Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal



Yüklə 149,06 Kb.
səhifə2/5
tarix18.01.2018
ölçüsü149,06 Kb.
1   2   3   4   5

Kalau adanya kekejaman itu kita alamatkan kepada sang ayah, karena dia membiarkan anaknya yang sesat itu harus menerima ganjaran kesesatannya, pada hal kesesatan itu memang sudah termaktub atas dirinya, maka juga beralasan sekali kekejaman demikian itu kita alamatkan kepada diri kita sebab kita telah membunuh seekor kutu yang sangat mengganggu, dikuatirkan akan membawa penularan kepada kita, yang ada kalanya akan menimbulkan bencana kepada masyarakat kalau ini sampai menular kepada orang lain. Atau karena kita membuang batu dari dalam kandung empedu atau ginjal kita sebab takut mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan, atau kita memotong salah satu bagian anggota tubuh kita karena dikuatirkan bagian yang rusak itu akan menjalar ke seluruh badan dan akibatnya akan fatal sekali. Kalau semua itu tidak kita lakukan, karena memang sudah termaktub atas diri kita, kemudian kita menderita atau sampai mati karenanya, maka yang harus disalahkan akibat bencana itu hanyalah diri kita sendiri, sebab Tuhan sudah membukakan pintu penderitaan buat kita, sama halnya dengan pintu taubat yang terbuka buat orang yang berdosa. Hanya orang-orang bodoh sajalah yang rela menerima penderitaan demikian itu dengan anggapan bahwa itu memang sudah termaktub atas dirinya. Ini karena kedunguan dan ketololan mereka saja.

 

Sementara kita melihat kutu yang dibunuh, batu yang dibuang dan dicabutnya anggota tubuh yang sakit sungguh adil sekali - meskipun dalam hukum alam sudah termaktub, bahwa kutu akan mengganggu dan akan membawa penularan penyakit kepada manusia, batu dan anggota tubuh yang sakit akan mendesak bagian tubuh yang lain sehingga dapat membinasakan - dengan melihat semua ini bagaimana kita tidak akan menganggapnya suatu kebodohan yang naive sekali, yang tak dapat diterima akal selain pikiran egoistis yang sempit, yang melihat keadilan itu hanya dari segi kita yang subyektif saja, dan tidak menghubungkannya kepada seluruh masyarakat insani, atau lebih dari itu, menghubungkannya kepada alam semesta?!



 

Apa artinya kutu, batu dan manusia dibandingkan dengan alam ini? Bahkan apa artinya seluruh umat manusia dibandingkan dengan alam? Dengan khayal kita yang sempit, kita berusaha hendak membayangkan batas-batas alam yang luas, dengan ruang dan waktu, dengan awal dan akhir, dan dengan segala kata-kata yang semacam itu. Sudah tak ada jalan lain lagi buat kita akan dapat membayangkan bentuk alam ini selain itu, karena memang sangat terbatas sekali, sesuai dengan pengetahuan yang ada pada kita, yang juga terbatas, dan masih sedikit sekali. Dan yang sedikit ini sudah cukup memperlihatkan kepada kita bahwa undang-undang Tuhan dalam alam ialah undang-undang yang teratur dan seimbang, yang tak berubah-ubah dan bertukar-tukar. Kita sampai mengetahui undang-undang ini karena Tuhan menganugerahkan kepada kita pendengaran, penglihatan dan jantung, supaya kita melihat segala keindahan ciptaanNya ini, dapat memahami alam sesuai dengan undang-undangNya itu. Maka kita pun mengagungkan kemuliaan Tuhan, kita berbuat baik menurut yang diperintahkanNya. Dan berbuat baik atas dasar iman, buat mereka yang mengerti ialah suatu manifestasi ibadat yang paling tinggi kepada Tuhan.


Maut ialah akhir hidup dan permulaan hidup. Oleh karena itu yang merasa takut mati hanya mereka yang menolak adanya hidup akhirat dan merasa takut pada kehidupan akhirat karena perbuatan mereka yang buruk selama dalam dunia. Mereka tidak ingin mati mengingat adanya perbuatan tangan mereka sendiri. Akan tetapi mereka yang memang sudah bersedia mati, ialah orang-orang yang benar-benar beriman dan mereka yang berbuat kebaikan selama hidup di dunia. Seperti dalam firman Allah: "Dia Yang telah menciptakan Mati dan Hidup untuk menguji kamu siapa diantara kamu yang lebih baik perbuatannya. Dia Maha Kuasa, Maha Pengampun." (Qur'an, 67: 2)

 

Dan firmanNya lagi yang ditujukan kepada Nabi: "Kami tidak pernah menjadikan manusia sebelum engkau itu kekal selamanya. Kalau engkau mati, apakah mereka akan hidup kekal? Setiap jiwa akan merasakan mati dan kamu akan Kami uji dengan yang buruk dan yang baik sebagai suatu cobaan, dan kamu kelak pun akan kembali kepada Kami." (Qur'an, 21: 34 - 35)



 

"Perumpamaan mereka yang dibebani membawa Kitab Taurat, kemudian tidak mereka bawa, sama seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar. Buruk sekali perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Tuhan itu; dan Tuhan tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Katakanlah: 'Wahai orang-orang yang menganut agama Yahudi, kalau kamu mendakwakan bahwa kamu sahabat-sahabat Tuhan diluar orang lain, nyatakanlah keinginanmu akan mati itu -jika benar-benar kamu jujur. Tetapi kamu tidak akan pernah menyatakan keinginanmu itu, karena perbuatan tangan mereka sendiri yang telah mereka lakukan. Tuhan Maha Mengetahui akan orang-orang yang zalim itu." (Qur'an, 62 :5 - 7)

 

"Dialah Yang telah mengambil jiwamu pada malam hari dan Dia



mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang harinya. Kemudian

kamu dibangkitkan kembali supaya waktu tertentu dapat

dipenuhi. Sesudah itu kepadaNya juga tempat kamu kembali.

Kemudian kepadamu diberitahukanNya apa yang telah kamu

kerjakan." (Qur'an, 6: 60)

 

Inilah beberapa ayat yang sudah jelas sekali menolak apa yang dikatakan orang bahwa jabariah Islam itu mengajar orang bertopang dagu dan enggan berusaha. Tuhan menciptakan maut dan hidup untuk menguji manusia, siapa daripada mereka yang melakukan perbuatan baik. Perbuatan dalam dunia dan balasannya sesudah mati. Mereka yang tidak berusaha, tidak berjuang di muka bumi ini, tidak mencari nafkah sebagai karunia Tuhan; kalau mereka tidak mau menafkahkan harta mereka; kalau mereka tidak mau mengutamakan sahabatnya meskipun mereka sendiri dalam kekurangan, mereka telah melanggar perintah Tuhan.



 

Sebaliknya, bilamana semua itu mereka lakukan dengan baik, perbuatan mereka akan diterima baik oleh Allah dan pada hari kemudian mendapat pahala dan balasan yang baik. Tuhan akan menguji kita dalam hidup kita ini dengan yang baik dan yang buruk sebagai suatu cobaan. Dengan otak kita, kita juga yang dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Barangsiapa berbuat baik seberat atom pun akan dilihatnya, barangsiapa berbuat keburukan seberat atom juga akan dilihatnya. Kalau apa yang sudah menimpa kita itu bukan karena sudah ditentukan Tuhan terhadap diri kita, niscaya itu akan membuat kita lebih tekun melakukan kebaikan untuk melihat hasil yang baik pula. Sesudah itu sama saja buat kita: adakah Tuhan akan menjadikan kita manusia yang kuat, yang masih giat bekerja, atau akan dikembalikan ke usia yang sudah pikun, yang sudah tidak dapat kita ketahui lagi apa yang dulunya sudah pernah kita ketahui. Kriterium atau ukuran hidup seseorang bukanlah dari jumlah tahun yang sudah ditempuhnya, melainkan dari perbuatan-perbuatan baik apa yang sudah dilakukannya selama itu, dan yang akan menjadi peninggalannya. Mereka yang sudah meninggal di jalan Tuhan (dalam berbuat kebaikan), dalam pandangan Tuhan mereka hidup, di tengah-tengah kita juga kenangan mereka tetap hidup. Berapa banyak nama-nama yang tetap kekal selama berabad-abad karena orang-osrang itu telah mengabdikan diri dan segala daya upayanya untuk kebaikan, mereka itu berada di tengah-tengah kita yang masih hidup, sungguh pun mereka telah berpulang sejak ratusan tahun yang lalu.

 

"Apabila sudah tiba waktunya, mereka takkan dapat mengundurkan atau memajukannya barang sedikit pun juga."



 

Inilah yang benar. Hanya ini yang sesuai dengan hukum alam. Manusia sudah mempunyai batas waktu yang takkan dapat dilampauinya. Sama halnya dengan matahari dan bulan, sudah mempunyai waktu-waktu gerhana yang tidak berubah-ubah, tak dapat dimajukan atau diundurkan. Waktu yang sudah ditentukan ini lebih mendorong orang untuk berusaha dan melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Ia akan berusaha sekuat tenaga.

 

Ia tidak tahu kapan ia akan menemui ajalnya. Bilamana ajal itu sampai maka balasannya apa yang sudah dikerjakannya. Di hadapan kita setiap hari sudah ada buktinya bahwa ajal itu takdir yang tak dapat dielakkan. Ada orang yang mati dengan tiba-tiba dan orang tidak tahu apa sakitnya. Ada orang yang sakit, yang sudah sekian puluh tahun menderita dan merintih melawan penyakitnya itu sampai ia tua serta sudah tak bertenaga lagi. Dari kalangan kedokteran dewasa ini ada yang berpendapat bahwa manusia itu dilahirkan dalam proses pembentukannya sudah ada benih yang menentukan hidupnya. Jarak waktu yang akan ditempuh oleh benih itu untuk mencapai tujuannya yang terakhir dapat pula diketahui asal saja benihnya sendiri dapat kita ketahui. Tetapi untuk mengetahui benih ini bukan soal yang begitu mudah. Adakalanya ia dalam bentuk fisik, tersembunyi dalam salah satu bagian dalam tubuh - bagian yang penting atau tidak penting - adakalanya dalam bentuk psychis dalam pikiran kita, bertalian dengan lapisan-lapisan otak yang akan mendorong pihak yang bersangkutan hidup berpetualang dan mau menghadapi bahaya, atau sebagai pemberani. Allah mengetahui belaka semua itu. Dia yang mengetahui saat kematian setiap manusia itu akan tiba, menurut hukum alam, tanpa dapat diubah dan ditukar-tukar.



Sebagai tanda kasih sayang Tuhan, Ia tidak akan menjatuhkan siksaan sebelum mengutus seorang rasul yang akan memberikan bimbingan kepada manusia dalam mencapai Kebenaran serta menjelaskan pula jalan kebaikan yang harus ditempuhnya. Sekiranya Tuhan akan menghukum manusia karena perbuatan mereka yang salah, niscaya takkan ada makhluk hidup di muka bumi ini yang akan ketinggalan. Tuhan menunda mereka sampai pada waktu tertentu sampai mereka dapat mendengarkan dan mau menerima ajakan para rasul itu dan tidak sampai benar mereka terpesona oleh godaan hidup duniawi. Tuhan tidak mengutus para rasul itu dari kalangan raja-raja, orang-orang kaya, orang-orang berpangkat atau dari kalangan orang cerdik pandai. Mereka diutus dari kalangan rakyat jelata. Nabi Ibrahim tukang kayu, ayahnya pun tukang kayu. Nabi Isa juga tukang kayu di Nazareth. Juga tidak sedikit dari nabi-nabi itu yang tadinya penggembala kambing, termasuk Nabi penutup Muhammad 'alaihissalam. Tuhan mengutus para rasul dari rakyat jelata itu untuk memperlihatkan bahwa Kebenaran itu bukan menjadi milik orang-orang kaya atau orang-orang kuat melainkan milik orang yang mencari Kebenaran demi kebenaran semata. Kebenaran yang azali, yang abadi, ialah orang yang baru sempurna imannya apabila ia sudah dapat mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.

 

"Yang paling mulia di kalangan kamu dalam pandangan Tuhan ialah yang paling takwa - yang dapat menjaga diri dari kejahatan."



 

"Dan bekerjalah, nanti Tuhan akan melihat hasil pekerjaan kamu, dan balasan diberikan hanya sesuai dengan apa yang kamu lakukan."

 

Dan Kebenaran terbesar ialah bahwa Allah itu Benar, tiada Tuhan selain Dia.



 

Maut, akhir dan permulaan hidup. Akhir hidup duniawi dan permulaan hidup akhirat. Soal hidup duniawi yang kita ketahui hanya sedikit sekali. Yang kita ketahui tentang hidup hanya yang berhubungan dengan indera kita, dengan akal kita yang membimbing kita, kemudian dengan jantung kita yang membukakan rahasia hidup itu kepada kita. Sedang mengenai hidup akhirat tak ada yang dapat kita ketahui selain apa yang sudah diterangkan Tuhan kepada kita. Hukum-hukum alam buat kita masih gelap. Ilmunya ada pada Tuhan. Apa yang sudah diterangkan Tuhan dalam Kitab Suci mengenai hal ini sudah memadai kiranya, bahwa itu adalah tempat pembalasan. Kita menyiapkan diri kita dalam dunia ini dengan perbuatan kita, dengan kehendak dan niat kita serta sikap kita sesudah itu; kita bertawakal kepada Allah akan adanya balasan yang adil itu. Sedang apa yang dibalik itu soalnya ada pada Tuhan semata-mata.

 

Sudahkah agaknya mereka sependapat dengan Washington Irving dari kalangan Orientalis dan diluar Orientalis dalam melihat sampai berapa jauh kesalahan mereka dalam menggambarkan jabariah Islam itu? Yang kita catat disini hanyalah yang ada didalam Qur'an. Kita tidak ingin menempatkan masalah ini dalam suatu perdebatan seperti pendapat ahli-ahli ilmu kalam dari kalangan kaum sufi dan yang lain, termasuk para filsuf dan golongan-golongan tertentu dalam kalangan Muslimin. Yang jelas sekali kesalahan Irving ialah dugaannya bahwa masalah qadza dan qadar (takdir atau nasib) dan ketentuan umur diturunkan dan disebutkan di dalam Qur'an sesudah Perang Uhud dan setelah terbunuhnya Hamzah sebagai syahid utama. Pada hal ayat-ayat yang sudah kita kutipkan itu ialah ayat-ayat yang turun di Mekah sebelum hijrah dan sebelum peperangan-peperangan dimulai. Irving dan yang semacamnya telah terjerumus ke dalam kesalahan semacam itu sebab mereka tidak mau menyulitkan diri dalam membahas persoalan yang begitu penting dengan cara yang ilmiah dan cermat. Bahkan mereka menggambarkan Islam menurut konsepsi yang sejalan dengan kecenderungan mereka sendiri sebagai orang-orang Kristen, lalu mereka mengarang-ngarang dalil menurut nafsu mereka sendiri, dengan dugaan bahwa dalil mereka itu akan sudah meyakinkan pembaca tanpa ada orang lain yang akan membuktikan kesalahan mereka itu.


Kalau kalangan Orientalis dapat memahami arti jabariah Islam seperti yang sudah kita gambarkan, niscaya mereka dapat pula menghargai konsepsi filsafatnya yang begitu tinggi, begitu dalam melukiskan hidup ini sehingga dapat menampilkan teori-teori ilmu dan filsafat. Dan ini telah dicapai oleh pikiran manusia dalam pelbagai zaman dengan segala perkembangan dan kemajuannya. Pengertian filsafat Islam ini ialah pengertian yang berimbang, yang tidak mempersempit pengertian determinisma, dunia sebagai kemauan dan pikiran (die Welt als Wille und Vorstellung) dan evolusi kreatif.5 Bahkan semua mazhab itu, dalam susunannya mengikuti jalannya hukum alam dan kehidupan. Kalau pun disini tempatnya tidak cukup memadai untuk menjelaskan gambaran ini, namun akan saya coba meringkaskannya dengan seteliti dan sejelas mungkin. Saya kira orang yang sudah membaca apa yang saya tulis akan sependapat, bahwa dari semua yang pernah kita ketahui tentang teori-teori, pengertian ini memang sangat tinggi, luas dan dalam sekali. Pengertian ini kemudian hari akan membukakan jalan pada pemikiran umat manusia yang lebih agung.

 

Sebelum saya menjelaskan ini secara ringkas, ada dua masalah ingin saya catat dalam hal ini, hendaknya jangan dilupakan pertama dengan ini saya tidak bermaksud hendak menentang teori Kristen. Apa yang pernah diajarkan Isa, oleh Islam juga diakui seperti sudah beberapa kali saya sebutkan dalam buku ini. Hanya saja apa yang diajarkan Islam lebih menyeluruh dan memahkotai semua kenabian dan kerasulan sebelumnya. Kitab-kitab Injil telah juga menegaskan kata-kata Yesus ini. "Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya." Begitu juga keimanan Muslimin kepada Ibrahim, kepada Musa, kepada Isa dan nabi-nabi yang lain sebelum itu, semua sama. Hanya saja kedatangan Islam melengkapi apa yang telah diutus Tuhan kepada mereka itu, mengoreksl kata-kata yang telah dibelokkan oleh pengikut-pengikut mereka, dari arti yang sebenarnya. Kedua mengenai filsafat Islam yang diambil dari Qur'an sudah dikemukakan orang sebelum saya, meskipun tidak sama dengan yang saya kemukakan sekerang ini. Hanya saja yang saya tempuh dalam hal ini sesuai dengan garis tuntunan Qur'an dan dengan cara yang sesuai dengan metoda ilmiah sekarang. Kalau ini berhasil mencapai sasarannya, sudah tentu karena rahmat dan karunia Tuhan juga. Kalau hasil itu belum juga saya peroleh, maka doa yang paling besar saya panjatkan kepada Tuhan ialah semoga mereka yang berpengetahuan dapat memberi petunjuk kepada saya untuk mencapai sasaran itu.



 

Yang mula-mula ditentukan oleh Qur'an ialah bahwa Tuhan sudah menentukan hukum tertentu dalam alam semesta ini, yang tidak berubah-ubah dan bertukar-tukar. Sudah tentu alam itu bukan hanya planet kita ini saja dengan segala isinya, Juga bukan terbatas hanya pada apa yang tertangkap oleh pancaindera kita saja yang terdiri dari planet-planet dan tata surya, tetapi alam itu ialah segala yang diciptakan Tuhan, yang dapat dan yang tidak dapat dirasakan - sensibilia dan insensibilia, yang nyata dan yang gaib. Untuk mengetahui hal ini benar-benar, cukup kalau kita bayangkan bahwa pengetahuan yang ada pada kita memang sedikit sekali: eter yang ada di sekitar kita dan sekitar tata surya yang lain, listrik yang memenuhi eter dan memenuhi bumi kita, jarak yang begitu jauh memisahkan kita dari matahari dan planet-planet lain yang lebih jauh dari matahari, dan di balik planet-planet itu yang jaraknya sampai ribuan tahun cahaya lebih jauh dari matahari.6

 

Kemudian, dibalik semua itu yang tiada terbatas, yang takkan dapat dijangkau oleh imajinasi kita, dan yang halnya ada pada Tuhan ilmunya semua itu berjalan menurut hukum yang sudah pasti tak berubah-ubah. Apa yang sudah kita ketahui semua ini berdasarkan data ilmiah menurut istilah kita sekarang - yang tidak mencampur adukkan fantasi dengan fakta. Kemudian fakta itu disamping fantasi menjadi makin kecil sampai sedemikian rupa, kemudian fakta itu masih tinggal sejauh yang dapat kita ketahui, yang dapat kita ukur menurut ukuran kita, dan apa yang kita peroleh dengan dasar itu, itulah yang kita sebut hukum alam dan kehidupan. Kalau kita mau melepaskan fantasi kita sebebas-bebasnya untuk menggambarkan betapa kecilnya apa yang kita ketahui itu, tentu contohnya akan banyak sekali di hadapan kita, sehingga ruangan dalam buku ini pun akan terlalu sempit karenanya. Kita ambil misalnya penghuni planet Mars. Mereka membangun sebuah pemancar dengan kekuatan 100.000.000 kilowatt supaya dengan demikian apa yang terjadi di tempat mereka diperdengarkan dan diperlihatkan melalui pesawat televisi kepada kita penghuni bumi ini. Sesudah itu, dapatkah kita menahan pikiran kita? Sedang Mars bukanlah planet yang terjauh jaraknya dari kita, juga bukan yang paling sulit akan



dapat kita hubungi.

 

Pengetahuan kita tentang alam ini yang hanya sedikit sekali, segala yang ada dalam alam itu memberi pengaruh juga kepada kehidupan bumi kita dengan segala isinya. Andaikata satu saja dari planet-planet itu dengan ketentuan dari Tuhan berbeda edarannya, tentu hukum alam itu akan jadi berubah, dan berubah pula hidup kita yang pendek dan sedikit ini, terpengaruh oleh keadaan di sekitar kita, oleh hal-hal yang tiada penting sekalipun. Hidup itu terpengaruh dan tunduk kepada kodrat alam karena peristiwa-peristiwa alam yang besar-besar. Dalam menerima pengaruh itu kadang ia menjurus kepada yang baik, kadang malah menyimpang. Baik dalam tujuan yang menjurus ke arah yang baik atau yang menyimpang, dalam kedua hal itu atas dasar yang mempengaruhinya tidak didorong oleh faktor-faktor kehidupan saja melainkan juga oleh kesediaannya dalam menerima pengaruh kehidupan itu serta kekuatan yang timbal-balik saling mempengaruhi. Ada beberapa faktor tertentu yang dapat memberi pengaruh besar dan beranekarupa kedalam jiwa orang. Kemudian pengaruh-pengaruh itu akan saling terdesak ke sudut. Salah satu diantaranya akan jadi juru pemisah, akan jadi batas antara yang baik dengan yang jahat. Yang selebihnya, yang satu akan menjurus kepada yang baik, yang lain kepada yang jahat.



Adanya yang baik dan yang jahat dalam kehidupan ini tidak lain ialah suatu akibat saja dari adanya saling pengaruh antara faktor-faktor kehidupan dengan jiwa manusia. Oleh karena itulah yang baik dan yang jahat itu sudah merupakan sebagian dari gejala hukum yang sudah pasti dalam alam ini. Adanya kedua sifat baik dan jahat ini sudah pula merupakan suatu keharusan, seperti halnya dengan negatif dan positif yang merupakan suatu keharusan adanya listrik. Demikian juga adanya beberapa macam kuman sudah merupakan keharusan hidup dalam tubuh manusia.

 

Tidak ada suatu kejahatan hanya untuk kejahatan saja atau kebaikan hanya untuk kebaikan saja; tetapi itu tergantung kepada maksud yang menjadi tujuannya serta akibat yang terjadi karenanya. Adakalanya terjadinya kejahatan dan kebaikan itu karena keharusan yang mendesak sekali. Alat-alat perusak yang digunakan dalam peperangan untuk menghancurkan jutaan manusia, memusnakan karya-karya ciptaan manusia yang sungguh agung dan indah, diwaktu damai besar sekali artinya. Kalau tidak karena dinamit manusia takkan mampu membelah terowongan dan memasang jalan kereta api didalamnya, takkan mampu menemukan tambang-tambang yang berisikan harta karun terdiri dari batu-batu dan logam yang sangat berharga. Begitu juga gas beracun yang dilepaskan orang yang sedang berperang kepada penduduk sipil dari bangsa yang diperanginya dan yang dianggap sebagai suatu cemar dan cacat besar kepada perikemanusiaan dan sebagai suatu manifestasi kebiadaban dan kepengecutan yang tiada taranya, dimasa damai gas ini besar sekali faedahnya; ia dapat mengabdi kepada perikemanusiaan, menolong umat manusia dari pelbagai penyakit menular yang cukup mengerikan. Gas ini juga yang dapat menjernihkan air dari kuman-kuman berbahaya, seperti gas chlorine misalnya. Dalam dunia perkapalan ia berguna sekali karena sebagian dapat digunakan membasmi hama tikus dan sebagian lagi dapat membahayakan kehidupan para nelayan. Dahulu kala orang membayangkan, bahwa ada jenis-jenis serangga, burung dan binatang-binatang yang sama sekali tak ada gunanya. Tetapi kemudian setelah diselidiki dan dipelajari betapa besar manfaat serangga-serangga, burung-burung dan binatang-binatang itu buat manusia. Negara pun telah pula membuat undang-undang memberikan suaka dan melarang orang membunuh atau memburunya, mengingat betapa menguntungkan makhluk-makhluk itu untuk umat manusia. Mereka yang telah mempelajari makhluk-makhluk ini melihat bahwa makhluk-makhluk ini ingin damai, ingin sekali menyesuaikan diri dengan dunia disekitarnya dalam batas-batas ia dapat mempertahankan eksistensinya, supaya dapat pula ia mengimbangi adanya kebaikan yang harus dipelihara. Binatang-binatang ini tidak mengganggu, kecuali bila hendak membela diri, bila ada pihak yang menyerangnya atau yang mengganggunya.



 

Juga perbuatan-perbuatan kita sebagai manusia tidak ada kebaikan hanya untuk kebaikan saja atau kejahatan hanya untuk kejahatan saja; tetapi yang ada, semua itu tergantung kepada maksud yang menjadi tujuannya serta akibat yang terjadi karenanya. Bukankah pembunuhan itu suatu perbuatan dosa yang dilarang? Sungguhpun begitu dalam melarang pembunuhan Tuhan berfirman:

 "Dan janganlah kamu membunuh yang oleh Tuhan sudah dilarang, kecuali jika atas dasar kebenaran." Membunuh atas dasar kebenaran tidak berdosa. "Dengan hukum qishash itu berarti suatu kelangsungan hidup bagimu, hai orang-orang yang mengerti

..."


 

Algojo yang membunuh seorang penjahat yang telah dijatuhi hukuman mati, orang yang membunuh karena membela diri, prajurit yang membunuh karena membela tanah air, orang beriman yang membunuh supaya jangan digoda orang dan keyakinan agamanya - mereka semua tidak melakukan perbuatan dosa, tidak melakukan pelanggaran. Tidak lebih mereka hanya menyampaikan tugas yang telah diwajibkan Tuhan kepada mereka, dan balasan untuk mereka pun sebagai orang-orang yang telah berbuat kebaikan.

 

Apa yang berlaku terhadap pembunuhan itu, berlaku juga terhadap yang lain, terhadap perbuatan-perbuatan yang silih berganti antara yang baik dengan yang jahat. Sarjana yang telah menemukan alat-alat perusak untuk kepentingan pertahanan tanah air, atau alat-alat perusak yang dapat memberi manfaat kepada dunia di masa damai, orang yang membuat senjata, setiap pekerja, setiap orang di muka bumi ini, apakah ia bekerja untuk melakukan pekerjaan baik atau melakukan pelanggaran, tergantung kepada sasaran yang menjadi tujuannya serta akibat yang terjadi karena perbuatannya itu.


Ini adalah iradat dan undang-undang Tuhan dalam alam. Oleh karena dalam menangkap hukum ini manusia yang diciptakan Tuhan itu kesanggupannya bertingkat-tingkat satu dengan yang lain, maka ada orang yang hanya memusatkan seluruh kegiatannya pada "titik" tempat ia dilahirkan, serta berusaha mengembangkan dan memeliharanya, ada pula yang bakatnya dalam kerajinan, sedang yang lain punya bakat dalam bidang usaha lain - dalam bidang kesenian, tehnik, ilmu pengetahuan misalnya, yang tidak begitu mudah bagi mereka akan dapat menangkap arti hukum itu. Oleh karena mengenal hukum alam itu merupakan dasar bagi manusia supaya ia dapat mencapai tujuan hidupnya, maka ada pula diantara mereka yang telah diberi bakat kenabian. Yang lain diberi kesanggupan untuk menjelaskan ajaran itu kepada kita, mana yang baik dan mana pula yang jahat. Yang lain lagi mendapat karunia berupa ilmu dan pikiran yang akan membuat mereka menjadi pewaris para nabi, maka dituntunnya kita kepada apa yang harus kita lakukan dan apa- pula yang harus kita hindarkan. Juga kita dilengkapi dengan tenaga pikiran dan perasaan, supaya kita dapat menangkap ajaran yang diberikan kepada kita. Dengan itu kita dapat melatih diri supaya kita dapat mencapai tujuan kita dalam hidup ini sebaik-baiknya, supaya kita dapat mengajak orang berbuat baik dan mencegah melakukan kejahatan.



Yüklə 149,06 Kb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2020
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə