Faham tasawuf al-jili



Yüklə 21.92 Kb.
tarix26.10.2017
ölçüsü21.92 Kb.

RESUME

FAHAM TASAWUF AL-JILI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas

Mata Kuliah Akhlak Tasawuf

Dosen Pengampu :Safruroh, M.Pd.I



disusun oleh:

Ade TaufiqArifin

PROGRAM STUDY TARBIYAH PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM

CIAMIS – JAWA BARAT

2013

FAHAM TASAWUF AL-JILLI

a. Riwayat hidup Al-Jili

Nama Al-Jili diambil dari tempat kelahirannya di GIlan. Nama lengkapnya adalah ‘Abdul Karim bin Ibrahim Al-Jili. Ia lahir pada tahun 1365 di Jilan (Gilan), sebuah provinsi di sebelah selatan Kasfia danwafat pada tahun 1417 M. Ia adalah seorang sufi yang terkenal dari Baghdad. Riwayat hidupya tidak banyak diketahui oleh para ahli sejarah, tetapi sebuah sumber mengatakan bahwa ia pernah melakukan perjalanan ke India pada tahun 1387 M. Kemudian belajar tasawuf dibawah bimbingan Abdul Qadir Al-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qaddiriyah yang sangat terkenal. Disamoing itu ia berguru pada Syekh Syarafuddin Isma’il bin Ibrahim Al-Jabrti di Zabid ( Yaman ) pada tahun 1393 – 1403 M.

b. Ajaran Tasawuf Al-Jili

Ajaran tasawuf Al-Jili yang terpenting adalah paham insal kamil ( manusia sempurna ). Menurut Al-JIli, insan kamil adalah nukhah atau copy Tuhan, seperti disebutkan dalam hadits.

خَلَقَ اللهُ ادَمَ عَلَى صُوْرَةِالرَّحْمنِ.



Allah menciptakan Adam dalam bentuk yang Muharahman.

Hadis lainnya :

خَلَقَ اللهُ ادَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ.

Allah menciptakan Adam dalam bentuk diri-Nya.

Sebagaimana diketahi, Tuhan memiliki sifat-sifat seperti hidup, pandai, mampu berkehendak, dan mendengar. Manusia (Adam) pun memiliki sifat-sifat seperti itu. Proses yang terjadi setelah ini adalah memiliki sifat-sifat sperti itu. Proses yang terjadi setelah ini adalah setelah Tuhan menciptakan subtansi, huwiyah Tuhan dihadapkan dengan huwiyah Adam, aniyah-Nya disandingkan dengan aniyah Adam, dan zat-Nya dihadapkan pada zat Adam, dan akhirnya Adam berhadan dengan Tuhan dalam segala Hakikat­-Nya. Melalui konsep ini, kita memahami bahwa Adam, dilihat dari sisi penciptaannya, merupkan salah seorang insan kamil dengan segala kesempurnaannya sebab pada dirinya terdapat sifat dan nama Ilahiah.

Al-Jili berpendapat bahwa nama-nama dan sifat-sifat Ilahiah itu pada dasarnya merupakan milik insan kamil sebagai suatu kemestian yang inheren dengan esensinya sebagai sifat dan nama-nama tersebut tidak memiliki tempat berwujud, melainkan insan kamil.

Al-Jili mengemukakan bahwa perumpamaan hubungan Tuhan dengan insa kamili adalah bagaikan ceriman yang seseorang tidak akan dapat melihat bentuk dirinya, kecuali dengan menggunakan cermin itu.

Dengan demikian pula halnnya dengan insan kamil. Ia tidak melihat dirinya, kecuali dengan cermin nama Tuhan, sebagaimana Tuhan tidak dapat melihat dirinya, kecuali melalui cermin insan kamil. Inilah maksu ayat berikut ini.

اِنَّ عَرَضْناالْاَماَنَةَ عَلَى السَّمو تِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَلَ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَحاوَاَسْفَقْنَ مِنْحاَوَحَمَلَهاَالْاِنْسَا نُ اِنَّه كاَ نَ ظَلُوْماً جَهُوْلًا. (الاحزاب : )

Al-Jili berkata bahwa duplikasi al-kamal (kesempurnaan) adalah sama semua dimiliki oleh manusia, bagaikan cermin yang saling berhadapan. Ketidaksempurnaa manusia disebabkan oleh yang bersifat ‘ardhi, termasuk manusia yang berada dalam kandungan ibunya. Al-Kamal dalam konsep Al-Jili mungkin dimiliki oleh manusia secara professional (bi al-fiil), seperti yang terdapat dalam para wali dan para nabi meskipun dalam intensitas yang berbeda. Intensitas al-kalam yang paling tinggi terdapat dalam diri Nabi Muhammad SAW. Sehingga, manusia lain, baik nabi-nabi ataupun wali-wali, bila dibandingkan dengan Muhammad, bagaikan al-kamil (yang sempurna ) dengan al-akmal (yang paling sempurna) atau al-fadil (yang utama) dengan al-afdhal (yang paling utama.

Insan kamil menurut Al-Jili adalah perencanaan dzat Allah (nuktah al-haq) melalaui proses empat tajalli seperti tersebut diatas, sekaligus sebagai proses maujudat yang terhimpun dalam diri Nabi Muahammad SAW.

Menurut Arberry, konsep iinsan kamil Al-Jili dekat dengan konsep hulul Al-Hallaj dan konsep ittihad Ibn ‘Arabi, yaitu integrasi sifat lahut dan nnasut dalam suatu pribadi sebagia pancaran dari Nur Muhammad. Adapun Ibn ‘Arabi mentransfer konsep hallal Al-Hallaj dalam paham ittihad ketika menggambarkan insan kamil sebagai wali-wali Allah, yang diliputi oleh Nur Muhammad SAW.

Dengan demikian, dari sudut pandang manusia, Tuhan merupakan cermin bagi manusiauntuk melihat dirinya. Sebaliknya, karena Tuhan mengharuskan diri-Nya agar sifat-sifat dan nama-nama-Nya tidak dilihat, Tuhan menciptakan insan kamil sebagai cermin bagi diri-Nya. Dari sini tampak hubungan antara Tuhan dan insan kamil.

Insan kamil bagi Al-Jili merupakan proses tempat beredarnya segala yang berwujud (aflak al-wujud) dari awal sampai kahir. Dia adalah satu (wahid) sejak wujud dan untuk selamannya. Di samping itu, insan kamil dapat muncul dan menampakan dirinyadalam berbagai macam. Ia diberi nama dengan namayang tidak diberikan kepada orang lain. Nama aslinya Muhammada, nama kehormatannya Abu Al-Qasim, dan gelarnya Syamsu As-Din.

Al-jili menunjukan penghargaan dan penghormatan yang tingggi kepada Nabi Muhammad SAW. Sebagai insan kamil yang paling sempurna. Al- jilli mengungkapkan pengalamannya “ Satu ketika aku bertemu dengann Nabi Muhammad dalam bentuk syekhku, yaitu Syaraf Ad-Din Ismail Al-Jabarti. Aku tidak tahu bahwa dia adalah Nabi Muhammad dan yang aku ketahui bahwa dia adalah syekhku.inilah satu penglihatan yang aku dapati di Zabid pada tahun itu.\Makn adari kandungan peristiwa itu bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki kemampuan mengambil bentuk dalam berbagai bentuk. Apabila Nabi muncul dalam bentuk aslinya sebagimana saat hidupnya, beliau dipanggil dengan nama Muhammad. Akan tetapi, bila beliau muncul dalm bentuk lain dan diketahui bahwa dia adalh Muhammad , ia dipanggil dengan nama sesuai dengan nama bentuk itu. Nama yang dimakasud dalam konteks ini adalah hakikat Muhammad.

Menurut Al-Jili, ada perbedaan antara mimpi dan pertemuan mistik, yaitu bahwa dalam mimpi, Muhammad masuk dalam diri sesorang yang sedang tidur. Hal inii tentu akan membuatnya sadar akan hakikat Muhammad sehingga ia tidak dapat memperolehnya dan ketika orang itu bangun, lalu ia menafsirkan hakikat yang tingkatannya sebatas mimpi saja. Sebaliknya, dalam pertemuan mistik langsung maka setelah melihatnya dalam diri, ia tidak boleh bertingkah laku dihadapannya sebagai tingkah laku sebelumnya.

Untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sorang Sufi harus menempuh jalan panjang berupa stasiun-stasiun atau dalam istilah Arab disebut maqamat. A-Jili dengan membwa filsafat insan kamil merumuskan beberapa maqam yang harus dilalui seorang sufi, yang menurut isrtilanhnya disbut Al-Martabah atau jenjang atau tingkat. Tingkat-tingkat itu adalah :



  1. Islam.

  2. Iman.

  3. Shalah.

  4. Ihsan.

  5. Syahadah.

  6. Shuiddiqiyah,

  7. Qurban.

Pertama, Islam, yang didasarkan pada lima pokok atau rukun dalam pemahaman kaum sufi tidak hanya dilakukan secar ritual saja, tetapi harus dipahami dan dirasakan lebih dalam. Misalnya puasa, menurut Al-Jili, merupakan isyart untuk menghindari tuntunan kemanusiaan agar si shiam memiliki sifat-sifat ketuhanan, yaitu dengan cara mengosongkan jiwanya dari tuntunan-tuntunan kemanusiaan, maka terisilah jiwa-jiwa oleh sifat ketuhanan.

Kedua, iman, yakni membenarkan dengan sepenuh keyakina akan rukun iman dan melaksanakan dasar-dasar Islam.

Ketiga, ash-shalah, yakni dengan maqam ini, seorang sufi mencapai tingkat ibadah yang terus-menerus kepada Allah dengan penuh perasaan khauf dan iraja’. Tujuan ibadah pada maqam ini adalah menuju nuthqah ilahiyah pada lubuk hait sang hamba, sehingga ketika mencapai kasyaf, ia akan menaati syariatTuhan dengan baik.

Keempat, ihsan, yakni mqam ini menunjukan bahwa seorang sufi telah mencapau tingkat mrnyaksikan efek (atsar) nama dan sifat Tuhan, sehingga dalam ibadahnya, ia merasa seakan-akan berada dihadapan-Nya. Persyaratan yang harus ditempuh pada maqam ini adalah adalah sikap istiqamah dalam tobat, inabah, zuhud, tawakal, tafwidh, rida, dan ikhlas.

Kelima, syahadah, Seorang sufi pada maqam ini ia telah mencapai iradah yang bercirikan, yaitu mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, mengingatNya secara terus-menerus, dan meninggalkan hal-hal yang menjadi keinginan pribadi. Syahadah terbagi dalam dua tingkatan, yaitu mencapai mahabbah kepada Tuhan tanpa pamrih, yang merupakan tingkat paling rendah, dan menyaksikan Tuhanpada semua makhluknya secara ‘ainl yaqin, merupakan tingkat paling tinggi,

Keenam, shiddiqiyah. Istilah ini menggambarkan tingkat pencapaian hakikat yang makrifat, yang diperolah secara bertahap dari, al-yaqin, ‘ain al-yaqin, dan haqq-yaqin. Keriga tahapan tersebut diperoleh secara bertahap.

Ketujuh, Qurbah,. Maqam ini merupakan maqam yang memungkinkan seorzng sufi dapat menampakkan diri dalam sifat dan nama yang mendekati sifat dan nama Tuhan.

Dostları ilə paylaş:


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə