Peradaban islam di persi


b. Kemajuan Di ZamanDinasti Buwaihi



Yüklə 0,61 Mb.
səhifə3/10
tarix23.01.2018
ölçüsü0,61 Mb.
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

4.1.b. Kemajuan Di ZamanDinasti Buwaihi

Meski ‘Adud Al Dawlah tetap mempertahankan istananya di Syiraz, tetapi dia juga memperindah Baghdad, memperbaiki kanal-kanal yang sudah usang, dan di beberapa kota-kota lain mendirikan sejumlah masjid, rumah sakit dan gedung-gedung publik, sebagaimana di catat sejarawan (Ibnu maskawaih) yang menjadi bendahara ‘Adud Al Dawlah. Untuk lembaga-lembaga penyantun, ‘Adud Al Dawlah menyediakan dana dari pembendaharaan Negara. Salah satu bangunan menarik yang di buatnya adalah rumah suci (masyhad)12 di atas makam yang di anggap sebagai makam Ali. Bangunan yang terpenting yang di bangun ‘Adud Al Dawlah adalah rumah sakit Al Bimaristan Al Adudi yang di rampungkan pembangunannya pada 978-979 dengan biaya sebesar 100.000 dinar. Rumah sakit itu memiliki 24 orang dokter yang juga bertugas sebagai pengajar ilmu Kedokteran. Penyair seperti Al Mutanabbi’, menyanyikan keagungan ‘Adud Al Dawlah, dan para penulis lain serta para ahli tata bahasa seperti Abu Ali Al Farisi menulis kitab Al Iddah (Kitab Penjelasan) mempersembahkan karyannya untuk ‘Adud Al Dawlah.

Dalam rangka menciptakan perdamaian, ‘Adud Al Dawlah bekerja sama dengan seorang wazir Kristen yang cukup terampil yang bernama Nash ibn Harun, yang atas otoritas dari Kholifah mendirikan dan memperbaiki sejumlah gereja dan biara.
Teladan yang di perlihatkan ‘Adud Al Dawlah dalam dukungannya terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan sastra di ikuti oleh putranya yang bernama Syaraf al Dawlah (983-989). Untuk meniru Al Makmun, maka Syaraf al Dawlah, setahun sebelum kematiaanya membangun sebuah observatorium terkenal.13 Putra ‘Adud Al Dawlah yang lain, yakni penerusnya yang kedua yang bernama Baha’ Al Dawlah (989-1012), pada tahun 991 menjatuhkan Kholifah al Tha’i karena merasa iri melihat kekuasaan kekholifahan itu. Dia juga memiliki wazir yang cerdas dan terkenal yang berkebangsaan Persia, yakni bernama Sabur ibn Ardasyir. Tahun 993 Sabur ibn Ardasyir mendirikan sebuah Akademi di Baghdad, lengkap dengan perpustakaan yang menyimpan 10.000 buku, yang pernah di gunakan oleh penyair Suriah yang bernama Al Ma’arri untuk belajar ketika masih belajar di kota itu.14
4. 1.c. Kehancuran Dinasti Buwaihi

Peperangan antara Baha’, Syaraf dan saudara ketiga mereka, Shamsham Al Dawlah, juga pertikaian antar anggota-anggota kerajaan untuk menentukan penerus mereka serta fakta bahwa Buwaihi berkecenderungan Syi’ah sehingga sangat di benci oleh orang-orang Baghdad yang Sunni, menjadi sebab-sebab penting bagi keruntuhan dinasti Buwaihi. Pada tahun 1055, Raja Saljuk yang bernama Thughril Beg memasuki Baghdad dan megakhiri riwayat kekuasaan Buwaihi. Raja yang terakhir dari dinasti ini di Irak yang bernama Al Malik Al RAhim (1048-1055), mengakhiri hidupnya dalam kurungan.15




    1. DINASTI SELJUK

1.gif

Seljuk (juga disebut Seljuq) atau Turki Seljuk (dalam Bahasa Turki:Selçuklular; dalam bahasa Persia: Saljūqīyān; dalam Bahasa Arab , Saljūq, atau  al-Salājiqa) adalah sebuah dinasti Islam yang pernah menguasai Asia Tengah dan Timur Tengah dari abad ke 11 hingga abad ke 14. Mereka mendirikan kekaisaran Islam yang dikenali sebagai Kekaisaran Seljuk Agung. Kekaisaran ini terbentang dari Anatolia hingga ke Rantau Punjab di Asia Selatan. Kekaisaran ini juga adalah sasaran utama Tentara Salib Pertama. Dinasti Seljuk juga menandakan penguasaan Bangsa Turki di Timur Tengah. Pada hari ini, mereka dianggap sebagai penggasas kebudayaan Turki Barat yang ketara di Azerbaijan, Turki dan Turkmenistan dan Seljuk juga dianggap sebagai penaung Kebudayaan Persia16

Dinasti Seljuk merujuk pada keturunan Seljuk bin Duqaq dari suku bangsa Guzz, yang beremigrasi daru Turkistan, kemudian menetap di daerah yang terletak antara Transoksania dan daerah yang ditempati oleh suku Turki Kirkuk yang telah memeluk agama islam. 17

Para sejarawan membedakan Dinasti Seljuk menjadi lima, yaitu Seljuk Iran (Seljuk Besar), Seljuk Irak, Seljuk Kirman , (al Qowurdiyun), Seljuk Asia kecil (ar rum), dan Seljuk Suriah (asy syam). Dalam pembahasan ini yang akan diuraikan adalah Seljuk Iran (Seljuk Besar)

Nama dinasti Seljuk dikaitkan degan nama pendirinya, yaitu Seljuk bin Duqaq. Dinasti Seljuk muncul akibat peperangan yang sering terjadi antara penguasa Samaniyah dan Khaniyah. Dalam peperangan itu, dinasti Seljuk berpihak pada penguasa Samaniyah, sehingga mereka kemudian diperkenankan menyebrangi wilayahnya untuk menuju daerah pinggiran sungai Sihun, Kazakhstan. Setelah itu dinasti Seljuk menguasai kota Jund, daerah di sekitar Transoksaniyah, dan menjadikannya pangkalan. Sejak saat itu dinasti Seljuk berkembang menjadi kuat dan disegani dinasti-dinasti lainnya.

Seljuk bin Duqoq memiliki empat orang putra, yaitu Israil, Musa Bigu, Yunus, dan Mikail. Israil, yang menggantikan kedudukan ayahnya, tidak mampu menghadapi serangan penguasa dinasti Ghasnawi. Maka, oleh penggantinya, Mikail, orang-orang Seljuk dibawa melintasi daerah Jihun dan menetap di Khurasan. Di daerah tersebut mereka kemudian terlibat peperngan dengan sultan Mas’ud al Ghasnawi. Dibawah panglima Tugril beq, orang-orang Seljuk berhasil menghancurkan dinasti Ghasnawi dan menduduki singgasana kekuasaan di Nisabur pada tahun 429 H / 1038 M. oleh sebab itu, Tugril Beq dipandang sebagai pendiri dinasti Seljuk yang sebenarnya.

Setelah menduduki singgasana kekuasaan, Tugril Beq secara resmi mendapat pengakuan dari Kholifah Abbasiyah saat itu dan kemudian namanya disebut dalam khutbah Jumat. Daerah kekuasaan dinasti Seljuk pada masa kekuasaan Tugril Beq meliputi wilayah yang cukup luas, yaitu Iran dan sekitar Transoksania.

Keberhasilan Tugril Beq mendapat pengakuan dari kholifah Abbasiyah di Baghdad, membuat kekuasaan dinasti Seljuk semakin kokoh. Kondisi Dinasti Abbasiyah yang ketika itu sedang lemah secara militer, politik, dan ekonomi, memberikan kesempatan kepada dinasti Seljuk untuk mendominasi kekuasaan kekholifahan.



4. 2.a. Kekuasaan Dinasti Seljuk

Pada tahun 433 – 434 H / 1041 – 1042 M. Tugril Beq berhasil memperluas kekuasaan wilayahnya dengan merebut Jurjan, Thabaristan, Ray, Qazwin, dan Zanjan hingga menguasai hampir seluruh wilayah Iran. Setelah itu dia memindahkan ibu kota pemerintahannya ke Ray dan menggalang persatuan yang kuat dengan saudara-saudaranya, dengan memberikan wilayah kekuasaan tertentu kepada mereka masing-masing.

Pada 442 – 443 H / 1050 - 1051 M. Tugril Beq berhasil merebut Isfahan dan menghancurkan kekuatan Dailam di Persia. Kemenangan Tugril Beq semakin sempurna setelah pasukannya merebut Azarbaijan pada 446 H / 1054 M. Dan Hamadan pada 447 H / 1055 M. Wilayah ini sebelum dikuasai Dinasti Seljuk merupakan wilayah kekuasaan Bani Buwaihi yang menganut aliran Syi’ah, serta menangkap malik ar Rahim dan memenjarakannya di Ray sampai wafat 450 H / 1058 M. Pusat pemerintahannya berada di kota Naisaphur yang kemudian di pindah ke wilayah Ray di Iran, dan selanjutnya kota Baghdad difungsikan sebagai kota keagamaan dan kerohanian. Keberhasilan Bani Seljuk dalam mempertahankan kekuasaannya, tak lepas dari para wazir (pembantu sulthan/menteri) yang senantiasa loyal dan patuh terhadap sulthan serta kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan. Diantara mereka yang telah berjasa dalam membangun dan mempertahankan dinasti Bani seljuk adalah:


  1. Abu Muhammad bin Muhammad Fakhrul, Wazir pada masa Sulthanal-
    Qa’im.

  2. Abu Syarwan bin Khalid al-Qasyani, Wazir pada masa Sulthan al-
    Mustarsyid.

  3. Ibnu al-Attar, ia menjadi Wazir pada masa al-Nasir.

  4. Abu Nasr Muhammad bin Manshural-Kundari, Wazir pada masa Sulthan
    Tghrul Beg dan Alb Arsalam.

  5. Tajuddin Abu al-Ghanayim, Wazir pada masa Sulthan Sanjar.

  6. Ali bin al-Hasan al-Tughra, Wazir pada masa Sulthan Sanjar.

  7. Sa’ad bin Ali bin Isa, Wazir pada masa Sulthan Mahmud.

  8. al-Ustadz al-Tughra’i, Wazir pada masa Sulthan Mas’ud bin Muhammad
    di Irak.

  9. Nizam al-Mulk, Wazir Pada masa Sulthan Sultan Malik Syah

Setelah berhasil mengalahkan kelompok-kelompok yang merongrong kekuasaan kholifah, hubungan Tugril Beq dan Dinasti Abbasiyah semakin dekat. Dia mengawini putrid kholifah dan memboyongnya ke ibu kota Dinasti Seljuk di Ray pada 1062 M.setahun kemudian Tugril Beq meninggal dunia setelah berkuasa selama 26 tahun. Sepeninggalnya, kursi kekuasaan diambil alih oleh kemenakannya yang paling tua, yaitu Alp Arslan, karena Tugril Beq tidak memiliki keturunan laki-laki.

Naiknya Alp Arslan ke puncak kekuasaan mendapat perlawanan dari saudara-saudaranya. Perlawanan ini dipelopori oleh Syihab ad-Daulah Qutulmisy,anak pamannya, Musa Cagri

Pada 457 H / 1064 M keturunan Musa Cagri yang menguasai daerah Transoksania berhasil ditaklukkan Alp Arslan. Setelah itu dia menyelesaikan konflik internal dan memperkuat pemerintahannya dengan memusatkan kekuasaannya di Ray. Selama berkuasa, Alp Arslan didampingi oleh seorang perdana mentri berkebangsaan Persia yang cakap dan masyhur, yaitu Nizam al Mulk, yang mendirikan madrasah Nizamiyah.

Setelah Alp Arslan meninggal dunia, kekuasaannya dilanjutkan oleh anaknya, sultan Maliksyah. Dinasti Seljuk berhasil mempertahankan kejayaannya sebagaimana yang pernah diraih pada masa kekuasaan Tugril Beq dan Alp Arslan.

Sejarawan mencatat, masa pemerintahan Tugril Beq, Alp Arslan, dan Maliksyah merupakan periode kekuasaan Dinasti Seljuk yang paling cemerlang. Dinasti ini berhasil menguasai wilayah yang meliputi bagian timur dunia islam. Selain itu, prestasi Dinasti Seljuk yang paling cemerlang adalah keberhasilannya menjadi Dinasti pertama yang memperoleh kekuasaan permanen di wilayah kekaisaran Romawi.18

Sepeninggal sultan Maliksyah terjadi perebutan kekuasaan antara Barkiyaruk bin Maliksyah, yang mendapat dukungan dari madrasah Nizamiyah, dan saudara bungsunya Mahmud, yang mendapat dukungan Turkan Khatun, janda Maliksyah yang juga ibunya. Pada awalnya Mahmud diakui sebagai sultan pada 1092, tetapi atas desakan pengikut Nizam Mulk dan murid-murid Madrasah Nizamiyah, Barkiyaruk kemudian juga diakui sebagai sultan yang berkedudukan di Isfahan.

Dalam perkembangan selanjutnya, Barkiyaruk berhasil melumpuhkan kekuatan Mahmud: dan pada 1097 M mengangkat Sanjar, saudaranya seayah menjadi penguasa di Khurasan. Kemudian pada 1099 M, Muhammad, saudara kadung Sanjar, memproklamasikan diri sebagai sultan di Hamadan, sehingga pada wakktu yang bersamaan ada dua sultan Seljuk yang diakuai oleh kholifah Abbasiyah.

Sepeninggal Barkiyaruk, anaknya Maliksyah II, menggantikan kekuasannya. Akan tetapi, wilayah kekuasannya telah terbagi-bagi kepada saudara-saudaranya sehimgga runtuhlah dinasti Seljuk.                            

4.2.b. Prestasi Kerajaan Seljuk

Kesultanan Seljuk meninggalkan beberapa prestasi yang sangat baik. Di antaranya :



  1. Kesultanan mereka memiliki peran untuk menunda kehancuran khilafah Abassiyah selama sekitar dua abad. Dimana sebelum kedatangan mereka pemerintahan Abassiyah hampir saja runtuh akibat perilaku jahat orang-orang Buwaihi penganut ajaran Syi’ah Rafidhah.

  2. Kesultanan Saljuk telah mampu mencegah rencana penyatuan wilayah Timur Arab oleh pemerintahan Fathimiyah/Ubaidilah di Mesir untuk berada di bawah satu payung pemerintahan mereka yang Syi’ah.

  3. Usaha keras kesultanan Saljuk merupakan bibit yang di tanam untuk mampu menyatukan wilayah Islam yang kemudian terealisir pada masa pemerintahan Shalahuddin Al-Ayyubi yang berada di di bawah pemerintahan Bani Abbas yang Sunni.

  4. Kesultanan Saljuk telah ikut membangkitkan gairah ilmiah di wilayah-wilayah yang menjadi kekuasaannya. Mereka juga mampu menebarkan rasa aman di wilayah itu.

  5. Mereka mampu menghadang gerakan Salibisme yang dipimpin imperium Bizantium, sebagaimana mereka yang telah berusaha untuk menghadang gelombang serbuan Mongolia.

  6. Mereka mampu mengangkat tinggi-tinggi panji-panji madzhab Sunni di wilayah-wilayah kekuasaannya.19

4.2.c. Perkembangan Peradaban Pendidikan

4.2.c.1.a. Pendirian Madrasah Nidzamiyah



http://muriwandany.files.wordpress.com/2010/07/madrasah-nizamiyah.jpg?w=150&h=112

Salah satu jenis lembaga pendidikan tinggi yang muncul pada abad IV Hijriah adalah madrasah.20 Sedangkan Nizhamiyah adalah sebuah lembaga pendidikan yang didirikan tahun 457-459 H/1065-1067 M (abad VI) oleh  Nizham al-Mulk21 dari Dinasti Saljuk. Nizham al-Mulk mempelopori pendirian madrasah-madrasah.22 Madrasah Nidzamiyah di Baghdad merupakan madrasah yang pertama kali didirikan oleh Nizam al-Mulk pada bulan Dzulhijjah tahun 457 H. yang diarsiteki oleh Abu Said al-Shafi.23 Selain itu dia juga mendirikan madrasah-madrasah di daerah- daerah  lain seperti madrasah yang berada di Balkh, Naisabur, Jarat, Ashfahan, Basrah, Marw, Mausul, dan lain-lainnya yang semuanya berada di bawah kekuasaan Bani Saljuk. Madrasah-madrasah itu dapat di samakan dengan fakultas-fakultas atau perguruan tinggi masa sekarang, mengingat gurunya adalah ulama besar yang termashur.24 Pendirian madrasah madrasah disamping untuk mengembangkan pendidikan Islam juga sebagai media untuk menanamkan ajaran-ajaran dari paham Sunni.

Nizham al-Mulk mendirikan gedung-gedung ilmiah untuk ahli fikih, membangun madrasah-madrasah untuk para ulama dan asrama untuk orang beribadah serta fakir miskin. Pelajar yang tinggal di asrama diberi belanja secukupnya dari uang negara dengan jumlah yang tidak sedikit Nizam al-Mulk. Akibatnya, Nizham al-Mulk mendapat teguran dari Malik Syah karena diadukan orang, bahwa uang yang dibelanjakan untuk kepentingan pendidikan  dan pengajaran tersebut merupakan usaha Nizham al-Mulk  untuk menaklukkan kota Qustantiah (Constantinopel).25 Tindakan Nizham al-Mulk ini akhirnya dapat diterima oleh Malik Syah setelah dijelaskan alasan yang logis dan bahkan dapat menyadarkan khalifah. Begitu besarnya perhatian Nizham al-Mulk terhadap pendidikan dan pengajaran sebagaimana yang dinyatakan oleh Ahmad Syalabi “Tidak satupun negeri yang didapatkan tidak mendirikan madrasah oleh Nizham al-Mulk, sehingga pulau yang terpencil di sudut dunia yang jarang didatangani manusia juga didirikan madrasah yang besar lagi bagus”. Serta ditemukannya orang terkenal berpengetahuan luas dan mendalam disuruh mengajar dan memberi sekolah itu wakaf dilengkapi dengan perpustakaan. 26

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa Madrasah Nizhamiyah adalah madrasah yang pertama kali muncul dalam sejarah pendidikan Islam yang berbentuk lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi yang dikelola oleh pemerintah.

4.2.c.1.b. Tujuan Pendirian Madrasah

Madrasah Nizhamiyyah didirikan dengan tujuan :Pertama, menyebarkan pemikiran Sunni untuk menghadapi pemikiran Syiah. Kedua, menyediakan guru-guru Sunni yang cukup untuk mengajarkan madzhab Sunni dan menyebarkan ke tempat-tempat lain. Ketiga, Membentuk kelompok pekerja Sunni untuk berpartisipasi dalam menjalankan pemerintah, memimpin kantornya, khususnya di bidang peradilan dan manajemennya.27



Terwujudnya madrasah sebagai institusi yang mandiri terpisah dari masjid di dasarkan atas tuntutan perkembangan  ilmu pengetahuan yang semakin luas dan menuntut tingkat penanganan yang lebih serius dan terencana. Sehingga Von Kremer seorang ahli ketimuran yang berkebangsaan Jerman mengatakan: “bukan kamar di masjid yang menuntut agar dikembangkan menjadi madrasah akan tetapi kemajuan ilmu pengetahuanlah yang mencetak orang-orang yang melihat betapa sulitnya menjalani kehidupan yang layak dan terhormat nelalui pengajaran yang bersifat abstrak”. Untuk memberikan kesempatan belajar yang lebih layak, maka didirikan madrasah yang lebih memungkinkan dan kondusif  untuk proses belajar mengajar.28

Alasan lain pemindahan madrasah dari masjid adalah alasan yang bersifat etis yang terkait dengan fungsi pelaksanaan ritus-ritus ibadah yang menuntut adanya ketenangan sedangkan proses belajar mengajar dalam sebuah madrasah cenderung berisik atau menggangu ketenangan. Bahkan dengan semakin luasnya pendidikan untuk anak - anak akan menambah bising masjid serta tidak terjaganya masjid dari najis.  Dalam kaitannya dengan ini Rasulullah pernah memerintahkan untuk menjaga masjid dari keramaian anak-anak karena biasanya mereka tidak bisa menjaga kesucian.29 DR. H. Maksum berpendapat bahwa pertimbangan yang digunakan untuk tidak menggunakan masjid sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan ada tiga alasan: Pertama, Kegiatan pendidikan di masjid dianggap telah mengganggu fungsi utama lembaga itu sebagai tempat ibadah. Kedua, berkembangnya kebutuhan ilmiah sebagai akibat perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan, banyak ilmu yang tidak bisa lagi diajarkan  di masjid. Dalam kaitan tersebut  Ahmad Salabi menyatakan bahwa: “ ilmu berkembang dengan perkembangan zaman, pengetahuan pun lebih maju lagi”.30 Ketiga, timbulmya orientasi baru dalam penyelenggaraan pendidikan  sebagai guru mulai berfikir untuuk mendapatkan  rizki melalui kegiatan pendidikan. Dikatakan ada diantara pengajar yang pekerjannya sepanjang hari mengajar dan arena itu berusaha untuk memperoleh penghasilan yang memadai. Untuk menjamin hal itu maka  dibangun lembaga, lembaga lain yaitu madrasah, karena jaminan seperti itu tidak diperoleh di masjid.31

Dalam kajian yang lebih terfokus pada madrasah Nizhamiyah pada abad pertengahan di Baghdad, Makdisi mengajukan teori bahwa asal-muasal pertumbuhan madrasah  merupakan hasil tiga tahap  yaitu tahap masjid, tahap masjid khan dan tahap madrasah.32 Tahap masjid berlangsung terutama  pada abad ke delapan dan kesembilan, masjid dalam konteks ini bukanlah masjid yang berfungsi sebagai tempat jamaah sholat bagi seluruh penduduk kota, yang bisa dikenal dengan masjid jami’, Masjid Raya, atau Cathedral Mosque atau Conggregatual Mosque. Masjid masjid seperti ini biasanya diatur oleh negara dan tidak terbuka untuk pendidikan agama bagi umum. Masjid yang dimaksud sebagai tempat pendidikan adalah masjid biasa (masjid college) yang disamping sebagai tempat ibadah shalat juga sebagai tempat majlis taklim (pendidikan). Di Baghdad pada masa itu terdapat beribu-ribu masjid jenis yang terakhir ini di berbagai tempat yang menyebar. Para penguasa seperti Daul al-Daulah (wafat 965) Ali Sahib Bin Abda (wafat 995) dan Di’lil Al Sijiztani (wafat 965) merupakan pelopor  orang yang mendukung perkembangan masjid untuk pendidikan ini.

Tahap kedua adalah masjid khan, yaitu masjid yang dilengkapi bangunan khan (asrama pemondokan) yang masih bergandengan dengan masjid. Berbeda dengan masjid biasa. Masjid khan menyediakan tempat penginapan  yang representative bagi pelajar yang berasal dari luar kota, tahap ini berkembang pesat pada abad kesepuluh.

Setelah dua  tahap berkembang barulah muncul madrasah yang khusus  diperuntukan sebagi lembaga pendidikan. Madarasah dengan demikian menyatukan dengan lembaga masjid biasa dengan masjid khan. Kelompok madrasah terdiri dari ruang belajar, ruang pemondokan dan masjid, menurut Makdisi, perkembangan madrasah dalam polanya yang  kongkrit dipelopori oleh Nizam al-Mulk.

4.2.c.1.c. Intervensi Politik Dalam Pendirian Madrasah

Musuh yang dihadapi oleh Dinasti Saljuk  yang sunni ini adalah Dinasti Fatimiyah di Mesir yang beraliran Syiah. Ide dasar dalam membina lembaga pendidikan (madrasah) adalah melawan Syiah tidak cukup dengan kekuatan senjata, melainkan juga harus melalui penanaman ideologi yang dapat melawan ideologi Syiah.33 Pertimbangan ini dilakukan karena Syiah sangat aktif dan sistematik dalam melakukan indoktrinasi  melaluli pendidikan atau aktivitas pemikiran yang lain.

Madrasah sebagai lembaga baru yang didirikan Nizam Al Mulk ini dirancang sebagai  sebuah lembaga Negara  untuk meningkatkan indoktrinasi agama  berdasarkan agama Islam Sunni dan indoktrinasi politik bergaya Turki dan Parsi.34 Dari gambaran tersebut nampaknya bahwa pendirian madrasah oleh Nizam Al Mulk itu sangat sarat dengan muatan politik dan agama dalam konteks Sunni. Adapun motif politik yang melandasinya adalah usaha untuk mempertahankan kedudukan penguasa dengan mendirikan madrasah yang lengkap dengan fasilitas sebagai upaya untuk menarik simpati rakyat.

Intervensi politik pada masa pendirian Madrasah Nizam Al Mulk (madrasah Nidzamiyah) akan sangat nyata apabila kita telusuri dari intervensi pemerintah dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menentukan kurikulum, guru dan dana pendidikan, seperti yang diungkapkan Abd. Madjid al;Futuh:” Madarasah Nizhamiyah merupakan lembaga pendidikan resmi dan pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menggariskan kurikulum,  memilih guru, dan memberikan dana yang teratur kepada madrasah”.35 Akan tetapi Makdisi berkesimpulan lain bahwa Madrasah Nizhamiyah tidak dicampuri oleh Negara ialah karena berkaitan dengan pilihan terhadap salah satu madzhab dari madzhab Sunni yang berbeda dari madzhab yang dianut raja Saljuk, baik Alp Arsalan maupun Malik Syah. Nizaqn Al Mulk memilih mengajarkan madzhab safi’i dengan kalam Al-Asy’ariyah sesuai dengan madzhabnya sendiri. Padahal Raja –Raja Saljuk penganut  fanatik madzhab Hanafi dengan  aliran kalam Maturidiyyah.36 Realitas seperti ini rupanya bukan menjadi masalah bagi Raja-Raja Saljuk yang penting bagi mereka adalah kelanggengan kekuasaannya. Dengan demikian sikap membiarkan Nizam Al-Mulk untuk mengambil prakarsa demikian merupakan bagian dari strateginya pula. Dan yang penting adalah kekuatan Nizam Al Mulk dan penganut madzhabnya dapat dimanfaatkan untuk melawan Syiah yang waktu itu merupakan musuh utamanya.

Adanya motif politik dan agama yang menjadi latar belakang pendirian madrasah Nizhamiyah tersebut tidak menafikan arti positif berdirinya lembaga tesebut. Arti posistif tersebut berupa adanya penanganan pendidikan dengan lebih baik dan terencana dengan melibatklan sumber daya dan sumber dana yang memadai yang dilakukan oleh Negara.

Motif pendirian Madrasah ini menurut Ahmad Syalabi (1995) ialah karena dua hal. Pertama motif Politik. Dengan adanya madrasah ini, dinasti Saljuq bisa mengkontrol semua daerah dengan mudah, karena sistem yang dipakai Nizhamiyyah adalah sentralistik dari pusat kedaerah atau dari atas ke bawah. Motif kedua adalah ideologi/madzhab. Seperti keterangan diatas, bahwa Dinasti Buwaihi yang menganut Syi’ah serta sisa-sisa aliran Mu’tazilah telah ada sebelum Bani saljuq berdiri, pendirian madrasah Nizhamiyyah juga karena motif untuk menyebarkan aliran Sunni Syafi’iyyah.

4.2.c.1.d. Manajemen Madrasah Nidzamiyah

Madrasah Nizhamiyah yang didirikan oleh Nizam Al Mulk di Baghdad dan madrasah-madrasah lainnya  dibawah kekuasaan bani Saljuk sudah mempunyai sistem manajemen yang  cukup baik. Hal tersebut dilatarbelakangi adanya campur tangan negara dalam masalah pendidikan pada waktu itu, sehingga masalah pendidikan Islam mulai terencana dengan baik dari mulai tujuan, kurikulum, perekrutan tenaga pendidikan sampai pada pendanaan dan sarana prasarana. Seperti yang diungkapkan Abd.Al Madjid al-Futuh’ madrasah Nizhamiyyah merupakan lembaga pendidikan resmi. Pemerintah terlibat dalam menetapkan tujuan-tujuannya, menggariskan kurikulum, memilih guru dan memberi dana yang teratur kepada madrasah. Yang menarik dari inovasi pendidikan Nizam Al-Mulk adalah dalam menangani manajemen keuangan madrasah yaitu dengan mengoptimalkan dana wakaf untuk pembiayaan pendidikan. Hal ini dijadikan alternative solusi untuk menciptakan pendidikan masal yang murah bagi rakyat dengan fasilitas yang cukup memadai.

Dengan adanya dana yang memadai, para syaikh (kalau sekarang professor) dan mudarris dapat digaji secara professional atas tugas - tugas pengajaran yang dilakukannya.37

4.2.c.1.e.Murid, Kurikulum dan Guru

Madrasah Nizhamiyah merupakan lembaga pendidikan yang terstruktur, manajemen dan administrasinya sangat tertata dengan baik. Dengan sistem sentralistik, semua kurikulum, metode pembelajaran, sistem belajar, pengangkatan guru dan semua keperluan madrasah diatur oleh Pusat. Hal itu menjadikan tidak sembarangan orang bisa menjadi guru di Madrasah Nizhamiyyah, karena pusat melakukan seleksi yang sangat ketat.

Menurut Toha Hamim (2007) jangankan melamar menjadi guru, melamar untuk menjadi murid-pun harus melalui seleksi yang tidak mudah, sehingga pelajar yang diterima Madrasah Nizhamiyyah adalah mereka yang betul-betul handal. Bahkan disebutkan, bahwa Imam al-Ghazali baru bisa masuk ke Madrasah Nizhamiyyah setelah umur 21 tahun dengan proses seleksi dan tes masuk yang sangat ketat, sehinga saat itu Madrasah Nizhamiyyah betul-betul menjadi madrasah yang favorit dan bonafit.

Para pelajar Madrasah Nizhamiyyah dimanjakan dengan berbagai fasilitas dan kemudahan, terlebih bagi mereka yang berprestasi. Aliran beasiswa sangat besar dari pemerintah siap menjamin kesejahteraannya. Diantara fasilitas yang disediakan di Nizhamiyyah adalah perpustakaan yang menyediakan buku sebanyak 6000 judul. Para guru (Syekh)pun mendapat perhatian khusus, pihak Negara memberikan gaji yang sangat besar pada mereka. Guru pada saat itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut;



  1. al-Ustadz bil Kursi (Guru Besar yang memiliki gelar Profesor Doktor,
    guru Senior yang sudah teruji keilmuannya serta sudah mendapat gelar
    kehormatan). Disamping mendapat dana pensiun, Negara juga
    menjamin penuh kehidupan keluarga mereka.

  2. al-Ustadz (guru dibawah al-Ustadz bil Kursi), mereka juga menerima gaji
    yang tidak sedikit dari pemerintah.

  3. al-Ustadz al-Muntasib (Asisten Dosen/asisten Guru Besar yang
    senantiasa mendampingi Mahasiswa disaat menghadapi kesulitan dalam
    belajar), Negara juga memberikan mereka gaji.

  4. al-Mudarris (guru, tenaga pengajar yang belum mendapat gelar Doktor),
    yang juga digaji oleh Negara.

Diantara para ulama yang pernah mengajar di Nizhamiyyah adalah :

  1. Abu Ishak al-Syirozy (w.476 H = 1083 M)

  2. Abu Nashr al-Shabbagh (w.477 H = 1084 M)

  3. Abu Qosim al-A’lawi (w.482 H = 1089 M)

  4. Abu Abdullah al-Thabari (w.495 H = 1101 M)

  5. Abu Hamid al-Ghazali (w.505 H = 1111 M)

  6. Radliyud Din al-Qazwaini (w.575 H = 1179 M)

  7. Al-Firizabadi (w.817 H = 1414 M)

Itulah para ulama yang menjadi tenaga pengajar di Madrasah Nizhamiyyah, mereka adalah para ilmuan handal yang teruji kemampuannya dalam bidang mereka masing-masing. Karena gaji yang besar inilah, para guru betul-betul perhatian terhadap pendidikan dimana mereka mengajar, sebab pemikirannya tidak terpecah untuk mencari penghasilan lain.

Gaji para Dosen Madrasah Nizhamiyyah sangatlah besar, bahkan Imam Ghazali pada saat beliau masih menjadi Guru Besar, dengan gaji yang beliau terima dapat membeli kuda yang sangat mahal. Bahkan paling mahal dan paling bagus kala itu. Sebab selain mengajar, Imam Ghazali tidak memiliki usaha lain sebagai pemasukan keuangan keluarga. Pada waktu itu, pihak Negara juga menyediakan dana untuk melakukan penelitian, sehingga pada waktu itu sudah ditemukan mesin pendingin ruangan. (Toha Hamim, 2007)

4.2.c.1.f. Pengaruh Madrasah Nizhamiyah

Madrasah Nizhamiyah telah banyak memberikan pengaruh terhadap masyarakat, baik bidang politik, ekonomi maupun bidang sosial keagamaan. Nizham al-Mulk sebagai pejabat pemerintah memiliki andil besar dalam pendirian dan penyebaran madrasah, kedudukan dan kepentingannya dalam pemerintah merupakan sesuatu yang sangat menentukan. Dalam batas ini madrasah merupakan kebijakan religio-politik penguasa.38

Dalam bidang ekonomi madrasah Nizhamiyah memang dimaksudkan untuk mempersiapkan pegawai pemerintah , khususnya dilapangan hukum dan adminstrasi di samping lembaga untuk mengajarkan syari’ah dalam rangka mengembangkan ajaran sunni. Madrasah Nizhamiyah diterima oleh masyarakat karena sesuai dengan lingkungan dan keyakinannya dilihat dari segi sosial keagamaan, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :


  1. Ajaran yang diberikan di Madrasah Nizhamiyah adalah ajaran sunni, sesuai dengan ajaran yang dianut oleh sebagian besar masyarakat pada saat itu.

  2. Madarasah Nizhamiyah diajar oleh ulama yang terkemuka.

  3. Madrasah ini memfokuskan pada ajaran fiqh yang dianggap sesuai dengan kebutuhan masyarakat umumnya dalam rangka hidup dan kehidupan yang sesuai dengan ajaran dan kehidupan mereka.

4.2.d. Faktor Keruntuhan Kesultanan Saljuk

Banyak faktor yang menyebabkan kehancuran kesultanan Saljuk yang juga dengan kejatuhannya mengakibatkan kejatuhan dinasti Abassiyah. Faktor-faktor tersebut adalah :



  1. Perselisihan yang terjadi di dalan keluarga Saljuk antara saudara mereka, paman, anak-anak dan cucu.

  2. Dimunculkan api fitnah oleh para pejabat, menteri dan para ata baek.39

  3. Lemahnya para khalifah Bani Abbas dalam menghadapi kekuatan militer Saljuk. Sehingga pemerintahan Bani Abbas tidak mampu menolak siapa pun yang duduk di kursi kesultanan Saljuk dan mendengungkan khutbah untuk semua pemenang yang kuat.

  4. Ketidak mampuan pemerintah Saljuk dalam menyatukan wilayah Syam, Mesir dan Irak di bawah panji kekuasaan Bani Abbas.

  5. Terjadinya friksi di dalam kekuasaan Saljuk hingga menimbulkan bentrokan militer yang terus-menerus. Inilah yang menghancurkan kekuatan Saljuk hingga dia harus kehilangan kesultanannya di Irak.

  6. Konspirasi orang-orang aliran Bathiniyah terhadap kesultanan Saljuk yang mereka lakukan dengan cara membunuh dan menghabisi para sultan dan pemimpin-pemimpin mereka serta komandan-komandan perangnya.40




    1. Yüklə 0,61 Mb.

      Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə