Peradaban islam di persi



Yüklə 0,61 Mb.
səhifə4/10
tarix23.01.2018
ölçüsü0,61 Mb.
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10

DINASTI SAFFARIYAH

Saffariyah adalah dinasti yang berkusa di wilayah Iran pada tahun 247 -393 H/ 861-1003 M. pusat pemerintahan dinasti ini adalah Sijistan atau Sistan, yang sekarang termasuk salah satu provinsi di Iran. dinasti ini didirikan oleh Ya’qub bin Laith, seorang penempah kuning (saffar). nama Saffariyah merujuk pada pekerjaannya tersebut.

Kemunculan saffariyah berawal dari pemberontakan kaum Khawarij41 yang mengguncang daerah Sistan. ketika itu terdapat satu kelompok milisi bernama Ayyuran yang menghadapi pemberontakan tersebut. Diantara mereka terdapat Ya’kub bin Laith bersama tiga saudaranya. Ya’qub tampil sebagai pemimpin milisi dan menguasai Sistan pada 247 H/ 861 M. setelah itu di memperluas kekuasaannya ke wilayah timur, pada tahun 251 H/865 M pasukannya mencapai daerah Zabulistan,daerah sekitar Gazna dan Gardiz, serta daerah Kabul Bamiyan. kota Heart yang dikuasai Thahiriyah diserang pada 257 H/870 M.

Setelah menguasai wilayah timur, Ya’qub mengalihkan mengalihkan perhatiannya ke wilayah yang lebih kaya di Barat Sistan. Kirman diduduki pada awal 250 -an H/ akhir 860 -an M, sehinngan kholifah Abbasiyah terpaksa mengakui Ya’kub sebagai gubernur di daerah tersebut. kemudian perluasan kekuasaan dilakukan di Makran di selatan Fars di barat. pada tahun 259 H/ 873 M, Ya’qub menyerang Khurasan. dia memasuki Nisabur tanpa perlawanan dan menggantikan gubernur dari Thahiriyah. setelah itu dia meneruskan gerkan pasukannya ke wilayah Kaspia.

Khalifah al Mu’tamid dari Abbasiyah mengecam secara terbuka tindakan Ya’kub yang menyingkirkan Thahiriyah. Ya’qub kemudian merencanakan gerakan dari Khuzistan ke Irak, tetapi di dekat Dairal Aqul pada tahun 262 H/ 876 M dia dikalahkan oleh pasukan Abbasiyah. Meskipun demikian, dia akhirnya memperoleh kembali Khuzistan dan Fars sebelum kematiannya tiga tahun kemudian.

Sepeninggal Ya’qub pada tahun 265 H/879 M, ‘Amir bin Laist menggantikan posisi Ya’qub memimpin dinasti Saffariyah. untuk posisi itu dia terlebih dahulu harus memenangkan perebutan kekuasaan dengan saudaranya yang lain. Ali bin Laist.

Amr kemudian melanjutkan kekuasaan. Dia bergerak menuju Khuraztan untuk mengembalikan kekuasaannya di wilayah tersebut. Setelah itu dia meneruskan gerakan pasukannya hingga mencapai Afghanistan Timur dan perbatasan India. Pada masa inilah pengaruh Saffariyah mencapai puncaknya, dan khalifah Abbasiyah menghadiakannya sebuah wilayah Khurasan dan Ray kepada dinasti ini.

Amr bin Laits terus melakukan ekspansi meskipun khalifah menyerahkan kekuasaan Khurasan dan Ray dalam genggamannya. Dia melanjutkan gerakan ke Tukharistan untuk menegaskan kekuasaannya di daerah tersebut. Namun, pasukannya kalah oleh pasukan Ismail bin Ahmad, seorang panglima militer dari bani Saman. Dalam pertempuran ini, Amr tertawan oleh musuh, pasukannya porak poranda dan Khurasan jatuh ke tangan dinasti Samaniyah. Amr kemudian digantikan oleh cucunya, Thahir bin Muhammad bin Amr, yang memerintah bersama saudaranya Ya’qub.

Sepeninggal Amr bin Laits, pengaruh dinasti Saffariyah terus berkurang, terlebih lagi di Sistan terdapat kelompok yang mendukung klaim anak-anak Ali bin Laits sebagai pewaris kekuasaan yang sah. mereka menuntut kekuasaan dikembalikan kepada keturunan Ali karna Ali adalah pewaris yang ditunjuk oleh Ya’qub bin Laits.

Pada tahun 298 H/911 M, sebuah serangan dilncarkan oleh Samaniyah. akibatnya, Thahir bin Muhammad beserta saudaranya , al Muaddal, ditahan dan dideportasi ke Baghdad. Serangan tersebut juga mengakibatkan keadaan di Sistan tidak stabil. Kondisi ini memberikan kesempatan pada Ayyarun di Zarang untuk mengantarkan salah seorang anggota keluarga Saffariyah lainnya, Ahmad bin Muhammad al Khallaf bin Laits bin Ali ke panggung kekuasaan.

Ahmad berkuasa selama 40 tahun, dari tahun 311 H/923 M hingga 352 H/963 M. dia memperluas kekuasan Saffariyah ke Bust dan Rukhaj, dan menjadikan Sistan kembali menjadi salah satu basis kekuatan politik di belahan timur dunia islam.

pada bulan Rabiul Awwal 352 H/ Maret 963 M, Ahmad dibunuh oleh salah seorang budaknya. dinasti Saffariyah kemudian dipegang oleh Khalaf, putra ahmad. Khalaf berkuasa tahun 352 H-393 H/ 963 -1003 M.

Dalam menjalankan kekuasannya, Khalaf bekerja sama dengan panglima Sistan yang bernama Abu al Husain Tahir bin Muhammad. Panglima ini masih memiliki darah Saffariyah. Sewaktu menunaikan ibadah haji ke tanah suci, Khalaf menunjuk Abu al Husain Thahir sebagai wakilnya. Oleh Abu al Husain Thahir, hal ini dimanfaatkan untuk mengambilalih kekuasaan. dia tidak mau mengembalikan kekuasaanya ketika Khalaf kembali ke Sistan pada 358 H/969 M. Khalaf pun meminta bantuan militer kepada Samaniyah untuk merebut kembali kekuasaannya.

Pada 359 H/970 M , Thahir meninggal dunia dan Khalafpun dapat kembali ke Zarang sebagai amir. Kekuasaan Khalaf kembali utuh setelah pda 373 H/ 983 M, Husain bin Thahir berhasil dikalahkan pada sebuah pertempuran. Namun, kekacauan dan pemberontakan di Sistan menyebabkan dinasti Gaznawi campur tangan di wilayah tersebut, Khalaf akhirnya diturunkan dari kekuasaannya pada 393 H/ 1003 M. Dia meninggal di Gardis beberapa tahun kemudian dan berahirlah dinasti Saffariyah.


    1. Dinasti Timurid: Penguasa Mongol Islam di Persia.

4.4.a. Sejarah Berdirinya Dinasti Timuriyah

map of the timurid empire 1405. click on map for larger image.

Dinasti Timuriyah didirikan oleh Timur Lenk yang lahir di kota Kish, sebelah selatan Samarkand di Transoxiana, pada tanggal 8 April 1336 M/25 Sya'ban 736 H. Ayahnya bernama Taragai, kepala Suku Barlas, keturunan Karachar Noyan yang menjadi menteri dan kerabat Jagatai, putera Jengis Khan. Suku Barlas mengikuti Jagatai mengembara ke arah barat dan menetap di Samarkand. Taragai menjadi gubernur Kish. Keluarganya mengaku keturunan Jengis Khan sendiri. Di masa kecilnya, Timur menghabiskan waktu untuk menggembala kambing dan mendapat julukan “Lenk” yang artinya pincang. Timur tumbuh menjadi seorang pemuda yang memiliki perhatian dalam hal kemiliteran. Karena itu, ia masuk angkatan perang local Amir Husein dan pernah menjadi pemimpin. Timur dikenal sebagai seorang yang gigih dalam menjaga daerahnya dari ancaman Tuglaq Timur Khan, penguasa dinasti Chaghatayi.pada tahun 1361 Timur diangkat menjadi wazir Gubernur Ilyas, anak Tuglaq Timur Khan yang berkuasa di Samarkand. Namun Timur tidak puas atas kedudukannya. Ia menggalang kekuatan bersama Amir Husein untuk memberontak Tuglaq Timur Khan. Ia berhasil mengalahkan pasukan Timur Khan dan bahkan Timur Khan dan Ilyas mati di medan pertempuran. Kemenangan ini dimanfaatkan Timur untuk menyerang sekutunya, Amir Husein. Amir Husein terbunuh oleh Timur. Akhirnya pada tanggal 10 April 1370 di Balkan Timur memproklamasikan diri sebagai pemimpin dan penguasa tunggal atas daerah kekuasaan dinasti Chaghatayi. Hal ini juga menandakan berdirinya dinasti Timuriyah.



4.4.b. Ekspansi Wilayah Dinasti Timuriyah

Dalam menegakkan kekuasaannya, Timur didukung oleh elit muslim setempat, termasuk Syaikh al-Islam di Samarkand dan kalangan sufi yang menjadi penasihat spiritaulnya. Tokoh-tokoh agama Islam bekerja sebagai qodli, diplomat, dan tutor bagi paneran-pangeran muda.

Setelah merasa kedudukannya kuat di Samarkand, Timur Lenk segera melaksanakan ambisinya untuk memperluas daerah kekuasaannya. Dengan dukungan dari pasukan dan para tokoh ulama, Timur Lenk berhasil menaklukan beberapa dinasti lain yang berada di bawahnya. Daerah Khawarizmi dan Jata dikuasai pada tahun 1380 setelah bertempur selama sepuluh tahun. Pada tahun 1381 M ia menyerang dan berhasil menaklukkan Khurasan yang merupakan pintu masuk ke Persia, Irak, dan Mesopotamia. Selama tahun 1381-1382 Timur Lenk berhasil menguasai Herat, Masyad, Sabzavar, Astarabad, Mazandaran, dan Sistan. Di setiap negeri yang ditaklukkannya, ia membantai penduduk yang melakukan perlawanan. Di Sabzavar, bahkan ia membangun menara yang disusun dari 2000 mayat manusia yang dibalut dengan batu dan tanah liat. Tahap berikutnya adalah kemenangan Timur Lenk ats Fars, Irak, Luristan, dan Azerbaijan. Pada tahun 1387 Timur menghabiskan waktunya di Tabriz. Pada saat bersamaan ia juga harus mengatasi pemberontakan anaknya, Umar Syaikh di daerah Transoksania. Setelah berhasil meredakan pemberontakan, Timur melanjutkan ekspansinya yang dikenal dengan “perang lima tahun”. Tujuan utama ekspedisi ini adalah menalukan daerah disekitar Laut Kaspia, menggulingkan dinasti Muzaffari, dan menguasai daerah Mesopotamia. Pada tahun 1393 M ia menghancurkan dinasti Muzhaffari di Fars dan membantai amir-amirnya yang masih hidup. Pada tahun itu pula Baghdad dijarahnya dan setahun kemudian ia berhasil menduduki Mesopotamia.

Setelah memukul mundur pasukan dinasti Jalayiri, Timur menerobos ke asia Kecil menaklukan Edesa, Tarkit, Mardin, dan Amid. Gerak pasukan Timur ke utara mendapat perlawanan dari Tuqtamish. Namun, tentara Tuqtamish berhasil di kalahkan dan Kipcak jatuh ke tangan Timur pada tahun 1395. Tahun berikutnya Moskow dan Georgia jatuh juga ke tangan Timur. Sambil menaklukan beberapa pemberontakan, Timur mengarahkan pasukannya ke daerah India untuk mengalahkan dinasti-dinasti muslim di sana. Pada bulan April 1398pasukan Timur menusuri lembah sungai Indusdan akhir tahun tersebut kota Delhi dapat direbut. Delapan puluh ribu penduduk Delhi menjai korban kekejaman pasukan Timur dan Sultan Mahmud III sebagai raja Delhi melarikan diri ke Gujarat.

Sementara Timur harus mengembalikan konsentrasi pasukannya ke Persia dan Asia Kecil untuk menumpas pemberontakan Dinasti Jalayiri yang telah menguasai Azerbaijan. Miransyah, anak Timur sendiri juga ikut melakukan pemberontakan. Pada Agustus 1400 Timur menyerbu Georgia dan dan empat ribu tentara Kristen dibakar hidup-hidup dan kota penting, Malathya berhasil ditaklukan.

4.4.c. Kemunduran Timuriyah

Dengan terbunuhnya Ulugh Beg, kehancuran Timuriyah semakin nyata. Terjadi perebutan kekuasaan antara para keturunannya. Abdul Ltif hanya bertahta enam bulan lalu digantikan oleh Abdullah Mirza, cucu Syakhrukh. Tetapi ia juga mengalami nasib yang sama karena kekuasaannya direnut oleh Abu Said yang sebetulnya bukan keturunan langsung dinasti Timuriyah. Di saat situasi yang kacau, Abu Said dengan bantuan suku Uzbek berhasil menduduki tahta kerajaan kemudian disusul transoksania. Tahun 1415 Abu Said berhasil mengalahkan Abdullah Mirza sebagai penguasa Timuriyah dan memproklamasikan diri menjadi penguasa Timuriyah.



4.5. Dinasti Safawi : Kerajaan Islam Pertama Bangsa Persia

4.5.a. Berdirinya Kerajaan Safawi

el imperio safávida o dinastía safawi 1501-1722
Awalnya kerajaan ini berasal dari sebuah gerakan tarekat yang berdiri di Ardabila, sebuah kota di Azerbaijan, Tarekat ini diberi nama Tarekat Safawiyah,42 yang diambil dari nama pendirinya Safi Al-din (1252-1334 M), dan nama itu terus dipertahankankan sampai tarekat ini menjadi gerakan politik. Bahkan, nama itu terus dilestarikan setelah gerakan ini berhasil mendirikan Kerajaan.43 Menurut Harun Nasution, di Persia muncul suatu dinasti yang kemudian merupakan suatu kerajaan besar di dunia Islam. Dinasti ini berasal dari seorang sufi bernama Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan.44
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa penggagas awal berdirinya Kerajaan Safawi adalah Syekh Ishak Safiuddin dari Ardabila di Azerbaijan atau dikenal dengan Safi Al-Din, yang semula hanya sebagai mursyid tarekat dengan tugas dakwah agar umat Islam secara murni berpegang teguh pada ajaran agama. Namun pada tahun selanjutnya setelah memperoleh banyak pengikut fanatik akhirnya aliran tarekat ini berubah menjadi gerakan politik dan diteruskan mendirikan sebuah kerajaan. Perkembangan peradaban Islam di Persia dimulai sejak berdirinya kerajaan Safawi, yang dipelopori oleh Safi Al-Din sejak tahun 1252 hingga 1334 M. Kerajaan ini berdiri di saat Kerajaan Turki Usmani mencapai puncak kejayaannya.45
Adapun raja- raja yang berkuasa pada kerajaan Safawi ini adalah Safi Al-Din (1252-1334 M), Sadar Al-Din Musa (1334-1399 M), Khawaja Ali (1399-1427 M), Ibrahim (1427-1447 M), Juneid 1447-1460 M), Haidar (1460-1494 M), Ali (1494-1501 M), Ismail (1501-1524 M), Tahmasp I (1524-1576 M), Ismail II (1576-1577 M), Muhammad Khudabanda (1577-1787 M), Abbas I (1588-1628 M), Safi Mirza (1628-1642 M), Abbas II (1642-1667 M), Sulaiman (1667-1694 M), Husen (1694-1722 M), Tahmasp II (1722-1732 M), Abbas III (1732-1736 M)

Safi Al-Din berasal dari keturunan yang berada namun ia memilih sufi sebagai jalan hidupnya. Ia keturunan dari Imam Syi’ah yang keenam, Musa Al-Kazhim. Gurunya bernama Syaikh Taj Al-Din Ibrahim Zahidi (1216-1301)46 yang dikenal dengan julukan Zahid Al-Gilani, karena prestasi dan ketekunannya dalam kehidupan tasawuf, Safi Al-Din dijadikan menantu oleh gurunya tersebut.47 Safi Al-Din mendirikan tarekat Safawiyah setelah ia menggantikan guru sekaligus mertuanya yang wafat tahun 1301 M, pengikut tarekat ini sangat teguh memegang ajaran agama. Pada mulanya gerakan tasawuf Safawiyah ini bertujuan memerangi orang-orang ingkar dan golongan “ahli-ahli bid’ah”.48 Namun pada perkembangannya, gerakan tasawuf yang bersifat lokal ini berubah menjadi gerakan keagamaan yang mempunyai pengaruh besar di Persia, Syria dan Anatolia. Di negeri-negeri yang berada di luar Ardabil inilah, Safi Al-Din menempatkan seorang wakil yang diberi nama Khalifah untuk memimpin murid-muridnya di daerah masing-masing.49


Suatu ajaran Agama yang dipegang secara fanatik biasanya kerapkali menimbulkan keinginan di kalangan ajaran itu untuk berkuasa. Oleh karena itu, lama kelamaan murid-murid tarekat Safawiyah berubah menjadi tentara yang teratur, fanatik dalam kepercayaan dan menentang setiap orang yang bermazhab selain Syi’ah.50
Dalam dekade 1447 – 1501 M Safawi memasuki tahap gerakan politik, sama halnya dengan gerakan sanusiyah di Afrika Utara, Mahdiyah di Sudan dan Maturdiyah serta Naksyabandiyah di Rusia. Kecenderungan memasuki dunia politik secara konkrit tampak pada masa kepemimpinan Juneid (1447-1460 M). Dinasti safawi memperluas gerakannya dengan menambahkan kegiatan politik pada kegiatan keagamaan. Perluasaan kegiatan ini ternyata menimbulkan konflik antara Juneid dengan kekuatan politik yang ada di Persia waktu itu, misalnya konflik politik dengan kerajaan-kerajaan Kara Koyunlu (domba hitam) salah satu suku bangsa Turki yang berkuasa di wilayah itu yang bermahzhab Sunni di bawah kekuasaan Imperium Usmani. Karena konflik tersebut maka ia mengalami kekalahan dan diasingkan ke suatu tempat. Di tempat baru ini ia mendapat perlindungan dari penguasa Diyar Bakr, AK. Koyunlu (domba putih), juga suatu suku bangsa Turki. Ia tinggal di istana Uzun Hasan, yang ketika itu menguasai sebagian Persia.51
Selama dalam pengasingan, Juneid tidak tinggal diam. Ia malah menghimpun kekuatan untuk kemudian beraliansi secara politik denagn Uzun Hasan. Ia juga berhasil mempersunting salah seorang saudara perempuan Uzun Hasan. Pada tahu 1459 M, Juneid mencoba merebut Ardabil tetapi gagal. Pada tahun 1460 M, ia mencoba merebut Circassia tetepi pasukan yang dipimpinnya dihadang oleh tentara Sirwan. Ia sendiri terbunuh dalam pertempuran tersebut. Keteika itu anak Juneid, Haidar, masih kecil dan dalam asuhan Uzun Hasan. Karena itu, kepemimpinan gerakan Safawi baru bisa diserahkan kepadanya secara resmi pada tahun 1470 M. Hubungan Haidar dengan Uzun Hasan semakin erat setelah Haidar mengawini salh seorang putri Uzun Hasan. Dari perkawinan itu lahirlah Ismail, yang di kemudian hari menjadi pendiri Kerajaan Safawi di Persia.52
Kemenangan AK-Koyunlu terhadap Kara Koyunlu tahun 1476 M, membuat gerakan militer Safawi yang dipimpin oleh Haidar dipandang sebagai rival politik oleh AK-Koyunlu dalam meraih kekuasaan yang selanjutnya. Padahal sebelumnya Safawi adalah sekutu AK Konyulu, tetapi itulah politik. Ak Konyulu berusaha melenyapkan kekuatan militer dan kekuasaan Dinasti Safawi. Karena itu, ketika Safawi menyerang wilayah Sircassia dan pasukan Sirwan, AK Konyulu mengirim bantuan militer kepada Sirwan, sehingga pasukan Haidar kalah dan Haidar sendiri terbunuh dalam peperangan itu.53
Ali, putra dan pengganti Haidar, didesak oleh bala tentranya untuk menuntut balas atas kematian ayahnya, terutama terhadap AK Konyulu. Tetapi Ya’kub pemimpin AK Konyulu ketika itu dapat menangkap dan memenjarakan Ali bersama kedua saudaranya Ibrahim dan Ismail beserta ibunya, di fars selama empat setengah tahun (1489-1493 M). Mereka dibebaskan oleh Rustam, Putra Mahkota AK Konyulu, dengan syarat mau membantunya memerangi saudara sepupunya. setelah saudara sepupu Rustam itu dapat dikalahkan. Ali bersaudara (Ibrahim dan Ismail) beserta ibunya kembali ke Ardabil. Akan tetapi tidak lama kemudian Rustam berbalik memusuhi dan menyerang Ali bersaudara pada tahun 1494 M dan Ali terbunuh dalam serangan ini.54
Kepemimpinan gerakan Safawi selanjutnya berada di tangan Ismail, yang saat itu masih berusia 7 tahun. Selama 5 tahun Ismail beserta pasukannya bermarkas di Gilan, mempersiapkan kekuatan dan mengadakan hubungan dengan para pengikutnya di Azerbaijan, Syria, Anatolia. Pasukan yang dipersiapkan itu dinamai Qizilbash (baret merah). Ismail memanfaatkan kedudukannya sebagai mursyid untuk mengkonsolidasikan kekuatan politiknya dengan menjalin hubungan dengan para pengikutnya.55

Di bawah pimpinan Ismail, pada tahun 1501 M, pasukan Qizilbash menyerang dan mengalahkan AK Konyulu di Sharur dekat Nakhchivan. Pasukan ini terus berusaha memasuki dan menaklukkan Tabriz, ibu kota AK Konyulu dan berhasil merebut serta mendudukinya. Di kota inilah Ismail memproklamirkan dirinya sebagai Raja pertama Dinasti Safawi. Ia disebut juga sebagai Ismail I.56 Dengan ia sendiri sebagai Syaikhnya yang pertama dan menetapkan Syi’ah Dua Belas sebagai agama resmi kerajaan Safawi. Dengan diproklamasikannya kerajaan Safawi sebagai kerajaan dan ditetapkan pula Syi’ah sebagai agama kerajaan maka merdekalah Persia dari pengaruh dari kerajaan Usmani dan kekuatan asing lainnya. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kerajaan Safawi yang akan turut memberikan kontribusi dalam perkembangan kekuasaan Islam.



4.5.b. Kemajuan Peradaban Islam pada Masa Kerajaan Safawi di Persia
Pada masa pemerintahan Ismail, Safawi berhasil mengembangkan wilayah kekuasaannya sampai ke daerah Nazandaran, Gurgan, Yazd, Diyar Bakr, Baghdad, Sirwan dan Khurasan hingga meliputi ke daerah bulan sabit subur (fortile crescent). Kemudian ia beruasaha mengembangkan wilayahnya sampai ke Turki Usmani tetapi mengadap kekuatan besar dari Kerajaan Turki Usmani tetapi menghadapi kekuaatan besar dari kerajaan Turki Usmani yang sangat membenci golongan Syi’ah. Dalam perebutan wilayah ini Safawi mengalami kekalahan yang menyebabkan Ismail mengalami depresi yang meruntuhkan kebanggaan dan rasa percaya dirinya sehingga ia menempuh kehidupan dengan cara menyepi dan hidup hura-hura. Hal ini berpengaruh pada stabilitas politik dalam kerajaan Safawi. Contohnya adalah terjadinya perebutan kekuasaan antara pimpinan suku-suku Turki, Pejabat-pejabat keturunan Persia dan Qizilbash.57
Keadaan ini baru dapat diatasi pada masa pemerintahan raja Abbas I. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Abbas I untuk memperbaiki situasi adalah :

1.    Menghilang dominasi pasukan Qizilbash atas kerajaan Safawi dengan membentuk pasukan baru yang beranggotakan budak-budak yang berasal dari tawanan perang bangsa Georgia, Armenia dan Sircassia.

2.    Mengadakan perjanjian damai dengan Turki Usmani dengan cara Abbas I berjanji tidak akan menghina tiga khalifah pertama dalam Islam (Abu Bakar, Unar, Usman) dalam khotbah Jumatnya.58
Usaha-usaha tersebut terbukti membawa hasil yang baik dan membuat kerajaan Safawi kembali kuat. Kemudian Abbas I meluaskan wilayahnya dengan merebut kembali daerah yang telah lepas dari Safawi maupun mencari daerah baru. Abbas I berhasil menguasai Herat (1598 M), Marw dan Balkh. Kemudian Abbas I mulai menyerang kerajaan Turki Usmani dan berhasil menguasai Tabriz, Sirwani, Ganja, Baghdad, Nakhchivan, Erivan dan Tiflis. Kemudian pada 1622 M Abbas I berhasil menguasai kepulauan Hurmuz dan mengubah pelabuhan Gumrun menjadi pelabuhan Bandar Abbas.59
Pada masa Abbas I inilah kerajaan Safawi mengalami masa kejayaan yang gemilang. Diantara bentuk kejayaannya adalah :


  1. Bidang Politik dan Pemerintahan

Pengertian kemajuan dibidang politik disini adalah terwujudnya integritas wilayah Negara yang luas yang dikawal oleh suatu angkatan bersenjata yang tangguh dan diatur oleh suatu pemerintahan yang kuat, serta mampu memainkan peranan dalam percaturan politik internasional.


Sebagaimana lazimnya kekuatan politik suatu Negara ditentukan oleh kekuatan angkatan bersenjata, Syah Abbas I juga telah melakukan langkah politiknya yang pertama, membangun angkatan bersenjata dinasti Safawi yang kuat, besar dan modern. Tentara Qizilbash yang pernah menjadi tulang punggung Dinasti Safawi pada awalnya dipandang Syah Abbas tidak diharapkan lagi, sehingga ia membangun suatu angkatan bersenjata reguler. Inti satuan militer ini ia ambil dari bekas tawanan perang bekas orang-orang Kristern di Georia dan di Chircassia. Mereka dibina dengan pendidikan militer yang militan dan persenjataan yang modern. Sebagai pimpinannya ia mengangkat Allahwardi Khan, salah seorang dari Ghulam.60
Berkat kegigihannya Syah Abbas mampu mengatasi kemelut di dalam negeri yang mengganggu stabilitas negara dan berhasil merebut wilayah-wilayah yang pernah disebut oleh kerajaan lain pada masa sebelumnya.



  1. Bidang Ekonomi

Kerajaan Safawi pada masa Syah Abbas mengalami kemajuan dibidang ekonomi, terutama industri dan perdagangan. Stabilitas politik Kerajaan Safawi pada masa Abbas I ternyata telah memacu perkembangan perekonomian Safawi, lebih-lebih setelah kepulauan Hurmuz dikuasai dan pelabuhan Gumrun diubah menjadi Bandar Abbas. Hal ini dikarenakan Bandar ini merupakan salah satu jalur dagang antar Timur dan Barat. Yang biasa diperebutkan oleh Belanda, Inggris, dan Perancis, sesungguhnya menjadi milik Kerajaan Safawi.61 Selain itu Safawi juga mengalami kemajuan sektor pertanian terutama di daerah Bulan Sabit Subur (fortile crescent). Dalam masa ini juga masyarakat sudah banyak malakukan budaya wakaf bagi harta-hartanya kepada ummat

3. Bidang Ilmu Pengetahuan, Filsafat dan Sains
Dalam sejarah Islam, bangsa Persia dikenal sebagai bangsa yang peradaban tinggi dan berjasa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila pada masa Kerajaan Safawi tradisi keilmuan ini terus berlanjut.
Ada beberapa ilmuwan yang selalu hadir di majlis istana yaitu Baha Al-Din Al-Syaerazi (generalis iptek), Sadar Al-Din Al-Syaerazi (filosof), dan Muhammad Baqir bin Muhammad Damad (teolog, filosof, observatory kehidupan lebah-lebah).62 Dalam bidang ilmu pengetahuan, Safawi lebih mengalami kemajuan dari pada kerajaan Mughal dan Turki Usmani.63 Pada masa Safawi Filsafat dan Sains bangkit kembali di dunia Islam, khususnya dikalangan orang-orang persia yang berminat tinggi pada perkembangan kebudayaan. Perkembangan baru ini erat kaitannya dengan aliran Syiah yang ditetapkan Dinasti Safawi sebagai agama resmi Negara.
Dalam Syiah Dua Belas ada dua golongan, yakni Akhbari dan Ushui. Mereka berbeda didalam memahami ajaran agama. Yang pertama cenderung berpegang kepada hasil ijtihad para mujtahid Syiah yang sudah mapan. Sedang kedua mengambil dari sumber ajaran Islam, Al-Qur’an dan Hadits, tanpa terikat kepada para mujthadi. Golongan Ushuli inilah yang palling berperan pada masa Safawi.
Menurut Hodhson, ada dua aliran filsafat yang berkembang pada masa Safawi tersebut. Pertama, aliran filsafat “Perifatetik”64 sebagaimana yang dikemukakan oleh Aristoteles dan Al-Farabi. Kedua filsafat Isyraqi65 yang dibawa oleh Syaharawadi pada abad ke XII. Kedua aliran ini banyak dikembangkan di perguruan Isfahan dan Syiraj. Di bidang filosof ini muncul beberapa orang filosof diantaranya Muhammad Baqir Damad (W. 1631 M) yang dianggap guru ketiga sesudah Aristoteles dan Al-Farabi, tokoh lainnya misalnya Mulla Shadra yang menurut sejarah ia adalah seorang dialektikus yang paling cakap di zamannya


  1. Bidang Perkembangan Fisik

Terdapat bangunan-bangunan besar dan indah seperti masjid, rumah sakit, jembatan raksasa di atas Zende Rud dan Istana Chilil Sutun. Kota Isfahan juga diperindah dengan taman-taman wisata yang ditata secra apik. Ketika Abbas I wafat di Isfahan terdapat 162 Masjid, 48 Akademi, 1802 penginapan dan 273 pemandian umum.66


Di bidang seni, kemajuan nampak begitu kentara dalam gaya arsitektur bangunan-bangunannyaseperti terlihat pada mesjid Shah yang dibangun tahun 1611 M dan mesjid Syaikh Lutf Allah yang dibangun tahun 1603 M. Unsur seni lainnya terlihat pula adanya peninggalan berbentuk kerajinan tangan, keramik, karpet, permadani, pakaian dan tenunan, mode, tembikar, dan benda seni lainnya. Seni lukis mulai dirintis sejak zaman Raja Tahmasp I.67
Demikianlah puncak kemajuan yang dicapai oleh Kerajaan Safawi, kemajuan yang dicapainya membuat kerajaan ini menjadi salah satu dari tiga kerajaan besar Islam yang disegani oleh lawan-lawannya, terutama dalam bidang politik dan militer. Kerajaan ini telah memberikan kontribusinya mengisi peradaban Islam melalui kemajuan-kemajuan dalam bidang ekonomi, ilmu pengetahuan, peninggalan seni dan gedung-gedung bersejarah.

Yüklə 0,61 Mb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7   8   9   10




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə