Bab 1 pendahuluan konteks Penelitian



Yüklə 498,49 Kb.
səhifə2/7
tarix18.04.2018
ölçüsü498,49 Kb.
#48911
1   2   3   4   5   6   7

Guru PAI

Dalam situasi pendidikan atau pengajaran terjalin interaksi antara siswa dengan guru atau antara peserta didik dengan pendidik. Interaksi ini sesungguhnya merupakan interaksi antara dua kepribadian, yaitu kepribadian guru sebagai orang dewasa dan kepribadian siswa sebagai anak yang belum dewasa dan sedang berkembang mencari bentuk kedewasaan.

Kedudukan guru sebagi pendidik dan pembimbing tidak bisa dilepaskan dari guru sebagai pribadi. Kepribadian guru sangat mempengaruhi peranannya sebagai pendidik dan pembimbing. Dia mendidik dan membimbing para siswa tidak hanya dengan bahan yang ia sampaikan atau dengan metode-metode penyampaian yang digunakannya. Tetapi dengan seluruhnya kepribadiannya. Mendidik dan membimbing tidak hanya terjadi dalam interaksi formal, tetapi juga interaksi informal, tidak hanya diajarkan tetapi juga ditularkan. Pribadi guru merupakan satu kesatuan antara sifat-sifat pribadinya, dan peranannya sebagai pendidik, pengajar dan pembimbing.

Guru adalah manusia yang memiliki kepribadian sebagai individu. Guru adalah suatu profesi. Sebelum ia bekerja sebagai guru, terlebih dahulu dididik dalam suatu lembaga pendidikan keguruan. Dalam lembaga pendidikan tersebut, ia bukan hanya belajar ilmu pengrtahuan atau bidang studi yang akan diajarkan, ilmu dan metode mengajar, tetapi juga dibina agar memiliki kepribadian sebagai guru. Kepribadian dia sebagai guru, sudah tentu tidak dapat dipisahkan dari kepribadian sebagai individu.23

Guru juga dapat dikatakan sebagai tenaga pendidik yang pekerjaan utamanya mengajar. Selanjutnya, kegiatan mengajar yang dilakukan guru itu tidak hanya berorientasi pada kecakapan-kecakapan berdimensi ranah cipta saja tetapi kecakapan yang berdimensi ranah rasa dan karsa. Sebab, dalam perspektif psikologi pendidikan, mengajar pada prinsipnya berarti proses perbuatan seseorang (guru) yang membuat orang lain (siswa) belajar, dalam arti mengubah seluruh dimensi perilakunya. Perilaku ini meliputi tingkah laku yang bersifat tertutup seperti berpikir (ranah cipta) dan berperasaan (ranah rasa).24

Dalam UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa:

Pendidik merupakan tenaga professional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. 25


Pendapat lain mengatakan bahwa pendidik dalah bapak rohani (spiritual father) bagi anak didik yang memberikan santapan jiwa dengan ilmu, pembinaan akhlak mulia, dan meluruskannya. Seorang pendidik mempunyai kedudukan yang tinggi sebagaimana yang dilukiskan dalam hadits Nabi Muhammad SAW. bahwa: “ Tinta seorang ilmuwan (ulama’) lebih berharga ketimbang darah para syuhada”.

Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa guru merupakan orang yang diserahi tanggung jawab untuk mendidik dan membimbing dan mengarahkan anak didik agar memilki pengetahuan sekaligus kepribadian yang mulia. Guru juga merupakan satu unsur pendidikan yang berperan dalam keberhasilan proses pendidikan, mengingat besarnya tugas seorang guru, maka guru dituntut untuk senantiasa meningkatkan profesi agar dapat memenuhi tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.

Tugas guru di masa itu sangatlah berat. Karena harus menjalankaan tugas mengajar, mendidik dan membimbing peserta didik untuk menyongsong masa depan. Dalam perspektif pendidikan Islam, keberadaan, peranan dan fungsi guru merupakan keharusan yang tidak bisa diingkari. Tidak ada pendidikan tanpa “kehadiran” guru. Guru merupakan penentu arah dan sistematika pembelajaran mulai dari kurikulum, sarana, bentuk-pola, sampai kepada usaha bagaimana anak didik seharusnya belajar dengan baik dan benar dalam rangka mengakses diri akan pengetahuan dan nilai- nilai hidup.26

Syarat-syarat guru sebagaimana tercantum dalam pasal 42 UU RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni:



  1. Pendidik harus memilki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenanagn mengajar, sehat jasmani dan rokhani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

  2. Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan usia dini, pendidikan dasar,pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi.

  3. Ketentuan mengenai kualifiksi pendidikan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur ;lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.27

Dari syarat-syarat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa guru-guru harus bekerja sesuai dengan ilmu mendidik yang sebaik-baiknya dengan disertai ilmu pengetahuan yang cukup luas dalam bidangnya serta dilandasi rasa berbakti yang tinggi.

Sebagaimana pendapat Moh. Uzer Usman, yang dikutip oleh Akhyak dalam bukunya Profil Pendidik Sukses, menjelaskan bahwa guru memiliki banyak tugas baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas, dalam bentuk pengabdian. Apabila dikelompokkan terdapat tiga jenis tugas, yakni:



  1. Tugas dalam bidang profesi

Tugas dalam bidang profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai- nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan ketrampilan- ketrampilan pada siswa.

  1. Tugas dalam bidang kemanusiaan

Tugas dalam bidang kemanusiaan di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola para murid atau siswanya. Pelajaran apapun hendaknya dapat menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar. Bila seorang guru dalam menampilkannya sudah tidak menarik, maka kegagalan pertama adalah ia tidak akan dapat menanamkan benih pengajarannya kepada para siswanya.

  1. Tugas dalam bidang kemasyarakatan

Tugas guru dalam bidang kemasyarakatan adalah bahwa dalam masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat dilingkungannya karena dari seorang guru diharapakan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan, bahkan guru pada hakekatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan bangsa.28

Menurut Al-Ghazali, tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta membawakan hati nurani untuk bertaqarrub kapada Allah swt. Hal tersebut karena pendidik adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalam paradigma “ Jawa”, pendidik diidentikkan dengan guru yang artinya digugu dan ditiru. Namun dalam paradigma baru, pendidik tidak hanya bertugas sebagai pengajar, tetapi juga sebagai motivator dan fasilitator proses belajar mengajar yaitu relasi dan aktualisasi sifat-sifat Ilahi manusia dengan cara aktualisasi potensi-potensi manusia untuk mengimbangi kelemahan yang dimiliki.29

Seorang guru sangat berperan sekali dalam dunia pendidikan. Adapun peran dari guru antara lain adalah:guru sebagai demonstrator, pengelola kelas, mediator dan fasilitator, evaluator, edukator dan instruktor, inovator, motivator, guru sebagai pekerja sosial, ilmuwan, guru sebagai orang tua dan teladan, pencari keamanan, psikolog dalam pendidikan, dan pemimpin.30

Guru pendidikan agama Islam ialah seorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menjunjung tinggi dan menerapkan keutamaan yang menyangkut ajaran-ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan Seorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk kepentingan anak didik, sehingga menjunjung tinggi dan menerapkan keutamaan yang menyangkut ajaran-ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama Islam yang telah diyakininya secara menyeluruh serta menjadikan ajaran agama islam itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat kelak.


  1. Kajian Tentang Prestasi Belajar

  1. Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar berasal dari kata “Prestasi dan belajar”. Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie. Kemudian dalam bahsa Indonesia menjadi “prestasi” yang berarti hasil usaha.31 Prestasi merupakan hasil usaha yang diwujudkan dengan aktifsitas yang sesuai dengan tujuan yang dikehendaki.32 Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa prestasi itu merupakana hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya).33

Disini ada beberapa definisi belajar dari beberapa ahli, diantaranya:



  1. Menurut Muhibbin Syah belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam menyelenggarakan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti, bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat tergantung pada proses belajar alami siswa baik ketika ia berada disekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.34

  2. Menurut Syaiful Bahri Djamarah bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa ragan untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkunagnnya.35

  3. Menurut Azwar yang dikutip oleh Dwi Atmoro mengatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan perilaku yang diakibatkan pengalaman atau sebagai hasil dari interaksi individu dengan lingkungannya.36

  4. Chaplin dalam bukunya Dictionary of Psychology sebagaimana dikutip Muhibbin Syah mendefinisikan belajar sebagai berikut:

Membatasi belajar dalam dua rumusan. Rumusan pertama berbunyi:“... acquisition of any relatvely permanent change in behavior as a result of practice an experience”.(Belajar adala perolehan perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman).Rumusan kedua adalah process of acquiring responses as a result of special practice (Belajar ialah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan khusus). 37

  1. Menurut Morgan

Belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.38

  1. Menurut Hilgard dan Bower

Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu yang disebabkan oleh pengalamanya yang berulang-ulang dalam situasi itu, perubahan tingkah laku tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan, atau keadaan-keadaan sesaat, misalnya kelelahan, pengariuh obat, dan sebagainya.39

Sesuai dengan penjelasan diatas dapat di simpulkan bahwa belajar adalah semua yang berkaitan dengan aktivitas mental atau psikis yang dilakukan oleh seseorang sehingga menimbulkan perubahan tingkah laku yang berbeda antara yang sudah belajar dan belum belajar.

Beberapa definisi tentang prestasi belajar:


  1. Menurut Nana Sudjana, prestasi belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.40

  2. Menurut Syaiful Bahri Djamarah, prestasi belajar merupakan hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan atau diciptakan secara individu maupun secara kelompok.41

Berdasarkan pengertian tersbut, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil usaha siswa yang dapat dicapai berupa penguasan pengetahuan, kemampuan kebiasaan dan keterampilan serta sikap setelah mengikuti proses pembelajaran . Prestasi belajar merupakan suatu hal yang dibutuhkan siswa untuk mengetahui kemampuan yang diperolehnya dari suatu kegiatan yang disebut belajar. Hasil usaha belajar atau belajar yang menunjukkan ukuran kemampuan yang dicapai dalam bentuk nilai.

  1. Jenis-jenis Prestasi Belajar

Prestasi belajar itu berbeda-beda sifat dan bentuknya tergantung dalam bidang apa siswa akan menunjukkan prestasinya, baik dalam bidang akademik maupun non akademik. Prestasi dalam bidang akademik dapat dilihat dari hasil belajarnya, baik dari nilai tes hariab, dan hasil rapot. Serta prestasi non akademik dapat dilihat dari hasil atau prestasi yang telah diraih dari kegiatan ekstrakurikuler.

Dengan kata lain prestasi belajar yang dikuasai siswa tidak lepas dari tiga ranah, yaitu yang mencakup ranah kognitif, meliputi perubahan-perubahan dalam segi penguasaan pengetahuan, perkembangan pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk menggunakan pengetahuan tersebut. Kedua ranah afektif meliputi perubahan-perubahan dari segi mental, perasaan, dan kesadaran. Ketiga ranah psikomotorik meliputi perubahan-perubahan dalam segi bentuk-bentuk tindakan motorik. 42



  1. Ranah Kognitif

Ranah kognitif terdiri dari enam tingkatan meliputi :

  1. Pengetahuan, yaitu kemampuan mengingat kembali hal-hal yang telah lalu dipelajari. Misalnya: hafalan atau seperti rumus, batasan, definisi, istilah, pasal dalam undangf-undang, nama-nama tokoh, dan nama-nama kota.

  2. Pemahaman, yaitu kemampuan untuk memahami atau mengerti suatu bahan yang telah dipelajari. Misalnya: mengungkapkan tema, topik atau masalah yang sama dengan yang pernah di pelajari atau diajarkan.

  3. Aplikas atau Penerapan, yaitu kemampuan hal-hal yang telah dipelajari untuk menghadapi situasi-situasi baru dan nyata. Misalnya: ide, teori atau petunjuk teknis.

  4. Analisis, yaitu kemampuan menjabarkan sesuatu menjadi bagian-bagian sehingga struktur-stnrktur organisasinya mudah dipahami.

  5. Sintesis, yaitu kemampuan memadukan bagian-bagian menjadi keseluruhan yang berarti.

  6. Evaluasi atau penilaian, yaitu kemampuan memberikan penilaian terhadap sesuatu berdasarkan kriteria intern atau kelompok atau kriteria ekstern atau yang ditetapkan terlebih dahulu.

  1. Ranah Afektif

Ada beberapa jenis ranah afektif, meliputi:

  1. Reciving/attending (Kepekaan) yaitu kemampuan untuk memperhatikan sesuatu rangsangan (stimulus) dari luar yang datamg kepada siswa dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dll.

  2. Responding (jawaban), reaksi yang berikan oleh seseorang terhadap stimulus yang datang dari luar.

  3. Valuing (penilaian), kemampuan untuk memiliki sistem nilai dalam diri terhadap gejala atau stimulus tadi.

  4. Organisasi, yakni pengembangan dari nilai ke dalam satu sistem organisasi termasuk hubungan satu nilai dengan nilai yng lain, pemantapan, dan priyoritas nilai yang telah dimiliknya.

  5. Karakteristik nilai atau internalisasi nilai yaitu kemampuan untuk memiliki pola hidup (life style) dimana sistem nilai yang terbentuk dalam dirinya mampu mengawasi tingkatannya.

  1. Ranah Psikomotorik

Ada enam tingkatan ranah psikomotorik, meliputi:

  1. Gerak reflek, yaitu kemampuan untuk melakukan tindakan-tindakan yang terjadi secara tidak sengaja dalam menyambut sesuatu rangsangan.

  2. Gerakan dasar, yaitu kemampuan melatcukan gerakan yang bersifat pembawaan dan terbentuk dari kombinasi gerakan refleksi.

  3. Kemampuan perseptual, yaitu kemampuan menerjemahkan perangsangan yang diterima melalui alat indera menjadi gerakan yang terlatih.

  4. Kemampuan jasmani, yaitu kemampuan dan gerakan-gerakan dasar yang merupakan inti untuk memperkembangkan gerakan yang terlatih.

  5. Gerakan-gerakan terlatih, yaitu gerakan-gerakan yang mantap dan tingkat efisiensi tinggi.

  6. Komunikasi nondeskursit, ialah kemampuan melakukan komunikasi dengan isyarat gerakan badan.

Demikian ketiga ranah tersebut, prestasi belajar PAI yang menjadi obyek yang hendak dicapai siswa secara maksimal dan seimbang, karena ketiganya merupakan satu kesatuan yang utuh, jika salah satu aspek tersebut tidak terpenuhi maka tujuan pelajaran PAI tidak tercapai, dimana tujuan tersebut bisa tercapai dengan ada keterkaitan pada ketiganya.

  1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor intern dan faktor ekstern.43

Belajar merupakan proses terjadinya perubahan tingkah laku, baik bersifat kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan untuk mencapai tujuan itu perlu didukung berbagai faktor pendukung yang akan mempengaruhinya.



Slameto menyatakan bahwa keberhasilan belajar dipengaruhi oleh faktor-faktor, yaitu faktor intern atau faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar dan faktor ekstern atau faktor yang ada di luar individu.

  1. Faktor-Faktor Internal

Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Di dalam faktor intern dibagi menjadi tiga faktor, yaitu : faktor jasmaniah, faktor psikologis, dan faktor kelelahan.

  1. Faktor Jasmani:

  1. Faktor kesehatan

Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagianya bebas dari penyakit.

  1. Cacat Tubuh

Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh.

  1. Faktor Psikologis

Sekurang-kurangnya ada tujuh faktor yang tergolong dalam faktor psikologis yang mempengaruhi belajar. Faktor faktor itu adalah: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.

  1. Intelegensi

Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar. Dalam situasi yang sama, siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat intelegensi rendah. Walaupun begitu siswa yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi belum pasti berhasil dalam belajarnya. Hal ini disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang komplek dengan banyak faktor yang mempengaruhinya sedangkan intelegensi adalah salah satu faktor diantara faktor yang lain.

  1. Perhatian

Menurut Ghazali perhatian adalah keaktifan jiwa yang di pertinggi. Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya jika bahan pelajaran tidak jadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak lagi suka belajar.

  1. Minat

Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Jika terdapat siswa yang kurang berminat di dalam belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan serta hal-hal yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu.

  1. Bakat yaitu kemampuan untuk belajar.Kemampuan itu baru akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih.

  2. Motif

Dalam proses belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai minat untuk belajar dan memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan yang berhubungan untuk menunjang belajar. Motif-motif diatas dapat juga ditanamkan kepada diri siswa dengan cara memberikan latihan-latihan kebiasaan yang kadang-kadang juga dipengaruhi oleh keadaan lingkungan.didalam mencapai tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak/ pendorong.

  1. Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat atau fase dalam pertumbuhan seseorang dimana alat-alat sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru, misalnya anak dengan kakinya sudah siap untuk berjalan, tangan dan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, dengan otaknya sudah siap untuk berpikir abstrak dan lain-lain.

  1. Kesiapan

Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan maka hasilnya akan lebih baik.

  1. Kelelahan

Kelelahan pada seseorang walaupun sulit dipisahkan tetapi dapat dibedakan menjadi kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan tubuh dan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.44

  1. Faktor-Faktor Eksternal

Faktor ekstern yang mempengaruhi terhadap belajar, dapatlah dikelompokkan menjadi 3 faktor yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat.

  1. Faktor Keluarga

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga yang berupa cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.

  1. Faktor Sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup : metode belajar, kurikulum, reaksi guru dengan siswa, reaksi siswa dengan guru, reaksi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

  1. Faktor masyarakat

Meliputi kegiatan siswa didalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Muhibbin Syah membagi faktor-faktor yang mempengaruhi belajar menjadi 3 macam, yaitu 45:



  1. Faktor internal, yang meliputi keadaan jasmani dan rohani siswa.

  2. Faktor eksternal yang merupakan kondisi lingkungan di sekitar siswa.

  3. Faktor pendekatan belajar yang merupakan jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.

Faktor-faktor diatas saling berkaitan dan saling mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conversing terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sedangkan seorang siswa yang berinteligensi tinggi dan mendapat dorongan positif dari orang tuanya akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi, karena pengaruh faktorfaktor tersebut diatas muncul siswa-siswa yang berprestasi tinggi, berprestasi rendah atau gagal sama sekali. Dengan demikian, seorang guru yang kompeten dan professional diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan mengetahui factor yang menghambat proses belajar mereka.

  1. Faktor Internal

Siswa Faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi dua aspek, yaitu Aspek Fisiologis (yang bersifat jasmaniyah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniyah).

  1. Aspek Fisiologis

Kondisi jasmani yang menandai tingkat kebugaran organorgan tubuh dan sendi-sendinya dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Untuk mempertahankan terus jasmani agar tetap bugar, peserta didik sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Selain itu, siswa juga dianjurkan memilih pola istirahat dan olah raga ringan yang sedapat mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini sangat penting sebab perubahan pola makan-minum dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang negative dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri. Kondisi organ-organ khusus siswa, seperti tingkat kesehatan indera pendengar dan penglihat juga sangat mempengaruhi kemampuan siswa dalam menyerah informasi dan pengetahuan, khususnya yang disajikan di kelas. Sebagai seorang guru yang professional seyogyanya bekerjasama dengan dinas-dinas kesehatan untuk memperoleh bantuan pemeriksaan secara rutin. Upaya lain yang bias ditempuh yaitu menempatkan mereka di deretan bangku terdepan secara bijaksana. Dengan demikian peserta didik dapat belajar secara optimal.

  1. Aspek Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, diantara faktor-faktor rohaniyah peserta didik yang pada umumnya dipandang lebih esensial adalah tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa dan motivasi siswa.

  1. Faktor Eksternal Siswa

Seperti faktor internal siswa, faktor eksternal siswa juga terdiri atas dua macam, yakni faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan non sosial.

  1. Lingkungan Sosial

Di antara faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar peserta didik adalah lingkungan sosial. Lingkungan sosial sekolah seperti para guru, para staf administrasi dan teman-teman sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang peserta didik. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan suri tauladan yang baik, khususnya dalam hal belajar, dapat menjadi daya dorong peserta didik dalam hal belajar. Sedangkan yang termasuk lingkungan sosial siswa adalah masyarakat, tetangga, dan teman-teman sepermainan di sekitar perkampungan siswa tersebut. Kondisi masyarakat sangat berpengaruh terhadap kegiatan belajar siswa.

  1. Lingkungan Non Sosial

Faktor-faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, alat-alat belajar, rumah tempat tinggal siswa dan letaknya, keadaan cuaca dan waktu yang digunakan untuk belajar siswa.

Sehingga dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pembelajaran dan hasil prestasi siswa bukan hanya bersifat garis lurus, tetapi bisa bercabang dari faktor-faktor lain. Misalnya faktor internal (faktor dari dalam siswa), faktor eksternal (faktor dari luar siswa), dan faktor pendekatan dalam belajar dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Sedangkan menurut Syeh Ibrahim bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu ada 6: 46

Ingatlah kamu tidak akan berhasil dalam memperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara yang akan dijelaskan kepadamu secara ringkas, yaitu (1) kecerdasan, (2) cinta pada ilmu, (3) kesabaran, (4) biaya cukup, (5) petunjuk guru dan (6) masa yang lama.



  1. Yüklə 498,49 Kb.

    Dostları ilə paylaş:
1   2   3   4   5   6   7




Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2024
rəhbərliyinə müraciət

gir | qeydiyyatdan keç
    Ana səhifə


yükləyin