Sejarah Hidup Muhammad oleh Muhammad Husain Haekal



Yüklə 149,06 Kb.
səhifə5/5
tarix18.01.2018
ölçüsü149,06 Kb.
#39100
1   2   3   4   5

 

Tujuan pokok yang saya harapkan ialah, semoga apa yang saya maksudkan dengan pembahasan ini sudah akan memadai juga hendaknya, dan semoga dengan ini saya sudah merambah jalan ke arah adanya pembahasan-pembahasan yang lebih dalam dan menyeluruh dalam bidangnya. Saya sudah berusaha kearah itu sekuat kemampuan saya, dan Tuhan juga kiranya yang akan memberi keringanan kepada saya.



 

"Tuhan tidak akan memaksa seseorang di luar kesanggupannya. Segala usaha baik yang dikerjakannya adalah untuk dirinya, dan yang sebaliknya pun untuk dirinya pula. 'Ya Allah, jangan kami dianggap bersalah, bila kami lupa atau keliru. Ya Allah, janganlah Kaupikulkan kepada kami beban seperti yang pernah Kaupikulkan kepada mereka yang sebelum kami. Ya Allah, jangan hendaknya Kaupikulkan kepada kami beban yang kiranya takkan sanggup kami pikul. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkau jugalah Pelindung kami terhadap mereka yang tiada beriman itu." (Qur'an, 2: 286)

 

Catatan kaki:



 

1 Paham jabariyah ini mengatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan perbuatannya, sehingga manusia tak dapat berbuat lain daripada yang sudah ditakdirkan Tuhan (lihat catatan di bawah). Paham ini sering disamakan dengan 'fatalisma' dan 'predestination.' Sebaliknya dari paham ini ialah qadariyah yang berpendapat bahwa Tuhan hanya menciptakan manusia tapi tidak menciptakan perbuatannya. Kedua aliran paham ini timbul sekitar abad ke-8 M. Menurut Qur'an (2: 177) rukun iman ada lima, yang keenam, yaitu jabariyah tidak ada. Paham ini didasarkan kepada hadis, yang menurut beberapa ahli sanadnya tidak begitu kuat dan dianggap bertentangan dengan Qur'an (A).

2 Yang dimaksud dengan 'papan abadi' tentunya ialah 'al-lauh'l-mahfuz' yang secara harfiah 'papan tulis yang terjaga' dan secara awam kadang diartikan, bahwa segala perbuatan nasib manusia sudah ditakdirkan dan tertulis lebih dulu dalam 'papan' ini, sehingga manusia sudah tak dapat mengelak lagi. Padahal arti 'lauh mafhuz' yang sebenarnya ialah Qur'an (85: 21-22) yang terjaga, yang takkan pernah dapat dipalsu atau diubah oleh tangan manusia (15: 9). Juga tidak sekali-kali dalam arti materi terbuat dari batu, kayu dan sebagainya (A).

3 Ikhtiar disini berarti kemauan bebas atau free will, atau sengaja, sebaliknya daripada jabariyah atau fatalisma (A).

4 Tawakal atau tawakkal berarti mempercayakan diri kepada Allah setelah segala usaha dan daya upaya dilakukan, atau seperti kata pepatah 'habis akal barulah tawakal' (A).

5 Determinisma ilmiah, 'dunia sebagai kemauan dan pikiran' dan 'evolusi kreatif' ialah beberapa mazhab filsafat Barat. Yang pertama menurut pendapat kaum Positivist, yang kedua menurut Schopenhauer dan yang ketiga menurut Bergson. Di sini tempatnya sangat terbatas untuk dapat menguraikan semua ini.

6 Sekedar gambaran, jarak matahari dari bumi 93.000.000 mil jauhnya. Kecepatan tertinggi yang dapat dicatat oleh ilmu pengetahuan sampai sekarang ialah cahaya, yakni 186.000 mil per detik. Ada beberapa bintang yang demikian jauh sehingga cahayanya baru sampai ke bumi sesudah lebil dari 2.000.000 tahun (A).

7 Al-Islam wan-Nashrania, p. 122 - 125.



 

8 Stoa ialah suatu ajaran filsafat Yunani dibangun oleh Zeno (336? - 264? sebelum Masehi). Kaum Stoa percaya bahwa segala kejadian harus diterima dengan tenang dan sabar dan bebas dari segala perasaan benci dan suka, sedih dan gembira (A).



9 Kaum Parisi ialah suatu sekte agama Yahudi dahulu kala yang memisahkan diri, sangat kaku sekali mempertahankan undang-undang agama, baik yang tertulis (Taurat), lisan ataupun adat kebiasaan. Lawan sekte Saduki (A).

10 Dalam menafsirkan ayat ini At-Tabari menyebutkan, bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang percaya kepada Rasulullah; pengikut-pengikut Yahudi ialah orang-orang (yang menganut agama) Yahudi. Mereka ini disebut Yahudi karena kata-kata mereka juga: inna hudna ilaika - 'kami kembali kepadaMu' atau 'kami bertaubat.' Orang-orang Nasrani ialah pengikut-pengikut Kristus. Dinamakan Nasrani, satu pendapat mengatakan nama itu dinisbatkan kepada Nazareth, yaitu nama desa di Palestina tempat Isa dilahirkan, yang lain berpendapat, ialah karena ucapan Isa yang mengatakan 'man anshari ila'llah' ('siapakah penolong-penolongku ke jalan Allah'), maka penolong-penolong itu diberi sebutan 'Nashara' (bentuk jamak 'Nashrani); Shabi'un (atau Sabian) menurut satu pendapat ialah mereka yang menyembah malaikat. Pendapat lain mengatakan, bahwa mereka ini percaya kepada: keesaan Tuhan, tetapi tidak mempunyai kitab suci, tak ada nabi dan tidak mengamalkan sesuatu selain percaya bahwa tak ada tuhan selain Allah. Pendapat ketiga mengatakan, bahwa kaum Shabi'un ini orang-orang tidak beragama (Lihat juga catatan bawah halaman 33). Ibn Jarir menafsirkan ayat dalam firman Tuhan: "Orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian" ialah orang yang percaya akan hari kebangkitan sesudah mati pada hari kiamat, orang berbuat kebaikan dan taat kepada perintah Allah, mereka itulah yang akan mendapat ganjaran dari Tuhan, yakni mereka akan mendapat pahala dari Tuhan karena perbuatan-perbuatan yang baik. Sedang firman "mereka tidak perlu takut, tidak usah berduka cita," ialah bahwa mereka tidak perlu takut dalam menghadapi hari kebangkitan, juga mereka tidak usah bersedih hati akan kehidupan dunia yang ditinggalkannya dalam menghadapi pahala dan kenikmatan abadi dari Tuhan. Dalam hal ini selanjutnya Ibn Jarir mengatakan, bahwa ayat ini ditujukan kepada orang Nasrani yang telah mengajak Salman al-Farisi menganut agama mereka. Salah seorang dari mereka juga mengatakan kepada Salman bahwa kelak akan muncul nabi di negeri Arab dengan menunjukkan sekali akan tanda-tanda kenabiannya itu. Dinasehatinya bahwa kalau nanti sampai ia mengalami supaya dia pun menjadi pengikutnya. Setelah Salman masuk Islam dan hal ini disampaikannya kepada Nabi, Nabi berkata: "Salman, mereka itu penghuni neraka." Hal ini sangat berkesan sekali pada Salman. Maka turunlah ayat ini "Orang-orang yang berirnan dari pengikut-pengikut Yahudi," dan seterusnya. Ada lagi yang berpendapat bahwa Tuhan telah menghapus ayat tersebut dengan firmanNya: "Barangsiapa menerima agama selain Islam ia tidak akan diterima." Tetapi Ibn Jarir menambahkan: "Apa yang kita sebutkan menurut penafsiran yang pertama itu lebih mirip dengan keadaan wahyu menurut lahirnya saja, sebab Tuhan tidak mengkhususkan ganjaran itu atas perbuatan baik, dengan yang sebagian beriman dan yang lain tidak. Predikat dengan kata-kata 'Orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian' meliputi semua yang disebutkan dalam ayat pertama itu. Barangkali dapat juga disebutkan - untuk memperkuat pendapat Ibn Jarir mengenai ulasan ayat "Barangsiapa menerima agama selain Islam, ia tidak akan diterima," - bahwa itu ditujukan kepada orang-orang Islam yang memilih agama lain setelah mereka dilahirkan secara Islam atau sesudah beriman kepada ajaran Islam. Sebaliknya yang dilahirkan tidak sebagai Muslim, ajakan dan ajaran Islam tidak sampai kepadanya seperti apa adanya, maka halnya sama dengan mereka yang sebelum datangnya kerasulan Muhammad atau yang semasa dengan itu tapi belum mengetahui tentang ajaran itu dengan sebenarnya. [Lihat tafsir at-Tabarr (Jami'l Bayan) Jilid Satu hal. 253 - 257].





Yüklə 149,06 Kb.

Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə