Bab I pendahuluan 1 Latar Belakang Masalah



Yüklə 167.81 Kb.
səhifə1/3
tarix28.10.2017
ölçüsü167.81 Kb.
  1   2   3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Dewasa ini kemajuan sains dan teknologi telah mencapai perkembangan yang sangat pesat, termasuk di Negara kita Indonesia. Pembangunan di Negara kita juga telah mencapai kemajuan yang demikian pesat, terutama sejak bergulirnya era reformasi hingga saat ini. Karenanya, seiring dengan itu, marilah kita umat Islam secara bersama-sama ikut ambil bagian dengan secara aktif, terutama dalam pembangunan mrntal spiritual, agar umat Islam tidak sekedar maju dalam segi fisik saja, namun juga kokoh mentalnya, tidak mudah terjebak dalam pemikiran yang merusak.

Dalam abad teknologi ultra moderen sekarang ini, manusia telah diruntuhkan eksistensinya sampai ketingkat mesin akibat pengaruh morenisasi. Roh dan kemuliaan manusia telah diremehkan begitu rendah. Manusia adalah mesin yang dikendalikan oleh kepentingan financial untuk menuruti arus hidup yang materialistis dan sekuler. Martabat manusia berangsur-angsur telah dihancurkan dan kedudukannya benar-benar telah direndahkan. Modernisai adalah merupakan gerakan yang telah dan sedang dilakukan oleh Negara-negara Barat Sekuler untuk secara sadar atau tidak, akan menggiring kita pada kehancuran peradaban.

Sebagaimana telah kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari, baik secara langsung maupun melalui media cetak dan elektronik, mulai dari prilaku, gaya hidup, norma pergaulan dan tete kehidupan yang dipraktekkan, dipertontonkan dan dicontohkan oleh orang-orang Barat akhir-akhir ini semakin menjurus pada kemaksiatan. Apa yang mereka suguhkan sangat berpengaruh terhadap pola piker umat Islam. Tak sedikit dari orang-orang Islam yang secara perlahan-lahan menjadi lupa akan tujuan hidupnya, yang semestinya untuk ibadah, berbalik menjadi malas ibadah dan lupa akan Tuhan yang telah memberikannya kehidupan. Akibat pengaruh modernisasi dan globalisasi banyak manusia khususnya umat Islam yang lupa bahwa sesungguhnya ia diciptakan bukanlah sekedar ada, namun ada tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT.

Kondisi diatas meluaskan segala hal dalam aspek kehidupan manusia. Sehingga tidak mengherankan ketika batas-batas moral, etika dan nilai-nilai tradisional juga terlampaui. Modernisasi yang berladangkan diatas sosial kemasyarakatan ini juga tidak bisa mengelak dari pergeseran negatif akibat modernisasi itu sendiri. Peningkatan intensitas dan kapasitan kehidupan serta peradaban manusia dengan berbagai turunannya itu juga meningkatan konstelasi- sosial kemasyarakatan baik pada level individu ataupun level kolektif. Moralitas, etika dan nilai-nilai terkocok ulang menuju keseimbangan baru searah dengan laju modernisasi. Pegerakan ini tentu saja mengguncang perspektif individu dan kolektif dalam tatanan kemasyarakatan yang telaha ada selama ini. Hasrat bukanlah sifat baru kemanusiaan. Namun hadir dalam jaman yang penuh tawaran dan godaan dengan berbagai kesempatan dan kemampuan untuk meraihnya dengan berbagai cara, telah menjadikan hasrat manusia sebagai dalang utama berbagai kerusakan moral, etika dan nilai-nilai. Berbagai peristiwa hukum dan kriminal baik di area publik ataupun pemerintahan telah hadir sebagai limbah modernisasi yang tersaji transparan di sepan publik. Sebut saja KKN di pemerintahan, kriminal, kejahatan sexual dan berbagai penyimpangan lainnya. Seolah-olah pakem moral, etika dan aturan-aturan yang berlaku tidak lagi menjadi hal penghalang bagi berbagai penyimpangan-penyimpangan tersebut. Kekhawatiran atas pergeseran itu telah mencajadi wacana hangat diseluruh lapisan masyarakat. Namun laju modernisasi dengan berbagai turunan dan efek negatifnya terus saja mengalami percepatan seakan tak peduli dengan kecemasan itu.

Modernisasi dengan konotasi itu merupakan penghambaan dan penjajahan terhadap bangsa-bangsa di dunia agar tunduk pada prinsip-prinsip barat yang rusak dan menyesatkan. Globalisasi merupakan program yang bertujuan untuk mendayagunakan teknologi sebagai alat untuk mengokohkan kedudukan kepentingan Negara adidaya, memperbudak bangsa-bangsa lemah, menyedot sumber daya alamnya, meneror rakyatnya, manghambat perjalanannya, memadamkan kekuatannya, menghapus identitasnya dan mengubur keasliannya, reformasinya serta pembangunan peradabannya. Dengan kata lain globalisasi merupakan gurita yang menelikung dan mencekik leher dunia Islam.

Bentuk kebudayaan dan peradaban masyarakat modern mengikuti pola kehidupan, cara, ukuran, dan konsep Barat, termasuk teori, partai, perspektif pemikiran ideologis, dan politiknya. Masyarakat modern merupakan cetak biru masyarakat Barat, sehingga pertumbuhan dan perkembangan mereka meninggalkan model masyarakat tradisional, bahkan berlawanan. Meskipun struktur dan elemen-elemen masyarakat modern lemah dan rapuh dibandingkan dengan masyarakat tradisional, namun mereka mendominasi sektor-sektor terpenting dan strategis. Mereka berkepentingan mewujudkan persatuan dua bentuk masyarakat yang ada dengan mengkondisikan masyarakat tradisional untuk menerima modernisasi. Maka terjadilah kontradiksi-kontradiksi antar keduanya secara mendalam dan esensial. Masyarakat modern cenderung agresif dan otoriter dalam menghadapi masyarakat tradisional. Mereka menggunakan pendekatan apa saja yang memungkinkan untuk menyodorkan modernisasi kepada masyarakat tradisional. Masyarakat modern lebih mengutamakan alternatif-alternatif Barat daripada kembali ke pandangan hidup masyarakat tradisional. Akan tetapi, sikap tersebut tidak dapat mencegah hal sebaliknva dari masyarakat tradisional dalam keimanan, perasaan nasionalisme, kemerdekaan, dan kehormatan.

Perubahan kepercayaan, pemikiran, kebudayaan, dan peradaban merupakan prasyarat bagi perubahan ekonomi, politik, dan sebagainya. Itulah sebabnya, ketika masyarakat modern tak dapat mengakomodasikan apa yang tersedia di lingkungannya, mereka memilih alternatif atau model dari negara imperialis yang menjadi pusat-pusat kekuatan dunia. Secara politis, mereka berlindung pada negara-negara tersebut. Terbukalah kemungkinan konfrontasi antara kekuatan eksternal dengan kekuatan internal (kekuatan Islam) bila Islam hendak ditampilkan sebagai kekuatan nyata.

Melihat strategi yang dicanangkan Barat dalam isu globalisasi di atas sungguh amat busuk. Mereka mempunya agenda terselubung dalam mengikis habis ajaran Islam yang dianut bangsa timur. Penyebaran itu mereka lakukan melalui penyebaran informasi dengan sistem teknologi moderennya yang dapat mengirim informasi keseluruh penjuru dunia. Melalui jalur ini mereka menguasai public opini yang tidak jarang berisi serangan, hinaan, pelecehan dan hujatan terhadap Islam dan mengesankan agama Islam sebagai teroris. Perang yang mereka lancarkan bukan hanya perang senjata namun juga perang agama. Mereka berusaha meracuni dan menodai kesucian Islam lewat idiologi sekuler, politik, ekonomi, sosbud, teknologi, komunikasi, keamanan dan sebagainya. Dengan berbagai cara mereka berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya. Secara perlahan-lahan tapi pasti mereka menggerogoti Islam dari dalam dan tujuan akhirnya adalah melenyapkan Islam dari muka bumi.

Modernisasi bagi umat Islam tidak perlu diributkan, diterima ataupun ditolak, namun yang paling penting dari semua adalah seberapa besar peran Islam dalam menata umat manusia menuju tatanan dunia baru yang lebih maju dan beradab. Bagi kita semua, ada atau tidaknya istilah modernisasi dan globalisasi tidak menjadi masalah, yang penting ajaran Islam sudah benar-benar diterima secara global, secara mendunia oleh segenap umat manusia, diterapkan dalam kehidupan masing-masing pribadi, dalam berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Sebagai umat Islam hendaknya nilai modern jangan kita ukur dari modernnya pakaiannya, perhiasan dan penampilan, namun modern bagi umat Islam adalah modern dari segi pemikiran, tingkah laku, pergaulan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, social budaya, politik dan keamanan yang dijiwai akhlakul karimah, dan disertai terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, sejahtera dalam naungan ridha Allah SWT.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :



  1. Bagaimana Implikasi Iman dan Takwa dalam Kehidupan Modern?

  2. Bagaimana Upaya Pengembangan Iman dan Takwa?

  3. Apa Korelasi antara Iman dan Takwa?

  4. Bagaimana cara Iman dan Takwa dalam kaitannya dengan membimbing Ilmu pengetahuan dan teknologi?

  5. Bagaimana cara mengenal Jati Diri Sebagai Cara Peningkatan Iman dan Takwa? Dan

  6. Apa yang harus dilakukan untuk menyiapkan imam bagi orang-orang yang bertakwa?


1.3 Tujuan Penulisan

Adapun Tujuan Penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :



  1. Untuk Mengetahui implikasi Iman dan Takwa dalam Kehidupan Modern

  2. Untuk Mengetahui Upaya Pengembangan Iman dan Takwa

  3. Untuk Mengetahui Korelasi Iman dan Takwa

  4. Untuk mengetahui cara Iman dan Takwa dalam kaitannya dengan membimbing Ilmu pengetahuan dan teknologi

  5. Untuk Mengetahui cara mengenal Jati Diri Sebagai Cara Peningkatan Iman dan Takwa

  6. Untuk mengatahui bagaimana menyiapkan imam bagi orang-orang yang bertakwa?


1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat penulisan makalah ini adalah :



  1. Agar dapat mengetahui tentang implikasi iman dan takwa dalam kehidupan modern sehingga kita mampu untuk menjaga iman dan takwa kita meskipun di zaman yang serba modern ini.

  2. Agar dapat mengetahui bagaimana cara kita mengembangkan dan mengaplikasikan iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Agar dapat mendeskrisikan korelasi ataupun hubungan antara iman dan takwa dalam kehidupan modern.

  4. Serta, agar dapat mengetahui hubungan antara imtak dan iptek dan manifestasinya dalam kehidupan modern.



BAB II

KAJIAN TEORITIS
2.1 Pengertian Iman

Secara etimologi iman berarti percaya (Hamka, 1984 9). Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti juga membenarkan. Sedangkan arti yang sebenarnya adalah mempercayai tentang kebenaran segala yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan keyakinan yang sesungguh-sungguhnya dan semua itu berasal dari Allah SWT.

Menurut pendapat Abdul A’la Al Mandudi :

Tauhid is the bedrock of Islam, its foundation its essence.

Artinya Iman adalah akar landasan Islam, dasar dan pokoknya (Rahmat Rais, 2006:1).

Kita semua memahami bahwa Islam mendasarkan ajarannya terhadap monotheisme murni, artinya ajaran tauhid mutlak hanya kepada Allah SWT semata. Hal ini sesuai dengan firman Allah yang terdapat dalam QS Al-Ikhlas

    



Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
Sedangkan iman yang sempurna harus memenuhi tiga hal, yaitu :

1) Dimantapkan dalam kalbu (tashdiqun bil qalbi)

2) Iqrar dengan lisan (qoulun bil lisan)

3) Dipraktekkan dengan organ tubuh (amalun bil arkan)

Iman dari segi bahasa juga diartikan sebagai pembenaran hati. Iman terambil dari kata aman atau amanah, yang berarti keamanan/ketentraman, sebagai antonim dari kata khawatir/takut. Dari akar kata ini (amn) terbentuk dari sekian banyak kosakata yang walaupun mempunyai arti yang berbeda-beda namun pada akhirnya kesemuanya bermuara kepada makna tidak mengkhawatirkan/aman dan tenteram.

Sesuatu yang merupakan milik orang lain dan berada di tangan kita dinamai amana, karena keberadaannya di tangan kita tidak mengkhawatirkan pemiliknya, ia merasa tenteram bahwa kita akan memeliharanya, dan bila diminta maka kita akan menyerahkannya. Seseorang yang sikapnya selalu menentramkan hati juga dinamai amanah (terpercaya). Demikian pula Kosta kata lain, misalnya kasir atau pemegang kas disebut amiinu al-shuduq, bendahara disebut amiin al-mal, kepala gudang disebut amiin al-makhazan, kepala perpustakaan disebut amiin al-maktabah, dan lain-lain

Iman merupakan bawaan (al-munazzalah/given) dan merupakan potensi rohani manusia. Sebagai bawaan, iman baru merupakan ilm (pengetahuan) tentang Allah SWT pada tingkat awam. Karena itu setiap manusia mempunyai kepercayaan terhadap atau memiliki pengetahuan tentang Allah, bahkan iblis atau setanpun percaya terhadap adanya Allah SWT.

Dalam presfektif islam, iman bukan sekedar percaya kepada Allah, sebab ia belum tentu tauhid, atau masih mengandung kemungkinan percaya kepada yang lain sebagai saingan (andad) Allah dalam ke-ilahi-an. Tetapi iman adalah juga pembebasan dari belenggu paham syirik menuju ke tauhid, dengan mencanangkan dasar kepercayaan yang diungkapkan dengan kalimat al-nafy wal itsbat (negasi-konfirmasi) atau las ilaha illah Allah. Negasi (al-nafy) atau laa ilaha, yakni dimulai dengan proses pembebasan dari belenggu kepercayaan kepada hal-hal yang palsu, menuju ke konfirmasi (al-itsbat) atau illa Allah, yakni pemusatan kepercayaan hanya kepada Allah, tuhan yang maha esa.

Dari sini dapat dipahami, bahwa iman ternyata tidaklah sekedar percaya kepada Allah, tetap mencakup pula pengertian yang benar tentang siapa Allah yang kita percayai itu dan bagaimana kita bersikap kepadanya serta kepada obyek-obyek selain Dia. Iman terhadap sesuatu berarti pengertian /pengetahuan yang benar tentang sesuatu disertai dengan kewajiban untuk mengamalkannya. Kalau belum mewajibkan dirinya untuk mengamalkannya, berarti dia belum beriman walaupun disitu ada pengertian/pengetahuan. Dengan demikian tekanan iman adalah amal, karena itu iman kepada Allah mesti dibarengi dengan sikap kita kepadanya dalam bentuk ibadah (ritus) dan aktualisasinya dalam bentuk amal saleh yang pada gilirannya membentuk kesalehan pribadi dan sosial.

Problem utama manusia, termasuk juga masyarakat kontemporer ialah masalah syirik atau politeisme. Pesan besar ajaran tauhid dalam islam sebenarnya hendak membebaskan manusia dari tindakan kemusyrikan. Di dalam al-quran dijelaskan bahwa ada dia ciri utama dari kemusyrikan, yaitu1. Menganggap tuhan mempunyai syarik (sekutu) 2. Menganggap tuhan mempunyai andad (saingan). Kedua ciri utama itu muncul dalam berbagai manifestasi kehidupan manusia.

Setiap praktek syirik tersebut tentu akan menghasilkan efek pemejaraan harkat manusia dan memerosotkan serta menghancurkan martabat kemanusiaannya, dan ini berarti melawan fitroh manusia sendiri sebagai makhluk yang paling mulia. Sebaliknya, Farhan tauhid justru akan mendorong manusia untuk menemukan dirinya sebagai makhluk yang paling mulia, yang tampil dengan nilai-nilai pribadi yang positif, seperti iman yang benar, sikap kritis, penggunaan akal sehat (sikap rasional), kemandirian, keterbukaan, kejujuran, sikap percaya kepada diri sendiri, berani karena benar, serta kebebasan dan rasa tanggung jawab. Kualitas-kualitas pribadi yang tertanam melalui itu akan terwujud pula dalam kualitas-kualitas masyarakat yang keanggotaannya terdiri atas pribadi-pribadi serupa itu.

Iman dalam arti kepercayaan atau pembenaran hati terhadap Allah, walaupun berasal dari akar kata aman/tenteram namun pada awalnya tidak selalu menghasilkan keimanan/ketentraman jiwa. Di dalam Al-Quran terdapat isyarat-isyarat semacam itu, misalnyadalam QS. An-Nisa : 136, QS. An-Nur : 62 dan QS. Al-Hujurat : 15.

Hal itu pernah dialami oleh Nabi Ibrahim a.s., dan barangkali semua yang telah beriman (alladziina amanuu) pernah mengalaminya. Walaupun tidak terungkap dalam kata-kata. Nabi Ibrahim a.s, pada mulanya mengalami semacam keraguan (tanda tanya) dalam diri beliau, yang pada akhirnya beliau cetuskan di hadapan Allah SWT seraya bertanya : Rabbi arinii kaifa tuhyil maut (Wahai tuhanku, perlihatkan kepadaku bagaimana cara Engkau menghidupkan orang mati), Allah menyambut permohonannya dengan suatu pertanyaan : awalam tumin? (apakah kamu belum beriman?), Ibrahim menjawab balaa, walakin liyathmainna qalbii (benar saya sudah beriman, tetapi agar hatiku menjadi tenang).

Ayat tersebut menggambarkan bahwa nabi Ibrahim a.s, ketika itu telah beriman, tetapi beliau belum mencapai suatu tingkat yang menghasilkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Dalam arti, pada saat itu masih terlintas dalam benak beliau pertanyaan-pertanyaan yang dapat dinilai semacam keraguan. Inilah iman pada tahanya yang pertama, sehingga perlu ditingkatkan dan dikembangkan sedemikian rupa untuk mencapai suatu iman dan keyakinan yang mantap dan sempurna serta tidak pernah terlintas sedikitpun keraguan. Hakikat keimanan orang-orang mukmin (yang sempurna imannya) antara lain dijelaskan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 15

                   

sesungguhnya orang-orang yang mukmin (sempurna imannya) hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka, mereka itulah orang-orang yang benar (sempurna imannya).

Orang-orang yang benar (sempurna imannya) itu pada ayat-ayat lain juga disebut sebagai orang-orang yang bertakwa (Q.S. Al-Baqarah : 177). Apa definisi Takwa itu? Kajian di bawah ini akan menjawab pertanyaan tersebut.
2.2 Pengertian Takwa

Kata takwa terulang dalam Al-Quran kurang lebih sebanyak 17 kali, berasal dari akar kata waqayaqiiwiqayah, yang berarti menjaga, menjauhi, takut, berhati-hati. Dilihat dari segi bahasa, orang yang bertakwa berarti orang yang menjaga diri dari kejahatan; orang yang menghindari, menjauhi, dan takut terjerumus pada perbuatan dosa; dan orang yang berhati-hati. Dari sini dapat dipahami bahwa konotasi takwa lebih mengarah pada soal tanggung jawab atau kecenderungan pada jalan yang benar.

امتثال اوامر الله واجتناب نواهيه

"Takwa adalah mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-laranganNya"

Kalau kita meneliti ayat-ayat Al-Quran, ternyata perintah takwa itu terulang sebanyak 7kali, sedangkan obyek dari takwa ialah Allah SWT sebanyak 56 kali, neraka 2 kali, hari kiamat 4 kali, fitnah/bencana 1 kali, tanpa obyek 1 kali (namun dipahami dari konteksnya bahwa yang dimaksud adalah Allah SWT).

Dari sini dapat dipahami bahwa obyek perintah takwa pada umumnya adalah Allah SWT. Perintah bertakwa kepadanya kalau diterjemahkan secara harfiah berarti jagalah dirimu dari Allah, jauhilah Allah, hindarilah Allah, dan sebagainya. Pengertian ini tentunya bukan maksud dari perintah tersebut, karena tidak seorangpun yang dapat menghindari Allah. Yang dapat dihindari oleh manusia adalah amarah-Nya, azab-Nya, atau hukuman-Nya. Atas dasar itulah, maka para ulama tafsir menyatakan bahwa pada ungkapan bertakwa kepada Allah tersirat satu kata, yakni siksa atau hukuman, sehingga maksud perintah kepada Allah adalah hindarilah siksa atau hukuman-Nya.

Senada dengan pendapat tersebut adalah apa yang dikemukakan oleh Nurcholis Madjid (1992), bahwa istilah takwa diartikan sebagai God Consciousness, kesadaran ketuhanan, yaitu kesadaran tentang adanya Allah yang Maha adil dalam hidup kita. Kesadaran ini membuat kita mengetahui dan meyakini bahwa dalam hidup ini tidak ada jalan menghindar dari Allah SWT dan pengawasannya terhadap tingkah laku kita. Dengan kata lain, kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidup ini mendorong kita untuk menempuh hidup mengikuti garis-garis yang diridhoi-Nya, sesuai dengan ketentuan-Nya.

Siksa Allah kepada makhluk-Nya terbagi ke dalam dua kategori, yaitu di dunia dan di akhirat. Perintah-perintah Allah juga dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu (1). Perintah yang berkaitan dengan alam raya (Q.S. Fushshilat : 11, dll). Perintah ini kemudian menjelma menjadi hukum-hukum alam (sunnatullah) yang dipatuhi oleh alam tanpa ada pilihan baginya kutuk membangkang atau menyimpang. Kepatuhan manusia dalam mengikuti sunnatullah atau pelanggaran manusia terhadap sunnatullah, maka ganjaran atau siksaan/hukumannya akan diperoleh dalam kehidupan di dunia ini. Seseorang yang bekerja keras dan penuh disiplin akan menerima ganjaran berupa kesejahteraan dan kekayaan, sebaliknya yang melanggarnya akan hidup dalam kesempitan dan kekurangan. (2) perintah yang berkaitan dengan pelaksanaan hukum-hukum syariat yang ditujukan kepada manusia, baik perintah untuk berbuat maupun untuk tidak berbuat (larangan), seperti Dirikanlah salat dan tnaikanlah zakat (Q.S. Al-Baqarah : 43) dan sebagainya. Kepatuhan manusia terhadap hukum-hukum syariat atau pelanggarannya, pada hakekatnya ganjar atau siksaan/hukumannya akan diperoleh di akhirat.

Dengan demikian, takwa kepada Allah mempunyai dua pengertian, yaitu tbau lisunnatillah dan itbau syariatillah, dan sekaligus mempunyai dua sisi, yaitu sisi duniawi (memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam), dan sisi ukhrawi (memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat syariat).

Memang kalau diperhatikan arti takwa (dalam presfektif Al-Quran) tersebut, seolah-olah ada kesan pada kita bahwa motivasi bagi segala aktivitas manusia yang dituntut Al-Quran adalah rasa takut dari siksa/hukuman Allah, sedangkan motivasi yang tertinggal belum terungkap adalah rasa cinta kepada-Nya. Dalam khazanah pemikiran islam, terutama di bidang tasawuf, sebagian mereka ada yang menyatakanbahwa derajat takwa adalah derajat minimal yang diharapkan manusia, sedangkan tingkat yang lebih tinggi adalah ihsan. Pendapat ini, menurut M. Quraish Shihab (1992) diperkuat dengan memperhatikan ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang sifat-sifat manusia yang disukai Allah, seperti Al-Muhaimin (orang-orang yang melakukan kebaikan), Al-Muttaqin (Orang-orang yang bertakwa), Al-Muqshithin (Orang-orang yang adil), dan sebagainya.
2.3 Tanda-tanda Orang Yang beriman dan bertakwa

A. Tanda-tanda orang yang beriman



Walaupun iman merupakan hal yang abstrak, tidak bisa dilihat dengan indra manusia, namun orang yang memiliki iman dapat diketahui dengan mengenal tanda-tandanya. Al-Quran menjelaskan tanda-tanda orang yang beriman sebagai berikut:

  1. Jika disebut nama Allah, maka hatinya bergetar dan berusaha agar ilmu Allah tidak lepas dari syaraf memorinya, serta jika dibacakan ayat Al-Quran, maka bergejolak hatinya untuk segera melaksanakannya (Al-Anfal : 2). Dia akan memahami ayat yang tidak dia pahami.

  2. Senantiasa tawakal, yaitu bekerja keras berdasarkan kerangka ilmu Allah, diiringi dengan doa, yaitu harapan untuk tetap hidup dengan ajaran Allah menurut Sunnah Rasul (Ali Imran : 120, Al-Maidah : 12, At-Taubah : 52, Ibrahim : 11, Al-Mujadalah : 1dan At-Taghabun : 13).

  3. Tertib dalam melaksanakan salat dan selalu menjaga pelaksanaannya (Al-Anfal : 3 dan Al-Mukminun : 2 dan 7). Bagaimanapun sibuknya kalau sudah masuk waktu salat, dia segera salat untuk membina kualitas imannya.

  4. Menafkahkan rezeki yang diterimanya (Al-Anfal: 3 dan Al-Mukminun : 4). Hal ini dilakukan sebagai suatu kesadaran bahwa harta yang dinafkahkan di jalan Allah merupakan upaya pemerataan ekonomi, agar tidak terjadi ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin.

  5. Menghindari perkataan yang tidak bermanfaat dan menjaga kehormatan (al-mukminun : 3 dan 5). Perkataan yang bermanfaat atau yang lebih baik adalah berstandar ilmu Allah,yaitu Al-Quran dan menurut sunah Rasulullah.

  6. Memelihara amanah dan menepati janji (Al-Mukminun : 6). Seorang mukmin tidak akan berkhianat dan dia akan selalu memegang amanah dan menepati janji.

  7. Berjihad di jalan Allah dan suka menolong (Al-Anfal : 74) . berjihad di jalan Allah adalah bersungguh-sungguh dalam menegakkan ajaran Allah, baik dengan harta benda yang dimiliki maupun dengan nyawa.

  8. Tidak meninggalkan pertemuan sebelum meminta izin (An-Nur : 62). Sikap seperti itu merupakan salah satu sikap hidup seorang mukmin, orang yang berpandangan dengan ajaran Allah dan menurut sunah Rasul.

Akidah Islam sebagai keyakinan membentuk perilaku bahkan mempengaruhi kehidupan seorang muslim. Abu Ala Maududi menyebutkan tanda orang yang beriman adalah sebagai berikut:

  1. Menjauhkan diri dari pandangan yang sempit dan picik

  2. Mempunyai kepercayaan pada diri sendiri dan tahu harga diri.

  3. Mempunyai sifat rendah hati dan khidmat

  4. Senantiasa jujur dan adil

  5. Tidak bersifat murung dan putus asa dalam menghadapi setiap persoalan situasi

  6. Mempunyai pendirian yang teguh, kesabaran, ketabahan dan optimisme.

  7. Mempunyai sifat ksatria, semangat dan berani, tidak getar menghadapi resik, bahkan tidak takut kepada mati

  8. Mempunyai sikap hidup damai dan ridho

  9. Patuh, taat, dan disiplin menjalankan perintah Ilahi.



Dostları ilə paylaş:
  1   2   3


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə