Nazhom jaljalut



Yüklə 57,34 Kb.
tarix18.01.2019
ölçüsü57,34 Kb.
#101156

© NAZHOM JALJALUT


لا تتكلموا بالحكمة عند الجهال فتظلموها
 ولا تمنعوها أهلها فتظلموهم


LITERATUR-LITERATUR berbentuk doa warisan sufi dalam sebuah komunitas tertentu merupakan fenomena tradisi kehidupan yang kuat sekaligus unik. Kuat karena didalamnya banyak mengandung nilai karakteristik abadi, unik karena sering disampaikan dalam bentuk-bentuk mistik yang terkadang makna teologisnya sering dianggap kurang memadai.

Diantara salah satu doa semacam ini adalah Kidung Jaljalut atau sering disebut dengan Kasidah Jaljalut yang dalam komunitas tertentu sangat terkenal dan dipercaya memiliki asrar ruhaniyyat atau rahasia-rahasia magis yang tersembunyi. Konon setiap huruf dari bait-baitnya bisa menghubungkan si pewirid dengan energi ribuan malaikat, sehingga acapkali dalam proses laku batinnya, si pewirid akan merasakan derap gemuruh ribuan malaikat yang meluncur turun dari langit, tak heran jika kidung ini juga sering disebut dengan Kidung Jaljalut.

Kidung Jaljalut adalah doa atau munajat berbentuk nadzam (syair) yang juga merupakan doa tawassul dengan Asma Allah dalam bentuk bahasa arab dan kosa-asma dari perbendaharaan bahasa yang sulit dipahami dan banyak memunculkan kesamaran arti.

Jaljalut Dalam Analisa Bahasa

BERTEORI tentang asal-usul bahasa sangatlah spekulatif, ibarat menghirup udara, setiap saat kita mengkomsumsinya tanpa mempertanyakan dari mana asal-usul udara, kita baru merasa resah tatkala ada polusi udara yang membuat nafas sesak. Hal serupa terjadi ketika sebuah bahasa tidak lagi menyehatkan dan bahkan membingung-kan, maka kita mulai kritis menanyakan bahasa dan berbagai aspek serta fungsinya. Karena sifatnya yang spekulatif inilah maka teori asal-usul bahasa telah berkembang sedemikian rupa dari yang bersifat ilmiah, ideologis-rasialis, sampai yang bernada mitos dan main-main.


Pakar Bahasa membagi teori asal-usul bahasa kedalam tiga kelompok besar;

© Teologis,
© Naturalis dan
© Konvensionalis.

teori ini jika dibawa pada penafsiran dan pendapat ulama tentang kesamaran arti dari beberapa kosa-asma yang terdapat pada beberapa rangkaian bait kidung Jaljalut, maka akan dua teori.


Pendapat pertama mengatakan bahwa asma-asma ini adalah nama-nama Allah dalam bahasa Suryani. pandangan ini lebih cenderung pada teori naturalis yang beranggapan bahwa kemampuan manusia berbahasa merupakan bawaan alam.


Dalam pandangan ini, kata Jaljalut sebagai nama judul dari kidung yang merupakan bahasa Suryani yang berarti Al-Badi’ atau sang Kreator atau pencipta, Adapula yang mengatakan bahwa Jaljalut sebenarnya dari bahasa arab yang berarti Jalla jalâluh. asal katanya adalah Jaljalayût kemudian mengalami i`lal (penyulihan) kata menjadi Jaljalut. Penyulihan ini lebih disebabkan untuk meringankan bacaan sebagaimana dimaklumi bahwa lahjah atau pronoun orang arab merasa berat jika menyuarakan empat huruf atau lebih yang kesemuanya berharakat. Bentuk tsulatsi mujarradnya (tanpa imbuhan) adalah Jalla (agung).


Pendapat lainnya lebih mengambil sikap hati-hati dengan tidak menyandarkan pada bahasa tertentu yang umum dikenal, dan dengan berpedoman pada ayat yang berbunyi;
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama(benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!",

mereka lebih meyakini bahwa ini merupakan asma-asma yang langsung bersumber dari Allah SWT dan hanya sedikit sekali orang yang dapat memahaminya. 


Karena alasan inilah mereka cenderung menyebutnya dengan istilah "Asma Rabbaniyah". Pendapat ini seperti pandangan teori teologis yang mengatakan bahwa manusia bisa berbahasa karena anugerah Tuhan. Dengan kata lain asma-asma ini bukanlah sebuah bentuk bahasa arbitrer atau “mana-suka”, tetapi tidak lebih dari paket perbendaharaan bahasa yang diberikan langsung oleh Tuhan tanpa melalui akar budaya sebuah lembaga yang bernama masyarakat tertentu sebagai pemilik bahasa.


Senada dengan pendapat terakhir,
Al-Buni menjelaskan bahwa jaljalut sengaja diturunkan sebagai hadiyah yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan malaikat Jibril as . ketika Nabi SAW dihadiahi asma Jaljalut ini, Nabi SAW menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk menuliskannya dengan tinta emas diatas kulit rusa, kemudian catatan ini diserahkan kepada Abu Bakar ketika dingkat menjadi khalifah, lalu dilanjutkan ke umar bin Khattab, dan diteruskan ke Utsman bin Affan”, selanjutnya asma-asma ini oleh Sahabat Ali bin Abu Thalib dirangkai dalam bentuk syair yang akhirnya dikenal dengan kasidah Jaljalut.


Wacana Tanda dalam Kidung Jaljalut


Sebagaimana umumnya syair-syair arab Bait-bait Kidung Jaljalut ini mengikuti bahr tertentu, dan bentuk taf‘ilah atau pola dasar pembentukan bahr yang ada dalam ilmu Arud. Adapun penamaan Jaljalūt itu sendiri lebih dimungkinkan karena adanya lafad Jaljalut yang terdapat dalam qasidah ini.


Dari awal sampai akhir bait Kidung Jaljalut, semuanya diakhiri dengan aliterasi ta’ (ت) yang berturut-turut seperti lafad fatajaljalat, shalmahat, uhmidat, dll. Bunyi-bunyi ini tidak saja menunjukan sebuah pola bunyi yang bersifat “istimewa” atau khusus demi mendapatkan efek puitis atau nila seni, akan tetapi makhraj huruf ta' yang berkarakter Syiddah Infijâr (Power Explosif) dipergunakan sebagai lambang kesukaran, tekanan, dan kekuatan, yang merangsang kegembiraan, aplaus, sebagaimana Ibnu Sina sendiri menilai bunyi ta’ merupakan suara yang bisa ditimbulkan oleh tepukan kuat dari jari-jari ke telapak tangan. Lapis strata bunyi ini –yang dalam pandangan Norman Ingarden diistilahkan dengan sound stratum– melahirkan level strata arti (units of meaning) Kidung Jaljalut yang banyak didominasi dengan atribut qasam (sumpah) ba' (ب) yang ditulis dalam aksara Arab seperti sebuah perahu dengan sebuah titik di bawahnya menunjukkan makna simbolik dari "ketundukan dan konsentrasi” sekaligus penekanan penyair terhadap ke Maha Esaan Tuhan.


Penjumputan asma-asma Tuhan dalam Kidung Jaljalut merupakan bentuk ekspresi bahasa penyair sebagai manusia yang butuh, hajat dan fakir sekaligus ekspresi hubungan tegak lurus dan langsung dengan Tuhan, yang Esa, yang Akbar dan Transenden. Dalam ketidaklangsungan ekspresi, Penyair melihat sebuah dunia sebagai sesuatu konflik yang besar, antara yang baik dan yang jahat.


Segala penyandingan asma-asma dengan permintaannya kepada Yang Maha sebagaimana tercermin dalam setiap bait-baitnya adalah bentuk cerminan simbol birokrasi manusia dalam rangka memuluskan segala hajat dan urusannya. Dan inipun menggambarkan dibalik kesadarannya akan keabsolutan Tuhannya, ada dimensi lain dalam diri penyair yakni keinginan menguasai sesuatu yang dianggap merongrong eksistensinya. Ini sebanding lurus dengan pandangan Nieatze yang mengatakan bahwa dalam diri seseorang selalu terdapat dorongan laten untuk memperoleh kekuasaan atas orang lain.


Simbolisasi bahasa ini merupakan salah satu dari tiga perspektif bahasa yang meliputi pada; sesuatu sistem simbol, sesuatu yang diketahui, dan sesuatu yang digunakan, oleh penyair ketika menggambarkan monotheisme dalam memberikan makna kosmis akan peran serta aktifnya terhadap konflik dualisme simbolik kehidupan seperti baik dan jahat, hitam dan putih yang pada hakikatnya bermuara pada Sang Tunggal.


Pemasangan penyair terhadap kosa-asma rahasia yang menurut sebagian ulama merupakan asma' Rabbaniyah menunjukan latar keakraban penyair dengan Alam Pengetahuan Ketuhanan yang serba absolute. Dan tentunya, dengan mereleas perbendaharaan kosa-asma yang bukan Arab dalam menggambarkan Dzat Tuhan, secara tidak langsung penyair telah menghilangkan citra hegemoni bahasa Arab sebagai bahasa agama sekaligus melakukan universalitas budaya bahasa dalam menyebut jati diri Tuhan.

Kalaulah benar kidung ini adalah gubahan Imam Ali RA, maka semakin jelaslah bagi kita akan alasan Nabi sehingga menjulukinya sebagai Babul ilmi.

ILMU HIKMAH DOA JALJALUT, Edisi Perdana

Sumber: Kitab "MANBA`U USHUULIL HIKMAH" (terbitan: AL-MAKTABAH ASY-SYA`BIYYAH", Beirut-Libanon);

Karya: Al-Imam, Abul `Abbaas, Ahmad bin `Aliy Al-Buuniy (wafat: 622).

Al-Mujiiz (Pemberi Ijazah): Al-Ustadz, (Al-Marhum), `Abbaas, Berangkal, Bandarkedungmulyo, Jombang, Jawa Timur, Indonesia, sekitar tahun 1983-1985);

Kata Pengantar Penerjemah:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم.

الحمد لله رب العالمين.

أشهد أن لآ أله ألا الله الكريم

وأشهد أن محمدا عبده ونبيه ورسوله المبعوث رحمة للعالمين.

ربنا اغفرلي ولوالدي وللمؤمنين يوم يقوم الحساب. آمين!

ربنا هب لنا من أزواجنا وذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين أماما. آمين!

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ومولانا محمد وآله ألى يوم الدين. آمين!

أمابعد:


Pada edisi tunggal ini akan diterjemahkan 10 (sepuluh) kidung/tembang/syair/puisi doa yang disusun sekitar abad keeenam-ketujuh hijriyyah ini, kayak mendatang, insya Allah Ta`ala :

Gresik, 07 Desember 2012

Matur sekelangkung (bahasa Madura), Syukran (Al-`Arabiyyah/Arabic/bahasa Arab), Thank you (Al-Injiliyziyyah/English/bahasa Inggris), Terima kasih (Al-Induuniisiyyah/Indonesian/bahasa Indonesia), Matur suwun (Al-Jaawiyyah/Javanese/Java language/bahasa Jawa).

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسم الله الرحمن الرحيم.

بَدَأْتُ بِبِسْمِ اللهِ رُوْحِيْ بِهِ اهْتَدَتْ * أِلَى كَشْفِ أَسْرَارٍ بِبَاطِنِهِ انْطَوَتْ.

/ BADA`TU BI-BISMILLAAHI RUUHII BI-HIHTADAT * ILAA KASYFI ASRAARIN BI-BAATHINIHIN THAWAT./ Aku mengawali berdzikir seraya menyebut Nama Allah, yang lantaran hal itu ruh-ku berpeluanglah akan mendapatkan hidayah/guide/petunjuk * untuk mengungkap/membuka terhadap beragam sir (rahasia/perkara yang tidak diketahui umum), yang terkandung/termuat di dalam nya (Lafal/Nama ALLAH

Syair kedua :

وَصَلَّيْتُ فِي الثَّانِيْ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ * مُحَمَّدٍ مَنْ زَاحَ الضَّلاَلَةَ وَالْغَلَتْ.

/ WA-SHALLAYTU FITS-TSAANIY `ALAA KHAYRI KHALQIHII * MUHAMMADIN MAN ZAAHADL DHALAALATA WAL-GHALAT.

/ Kedua kalinya aku berdoa, moga shalawat (rahmat beserta ta`dhim/belaskasihan/kemauan baik beserta pengangkatan derajat) akan selalu Allah Ta`ala tetapkan bagi sebaik-baik makhluk Allah * yaitu Baginda Nabi Muhammad, yaitu orang yang telah menghilangkan/membasmi kesesatan dan kesalahan

سَأَلْتُكَ بِاْلأِسْمِ الْمُعَظَّمِ قَدْرُهُ * بِآجٍ أَهُوْجٍ جَلَّ جَلْيُوْتُ جَلْجَلُتْ.

/ SA-ALTU-KA BIL-ISMIL MU`ADHDHAMI QADRUHUU * BI-AAJIN AHUUJIN JALLA JALYUUTU JALJALUT.

/ Aku berdoa kepada Engkau, wahai Allah, seraya ber-tawassul/perantaraan dengan amal shalih berupa menyebut ISIM/NAMA yang diagungkan derajatnya * yaitu dengan menyebut Nama Allah "AAJIN", "AHUUJIN", "JALLA JALYUUTU" dan "JALJALUT

Syair/Kidung keempat :

فَكُنْ يَا أِلهِيْ كَاشِفَ الضُّرِّ وَالْبَلاَءْ * بِهَيٍّ جَلاَ هَمِّيْ بِهَلٍّ بِهَلْهَلَتْ.

/ FA-KUN YAA ILAAHII KAASYIFADL DLURRI WAL-BALAA` * BI-HAYYIN JALAA HAMMII BI-HALLIN BI-HALHALAT.

/ Maka sudilah kiranya Engkau wahai Allah, bertindak sebagai Pembuka/Pengurai/Pelenyap kemelaratan dan kesusahan * Seraya ber-wasilah/penghubung amal shalih berupa menyebut Nama Allah "HAYYIN", "HALLIN" dan "HALHALAT", akan berpeluang sirna-lah kegundahan hatiku.

Insya Allah Ta`ala AL-ASMAA-UL HUSNAA (Nama-nama yang Terbaik) bagi Allah Ta`ala yang berlogat Suryaniyyah, misalnya kayak "AAJIN"/"آج" dan yang lain akan kita terjemahkan ke dalam bahasa Arab dan Indonesia di kala penerjemahan sudah sampai pada syair yang kesepuluh

وَاَحْيِ أِلهِي الْقَلْبَ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ * بِذِكْرِكَ يَاقَيُّوْمُ حَقًا تَقَوَّمَتْ.

Suka / WA-AHYI ILAAHIL QALBA MIN BA`DI MAUTIHII * BI-DZIKRI-KA "YAA QAYYUUMU"! HAQQAN TAQAWWAMAT.

/ Moga Engkau (wahai Allah) Tuhanku, berkenan menghidupkan hati sesudah matinya ini * Dengan perantaraan berdzikir kepada Engkau dengan menyebut lafal "YAA QAYYUUMU!" secara benar, akan berpeluang bangkit dengan tegak lurus-lah hati ini

وَزِدْنِيْ يَقِيْنًا ثَابِتًا بِكَ وَاثِقًا * بِحَقِّكَ يَاحَقُّ اْلأُمُوْرُ تَيَسَّرَتْ.

WA-ZID-NII YAQIINAN TSAABITAN BI-KA WAATSIQAN * BI-HAQQIKA "YAA HAQQU!"-L UMUURU TAYASSARAT.

/ Wahai Allah, moga Engkau berkenan menambahkan kepadaku akan keyakinan yang kukuh, yang percaya penuh terhadap Engkau * Berkat/Ber-tawassul dengan kebenaran-Mu "YAA HAQQU!", berbagai problem menjadi berpeluang akan mudah terurai

Syair ketujuh :

وَصُبَّ عَلَى قَلْبِيْ شَآبِيْبَ رَحْمَةٍ * بِحِكْمَةِ مَوْلاَنَا الْحَكِيْمِ فَأَحْكَمَتْ.

/ WA-SHUBBA `ALAA QALBII SYA-AABIIBA RAHMATIN * BI-HIKMATI MAULAANAL HAKIIMI FA-AHKAMAT.

/ Dan moga Engka wahai Allah berkenan menuangkan berbagai campuran rahmat * Berkat kebijaksanaan-Mu, wahai Tuhan kami Yang Mahabijaksana, maka berpeluang menjadi bijaksana-lah hatiku

Syair kedelapan :

أَحَاطَتْ بِنَا اْلأَنْوَارُ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ * وَهَيْبَةُ مَوْلاَنَا الْعَظِيْمِ بِنَا عَلَتْ.

/ Moga berbagai cahaya dari tiap arah datang mengelilingiku * dan juga moga haibah/kewibawaan Tuhanku, Allah Yang Mahaagung, naik kepadaku

Syair kesembilan :

فَسُبَْحَانَكَ اللهُمَّ يَا خَيْرَ بَارِِئٍ * وَيَا خَيْرَ خَلاَّقٍ وَيَا خَيْرَ مَنْ بَعَثْ.

/ FA-SUBHAANAKALLAAHUMMA YAA KHAIRA BAARI-IN * WA-YAA KHAIRA KHALLAAQIN WA-YAA KHAIRA MAN BA-`ATS.

/ Maka Mahasuci Engkau, wahai Tuhan Allah! Wahai sebaik-baik Pencipta! * Wahai Allah, sebaik-baik pencipta! Wahai Allah, sebaik-baik yang membangkitkan (dari kubur)

Syair kesepuluh :

أَفِضْ لِيْ مِنَ اْلأَنْوَارِ فَيْضَةَ مَشْرِقٍ * عَلَيَّ وَأَحْيِ مَيْتَ قَلْبِيْ بِطَيْطَغَتْ.

/ AFIDL LII MINAL-ANWAARI FAIDLATA MASYRIKIN * `ALAYYA WA--AHYI MAITA QALBII BI-THAITHAGHAT.

/ Wahai Tuhan Allah, moga Engkau berkenan memenuhiku daripada berbagai cahaya sebagaimana terpenuhinya cahaya di ufuk Timur! * Dan juga moga Engkau berkenan menghidupkan kembali terhadap hatiku yang mati, berkat NamaMu, "THAITHAGHA

Komentar Penerjemah:

آجٍ


/AAJIN/ALLAH.

أَهُوْجٍ


/AHUUJIN/AL-AHAD/اْلأَحَدْ/Tuhan Allah, Yang Mahaesa.

جَلَّ جَلْيُوْتُ

/JALLA JALYUUTU

/ اَلْبَدِيْعُ

/ AL-BADII` = Tuhan Allah, Yang Maha Penipta tanpa contoh sebelumnya.

جَلْجَلُتْ

/ JALJALUT

/ اَلْقَادِرْ

/ AL-QAADIR = Tuhan Allah, Yang Mahakuasa.

هَيٍّ


/ HAYYIN

/ اَلْكَافِيْ

/ AL-KAAFII = Tuhan Allah, Yang Maha Pemberi kecukupan.

هَلٍّ


/ HALLIN

/ اَلْوَدُوْدْ

/ AL-WADUUD = Tuhan Allah, Yang Maha Pengasih.

هَلْهَلَتْ

/ HALHALAT

/ اَلْبَاسِطْ

/ AL-BAASITH = Tuhan Allah, Yang Maha Melapangkan/Memudahkan (rezeki/berbagai soal).

طَيْطَغَتْ

/ THAITHAGHAT

/ اَلْحَيّْ

/ AL-HAYY = Tuhan Allah, Yang Mahahidup.

Syekh Ahmad bin `Atha-illah, rahimahullaahu ta`aalaa telah berkata kayak berikut ini :

"مِنْ عَلاَمَاتِ مَوْتِ الْقَلْبِ عَدَمُ الْحُزْنِ عَلَى مَا فَاتَكَ مِنَ الطَّاعَاتِ وَتَرْكُ النَّدْمِ عَلَى مَا فَعَلْتَهُ مِنْ وُجُوْدِ الزَّلاَّتِ. (كَاشِفَةُ السَّجَا لِلشَّيْخِ مُحَمَّد نَوَوَيْ بنِ عُمَرَ الْجَاوِيِّ).

/ "MIN `ALAAMAATI MAUTIL QALBI `ADAMUL HUZNI `ALAA MAA FAATAKA MINATH-THAA-`AATI WA-TARKUN NADMI `ALAA MAA FA`ALTAHUU WAJUUDIZ ZALLAATI. (KAASYIFATUS SAJAA, LISY-SYAIKHI MUHAMMNADI NAWAWIBNI `UMARAL JAAWIYYI).

/ Termasuk tanda-tanda matinya hati, yaitu tidak adanya rasa susah terhadap apa yang telah engkau terlantarkan/tinggalkan daripada berbagai ketaatan, dan juga tanpa adanya rasa sesal terhadap apa yang telah engkau lakukan, daripada berbagai-bagai kesalahan. (Kitab "KAASYIUFATUS SAJAA", karya Syekh Muhammad Naawi bin `Umar, Al-Jawiy (asal pulau Jawa), rahimahumallaahu ta`aalaa, aamiin!

والْعِيَاذُ بِاللهِ تَعَالَى مِنْ ذلِكْ !

/ WAL-`IYAADZU BILLAAHI TA`AALAA MIN DZAALIK = Moga Allah Ta`ala akan selalu melindungi kita (umat Islam) dari keadaan hati yang mati itu, aamiin!

Mohon pamit, juga mohon maaf dan terima kasih. Moga salah/khilaf-nya akan Allah Ta`ala maafkan, selanjutnya yang benar juga moga Allah Ta`ala berkati, dan juga kita masih akan dipertemukan lagi, dalam bimbingan dan ridla Allah Ta`ala, aamiyn!



Insya Allah Ta`ala Khasiat/sir/keistimewwaan tiap doa syair tersebut di atas akan kita terjemahkan pada pertemuan mendatang, moga bermanfaat buat meninggikan Islam dan umatnya, aamiin

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yüklə 57,34 Kb.

Dostları ilə paylaş:




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2022
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə