tetap bertahan melalui Dinasti Arsakid Armenia.


    1. Kekaisaran Persia Keempat: Kekaisaran Sassania (226 M–651 M)

2.5.a. Kekuasaan Kekaisaran Sassania

Kekaisaran Sassania merupakan Kekaisaran Persia pra-Islam terakhir dan dipimpin oleh Dinasti Sassania pada tahun 224 hingga 651 M. Kekaisaran Sassania, yang menggantikan Kekaisaran Parthia atau Kekaisaran Arkasid, diakui sebagai salah satu kekuatan utama di Asia Barat, Selatan, dan Tengah, bersama dengan Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Bizantium, dalam periode selama lebih dari 400 tahun.

Kekaisaran Sassania didirikan oleh Ardashir I, setelah keruntuhan Kekaisaran Parthia dan kekalahan raja Parthia terakhir, Artabanos IV dan kekaisaran ini berakhir ketika Syahansyah (Raja Segala Raja) Sasania terakhir, Yazdegerd III (632–651), kalah dalam perjuangan selama 14 tahun untuk menyingkirkan kekhalifahan Islam yang pertama, yaitu pendahulu dari kekaisaran-kekaisaran Islam lainnya. Wilayah kekaisaran ini meliputi wilayah yang kini menjadi Iran, Irak, Armenia, Afganistan, bagian timur Turki, dan sebagian India, Suriah, Pakistan, Kaukasia, Asia Tengah dan Arabia. Selama pemerintahan Khosrau II (590–628), Mesir, Yordania, Palestina, Israel, dan Libanon juga sementara waktu merupakan wilayah kekaisaran ini.

Bangsa Sassania menamakan kerajaan mereka Eranshahr Eranshahr.svg (Wilayah kekuasaan bangsa Iran (Arya)) atau Ērān dalam bahasa Persia Pertengahan, yang menghasilkan istilah Iranshahr and Iran dalam bahasa Persia Baru. Masa kekuasaan Sassania terbentang sepanjang periode Abad Kuno Akhir (bahasa Inggris: Late Antiquity), dan dianggap sebagai salah satu periode yang paling penting dan berpengaruh dalam sejarah Iran. Dalam banyak hal periode Sassania menyaksikan pencapaian tertinggi kebudayaan Persia, dan melambangkan kemegahan Kekaisaran Iran terakhir sebelum penaklukan muslim dan berkembangnya agama Islam.

Menurut legenda, veksiloid Kekaisaran Sassania adalah Derafsh Kaviani. Diduga juga bahwa peralihan menuju Kekaisaran Sassania melambangkan akhir perjuangan etnis proto-Persia melawan kerabat etnis migran dekat mereka, yakni bangsa Parthia, yang tempat asalnya adalah di Asia Tengah.

Persia memiliki pengaruh yang cukup besar pada kebudayaan Romawi selama masa Sassania, dan bangsa Romawi menganggap bangsa Persia Sassania sebagai satu-satunya bangsa yang berstatus sama dengan mereka. Hal ini diperlihatkan misalnya dalam surat-surat yang ditulis oleh Kaisar Romawi kepada Syahansyah Persia, yang pada alamatnya bertuliskan kata "kepada saudaraku". Pengaruh kebudayaan Sassania terbentang jauh melebihi batas-batas wilayah kekaisaran mereka, dan bahkan menjangkau sampai Europa Barat, Afrika, Cina, dan India, serta berperan penting dalam pembentukan seni-seni Abad Pertengahan di Eropa dan Asia.

Pengaruh tersebut terus terbawa ke masa awal perkembangan dunia Islam. Kebudayaan yang unik dan aristokratik dari dinasti ini telah mengubah penaklukan Islam atas Iran menjadi sebuah Renaisans Persia. Banyak hal yang kemudian dikenal sebagai kebudayaan, arsitektur, dan penulisan Islam serta berbagai keahlian lainnya, diperoleh dari Sassania Persia dan kemudian disebarkan pada dunia Islam yang lebih luas. Sebagai contohnya ialah bahasa resmi Afghanistan, yaitu Bahasa Dari yang merupakan dialek dari Bahasa Persia, merupakan perkembangan dari bahasa kerajaan bangsa Sassania.

2.5.b. Agama

Pada zaman kekaisaran Sassania ini, agama yang berkembang tidak hanya Zoroastrianisme (agama negara) saja, akan tetapi sudah ada penyebaran dari agama yang lain juga seperti agama Kristen Nestorian dan Yudaisme.



  1. PENAKLUKAN ISLAM

Penaklukan Muslim di Persia merupakan konflik yang berujung pada jatuhnya Kekaisaran Sassaniyah pada tahun 644, keruntuhan dinasti Sassaniyah pada tahun 651 dan pada akhirnya kemunduran agama Zoroaster di Persia. Orang Arab pertama kali memasuki wilayah Sassaniyah pada tahun 633, ketika jenderal Khalid bin Walid menginvasi daerah yang kini disebut Irak. Seiring dipindahkannya Khalid ke front Romawi di Levant, kaum Muslim akhirnya kehilangan kekuasaan mereka akibat serangan balik Persia. Invasi kedua dimulai pada tahun 636 di bawah Saad bin Abi Waqqas, ketika suatu kemenangan kunci pada Pertempuran Qadisiyyah berujung pada berakhirnya kendali Sassaniyah di Persia barat secara permanen. Pegunungan Zagros kemudian menjadi penghalang alami antara Kekhalifahan Rasyidin dan Kekaisaran Sassaniyah. Akibat serangan terus-menerus oleh Persia terhadap daerah tersebut, Khalifah Umar memerintahkan dilancarkannya invasi penuh terhadap Kekaisaran Persia Sassaniyah pada tahun 642, yang selesai dengan penaklukan penuh Sassaniyah pada pertengahan tahun 644. Penaklukan cepat Persia dalam serangkaian serangan bercabang banyak yang terkoordinasi secara baik, diarahkan oleh Khalifah Umar dari Madinah ribuan mil dari medan perang di Persia, merupakan pencapaian terbesarnya, menjadikannya dikenal sebagai seorang ahli strategi politik dan militer yang piawai.
Para sejarawan Iran berusaha untuk membela leluhur mereka dengan menggunakan sumber-sumber Arab untuk menunjukkan bahwa "bertentangan dengan klaim beberapa sejarawan, bangsa Iran, pada kenyataannya, bertempur lama dan gigih melawan bangsa Arab yang datang menyerang." Setelah ditaklukan secara politik, bangsa Persia berusaha mempertahankan diri dengan cara menjaga bahasa dan kebudayaan Persia. Meskipun demikian, agama Islam akhirnya dianut oleh banyak orang, kemungkinan untuk alasan politik atau sosial-kultural, dan menjadi agama yang dominan. Persia merupakan pintu ekspansi yang berimplikasi pada keberhasilan futuhat-futuhat setelahnya yakni di sebelah timur yang kemudian membawa kepada takluknya india
Sasaran sa'ad (yang pada waktu itu menjadi komandan pasukan) berikutnya adalah Mada'in, ibu kota Persia. Ia bergerak menyebrangi sungai Tigris. Pada bulan Juli 637, Sa'ad melenggang memasuki ibu kota dengan penuh kemenangan karena kota tersebut telah ditinggalkan oleh pasukan dan rajanya. (Hitti, 2010: 195)
Sa'ad diperintahkan berhenti oleh 'Umar, agar tidak terlalu dalam memasuki wilayah Persia. Akan tetapi, persiapan pasukan di Persia untuk merebut kembali Irak memaksa khalifah untuk membatalkan perintahnya yang akhirnya mengizinkan pasukan tersebut untuk maju. (Al-Faruqi, 1998: 248)
Penaklukan dilanjutkan di Jalula, berbatasan dengan dataran tinggi Persia. Disusul pertempuran lain di Mawshil semakin memperparah kekalahan Persia. Pertempuran efektif terakhir berlangsung di Nihawand. Pasukan Islam yang dipimpin oleh keponakan Sa'ad berhasil menghancurkan sisa-sisa pasukan Yazdagird. Khuzistan, Elam, Pars, dan Persepolis berhasil ditaklukan pada tahun 640. Di susul dengan Khurasan, Makran dan Baluchistan.
Pada tahun 651, Yazdagird dibunuh oleh jendralnya sendiri di Marw. Dengan kematiannya, sebuah kerajaan yang memerintah selama 12 abad sudah berakhir. (Hitti, 2010: 197). Dalam sejarahnya, setelah raja Yazdagrid meninggal maka, seluruh keluarganya menjadi tawanan umat islam termasuk di dalamnya putri-putri persi, mereka di bawah ke Madinah untuk menghadap kholifah Umar. setelah sampai di Madinah para tawanan wanita yang merupakan putri-putri persi dipersilahkan untuk memilih suami dari kalangan orang arab dan diantara putri persi tersebut adalah Sahr Banu yang akhirnya menunjuk Husain bin Ali bin Abi Tholib, cucu Nabi sebagai suaminya, inilah akhirnya mengapa aliran islam Syiah berkembang pesat di persi.
3.1. Masyarakat baru islam di Persia (Iran)
Persia (sekarang Iran) pada masa kontemporer, menjadi kekuatan baru timur tengah. Keberaniannya menghadapi segala bentuk intimidasi dan hegemoni global cukup menjadi bukti hal tersebut.
Dahulu Persia menjadi sebuah kekuatan yang besar. Historisitas inilah yang membentuk karakter Persia menjadi egara yang tangguh dan tahan ancaman. Karakter yang seperti ini pula yang melatar belakangi begitu sulitnya islam menaklukkan negeri adi daya pada masanya ini.
Jika dibedakan penaklukan irak lebih sulit dari pada penaklukan suriah (sam), maka penaklukan Persia jauh lebih sulit. Salah satu gambaran sulitnya penaklukan Persia adalah, untuk penaklukan pertama, tentara muslim harus melakukan gencatan senjata selam hampir sepuluh tahun.
Menurut Hitty, watak masyarakat Persia yang seperti ini dipengaruhi kuat oleh nilai historisitas yang mereka miliki. Bahwa Negara Persia adalah Negara yang sudah terbiasa hidup damai dan penuh kebebasan, sehingga ketika islam mecoba dan berusaha masuk dengan menaklukkan mereka, islam justru mengalami perlawanan yang dahsyat. Namun demikian, dengan usaha yang sungguh-sungguh tentara muslim, melalui tangan sa’d, islam berhasil menaklukkan Persia.
Selepas penaklukan Persia, islam berkembang dan menjadi corak serta karakter masyarakat Persia. Selama tiga abad pemerintahan bangsa arab , bahasa arab menjadi bahasa resmi dan bahasa pergaulan masyarakat yang berbudaya, dan hingga batas tertentu juga menjadi bahasa tehnis sehari-hari. Namun semangat lama bangsa taklukan itu kembali muncul dan mereka mulai melestarikan bahasa asli mereka yang telah lama terabaikan.
Selain itu, Persia banyak berperan dalam gerakan Qaramithah yang selama bertahun-tahun berhasil mengguncang fondasi kekhalifahan. Ia juga terkait erat dengan perkembangan sekte syiah dan munculnya dinasti fatimiyah yang menguasai mesir lebih dari dua abad.
Dalam bidang pengetahuan, masyarakat Persia terkenal dengan kecerdasannya. Beberapa bintang yang paling brilian dalam cakrawala intelektual islam selama tiga abad pertamanya adalah orang-orang Iran yang telah masuk islam.

  1. DINASTI – DINASTI ISLAM YANG BERKUASA DI PERSI



    1. DINASTI BUWAIHI

http://islamicbooks.info/h-24-arabic/buwaihi%20map.gif

Pada masa dinasti abbasiyah salah satu klan yang mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan peradaban islam adalah klan buwaihi. Keberadaan klan ini telah memberikan citra terhadap perkembangan peradaban islam masa lalu dan memberikan inspirasi bagi generasi selanjutnya, khususnya bagi orang-orang syi’ah.

Kemunculan dinasti buwaihi di panggung kekuasaan berawal dari keberhasilan Mardawij bin Zayyar menaklukkan Ray dan Isfahan pada 927 M. dalam penaklukan ini Mardawij membangun kekuatan militer yang kuat dengan merekrut para nelayan dari tepi pantai laut kaspia. Mereka-mereka ini berasal dari suku Dailam,6 diantara mereka terdapat Ali bin Buya bersama saudaranya Hasan dan Ahmad putra seorang nelayan dari klan Buwaihi.

Dengan mengandalkan kekuatan suku Dailam, Mardawij berhasil menaklukkan Persia pada 932 M. dalam penaklukan ini orang-orang yang berasal dari klan buwaihi memiliki peranan yang sangat besar,oleh sebab itu Ali bin Buya berambisi untuk melepaskan diri dari kekuasaan mardawij bin Zayyar

Setelah Mardawij meninggal dunia, tidak ada pengganti yang cukup cakap, kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Ali bin Buya dengan baik, dia mengambil alih kekuasaan dengan amat mudah dan memperkokoh kedudukannya di Ray dan Persia.

Pemerintahan dinasti Buwaihi didasarkan pada system kekeluargaan, dimana satu sama lain saling mengakui daerah kekuasaan masing-masing. Saudara tertua, Ali, telah menguasai Isfahan ketika Mardawij terbunuh dan tidak lama seluruh Fars. Sedangkan Hasan menguasai provinsi Ray dan Jibal, adapun Ahmad, yang paling muda, menguasai wilayah pantai selatan, yaitu provinsi Kirman dan Khuzistan.

Pada awal kekuasaan dinasti Buwaihi, kondisi pemerintahan dinasti Abbasiyah di Baghdad semakin memburuk. Pemerintah Abbasiyah tidak berhasil menjalakan pemerintahan dengan baik, oleh sebab itu, panglima-panglima Abbasiyah menulis surat pada Ahmad bin buwaihi agar datang ke Baghdad dan mengambil alih kekuasaan.

Kholifah mustakfi7 (944-946) di Bagdad menerima Ahmad ibnu Buwaih yang termasyhur dan mengangkatnya sebagai amir al umara’ dengan gelar kehormatan Mu’izz al Dawlah (orang yang memberi kemuliaan pada negara). Ayah Ahmad, Abu Syuja’ Buwaih, mengaku sebagai keturunan raja-raja Sasaniyah kuno, mungkin seperti dalam kebanyakan kasus, ingin mengangkat prestise dinasti ini. Dia adalah seorang pemimpin sebuah gerombolan yang suka berperang, yang sebagian besar terdiri atas orang-orang dataran tinggi Dailami dari pegunungan di pesisir utara laut Kaspia, dan mereka juga pernah membantu Dinasti Samaniyah. Tiga putera Abu Syuja’, termasuk Ahmad sedikit demi sedikit menguasai jalan menuju selatan, menduduki isfahan, lantas syiraz dengan provinsinya (934), dan dua tahun kemudian mereka menguasai provinsi-provinsi di Ahwaz (sekarang di sebut Kuzistan) dan Karman. Syiraz kemudian di pilih menjadi Ibu Kota bagi dinasti baru ini. Ketika Ahmad bergerak ke Baghdad (945), para pengawal Kholifah yakni orang Turki melarikan diri, begitu pula tanah kekuasaan sang Kholifah akhirnya di bawah pengawasan para tuan barunya, yakni seorang Persia Syiah (Buwaihi). Kendati jabatan utamanya hanyalah sebagai amir al umara’, Mu’izz al Dawlah menuntut agar namanya di sebutkan bersama nama sang Kholifah dalam Khutbah Jum’at. Dia bahkan mencantumkan namanya dalam kepingan mata uang.

Pada bulan januari 946, Al Mustakfi yang malang itu menjadi buta dan di gulingkan oleh Mu’izz al Dawlah yang kemudian memilih al Muthi’8 (946-974) sebagai kholifah baru. Festifal-festifal syi’ah kini di selenggarakan, terutama perayaan berkabung pada hari memperingati kematian Al Husayn pada tanggal 10 Muharam, dan perayaan bergembira memperingati pengangkatan Ali sebagai penerus Rasulullah SAW di Ghodir Al Khumm. Institusi kekholifahan kini melewati periode yang paling menyedihkan ketika pemimpin kaum beriman sekedar menjadi boneka di tangan amir al umara’ yang suka memecah belah.
Meskipun telah mengambil alih seluruh kekuasaan, dinasti Buwaihi tidak berusaha melenyapkan kekhalifahan. Keberadaan kholifah mereka jadikan symbol untuk mendapat simpati public. Dinasti Buwaihi mengakui bahwa hak mereka untuk memerintah bergantung pada keabsahan kholifah.

Buwaihi bukanlah yang pertama memangku gelar sultan seperti yang banyak di klaim oleh para sejarawan. Jika di amati dari keping mata uangnya,mereka cukup puas dengan gelar amir atau malik yang dibubuhkan pada julukan kehormatan seperti Mu’izz al Dawlah, Imad Al Dawlah (tiang Negara), dan Rukn Al Dawlah (pilar Negara) dan semua itu adalah gelar-gelar yang secara serentak di berikan oleh kholifah kepada ketiga putera buwaih yaitu Ali bin Buya mendapat gelar Imad Ad-Daulah (Tiang Negara); Hasan bin Buya mendapat gelar Rukn Ad-Daulah (Penopang Negara); dan Ahmad bin Buya mendapat gelar Mu'iz Ad-Daulah (Penegak Negara). Setelah periode mereka, sebutan-sebutan angkuh seperti itu menjadi kebiasaan. Gelar kehormatan amir al umara’ juga di sandang oleh beberapa penerus Mu’izz Buwaihi, kendati sebutan itu sudah tidak bermakna apapun, tak lebih dari sebuah kehormatan imajiner.9




      1. Kekuasaan Dinasti Buwaihi

Menurut Syafiq Mughni, wilayah kekuasaan Dinasti Buwaihi memang lebih menyerupai sebuah federasi ketimbang kerajaan. Kekuasaan Dinasti Buwaihi memang lain dengan kekuasaan orang-orang keturunan Saman Khuda (Dinasti Saman). Unit-unit kekuasaannya lebih dipusatkan di kota-kota besar. Seperti kekuasaan di Persia dipusatkan di kota Syiraz dan Isfahan. Kekuasaan di Ray dipusatkan di kota Al-Jibal. Dan, kekuasaan di Irak dipusatkan di kota Baghdad, Bashrah, dan Mosul. Sistem pemerintahan Dinasti Buwaihi tidak independen seperti Dinasti Saman. Ali bin Buya masih mengakui otoritas Baghdad sebagai pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyyah, sekalipun pada waktu itu sudah amat lemah. Ali bin Buya terus berusaha mendapat simpati dan dukungan politik dari Khalifah Al-Mustakfi (berkuasa 944-946 M). Jabatan para penguasa Dinasti Buwaihi tidak lain sebatas gubernur, bukan khalifah. Ini jelas berbeda dengan status jabatan penguasa beberapa dinasti sebelumnya di Persia. Albert Hourani (2004) menjelaskan bahwa, para penguasa Dinasti Buwaihi banyak menyandang gelar dinasti Persia Kuno. Seperti gelar "Syahansyah" (Raja diraja).
Selama abad kekuasaan mereka (masa-masa kejayaan mereka) yaitu tahun 945-1055, Dinasti buwaihi menaikkan dan menurunkan kholifah sekehendak hatinya. Irak sebagai sebuah provinsi di perintah dari ibukota Buwaihi, syiraz di Faris.10 Di Baghdad mereka melestarikan sejumlah istana megah dan menyebutnya dengan nama Dar Al Mamlakah (kampung Kerajaan). Baghdad bukan lagi pusat dunia muslim, karena keunggulan internasionalnya kini ditandingi bukan hanya oleh Syiraz, tetapi juga oleh Ghaznah, Kairo dan Kordova.
Kekuasaan Buwaihi mencapai puncaknya di bawah kepemimpinan ‘Adud Al Dawlah (949-983), putra Rukn Al Dawlah. ‘Adud Al Dawlah bukan hanya seorang penguasa Buwaihi yang paling unggul., tetapi ia juga yang paling masyhur pada zamanya. Di bawah kendalinya, pada 977 dia berhasil mempersatukan beberapa kerajaan kecil yang sudah muncul sejak periode kekuasaan Buwaihi di Persia dan Irak, sehingga membentuk satu Negara yang besarnya hampir menyerupai Imperium. ‘Adud Al Dawlah menikahi Puteri Kholifah Al Tha’i dan menikahkan puterinya sendiri dengan sang Kholifah (980), karena dengan cara ini dia berharap memiliki keturunan yang akan meneruskan kekuasaanya. ‘Adud Al Dawlah adalah penguasa pertama dalam islam yang menyandang gelar Syahansyah (Seperti gelar "Syahansyah" (Rajadiraja).11 Penelitian arkeologis telah menemukan sebuah medali bertahun 969 M bahwa, para penguasa Dinasti Buwaihi menggunakan gelar "Syahansyah" (Rajadiraja). Dengan demikian, Dinasti Buwaihi termasuk generasi penerus peradaban Persia Kuno, seperti halnya Dinasti Saman, yang bermaksud mengembalikan kejayaan orang-orang Arya).

Yüklə 0,61 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə