Makna Insya Allah

Sizin üçün oyun:

Google Play'də əldə edin


Yüklə 28.28 Kb.
tarix06.03.2018
ölçüsü28.28 Kb.

INSYA ALLAH ATAU IN SHAA ALLAH?

Ketika saya menulis artikel berjudul “Makna Insya Allah”; sangat banyak respons yang masuk. Di antara komentar yang saya terima -beberapa di antaranya- menanyakan tentang penulisan yang tepat kata atau kalimat tersebut. Apakah dipisah menjadi dua kata atau tiga kata.


“Untuk kata ‘insya’ menggunakan ‘sy’ atau ‘sh’?“
“Yang benar itu ‘insya Allah’ (dua kata), ‘in sha Allah’ (tiga kata dan menggunakan ‘sh’, bukan ‘sy’), atau ‘in shaa Allah’(sama dengan yang kedua, tapi bunyi ‘sha’-nya panjang)?”
“Pak Jonih, bukan insya tapi insha, “ masukan lain dari seorang senior.
Setelah berbagai pendapat meramaikan diskusi, dan saya sengaja tidak mengomentari dulu, sebagian pembaca menjadi ragu. Jadi, yang mana yang seharusnya diikuti. Diskusi pun terus bergulir di antara anggota milist.
“Kang, huruf Arabnya, kan pakai syin, bukan shad. Jadi, insya dong, bukan insha?” kata komentar lainnya, pendapat yang berkebalikan dari masukan di atas.
Ada juga yang menengahi, “Silakan tergantung kebiasaan saja. Bagaimana kata tersebut biasa dieja di kampung kita! Yang penting pengucapannya sesuai dengan maksud yang tertulis dalam bahasa aslinya!”
Dahulu, penulisan tentang kalimat itu, rasa-rasanya tidak diperdebatkan atau dibahas dalam sebuah pembicaraan maupun tulisan. Setelah zaman semakin maju, sesudah para ustaz (tanpa tanda kutip maupun pakai) memegang alat komunikasi canggih: komputer, internet, atau telepon genggam; beredarlah fatwa-fatwa di dalamnya. Baik itu ajaran berasal dari ustaz maupun dari yang menamakan atas mengatasnamakan ustaz. Ketika pendapat itu sampai kepada kita-kita yang tidak mengerti gramatika bahasa Arab serta kurang mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar, juga –terutama- karena rasa ingin berbagi kebaikan kepada sesama (agar tidak tersesat), dengan kecepatan yang tinggi, menyebarlah itu ajaran dengan sangat cepat dan luas. Saya sendiri menerima banyak pesan BBM hal tersebut.
Sebab ajaran itu bukan berdasarkan ijma atau hasil kesepakatan para ulama (seharusnya tidak tambah kata “para”), melainkan pendapat seseorang atau kelompok tertentu saja; ramailah macam-macam pendapat mengomentari dan menyebarkannya. Saya sih, semula, tidak berminat menanggapinya. Menurut saya, itu adalah perbuatan orang yang –walau mungkin berniat baik –maaf, agak kurang kerjaan! Akan tetapi, pembicaran kan hal ini, sepertinya tidak pernah usai. E-mail dan SMS, tentang tulisan tersebut, tetap saja masuk. Kayaknya, harus nulis juga, nih!
Dengan tidak bermaksud menambah pusing (kalau itu menyebabkan sakit kepala) dan menambah ramai suasana, saya menawarkan tulisan ini. Setelah dibaca, nanti, boleh di-delete saja.
Menyadari dirinya, dahulu, kurang kaya kosakata; bahasa Indonesia menyerap banyak kata dari sumber-sumber yang berasal dari luar (bahasa asing), dan dari dalam (bahasa daerah). Di antara bahasa asing yang paling banyak menyumbang perbendaharaan kata kepada kita adalah bahasa Arab. Dalam tata bahasa Arab ada yang dikenal dengan nahwu dan sharaf (dibaca: shorof). Kedua ilmu ini mesti dipahami oleh para santri di pesantren atau mahasiwa bahasa Arab di perguruan tinggi Islam di mana pun. Tanpa belajar keduanya, akan sangat sulit membaca dan memahami teks-teks kitab referensi, atau mengira-ngira arti dari pesan yang berasal dari bahasa Arab, yang kita terima melalui e-mail, SMS, FB, atau BBM. Demikian juga dalam membaca Al-Qur’an terbitan Kementerian Agama yang sudah ada bahasa Indonesianya pun, tidak bisa dan tidak akan kritis saat menemukan terjemahan yang kurang pas.
Nahwu dan sharaf bekerja sama dalam mengubah-ubah bentuk kata-kata. Bukan saja bentuk lampau (madhi) dan sekarang/yang akan datang (mudhare); melainkan juga bentuk mufrad (tunggal), mutsana (dua) dan jama’ (jamak); mudzakar – muannats, naat-man’ut, jar-majrur dan sebagainya. Juga, ada huruf-huruf yang dibaca pendek (satu ketukan); ada yang mesti dibaca panjang (dua ketukan). Malah, dalam ilmu tajwid, ada bunyi yang harus diucapkan lebih dari dua ketukan. Bahasa Indonesia, hingga saat ini, belum mengakomodasi pembacaan yang panjang-panjang itu. Hanya kata-kata tertentu yang boleh ditulis dobel hurufnya.
Satu kata kerja dalam bahasa Indonesia, dalam situasi dan kondisi apa pun, tidak pernah berubah penulisannya. Bahasa Inggris menulis verb ke dalam bentuk-bentuk present, simple present, present/past continues, dan past tense. Dalam bahasa Arab suatu fi’il bisa berubah menjadi lebih dari seratus bentuk penulisan lainnya. Ia bisa madhi atau mudhare; menjadi mashdar ghaira miemie, mashdar miemie, ism faa’il, ism maf’uul, fi’il amr, fi’il nahie, isman zaamaan/makaan. Kemudian, apakah wazan-nya fa’ala, fa’ila, fa’ula, fa’ ’ala, faa ‘ala, af ‘ala, tafaa ‘ala, taf ‘ala, istaf ‘ala dan seterusnya. Pendek kata, bahasa Arab sangat kaya dengan kosakata. Wajarlah kalau dia banyak menyumbang bahasa Indonesia yang miskin kata.
Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai ketebalan 5 centimeter; Webster Unabridged Dictionary kurang dari 10 centimeter (tidak begitu beda dengan Kamus Al-Munjid); sedangkan Kamus Lisanul Arab, hampir satu meter! Kamus tersebut terdiri atas 20 jilid, disusun oleh Ibn Manzhur Jamaluddin Al-Anshary (hidup tahun 630-711 H). Seribu tiga ratus tahun lalu -ilmuwan itu, seorang diri- menyusun kamus yang begitu tebal. Kalau beliau hidup pada abad ke-20, mungkin sekali akan sangat banyak penambahan lema-lemanya, sehingga akan lebih tebal lagi.
Kata-kata seperti: Allah, bismillah, alhamdulillah, assalamualaikum, istighfar, dan seterusnya; harus dipandang sebagai sudah menjadi bahasa Indonesia. Menurut ejaan bahasa aslinya, di antara kata-kata itu banyak yang huruf-hurufnya mesti ganda. Juga, banyak kata-kata bahasa Arab yang kita serap adalah dari bentuk mashdar, kata-kata yang dibendakan. Sekali lagi, untuk amannya, kita harus memandang bahwa kosakata tersebut adalah (sudah) menjadi bahasa kita. Dan, memang, Kamus Besar Besar Bahasa Indonesia memuat kata-kata tersebut.
Apabila apa yang sudah menjadi bahasa Indonesia itu, dalam pemakaiannya kita berpedoman kepada kaidah yang biasa dipakai dalam bahasa aslinya, tidak pas. Jika demikian, bagai kita tak mempunyai pegangan. Bagi yang punya bahasa aslinya pun, apabila mendengar atau membaca versi Indonesia dari bahasa mereka, bisa membuat mereka tak paham apa yang kita maksud. Apa yang kita ucapkan, apa yang kita tulis; tidak mudah dimengerti.
Ketika suatu hari ada seseorang berbuat salah atau dosa, temannya mengingatkan: “Istigfar kamu, istigfar…istigfar!”
Secara bahasa Indonesia, dia benar; walaupun menurut aturan bahasa Arab, itu salah. Orang yang berbahasa Arab dan tidak paham bahasa Indonesia, tidak akan mengerti apa yang kita maksud. Kata “istigfar” berasal dari “istighfaran”; ia mashdar. Artinya permohonan ampun. Kata seru (fi’il amr) untuk kata itu adalah “istaghfir”, artinya beristigfarlah, mohon ampunlah. Sehingga, orang Arab kalau mau menyuruh orang lain beristigfar, mereka akan bilang: istaghfir, bukan istigfar!
Sebaliknya, jika seseorang menggunakan kata-kata itu di lingkungan kita, ia bisa dianggap lieur oleh manusia sekitarnya, karena mengucapkan kata yang tidak dikenal dalam khasanah bahasa Indonesia. Bisa-bisa dia dikira mempelesetkan kata. Bahaya!
Sekali lagi, dalam memahami dan menggunakan kata-kata yang berasal dari bahas Arab itu, kita harus memandangnya sebagai bahasa Indonesia. Dengan demikian, tidaklah salah ucapan: “Istigfar, istigfar, istigfar!” Selain orang yang dinasihati paham, Tuhan juga tahu maksud kita.
Demikian halnya dengan penulisannya, apakah suatu kata yang datang dari Timur Tengah itu pada suku kata tertentu harus dibaca dan ditulis panjang (dua ketukan) atau tidak? Jika sudah menjadi bahasa Indonesia, ya mengikuti kaidah bahasa kita saja. Bahasa asli dari lafaz Allah adalah Allaah; bismillah seharusnya bismilaahi, assalamualaikum ditulis assalaamu ‘alaikum, insya Allah mestinya in syaa a Allaahu (bunyi “a” pada sya-nya panjang dulu, baru ada hamzah atau bunyi “a” lagi di depannya, serta ada dhomah/bunyi “u” di atas huruf “h”). Bangsa-bangsa berbahasa Inggris menulis “sy” dengan “sh”. Sementara itu, pelafalan dalam bahasa Indonesia “sy” untuk “syin”, seperti dalam kata insya Allah, syukur dan seterusnya.; “sh” untuk “shad”, seperti dalam shalat, taushiah dan lain-lain.
Belum lagi kalau kita mengikuti hukum tajwid. Kata “malaikat”, jika kita baca Al-Qur’an, pada suku kata “la”-nya mesti dibaca 5 ketukan! Ia mad wajib muttasil. Kata lainnya ada yang boleh dibaca 2 hingga 6 ketukan, sebab dia mad arid lissukun, dan seterusnya. Jadi…sekali lagi, untuk penulisan seluruh kosakata yang datang dari tanah Arab dan sudah menjadi “penduduk” Indonesia, kita harus patuh pada aturan bahasa Indonesia.
Jika dalam bahasa kebumian lembaga, institusi, atau organisasi profesi yang paling berwenang menjelaskan istilah-istilah geosain adalah Badan Geologi, Kementerian ESDM, atau IAGI/HAGI/IATMI/IPA*; maka dalam kebahasaindonesiaan institusi paling berkompeten untuk ini adalah Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di sinilah berkumpul para ahli bahasa dan budaya.
Agar kita berbahasa Indonesia yang baik dan benar, badan ini mengeluarkan produk yang dikenal sebagai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) dan Kamus Besar Bahasa Indoensia (KBBI). Kamus itu memuat lema-lema insya Allah, assalamualaikum (ditulis disatukan, tidak ada tanda kutip satu untuk bunyi “ain” seperti dalam dalam bahasa Arab, dan tidak terdapat kata yang dipanjangkan), dan banyak lagi. Berikut kalimat insya Allah ditulis dalam KBBI:
Allah n nama Tuhan dl bahasa Arab; pencipta alam semesta yg mahasempurna; Tuhan Yang Maha Esa yg disembah oleh orang yg beriman: demi --; hamba --; insya --; karena --;dibuat krn -- , menjadi murka -- , pb dilakukan dng maksud baik, tetapi disangka orang kurang atau tidak baik;

-- azza wajalla Allah Yang Mahamulia dan Mahaluhur;
-- subhanahu wa taala Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi;
ke-Allah-an n hal (sifat-sifat) Allah, yg mengenai Allah.

Jika kita ragu dan khawatir bisa salah arti, ketika menuliskan perbendaharaan kata dari bahasa asing itu, dan ingin tetap menuliskannya sesuai bahasa Arabnya, tidak masalah. Tata bahasa Indonesia mengizinkan (pakai “z”, bukan “j”, ya!) penulisan kata-kata yang berasal dari bahasa asing maupun bahasa daerah, atau –malah- bahasa lisan. Caranya? Buatlah kata-kata tersebut cetak miring/italic. Untuk kata-kata tertentu, saya sering memanfaatkan fasilitas ini.


Jika saya menulis artikel dan di dalamnnya ada kata-kata shahabat atau qalbu, saya lebih suka menggunakan ejaan aslinya, dengan cetak miring. Karena kata shahabat dalam bahasa Arab, khususnya dalam ilmu hadis tidak persis sama dengan definisi sahabat dalam KBBI. Lain halnya dengan qalbu yang bahasa Indonesianya kalbu. Kata kalbu (dengan “k”, bukan “q”), kalau kita balikkan lagi ke bahasa Arab, artinya bisa kurang enak didengar. Kalbun atau al-Kalbu adalah nama binatang yang suka menggonggong.
Isu tentang penulisan yang menjadi ramai itu adalah karena beredarnya pesan:


rectangle 1We should not write it as “InshaAllah” or “Inshallah” because it means “Create Allah” (Naozobil lah). Wheter arabic or english… please make sure you write it properly as “In Shaa Allah” (In 3 seperate words). This means “If Allah Wills”. So make sure you forward this to everyone and help them correct their mistake. JazakAllah Khair Share it!
IF YOU LIKE THIS ARTICLE

Pesan ini pun disertai gambar seorang ustaz, seolah beliau yang berfatwa. Pesan itu mungkin benar dari seorang ustaz, bisa juga nama ustaz dimanfaatkan oleh orang yang iseng. Seandainya tulisan itu benar-benar dari seorang ustaz atau syaikh pun, kalimat insya Allah tidak bisa diartikan to create Allah.


“Syaa_a” dari “insya” dalam “insya Allah” atau ”in shaa Allah” adalah bentuk fi’il madhi, past tense, lampau; sehingga ia, dalam bahasa Inggris, tidak pas didahului “to”; dia bukan infinitive. Bentuk mudhare-nya (present) adalah “yashaa_a”, agak beda bunyinya dari “insya” atau “insha/inshaa”.
Bisa juga kata insya berasal dari ansya_a - yunsyi u – insyaa_an, yang bahasa kitanya mengarang, sehingga kalau yang diambil mashdar-nya saja insya dari insyaa_an, ia berarti karangan; kata benda. Atau, insya bisa juga berasal dari nasya_a - nasyaa_an yang berarti mengembangkan.
Kemudian, bagi orang yang belajar bahasa Arab, tulisan insya Allah, tidak mungkin diartikan dengan menciptakan Allah. Kalaupun tulisan Arabnya menggunakan huruf-huruf penyusun “in” dan “sya” yang menyambung, yang terjemahan bahasa Indonesianya berarti mengarang, seperti disinggung di atas. Itu bukan kalimat sempurna, ia tidak mempunyai arti. Unsur-unsur pembentuk kalimat ada yang hilang di situ. Dalam bahasa Arabnya ia bukan kalam, bukan jumlah mufidah!
Lagi pula, kata bahasa Arab yang lazim digunakan untuk menciptakan (suatu produk) adalah bukan kata insya, melainkan yashna’u – shona’a. Kalau menciptakan makhluk, misalnya, dipakai khalaqa, ja’ala, atau bada’a.
Selanjutnya, kalau orang Timur Tengah atau bangsa lain yang berbahasa Arab membaca tulisan tersebut, mereka mesti memberi baris dhomah (“u”) pada “h” dari “Allah”; dan mustahil ia berbaris fathah (“a’). Ini adalah urusan fa’il dan maf’ul dalam kaidah bahasa Arab.
Lagi pula, maaf, kita beragama bukan baru dua bulan lalu. Orang-orang di Indonesia mulai menganut ajaran Islam, bukan Desember 2013, dan sekarang baru ditemukan kesalahan penulisan itu. Karenanya, perlu dilakukan revisi (emangnya AFE dan WP&B!).
Menurut pendapat saya, apabila kita mendapatkan pesan yang agak beda dari pendapat umum, walau hati ingin segera berbagi, sebaiknya –sebelum menyebarkannya- ditanyakan dulu ke orang-orang yang sekiranya memahami makna atau bahasa pesan dimaksud.

Wallaahu ‘alamu bishshawaab,

Ciomas, 10 Februari, dini hari.


Salam,

jr

*IAGI: Ikatan Ahli Geologi Indonesia; HAGI: Himpunan Ahli Geofisika Indonesia; IATMI: Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia; IPA: Indonesian Petroleum Association.

Dostları ilə paylaş:
Orklarla döyüş:

Google Play'də əldə edin


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©muhaz.org 2017
rəhbərliyinə müraciət

    Ana səhifə